7 Setiap percikan ludah, darah atau eksudat luka pada dinding harus
5.1. Sanitasi Ruangan
Kepmenkes RI Nomor 1204 Tahun 2004 menyebutkan bahwa sanitasi di ruang rawat inap meliputi ventilasi, lantai dan dinding, pencahayaan, penyediaan air bersih, toilet dan kamar mandi, pembuangan sampah dan tata cara pengepelan lantai. Dan berdasarkan hasil observasi mengenai sanitasi yang dilakukan pada ruang Rawat Inap Kelas III RSUD Padangsidimpuan, dapat dilihat pada penjelasan berikut ini : 5.1.1. Ventilasi
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, ventilasi yang digunakan di ruang Rawat Inap Kelas III (RSUD) Padangsidimpuan adalah ventilasi alamiah berupa lubang lubang pada dinding dan jendela. Jendela dibuka setiap hari agar udara dan cahaya matahari bisa masuk kedalam ruangan. Dalam Kepmenkes RI Nomer 1204 Tahun 2004 disebutkan bahwa ventilasi adalah suatu alat yang digunakan untuk mengatur sirkulasi udara di dalam ruangan. Berdasarkan Kepmenkes RI No. 1204 tentang ventilasi alamiah, ventilasi alamiah harus dapat menjamin aliran udara di dalam kamar/ruang dengan baik dan minimum 15 % dari luas lantai, maka ventilasi ruang Rawat Inap Kelas III RSUD Padangsidimpuan sudah memenuhi syarat karena memiliki lubang lubang di dinding dan jendela yang dapat menjamin aliran udara di dalam ruangan Rawat Inap Kelas III RSUD Padangsidimpuan.
Jika ruangan dengan luas ventilasi yang tidak baik akan menyebabkan kuman selalu dalam konsentrasi tinggi sehingga kondisi ini akan memperbesar kemungkinan penularan terhadap orang lain (Supriyono, 2002). Ventilasi yang kurang juga akan membuat udara atau suhu didalam ruangan menjadi panas sehingga menyebabkan rasa tidak nyaman. Kurangnya lubang ventilasi udara akan menyebabkan kelembapan udara dalam ruangan meningkat, sedangkan kondisi ruangan yang lembab akan memudahkan tumbuhnya jamur dan bakteri patogen yang bisa mempengaruhi kualitas kesehatan penghuni ruangan tersebut ( wordpress.com ). ventilasi yang kurang juga bisa menjadi salah satu faktor penularan suatu penyakit tertentu, seperti ISPA. Kurangnya ventilasi didalam rumah menyebabkan kurangnya oksigen di dalam rumah yang berarti kadar karbondioksida yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat.
5.1.2. Lantai dan Dinding
Berdasarkan hasil observasi, lantai di ruang Rawat Inap Kelas III RSUD Padangsidimpuan terbuat dari atau jenis tegel, permukaan rata, tidak licin, warna tidak terang atau abu-abu, dan mudah dibersihkan. Sedangkan pertemuan lantai dengan dinding membentuk sudut siku 900. Dinding di ruang Rawat Inap Kelas III RSUD Padangsidimpuan terbuat dari beton, berwarna terang yaitu putih dan menggunakan cat yang tidak luntur. Dinding memiliki tinggi 4 meter.
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004, lantai adalah alas bangunan yang terbuat dari bahan yang
kuat, kedap air, permukaan rata, tidak licin, warna terang dan mudah dibersihkan. Dinding adalah bangunan pembatas yang memisahkan ruangan satu dengan ruangan yang lainnya. Pertemuan lantai dengan dinding harus berbentuk konus/ lengkung agar mudah dibersihkan. Berdasarkan Kepmenkes RI Nomor 1204 Tahun 2004 tentang pertemuan antara lantai dengan dinding tidak berbentuk konus/ lengkung, maka ruang Rawat Inap Kelas III RSUD Padangsidimpuan belum memenuhi syarat yang telah ditetapkan. Hal ini dikarenakan pertemuan antara lantai dan dinding pada Ruang Rawat Inap Kelas III RSUD Padangsidimpuan membentuk sudut siku 90o sehingga menyebabkan kotoran sulit dibersihkan dan tertinggal mengendap di sudut tersebut yang memungkinkan timbulnya resiko perkembangbiakan mikroorganisme baik patogen maupun non patogen.
