perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka 1. Status Gizi
Status gizi merupakan suatu keadaan tubuh yang diakibatkan oleh keseimbangan antara asupan zat gizi terhadap kebutuhan, terlihat dari variabel pertumbuhan berat badan, tinggi atau panjang badan, lingkar kepala, lingkar lengan dan panjang tungkai (Gibson, 2005). Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Tubuh yang memperoleh zat gizi cukup dan digunakan secara efisien akan mencapai status gizi yang optimal (Almatsier, 2009).
a. Penilaian Status Gizi
Metode penilaian status gizi dapat dilakukan melalui dua cara yaitu penilaian status gizi secara langsung dan tidak langsung. Penilaian secara langsung dilakukan dengan cara penilaian antropometri, klinis, biokimia, biofisik. Sedangkan penilaian secara tidak langsung dilakukan dengan survei konsumsi makanan, statistik vital serta faktor ekologi (Gibson, 2005).
1) Penilaian Antropometri
Penilaian antropometri gizi adalah metode penilaian status gizi berdasarkan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh. Antropometri secara umum digunakan untuk menilai ketidakseimbangan asupan energi dan protein (Gibson, 2005). Berbagai jenis ukuran tubuh antara lain berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan tebal lemak bawah kulit. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh (Supariasa et al., 2002).
Menurut Supariasa et al. (2002) metode antropometri merupakan metode yang paling sering digunakan karena memiliki beberapa kelebihan yaitu :
a) Prosedurnya sederhana, aman dan dapat dilakukan dalam jumlah sampel yang besar.
b) Relatif tidak membutuhkan tenaga ahli, tetapi cukup dilakukan oleh tenaga yang sudah dilatih dalam waktu singkat.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id c) Alatnya murah, mudah dibawa, tahan lama, dapat dipesan dan dibuat di
daerah setempat.
d) Metode ini tepat dan akurat karena dapat dibakukan.
e) Dapat mendeteksi atau menggambarkan riwayat gizi di masa lampau.
f) Umumnya dapat mengidentifikasi status gizi sedang, kurang, dan gizi buruk karena sudah ada ambang batas yang jelas.
g) Dapat mengevaluasi perubahan status gizi pada periode tertentu, atau dari satu generasi ke generasi berikutnya.
h) Dapat digunakan untuk penapisan kelompok yang rawan terhadap gizi. Namun disamping keunggulan tersebut, menurut Supariasa et al. (2002) penentuan status gizi secara antropometri juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain :
a) Tidak sensitif
Metode ini tidak dapat mendeteksi status gizi dalam waktu singkat. Di samping itu tidak dapat membedakan kekurangan zat gizi tertentu seperti Zinc dan Fe (zat besi).
b) Faktor di luar gizi (penyakit, genetik dan penurunan penggunaan energi) dapat menurunkan spesifikasi dan sensitivitas pengukuran antropometri. c) Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat mempengaruhi presisi,
akurasi, dan validitas pengukuran antropometri gizi. Kesalahan terjadi karena pengukuran, perubahan hasil pengukuran baik fisik maupun komposisi jaringan, analisis dan asumsi yang keliru. Sedangkan sumber kesalahan biasanya berhubungan dengan latihan petugas yang tidak cukup, kesalahan alat atau alat tidak ditera dan kesulitan pengukuran.
2) Indeks Massa Tubuh Anak Usia 5 – 19 tahun
Indeks massa tubuh merupakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan (Supariasa et al., 2002). Indeks Massa Tubuh (IMT) berubah secara cepat sesuai umur, pada bayi meningkat secara bertahap, menurun selama masa kanak-kanak dan meningkat lagi sampai usia dewasa.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Oleh karena itu, IMT anak perlu diukur menggunakan kurva IMT sesuai umur (WHO, 2007). Pada anak-anak, IMT dihitung dengan cara yang sama pada orang dewasa, kemudian dibandingkan dengan z-skor atau persentil. Selama masa kanak-kanak dan remaja rasio antara berat dan tinggi bervariasi dengan jenis kelamin dan usia (WHO, 2013c). Keuntungan IMT adalah tinggi dan berat badan mudah diukur oleh tenaga yang terlatih dan handal pada berbagai keadaan. Kekurangan dalam pengukuran IMT adalah adanya variasi dalam ukuran kerangka tubuh karena faktor ras, atlet dan orang yang menderita oedema (Subardja, 2004).
Menurut Gibson (2005), rumus perhitungan IMT sebagai berikut:
IMT = BB (kg) TB (m)
Untuk anak usia 5-18 tahun, berdasarkan kurva IMT menurut umur (Kemenkes, 2011) cut-off untuk penentuan status gizi adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Penentuan IMT Anak Usia 5 – 18 Tahun (Kemenkes, 2011)
Kategori Status Gizi Ambang Batas
Obesitas > 2 SD
Gemuk >1 SD sampai dengan 2 SD
Normal -2 SD sampai dengan 1 SD
Kurus - 3 SD sampai dengan <-2 SD
Sangat kurus < - 3 SD
Ket :SD = Standar Deviasi
3) Penilaian Biokimia
Penilaian status gizi biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Penilaian ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang parah. Metode ini dapat mendorong untuk menentukan kekurangan gizi yang spesifik serta memberikan hasil yang lebih tepat dan objektif dibandingkan dengan penilaian konsumsi pangan maupun pemeriksaan lain (Supariasa et al., 2002).
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Menurut Supariasa et al. (2002) keunggulan pemeriksaan biokimia bila dibandingkan dengan pemeriksaan lain adalah :
a) Dapat mendeteksi defesiensi zat gizi lebih dini
b) Hasil dari pemeriksaan biokimia lebih objektif, hal ini karena menggunakan peralatan yang ditera dan pada pelaksanaannya dilakukan oleh tenaga ahli c) Dapat menunjang hasil pemeriksaan metode lain dalam penilaian status gizi
Selain memiliki beberapa keunggulan, menurut Supariasa et al. (2002) pemeriksaan biokimia memiliki beberapa kelemahan antara lain :
a) Pemeriksaan biokimia hanya bisa dilakukan setelah timbulnya gangguan metabolisme
b) Membutuhkan biaya yang cukup mahal
c) Dalam melakukan pemeriksaan diperlukan tenaga ahli
d) Kurang praktis dilakukan di lapangan, hal ini karena pemeriksaan laboratorium memerlukan peralatan yang tidak mudah dibawa kemana-mana e) Pada pemeriksaan tertentu spesimen sulit untuk diperoleh, misalnya
penderita tidak bersedia diambil darahnya
f) Belum ada keseragaman dalam memilih reference (nilai normal)
g) Dalam beberapa penentuan pemeriksaan laboratorium, memerlukan peralatan laboratorium yang hanya terdapat di laboratorium pusat, sehingga di daerah tidak dapat dilakukan.
4) Penilaian Konsumsi Makanan
Survey konsumsi makanan merupakan salah satu metode yang digunakan dalam penentuan status gizi perorangan atau kelompok. Penilaian konsumsi makanan termasuk dalam penilaian status gizi secara tidak langsung (Supariasa et al., 2002). Kebiasaan asupan makanan atau zat gizi individu dapat diukur dengan menggunakan metode food recall dan semiquantitative food frequency (SQ FFQ). Untuk melakukan survey pengukuran konsumsi makanan pada remaja, metode multiple food recall 24 jam mempunyai reliabilitas terbaik dibandingkan metode FFQ dan metode food records (Basuki, 2004). Sedangkan menurut Candriasih (2007) bila melakukan penelitian pada anak sekolah dasar
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id sebaiknya menggunakan metode food records karena metode ini mempunyai reliabilitas terbaik, namun dapat menggunakan metode food recall 24 jam karena mempunyai reliabilitas yang hampir sama dengan metode food records. Sedangkan menurut Gibson (2005) metode food recall 24 jam sudah mulai bisa diterapkan pada anak usia di atas 8 tahun.
Prinsip dari metode recall 24 jam adalah mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi pada waktu 24 jam yang lalu. Responden diminta menceritakan semua makanan dan minuman yang dikonsumsi selama 24 jam yang lalu. Penilaian dimulai sejak responden bangun pagi kemarin sampai istirahat malam harinya. Penilaian dapat dimulai saat dilakukan wawancara mundur ke belakang sampai 24 jam penuh. Data kuantitatif dapat diperoleh dengan cara menanyakan secara teliti mengenai jumlah makanan yang di konsumsi, ditanyakan secara teliti dengan menggunakan ukuran rumah tangga (sendok, gelas, piring dan lain-lain) atau ukuran lainnya yang biasa digunakan sehari-hari (Supariasa et al., 2002).
Recall 24 jam tunggal kurang bisa menggambarkan asupan makanan dan zat gizi individu, sehingga diperlukan recall 24 jam ganda pada individu yang sama dalam beberapa hari untuk dapat mencapai tujuan yang diinginkan (Zimmerman et al., 2009). Apabila pengukuran hanya dilakukan satu kali (1x24 jam) maka data yang diperoleh kurang representatif untuk menggambarkan kebiasaan makanan individu. Oleh karena itu, metode ini sebaiknya dilakukan berulang-ulang dan harinya tidak berturut-turut. Recall yang dilakukan minimal 2x24 jam tanpa berturut-turut, dapat menghasilkan gambaran asupan zat gizi lebih optimal dan memberikan variasi yang lebih besar mengenai intake harian individu (Supariasa et al., 2002).
