• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

3.3.2 Sampel

Sampel dalam penelitian ini diambil dengan teknik nonprobability sampling dengan jenis purposive sampling (pengambilan sampel bertujuan). Menurut Sugiyono (2015), teknik purposive sampling dilakukan dengan mengambil sampel dari populasi berdasarkan pertimbangan tertentu. Peneliti menetapkan kriteria sampel sebagai berikut:

1. Rekam medis pasien BSK minimal memiliki data berat badan, tinggi badan, dan pH urin

26

2. Tidak mengalami diabetes mellitus dan penyakit ginjal lainnya 3.4 METODE PENGUMPULAN DATA

3.4.1 Metode

Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu rekam medik untuk melihat nilai pH urin pada pasien BSK yang didapatkan dari instalasi rekam medis RSUP Haji Adam Malik Medan.

3.4.2 Alat

Rekam medis untuk melihat data berat badan dan tinggi badan untuk menghitung IMT dan melihat nilai pH urin hasil dipstick test.

3.5 METODE ANALISIS DATA

Data yang terkumpul kemudian diolah dan dianalisis dengan bantuan perangkat lunak SPSS (Statistical Package for the Social Science) untuk menguji hipotesis dan rasio prevalens. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji chi-square yang merupakan uji non-parametrik (data nominal) (Sastroasmoro dan Ismael, 2017).

3.6 DEFINISI OPERASIONAL

1. Obesitas dalam penelitian ini adalah nilai indeks massa tubuh diatas 25kg/m² yang dilihat dari data rekam medis.

Alat ukur : Rekam medis

Cara ukur : Observasi rekam medis Hasil ukur : 1. Ya (obesitas)

2. Tidak (tidak obesitas) Skala ukur : Nominal

2. pH urin dalam penelitian adalah nilai keasaman urin yang dilihat dari data rekam medis.

Alat ukur : Rekam medis

Cara ukur : Observasi rekam medis Hasil ukur : 1. <6,0

2. >6,0 Skala ukur : Nominal

28 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik Medan yang berlokasi di Jalan Bunga Lau No.17 KM 12, Kelurahan Kemenangan, Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan, Sumatera Utara, dan dibangun diatas tanah seluas ± 10 Ha. RSUP Haji Adam Malik Medan sudah beroperasi sejak tanggal 17 Juni 1991, namun baru diresmikan pada tanggal 21 Juli 1993 oleh Presiden RI saat itu, Bapak H. Soeharto (RSUP HAM, 2018).

RSUP Haji Adam Malik Medan merupakan rumah sakit umum kelas A berdasarkan Keputusan Menkes RI No. HK.02.03/I/0913/2015 tanggal 27 Maret 2015, rumah sakit rujukan nasional untuk wilayah pembangunan A yang meliputi Provinsi Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat dan Riau, serta rumah sakit pendidikan berdasarkan Keputusan Menkes RI No.502/Menkes/IX/1991 tanggal 6 September 1991 (RSUP HAM, 2018).

RSUP Haji Adam Malik Medan menyediakan berbagai fasilitas yaitu pelayanan medis, pelayanan penunjang medis, pelayanan penunjang medik, serta pelayanan non-medis. Pelayanan medis terdiri dari instalasi rawat jalan, rawat inap, perawatan intensif, gawat darurat, bedah pusat, dan hemodialisa. Pelayanan penunjang medis terdiri dari instalasi diagnostik terpadu, patologi klinik, patologi anatomi, radiologi, dan rehabilitasi medik. Pelayanan penunjang medik terdiri dari instalasi gizi, farmasi, CSSD, bioelektromedik, dan PKMRS. Pelayanan non-medis terdiri dari instalasi tata usaha pasien, teknik sipil, dan pemulasaran jenazah. Instalasi tata usaha pasien ini mencakup instalasi rekam medis yang menjadi lokasi penyimpanan seluruh rekam medis yang menjadi subjek dalam penelitian ini.

4.2 Deskripsi Karakteristik Penelitian

Pada penelitian ini yang menjadi responden (subjek penelitian) adalah data rekam medis pasien rawat inap di Divisi Urologi Departemen Ilmu Bedah RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2017. Dari 127 kasus BSK sepanjang tahun 2017, diperoleh sampel yang memenuhi kriteria penelitian sejumlah 81 buah rekam medis. Adapun karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi jenis kelamin, usia, indeks massa tubuh (IMT), serta pH urin.

