= − = = 18
Sehingga diketahui bobot nilai untuk tiap kategori adalah : Tabel 4.34
Kategori Variabel Kredibilitas Pr esenter Berita
No Kategori Jumlah Prosentase
1 Sangat rendah (>24 – 39) 0 0
2 Rendah (> 40 – 58) 0 0
3 Tinggi (> 59 – 77) 33 33,0
4 Sangat tinggi (> 78 – 96) 67 67,0
Jumlah 100 100,0
Sumber : data primer yang diolah tahun 2013
Dari jawaban responden yang terlihat pada tabel 4.34 di atas, menunjukkan bahwa kredibilitas presenter berita JTV Surabaya dinyatakan sangat baik ditinjau dari tiga indikator, yaitu kemampuan, kepercayaan dan dinamisme. Presenter berita JTV Surabaya memiliki kredibilitas yang sangat tinggi dalam menyampaikan informasi kepada pemirsa. Sebagai komunikator program berita TV lokal, presenter berita selalu berusaha untuk membangun kedekatan dengan
pemirsa melalui kemampuannya dalam menyampaikan informasi yang telah dikemas oleh tim redaksi. Sehingga, informasi yang telah diolah sedemikian rupa oleh tim redaksi dapat dipercaya oleh pemirsa. Setiap stasiun televisi memiliki karakteristik masing-masing yang diharapkan dapat meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan masyarakat akan berita yang disampaikan.
Pada dasarnya presenter berita JTV Surabaya merupakan komunikator bagi pemirsa yang menjadi komunikan dalam proses penyampaian informasi. Menurut Effendy (2003:16), keefektifan komunikasi tidak saja ditentukan oleh kemampuan berkomunikasi tetapi juga oleh diri komunikator itu sendiri. Berdasarkan teori tersebut, maka presenter berita JTV Surabaya sebagai komunikator memerlukan kredibilitas. Kredibilitas dapat diperoleh dari persepsi yang baik dari komunikan dan sifat-sifat yang baik pula dari komunikator. Dalam kredibilitas persepsi dari komunikan sangatlah penting (Rakhmat, 2005:257). Oleh karena itu seorang presenter berita harus memiliki kredibilitas yang tinggi agar mendapatkan persepsi yang kuat dari pemirsa sehingga dapat meyakinkan pemirsa untuk menonton program berita tersebut.
Presenter berita televisi yang kini memasuki era komunikator (Hausman, 2003:13). Menurut Nyarwi Ahmad, industri pertelevisian adalah panggung pertunjukkan karena itu siapapun yang tampil haruslah menarik, atraktif dan mampu memikat masyarakat. Untuk itu, siapa saja dan apapun materi yang disampaikan di dalam dunia televise, haruslah dipersiapkan dengan maksimal. Presenter berita menduduki posisi terpenting di depan kamera dalam dunia pertelevisian karena memiliki tanggung jawab yang besar, pekerjaan besar dan
bermanfaat secara professional dan pribadi. Dalam banyak kasus, presenter berita telah menjadi wajah stasiun TV atau jaringan yang bersangkutan (Flynn T, 2009). Berdasarkan tabel 4.34 hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ethos (kredibilitas) presenter berita JTV Surabaya dapat diukur menggunakan Model Aristoteles. Diantaranya, kemampuan, kepercayaan dan dinamisme. Hal tersebut seusai dengan faktor-faktor penunjang komunikasi efektif (Effendi, 2003) yaitu :
a. Kepercayaan kepada Komunikator (Source Credibility)
Kepercayaan kepada Komunikator ditentukan oleh keahliannya dan dapat tidaknya Komunikator untuk dipercaya. Kepercayaan yang besar dapat meningkatkan daya perubahan sikap, sedangkan kepercayaan yang rendah akan mengurangi daya perubahan yang menyenangkan. Kepercayaan kepada Komunikator mencerminkan bahwa pesan yang diterima Komunikan dianggap benar dan sesuai dengan kenyataan empiris.
b. Daya tarik Komunikator (Source Tractiveness)
Seorang Komunikator akan mempunyai kemampuan untuk melakukan perubahan sikap melalui mekanisme daya tarik, jika pihak Komunikan merasa bahwa Komunikator ikut serta merasakan apa yang dirasakan Komunikan. Misalnya, Komunikator dianggap memiliki kesamaan tertentu dengan Komunikan, sehingga Komunikan bersedia untuk tunduk kepada pesan yang disampaikan.