Recall 24 jam dapat diulangi pada musim yang berbeda untuk memperkirakan rata-rata jumlah asupan makanan individu dalam waktu yang relatif lebih lama. Jumlah hari dalam melakukan recall 24 jam tergantung pada variasi hari per hari (day-to-day variation) individu yang dipengaruhi oleh zat gizi yang diteliti, populasi penelitian dan variasi musim. Hari yang dipilih akan lebih baik jika tidak berurutan. Metode ini menyediakan informasi kuantitatif,
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id tetapi membutuhkan biaya dan dapat membebani responden karena jumlah hari yang digandakan untuk dapat menilai kebiasaan makan (Tseng & Hernandez, 2005).
Langkah pertama yang dilakukan dalam melakukan recall 24 jam adalah melengkapi semua makanan dan minuman yang dikonsumsi selama sehari sebelumnya yang kemudian diikuti dengan menambahkan deskripsi setiap makanan dan minuman tersebut secara detail yang meliputi metode atau cara pemasakan dan nama merk (jika memungkinkan). Selanjutnya adalah mengestimasi atau memperkirakan jumlah dari tiap makanan dan minuman yang dikonsumsi dengan menggunakan ukuran rumah tangga yang dapat dilengkapi dengan foto, beberapa alat ukur, sendok, penggaris, alat rumah tangga atau food model untuk membantu responden dalam mengingat atau menyebutkan ukuran porsi. Pada tahap ini, juga diperlukan informasi detail mengenai bahan-bahan atau campuran dalam makanan yang dikonsumsi. Kemudian tahap terakhir adalah mengecek kembali form recall untuk meyakinkan bahwa semua informasi yang dibutuhkan telah didapatkan termasuk vitamin dan suplemen yang dikonsumsi (Gibson, 2005).
Proses wawancara dengan metode recall 24 jam menghabiskan waktu kurang lebih 30-45 menit. Pewawancara harus orang yang terlatih dan berpengalaman untuk dapat menggali data yang berkualitas sehingga dapat menghasilkan informasi yang akurat (Zimmerman et al., 2009). Pewawancara harus seorang yang kompeten, memiliki pengetahuan yang cukup mengenai jenis makanan yang lazim dikonsumsi masyarakat, metode pengolahannya, termasuk jenis makanan daerah yang ada di wilayah tersebut. Pengetahuan ini penting karena inti dari metode recall adalah menggali informasi mengenai asupan makan responden dalam 24 jam terakhir, sehingga apabila pewawancara tidak menguasai jenis-jenis makanan yang lazim dikonsumsi masyarakat tersebut akan banyak informasi yang hilang (Thompson & Subar, 2008).
Menurut Gibson (2005) & Supariasa et al. (2002) kelebihan metode recall 24 jam adalah :
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id b) Biaya relatif murah, karena tidak memerlukan peralatan khusus dan tempat
luas untuk wawancara
c) Cepat sehingga mencakup banyak responden d) Dapat digunakan untuk responden yang buta huruf
e) Dapat memberikan gambaran nyata yang benar-benar dikonsumsi individu sehingga dapat dihitung asupan zat gizi sehari
f) Sifatnya terbuka, sehingga dapat mengakomodasi keragaman jenis makanan yang ada di dalam populasi baik dari segi bahan dasar, pengolahan, dan segala detail terkait dengan jenis makanan dan jumlahnya
Sedangkan menurut Gibson (2005) & Supariasa et al. (2002) kekurangan metode recall 24 jam adalah :
a) Tidak dapat mengambarkan asupan makanan sehari-hari, bila hanya dilakukan recall satu hari
b) Ketepatannya sangat tergantung pada daya ingat responden. Oleh karena itu responden harus mempunyai daya ingat yang baik, sehingga metode ini tidak cocok dilakukan pada anak dibawah usia 7 tahun, orang tua berusia diatas 70 tahun dan orang yang hilang ingatan
c) The flat slope syndrome yaitu kecenderungan bagi responden yang kurus untuk melaporkan konsumsinya lebih banyak dan bagi responden yang gemuk cenderung melaporkan lebih sedikit
d) Membutuhkan tenaga atau petugas yang terlatih dan terampil dalam menggunakan alat bantu URT dan ketepatan alat bantu yang dipakai menurut kebiasaan masyarakat
Untuk menilai tingkat konsumsi makanan diperlukan suatu standar kecukupan yang dianjurkan. Di Indonesia menggunakan Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang digunakan secara nasional (Supariasa et al., 2002). AKG merupakan suatu kecukupan rata-rata zat gizi setiap hari bagi semua orang menurut golongan umur, jenis kelamin, ukuran tubuh dan aktivitas untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal (Muhilal et al., 1994). Menurut WKPG (2012) Angka Kecukupan Gizi bagi anak usia sekolah adalah sebagai berikut :
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Tabel 2. Angka Kecukupan Gizi (WKPG, 2012)
Kelompok Umur BB (kg) TB (cm) Energi (kkal) Protein (g) Lemak (g) Karbohidrat (g) Anak 7 – 9 tahun 27 130 1850 49 72 254 Pria 10 – 12 tahun 34 142 2100 56 70 289 Wanita 10 – 12 tahun 36 145 2000 60 67 275
Perbandingan antara konsumsi zat gizi dengan angka kecukupan gizi yang dianjurkan disebut sebagai tingkat kecukupan gizi. Klasifikasi tingkat kecukupan energi dan protein menurut Gibson (2005) adalah :
Tabel 3. Klasifikasi Tingkat Kecukupan Energi dan Zat Gizi Energi dan Zat Gizi Klasifikasi Tingkat Kecukupan
Energi dan Protein a. Defisit tingkat berat (<70% angka kebutuhan) b. Defisit tingkat sedang (70 – 79% angka
kebutuhan)
c. Defisit tingkat ringan (80-89% angka kebutuhan) d. Normal (90 – 119% angka kebutuhan)
e. Diatas angka kebutuhan (≥120% angka kebutuhan)
Vitamin dan Mineral a. Kurang (<77% angka kecukupan) b. Cukup (≥77% angka kecukupan)
Sumber : Gibson (2005)
b. Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi
Faktor yang mempengaruhi status gizi adalah faktor langsung yang meliputi asupan makanan dan penyakit infeksi. Serta faktor tidak langsung antara lain tingkat pendidikan, pendapatan dan pengetahuan tentang gizi (Almatsier, 2009). Berbagai faktor sosial ekonomi seperti pendidikan, pekerjaan, pendapatan keluarga, pengetahuan, kemiskinan, jumlah anggota keluarga dan kerawanan pangan merupakan faktor penting yang mempengaruhi status gizi terutama pada anak sekolah dasar (Babar et al., 2010; Elmi et al., 2004; Joshi et al., 2011). Faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi status gizi antara lain :
1) Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu unsur penting yang dapat mempengaruhi status gizi. Gerungan (2004) menyatakan bahwa semakin tinggi
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id tingkat pendidikan seseorang, maka semakin mudah menerima informasi sehingga semakin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya tingkat pendidikan rendah akan sulit untuk menerima arahan dalam pemenuhan gizi dan beberapa orang tidak meyakini pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi atau pentingnya pelayanan kesehatan lain yang menunjang dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan anak. Pendidikan ibu menyumbangkan 60% terhadap status gizi anak (Frost et al., 2005). Moestue & Huttly (2008) dalam penelitian pendidikan orang tua dan status gizi pada anak di negara berkembang, mengungkapkan bahwa di Vietnam dan India proporsi anak dengan status gizi rendah lebih banyak ditemukan pada kelompok ibu yang berpendidikan sekolah dasar dan tidak bersekolah.
Pendidikan ibu merupakan prediktor kuat dari status gizi di daerah kumuh perkotaan. Pendidikan ibu merupakan prediktor pada kejadian stunting anak, hampir 40% anak yang stunting dengan tingkat pendidikan ibu rendah (Abuya et al., 2012). Efek pendidikan ibu berhubungan pada status gizi anak (stunting, wasting dan malnutrisi), selain itu dipengaruhi wilayah tempat tinggal dan strata sosial ekonomi (Emina et al., 2013). Resiko malnutrisi pada anak usia 5–14 tahun signifikan berhubungan dengan pendidikan ibu, status pekerjaan ibu. Selain itu pendidikan mengenai gizi harus diketahui oleh seluruh anggota keluarga, bukan hanya ibu (Srivastava et al., 2012).