Tabel 4.1. Karakteristik subjek penelitian.

4.2.1 Karakteristik Responden berdasarkan Jenis Kelamin

Pada tabel 4.1 dapat dilihat distribusi frekuensi penderita BSK berdasarkan jenis kelamin dan ditemukan bahwa frekuensi BSK lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan, dengan perbandingan laki-laki:perempuan=1,5:1.

30

Hal ini sesuai dengan teori bahwa salah satu faktor intrinsik penyebab terjadinya BSK adalah jenis kelamin, dimana penderita BSK dengan jenis kelamin laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan perempuan (Purnomo, 2012). Kemudian penelitian oleh Suryanto dan Subawa (2017) pada 141 sampel ditemui perbandingan yang lebih signifikan antara laki-laki dan perempuan yaitu sebesar 2,9:1. Perbandingan yang tidak begitu besar pada penelitian ini mungkin disebabkan oleh perbedaan jumlah sampel dan lamanya waktu penelitian yang relative lebih kecil dan singkat dalam penelitian ini.

Perbedaan prevalensi berdasarkan jenis kelamin ini disebabkan oleh beberapa hal, yaitu perbedaan anatomis saluran kemih laki-laki dan perempuan dimana saluran kemih yang lebih panjang pada laki-laki meningkatkan kemungkinan pengendapan substansi-substansi pembentukan batu (Pandeya et al., 2010), kadar hormon testosteron yang lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan dimana testosteron meningkatkan ekskresi oksalat urin oleh hati (Naghii et al., 2014), serta hormon estrogen pada perempuan yang mencegah ekskresi kalsium urin (Zhao et al., 2013).

4.2.2 Karakteristik Responden berdasarkan Usia

Pada tabel 4.1 dapat dilihat distribusi frekuensi penderita batu saluran kemih berdasarkan usia dan ditemukan bahwa penderita BSK berusia mulai dari 5 tahun hingga 69 tahun, dengan rata-rata usia adalah 48 tahun dan nilai tengah usia penderita adalah 51 tahun. Bila diperhatikan berdasarkan kelompok usia, frekuensi terendah didapati pada usia muda (<31 tahun) yaitu 7,4%, kemudian meningkat pada kelompok usia berikutnya, sampai kepada frekuensi tertinggi yaitu pada kelompok usia yang lebih tua (50-58 tahun) yaitu 43,2%.

Hal ini dapat dikatakan sesuai dengan penelitian terdahulu oleh Alpendri dan Danarto (2013) di RS dr. Sardjito Yogyakarta yang menemukan bahwa frekuensi BSK terbanyak terdapat pada kelompok usia 40-59 tahun, serta penelitian di RSUP Sanglah di Denpasar oleh Suryanto dan Subawa (2017) yang menemukan bahwa

frekuensi terkecil ditemukan pada usia <30 tahun (7,8%) dan terbesar pada usia >50 tahun (53,2%).

Penyebab perbedaan prevalensi berdasarkan usia ini belum diketahui dengan pasti, namun kemungkinan disebabkan oleh adanya perbedaan faktor sosial ekonomi, budaya, dan diet. Perbedaan prevalensi pada berbagai kategori usia juga didasarkan pada jenis batu, misalnya batu kalsium yang mulai umum terjadi pada usia 20-29 tahun dan cenderung terjadi pada usia 40-49 tahun, batu asam urat yang umumnya terjadi pada usia 30-39 tahun, batu infeksi yang paling umum terjadi pada usia 60-69 tahun, serta batu sistein yang lebih umum terjadi pada usia muda yaitu usia <39 tahun (Knoll et al., 2011). Akan tetapi, dalam penelitian ini tidak diperhatikan komposisi penyusun batu dimana dalam kenyataannya pun data tersebut tidak tersedia dalam rekam medis, dan harus dilakukan pemeriksaan lanjutan berupa analisis batu.

