• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sanksi Pajak

Dalam dokumen IMPLEMENTASI TAX AMNESTY,SUNSET POLICY, (Halaman 40-46)

Bab II Tinjauan Pustaka

2.6 Sanksi Pajak

Sanksi adalah pagar pembatas yang nyata bagi pelaksanaan suatu peraturan yang bermaterikan hak dan kewajiban. Sanksi merupakan wujud dari pelanggaran atas hak suatu pihak atau tidak dipenuhinya kewajiban yang telah ditentukan.

Suatu peraturan dapat dikatakan ideal dalam segi keadilan bagi masing-masing pihak jika ancaman sanksi yang ada mengikat seluruh pihak yang berkepentingan. UU KUP juga telah menetapkan beragam sanksi yang mengikat tidak hanya kepada wajib pajak atau penanggung pajak, tetapi juga mengikat aparat pajak (fiskus) dan pihak ketiga yang terlibat semisal kuasa,pejabat selain pejabat pajak, dan sebagainya. Berdasarkan jenisnya, sanksi di bidang perpajakan dapat dikelompokkan menjadi dua kategori,yaitu :

1. Sanksi Administrasi

Sanksi administrasi merupakan pembayaran kerugian terhadap negara yang bisa berupa denda administrasi,bunga atau kenaikan pajak yang terutang.

Sanksi administrasi ditekankan kepada pelanggaran-pelanggaran administrasi perpajakan yang tidak mengarah kepada tindak pidana perpajakan.

Sanksi administrasi berupa bunga dikenakan karena :

a. Terlambat menyetorkan/membayar pajak yang melampaui waktu yang telah ditentukan. (Pasal 9 dan 14 UU KUP)

b. Kekurangan pembayaran pajak akibat pembetulan sendiri dalam jangka waktu 2 tahun setelah penyampaian SPT (Pasal 8 ayat (1) UU KUP)

c. Berdasarkan pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang terutang tidak atau kurang bayar (Pasal 13 ayat (1) dan (2) UU KUP)

d. Pajak yang terutang menurut SKPKB (Surat Keterangan Pajak Kurang Bayar),SKPKBT (Surat Keterangan Pajak Kurang Bayar Tambah) dan tambahan jumlah pajak yang harus dibayar berdasarkan SK pembetulan,SK keberatan, atau Putusan banding pada saat jatuh tempo pembayaran tidak atau kurang dibayar (Pasal 19 ayat (1) UU KUP)

e. Wajib pajak diperbolehkan mengangsur atau menunda pembayaran pajak (Pasal 19 ayat (2) UU KUP)

f. Kekurangan pembayaran akibat permohonan perpanjangan jangka waktu (penundaan) penyampaian SPT Tahunan PPh (pasal 19 ayat (3) UU KUP)

g. Wajib pajak dipidana karena melakukan tindak pidana perpajakan setelah lewat waktu 10 tahun (Pasal 13 ayat (5) dan pasal 15 ayat (4) UU KUP)

Sanksi administrasi berupa kenaikan dikenakan dalam hal :

1) SPT tidak disampaikan pada waktunya walaupun telah ditegur secara tertulis dan tidak juga disampaikan dalam jangka waktu yang ditentukan dalam surat teguran. Ditjen Pajak dapat menerbitkan SKPKB dengan sanksi kenaikan sebesar 50% dari pajak yang tidak atau kurang dibayar dalam satu tahun pajak untuk PPh yang harus disetor sendiri dan 100% untuk PPh pemotongan dan pemungutan serta PPN (pasal 13 ayat 3 UU KUP)

2) Wajib pajak tidak menggunakan pembukuan sebagaimana mestinya dengan sanksi kenaikan 50% dari pajak yang seharusnya dibayar untuk

PPh yang harus disetor sendiri dan sebesar 100% untuk PPh pemotongan dan pemungutan serta PPN (Pasal 13 ayat 3 UU KUP)

3) Wajib pajak yang berkewajiban melakukan pemungutan atau pemotongan PPh Pasal 21/23/26 atau PPN namun tidak melakukan pemotongan, melakukan pemotongan namun kurang, tidak menyetorkan pemotongan yang telah dilakukan maka akan dikenakan sanksi kenaikan 100% dalam hal wajib pajak tidak menyampaikan SPT dalam jangka waktu yang ditentukan dalam surat teguran (Pasal 13 ayat 3 UU KUP)

4) Berdasarkan hasil pemeriksaan PPN/PPnBM tidak seharusnya dikompensasikan kelebihan pajaknya atau tidak seharunya dikenakan tarif 0%

dikenakan sanksi 100% (Pasal 13 ayat 3 UU KUP)

5) Jika wajib pajak mengungkapkan ketidakbenaran SPT dengan kemauan sendiri dalam laporan tersendiri melebihi batas waktu 2 tahun dan belum diterbitkan surat ketetapan pajak, wajib pajak harus melunasi pajak yang kurang bayar disertai dengan sanksi berupa kenaikan 50% dari pajak yang kurang dibayar (Pasal 8 ayat 4 dan 5 UU KUP)

6) Berdasarkan hasil pemeriksaan dikeluarkan SKPKB keputusan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak.