2) Pekerjaan
Pekerjaan orang tua merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap status gizi. Menurut penelitian Devi (2010) jenis pekerjaan ayah dan jenis pekerjaan ibu mempengaruhi status gizi. Isnansyah (2006) adanya hubungan yang positif dan signifikan antara pekerjaan ibu dengan status gizi. Ibu yang tidak bekerja secara otomatis tidak akan mendapatkan penghasilan sehingga ada kemungkinan kurang mencukupi kebutuhan gizi anak sehari-hari, selain itu anak juga membutuhkan pengawasan dari keluarga agar dapat memperoleh asupan makanan yang cukup dan bergizi.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 3) Pendapatan
Pendapatan adalah penghasilan yang diperoleh seluruh anggota keluarga yang bekerja baik berupa uang maupun barang. Pendapatan merupakan salah satu unsur yang dapat mempengaruhi status gizi, hal ini menyangkut daya beli keluarga dalam memenuhi kebutuhan konsumsi makan (Arisman, 2004; Hulshof et al., 2003; Kearney et al., 2008). Malnutrisi dan kemiskinan mencerminkan ketidakseimbangan keadaan sosial ekonomi (Kanjilal et al., 2010). Status sosial ekonomi akan menentukan daya beli seseorang, sehingga pemenuhan makanan bergizi pada kelompok masyarakat dengan status sosial ekonomi rendah menjadi tidak mudah (Kearney et al., 2008). Keadaan ekonomi akan berpengaruh terhadap kondisi lain yang terkait seperti rendahnya pendidikan, pemukiman dibawah standar dan rendahnya akses pelayanan kesehatan (Marjan et al., 2002). Menurut Langnase et al. (2002) anak dengan kelebihan berat badan (overweight) berhubungan dengan kondisi sosial ekonomi. Anak yang overweight menunjukkan tingkat sosial ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang normal. Individu dengan status sosial ekonomi yang rendah cenderung memiliki pola makan dengan densitas energi yang lebih tinggi serta asupan mikronutrien yang lebih rendah. Penelitian yang dilakukan oleh Hulshof et al. (2003) di Belanda, menunjukkan bahwa pada kelompok sosial ekonomi rendah, konsumsi kentang, daging, makanan berlemak, kopi dan soft drink lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok sosial ekonomi tinggi. Masyarakat dengan sosial ekonomi rendah juga cenderung lebih sering tidak sarapan pagi. Sedangkan pada kelompok masyarakat ekonomi tinggi, konsumsi sayuran, keju dan minuman beralkohol frekuensinya lebih tinggi dibandingkan pada kelompok sosial ekonomi yang rendah. Seperti diketahui bahwa di negara-negara barat, harga sayuran jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga daging. Masyarakat dengan perekonomian rendah menjadi jarang mengkonsumsi sayuran sehingga prevalensi obesitas pun cenderung lebih tinggi pada kelompok sosial ekonomi rendah. Asupan mikronutrien pada kelompok sosial ekonomi rendah juga menunjukkan rata-rata yang lebih rendah.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 2. Protein
Protein adalah zat gizi dan merupakan bagian terbesar tubuh sesudah air. Separuh dari protein berada di dalam otot, seperlima di dalam tulang dan tulang rawan, sepersepuluh di dalam kulit, serta selebihnya di dalam jaringan lain dan cairan tubuh. Protein digunakan sebagai pengangkut zat-zat gizi, enzim dan hormon dalam darah (Almatsier, 2009), sebagai bahan pembentuk heme dan berperanan penting dalam transportasi zat besi dalam tubuh. Protein yang mengangkut zat besi adalah transferin. Kurangnya asupan protein akan mengakibatkan transportasi zat besi terhambat (Murray et al., 2003). Protein terbentuk dari unsur-unsur organik yaitu karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O) dan nitrogen (N). Satu-satunya sumber nitrogen bagi tubuh berasal dari protein. Molekul protein tersusun dari unsur-unsur kimia tersebut dan dinamakan asam amino. Asam-asam amino yang menyusun protein ini saling berhubungan membentuk suatu ikatan yang disebut ikatan peptida dengan jumlah mencapai ratusan asam amino (ikatan polipeptida) (Linder, 2010).
a. Fungsi Protein
Menurut Almatsier (2009) fungsi protein adalah :
1) Pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan dan sel-sel tubuh.
2) Pembentukan ikatan-ikatan esensial tubuh, hormon-hormon seperti tiroid, insulin dan epinerfin dan berbagai enzim.
3) Mengatur keseimbangan cairan tubuh dalam tiga kompartemen: intraseluler (di dalam sel), ekstraseluler/ interselular (di luar sel), intravaskular (di dalam pembuluh darah).
4) Memelihara netralitas tubuh, bertindak sebagai buffer, yaitu bereaksi dengan asam basa untuk pH pada taraf konstan.
5) Pembentukan anti bodi, kemampuan tubuh untuk memerangi infeksi bergantung pada kemampuan tubuh memproduksi anti bodi.
6) Mengangkut zat-zat gizi dari saluran cerna ke dalam darah, dari darah ke jaringan-jaringan dan melalui membran sel ke dalam sel-sel.
7) Sebagai sumber energi, protein ekuivalen dengan karbohidrat karena menghasilkan 4 kalori/g protein.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id b. Pencernaan Protein
Sebagian besar protein dicerna menjadi asam amino, selebihnya menjadi tripeptida dan dipeptida. Pencernaan protein menurut Almatsier (2009) adalah :
1) Lambung
Pencernaan atau hidrolisis protein dimulai didalam lambung. Asam klorida lambung membuka gulungan protein (proses denaturasi), sehingga enzim pencernaan dapat memecah ikatan peptida. Asam klorida mengubah enzim pepsinogen tidak aktif yang dikeluarkan oleh mukosa lambung menjadi bentuk aktif pepsin. Karena makanan hanya sebentar tinggal di lambung, pencernaan protein hanya terjadi hingga dibentuknya campuran polipeptida, proteose dan pepton (Almatsier, 2009).
2) Usus halus
Pencernaan protein dilanjutkan didalam usus halus yang berasal campuran enzim proteose. Pankreas mengeluarkan cairan yang bersifat sedikit basa dan mengandung berbagai prekursor protease seperti tripsinogen, kemotripsinogen, prokarbobsipeptidase dan proelastase. Enzim-enzim ini menghidrolisis ikatan peptida tertentu. Sentuhan kimus terhadap mukosa usus halus merangsang dikeluarkannya enzim enterokinase yang mengubah tripsinogen tidak aktif yang berasal dari pankreas menjadi tripsin aktif (Almatsier, 2009).
Perubahan ini juga dilakukan oleh tripsin sendiri secara oto-katalitik disamping itu tripsin dapat mengaktifkan enzim-enzim proteolitik lain berasal dari pankreas. Kimotripsinogen diubah menjadi beberapa jenis kimotripsin aktif; prokarboksipeptidase dan proelastase diubah menjadi karboksipeptidase dan elastase aktif. Enzim-enzim pankreas ini memecah protein dari polipeptida menjadi peptida lebih pendek, yaitu tripeptida, dipeptida dan sebagian menjadi asam amino. Mukosa usus halus juga mengeluarkan enzim-enzim proteose yang menghidrolisis ikatan peptida. Sebagian enzim mukosa usus halus ini bekerja di dalam sel (Almatsier, 2009).
Hasil pencernaan terjadi setelah memasuki sel-sel mukosa atau pada saat diangkut pada dinding epitel. Mukosa usus halus mengeluarkan enzim amino
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id peptidase yang memecah polipeptida menjadi asam amino bebas. Enzim ini membutuhkan mineral Mn++ dan Mg++. Mukosa usus halus juga mengandung enzim dipeptidase yang memecah dipeptida tertentu dan membutuhkan mineral Co++ dan Mn++ (Almatsier, 2009).
c. Metabolisme Protein
1) Absorbsi dan Transportasi
Hasil akhir pencernaan protein berupa asam amino dan segera diabsorpsi dalam waktu lima belas menit setelah makan. Absorbsi terutama terjadi dalam usus halus yang terdiri dari empat sistem absorbsi aktif yang membutuhkan energi. Asam amino yang diabsorbsi memasuki sirkulasi darah melalui vena porta dan dibawa ke hati. Sebagian asam amino digunakan oleh hati, dan sebagian lagi melalui sirkulasi darah di bawa ke sel-sel jaringan. Kadang-kadang protein yang belum dicerna dapat memasuki mukosa usus halus dan muncul dalam darah. Hal ini sering terjadi pada protein susu dan protein telur yang dapat menimbulkan gejala alergi (immunological sensitive protein). Sebagian besar asam amino telah diabsorpsi pada saat asam amino sampai di usus halus. Hanya 1% protein yang dimakan ditemukan dalam feses. Protein endogen yang berasal sekresi saluran cerna dan sel-sel yang rusak juga dicerna dan diabsorbsi (Almatsier, 2009).
