IMPLEMENTASI TAX AMNESTY,SUNSET POLICY, SISTEM ADMINISTRASI MODERN (BERBASIS ONLINE) DAN
SANKSI PAJAK TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK YANG TERDAFTAR PADA KANTOR
PELAYANAN PAJAK (KPP) PRATAMA PEMATANGSIANTAR
OLEH
NANDYA FEBRIANTY SINAGA 130503104
PROGRAM STUDI S1- AKUNTANSI DEPARTEMEN S1-AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2018
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS MEDAN
Telah diuji pada
Tanggal
PANITIA PENGUJI SKRIPSI
Ketua Penguji : Drs. Sucipto,MM., Ak
Penguji : Abdillah Arif Nasution,SE.,M.Si.,Ak Pembanding : Drs. Rustam, M.Si.,Ak
PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul “Implementasi Tax Amnesty,Sunset Policy,Sistem Administrasi Modern (Berbasis Online) Dan Sanksi Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Yang Terdaftar Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama (KPP) Pratama Pematangsiantar” adalah benar hasil karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna menyelesaikan beban akademik pada fakultas ekonomi dan bisnis universitas sumatera utara.
Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusahaan atau lembaga,dan atau saya kutip hasil karya orang lain telah mendapat izin,dan atau dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma,kaidah,dan etika penulisan ilmiah.
Apabila kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam skripsi ini,saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Medan, 29 November 2018 Yang membuat pernyataan
Nandya Febrianty Sinaga NIM : 130503104
ABSTRAK
IMPLEMENTASI TAX AMNESTY,SUNSET POLICY, SISTEM ADMINISTRASI MODERN (BERBASIS ONLINE) DAN SANKSI PAJAK TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK YANG TERDAFTAR PADA
KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA (KPP) PRATAMA PEMATANGSIANTAR
Ekonomi di Indonesia belum dapat mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur banyak pembangunan nasional yang masih kurang, bahkan fasilitas- fasilitas umum seperti jalan raya, puskesmas dan lembaga masyarakat lainnya yang perlu diperbaiki. Masyarakat seringkali mengeluh dan tidak puas akan kebijakan pemerintah dalam hal pembangunan nasional. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh ketidakpatuhan para wajib pajak yakni masyarakat itu sendiri dalam membayar pajak. Sehingga diperlukan kebijakan dari pemerintah untuk dapat meningkatkan kepatuhan wajib pajak serta menggerakkan masyarakat untuk sadar akan kewajibannya sebagai seorang warga negara dalam membayar pajak.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh tax amnesty,sunset policy,sistem administrasi modern (berbasis online) dan sanksi pajak secara simultan dan parsial terhadap kepatuhan wajib pajak. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang lokasi penelitiannya dilakukan pada Kota Pematang Siantar.Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada wajib pajak yang terdaftar pada KPP Pratama Pematang Siantar sebanyak 50 responden.
Untuk analisis data dilakukan dengan uji reliabilitas dan validitas,ujiasumsi klasik,analisis regresi linear berganda serta uji hipotesis yang diuji dengan menggunakan program aplikasi SPSS 21. Hasil dari penelitian ini adalah : 1) variabel tax amnesty,sunsetpolicy,sistem administrasi modern (berbasis online) dan sanksi pajak secara simultan berpengaruh positif secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak, 2) variabel tax amnesty dan variabel sistem administrasi modern (berbasis online) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Sedangkan pada variabel sunset policy dan sanksi pajak berpengaruh positif dan secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak.
Kata Kunci : Tax Amnesty,Sunset Policy,Administrasi Pajak Modern,Sanksi Pajak,Kepatuhan Wajib Pajak
ABSTRACT
IMPLEMENTATION OF TAX AMNESTY, SUNSET POLICY, MODERN ADMINISTRATION SYSTEM (ONLINE BASED) AND TAX SANCTIONS TO TAX REQUIREMENTS REGISTERED IN PRATAMA TAX SERVICE
OFFICE (KPP) PRATAMA PEMATANGSIANTAR
The economy in Indonesia has not been able to realize a just and prosperous society that lacks national development, even public facilities such as roads, health centers and other community institutions that need to be improved.
Communities often complain and are not satisfied with government policies in terms of national development. This condition is affected by the non-compliance of taxpayers, namely the community itself in paying taxes. So that a policy is needed from the government to be able to increase taxpayer compliance and mobilize the public to be aware of its obligations as a citizen in paying taxes.
The purpose of this research is to analyze the influence of tax amnesty, sunset policy, modern administration system (online based) and tax penalties simultaneously and partially on taxpayer compliance. This type of research is quantitative research where the location of the research was conducted in Pematang Siantar City. Data collection was carried out using questionnaires distributed to taxpayers who were registered in the Pematang Siantar KPP as many as 50 respondents.
For data analysis performed by reliability and validity test, classical assumption, multiple linear regression analysis and hypothesis testing tested using the SPSS 21 application program. The results of this study are: 1) variable tax amnesty, sunsetpolicy, modern administration system (online based) and tax penalties simultaneously have a significant positive effect on taxpayer compliance, 2) variables of tax amnesty and modern administrative system (online-based) variables do not significantly influence taxpayer compliance.
While the sunset policy variable and tax sanctions have a positive and significant impact on taxpayer compliance.