Pada penelitian ini, presenter berita televisi berarti menggunakan media massa untuk menyampaikan pesan maka termasuk dalam komunikasi massa.
Menurut Defleur dan Dennis, komunikasi massa adalah suatu proses dimana komunikator menggunakan media untuk menyebarkan pesan-pesan secara luas dan secara terus-menerus menciptakan makna-makna yang diharapkan dapat mempengaruhi khalayak yang besar dan berbeda-beda. Definisi tersebut menonjolkan pada segi pengemasan dan penyajian isi pesan di dalam media massa. Maka presenter berita JTV Surabaya berusaha menyajikan dengan cara dan gaya tertentu sehingga dapat menciptakan makna terhadap peristiwa sehingga mempengaruhi khalayak.
Pada program berita, umpan balik terjadi dalam proses komunikasi massa yang dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Internal Feedback
Umpan balik yang diterima oleh komunikator datang dari pesan itu atau dari komunikator itu sendiri. Ketika menyampaikan pesan, komunikator menyadari telah melakukan kesalahan (salah ucap, salah baca, salah menyebut nama, dan sebagainya), kemudian ia meminta maaf dan memperbaiki kesalahan tersebut. Pada hal ini, presenter berita JTV Surabaya memiliki kredibilitas yang sangat tinggi dalam hal umpan balik kepada pemirsa. Hal tersebut dikarenakan komunikasi presenter berita JTV merupakan komunikasi yang berlangsung satu arah.
2. External feedback
Audiens komunikasi massa berjumlah sangat banyak, maka untuk mengukur feedback dapat diambil sampel dari sekian persen audiens
yang mewakili. Selain itu, respon yang didapatkan biasanya melalui pihak ketiga, misalnya perusahaan rating seperti AC Nielsen.
Dalam penelitian ini, rating untuk program berita di JTV Surabaya termasuk dalam “TOP 15 PROGRAM JTV”. Latar belakang pengalaman presenter berita JTV Surabaya yang berkualitas tersebut ternyata sesuai dengan kredibilitasnya bagi pemirsa. Kredibilitas adalah seperangkat persepsi tentang kelebihan-kelebihan yang dimiliki sumber sehingga diterima dan diikuti khalayak (Cangara, 2007:91). Tabel diatas menunjukkan bahwa kredibilitas yang dimiliki presenter berita JTV Surabaya merupakan kekuatan (power) yang dapat secara optimal digunakan untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat akan berita yang disampaikan dan dalam usaha menarik perhatian pemirsa untuk menyaksikan siaran berita hingga persepsi pemirsa sesuai dengan kemampuan presenter berita. Kredibilitas presenter berita JTV Surabaya dapat diukur menggunakan Model Aristoteles yang mengartikan kredibilitas sebagai ethos.
Kepercayaan kepada komunikator mencerminkan bahwa pesan yang disampaikan kepada komunikan dianggap benar dan sesuai dengan kenyataan empiris. Jadi, seorang komunikator menjadi source credibility disebabkan adanya ethos pada dirinya yaitu apa yang dikatakan oleh Aristoteles yang hingga kini tetap dijadikan pedoman yaitu good sense, good moral character dan good will, yang oleh para cendikiawan modern diterjemahkan menjadi itikad baik (good intentions) dan dapat dipercaya (thrustworthiness) dan kecakapan atau kemampuan (competence or expertness) (Effendi, 2007:306).
