BAB III PENILAIAN KESEHATAN BANK UMUM
C. Sanksi atas Penurunan Tingkat
Praktik hukum perbankan mengandung maksud penerapan hukum secara luas di bidang perbankan, yang pada dasarnya fungsionalisasi hukum dalam pekerjaan yang berhubungan dengan industri perbankan. Praktik hukum perbankan tidak dapat lain, kecuali untuk penyelenggaraan operasional industri perbankan yaitu dengan cara menerapkan peraturan yang abstrak terhadap operasional industri perbankan yang konkrit. Dalam ruang lingkup praktik hukum perbankan teresbut mencakup pada penyelesaian problem dan pengambilan keputusan dalam suatu kegiatan operasional industri perbankan. Adapun penalaran yang digunakannya, diantaranya, berupa penalaran silogisme, yaitu suatu tipe penalaran dengan cara memasukkan suatu kejadian nyata kedalam suatu peraturan yang umum atau suatu prinsip (asas hukum), untuk kemudian dinilai apakah penempatan kejadian tersebut kedalam jangkauan peraturan tersebut bisa diterima atau tidak. Jawaban tersebut menentukan dapat atau tidaknya suatu peraturan hukum perbankan diterapkan terhadap suatu kejadian tertentu dalam
kegiatan perbankan.136
Sanksi merupakan eksistensi hukum perbankan. Kata sanksi berasal dari bahasa Belanda yaitu “sanc tie” yang artinya alat pemaksa sebagai hukuman jika
tidak taat kepada perjanjian.137 Sedangkan menurut kamus bahasa besar bahasa
Indonesia online, Sanksi berarti tanggungan (tindakan-tindakan, hukuman) untuk
memaksa orang menepati perjanjian atau menaati ketentuan.138
136
Muhammad Djumhana, Op.Cit., hlm. 56.
137 S. Wojo Wasito, Kamus Umum Belanda-Indonesia (Jakarta: Sinar grafika, 2004), hlm. 152.
138
http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi/index.php (diakses tanggal 17 November 2015)
Kamus istilah hukum karangan J.C.T. Simorangkir dkk, sanksi mempunyai arti ancaman hukuman, merupakan suatu alat pemaksa guna ditaatinya suatu
kaidah (undang-undang).139 Pengertian sanksi apabila dilihat dari segi tugasnya,
sanksi adalah suatu jaminan bahwa sesuatu akan ditaati yang merupakan akibat
hukum (rechtgevolg) daripada pelanggaran suatu kaidah.140
Menurunnya tingkat kesehatan bank diketahui dari menurunnya peringkat komposit kesehatan bank yaitu profil risiko (risk profile), good corporate governance (GCG), Rentabilitas (earnings), dan permodalan (capital). Menurunnya peringkat komposit bank umum dikarenakan beberapa hal yakni:
1. Kerugian yang dihadapi bank dari risiko inheren komposit tergolong
tinggi/sangat tinggi selama periode waktu tertentu di masa datang.
2. Kualitas penerapan manajemen risiko secara komposit kurang/tidak memadai.
Terdapat kelemahan signifikasi pada berbagai aspek manajemen risiko di mana tindakan penyelesaiannya di luar kemampuan manajemen.
3. Kerugian yang dihadapi bank dari risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas,
risiko operasional, risiko hukum, risiko stratejik, risiko kepatuhan, risiko reputasi tergolong tinggi/sangat tinggi selama periode waktu tertentu di masa datang.
4. Kualitas penerapan manajemen risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas,
risiko operasional, risiko hukum, risiko stratejik, risiko kepatuhan, risiko reputasi kurang/tidak memadai. Terdapat kelemahan signifikasi pada berbagai aspek manajemen risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko
139J.C.T. Simorangkir dkk., Kamus Hukum (Jakarta: Sinar Grafika, 2004), hlm. 152.