Keywords: Tax Amnesty, Sunset Policy, Modern Tax Administration, Tax Sanctions, Taxpayer Compliance
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nyalah sehingga saya dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul “Implementasi Tax Amnesty,Sunset Policy,Sistem Administrasi Modern (Berbasis Online) dan Sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak yang terdaftar pada KPP Pratama Pematangsiantar”, serta shalawat dan salam tidak lupa pula dipanjatkan kepada Nabi besar Muhammad SAW.
Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (S.E) pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Saya menyadari banyak kesalahan dan kekurangan dalam peneltian ini serta banyaknya keterbatasan peneliti dalam penulisan skripsi ini baik dari pengalaman,pengetahuan dan kemampuan yang saya miliki.
Selama penyusunan skripsi ini saya banyak menerima bimbingan, dukungan, nasihat dan bantuan lainnya secara moril dan materil dari berbagai pihak terutama kedua orang tua saya Bapak Kadlan Sinaga,SH dan Ibu Nani Damanik yang terus setiap saat tidak berhenti mendoakan saya dan mendukung saya dalam menyelesaikan skripsi ini. Kepada adik-adik saya Ihza Vania Sinaga dan Muhammad Daffa Sinaga yang juga memberikan semangat dan dukungan kepada saya. Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE., MS., selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, MAFIS., Ak., CPA selaku ketua Departemen/Program Studi S1 Akuntansi dan Bapak (Alm) Drs. Syahrul Rambe,MM., Ak selaku Ex-Sekretaris Departemen/Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara beserta staff.
3. Bapak Drs.Sucipto, MM., Ak selaku dosen pembimbing saya yang telah
banyak memberikan keluangan waktu,bimbingan,arahan,saran ,nasihat, motivasi,dan masukan yang membangun kepada saya.
4. Bapak Abdillah Arif Nasution, SE., M.Si., Ak selaku dosen penguji dan Bapak Drs.Rustam, M,Si,Ak selaku dosen pembanding yang telah banyak memberikan kritik,saran dan masukan yang membangun untuk skripsi saya.
5. Kepada seluruh sahabat-sahabat saya Hana Fauziyah, Lisni Agnes,Tasyah Arvila Wira Verina Br.Bangun, April, Zurriyah, Hanum, Muthia Digna, Karimah, Kak Juli, Kak Wina juga teman-teman saya di organisasi BP2M FEB USU dan KSEI FoSEI USU serta seluruh teman-teman dan juga keluarga saya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu yang juga telah banyak memberikan banyak bantuan,dukungan,semangat dan motivasi dari awal masa perkuliahan sampai saat ini. Serta teman-teman S1 Akuntansi angkatan 2013 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang juga telah banyak membantu selama ini.
Atas segala bantuan dan dukungannya selama ini yang diberikan kepada saya dari awal hingga akhir semoga Allah SWT selalu memberikan kelimpahan Rahmat dan Karunia-Nya untuk membalas semua kebaikan dari semua pihak yang telah mendukung dan membantu saya. Akhir kata saya ucapkan Terimakasih dan semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat.
Medan, September 2018
Nandya Febrianty Sinaga NIM : 130503104
DAFTAR ISI
HALAMAN
PERNYATAAN ... iv
ABSTRAK ... v
ABSTRACT ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Permasalahan ... 8
1.3 Tujuan dan manfaat ... 8
1.3.1 Tujuan Penelitian ... 8
1.3.2 Manfaat Penelitian ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 10
2.1 Landasan Teori ... 10
2.1.1 Teori Atribusi ... 10
2.1.2 Teori Pembelajaran Sosial ... 11
2.1.3 Teori Planned Behavior... 12
2.2 Pengertian Pajak ... 14
2.3 Wajib Pajak ... 15
2.4 Kepatuhan Wajib Pajak ... 16
2.5 Tax Amnesty ... 17
2.6 Sunset Policy ... 18
2.7 Sistem Administrasi Perpajakan Modern Berbasis Online ... 21
2.7.1 e-registration... 22
2.7.2 e-filling... . 22
2.7.3 e-payment... 23
2.7.4 e-faktur... . 23
2.7.5 e-NPWP... 24
2.8 Sanksi Pajak... .. 24
2.9 Penelitian Terdahulu... 30
2.10 Kerangka Konseptual... 32
2.11 Keterkaitan antar Variabel dengan Hipotesis ... 33
2.11.1 Pengampunan pajak (tax amnesty) kepada tingkat Kepatuhan Wajib Pajak ... 33 2.11.2 Sunset Policy kepada tingkat Kepatuhan Wajib Pajak . 34 2.11.3 Sistem Administrasi Perpajakan Modern
Berbasis Online kepada tingkat Kepatuhan Wajib
Pajak ... 34
2.11.4 Sanksi Pajak kepada tingkat Kepatuhan Wajib Pajak ... 35
2.11.5 Tax Amnesty,Sunset Policy, Sistem Administrasi Modern Berbasis Online dan Sanksi Pajak terhadap Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak ... 35