2) Katabolisme Protein
Katabolisme protein (penguraian asam amino untuk energi) berlangsung di hati. Jika sel telah mendapatkan protein yang mencukupi kebutuhannya. Setiap asam amino tambahan akan dipakai sebagai energi atau disimpan sebagai lemak.
a) Deaminasi Asam Amino
Deaminasi asam amino merupakan langkah pertama pelepasan satu hidrogen dan satu gugus amino sehingga membentuk amonia (NH3). Amonia
yang bersifat racun akan masuk ke peredaran darah dan dibawa ke hati. Hati akan mengubah amonia menjadi ureum yang sifat racunnya lebih rendah, dan mengembalikannya ke peredaran darah. Ureum dikeluarkan dari tubuh
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id melalui ginjal dan urine. Ureum diproduksi dari asam amino bebas didalam tubuh yang tidak digunakan dan dari pemecahan protein jaringan tubuh (Almatsier, 2009).
b) Oksidasi Asam Amino Terdeaminasi
Bagian asam amino non nitrogen yang tersisa disebut produk asam keto yang teroksidasi menjadi energi melalui siklus asam nitrat. Beberapa jenis asam keto dapat diubah menjadi glukosa (glukoneogenesis) atau lemak (lipogenesis) dan disimpan didalam tubuh. Karbohidrat dan lemak adalah cadangan protein dan dipakai tubuh sebagai pengganti protein untuk energi. Saat kelaparan, tubuh menggunakan karbohidrat dan lemak baru kemudian memulai mengkatabolis protein (Almatsier, 2009).
d. Sumber Protein
Bahan makanan hewani merupakan sumber protein yang baik, dalam jumlah maupun mutu, seperti telur, susu, daging, unggas, ikan dan kerang. Sumber protein nabati adalah kacang kedelai dan hasilnya, seperti tempe dan tahu, serta kacang-kacangan lain. Kacang kedelai merupakan sumber protein nabati yang mempunyai mutu atau nilai biologi tertinggi. Bahan makanan nabati yang tinggi protein adalah kacang-kacangan (Almatsier, 2009).
e. Akibat Kekurangan Protein
Kekurangan protein sering ditemukan secara bersamaan dengan kekurangan energi yang menyebabkan kondisi yang dinamakan marasmus syndrome. Gabungan antara dua jenis kekurangan ini dinamakan Kurang Energi Protein atau KEP (Almatsier, 2009). Anak dengan KEP berhubungan dengan parameter biokimia yang berhubungan dengan konsumsi makanan dan metabolisme kimia selama masa pertumbuhan (Mishra et al., 2009). Albumin, serum protein total, kalsium dan hemoglobin menurun secara signifikan pada anak yang mengalami kurang gizi. Rendahnya total protein dan albumin pada anak yang kurang gizi disebabkan karena asupan protein yang tidak adekuat dan gangguan sintesis protein (Adegbusi & Sule, 2011).
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id f. Pemeriksaan Protein Serum
Protein serum dapat ditetapkan kadarnya menggunakan metode biuret. Prinsip dari metode biuret adalah ikatan peptide yang membentuk senyawa kompleks berwarna ungu dengan penambahan garam kupri dalam suasana basa (Carpette, 2005). Reaksi biuret terdiri dari campuran protein dengan sodium hidroksida (berupa larutan) dan tembaga sulfat. Warna violet adalah hasil dari reaksi ini. Reaksi ini positif untuk 2 atau lebih ikatan peptide (Harrow, 1954). Penyerapan cahaya oleh protein terutama disebabkan oleh ikatan peptide residu ritosil, triptofonil, dan fenilalanil. Gugus-gugus non-protein mempunyai sifat menyerap cahaya. Penyerapan maksimum albumin serum manusia terlihat pada panjang gelombang kira-kira 230 nm (peptida) dan dengan puncak lebar pada 280 nm karena serapan residu-residu asam amino aromatik. Spektrum absorbansi suatu larutan protein bervariasi tergantung pada pH dan sesuai dengan ionisasi residu asam amino. Spektrum serapan suatu larutan protein peka terhadap berbagai variabel lingkungan. Tetapi dalam kondisi tertentu serapan suatu larutan pada panjang gelombang tertentu berbanding lurus dengan kadar protein dan cara ini sering dipakai dalam pengujian protein (Montgomery, 1993).
3. Infeksi Kecacingan
Infeksi kecacingan merupakan penyakit infeksi yang ditimbulkan oleh cacing yang habitatnya di dalam usus. Faktor penunjang adanya cacing usus ini dikarenakan keadaan alam, iklim, sosial ekonomi, pendidikan, kepadatan penduduk serta sanitasi yang kurang baik. Berdasarkan fungsi tanah pada siklus hidupnya, nematode usus ini dibagi menjadi dua kelompok yaitu Soil Transmitted Helminths dan Non Soil Transmitted Helminth. Soil Transmitted Helminths merupakan Nematode usus yang dalam siklus hidupnya membutuhkan tanah untuk proses pematangan sehingga terjadi perubahan dari stadium non-infektif menjadi infektif. Yang termasuk kelompok Nematode ini adalah Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan Hookworm (Necator americanus dan Ancylostomaduodenale). Sedangkan Non Soil Transmitted Helminth adalah nematoda usus yang dalam siklus hidupnya tidak membutuhkan tanah.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Kelompok Nematoda ini adalah Oxyuris vermicularis (cacing kremi), Trchinella spiralis dan Capillaria phillippinensis (Natadisastra & Agoes, 2012).
a. Soil Transmitted Helminths (STH)
Spesies utama STH yang menginfeksi manusia adalah roundworm/ cacing gelang (Ascaris lumbricoides), whipworm/ cacing cambuk (Trichuris trichiura) dan hookworms/ cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale) (WHO, 2013b). Pada tahun 2010 diperkirakan 5,3 milyar orang beresiko terhadap STH diseluruh dunia, 69% di Asia, 49 % di lingkungan perkotaan atau pinggiran kota (Pullan & Brooker, 2012). Prevalensi infeksi STH di Bolivia merupakan prevalensi tertinggi yang berada di negara Amerika Latin, dengan infeksi cacing Ascaris lumbricoides (38,0%), Trichuris trichiura (19,3%), dan hookworm (11,4%) (Chammartin et al., 2013). Dari hasil penelitian Belizario et al. (2011) menunjukkan bahwa infeksi STH yang paling banyak adalah Ascaris lumbricoides (20,1%), hookworm (11,9%) dan Trichuris trichiura (11,7%). Pada penelitian Mustafa et al. (2013) infestasi cacing Ascaris lumbricoides (44,44%), Trichuris trichiura (22,22%), dan Hookworm (33,33%) pada siswa SD di Kota Manado. Sedangkan menurut Tanner et al. (2011a) ditemukan 67,2% terjadi pada anak dan remaja untuk spesies cacing tambang (hookworm). Menurut Lalandos & Kareri (2008) di SD Gmim Lahai Roy Malalayang prevalensi infestasi cacing terbanyak adalah Trichuris trichiura (77,78%) dan Ascaris lumbricoides sebanyak 22,22%.
Prevalensi Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura lebih besar didaerah pinggiran kota dibandingkan dengan di perkotaan atau dipedesaan, sedangkan prevalensi hookworm lebih banyak didaerah pedesaan (Pullan & Brooker, 2012). Infeksi kecacingan tidak hanya pada satu jenis cacing, akan tetapi bisa kombinasi dari dua atau lebih jenis cacing. Penelitian pada anak sekolah dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir yaitu cacing Ascaris lumbricoides sebesar 38,60%, Trichuris trichiura sebesar 28,20%, Hookworm sebesar 20,30%, campuran sebesar 26,7%. Jenis cacing campuran masing-masing ditemukan infeksi cacing Ascaris lumbricoides & Trichuris trichiura sebesar 40,70%, infeksi cacing Ascaris lumbricoides & Hookworm sebesar 33,30%, infeksi cacing Ascaris lumbricoides & Trichuris trichiura & Hookworm sebesar 14,80%
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id dan infeksi cacing Trichuris trichiura & Hookworm sebesar 11,20% (Ginting, 2009).
Klasifikasi intensitas infeksi merupakan angka dari masing-masing jenis cacing. Klasifikasi tersebut digolongkan menjadi tiga yaitu ringan, sedang dan berat. Intensitas infeksi menurut jenis cacing dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4. Klasifikasi Intensitas Infeksi menurut Jenis Cacing Jumlah Telur per gram Tinja (epg)
No. Klasifikasi Cacing Gelang Ascaris lumbricoides Cacing Cambuk Trichuris trichiura Cacing Tambang Hookworms 1. Ringan 1 - 4.999 1 – 999 1 – 1.999 2. Sedang 5.000 - 49.999 1.000 – 9.999 2.000 – 3.999 3. Berat > 50.000 > 10.000 > 4.000 (Depkes, 2006) 1) Cacing gelang (Ascaris lumbricoides)
a) Epidemiologi
Infeksi Ascaris Lumbricoides adalah salah satu infeksi cacing usus yang paling umum terjadi. Hal ini ditemukan karena kebersihan pribadi yang buruk, sanitasi yang buruk dan tempat-tempat di mana kotoran manusia digunakan sebagai pupuk (CDC, 2013a). Ascaris lumbricoides secara umum dikenal sebagai cacing gelang dan tersebar diseluruh dunia, terutama di daerah tropis dan sub tropis dengan kelembapan udara yang tinggi (Soedarto, 2011; CDC, 2013a) dan hygiene sanitasi yang rendah (CDC, 2013a; Natadisastra & Agoes, 2012). Cacing ini dapat terjadi pada semua usia (Ghaffar, 2010) terutama menyerang anak-anak usia 5–9 tahun (Ghaffar, 2010; Soedarto, 2011). Di Indonesia infeksi cacing ini endemis banyak terdapat di daerah dengan jumlah penderita 60%. Tempat hidup cacing dewasa adalah usus halus manusia (Soedarto, 2011).
b) Morfologi
Cacing Nematode ini merupakan Nematode usus terbesar, berwarna putih kekuningan sampai merah muda, sedangkan pada cacing mati berwarna putih. Badan bulat memanjang, kedua ujung lancip bagian anterior
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id lebih tumpul daripada posterior. Cacing jantan memiliki ukuran panjang 15x30 cm x lebar 3–5 mm, bagian posterior melengkung ke depan terdapat kloaka dengan dua spikula yang dapat di tarik. Cacing betina memiliki ukuran panjang 22-35 cm x lebar 3–6 mm, vulva menembus ke depan pada 2/3 bagian posterior tubuh terdapat penyempitan lubang vulva disebut cincin kopulasi. Seekor cacing betina menghasilkan telur 200.000 butir sehari, dapat berlangsung selama hidupnya, kira-kira 6–12 bulan (Natadisastra & Agoes, 2012).
a. Telur Infertil b. Telur fertile
c.Telur infektif d. Telur infektif dengan larva e.Cacing dewasa Gambar 1. Telur dan Cacing Ascaris lumbricoides (Jimenez et al., 2012)
Ascaris lumbricoides mempunyai dua jenis telur yaitu telur yang sudah dibuahi (fertilized eggs) dan telur yang belum dibuahi (unfertilized eggs). Telur yang sudah dibuahi berbentuk lonjong, berukuran 45-70 mikron x 35-50 mikron, mempunyai kulit telur yang tak berwarna. Telur yang belum dibuahi dapat ditemukan jika di dalam usus penderita hanya terdapat cacing betina saja. Telur yang belum dibuahi bentuknya lebih lonjong dan lebih panjang dari ukuran telur yang sudah dibuahi, dengan ukuran sekitar 80x55 mikron, telur ini mempunyai rongga udara di kedua kutubnya (Soedarto, 2011).