Sanksi administrasi berupa denda pasal 7 UU KUP dikenakan :

a) Sebesar Rp.100.000,00 bagi wajib pajak yang tidak atau terlambat menyampaikan SPT Masa kecuali PPN

b) Sebesar Rp.50.000,00 bagi wajib pajak yang tidak atau terlambat menyampaikan SPT PPN

c) Sebesar Rp.100.000,00 bagi wajib pajak yang tidak atau terlambat menyampaikan SPT tahunan pajak penghasilan orang pribadi

d) Sebesar Rp.1000.000,00 bagi wajib pajak yang tidak atau terlambat menyampaikan SPT tahunan pajak penghasilan badan.

e) Denda sebesar 2% dari dasar pengenaan pajak jika :

1) Pengusaha tidak melapokan kegiatan usaha untuk dikukuhkan sebagai PKP

2) PKP tetapi tidak membuat faktur pajak

3) PKP membuat faktur pajak tetapi tidak lengkap 4) PKP membuat faktur pajak tetapi tidak tepat waktu

f) Denda 2 kali jumlah pajak yang kurang bayar dalam hal wajib pajak sebelum dilakukan tindakan penyidikan mengungkapkan ketidakbenaran perbuatannya

g) Denda 4 kali jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar,atau yang tidak seharusnya dikembalikan dalam hal terjadi penghentian penyidikan tindak pidana dibidang perpajakan atas permintaan menteri keuangan untuk kepentingan negara.

2. Sanksi pidana dapat diterapkan dalam hal : a. Setiap orang yang karena kealfaannya : 1) Tidak menyampaikan SPT

2) Menyampaikan SPT tetapi isinya tidak benar/tidak lengkap/melampirkan keterangan yang isinya tidak benar/sehingga menimbulkan kerugian pada pendapatan negar dan perbuatan tersebut merupakan perulangan (bukan untuk pertama kali)

b. Setiap orang yang dengan sengaja:

1) Tidak mendaftarkan diri/melaporkan kegiatan usaha

2) Menyalahgunakan/menggunakan tanpa hak NPWP atau pengukuhan Pengusaha Kena Pajak

3) Tidak menyampaikan SPT

4) Menyampaikan SPT dan keterangan yang isinya tidak benar/tidak lengkap

5) Menolak dilakukan pemeriksaan

6) Memperlihatkan pembukuan/pencatatan/dokumen lain yang palsu/dipalsukan/tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya

7) Tidak menyelenggarakan pembukuan/pencatatan di Indonesia,tidak memperlihatkan /tidak meminjamkan buku/catatan/dokumen lain

8) Tidak menyimpan buku/catatan/dokumen yang menjadi dasar pembukuan/pencatatan/dokumen lain sebagaimana diatur dalam pasal 28 ayat (11) : Buku, catatan, dan dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau secara program aplikasi on-line wajib disimpan selama 10 (sepuluh) tahun di Indonesia, yaitu di tempat kegiatan atau tempat tinggal Wajib Pajak orang pribadi, atau di tempat kedudukan Wajib Pajak badan.

9) Tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara.

c. Seseorang melakukan tindak pidana di bidang perpajakan pasa 39 ayat 1 sebelum lewat 1 tahun,terhitung sejak selesai menjalani pidana penjara yang dijatuhkan

d. Setiap orang yang melakukan percobaan untuk melakukan tindak pidan pada angka (2) huruf b dan d dalam rangka mengajukan permohonan restitusi/kompensasi atau pengkreditan pajak

e. Setiap orang yang dengan sengaja :

1) Menerbitkan dan menggunakan faktur pajak,bukti pemungutan/pemotongan pajak, dan bukti setoran pajak yang tidak berdasarkan transaksi yang sebenarnya

2) Menerbitkan faktur pajak tetapi belum dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak

f. Setiap orang yang dengan sengaja

menghalangi/mempersulit penyidikan tindak pidana perpajakan g. Setiap orang yang dengan sengaja :

1) Menyebabkan tidak terpenuhinya kewajiban pejabat/pihak lain dalam pasal 35 A(1)

2) Tidak memberikan data/informasi yang diminta oleh Dirjen Pajak dalam pasal 35A ayat 2

3) Menyalahgunakan data dan informasi perpajakan sehingga menimbulkan kerugian kepada negara.

Dalam dokumen IMPLEMENTASI TAX AMNESTY,SUNSET POLICY, (Halaman 40-46)

Dokumen terkait