140
Satochid Karta Negara, Hukum Pidana: Kumpulan Kuliah Bagian 1 (Jakarta: Balai Rektur Mahasiswa, t.th) hlm. 42.
operasional, risiko hukum, risiko stratejik, risiko kepatuhan, risiko reputasi di mana tindakan penyelesaiannya di luar kemampuan manajemen.
5. Manajemen bank telah melakukan penerapan good corporate governance
yang secara umum kurang/tidak baik. Hal ini tercermin dari pemenuhan yang kurang/tidak memadai atas prinsip-prinsip good corporate governance, maka secara umum kelemahan tersebut sangat signifikan dan sulit untuk diperbaiki oleh manajemen bank.
6. Rentabilitas kurang/tidak memadai, laba tidak memenuhi target dan
kurang/tidak dapat diandalkan serta memerlukan peningkatan kinerja laba segera untuk memastikan kelangsungan usaha bank.
7. Bank memiliki kualitas dan kecukupan permodalan yang kurang/tidak
memadai relatif terhadap profil risikonya, yang disertai dengan pengelolaan permodalan yang lemah/sangat lemah dibandingkan dengan karakteristik, skala usaha, dan kompleksitas usaha bank.
Hal-hal yang disebutkan diatas mempengaruhi hasil penilaian kesehatan bank umum. Peringkat komposit merupakan cerminan keadaan bank itu sendiri. Apabila Peringkat Komposit Bank umum turun ke peringkat komposit 4 (PK-4) yang mencerminkan kondisi bank kurang sehat, dan peringkat komposit 5 (PK-5) yang mencerminkan kondisi bank umum tidak sehat. Kedua peringkat itu menggambarkan bank tersebut berada dalam kondisi yang tidak sehat.
Penurunan tingkat kesehatan bank dapat menciptakan kesulitan bagi bank dan membahayakan kelangsungan usahanya. Apabila tingkat kesehatan bank menurun menjadi kurang sehat atau tidak sehat, serta dalam waktu sembilan bulan tidak dapat ditingkatkan kembali menjadi cukup sehat selama sekurang-kurangnya
tiga bulan berturut-turut, maka mungkin saja terjadi pencabutan izin usaha bank
yang bersangkutan.141 Hal ini diutarakan dalam Pasal 37 ayat (2) yakni:142
1. tindakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) belum cukup untuk mengatasi
kesulitan yang dihadapi bank; dan atau
2. menurut penilaian Bank Indonesia keadaan suatu bank dapat membahayakan
sistem Perbankan, Pimpinan Bank Indonesia dapat mencabut izin usaha bank dan memerintahkan Direksi bank untuk segera menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham guna membubarkan badan hukum bank dan membentuk tim likuidasi.
Selanjutnya dalam Pasal 37 ayat (3) disebutkan dalam hal Direksi bank tidak menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), Pimpinan Bank Indonesia meminta kepada pengadilan untuk mengeluarkan penetapan yang berisi pembubaran badan hukum bank, penunjukan tim likuidasi, dan perintah pelaksanaan likuidasi sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. 143
Pasal 17 PBI No. 13/1/PBI/2011 menyatakan bagi bank yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan dalam PBI No. 13/1/PBI/2011 tentang penilaian kesehatan bank umum akan dikenakan sanksi administratif sebagaimana yang
dimaksud dalam Pasal 52 UU Perbankan berupa:144
1. teguran tertulis;
2. penurunan tingkat kesehatan bank;
141http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/analisis_tingkat_kesehatan_bank/f.Bab_I_Pe nilaian_Tingkat_Kesehatan_Bank.pdf (diakses tanggal 17 November 2015)
142 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Jo Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan, Bab V, Pasal 37 ayat (2).
143 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Jo Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan, Bab V, Pasal 37 ayat (3).
144
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Jo Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan, Bab VIII, Pasal 52.
3. pembekuan kegiatan usaha tertentu; dan/atau
4. pencantuman pengurus dan/atau pemegang saham bank dalam daftar
pihak-pihak yang mendapatkan predikat tidak lulus dalam penilaian kemampuan dan kepatuhan (fit and proper test).