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 36
3.1 Ruang Lingkup Penelitian ... 36
3.2 Teknik Penentuan Sampel ... 35
3.3 Metode Pengambilan Data ... 37
3.4. Metode Analisis Data ... 38
3.4.1 Statistik Deskriptif ... 38
3.4.2 Uji Kualitas Data ... 38
3.4.2.1 Uji Validitas ... 38
3.4.2.2 Uji Reliabilitas ... 39
3.4.3 Regresi Linier Berganda ... 39
3.4.4 Uji Asumsi Klasik ... 40
3.4.4.1 Normalitas ... 40
3.4.4.2 Multikolinearitas ... 40
3.4.4.3 Heterokesdastisitas ... 40
3.4.5 Uji Hipotesis ... 41
3.4.5.1 Uji statistik t ... 41
3.4.5.2 Uji Koesfisien Determinan R2 ... 42
3.4.5.3 Uji Simultan statistik Uji-F ... 42
3.4.6 Operasional Variabel Penelitian ... 42
3.4.6.1 Variabel Independen ... 42
3.4.6.1.1 Tax Amnesty ... 42
3.4.6.1.2 Sunset Policy ... 43
3.4.6.1.3 Sistem Administrasi Modern (berbasis Online) ... 44
3.4.6.1.4 Sanksi Pajak ... 44
3.4.6.2 Variabel Dependen ... 45
3.4.6.2.1 Kepatuhan Wajib Pajak ... 45
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 47
4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian ... 47
4.1.1 Tempat Penelitian... 47
4.1.2 Data Responden ... 47
4.1.3 Hasil Penelitian dan Pembahasan... 49
4.1.3.1 Hasil Uji Statistik Deskriptif ... 49
4.1.3.2 Hasil Uji Kualitas Data ... 51
4.1.3.2.1 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Data ... 51
4.1.3.3 Hasil Uji Asumsi Klasik ... 54
4.1.3.3.1 Hasil Uji Normalitas ... 54
4.1.3.3.2 Hasil Uji Multikolinearitas ... 56
4.1.3.3.3 Hasil Uji Heterokesdastisitas ... 57
4.1.3.4 Hasil Uji Regresi Linear Berganda ... 58
4.1.3.5 Hasil Uji Hipotesis ... 58
4.1.3.5.1 Hasil Uji Koefisien Determinan ... 58
4.1.3.5.2 Hasil Uji Simultan Uji-F ... 59
4.1.3.5.3 Hasil Uji Statistik Parsial Uji-t ... 60
Bab V PENUTUP ... 62
5.1 Kesimpulan ... 62
5.2 Saran ... 63
DAFTAR PUSTAKA ... 65
LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 73
Daftar Tabel
Nomor Lampiran Judul Halaman
2.1 PenelitianTerdahulu ... 30
3.1 Operasional Variabel Penelitian ... 46
4.1 Data Distribusi Sampel Penelitian ... 47
4.2 Data Statistik Responden ... 48
4.3 Hasil Statistik Deskriptif ... 50
4.4 Hasil Uji Validitas Variabel Tax Amnesty ... 52
4.5 Hasil Uji Validitas Variabel Sunset Policy ... 52
4.6 Hasil Uji Validitas Variabel Sistem Administrasi Modern Berbasis Online ... 52
4.7 Hasil Uji Validitas Variabel Sanksi Pajak ... 53
4.8 Hasil Uji Validitas Variabel Kepatuhan Wajib Pajak ... 53
4.9 Hasil Uji Reliabilitas Variabel ... 54
4.10 Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov Test ... 54
4.11 Hasil Uji Multikolinearitas ... 56
4.12 Hasil Uji Heterokesdastisitas dengan Uji Glesjer ... 57
4.13 Hasil Uji Regresi Linear Berganda ... 58
4.14 Koefisien Determinasi ... 59
4.15 Hasil Uji Pengaruh Simultan dengan Uji-F ... 59
4.16 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Parsial Uji-t ... 60
Daftar Gambar
Nomor Gambar Judul Halaman 2.1 Kerangka Konseptual ... 32 4.1 Hasil Uji Normalitas Data ... 55 4.2 Scatter Plot Hasil Uji Normalitas Data ... 55
Daftar Lampiran
Nomor Lampiran Judul Halaman 1. Lampiran 1. ... 73 2. Lampiran 2. ... 77 3. Lampiran 3. ... 86
BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang
Ekonomi di Indonesia belum dapat mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur banyak pembangunan nasional yang masih kurang, bahkan fasilitas- fasilitas umum seperti jalan raya, puskesmas dan lembaga masyarakat lainnya yang perlu diperbaiki. Masyarakat seringkali mengeluh dan tidak puas akan kebijakan pemerintah dalam hal pembangunan nasional. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh ketidakpatuhan para wajib pajak yakni masyarakat itu sendiri dalam membayar pajak. Pajak juga merupakan penghasilan negara yang nantinya akan dikembalikan kepada masyarakat berupa fasilitas-fasilitas umum. Namun banyak masyarakat yang tidak tahu akan hal tersebut. Masyarakat perlu mengetahui peranan pengetahuan pajak dengan benar. Hal ini sangatlah penting demi kemajuan pajak di Indonesia.
Kesadaran wajib pajak dalam membayar pajak tepat waktu akan mempengaruhi tinggi rendahnya terhadap kepatuhan wajib pajak. Permasahalan yang sering terjadi berkaitan dengan pungutan pajak ini yakni masih banyaknya masyarakat yang tidak mau memenuhi kewajiban pajaknya, atau dengan kata lain masih banyaknya tunggakan pajak. Tingkat kepatuhan wajib pajak untuk menunaikan kewajiban pembayaran pajaknya di Indonesia masih cukup rendah.