Komponen dari ethos atau kredibilitas itu sendiri menurut Aristoteles terbagi menjadi 3 (tiga) aspek, yaitu : Kemampuan (Competence), Kepercayaan (trustworthiness) dan Dinamisme. Aspek – aspek tersebut diuraikan sebagai berikut :
1. Kemampuan
Kemampuan yang dimiliki presenter berita JTV Surabaya, dibentuk dari kemampuannya sebagai komunikator dalam menyampaikan infomasi kepada pemirsa. Presenter berita JTV Surabaya dinilai memiliki kredibilitas yang tinggi karena memiliki keahlian dalam membuka program acaranya, menyampaikan informasi dengan jelas, menguasai materi berita yang disampaikan, dapat merangkai berita dengan baik, menggunakan istilah – istilah asing dalam berita dengan jelas, menggunakan bahasa yang sederhana dan mampu menarik minat pemirsa.
Dalam hal ini, komunikator haruslah bisa menarik minat khalayak untuk menonton program mereka. Minat adalah perhatian yang merupakan titik tolak timbulnya hasrat untuk melakukan tindakan yang diharapkan (Effendy, 2000:13). Sedangkan menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (1998:53), minat diartikan sebagai perhatian, ketertarikan, kecenderungan hati, yang dimiliki oleh individu. Minat berkembang kerena 3 hal yaitu :
a. Efek kognitif, yaitu berhubungan dengan pikiran yakni khalayak yang semula tidak tahu, yang tadinya tidak mengerti yang tadinya bingung
menjadi merasa jelas dengan informasi yang disampaikan presenter berita JTV Surabaya.
b. Efek afektif yaitu berkaitan dengan perasaan. Presenter berita JTV Surabaya dapat menimbulkan perasaan tertentu pada khalayak yang menerima informasi.
c. Efek behavioral
Efek behavioral yang dihasilkan dalam perilaku seseorang yaitu memiliki kemampuan yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Informasi yang disampaikan presenter berita sangat bermanfaat bagi pemirsa sehingga kredibilitas harus dimiliki presenter dalam menyajikan berita. Suatu komunikasi dikatakan efektif apabila timbul kesamaan arti pesan dari komunikator dengan komunikan (Malik, 1994). Oleh karena itu, dalam penelitian ini peran presenter berita sangat penting untuk membangun komunikasi efektif dengan penonton (komunikan).
Presenter berita JTV Surabaya memiliki wawasan yang luas bagi pemirsa. Hal tersebut sangat penting karena suatu acara dinilai berhasil atau tidaknya tergantung dari penampilan presenter (AA Kunto A, 2007).
2. Kepercayaan
Kepercayaan pemirsa pada informasi yang disampaikan presenter berita JTV Surabaya berkaitan dengan gaya penyampaian berita dengan nada percakapan, tidak berlebihan, penampilan fisik menarik, artikulasi
dan kecepatan menyampaikan pesan dengan tepat, tidak menjadikan berita sebagai lelucon, peduli dan sungguh-sungguh dalam menyampaikan informasi, tegas dan yakin terhadap apa yang disampaikan, gaya penyajian berita yang santai, tenang dan tidak kaku namun tetap dipercaya oleh pemirsa.
Menurut (Malik, 1994), agar dapat dipercaya orang lain yang diperlukan bukan hanya dapat berbicara tetapi juga memerlukan “penampilan” yang meyakinkan. Ketika komunikator berkomunikasi, yang berpengaruh terhadap khalayak bukan saja apa yang ia katakan (pesan), tetapi penampilannya, keadaan dirinya, cara berpakaiannya, model rambutnya juga berpengaruh terhadap khalayak atau mendapat penilaian dari khalayak pada saat itu.