BAB IV
KEWAJIBAN PENYEDIAAN MODAL MINIMUM BANK UMUM SEBAGAI SALAH SATU LANGKAH PENYEHATAN PERBANKAN
A. Kemampuan Bank Menyerap Risiko terkait Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Permodalan menurut Peraturan Bank Indonesia No. 15/ 12 /PBI/2013
Sistem keuangan yang stabil adalah sistem keuangan yang kuat dan tahan terhadap berbagai gangguan ekonomi sehingga tetap mampu melakukan fungsi intermediasi, melaksanakan pembayaran dan menyebar risiko secara baik. Arti stabilitas sistem keuangan dapat dipahami dengan melakukan penelitian terhadap faktor-faktor yang dapat menyebabkan instabilitas di sektor keuangan. Ketidakstabilan sistem keuangan dapat dipicu oleh berbagai macam penyebab dan gejolak. Hal ini umumnya merupakan kombinasi antara kegagalan pasar, baik karena faktor struktural maupun perilaku. Kegagalan pasar itu sendiri dapat bersumber dari eksternal (internasional) dan internal (domestik). Risiko yang sering menyertai kegiatan dalam sistem keuangan antara lain risiko kredit, risiko
likuiditas, risiko pasar dan risiko operasional.145
Bank, sebagaimana lembaga keuangan atau perusahaan umumnya dalam menjalankan kegiatan guna mendapatkan hasil usaha (return) selalu dihadapkan pada risiko. Risiko yang mungkin terjadi dapat menimbulkan kerugian bagi Bank jika tidak terdeteksi serta dikelola sebagaimana mestinya. Untuk itu, Bank harus mengerti dan mengenal risiko-risiko yang mungkin timbul dalam pelaksanaan
145
http://www.bi.go.id/id/perbankan/ssk/ikhtisar/definisi/Contents/Default.aspx (diakses tanggal 18 November 2015.
usahanya.146 Pengertian Risiko Menurut Pasal 1 angka 4 Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/25/PBI/2009 tentang perubahan atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 5/8/PBI/2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum adalah potensi terjadinya suatu peristiwa (events) yang dapat menimbulkan
kerugian bank.147
Risiko dapat dikatakan sebagai peluang terjadinya kerugian atau kehancuran lebih luas risiko dapat diartikan sebagai suatu peluang terjadinya kerugian atau kehancuran. Lebih luas risiko dapat diartikan sebagai kemungkinan terjadinya hasil yang tidak diinginkan atau berlawanan dari yang diinginkan. Risiko dapat menimbulkan kerugian apabila tidak diantisipasi serta tidak dikelola sebagaimana mestinya. Sebaliknya risiko yang dikelola dengan baik akan memberikan ruang pada terciptanya peluang untuk memperoleh suatu keuntungan yang lebih
besar.148
Peristiwa yang menyebabkan timbulnya risiko (risk event) didefiniskan sebagai munculnya kejadian yang dapat menciptakan potensi kerugian atau hasil yang tidak diinginkan. Risk event secara sederhana dapat didefinisikan sebagai penyebab terjadinya suatu risiko. Peristiwa tersebut berasal dari kejadian internal ataupun external. Kejadian internal yang dimaksud adalah kejadian yang berasal dari dalam institusi itu sendiri, seperti kesalahan sistem, kesalahan manusia, kesalahan prosedur, dan lain-lain. Kejadian internal pada dasarnya bisa dicegah
agar tidak terjadi.149
146 Fery N. Indroes dan Sugiarto, Op.Cit., hlm. 6.
147
Republik Indonesia, Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/25/PBI/2009 tentang perubahan atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 5/8/PBI/2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum, Pasal 1 angka 4.
148
Fery N. Indroes dan Sugiarto, Op.Cit., hlm. 7.