Sebelum memahami lebih jauh mengenai ketidakpatuhan pajak di Indonesia, ada baiknya terdapat suatu pemahaman awal mengenai situasi perpajakan di Indonesia saat ini. Pemerintah telah memasang target penerimaan pajak dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2017 sebesar Rp.1.307,6 Triliun. Realisasi penerimaan pajak tahun 2017 diharapkan dapat lebih tinggi dari tahun sebelumnya jika didukung dengan kondisi ekonomi yang bagus dan meningkatnya kepatuhan wajib pajak.
Hingga akhir Mei 2017, realisasi penerimaan pajak baru Rp.398,7 Triliun atau masih belum mencapai seperuh dari target APBN 2017. Secara total,
penerimaan perpajakan (pajak dan bea cukai) pada akhir Mei mencapai Rp.463,5 Triliun atau 30,9% dari target dalam APBN 2017 sebesar Rp.1.489,9 Triliun. Ada komponen bea cukai yang menyumbang penerimaan sebesar Rp.45,7 Triliun.
Pada tahun 2016 realisasi pendapatan negara dari penerimaan perpajakan hanya Rp.1283,6 Triliun, 83,4% dari target APBN-P 2016 yang mencapai Rp.1.539,2 Triliun.
Rendahnya penerimaan pajak menyebabkan rasio pajak terhadap produk domestik bruto (PDB) atau tax ratio Indonesia hanya mencapai 10,3% dan merupakan rasio terendah di dunia yang rata-rata 15%. Pemerintah menargetkan tax ratio sebesar 10,9% pada tahun ini. Kepatuhan dan kesadaran masyarakat membayar pajak diperlukan untuk mendongkrak penerimaan negara yang berasal dari pajak. Potensi penerimaan pajak juga masih bisa digalli dari wajib pajak yang belum mengungkapkan hartanya di luar negeri. Berdasarkan studi McKinsey, terdapat US$250 Miliar atau Rp.3250 Triliun harta warga negara Indonesia (WNI) di luar negeri. Dari angka tersebut, Rp.2600 Triliun yang disimpan di Singapura.
Wajib pajak masih bisa menyembunyikan hartanya di luar negeri lantaran belum diterapkannya pertukaran data informasi secara otomatis atau Automatic Exchange of Information (AEoI). AEoI yang mulai berlaku tahun 2018 adalah standar global baru yang berguna untuk mengurangi peluang penghindaran pajak.
Sistem kerja AEoI adalah pertukaran data keuangan warga negara asing yang tinggal di sebuah negara.
Pertukaran data keuangan tersebut dilakukan antar otoritas pajak yang berwenang di setiap negara. Pemerintah pun telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2017. Melalui Perppu ini,otoritas pajak diberi wewenang mengakses data keuangan nasabah yang selama ini terbentur tembok besar pasal kerahasiaan perbankan di dalam UU Perbankan. Aparat pajak pun bisa mendapatkan data dari Negara yang menjadi tempat favorit menyembunyikan harta WNI setelah pemberlakuan AEoI.
Untuk itu,perlu diterapkan langkah khusus dan terobosan kebijakan untuk mendorong pengalihan harta kedalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sekaligus memberikan jaminan keamanan bagi warga negara Indonesia yang ingin mengalihkan dan mengungkapkan harta yang dimilikinya dalam bentuk tax amnesty. Terobosan kebijakan berupa tax amnesty atas pengalihan harta ini juga didorong oleh semakin kecilnya kemungkinan untuk menyembunyikan kekayaan di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia karena semakin transparannya sektor keuangan global dan meningkatnya intensitas pertukaran informasi antar negara.
Tax amnesty (pengampunan pajak) dalam Undang-Undang No.11 tahun 2016 adalah penghapusan pajak yang seharusnya terutang,tidak dikenai sanksi administrasi perpajakan dan sanksi pidana di bidang perpajakan dengan cara mengungkap harta dan membayar uang tebusan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No.11 Tahun 2016. Sementara yang dimaksud dengan harta yaitu akumulasi tambahan kemampuan ekonomis berupa seluruh kekayaan,baik berwujud maupun tidak berwujud,baik bergerak maupun tidak bergerak,baik yang digunakan untuk usaha maupun bukan untuk usaha,yang berada di dalam/ diluar wilayah NKRI. Sementara uang tebusan yang dibayarkan ke kas negara untuk mendapatkan pengampunan pajak.
Pengampunan yang diberikan mencakup dua aspek,yaitu pengampunan terhadap pokok pajak yaitu berupa pemberian keringanan tarif pajak yang jauh lebih rendah dari tarif umum atas pajak yang tidak atau kurang bayar sebelumnya dan pembebasan wajib pajak dari tuntutan pidana pajak.
Berdasarkan penelitian Enste & Schneider (2000) bahwa besarnya persentase kegiatan ekonomi bawah tanah (underground economy), di negara maju dapat mencapai 14-16% dari Produk Domestik Bruto (PDB), sedangkan di negara berkembang dapat mencapai 35-44% dari PDB. Kegiatan ekonomi bawah tanah ini tidak pernah dilaporkan sebagai penghasilan dalam formulir surat
pemberitahuan tahunan (SPT) pajak penghasilan sehingga masuk dalam kriteria penyelundupan pajak.