Menurut (Sonny Tulung, 2007), Sikap seorang presenter dapat dilihat dari hal-hal kecil, begitupun sikap presenter berita JTV Surabaya yang tidak menjadikan berita sebagai bahan lelucon. Menurut Becky Tumewu, Erwin Parengkuan, dan Alexander Sriewijono dalam bukunya “Talk-Inc Points”, Presenter yang baik adalah seorang presenter yang
selalu memperhatikan dan menjaga dengan sungguh-sungguh
performanya, mulai dari penampilan sampai sikap. Sikap dan perilaku professional menunjukkan kredibilitas seorang presenter, serta akan membangun kepercayaan para penonton terhadap kata – kata yang keluar dari mulut dan pikiran presenter.
3. Dinamisme
Dinamisme adalah ekspresi fisikal dan komitmen psikologis komunikator terhadap topik yakni gerakan (body language). Dinamisme merupakan suatu ukuran dari energi komunikator yang dianggap empati, kuat, aktif, tegas, dengan menghindari sikap ragu-ragu. Dinamisme presenter berita JTV Surabaya diantaranya memiliki rasa percaya diri, suara yang jernih, bersemangat, pemenggalan kata dan penekanan kata yang tepat, dapat mengontrol bahasa tubuh, busana yang digunakan sesuai dengan program, etika yang baik, dan menyesuaikan ekspresi dengan materi yang disampaikan dengan baik.
Dengan suara seorang presenter mendapat nilai berkualitas. Misalnya, suara yang lantang dan teratur dapat membuat penonton tertarik untuk mendengarnya. Suara merupakan pembawaan sejak lahir tetapi suara dapat dilatih. Suara dapat membangun theater mind (penciptaan suatu gambaran dalam benak seseorang mengenai suatu hal). Dalam penelitian ini, presenter berita JTV Surabaya memiliki kredibilitas yang tinggi dilihat dari segi suara. Suara akan membantu menarik perhatian penonton dan terus mempertahankan ketertarikan itu ( Boyd, 1990). Hal ini membantu menjaga perhatian pemirsa dengan menghindari hal yang monoton dan membosankan. Tempo cepat diperlukan untuk menunjukkan sikap energik, sedangkan tempo lambat diperlukan pada topik-topik penting. Perubahan gaya dan ritme disesuakan dengan perubahan berita, tetapi suara akan tetap sama. Ada saatnya presenter berita melunakkan
suara agar menjadi lebih dekat dengan pemirsa, misalnya untuk berita kematian. Di lain waktu membaca dilakukan dengan cepat dan berapi-api seperti saat menyampaikan berita polisi yang mengejar penjahat.
Pada umumnya banyak orang yang tidak mengerti atau kurang memahami bagaimana seharusnya suara penyiar. Suara itu berbeda-beda dan mempunyai cirri khas sesuai dengan kepribadiannya masing-masing. Suara merupakan salah satu faktor individual paling mencolok yang dimiliki seseorang. Dalam waktu yang bersamaan, alat-alat suara dan isi naskah diekspresikanoleh presenter dengan segenap emosi dan kecerdasannya. Faktor ini menentukan suksesnya presenter berita. suara yang baik adalah suara yang enak didengar, yang menyenangkan dan dimengerti oleh penonton yaitu suara yang penuh kehangatan dan keramahtamahan, memiliki daya hidup (vitalitas) yang ramah bersahabat. Kualitas suara yang tidak enak di dengar atau tidak menyenangkan adalah suara kasar, melengking, sengau, serak, parau, tidak jelas, dan bindeng. Namun yang paling penting adalah menghindari suara yang dibuat – buat.
Dinamisme sangat penting untuk presenter berita karena kendala terbesar yang dihadapi seorang calon presenter (RM Hartoko, 1999) adalah : Dilanda 3 demam, yaitu demam microfon, demam kamera, dan demam panggung. Kebanyakan orang akan merasa malu (self conscous) atau gugup (nervous). Selain itu, Presenter berita JTV Surabaya selalu berusaha mengendalikan sikap dan perasaan (motions & emotions) dalam
Sebagian besar kendala saat siaran berada di luar kendali presenter, namun memperhalus keadaan merupakan kendali presenter. Bahkan penanganan teknis atau masalah komunikasi merupakan bagian dari pekerjaan presenter berita. Misalnya, sound tiba – tiba terpotong sehingga orang - orang di rumah tidak mendengar suara presenter. Presenter harus tahu bagaimana menangani hal ini dan situasi sulit lainnya yang akan timbul. Ketika sound itu berfungsi kembali, presenter dapat memberi penjelasan kepada para pemirsa agar mereka tidak berpikir bahwa kesalahan terjadi karena televisi penonton. presenter berita JTV Surabaya memiliki kredibilitas yang sangat tinggi dilihat dari segi etika.