149
Sebaliknya kejadian external adalah kejadian yang bersumber dari luar yang tidak dapat dihindari. Peristiwa yang menyebabkan timbulnya risiko bagi bank yang bersumber dari external seperti bencana alam, bencana akibat ulah manusia seperti kerusuhan dan perang, krisis ekonomi global, krisis ekonomi regional, krisis ekonomi lokal, hingga dampak sisitemik yang ditimbulkan oleh masalah pada lembaga keuangan atau bank lain. Semua kejadian tersebut tidak dapat diprediksi seberapa jauh pengaruhnya terhadap sebuah bank. Terhadap peristiwa
tersebut hanya dapat dikelola dan dikurang dampak kerugian yang diderita.150
Pemberlakuan PBI No. 15/12/PBI/2013 tentang kewajiban penyediaan modal minimum untuk menggantikan atau mencabut peraturan sebelumnya yaitu Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/18/PBI/2012 yang selanjutnya disebut PBI No. 14/18/PBI/2012. Hal ini dilakukan pemerintah dikarenakan PBI No. 14/18/PBI/2012 tidak relevan lagi menjawab persoalan perbankan. Pemerintah membuat, mencabut, mengubah, memperbaharuhi peraturan untuk mampu mengatasi guncangan dari ketidakpastian risiko di masa yang akan datang. Pemberlakuan Basel III sebagai acuan standar nasional menjadi pertimbangan di keluarkannya PBI No. 15/12/PBI/2013 tentang kewajiban penyediaan modal minimum.
Peningkatan kualitas dan kuantitas permodalan bank yang sesuai dengan standar internasional diperlukan dalam rangka meningkatkan kemampuan bank untuk menyerap risiko. Peningkatan kualitas modal dilakukan melalui penyesuaian persyaratan komponen dan instrumen modal bank, serta penyesuaian rasio-rasio permodalan. Untuk meningkatkan kualitas permodalan bank,
150
komponen dan persyaratan instrumen modal disesuaikan mengacu pada standar internasional yang berlaku. Standar internasional yang berlaku dan menjadi acuan adalah “Global Regulaltory Framework for More Resilent Banks and Banking System” yang lebih dikenal dengan Basel III.
Komponen modal inti (Tier 1) bank terutama harus didominasi oleh instrumen modal berkualitas tinggi, yaitu saldo laba yang merupakan bagian dari modal inti utama atau common equity tier 1. Pada Pasal 11 ayat (1) angka a disebutkan bahwa komponen modal disetor adalah bagian dari modal inti utama atau common equity tier 1. Komponen modal disetor ditingkatkan kualitasnya melalui penambahan persyaratan instrumen modal disetor yaitu tentang saldo laba dan sumber pendanaan. Penambahan persyaratan instrumen modal disetor yaitu tentang saldo laba yang diatur di dalam Pasal 12 ayat (1) huruf f PBI No. 15/12/PBI/2013 yang isinya adalah memiliki karakteristik pembayaran dividen
atau imbal hasil yaitu :151
1. berasal dari saldo laba dan/atau laba tahun berjalan;
2. tidak memiliki nilai yang pasti dan tidak terkait dengan nilai yang dibayarkan
atas instrumen modal; dan
3. tidak memiliki fitur preferensi.
Penambahan persyaratan instrumen modal disetor yaitu tentang sumber pendanaan diatur dalam Pasal 12 ayat (1) huruf g yaitu sumber pendanaan tidak berasal dari bank penerbit baik secara langsung atau tidak langsung. Persyaratan tentang saldo laba dan sumber pendanaan tidak ada diatur dalam Peraturan sebelumnya yang telah dicabut yakni PBI no 14/18/PBI/2012. Komponen modal
151
Republik Indonesia, Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/12/PBI/2013 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum, Bab II, Pasal 12 ayat (1).
inti (Tier 1) bank terutama harus didominasi oleh instrumen modal berkualitas tinggi, yaitu saham biasa (common stocks). Pasal 9 ayat (1) huruf a menyebutkan bahwa modal inti tambahan merupakan bagian dari modal inti (Tier 1).