Penyelundupan pajak mengakibatkan beban pajak yang harus dipikul oleh para wajib pajak yang jujur membayar pajak menjadi lebih berat dan hal ini mengakibatkan ketidakadilan yang tinggi. Peningkatan kegiatan ekonomi bawah tanah yang dibarengi dengan penyelundupan pajak ini sangat merugikan negara karena berarti hilangnya penerimaan pajak yang sangat dibutuhkan untuk membiayai program-program peningkatan kesejahteraan masyarakat. Oleh sebab itu timbul pemikiran untuk mengenakan kembali pajak yang belum dibayar dari kegiatan ekonomi bawah tanah tersebut melalui program tax amnesty.
Pemerintah Indonesia telah dua kali melaksanakan tax amnesty yaitu melalui Penetapan Presiden Nomor 5 tahun 1964 serta keputusan presiden nomor 26 tahun 1984. Kedua program tax amnesty tersebut dinilai gagal karena tidak didukung dengan sistem administrasi dan basis data perpajakan yang baik serta penegakan hukum yang tegas pasca tax amnesty. Dan pada tahun 2016 tax amnesty kembali di laksanakan yang disinyalir terdapat dana masyarakat Indonesia yang terparkir di luar negeri.
Dalam jangka pendek, tax amnesty akan dapat meningkatkan penerimaan pajak pada tahun diterimanya uang tebusan yang berguna bagi negara untuk membiayai berbagai program yang telah direncanakan. Dalam jangka panjang, negara akan mendapatkan penerimaan pajak dari tambahan aktivitas ekonomi yang berasal dari harta yang telah dialihkan dan diinvenstasikan di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari aspek yuridis, pengaturan kebijakan pengampunan pajak (tax amnesty) melalui Undang-Undang tentang pengampunan pajak sesuai dengan ketentuan pasal 23A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 karena berkaitan dengan penghapusan pajak yang seharusnya terutang,sanksi administrasi perpajakan, dan sanksi pidana di bidang perpajakan.
Undang-Undang Nomor 11 tahun 2016 menjembatani agar harta yang diperoleh dari aktivitas yang tidak dilaporkan dapat diungkapkan secara sukarela sehingga data dan informasi atas harta tersebut masuk ke dalam sistem administrasi perpajakan dan dapat dimanfaatkan untuk pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dimasa yang akan datang.
Tax amnesty seyogyanya diikuti dengan kebijakan lain seperti penegakan hukum yang lebih tegas dan penyempurnaan undang-undang tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan,undang-undang tentang pajak penghasilan,undang-undang tentang pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah,seta kebijakan strategis lain di bidang perpajakan dan perbankan.
Sunset Policy menurut Sutanto dalam jurnalnya yang bejudul “Analisis Kepatuhan Wajib Pajak Sebelum Dan Sesudah Pelaksanaan Sunset Policy Pada Kpp Pratama Di Lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Timur II”
merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menanggulangi rendahnya minat masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan dan merupakan bagian dari program intensifikasi dan ekstensifikasi pajak, yaitu dengan program penghapusan sanksi administrasi Pajak Penghasilan sebagai bentuk pemberian fasilitas perpajakan yang diatur berdasarkan Pasal 37A UU Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
Pada dasarnya sunset policy bertujuan untuk membantu pemerintah dalam hal penerimaan pajak agar terus meningkat dan mendorong wajib pajak agar lebih jujur, patuh,dan konsisten dalam meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak di masa yang akan datang dan sukarela dalam melaksanakan kewajiban pajaknya.
Peraturan perundangan yang mengatur sunset policy ini hanya berlaku dalam periode waktu tertentu, yaitu pada tahun 2008, setelah itu peraturan tersebut tidak berlaku lagi. Jika Wajib Pajak patuh mengikuti program sunset policy, yaitu dengan memperbaiki Surat Pemberitahuan (SPT) secara benar atau mendaftarkan diri secara sukarela sebagai wajib pajak dan memperoleh NPWP, maka mereka akan memperoleh banyak keuntungan, karena di samping tidak dikenakannya
sanksi administrasi berupa bunga atas pajak yang tidak atau kurang dibayar, terhadap mereka juga tidak akan dilakukan pemeriksaan pajak, selain itu juga mereka akan memperoleh kemudahan-kemudahan dalam pengurusan pajak lainnya yang kesemuanya itu didasarkan pada landasan hukum yang kuat, yaitu berupa Pasal 37A UU Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Oleh karena itu tujuan sunset policy itu sendiri yaitu terciptanya kepatuhan wajib pajak dalam memenuhi kewajiban pajaknya.
Sunset policy yang diterapkan pertama kali ini dinilai sukses karena berhasil memperoleh tambahan penerimaan pajak dalam tahun 2008 sebesar Rp.7,46 trilyun. Tercatat bahwa hanya dalam tahun 2008 inilah Direktorat Jenderal Pajak melampaui target penerimaan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.