Dalam Entjang (2003) dapat disimpulkan bahwa mikroorganisme patogen yang terdapat di lingkungan rumah sakit sering menjadi penyebab terjadinya infeksi nosokomial di rumah sakit. Oleh karena itu pertemuan antara lantai dan dinding ruang di rumah sakit sebaiknya berbentuk konus agar resiko perkembangbiakan bakteri tidak terjadi.
5.1.3. Pencahayaan
Berdasarkan hasil pengamatan, pencahayaan di ruang Rawat Inap Kelas III RSUD Padangsidimpuan menggunakan pencahyaan alami yaitu sinar matahari dan dimalam hari lampu sebanyak 8 , di mana masing-masing lampu memiliki kapasitas sebesar 15 watt . Setiap ruangan memiliki lampu sebagai penerangan dan saklar berada di dekat pintu masuk serta mudah dijangkau. Pengukuran pencahayaan pada
penelitian ini dilakukan dengan menggunakan alat berupa Lux meter. Dan dari hasil pengukuran yang dilakukan diperoleh intensitas pencahayaan pada ruang Rawat Inap Kelas III RSUD Padangsidimpuan sebesar 154,5 Lux.
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit, standar pencahayaan untuk ruang Rawat Inap yaitu 100-200 lux. Dalam hal ini pencahayaan ruang Rawat Inap Kelas III RSUD Padangsidimpuan sudah memenuhi syarat.
Menurut Depkes RI (2006), bahwa lingkungan rumah sakit baik dalam maupun luar ruangan harus mendapat cahaya dengan intensitas yang cukup berdasarkan fungsinya, semua ruang yang dipergunakan baik untuk bekerja ataupun untuk menyimpan barang/peralatan perlu diberikan penerangan. Apabila pencahayaan ruangan tersebut tidak sesuai dengan standar maka dikhawatirkan dapat menghambat kerja tim medis dan paramedis yang bertugas di ruangan Rawat Inap Kelas III RSUD Padangsidimpuan yang dapat menimbulkan kecelakaan baik pada tim medis dan paramedis maupun kepada pasien. Pencahayaan yang terang tentunya akan membantu petugas kebersihan lebih teliti dalam upaya membersihkan lantai ruangan sehingga seluruh lantai dapat disapu dan dipel dengan rata tanpa ada yang terlewatkan. Menurut Pelczar (1998) pencahayaan alami juga dapat sebagai desinfektan bagi jenis mikroba tertentu, seperti kuman TBC. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Musadad (2001) dari penelitian tersebut di dapatkan bahwa kondisi pencahayaan yang kurang baik mempunyai risiko terkena tuberkulosis paru bila dibandingkan dengan rumah yang dimasuki cahaya matahari.
5.1.4. Penyediaan Air Bersih
Berdasarkan hasil pengamatan, penyediaan air bersih di Ruang Rawat Inap Kelas III RSUD Padangsidmpuan bersumber dari Perusahaan Air Minum (PAM), di mana air tidak berbau, berasa dan berwarna. Ruangan juga memiliki wastafel dalam kondisi baik dan tersedia air yang lancar. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004, penyediaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan baik kualitas, kuantitas serta kontinuitas, yaitu:
