• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sanitasi Lingkungan

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 31-36)

Sanitasi adalah kebersihan tempat, masyarakat atau orang yang berkaitan dengan aspek kesehatan manusia, termasuk kualitas hidup dan ditentukan oleh faktor fisik, biologis, sosial dan psikologis dalam lingkungan yang mengacu pada pembuangan limbah manusia, yaitu feses dan urin. Sanitasi merupakan sebuah konsep yang menjelaskan kegiatan untuk memastikan pembuangan tinja, limbah padat, limbah cair yang aman dan mencegah vektor penyakit untuk memastikan lingkungan yang higienis (Acheampong, 2010). Sanitasi yang tidak memadai merupakan penyebab utama penyakit dan meningkatkan sanitasi memiliki dampak yang menguntungkan bagi kesehatan baik di rumah tangga maupun di masyarakat (WHO, 2014b).

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Komponen utama sanitasi lingkungan meliputi pengumpulan dan pembuangan sanitasi limbah (limbah padat, cair limbah, kotoran, limbah industri, kesehatan dan limbah berbahaya), stormwater drainase, pembersihan jalan raya, pasar, tempat-tempat umum, pengendalian hama, vektor penyakit, kebersihan makanan, pendidikan, inspeksi dan penegakan peraturan sanitasi, penguburan orang yang sudah meninggal, pengendalian pemeliharaan hewan, serta pemantauan kepatuhan terhadap standar lingkungan (Government of Ghana, 2010).

Pada sanitasi lingkungan sekolah, khususnya sekolah dasar sangat dimungkinkan menjadi salah satu penyebab terjadinya infeksi kecacingan pada anak. Anak usia sekolah dasar merupakan anak yang memiliki frekuensi bermain relatif tinggi, baik di sekolah maupun di rumah. Perilaku bermain ini tentu tidak dapat lepas dengan kontak tanah di halaman sekolah. Sebagian besar sekolah dasar di pedesaan memiliki kondisi sanitasi kamar mandi cukup memprihatinkan. Hampir dapat dipastikan bahwa perawatan kamar mandi kurang baik sehingga area tanah di sekitarnya memiliki sanitasi yang kurang baik. Kondisi sanitasi sekolah yang kurang inilah yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi kecacingan pada anak sekolah (Ginting, 2003). Survey sanitasi lingkungan sekolah menunjukkan bahwa kurangnya ketersediaan air bersih, lingkungan yang kumuh, sanitasi toilet kurang baik, tidak tersedianya sabun di WC, adanya tumpukan sampah merupakan penyebab infeksi cacing pada anak sekolah (Nur et al., 2013; Ulukanligil & Seyrek, 2003).

Faktor sanitasi lingkungan yang dapat mengakibatkan kejadian infeksi kecacingan, dapat dijelaskan sebagai berikut :

a) Lantai

Persyaratan fisik rumah sehat yaitu kontruksi harus kuat dan baik, terutama lantai rumah karena banyak penyakit menular melalui tanah, salah satunya adalah penyakit kecacingan (Machfoedz, 2008). Penyebaran penyakit kecacingan dapat terjadi melalui kontaminasi tanah (Depkes, 2006). Tanah liat dengan kelembaban tinggi dan suhu yang berkisar antara 25°C-30°C sangat baik untuk berkembangnya telur Ascaris lumbricoides sampai

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id menjadi bentuk infektif. Pertumbuhan larva Necator americanus yaitu memerlukan suhu optimum 28°C-32°C dan tanah gembur seperti pasir atau humus, dan untuk Ancylostoma duodenale lebih rendah yaitu 23°C-25°C (Gandahusada, 2004). Rumah dengan jenis lantai yang bukan terbuat dari tanah akan menurunkan risiko terjadi kecacingan dibandingkan rumah yang berjenis lantai dari tanah. Lantai bukan tanah akan terproteksi lebih rendah terhadap kejadian kecacingan dibandingkan lantai yang terbuat dari tanah (Rahayu & Ramdani, 2013).

b) Ketersediaan Air Bersih

Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak (WHO, 2014a). Organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan 50% malnutrisi berkaitan dengan infeksi cacing usus sebagai hasil dari air yang tidak aman dan kebersihan yang tidak layak (Velleman, 2013).