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Ascaris lumbricoides mempunyai mulut dengan tiga buah bibir yang terletak sebuah di bagian dorsal dan dua bibir lainnya terletak subventral (Soedarto, 2011; Natadisastra & Agoes, 2012). Selain ukurannya lebih kecil dari betina, cacing jantan mempunyai ujung posterior yang runcing dengan ekor melengkung kearah ventral. Bentuk tubuh cacing betina membulat (conical) dengan ukuran badan yang lebih besar dan lebih panjang dari pada cacing jantan dan bagian ekor yang lurus, tidak melengkung (Soedarto, 2011).
c) Siklus hidup
Cacing keluar bersama tinja penderita, telur cacing yang telah dibuahi jika jatuh di tanah yang lembab dan suhu yang optimal, telur akan berkembang menjadi telur infektif yang mengandung larva cacing (Soedarto, 2011). Untuk menjadi infektif diperlukan pematangan di tanah yang lembab dan teduh selama 20 – 24 hari dengan suhu optimum 300C (Natadisastra & Agoes, 2012). Pada manusia infeksi terjadi dengan masuknya masuknya telur cacing yang infektif bersama makanan atau minuman yang tercemar tanah yang mengandung telur penderita ascariasis. Didalam usus halus bagian atas dinding telur akan pecah kemudian larva keluar, menembus dinding usus halus dan memasuki vena porta hati. Dengan aliran darah vena, larva beredar menuju dinding paru, lalu menembus dinding kapiler masuk ke dalam alveoli, migrasi larva berlangsung sekitar 15 hari lamanya. Setelah itu larva cacing merambat ke bronki, trakea, dan laring untuk masuk ke faring, esophagus lalu turun ke lambung dan akhirnya masuk ke usus halus. Selanjutnya larva berganti kulit dan tumbuh menjadi cacing dewasa. Migrasi larva cacing dalam darah mencapai organ paru yang disebut lung migration. Dua bulan sejak masuknya telur infektif melalui mulut, cacing betina mulai mampu bertelur dengan jumlah produksi telurnya 300.000 butir per hari (Soedarto, 2011).
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
Gambar 2. Siklus Hidup Ascaris Lumbricoides (CDC, 2013a)
1.Cacing dewasa hidup di saluran usus halus. Seekor cacing betina mampu menghasilkan telur sampai 200.000 per hari, yang akan keluar bersama feses. 2. Telur yang sudah dibuahi mengandung embrio dan menjadi infective setelah 18 hari sampai beberapa minggu di tanah, 3. tergantung pada kondisi lingkungan (kondisi optimum: lembab, hangat, tempat teduh). 4. Telur infective tertelan, 5. masuk ke usus halus dan menetas mengeluarkan larva yang kemudian menembus mucosa usus, masuk kelenjar getah bening dan aliran darah dan terbawa sampai ke paru-paru. 6. Larva mengalami pendewasaan di dalam paru-paru (10-14 hari), menembus dinding alveoli, naik ke saluran pernafasan dan akhirnya tertelan kembali. 7. Ketika mencapai usus halus, larva tumbuh menjadi cacing dewasa. Waktu yang diperlukan mulai dari tertelan telur infektif sampai menjadi cacing dewasa sekitar 2 sampai 3 bulan. Cacing dewasa dapat hidup 1 sampai 2 tahun di dalam tubuh (CDC, 2013a).
d) Patologi dan Gejala Klinis
Infeksi Ascaris lumbricoides disebut ascariasis atau infeksi ascaris. Gejala klinis tergantung dari beberapa hal antara lain beratnya infeksi, keadaan umum penderita, daya tahan dan kerentanan penderita terhadap infeksi cacing. Pada infeksi biasa, penderita mengandung 10-20 ekor cacing, sering tidak ada gejala yang dirasakan, baru diketahui setelah pemeriksaan tinja atau karena cacing dewasa keluar bersama tinja. Gejala klinik pada Ascaris lumbricoides dapat ditimbulkan oleh cacing dewasa ataupun oleh stadium larva. Cacing dewasa tinggal diantara lipatan mukosa usus halus,
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id dapat menimbulkan iritasi, mual, sakit perut. Jika terjadi invasi ke appendix, ductus choledochus ataupun ampulla vateri dapat menimbulkan apendiksitis, cholesistitis atau pancreatitis hemorrhagic. Dinding usus dapat ditembus oleh cacing dewasa, menimbulkan peritonitis. Jika dibiarkan, cacing menembus dinding perut. Pada anak–anak biasanya menembus melalui umbilicus, sedangkan pada orang dewasa melalui inguinal. Cacing dalam jumlah banyak dan berkelompok akan dapat menyumbat lumen usus, mula-mula penyumbatan partial akhirnya penyumbatan total. Cacing dewasa yang masih hidup ataupun sudah mati dapat menghasilkan zat yang bisa merupakan racun bagi tubuh hospes. Pada orang yang rentan zat ini dapat menimbulkan manifestasi keracunan seperti oedema muka, urtikaria disertai insomnia, menurunnya nafsu makan dan penurunan berat badan (Natadisastra & Agoes, 2012).
e) Diagnosis
Dari gejala klinis, susah untuk menegakkan diagnosis karena tidak ada gejala klinis yang spesifik sehingga perlu pemeriksaan laboratorium. Diagnosis ascariasis ditegakkan berdasarkan menemukan telur cacing dalam tinja, larva dalam sputum, cacing dewasa keluar dari mulut, anus atau dari hidung. Tingkat infeksi ascariasis dapat ditentukan dengan memeriksa jumlah telur per gram tinja atau jumlah cacing betina yang ada dalam tubuh penderita. Satu ekor cacing betina per hari menghasilkan 200.000 telur atau 2.000 – 3.000 telur per gram tinja (Natadisastra & Agoes, 2012).
f) Pencegahan
Kebersihan yang baik adalah tindakan preventif yang terbaik (Ghaffar, 2010). Upaya pencegahan ascariasis dilakukan dengan melaksanakan prinsip–prinsip kesehatan lingkungan yang baik. Membuat kakus untuk menghindari pencemaran tanah dengan tinja penderita, mencegah telur cacing mencemari makanan dan minuman, selalu memasak makanan dan minuman sebelum dimakan atau diminum, serta menjaga kebersihan perorangan akan mencegah terjadinya infeksi cacing Ascaris lumbricoides (Natadisastra & Agoes, 2012; Soedarto, 2011).
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 2) Cacing Cambuk (Trichuris trichiura)
a) Epidemiologis
Trichuris trichiura mempunyai bentuk badan mirip cambuk, sehingga cacing ini sering disebut cacing cambuk (whipworm). Cacing cambuk tersebar luas didaerah tropis yang berhawa panas dan lembab dan hanya dapat ditularkan dari manusia ke manusia (Soedarto, 2011) biasanya pada anak usia 5 – 15 tahun (Ghaffar, 2010) dan 1 – 5 tahun (Natadisastra & Agoes, 2012). Trichuris trichiura dewasa melekatkan diri pada mukosa usus penderita, terutama didaerah sekum dan kolon, dengan membenamkan kepalanya di dalam dinding usus. Meskipun demikian cacing ini dapat ditemukan hidup di apendiks dan ileum bagian distal (Soedarto, 2011). b) Morfologi
Bentuk tubuh cacing dewasa sangat khas, mirip cambuk dengan tiga per lima panjang tubuh bagian anterior berbentuk langsing seperti tali cambuk, sedangkan dua per lima bagian tubuh posterior lebih tebal mirip pegangan cambuk (Soedarto, 2011). Cacing jantan memiliki panjang 30 – 45 mm, bagian posterior melengkung ke depan sehingga membentuk satu lingkara penuh. Pada bagian posterior ini terdapat satu spikulum yang menonjol keluar melalui selaput retraksi cacing betina panjangnya 30–50 mm ujung posterior tubuhnya membulat tumpul. Organ kelamin tidak berpasangan dan berakhir di vulva yang terletak pada tempat tubuhnya mulai menebal. (Natadisastra & Agoes, 2012).
a. Telur b. Cacing
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Telur berukuran 50x25 mikron, memiliki bentuk seperti tempayan, pada kedua tutupnya terdapat operculum yaitu semacam penutup yang jernih dan menonjol. Dindingnya terdiri atas dua lapis, bagian dalam jernih bagian luar berwarna kecoklat
menghasilkan 3.000
c) Siklus hidup
Telur yang keluar bersama tinja dalam keadaan belum matang, tidak infektif. Telur ini perlu
terbentuk telur infektif yang berisi embrio di dalamnya (Natadisastra & Agoes, 2012).
dalam usus halus dinding telur pecah dan larva ke luar menuju sekum lalu berkembang menjadi caci
usus halus, telur menetas, keluar larva, menetap selama 3
dewasa cacing akan turun ke usus besar dan menetap dalam beberapa tahun. Waktu yang diperlukan sejak telur infektif tertelan sampai ca
menghasilkan telur 30 trichiura
manusia (Soedarto, 2011).