4.2.3 Karakteristik Responden berdasarkan Indeks Massa Tubuh

Pada tabel 4.1 dapat dilihat distribusi frekuensi penderita batu saluran kemih berdasarkan IMT dan ditemukan bahwa penderita BSK paling sedikit ditemukan dengan IMT underweight (1,2%) dan paling banyak ditemukan dengan IMT normoweight (45,7%). Apabila penderita BSK tersebut dibagi berdasarkan status obesitasnya, maka terdapat 28 orang (34,6%) dengan obesitas, dan 53 orang (65,4%) tanpa obesitas.

Hal ini tidak sesuai dengan penelitian terdahulu oleh Taylor et al. (2005) yang menemukan bahwa peningkatan berat badan (IMT) akan meningkatkan risiko relatif BSK, karena pada penelitian ini ditemukan frekuensi BSK tertinggi tidak terdapat pada IMT obese melainkan pada IMT normoweight. Hal ini juga tidak sesuai dengan studi kasus oleh Lina (2008) yang menemukan penderita BSK laki-laki pada kelompok dengan riwayat obesitas lebih tinggi (54,55%) dibandingkan pada kelompok tanpa riwayat obesitas (45,45%). Akan tetapi, penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Anhar dan Widianto (2014) di RS Muslimat Ponorogo yang

32

menemukan bahwa tidak terdapat hubungan antara nilai IMT yang tinggi terhadap kejadian BSK, demikian pun dengan kontrol IMT normal dan kontrol IMT rendah.

4.2.4 Karakteristik Responden berdasarkan pH Urin Tabel 4.2 Distribusi frekuensi pH urin.

Pada tabel 4.1 dapat dilihat distribusi frekuensi penderita batu saluran kemih berdasarkan pH urin dan ditemukan frekuensi penderita BSK lebih banyak dengan pH urin <6 (81,5%) daripada pH urin >6 (18,5%), dimana nilai pH=6 dikategorikan sebagai pH <6. Pada tabel 4.2 dapat dilihat distribusi frekuensi nilai pH urin sampel yaitu mulai dari pH 5 hingga pH 8,5, dengan nilai pH urin terbanyak adalah 6 (46,9%), dan rata-rata pH urin adalah 5,92.

Nilai pH urin merupakan salah satu faktor risiko pembentukan batu dimana pH urin memengaruhi saturasi urin. Perubahan pH urin dapat berdampak drastis terhadap fosfat monovalen atau divalen dan rasio urat/asam urat (Sakhaee & Moe, 2016). Nilai pH urin yang rendah pada sampel dapat meningkatkan risiko pembentukan batu asam urat, namun karena tidak dilakukan analisis terhadap komposisi batu, kita tidak menyimpulkan bahwa pH urin yang rendah tersebut

Gambar 4.3 Rata-rata pH urin pada setiap kategori IMT.

Pada gambar 4.3 dapat dilihat nilai rata-rata pH urin pada masing-masing kelompok IMT, yakni 5,5 pada IMT underweight, 5,94 pada IMT normoweight, 5,93 pada IMT overweight, dan 5,91 pada IMT obese. Terdapat penurunan pH urin dari IMT normoweight terhadap IMT overweight dan obese, namun sangat kecil yaitu hanya selisih 0,01 dan 0,02 poin, dan tidak sesignifikan penurunan pH urin pada penelitian oleh Li et al. (2009) dengan rata-rata pH urin yaitu 6,25, 6,14, dan 6,0 pada normoweight, overweight, dan obese. Penurunan pH urin yang sangat kecil pada penelitian ini mungkin disebabkan oleh jumlah sampel yang relatif sedikit, serta faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan nilai pH urin karena nilai pH urin sendiri tidak hanya dipengaruhi oleh berat badan (IMT) saja.

4.3 Hubungan Obesitas dan pH Urin

Tabel 4.4 Tabulasi silang obesitas dan pH urin.

pH urin

Pada tabel 4.4 dapat dilihat jumlah dan persentase sampel berdasarkan pH urin dan status obesitasnya dan ditemukan pH urin pada kelompok obesitas didominasi

5.2

34

oleh pH urin yang rendah (89,3%). Hal ini sesuai dengan penelitian oleh Li et al.