Sunset policy jilid II diberlakukan mulai tanggal 1 Mei 2015 hingga akhir 31 Desember 2015. Bagi wajib pajak orang pribadi dan badan,baik yang telah maupun yang belum menyampaikan SPT Tahunan PPh maupun SPT Masa PPN,akan diberikan penghapusan sanksi administrasi perundang-undangan yang berlaku jika ditemukan wajib pajak tidak melaporkan penghasilan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
Untuk memberikan pelayanan yang maksimal guna meningkatkan pelaksanaan perpajakan,Ditjen Pajak mengeluarkan penyediaan fasilitas secara online guna memudahkan wajib pajak untuk melakukan pendaftaran,pembayaran dan pelaporan dimana saja dia berada selama terhubung dengan koneksi internet.
Demikian juga soal waktu penyampaian kewajiban pajak. Penyampaian kewajiban perpajakan melalui kantor pajak terikat pada jam kerja kantor pajak. Namun melalui layanan online, kewajiban perpajakan dapat disampaikan kapan saja selama tidak melampaui batas waktu jatuh tempo pemenuhan kewajiban pajaknya.
Sistem administrasi perpajakan modern (Sofyan,2005:53) adalah penerapan sistem administrasi perpajakan yang mengalami penyempurnaan atau perbaikan kinerjanya ,baik secara individu,kelompok, maupun kelembagaan agar
lebih efisien, ekonomis, dan cepat yang merupakan pewujudan dari program dan kegiatan reformasi administrasi perpajakan jangka menengah yang menjadi prioritas reformasi perpajakan yang digulirkan oleh Direktorat Jenderal Pajak sejak tahun 2001. Produk administrasi online yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pajak antara lain, e-filling,e-faktur,e-registration,e-payment,e- NPWP.
Kendati demikian pun masih didapati banyaknya wajib pajak yang mangkir dalam melaporkan hartanya,membayar dan melunasi utang pajaknya sehingga wajib pajak tidak luput dari sanksi pajak yang dikenakan dari Ditjen Pajak kepada wajib pajak tersebut. sanksi perpajakan terdiri dari sanksi administrasi dan sanksi pidana kepada wajib pajak tergantung dimana letak kesalahannya.
Sanksi pajak adalah pagar pembatas yang nyata bagi pelaksanaan suatu peraturan yang bermaterikan hak dan kewajiban. Sanksi merupakan wujud dari pelanggaran atas hak suatu pihak atau tidak dipenuhinya kewajiban yang telah ditentukan (Purwono,2010:68). Sanksi administrasi terdiri dari sanksi administrasi berupa denda dan sanksi administrasi berupa bunga dan sanksi administrasi berupa kenaikan. Dan sanksi pidana berupa sanksi pidana kurungan, dan sanksi pidana penjara.
Untuk mengetahui gambaran lebih jelas mengenai apakah dengan diberlakukannya kebijakan pengampunan pajak, sunset policy, layanan administrasi perpajakan secara online dan pengenaan sanksi pajak dapat membantu meningkatkan penerimaan pajak dari masyarakat dan masyarakat dapat untuk ikut serta dalam mengikuti kebijakan pajak yang diberlakukan. Dan berdasarkan penelitian terdahulu yang diteliti oleh Ngadiman dan Daniel Huslin, dengan judul penelitian Pengaruh Sunset Policy, Tax Amnesty dan Sanksi Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Dengan Studi Empiris Di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Kembangan dengan hasil sunset policy berpengaruh negatif
dan tidak signifikan,sedangkan tax amnesty dan sanksi pajak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak.
Berdasarkan uraian diatas, penulis bermaksud untuk membuat sebuah tulisan dari hasil penelitian yang dilakukan dan membandingkan dengan penelitian terdahulu dalam bentuk skripsi dengan judul: “Implementasi Tax Amnesty,Sunset Policy,Sistem Administrasi Modern (Berbasis Online) Dan Sanksi Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pematangsiantar”.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah dilaksanakannya Tax amnesty (pengampunan pajak) berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak ?
2. Apakah dilaksanakannya Sunset Policy berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak ?
3. Apakah Sistem Administrasi Perpajakan Modern (berbasis online) berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak ?
4. Apakah dilaksanakannya Sanksi Pajak berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak ?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui apakah penerapan Tax amnesty akan berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pematangsiantar;
2. Untuk mengetahaui apakah penerapan Sunset Policy akan berpengaruh terhadap terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pematangsiantar;
3. Untuk mengetahui apakah penerapan sistem administrasi perpajakan modern (berbasis online) akan berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pematangsiantar;
4. Untuk mengetahui apakah penerapan sanksi pajak yang diberlakukan akan berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pematangsiantar.
1.3.2 Manfaat penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan :
1. Manfaat teoritis
Secara teoritis, penelitian ini dapat memberikan sumbangan pikiran dan dapat bermanfaat dalam bidang ilmu perpajakan khususnya di Indonesia.
2. Manfaat praktis
a. Bagi ilmu perpajakan, dapat memberikan informasi dalam pengembangan teori perpajakan dan melihat apakah setiap peraturan yang diterapkan dapat meningkatkan kepatuhan wajib pajak;
b. Bagi peneliti, dapat memberikan acuan untuk penelitian yang selanjutnya;
c. Bagi fakultas, dapat memberikan referensi dan sumbangan pikiran dalam bidang ilmu perpajakan;
d. Bagi mahasiswa, diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu sumber referensi dalam bidang ilmu perpajakan.