Seorang pembicara dalam konteks ini adalah presenter berita JTV Surabaya memiliki kredibilitas yang sangat tinggi juga dinilai dari komunikasi non verbal, karena presenter harus mampu melakukan komunikasi non verbal secara efektif (Askurifai Baskin, 2006). Bahasa tubuh merupakan komunikasi non verbal, yaitu proses pertukaran pikiran dan gagasan dimana pesan yang disampaikan dapat berupa isyarat, ekspresi wajah, pandangan mata, suara, serta postur dan gerakan tubuh (Sasa Djuarsa,2001).Bagi presenter berita yang tidak memiliki kredibilitas tinggi pada kenyataannya berbeda dengan presenter berita yang memiliki selalu berusaha untuk meningkatkan dan mempertahankan kredibilitasnya. Begitu pula presenter berita JTV Surabaya yang memiliki kredibilitas sangat tinggi bagi responden, diharapkan dapat mempertahankan kredibilitasnya.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kredibilitas presenter berita JTV Surabaya sangat tinggi dimata khalayak. Dengan demikian, sesuai dengan (Hausman, 2003:13) bahwa presenter berita televisi kini telah memasuki era komunikator dan meninggalkan zaman announce. Oleh karena itu, kredibilitas yang berhubungan dengan gaya penyajian berita oleh presenter berita berperan penting dalam menyampaikan berita karena dapat menumbuhkan kedekatan dengan khalayak (pemirsa) yang membuat pemirsa percaya dengan berita yang disampaikan presenter dalam program berita Jatim Awan dan Pojok Pitu. Kedua program tersebut mempunyai konsep program yang sama, presenter yang sama, hanya waktu siaran yang berbeda, namun keduanya merupakan program berita unggulan JTV Surabaya karena selalu menempati rating Top 15 program di JTV Surabaya. Sebagai televise lokal, JTV Surabaya sangat memprioritaskan program berita (news) disbandingkan program hiburan. Walaupun merupakan televisi lokal, namun semua presenter berita yang direkrut memiliki potensi dan keterampilan yang berkualitas dalam membawakan program berita.
Berdasarkan hasil analisis data, dapat diketahui bahwa prosentase kredibilitas presenter berita JTV Surabaya sebesar 67% menyatakan kredibilitas presenter berita JTV Surabaya sangat tinggi dan 33% menyatakan kredibilitas
presenter berita tinggi. Hal ini diukur menggunakan variabel kredibilitas pada model aristoteles yang ditinjau dari 3 (tiga) indikator diantaranya penilaian responden mengenai kemampuan (competence) presenter berita JTV Surabaya, penilaian responden mengenai presenter berita JTV Surabaya dalam menumbuhkan kepercayaan khalayak akan berita yang disampaikan, dan yang terakhir adalah penilaian responden mengenai dinamisme (ekspresi fisikal) presenter berita JTV Surabaya. Berdasarkan hasil analisis yang dapat diketahui bahwa pada indikator kemampuan, 60% responden menyatakan kemampuan presenter berita JTV Sangat tinggi dan 40% tinggi. Indikator kepercayaan khalayak terhadap apa yang disampaikan presenter berita JTV Surabaya, 77% sangat tinggi dan 23% tinggi. Sedangkan untuk indikator dinamisme, 91% responden mengatakan presenter berita JTV Surabaya memiliki daya tarik yang sangat tinggi dan 9% tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai TV Lokal, JTV Surabaya dapat menjadi motivasi televisi lokal lainnya agar dapat mengembangkan potensi presenter lokal yang berkualitas. Harapan peneliti untuk penelitian yang akan datang adalah agar peneliti selanjutnya menggunakan dua variabel yang dapat membuktikan dan menganalisis lebih jauh mengenai variabel yang berkaitan dengan kredibilitas presenter berita. Bagi JTV Surabaya untuk mengetahui bagaimana kredibilitas presenter berita JTV Surabaya di mata khalayak sehingga mampu mempertahankan kredibilitas presenter berita dan mengembangkan potensi – potensi sumber daya lokal.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kredibilitas sebagai ethos diartikan oleh Aristoteles terdiri dari : kredibilitas awal (Initial Credibility) yakni