(2009) yang menyatakan bahwa pH urin berbanding terbalik dengan IMT pada penderita BSK, yang berarti kelompok obesitas akan memiliki pH urin yang lebih rendah. Selain itu, pada tabel 4.4 juga ditemukan pH urin yang rendah (<6) ditemukan lebih banyak pada kelompok tanpa obesitas (62,1%) daripada kelompok obesitas (37,9%). Sebaliknya, hal ini tidak sesuai dengan penelitian oleh Li et al.

(2009) yang mana seharusnya sampel dengan IMT yang lebih tinggi (kelompok obesitas) didominasi oleh pH urin <6, dan sampel dengan IMT yang lebih rendah (kelompok tanpa obesitas) didominasi oleh pH urin >6.

pH urin <6 pada kelompok tanpa obesitas mungkin disebabkan oleh faktor lain, karena pH urin tidak hanya dipengaruhi oleh obesitas. Penurunan pH urin dapat disebabkan oleh banyak hal lainnya, seperti pola diet mengkonsumsi makanan tinggi protein hewani atau buah-buahan tertentu seperti cranberri, diare kronis akibat kekurangan kalium, konsumsi obat-obatan tertentu seperti amonium klorida, asam askorbat, kortikotropin, atau mungkin batu yang terdapat pada pasien adalah batu asam urat (Chernecky & Berger, 2013).

Hasil pada tabel 4.4 tersebut selanjutnya dilakukan uji chi square dan didapatkan nilai p value (nilai signifikansi) adalah 0,189. Nilai p value >0,05 ini mengartikan bahwa hipotesis penelitian ditolak, yaitu bahwa tidak terdapat hubungan antara obesitas dengan pH urin pada BSK. Kemudian juga dihitung nilai rasio prevalens (RP) dengan membagikan proporsi pasien BSK dengan pH urin <6 pada kelompok obesitas (0,89) dengan proporsi pasien BSK dengan pH urin <6 pada kelompok tanpa obesitas (0,77) dan didapatkan nilai RP=1,16. Nilai RP>1 tersebut menunjukkan bahwa obesitas merupakan faktor risiko untuk nilai pH urin

<6. Pasien BSK yang mengalami obesitas berisiko menghasilkan urin dengan pH

<6 1,16 kali lebih besar dibandingkan pasien BSK yang tidak obesitas.

Terdapat beberapa keterbatasan dalam penelitian ini, yaitu jumlah sampel penelitian yang relatif sedikit (terdapatnya rekam medis dengan data tidak lengkap sehingga tidak memenuhi kriteria inklusi serta rentang waktu penelitian yang

singkat), data rekam medis yang menurut peneliti kemungkinan tidak akurat (data yang tercatat dalam rekam medis tidak diperoleh melalui prosedur atau pengukuran yang benar atau mungkin terjadi kesalahan input data oleh pemeriksa), serta lokasi penelitian yang hanya terpusat di 1 tempat saja.

36 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian-uraian yang telah dipaparkan dalam bab-bab sebelumnya, maka dalam penelitian ini dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu :

1. Tidak terdapat hubungan antara obesitas dengan pH urin pada pasien BSK di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2017 (p>0,05).

2. Berdasarkan usia, kejadian BSK paling banyak ditemukan pada usia lebih tua (50-58 tahun) yaitu 35 orang (43,2%), sedangkan paling sedikit ditemukan pada usia muda (<31 tahun) yaitu 6 orang (7,4%).

3. Berdasarkan jenis kelamin, kejadian BSK lebih banyak ditemukan pada laki-laki yaitu 48 orang (59,3%) dibandingkan perempuan yaitu 33 orang (40,7%).

4. Berdasarkan IMT, kejadian BSK paling banyak ditemukan pada IMT normoweight yaitu 37 orang (45,7%), sedangkan paling sedikit pada IMT underweight yaitu 1 orang (1,2%).

5. Berdasarkan pH urin, terdapat 66 orang (81,5%) pasien BSK dengan pH urin <6, dan 15 orang (18,5%) pasien BSK dengan pH urin >6, dimana pH urin <6 lebih banyak ditemukan pada pasien BSK tanpa obesitas (62,1%) dibandingkan pada pasien BSK dengan obesitas (37,9%).

6. Terdapat 127 orang pasien BSK yang di rawat inap di RSUP Haji Adam Malik Medan sepanjang tahun 2017, dengan jumlah sampel yang memenuhi kriteria penelitian adalah 81 buah rekam medis.