Saham biasa (common stocks) merupakan bagian dari persyaratan modal inti tambahan hal ini terdapat dalam Pasal 1 huruf d PBI No. 15/12/PBI/2013 yaitu memiliki fitur yang dikonversi menjadi saham biasa atau mekanisme write down apabila bank berpotensi terganggu kelangsungan usahanya (point of non viability) yang dinyatakan secara jelas dalam dokumentasi penerbitan/perjanjian. Komponen modal inti lainnya yaitu modal inti tambahan (Additional Tier1) ditingkatkan kualitasnya menjadi hanya dapat berupa instrumen keuangan yang bersifat subordinasi dengan pembayaran dividen atau imbal hasil bersifat non kumulatif serta memenuhi kriteria tertentu. Aturan peningkatan kualitas modal inti tambahan bersifat subordinasi dengan jelas diatur di dalam Pasal 15 ayat (1) huruf e yang isinya persyaratan instrumen modal inti tambahan harus bersifat subordinasi pada saat likuidasi, yang secara jelas dinyatakan dalam dokumentasi penerbitan/perjanjian.
Komponen modal inti tambahan merupakan penyempurnaan dari komponen modal inovatif yang sebelumnya merupakan bagian dari modal inti Bank. Terdapat perbedaan dalam hal persyaratan setelah komponen modal inovatif disempurnakan menjadi komponen modal inti tambahan. Setelah disempurnakan instrumen persyaratan modal inti tambahan diatur di dalam Pasal 15 ayat (1) Peraturan Bank Indonesia 15/12/PBI/2013. Perbedaannya dengan komponen modal inovatif yang diatur dalam Pasal 12 ayat (1) Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/18/PBI/2012 yaitu Pasal 12 ayat (2) huruf c yang pertama adalah kata
“tersedia untuk menyerap kerugian yang terjadi sebelum likuidasi maupun pada saat likuidasi” dihapuskan dan menjadi “bersifat subordinasi pada saat di likuidasi, yang secara jelas dinyatakan dalam dokumentasi penerbitan perjanjian” yang diatur dalam Pasal 15 ayat ( 1) huruf e, yang kedua persyaratan fitur opsi
beli pada Pasal 12 ayat (2) huruf f angka 1 PBI No. 14/18/PBI/2012 yaitu “hanya
dapat dieksekusi paling cepat 10 (sepuluh) tahun setelah instrumen modal diterbitkan” diubah menjadi “hanya dapat dieksekusi paling cepat 5 (lima) tahun setelah instrumen modal diterbitkan” yang diatur dalam Pasal 15 ayat (1) huruf i angka 1 PBI No. 15/12/PBI/2013, yang ketiga Pasal 12 ayat (2) huruf f angka 3 PBI No. 14/18/PBI/2012 fitur step up dalam instrumen modal inovatif dihapuskan ketika penyempurnaan menjadi komponen modal inti tambahan hal ini dapat dilihat dalam Pasal 15 ayat (1) huruf c PBI No. 15/12/PBI/2013 yang isinya instrumen modal inti tambahan tidak memiliki fitur step up, dan yang keempat terdapat beberapa persyaratan yang ditambahkan dalam Pasal 15 ayat (1) PBI No 15/12/PBI/2013 yakni huruf j yang isinya tidak dapat dibeli oleh bank penerbit dan/atau perusahaan anak, dan huruf k sumber pendanaan tidak berasal dari bank penerbit baik secara langsung maupun tidak langsung, tidak memiliki fitur yang menghambat proses penambahan modal di masa mendatang.
Sejalan dengan peningkatan kualitas modal inti, komponen dan persyaratan instrumen modal pelengkap (Tier 2) juga ikut disesuaikan, antara lain dengan menghapuskan kategori modal pelengkap yang diatur dalam Pasal 15 ayat (2) PBI No. 14/18/PBI/2012 yaitu modal pelengkap level atas (Upper Tier 2) dan modal pelengkap level bawah (Lower Tier 2). Sehingga dalam PBI No. 15/12/PBI/2013 tidak ada lagi ditemukan modal pelengkap level atas (Upper Tier 2) dan modal
pelengkap level bawah (Lower Tier 2), dan disebut hanya modal pelengkap saja tidak terbagi lagi. Namun perhitungannya masih sama yaitu diperhitungkan paling tinggi sebesar 100% (seratus persen) dari modal inti. Komponen modal pelengkap tambahan (Tier 3) yang sebelumnya dapat diterbitkan hanya untuk perhitungan modal untuk risiko pasar, dengan berlakunya Basel III menjadi dihapuskan.