1. Sumber air bersih dari PAM/ sumur gali
2. Tersedia air bersih minimum 500 liter/tempat tidur/hari 3. Tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna
4. Air bersih tersedia pada setiap tempat kegiatan yang membutuhkan secara berkesinambungan.
Air merupakan komponen penting dalam keberlangsungan hidup dan kehidupan. Ketersediannya tidak hanya dalam hal kuantitas, tapi juga dalam hal kualitas. Air harus bebas dari bahan pencemar agar tidak menjadi penyebab timbulnya masalah kesehatan. Entjang (2003) menyebutkan bahwa beberapa jenis bakteri patogen seperti Escherichia Coli, Staphylococcus Aureus, Pseudomonas Aeruginosa dapat dijumpai pada air yang terkontaminasi. Dalam hal ini ruang Rawat Inap Kelas III RSUD Padangsidimpuan sudah memenuhi syarat. Hal ini dapat terlihat dari terpenuhinya kebutuhan air baik secara kualitas maupun kuantitas.
Berdasarkan hasil pengamatan, toilet di ruang Rawat Inap Kelas III RSUD Padangsidimpuan menggunakan tipe leher angsa dan dilengkapi dengan penahan bau (water seal). Lantai kamar mandi terbuat dari keramik, tidak licin, berwarna terang dan tidak terdapat genangan air. Toilet dan kamar mandi memiliki tempat penampungan air berupa ember namun tidak memiliki slogan menjaga kebersihan. Toilet dan kamar mandi dibersihkan setiap hari satu kali pada pagi hari oleh petugas kebersihan RSUD Padangsidimpuan.
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004, Fasilitas toilet dan kamar mandi
1. Harus tersedia dan selalu terpelihara serta dalam keadaan bersih.
2. Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, tidak licin, berwarna terang dan mudah dibersihkan.
3. Pada setiap unit ruangan harus tersedia toilet (jamban, peturasan dan tempat cuci tangan) tersendiri. Khususnya untuk unit rawat inap dan kamar karyawan harus tersedia kamar mandi.
4. Pembuangan air limbah dari toilet dan kamar mandi dilengkapi dengan penahan bau (water seal).
5. Letak toilet dan kamar mandi tidak berhubungan langsung dengan dapur, kamar operasi dan ruang khusus lainnya.
6. Lubang penghawaan harus berhubungan langsung dengan udara luar.
7. Toilet dan kamar mandi harus terpisah antara pria dan wanita, unit rawat inap dan karyawan, karyawan dan toilet pengunjung.
8. Toilet pengunjung harus terletak di tempat yang mudah dijangkau dan ada petunjuk arah, dan toilet untuk pengunjung dengan perbandingan 1 (satu) toilet untuk 1-20 pengunjung wanita, 1 (satu) toilet untuk 1-30 pengunjung pria.
9. Harus dilengkapi dengan slogan atau peringatan untuk memelihara kebersihan. 10. Tidak terdapat tempat penampungan atau genangan air yang dapat menjadi
tempat perindukan nyamuk.
Toilet dan kamar mandi ruang Rawat Inap Kelas III RSUD Padangsidimpuan belum memenuhi persyaratan sesuai dengan Kepmenkes 1204. Hal ini dapat dilihat dari belum terpisahnya toilet untuk wanita dan pria, tidak dilengkapi slogan untuk memelihara kebersihan serta jadwal pembersihan toilet yang seharusnya dua kali sehari. Jika toilet pria dan wanita tidak dipisahkan maka akan mempengaruhi tingkat kenyamanan dari pengunjung baik pasien, penunggu pasien, dan pembesuk. Toilet terutama pada tempat-tempat umum merupakan salah satu tempat dimana penularan penyakit bisa terjadi. Oleh karena itu kebersihan toilet harus selalu terjaga.
5.1.6 Pembuangan Sampah
Berdasarkan hasil pengamatan, ruang Rawat Inap Kelas III RSUD Padangsidimpuan menyediakan tempat sampah yang memiliki tutup dan kedap air serta dapat dibuka tanpa mengotori tangan. Sampah dibagi menjadi sampah medis dan non medis yang menggunakan kantong plastik khusus. Sampah dibuang 2 kali dalam sehari sesuai dengan jadwal petugas kebersihan dan dikumpulkan pada tempat pengumpul sampah sementara yang terlindung dari serangga, tikus dan hewan lainnya.