7. Terdapat 53 orang (65,4%) pasien BSK tanpa obesitas, dan 28 orang (34,6%) pasien BSK dengan obesitas.

8. Terdapat 25 orang (89,3%) pasien BSK dengan pH urin <6 dan 3 orang (10,7%) pasien BSK dengan pH urin >6 pada kelompok pasien BSK dengan obesitas.

5.2 Saran

Adapun beberapa saran dari peneliti setelah pelaksanaan penelitian ini adalah : 1. Bila peneliti lain ingin melakukan penelitian serupa, sebaiknya dilakukan dengan jumlah sampel yang lebih banyak, menggunakan data primer untuk memeroleh variabel penelitian yang lebih baik lagi dan menghindari faktor perancu, memerhatikan faktor sosial budaya (misalnya suku dan agama), serta dilakukan dalam bentuk penelitian kuantitatif.

2. Bagi pihak rumah sakit, yaitu paramedis maupun dokter, untuk dapat lebih melengkapi data-data yang berkaitan dengan perjalanan penyakit pasien, mulai dari anamnesis, hasil pemeriksaan, diagnosis, dan tatalaksana, serta identitas yang lengkap, termasuk untuk kasus-kasus batu saluran kemih di RSUP Haji Adam Malik Medan, sehingga kedepannya dapat lebih membantu penelitian dari segi kuantitas dan kualitas variabel, serta bagi instalasi rekam medis untuk lebih meningkatkan ketepatan pendataan berdasarkan diagnosis penyakit dan pengintegrasian rekam medik secara elektronik untuk mempermudah pengaksesan data saat dibutuhkan untuk berbagai keperluan (termasuk penelitian).

3. Bagi masyarakat untuk mencegah BSK dengan mengindari faktor-faktor lain yang dapat mencetuskan terbentuknya batu, seperti dengan menjaga asupan cairan yang cukup, menghindari asupan bahan-bahan pembentuk batu yang berlebihan seperti kalsium dan oksalat, serta menghindari kebiasaan menahan air kemih.

38

DAFTAR PUSTAKA

Alpers, C.E. & Chang, A. 2015, ‘The Kidney : Urinary Tract Obstruction (Obstructive Uropathy)’ in Robbins and Cotran Pathologic Basis of Disease, 9th edition, ed. Kumar, V., Abbas, A.K., Aster, J.C., Elsevier, Canada.

Antonelli, J.A., Maalouf, N.M., Pearle, M.S. & Lotan, Y. 2014, ‘Use of the National Health and Nutrition Examination Survey to Calculate the Impact of Obesity and Diabetes on Cost and Prevalence of Urolithiasis in 2030’, European Urology, vol.66, pp.724-729.

Anhar, H.N. & Widianto, A. 2014, ‘Index Massa Tubuh sebagai Faktor Resiko Terjadinya Batu Saluran Kemih di RS Muslimat Ponorogo dalam Kurun Waktu Januari 2007-Desember 2010’, Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia, vol.6, no.2.

Asplin, J.R. 2009, ‘Obesity and urolithiasis’, Advances in Chronic Kidney Disease, vol.16, no.1, pp.11-20.

Chau, K., Hutton, H. & Levin, A. 2016, ‘Laboratory Assessment of Kidney Disease : Glomerular Filtration Rate, Urinalysis, Proteinuria’ in Brenner and Rector’s The Kidney, 10th edition, Elsevier, United States.

Chernecky, C.C. & Berger, B.J. 2013, Laboratory Tests and Diagnostic Procedures, 6th edition, Elsevier Saunders, United States.

Curhan, G.C. 2015, ‘Nephrolithiasis’ in Harrison’s Principles of Internal Medicine, 19th edition, ed. Kasper, D.L., Hauser, S.L., Jameson, J.L., Fauci, A.S., Longo, D.L., Loscalzo, J., McGraw-Hill, United States.

Dorland, W.A. & Newman. 2012, Kamus Kedokteran Dorland, edisi 28, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Flier, J.S. & Maratos-Flier, E. 2015, ‘Biology of Obesity’ in Harrison’s Principles of Internal Medicine, 19th edition, ed. Kasper, D.L., Hauser, S.L., Jameson, J.L., Fauci, A.S., Longo, D.L., Loscalzo, J., McGraw-Hill, United States.