Gambar 4
Telur berukuran 50x25 mikron, memiliki bentuk seperti tempayan, pada kedua tutupnya terdapat operculum yaitu semacam penutup yang jernih dan menonjol. Dindingnya terdiri atas dua lapis, bagian dalam jernih bagian luar berwarna kecoklat-coklatan. Sehari tia
menghasilkan 3.000–4.000 telur (Natadisastra & Agoes, 2012).
Siklus hidup
Telur yang keluar bersama tinja dalam keadaan belum matang, tidak infektif. Telur ini perlu pematangan dalam tanah selama 3
terbentuk telur infektif yang berisi embrio di dalamnya (Natadisastra & Agoes, 2012). Jika manusia tertelan telur cacing yang infektif, maka di dalam usus halus dinding telur pecah dan larva ke luar menuju sekum lalu berkembang menjadi cacing dewasa (Soedarto, 2011). Dibagian proksimal usus halus, telur menetas, keluar larva, menetap selama 3
dewasa cacing akan turun ke usus besar dan menetap dalam beberapa tahun. Waktu yang diperlukan sejak telur infektif tertelan sampai ca
menghasilkan telur 30 – 90 hari (Natadisastra & Agoes, 2012).
trichiura dewasa dapat hidup beberapa tahun lamanya di dalam usus manusia (Soedarto, 2011).
Gambar 4. Siklus Hidup Trichuris trichiura
Telur berukuran 50x25 mikron, memiliki bentuk seperti tempayan, pada kedua tutupnya terdapat operculum yaitu semacam penutup yang jernih dan menonjol. Dindingnya terdiri atas dua lapis, bagian dalam jernih bagian Sehari tiap ekor cacing betina 4.000 telur (Natadisastra & Agoes, 2012).
Telur yang keluar bersama tinja dalam keadaan belum matang, tidak pematangan dalam tanah selama 3–5 minggu sampai terbentuk telur infektif yang berisi embrio di dalamnya (Natadisastra & tertelan telur cacing yang infektif, maka di dalam usus halus dinding telur pecah dan larva ke luar menuju sekum lalu ng dewasa (Soedarto, 2011). Dibagian proksimal usus halus, telur menetas, keluar larva, menetap selama 3–10 hari. Setelah dewasa cacing akan turun ke usus besar dan menetap dalam beberapa tahun. Waktu yang diperlukan sejak telur infektif tertelan sampai cacing betina 90 hari (Natadisastra & Agoes, 2012). Trichuris dewasa dapat hidup beberapa tahun lamanya di dalam usus
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 1.Embrio telur 2. Di dalam tanah, telur berkembang menjadi dua 3. Kemudian berkembang ke tahap lanjutan 4. Dan menjadi embrio 5. telur menjadi infektif dalam 15 sampai 30 hari setelah kontaminasi (melalui tanah atau makanan) telur menetas dalam usus halus dan melepaskan larva. 6. Matang dan menjadi dewasa di usus besar. Cacing dewasa (sekitar 4 cm) hidup di sekum dan kolon ascending. Cacing dewasa tetap di lokasi tersebut, dengan bagian anterior ke mukosa. Cacing betina mulai bertelur 60 sampai 70 hari setelah infeksi. Cacing betina di sekum antara 3.000 dan 20.000 telur per hari. Rentang hidup dari orang dewasa adalah sekitar 1 tahun (CDC, 2013b).
d) Patologi dan Gejala Klinis
Infeksi oleh cacing ini disebut trichuriasis, trichocephaliasis atau infeksi cacing cambuk. Karena Trichuris trichiura dewasa melekatkan diri pada usus dengan cara menembus dinding usus, maka hal ini dapat menyebabkan timbulnya trauma dan kerusakan pada jaringan usus. Cacing dewasa juga dapat menghasilkan toksin yang menyebabkan iritasi dan peradangan usus. Infeksi ringan trichuriasis dengan beberapa ekor cacing umumnya tidak menimbulkan keluhan bagi penderita (Soedarto, 2011). Infeksi ringan tanpa gejala ditemukan secara kebetulan pada waktu pemeriksaan tinja rutin. Infeksi berat cacing tersebar ke seluruh colon dan rectum. Infeksi kronis dan sangat berat menunjukkan gejala anemia yang berat, karena seekor cacing tiap hari menghisap darah ± 0,005 cc. Diare dengan sedikit tinja dan mengandung sedikit darah, sakit perut mual muntah serta berat badan menurun (Natadisastra & Agoes, 2012), selain itu menunjukkan gambaran eosinofilia dengan eosinofil lebih dari 3% (Soedarto, 2011).
e) Diagnosis
Trichuriasis dapat ditegakkan diagnosisnya berdasarkan ditemukannya telur cacing Trichuris trichiura dalam tinja atau menemukan cacing dewasa pada anus. Tingkat infeksi ditemukan dengan memeriksa jumlah telur pada setiap gram tinja (Natadisastra & Agoes, 2012).
f) Pencegahan
Higiene sanitasi perorangan dan lingkungan dilakukan untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan oleh penderita (Ghaffar, 2010;
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Soedarto, 2011) misalnya membuat WC atau jamban yang baik. Makanan dan minuman harus selalu dimasak dengan baik agar dapat membunuh telur infektif cacing Trichuris trichiura (Soedarto, 2011). Mencuci tangan dengan sabun dan air hangat sebelum memegang makanan. Mencuci, mengupas atau memasak semua sayuran mentah dan buah-buahan sebelum makan, terutama yang tumbuh di tanah yang telah dipupuk dengan pupuk kandang (CDC, 2013b).
3) Cacing tambang (Hookworm) a) Epidemiologi
Beberapa cacing tambang (hookworm) dapat menimbulkan penyakit pada manusia, yaitu jenis cacing Ancylostoma duodenale menimbulkan ankilostomiasis dan Necator americanus menimbulkan nekatoriasis. Sebaran cacing tambang sangat luas ke seluruh dunia, terutama di daerah tropis dan sub tropis yang bersuhu panas dan mempunyai kelembapan tinggi. Infeksi cacing ini banyak dijumpai pada pekerja tambang di Eropa, Cina dan Jepang (Soedarto, 2011). Ancylostoma duodenale terdapat di wilayah Mediterania dan Asia Utara. Necator americanus paling umum di Amerika, Afrika tengah, Afrika selatan, Asia Selatan, Indonesia, Australia dan Kepulauan Pasifik (Ghaffar, 2010). Ancylostoma duodenale dan Necator americanus dewasa hidup di dalam usus halus terutama di jejunum dan duodenum manusia dengan cara menggigit membran mukosa menggunakan giginya dan menghisap darah yang keluar dari luka gigitan (Natadisastra & Agoes, 2012; Soedarto, 2011).
b) Morfologi
Cacing tambang dewasa berbentuk silindris berwarna putih keabuan. Ukuran panjang cacing betina antara 9 – 13 mm, sedang cacing jantan berukuran panjang antara 5 – 11 mm. Di ujung posterior tubuh cacing jantan terdapat bursa kopulatriks (bursa copulatrix) suatu alat bantu kopulasi. Ancylostoma duodenale dan Necator americanus dewasa dapat dibedakan morfologinya berdasar bentuk tubuh, rongga mulut dan bentuk bursa
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id kopulatriksnya. Dengan pemeriksaan mikroskopis atas tinja, bentuk telur berbagai cacing tambang sukar dibedakan (Soedarto, 2011).
i) Ancylostoma duodenale: Memiliki bucal capsule lebih besar daripada Necator americanus, memiliki dua pasang gigi ventral yang runcing dan sepasang gigi dorsal rudimenter. Cacing jantan berukuran 8 – 11mm x 0,5 mm. Cacing betina berukuran 10-13 mm x 0,6 mm. (Natadisastra&Agoes, 2012). Tubuh cacing dewasa mirip huruf C. Rongga mulutnya memiliki dua pasang gigi dan satu pasang tonjolan. Cacing betina mempunyai spina kaudal (Soedarto, 2011).