Untuk memastikan kualitas atau tingkat permodalan Bank memadai, dilakukan penyempurnaan rasio-rasio permodalan yang meliputi rasio modal inti dan rasio modal inti utama. Pasal 11 ayat (2) PBI No. 15/12/PBI/2013 mengutarakan Bank wajib menyediakan modal inti paling rendah sebesar 6% (enam persen) dari ATMR baik secara individual maupun secara konsolidasi
dengan perusahaan anak.152 Jumlah rasio modal inti ditingkatakan sebesar 1%. Ini
dapat diketahui dengan membandingkan penyediaan rasio modal inti dalam PBI Nomor 15/12/PBI/2013 dengan rasio modal inti PBI No. 14/18/PBI/2012. Pasal 7 ayat (1) PBI No. 14/18/PBI/2012 mengutarakan Bank wajib menyediakan modal inti paling kurang sebesar 5% (lima persen) dari ATMR baik secara individual maupun secara konsolidasi dengan perusahaan anak. Dari kedua perbandingan diatas disimpulkan rasio modal inti mengalami kenaikan 1% (satu persen). Bank juga diwajibkan menyediakan rasio modal inti utama paling rendah sebesar 4,5% (empat koma lima persen) dari ATMR, hal ini diatur dalam Pasal 11 ayat (3) PBI No. 15/12/PBI2013 yang bunyinya adalah Bank wajib menyediakan modal inti utama paling rendah sebeasar 4,5% (empat koma lima persen) dari ATMR baik
secara individual maupun secara konsolidasi dengan perusahaan anak. 153
152 Republik Indonesia, Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/12/PBI/2013 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum, Bab II, Pasal 11 ayat (2).
153
Republik Indonesia, Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/12/PBI/2013 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum, Bab II, Pasal 11 ayat (3).
Bank perlu membentuk tambahan modal di atas persyaratan penyediaan modal minimum sesuai profil risiko yang berfungsi sebagai penyangga (buffer) apabila terjadi krisis keuangan dan ekonomi yang dapat mengganggu stabilitas keuangan. Pasal 3 ayat (8) PBI No. 15/12/PBI2013 mengutarakan penetapan pemenuhan tambahan modal dipenuhi dengan komponen modal inti utama dan ayat (9) dikatakan pemenuhan tambahan modal sebagaimana dimaksud pada ayat (8) diperhitungkan setelah komponen modal inti utama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf a dialokasikan untuk memenuhi kewajiban
penyediaan:154
1. Modal inti utama minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3);
2. Modal inti minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2); dan
3. modal minimum sesuai profil risiko sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat
(3).
Pasal 3 ayat (2) PBI No. 15/12/PBI2013 mengutarakan bank diwajibkan untuk membentuk tambahan modal berupa capital conservation buffer dan countercylical buffer, dan bank yang dianggap berpotensi sistemik wajib
membentuk tambahan modal berupa capital surcharge.155 Capital conservation
buffer adalah salah satu tambahan modal yang diwajibkan harus dipenuhi. Menurut Pasal 1 angka 9 PBI No. 15/12/PBI2013 pengertian capital conservation buffer adalah tambahan modal yang berfungsi sebagai penyangga (buffer) apabila
154 Republik Indonesia, Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/12/PBI/2013 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum, Bab I, Pasal 3 ayat (9).