Seperti yang tersebut di atas maka pembuangan sampah pada ruangan Rawat Inap Kelas III RSUD Padangsidimpuan sudah sesuai dengan persyaratan menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004, tempat pembuangan sampah yang memenuhi syarat adalah :
1. Terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat dan kedap air serta dapat dibuka tanpa mengotori tangan.
2. Mempunyai tutup yang mudah dibuka dan ditutup tanpa mengotori tangan. 3. Terdapat minimal satu buah untuk setiap kamar atau setiap radius 10 m dan
setiap radius 20 m pada ruang tunggu terbuka.
Sampah merupakan salah satu media perkembangbiakan bakteri dan vektor penyebab penyakit. Pengelolaan sampah yang tidak sesuai standar yang sudah ditetapkan dapat menimbulkan resiko terjadinya penyebaran penyakit dan bisa menyebabkan penyakit infeksi nosokomial yang disebabkan dari lingkungan yang tidak bersih dan sehat. Selain itu juga dapat menimbulkan pencemaran udara baik secara langsung maupun tidak langsung.
5.1.7 Tata Cara Pembersihan Lantai
Berdasarkan hasil pengamatan, tata cara pembersihan lantai di ruang Rawat Inap Kelas III RSUD Padangsidmpuan yaitu dilakukan oleh 2 orang petugas kebersihan. Tata cara pengepelan lantai dilakukan secara horizontal bolak-balik dengan menggunakan alat pel dan desinfektan floor cleaner yang berbahan aktif pine oil 2,5%. Dosis desinfektan floor cleaner yang digunakan yaitu sebanyak 20 ml
desinfektan atau dengan konsentrasi 2% dicampur 1 liter air namun menggunakan perlengkapan pel yang sama untuk beberapa ruangan. Ruangan dibersihkan dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari.
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004, tentang persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit menyebutkan bahwa untuk mengurangi dan mengendalikan kuman pada lantai adalah membersihkan kotoran yang ada dengan menyapunya, kemudian dipel dengan air atau dengan bahan pembersih lantai. Adapun cara pengendalian kuman pada lantai yang dilakukan oleh petugas kebersihan, sebagai berikut : .
1. Kegiatan pembersihan ruang minimal dilakukan pagi dan sore hari.
2. Pembersihan lantai di ruang perawatan pasien dilakukan setelah pembenahan/merapikan tempat tidur pasien, jam makan, jam kunjungan dokter, kunjungan keluarga dan sewaktu-waktu bilamana diperlukan
3. Cara-cara pembersihan yang dapat menebarkan debu harus dihindari.
4. Harus menggunakan cara pembersihan dengan perlengkapan pembersih (pel) yang memenuhi syarat dan bahan antiseptik yang tepat.
5. Pada masing-masing ruang supaya disediakan perlengkapan pel tersendiri. 6. Pembersihan dinding dilakukan secara periodik minimal 2 (dua) kali setahun
dan di cat ulang apabila sudah kotor atau cat sudah pudar.
7. Setiap percikan ludah, darah atau eksudat luka pada dinding harus segera dibersihkan dengan menggunakan antiseptik.
Kepmenkes RI Nomor 1204 Tahun 2004 menyebutkan bahwa masing-masing ruang harus memiliki perlengkapan pel sendiri. Hal ini dikarenakan masing-masing ruangan memiliki angka kuman dan zona resiko yang berbeda-beda dalam hal resiko terjadinya penularan penyakit, seharusnya memiliki perlengkapan pel tersendiri yang tidak digunakan pada ruangan lain. Dalam hal ini ruang Rawat Inap Kelas III RSUD