Gambar 5. Cacing Ancylostoma duodenale (Ghaffar, 2010)
ii) Necator americanus: Memiliki bucal capsule sempit, pada dinding ventral terdapat sepasang benda pemotong berbentuk bulan sabit sedangkan sepasang lagi kurang nyata terdapat pada dinding dorsal. Cacing jantan berukuran 7 – 9 mm x 0,3 mm. Cacing betina memiliki ukuran 9 – 11 mm x 0,4 mm. (Natadisastra & Agoes, 2012). Ukuran tubuh dewasa lebih kecil dan lebih langsing dibanding badan Ancylostoma duodenale. Tubuh bagian anterior cacing melengkung berlawanan dengan lengkungan bagian tubuh lainnya sehingga bentuk tubuh mirip huruf S. Di bagian rongga mulut terdapat 2 pasang alat pemotong (cutting plate). Berbeda dengan Ancylostoma duodenale di bagian kaudal badan cacing betina tidak terdapat spina kaudal (Natadisastra & Agoes, 2012; Soedarto, 2011).
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
Gambar 6. Cacing Necator americanus (Ghaffar, 2010)
Telur berbentuk oval tidak berwarna, berukuran 40x60 m. Bentuk Necator americanus tidak dapat dibedakan dari Ancylostoma duodenale. Jumlah telur per hari yang dihasilkan seekor cacing betina Necator americanus sekitar 9.000 - 10.000 sedangkan pada Ancylostoma duodenale 10.000 - 20.000 (Natadisastra & Agoes, 2012).
Gambar 7. Telur Ancylostoma duodenale dan Necator americanus (Ghaffar, 2010)
Cacing tambang mempunyai dua stadium larva yaitu larva rhabditiform yang tidak infektif dan larva filariform yang infektif. Larva rhabditiform bentuk tubuhnya agak gemuk dengan panjang sekitar 250 mikron, sedangkan larva filariform yang berbentuk langsing panjang tubuhnya sekitar 600 mikron. Selain itu bentuk rongga mulut (bucal cavity) larva rabditiform tampak jelas, sedangkan pada filariform tidak sempurna sudah mengalami kemunduran. Esofagus larva rabditiform pendek ukurannya dan membesar dibagian posterior sehingga berbentuk bola
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id (bulbus esophagus). Esofagus larva filariform lebih panjang dibanding ukuran panjang larva rabditiform (Soedarto, 2011).
Gambar 8. Larva filariform (Ghaffar, 2010)
c) Siklus hidup
Daur hidup Ancylostoma duodenale dan Necator americanus hanya membutuhkan satu jenis hospes yaitu manusia. Tidak ada hewan yang bertindak sebagai hospes reservoir (Soedarto, 2011). Telur keluar bersama tinja pada tanah yang cukup baik, suhu optimal 23 – 330 C, dalam 24 – 48 jam akan menetas, keluar larva rabditiform yang berukuran (250-300) x 17m. Larva ini mulutnya terbuka dan aktif makan sampah organik atau bakteri pada tanah sekitar tinja. Pada hari ke lima, berubah menjadi larva yang lebih kurus dan panjang disebut larva filariform yang infektif. Larva ini tidak makan, mulutnya tertutup, esophagus panjang, ekor tajam dapat hidup pada tanah yang baik selama dua minggu. Jika larva menyentuh kulit larva secara aktif masuk ke kapiler darah, terbawa aliran darah. Waktu yang diperlukan untuk sampai ke usus 10 hari. Cacing dewasa dapat hidup kurang lebih selama 10 tahun (Natadisastra & Agoes, 2012).
Sesudah keluar dari usus penderita, telur cacing tambang yang ditanah dalam waktu dua hari akan tumbuh menjadi larva rabditiform yang tidak infektif karena larva ini dapat hidup bebas di tanah. Setelah berganti kulit dua kali, larva rabditiform dalam waktu satu minggu berkembang menjadi larva filariform yang infektif yang tidak dapat makan di tanah. Larva filariform mencari hospes yaitu manusia. Larva filariform akan menginfeksi kulit manusia, pembuluh darah dan limfe selanjutnya masuk ke
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id dalam darah mengikuti aliran darah menuju jantung dan paru
Kemudian larva
alveolus. Sesudah berganti kulit dua kali larva cacing mengadakan migrasi ke bronki, trakea, dan faring akhirnya t
esofagus. Di dalam e
migrasi berlangsung sekitar
berganti kulit yang keempat kalinya lalu tumbuh menjadi cacing dewasa jantan dan betina. Dalam satu bulan cacing betina sudah mampu bertelur untuk melanjutkan keturunannya (Soedarto, 2011).
1.Telur didalam tinja pada kondisi yang menguntungkan (kelembapan, kehangatan, warna) larva menetas dalam 1 sampai 2 hari. Larva rabditiform tumbuh dalam tinja 2.
dapat bertahan 3
Pada kontak dengan inang manusia, larva menembus kulit dan dibawa melalui pembuluh darah ke jantung kemudian ke paru
alveoli paru, bronchial, faring dan tertelan. 4. Larva mencapai usus halus, dan tumbuh menjadi cacing dewasa. Cacing dewasa hidup di lumen usus, dan menempel pada dinding 5. Cacing dewasa dapat bertahan 1 sampai 2 tahun, tapi bisa mencapai beberapa tah
dalam darah mengikuti aliran darah menuju jantung dan paru Kemudian larva filariform menembus dinding kapiler masuk k
alveolus. Sesudah berganti kulit dua kali larva cacing mengadakan migrasi ke bronki, trakea, dan faring akhirnya tertelan masuk ke dalam saluran esofagus. Di dalam esofagus larva berganti kulit untuk yang ketiga kalinya, i berlangsung sekitar 10 hari. Esofagus larva masuk ke usus halus berganti kulit yang keempat kalinya lalu tumbuh menjadi cacing dewasa jantan dan betina. Dalam satu bulan cacing betina sudah mampu bertelur untuk melanjutkan keturunannya (Soedarto, 2011).
Gambar 9. Siklus Hidup Hookworm
1.Telur didalam tinja pada kondisi yang menguntungkan (kelembapan, kehangatan, warna) larva menetas dalam 1 sampai 2 hari. Larva rabditiform tumbuh dalam tinja 2. Setelah 5 – 10 hari, larva infektif 3. Infektif larva dapat bertahan 3 – 4 minggu pada kondisi lingkungan yang menguntungkan. Pada kontak dengan inang manusia, larva menembus kulit dan dibawa melalui pembuluh darah ke jantung kemudian ke paru
alveoli paru, bronchial, faring dan tertelan. 4. Larva mencapai usus halus, dan tumbuh menjadi cacing dewasa. Cacing dewasa hidup di lumen usus, dan menempel pada dinding 5. Cacing dewasa dapat bertahan 1 sampai 2 tahun, tapi bisa mencapai beberapa tahun (CDC, 2013
dalam darah mengikuti aliran darah menuju jantung dan paru–paru. menembus dinding kapiler masuk ke dalam alveolus. Sesudah berganti kulit dua kali larva cacing mengadakan migrasi ertelan masuk ke dalam saluran sofagus larva berganti kulit untuk yang ketiga kalinya, sofagus larva masuk ke usus halus berganti kulit yang keempat kalinya lalu tumbuh menjadi cacing dewasa jantan dan betina. Dalam satu bulan cacing betina sudah mampu bertelur untuk melanjutkan keturunannya (Soedarto, 2011).
Hookworm (CDC, 2013c)
1.Telur didalam tinja pada kondisi yang menguntungkan (kelembapan, kehangatan, warna) larva menetas dalam 1 sampai 2 hari. Larva rabditiform 10 hari, larva infektif 3. Infektif larva 4 minggu pada kondisi lingkungan yang menguntungkan. Pada kontak dengan inang manusia, larva menembus kulit dan dibawa melalui pembuluh darah ke jantung kemudian ke paru – paru, menembus alveoli paru, bronchial, faring dan tertelan. 4. Larva mencapai usus halus, dan tumbuh menjadi cacing dewasa. Cacing dewasa hidup di lumen usus, dan menempel pada dinding 5. Cacing dewasa dapat bertahan 1 sampai 2
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id d) Patologi dan Gejala Klinis
Infeksi cacing tambang merupakan infeksi menahun sehingga sering tidak menunjukkan gejala akut. Kerusakan jaringan dan gejala penyakit dapat disebabkan oleh larva maupun cacing dewasa. Larva menembus kulit membentuk maculopapula dan eritem sering disertai rasa gatal. Waktu larva berada dalam aliran darah dapat menimbulkan bronchitis atau pneumonitis. Cacing dewasa melekat dan melukai mukosa usus, menimbulkan perasaan tidak enak di perut, mual, dan diare. Seekor cacing dewasa menghisap darah 0,2 – 0,3 ml sehari sehingga dapat menimbulkan anemia yang progresif, hipokrom, mikrositer, tipe defisiensi besi (Natadisastra & Agoes, 2012). Necator americanus dapat menyebabkan hilangnya darah penderita sampai 0,1 cc per hari, sedangkan seekor cacing Ancylostoma duodenale dapat menimbulkan kehilangan darah sampai 0,34 cc per hari (Soedarto, 2011). Biasanya gejala klinik timbul setelah tampak adanya anemia. Pada infeksi berat Hb turun sampai 2 gram%, penderita merasa sesak nafas waktu melakukan kegiatan, lemah dan pusing kepala. Terjadi perubahan pada jantung yang mengalami hipertropi adanya bising katup serta nadi cepat. Keadaan demikian akan dapat menimbulkan kelemahan jantung jika terjadi pada anak dapat menimbulkan keterbelakangan fisik dan mental. Infeksi Ancylostoma duodenale lebih berat dari Necator americanus (Natadisastra & Agoes, 2012).