Ghazaleh, L.A. & Budair, Z. 2013, ‘The Relation Between Stone Disease and Obesity in Jordan’, Saudi J Kidney Dis Transpl., vol.24, no.3, pp.610-614.

Grace, P.A. & Borley, N.R. 2006, At a Glance Ilmu Bedah, edisi ketiga, Erlangga Medical Series, Jakarta.

Halperin, M.L., Kamek, S.K. & Goldstein, M.B. 2010, ‘Principles of Acid-Base Physiology’ in Fluid, Electrolyte, and Acid Based Physiology, 4th edition, Elsevier, United States.

Iba, A., Kohjimoto, Y., Mori, T., Kuramoto, T., Nishizawa, S., Fujii, R., Nanpo, Y., Matsumura, N., Shintani, Y., Inagaki, T. & Hara, I. 2010, ‘Insulin resistance

increases the risk of urinary stone formation in a rat model of metabolic syndrome’, BJUI, vol.106, pp.1550-1554.

Institute for Health Metrics and Evaluation. 2013, Global Burden of Disease Study 2013, Institute for Health Metrics and Evaluation, Seattle.

Kamel, K.S., Cheema-Dhadli, S. & Halperin, M.L. 2002, ‘Studies on the pathophysiology of the low urine pH in patients with uric acid stones’, Kidney Int, vol.61, pp.988–994.

Kemenkes RI. 2013, Riset Kesehatan Dasar; RISKESDAS 2013, Balitbangkes Kemenkes RI 2013, Jakarta.

Kirby, A.C. & Lentz, G.M. 2017, ‘Lower Urinary Tract Function and Disorders:

Physiology of Micturition, Voiding Dysfunction, Urinary Incontinence, Urinary Tract Infections, and Painful Bladder Syndrome’ in Comprehensive Gynecology, ed. Lobo, R.A., Gershenson, D.M., Lentz, G.M., Valea, F.A., Elsevier, Durham.

Klisic, J., Hu, M.C., Nief, V. et al. 2002, ‘Insulin activates the Na+/H+ exchanger 3 (NHE3): biphasic response and glucocorticoid dependence’, American Journal of Physiology-Renal Physiology, vol.283, no3, pp.532–539.

Knoll, T., Schubert, A.B., Fahlenkamp, D., Leusmann, D.B., Wendt-Nordahl, G. &

Schubert, G. 2011, ‘Urolithiasis Through the Ages: Data on More Than 200,000 Urinary Stone’, Journal of Urology, vol.185, no.4, pp.1304-1311.

Kushner, R.F. 2015, ‘Evaluation and Management of Obesity’ in Harrison’s Principles of Internal Medicine, 19th edition, ed. Kasper, D.L., Hauser, S.L., Jameson, J.L., Fauci, A.S., Longo, D.L., Loscalzo, J., McGraw-Hill, United States.

Li, W.M., Chou, Y.H., Li, C.C., Liu, C.C., Huang, S.P., Wu, W.J., Chen, C.W., Su, C.Y., Lee, M.H., Wei, Y.C. & Huang, C.H. 2009, ‘Association of body mass index and urine pH in patient with urolithiasis’, Urological Research, vol.37, no.4, pp.193-196.

Lina, N. 2008, Faktor-faktor Risiko Kejadian Batu Saluran Kemih pada Laki-laki (Studi Kasus di RS Dr. Kariadi, RS Roemani dan RSI Sultan Agung Semarang), Universitas Diponegoro, Semarang.

Mehmed, M.M. & Ender, O. 2015, ’Effect of Urinary Stone Disease and it’s Treatment on Renal Function’, World J Nephrol, vol.4, no.2, pp.271-276.

Menon, M., Resnick & Martin, I. 2002, ‘Urinary Lithiasis: Etiologi and Endourologi’ in Campbell’s Urology, 8th edition, W.B. Saunder Company, Philadelphia.

40

Naghii, M.R., Babaei, M. & Hedayati, M. 2014, ‘Androgens Involvement in the Pathogenesis of Renal Stones Formation’, PLoS ONE, vol. 9, no.4.