Bab II Tinjauan Pustaka 2.1 Landasan Teori
2.1.1 Teori Atribusi
Kepatuhan wajib pajak terkait dengan sikap wajib pajak dalam membuat penilaian terhadap pajak itu sendiri. Persepsi seseorang untuk membuat penilaian mengenai orang lain sangat dipengaruhi oleh kondisi internal maupun eksternal orang tersebut. Teori atribusi sangat relevan untuk menerangkan maksud tersebut di atas. Pada dasarnya, dalam Robbins (2013:168), “Teori atribusi menyatakan bahwa bila individu-individu mengamati perilaku seseorang, mereka mencoba untuk menentukan apakah itu ditimbulkan secara internal atau eksternal”.
Perilaku yang disebabkan secara internal adalah perilaku yang diyakini berada di bawah kendali pribadi individu itu sendiri, sedangkan perilaku yang disebabkan secara eksternal adalah perilaku yang dipengaruhi dari luar, artinya individu akan terpaksa berperilaku karena situasi.
Penentuan internal atau eksternal menurut Robbins (1996) tergantung pada tiga faktor yaitu:
1. Kekhususan (kesendirian atau distinctiveness) 2. Konsensus
3. Konsistensi
Kekhususan artinya seseorang akan mempersepsikan perilaku individu lain secara berbeda dalam situasi yang berlainan. Apabila perilaku seseorang dianggap suatu hal yang luar biasa, maka individu lain yang bertindak sebagai pengamat akan memberikan atribusi eksternal terhadap perilaku tersebut.
Sebaliknya jika hal itu dianggap hal yang biasa, maka akan dinilai sebagai atribusi eksternal.
Konsensus artinya jika semua orang mempunyai kesamaan pandangan dalam merespon perilaku seseorang dalam situasi yang sama. Apabila konsensusnya tinggi, maka termasuk atribusi internal. Sebaliknya jika
konsensusnya rendah, maka termasuk atribusi eksternal. Faktor terakhir adalah konsistensi, yaitu jika seorang menilai perilaku-perilaku orang lain dengan respon sama dari waktu ke waktu. Semakin konsisten perilaku itu, orang akan menghubungkan hal tersebut dengan sebab-sebab internal.
Teori atribusi mengelompokkan dua hal yang dapat memutarbalikkan arti dari atribusi. Pertama, kekeliruan atribusi mendasar yaitu kecenderungan untuk meremehkan pengaruh faktor-faktor eksternal daripada internalnya. Kedua, prasangka layanan dari seseorang cenderung menghubungkan kesuksesannya karena akibat faktor-faktor internal, sedangkan kegagalan dihubungkan dengan faktor-faktor eksternal. Penelitian di bidang perpajakan yang menggunakan dasar teori atribusi salah satunya adalah penelitian Jatmiko (2006).
Jatmiko (2006) melakukan penelitian mengenai pengaruh sikap wajib pajak pada pelaksanaan sanksi denda, pelayanan fiskus dan kesadaran perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis regresi berganda. Variabel bebas yang digunakan adalah sikap WP terhadap pelaksanaan sanksi denda, sikap WP terhadap pelayanan fiskus, sikap WP terhadap kesadaran perpajakan, sedangkan variabel terikat yang digunakan adalah kepatuhan WP. Hasil penelitian Jatmiko (2006) adalah semua variabel bebas yang digunakan yaitu sikap WP terhadap pelaksanaan sanksi denda, sikap WP terhadap pelayanan fiskus, sikap WP terhadap kesadaran perpajakan secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepatuhan WP.
2.1.2 Teori Pembelajaran Sosial
Teori pembelajaran sosial mengatakan bahwa seseorang dapat belajar lewat pengamatan dan pengalaman langsung (Bandura (1977) yang dikutip Laila, (2015:25). Teori ini merupakan perluasan (ekspansi) berdasarkan teori pengkondisian operan dari Skinner (1971) yaitu teori yang mangandaikan perilaku sebagai suatu fungsi dari konsekuensinya.
Menurut Bandura (1977) dalam Laila (2015), proses dalam pembelajaran sosial meliputi:
1. proses perhatian (attentional) 2. proses penahanan (retention) 3. proses reproduksi motorik
4. proses penguatan (reinforcement)
Proses perhatian yaitu orang hanya akan belajar dari sesorang atau model, jika mereka telah mengenal dan menaruh perhatian pada orang atau model tersebut. Proses penahanan adalah proses mengingat tindakan suatu model setelah model tidak lagi mudah tersedia. Proses reproduksi motorik adalah proses mengubah pengamatan menjadi perbuatan. Sedangkan proses penguatan adalah proses yang mana individu-individu disediakan rangsangan positif atau ganjaran supaya berperilaku sesuai dengan model.
Teori pembelajaran sosial ini relevan untuk menjelaskan perilaku wajib pajak dalam memenuhi kewajibannya membayar pajak. Seseorang akan taat membayar pajak tepat pada waktunya, jika lewat pengamatan dan pengalaman langsungnya, hasil pungutan pajak itu telah memberikan kontribusi nyata pada pembangunan di wilayahnya. Contoh penelitian yang menggunakan basis teori pembelajaran sosial ini adalah penelitian Dewinta (2012).