mengenai persepsi khalayak terhadap komunikator sebelum terjadi proses komunikasi, derived credibility yaitu persepsi khalayak terhadap komunikator ketika komunikator menyampaikan pesan, dan terakhir terminal credibility yakni mengenai persepsi khalayak terhadap komunikator setelah terjadi proses komunikasi. Penelitian ini juga membuktikan bahwa dalam industri pertelevisian bukan hanya isi berita yang menentukan tingkat ketertarikan pemirsa untuk menyaksikan program berita suatu stasiun televisi, tetapi juga harus menampilkan presenter berita yang memiliki kredibilitas yang tinggi.
5.2. Saran
Dalam penelitian ini, diperoleh hasil bahwa presenter berita JTV Surabaya memiliki kredibilitas yang sangat tinggi yaitu 67%. Harapan peneliti untuk penelitian yang akan dating adalah agar peneliti selanjutnya dapat membuktikan dan menganalisis mengenai variabel pengaruh kredibilitas presenter berita televise lokal terhadap kepuasan khalayak.
Bagi stasiun televisi JTV Surabaya diharapkan dapat mempertahankan kualitas presenter berita yang berasal dari sumber daya lokal dan dapat mengembangkan potensi – potensi presenter baru yang ada di Surabaya.
Rekatama Media.
Bilson Simamora, Bilson. 2002 .Panduan Riset Perilaku Konsumen. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Djuarsa, Sasa. 2001. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Effendy, Onong Uchayana. 2000. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Irawan, Prasetya. 2006 .Penelitian Kualitatif & Kuantitatif Untuk Ilmu – Ilmu Sosial. Jakarta : Departemen Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.
Kunto, AA. 2007. Cepat Kaya Jadi Presenter.Bandung : Indonesia Cerdas.
Kuswandi, Wawan. 1996. Komunikasi Massa, Sebuah Analisis Media Televisi. Jakarta : PT RinekaCipta.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua.Jakarta : Balai Pustaka.
McQuail, Denis. 1996. TeoriKomunikasi Massa. Jakarta : Erlangga.
Morrisan. 2005. JurnalistikTelevisiMutakhir. Tangerang : Ramdina Perkasa. Muda, I. D. 2005.JurnalistikTelevisi. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Mulyana, Deddy. 2004. Ilmu Komunikasi Suatu Pegantar. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Purwanto, Agus & Ratih, Dyah.2007 . Metode Penelitian Kuantitatif Untuk Masalah-masalah Sosial. Yogyakarta : Gava Media.
135
Reardon, N. & Flynn, T. 2009.On Camera.Jakarta : Erlangga.
Sastro, S. 1994. Produksi Acara Televisi. Yogyakarta : Duta Wacana Press.
Sugiono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung :Alfabeta, cv.
Triono, Hendi. 2007. Langkah Awal Menjadi Presenter. Jogjakarta :Cakrawala. Tulung, Sonny. 2007. Anda Juga Bisa Menjadi Presenter. Jakarta : Elex Media. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.
Jakarta : Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 139.
Wibowo, Fred. 2007. Tekhnik Produksi Program Televisi. Yogyakarta : Pinus Book Publisher.