Syarat-syarat kualitas air bersih menurut Depkes (1999) diantaranya sebagai berikut :

i) Syarat Fisik : Tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna

ii) Syarat Kimia : Kadar Besi, maksimum yang diperbolehkan 0,3 mg/l, Kesadahan (maks 500 mg/l)

iii) Syarat Mikrobiologis: Koliform tinja/total koliform (maks 0 per 100 ml air)

Tingkat infeksi kecacingan semakin meningkat karena kualitas air yang buruk, penggunaan air yang tidak bersih (King et al., 2013). Rendahnya kualitas penyediaan air minum berakibat pada tingginya resiko infeksi STH (Alemu et al., 2011; Nasr et al., 2013). Adanya akses air bersih, penggunaan sumber air yang lebih baik dan dengan kejadian infeksi STH (Alemu et al., 2011; King et al., 2013; Ngui et al., 2011). Konsumsi air yang tidak direbus serta konsumsi daging mentah juga beresiko terhadap kejadian

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id infeksi STH (Wang et al., 2012). Perbaikan hygiene dan sanitasi dapat menurunkan kejadian infeksi parasit usus (King et al., 2013).

c) Kepemilikan Jamban

Kotoran manusia (feces) adalah sumber penyebaran penyakit yang multikompleks. Beberapa penyakit yang dapat disebarkan oleh feses manusia antara lain tifus, disentri, kolera, kecacingan, schistosomiasis dan lain sebagainya. Jamban atau kakus (latrine) adalah tempat pembuangan kotoran manusia berupa tinja dan urin. Septic Tank, merupakan cara yang paling dianjurkan untuk penampungan tinja. Menurut Notoatmodjo (2007) suatu jamban disebut sehat untuk daerah pedesaan apabila memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut tidak mengotori permukaan tanah di sekeliling jamban, tidak mengotori air di permukaan sekitarnya, tidak mengotori air tanah di sekitarnya, tidak terjangkau oleh serangga terutama lalat, kecoa dan binatang lainnya, tidak menimbulkan bau, mudah digunakan dan dipelihara (maintenance), sederhana desainnya, murah, dapat diterima oleh pemakainya. Kualitas jamban yang kurang baik dapat menyebabkan infeksi STH (Alemu et al., 2011). Kejadian infeksi STH lebih rendah pada anak yang memiliki jamban dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki jamban (Sayono, 2003).

d) Sarana Pembuangan Sampah

Sampah merupakan sisa hasil kegiatan manusia yang keberadaannya dapat menimbulkan masalah apabila tidak dikelola dengan baik. Sampah yang dibuang dengan cara ditumpuk, akan menimbulkan bau dan gas yang berbahaya bagi kesehatan manusia, apabila dibakar akan menimbulkan pengotoran udara, apabila dibuang disungai dapat mengakibatkan pendangkalan sehingga menimbulkan banjir. Dengan demikian sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sumber pencemar pada tanah, badan air dan udara (Depkes, 1999). Penanganan sampah sering mengalami kesulitan karena cara pengelolaan di masing-masing daerah belum sesuai

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id standar kesehatan. Tidak adanya koordinasi yang baik dan keterbatasan tempat pembuangan, akan memperburuk keadaan, akibatnya cara yang ditempuh menjadi kurang efektif, efisien dan berwawasan lingkungan. Oleh sebab itu penanganan masalah sampah harus lebih serius, mulai dari pengelolaan sampai pada tempat pembuangan akhir (TPA). Pembuangan sampah di tempat terbuka (open dumping) dan jarak dengan tempat tinggal yang kurang dari 1 km tidak dianjurkan, karena keadaan ini tidak memenuhi syarat kesehatan (Rudianto & Azizah, 2005).

Adapun syarat tempat sampah menurut Depkes (1999) adalah sebagai berikut:

i) Terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan, kuat sehingga tidak mudah bocor, kedap air.

ii) Tempat sampah harus mempunyai tutup, tetapi tutup ini dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dibuka, dikosongkan isinya serta mudah dibersihkan. Sangat dianjurkan agar tutup sampah ini dapat dibuka atau ditutup tanpa mengotori tangan.

iii) Ukuran tempat sampah sedemikian rupa sehingga mudah diangkat oleh satu orang atau ditutup.

iv) Harus ditutup rapat sehingga tidak menarik serangga atau binatang-binatang lainnya seperti tikus, ayam, kucing dan sebagainya.

e) Saluran Pembuangan Air limbah (SPAL)

Sarana pembungan air limbah rumah tangga sebaiknya di buang ke dalam tanah dengan membuat resapan di halaman atau tempat lain di sekitar rumah dengan syarat paling sedikit berjarak 10 meter dari sumur atau sumber air bersih (Machfoedz, 2008). Pengelolaan air limbah bertujuan agar tidak mencemari air, tanah dan lingkungan. Air limbah banyak mengandung bibit penyakit, sehingga pengolahan air limbah perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya pencemaran di lingkungan. Pencemaran limbah di lingkungan menyebabkan berbagai macam penyakit, salah satunya adalah kecacingan. Lingkungan mempunyai daya dukung yang cukup besar

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id terhadap gangguan yang timbul karena pencemaran air limbah tersebut. Namun demikian, alam mempunyai kemampuan yang terbatas dalam daya dukungnya, sehingga air limbah perlu diolah sebelum dibuang (Notoatmojo, 2007).

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 31-36)

Dokumen terkait