e) Diagnosis
Gejala klinis biasanya tidak spesifik sehingga untuk menegakkan diagnosis infeksi kecacingan perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk dapat menemukan telur cacing tambang didalam tinja ataupun larva cacing tambang di dalam biakan atau pada tinja yang sudah agak lama (Natadisastra & Agoes, 2012). Diagnosis banding untuk infeksi cacing tambang adalah penyakit penyebab lain seperti anemia, tuberculosis dan penyakit gangguan perut lainnya. Pada pemeriksaan darah penderita infeksi cacing tambang menunjukkan gambaran hemoglobin yang menurun sampai kurang dari 11,5 g/dl pada penderita perempuan dan kurang dari 13,5 g/dl
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id pada penderita laki – laki. Selain itu gambaran darah juga menunjukkan MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration) yang kurang dari 31 – 36 g/dl. Hapusan darah tepi menunjukkan gambaran hipokromik mikrositer, leucopenia dengan limfositosis relative dengan jumlah leukosit kurang dari 4.000/ml, eosinofilia dapat mencapai 30% dan anisositosis atau poikilositosis (Soedarto, 2011).
f) Pencegahan
Pendidikan kesehatan diberikan pada penduduk untuk membuat jamban pembuangan tinja (WC) yang baik untuk mencegah pencemaran tanah, dan jika berjalan ditanah selalu menggunakan alas kaki untuk mencegah terjadinya infeksi pada kulit oleh larva filariform cacing tambang (Soedarto, 2011).
b. Faktor - Faktor Endemisitas Kecacingan
Di Indonesia penyakit kecacingan erat kaitannya dengan iklim, kebersihan diri perorangan, kebersihan rumah maupun lingkungan sekitarnya serta kepadatan penduduk yang tinggi. Pada musim penghujan, udara yang lembab, rumah yang berlantai tanah, pengetahuan sanitasi kesehatan yang rendah merupakan faktor penyebab tingginya kejadian penyakit kecacingan (Palgunadi, 2010). Faktor-faktor endemisitas tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Sanitasi Lingkungan
Sanitasi adalah kebersihan tempat, masyarakat atau orang yang berkaitan dengan aspek kesehatan manusia, termasuk kualitas hidup dan ditentukan oleh faktor fisik, biologis, sosial dan psikologis dalam lingkungan yang mengacu pada pembuangan limbah manusia, yaitu feses dan urin. Sanitasi merupakan sebuah konsep yang menjelaskan kegiatan untuk memastikan pembuangan tinja, limbah padat, limbah cair yang aman dan mencegah vektor penyakit untuk memastikan lingkungan yang higienis (Acheampong, 2010). Sanitasi yang tidak memadai merupakan penyebab utama penyakit dan meningkatkan sanitasi memiliki dampak yang menguntungkan bagi kesehatan baik di rumah tangga maupun di masyarakat (WHO, 2014b).
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Komponen utama sanitasi lingkungan meliputi pengumpulan dan pembuangan sanitasi limbah (limbah padat, cair limbah, kotoran, limbah industri, kesehatan dan limbah berbahaya), stormwater drainase, pembersihan jalan raya, pasar, tempat-tempat umum, pengendalian hama, vektor penyakit, kebersihan makanan, pendidikan, inspeksi dan penegakan peraturan sanitasi, penguburan orang yang sudah meninggal, pengendalian pemeliharaan hewan, serta pemantauan kepatuhan terhadap standar lingkungan (Government of Ghana, 2010).
Pada sanitasi lingkungan sekolah, khususnya sekolah dasar sangat dimungkinkan menjadi salah satu penyebab terjadinya infeksi kecacingan pada anak. Anak usia sekolah dasar merupakan anak yang memiliki frekuensi bermain relatif tinggi, baik di sekolah maupun di rumah. Perilaku bermain ini tentu tidak dapat lepas dengan kontak tanah di halaman sekolah. Sebagian besar sekolah dasar di pedesaan memiliki kondisi sanitasi kamar mandi cukup memprihatinkan. Hampir dapat dipastikan bahwa perawatan kamar mandi kurang baik sehingga area tanah di sekitarnya memiliki sanitasi yang kurang baik. Kondisi sanitasi sekolah yang kurang inilah yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi kecacingan pada anak sekolah (Ginting, 2003). Survey sanitasi lingkungan sekolah menunjukkan bahwa kurangnya ketersediaan air bersih, lingkungan yang kumuh, sanitasi toilet kurang baik, tidak tersedianya sabun di WC, adanya tumpukan sampah merupakan penyebab infeksi cacing pada anak sekolah (Nur et al., 2013; Ulukanligil & Seyrek, 2003).
Faktor sanitasi lingkungan yang dapat mengakibatkan kejadian infeksi kecacingan, dapat dijelaskan sebagai berikut :
a) Lantai
Persyaratan fisik rumah sehat yaitu kontruksi harus kuat dan baik, terutama lantai rumah karena banyak penyakit menular melalui tanah, salah satunya adalah penyakit kecacingan (Machfoedz, 2008). Penyebaran penyakit kecacingan dapat terjadi melalui kontaminasi tanah (Depkes, 2006). Tanah liat dengan kelembaban tinggi dan suhu yang berkisar antara 25°C-30°C sangat baik untuk berkembangnya telur Ascaris lumbricoides sampai
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id menjadi bentuk infektif. Pertumbuhan larva Necator americanus yaitu memerlukan suhu optimum 28°C-32°C dan tanah gembur seperti pasir atau humus, dan untuk Ancylostoma duodenale lebih rendah yaitu 23°C-25°C (Gandahusada, 2004). Rumah dengan jenis lantai yang bukan terbuat dari tanah akan menurunkan risiko terjadi kecacingan dibandingkan rumah yang berjenis lantai dari tanah. Lantai bukan tanah akan terproteksi lebih rendah terhadap kejadian kecacingan dibandingkan lantai yang terbuat dari tanah (Rahayu & Ramdani, 2013).
b) Ketersediaan Air Bersih
Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak (WHO, 2014a). Organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan 50% malnutrisi berkaitan dengan infeksi cacing usus sebagai hasil dari air yang tidak aman dan kebersihan yang tidak layak (Velleman, 2013).
Syarat-syarat kualitas air bersih menurut Depkes (1999) diantaranya sebagai berikut :
i) Syarat Fisik : Tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna
ii) Syarat Kimia : Kadar Besi, maksimum yang diperbolehkan 0,3 mg/l, Kesadahan (maks 500 mg/l)
iii) Syarat Mikrobiologis: Koliform tinja/total koliform (maks 0 per 100 ml air)
Tingkat infeksi kecacingan semakin meningkat karena kualitas air yang buruk, penggunaan air yang tidak bersih (King et al., 2013). Rendahnya kualitas penyediaan air minum berakibat pada tingginya resiko infeksi STH (Alemu et al., 2011; Nasr et al., 2013). Adanya akses air bersih, penggunaan sumber air yang lebih baik dan dengan kejadian infeksi STH (Alemu et al., 2011; King et al., 2013; Ngui et al., 2011). Konsumsi air yang tidak direbus serta konsumsi daging mentah juga beresiko terhadap kejadian
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id infeksi STH (Wang et al., 2012). Perbaikan hygiene dan sanitasi dapat menurunkan kejadian infeksi parasit usus (King et al., 2013).
c) Kepemilikan Jamban
Kotoran manusia (feces) adalah sumber penyebaran penyakit yang multikompleks. Beberapa penyakit yang dapat disebarkan oleh feses manusia antara lain tifus, disentri, kolera, kecacingan, schistosomiasis dan lain sebagainya. Jamban atau kakus (latrine) adalah tempat pembuangan kotoran manusia berupa tinja dan urin. Septic Tank, merupakan cara yang paling dianjurkan untuk penampungan tinja. Menurut Notoatmodjo (2007) suatu jamban disebut sehat untuk daerah pedesaan apabila memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut tidak mengotori permukaan tanah di sekeliling jamban, tidak mengotori air di permukaan sekitarnya, tidak mengotori air tanah di sekitarnya, tidak terjangkau oleh serangga terutama lalat, kecoa dan binatang lainnya, tidak menimbulkan bau, mudah digunakan dan dipelihara (maintenance), sederhana desainnya, murah, dapat diterima oleh pemakainya. Kualitas jamban yang kurang baik dapat menyebabkan infeksi STH (Alemu et al., 2011). Kejadian infeksi STH lebih rendah pada anak yang memiliki jamban dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki jamban (Sayono, 2003).
d) Sarana Pembuangan Sampah
Sampah merupakan sisa hasil kegiatan manusia yang keberadaannya dapat menimbulkan masalah apabila tidak dikelola dengan baik. Sampah yang dibuang dengan cara ditumpuk, akan menimbulkan bau dan gas yang berbahaya bagi kesehatan manusia, apabila dibakar akan menimbulkan pengotoran udara, apabila dibuang disungai dapat mengakibatkan pendangkalan sehingga menimbulkan banjir. Dengan demikian sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sumber pencemar pada tanah, badan air dan udara (Depkes, 1999). Penanganan sampah sering mengalami kesulitan karena cara pengelolaan di masing-masing daerah belum sesuai