Pandeya, A., Prajapati, R., Panta, P. & Regmi, A. 2010, ‘Assessment of Kidney Stone and Prevalence of Its Chemical Compositions’, Nepal Medical College Journal, vol. 12, no.3, pp.190-192.

Pearle, M.S., Calhoun, E.A. & Curhan, G.C. 2007, ‘Chapter 8: Urolithiasis’ in Urologic Diseases in America (NIH Publication No. 07–5512), National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, United States.

Powell, C.R., Stoller, M.L. & Schwartz, B.F. 2000, ‘Impact of body weight on urinary electrolytes in urinary stone formers’, Urology, vol.55, pp.825-830.

Prabowo, E. & Pranata, A.E. 2014, Buku Ajar Asuhan Keperawatan Sistem Perkemihan, Nuha Medika, Yogyakarta.

Purnomo, B.B. 2011, Dasar-Dasar Urologi, edisi 1, CV.Sagung Seto, Jakarta.

RSUP HAM. 2018, Tentang RSUP HAM, accessed 20 November 2018, available at : http://rsham.co.id/tentang

Sakhaee, K. & Moe, O.W. 2016, ‘Urolithiasis’ in Brenner and Rector’s The Kidney, 10th edition, Elsevier, United States.

Sastroasmoro, S. & Ismael, S. 2017, Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis, edisi ke-5, Sagung Seto, Jakarta.

Selimoglu, A.M., Menekse, E. & Tabel, Y. 2013, ‘Is Urolithiasis in Children Associated with Obesity or Malnutrition?’, Journal of Renal Nutrition, vol.23, no.2, pp.119-122.

Semins, M.J., Shore, A.D., Makary, M.A, Magnuson, T., Johns, R. & Matlaga, B.R.

2010, ‘The Association of Increasing Body Mass Index and Kidney Stone Disease’, The Journal of Urology, vol.183, no.2, pp.571-575.

Shekarriz, B. & Stoller, M.L. 2002, ‘Uric Acid Nephrolithiasis: Current Concepts and Controversies’, The Journal of Urology, vol.168, pp.1307–1314.

Sherwood, L. 2011, ‘Keseimbangan Energi dan Pengaturan Suhu Tubuh‘ in Fisiologi Manusia : dari Sel ke Sistem, edisi 6, ed. Yesdelita, N., EGC, Jakarta.

Siener, R., Glatz, S., Nicolay, C. & Hesse, A. 2004, ‘The Role of Overweight and Obesity in Calcium Oxalate Stone Formation’, Obesity Research, vol.12, no.1, pp.106-113.

Sja’bani, M., Bakri,S. & Rahardjo, P. 2001, ‘Batu Saluran Kemih’ in Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, edisi 3, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.

Sugiyono. 2015, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D), CV. Alfabeta, Bandung.

Sugondo, S. 2006, ‘Obesitas’ in Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, ed. Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M.K., Setiati, S., Pusat Penerbit Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Suryanto, F. & Subawa, A. 2017, ‘Gambaran Hasil Analisis Batu Saluran Kemih di Laboratorium Patologi Klinis RSUP Sanglah Denpasar Periode November 2013 - Oktober 2014’, E-Jurnal Medika Udayana, vol.6, no.1.

Taylor, E.N. & Curhan, G.C. 2006, ‘Body Size and 24-Hour Urine Composition’, American Journal of Kidney Diseases, vol.48, no.6, pp.905-915.

Taylor, E.N., Stampfer, M.J. & Curhan, G.C. 2005, ‘Obesity, weight gain, and the risk of kidney stones’, JAMA, vol.293, pp.455-462.

Urological Associates of The Piedmont. 2013, What are Kidney Stones?, [Online], accessed 26 May 2018, available at: http://www.uro-docs.com/what-are-kidney-stones

Wein, A.J., Kavoussi, L.R. & Campbell, M.F. 2012, Campbell-Wash Urology, 10th edition. Elsevier Saunders, United States of America.

Worcester, E.M. & Coe, F.L. 2010, ‘Clinical practice: Calcium kidney stones’, The New England Journal of Medicine. vol.363, pp.954-963.

World Health Organization Western Pacific Region, International Association for

World Health Organization Western Pacific Region, International Association for

Dokumen terkait