155
Republik Indonesia, Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/12/PBI/2013 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum, Bab I, Pasal 3 ayat (2).
terjadi kerugian pada periode krisis.156 Pasal 3 ayat (3) huruf a menetapkan besarnya capital conservation buffer yaitu sebesar 2,5% (dua koma lima persen
dari ATMR).157 Pasal 4 ayat (1) mengutarakan bahwa kewajiban pembentukan
capital conservation buffer sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf a berlaku bagi bank yang tergolong sebagai Bank Umum Kegiatan Usaha
(BUKU) 3 dan BUKU 4.158 Kewajiban bank untuk membentuk tambahan modal
berupa capital consevation buffer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf a berlaku secara bertahap mulai tanggal 1 Januari 2016, hal ini diutarakan di dalam Pasal 6 ayat (1). Pasal 6 ayat (2) menyebutkan pembentukan capital consevation buffer wajib dipenuhi secara bertahap sebagai berikut:159
1. sebesar 0,625% (nol koma enam ratus dua puluh lima persen) dari ATMR
mulai tanggal 1 Januari 2016;
2. sebesar 1,25% (satu koma dua puluh lima persen) dari ATMR mulai tanggal 1
Januari 2017;
3. sebesar 1,875% (satu koma delapan ratus tujuh puluh lima persen) dari ATMR
mulai tanggal 1 Januari 2018; dan
4. sebesar 2,5% (dua koma lima persen) dari ATMR mulai tanggal 1 Januari
2019.
Pengertian countercylical buffer dalam Pasal 1 angka 10 PBI No. 15/12/PBI/2013 adalah tambahan modal yang berfungsi sebagai penyangga (buffer) untuk mengantisipasi kerugian apabila terjadi pertumbuhan kredit
156Republik Indonesia, Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/12/PBI/2013 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum, Bab I, Pasal 1angka 9.
157Republik Indonesia, Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/12/PBI/2013 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum, Bab I, Pasal 3 ayat (3) huruf a.
158 Republik Indonesia, Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/12/PBI/2013 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum, Bab I, Pasal 4 ayat (1).
159
Republik Indonesia, Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/12/PBI/2013 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum, Bab I, Pasal 6 ayat (2).
perbankan yang berlebihan sehingga berpotensi mengganggu stabilitas sistem
keuangan.160 Dalam Pasal 3 ayat (3) huruf a diutarakan countercyclical buffer
ditetapkan dalam kisaran sebesar 0% (nol persen) sampai dengan 2,5% (dua koma
lima persen) dari ATMR.161 Penetapan besarnya persentase countercylical buffer
dilakukan oleh Bank Indonesia. Bank Indonesia dapat menetapkan besarnya kisaran persentase countercylical buffer yang berbeda dari kisaran sesuai dengan perkembangan kondisi makroekonomi. Penerapan countercylical buffer tidak seperti capital conservation buffer yang berlaku bagi bank yang tergolong sebagai Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) 3 dan BUKU 4, dikatakan dalam Pasal 4 ayat (2) kewajiban pembentukan countercylical buffer berlaku bagi seluruh bank. Pasal 6 ayat (3) mengatakan Kewajiban bank untuk membentuk tambahan modal berupa countercylical buffer nulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2016, ditambahkan dalam ayat (4) berdasarkan penilaian Bank Indonesia atas kondisi makroekonomi Indonesia, Bank Indonesia dapat menetapkan pemberlakuan countercyclical buffer lebih cepat dari waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Penjelasan Pasal 4 ayat (1) PBI No. 15/12/PBI/2013 Pengelompokan BUKU mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai kegiatan usaha
dan jaringan kantor berdasarkan modal inti bank.162
Tambahan modal yang terakhir adalah capital surcharge untuk domestic systemically important bank (D-SIB). Pasal 1 ayat (11) PBI No. 15/12/PBI/2013 diutarakan capital surcharge untuk domestic systemically important bank (D-SIB)
160 Republik Indonesia, Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/12/PBI/2013 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum, Bab I, Pasal 1 angka 10.
161 Republik Indonesia, Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/12/PBI/2013 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum, Bab I, Pasal 3 ayat (3).
162
Republik Indonesia, Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/12/PBI/2013 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum, Bab I, Penjelasan Pasal 4 ayat (1).
adalah tambahan modal yang berfungsi untuk mengurangi dampak negatif