Dewinta (2012) melakukan penelitian mengenai pengaruh persepsi pelaksanaan sensus pajak nasional dan kesadaran perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak di lingkungan kantor wilayah Direktorat Jenderal Pajak Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan teknik analisis regresi berganda. Variabel bebas yang digunakan adalah persepsi pelaksanaan konsensus pajak nasional dan kesadaran perpajakan. Variabel terikat yang digunakan adalah kepatuhan pajak. Hasil penelitian Dewinta (2012) adalah persepsi pelaksanaan sensus pajak nasional dan kesadaran perpajakan secara simultan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kepatuhan pajak.
2.1.3 Teori Planned Behavior
Theory of planned behavior (TPB) merupakan teori pengembangan dari Icek Ajzen dan Fishbein 1980, Fishbein dan Ajzen 1975. Dalam jurnal Icek Ajzen (1991:181), teori ini merupakan pengembangan lanjutan dari theory of reasoned
action (TRA). Perbedaan Theory of planned behaviour (TPB) dengan Theory of reasoned action (TRA) adalah ditambahkannya variabel kontrol keperilakuan yang dipersepsikan (perceived behavioral control). Theory of planned behaviour secara tidak langsung menunjukkan kemungkinan bahwa tidak semua perilaku dilakukan secara penuh dibawah kendali individu atau kelompok, maka kontrol perilaku yang dipersepsikan ditambahkan untuk mengatasi perilaku-perilaku tersebut. Kontrol perilaku yang dipersepsikan menunjukkan seberapa kuat hal-hal yang lain dapat mendukung atau menghambat perilaku individu. Teori ini lebih menekankan pada pengaruh yang mungkin timbul akibat kontrol perilaku yang dipersepsikan dalam pencapaian tujuan perilakunya.
Theory of planned behavior (TPB) menunjukkan bahwa perilaku manusia diproksikan dari tiga jenis kepercayaan-kepercayaan berikut ini:
1. Kepercayaan-kepercayaan perilaku (behavioral beliefs) merupakan keyakinan individu terjadinya perilaku dan evaluasi atas hasil tersebut (beliefs strength and outcome evaluation). Hal ini disebut dengan sikap (attitude).
2. Kepercayaan-kepercayaan normatif (normative beliefs) merupakan keyakinan akan timbulnya harapan normatif akibat pengaruh orang lain dan motivasi untuk memenuhi harapan tersebut (normatif beliefs and motivation to comply). Hal ini disebut sebagai norma-norma subyektif.
3. Kepercayaan-kepercayaan kontrol (control beliefs) merupakan keyakinan akan keberadaan faktor-faktor yang akan mendukung atau merintangi perilaku. Di dalam teori yang sebelumnya yaitu TRA hal tersebut belum ada oleh karena itu, pada teori yang selanjutnya yaitu TPB ditambahkan perceived behavioral control.
Secara keseluruhan, behavioral beliefs dapat menciptakan sikap untuk berperilaku positif atau negatif, normatif beliefs dapat menciptakan tekanan sosial yang dipersepsikan (perceived social pressure) dan control beliefs dapat menciptakan kontrol keperilakuan yang dipersepsikan. Secara simultan, sikap
dalam berperilaku, norma subyektif, dan kontrol keperilakuan yang dipersepsikan dapat menciptakan niat berperilaku yang dapat mempengaruhi perilaku individu (behavior).
2.1.4 Pengertian Pajak
Sejarah pemungutan pajak mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan negara baik dibidang negara maupun dibidang sosial ekonomi. Pada mulanya pajak hanya merupakan pemberian sukarela oleh rakyat kepada raja dalam memelihara kepentingan negara, yang kemudia berkembang menjadi upeti yang bersifat paksaan dengan segala sanksinya.
Dengan kata lain pemberian yang semula bersifat sukarela tersebut berubah menajdi pemberian yang ditetapkan oleh Negara dan adanya paksaan.
Adanya unsur paksaan dalam pemungutan pajak tersebut tercermin dari definisi atau pengertian pajak itu sendiri,seperti yang dinyatakan oleh beberapa ahli berikut :
Pandiangan, Liberti (2014 : 4) :
Pajak adalah pembayaran atau pengalihan sebagian penghasilan atau harta kekayaan yang dimiliki oleh masyarakat kepada negara yang dapat dipaksakan bedasarkan undang-undang,sebagai bentuk keikutsertaan dan partisipasi masyarakat dalam negara,namun pembayarnya tidak mendapatkan suatu balas jasa secara langsung , yang digunakan untuk membiayai tugas negara demi meningkatkan kualitas dan kesejahteraan masyarakat.
Dari definisi tersebut,dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki unsur- unsur :
1. Iuran dari rakyat kepada Negara.
Yang berhak memungut pajak hanyalah Negara. Iuran tersebut berupa uang (bukan barang).
2. Berdasarkan undang-undang.
Pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan undang-undang serta aturan pelaksanaannya.
3. Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi dari negara yang secara langsung dapat ditunjuk. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi individual oleh pemerintah.
4. Digunakan untuk membiayai rumah tangga Negara, yakni pengeluaran-pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
5. Dapat dipaksakan,artinya bahwa bila hutang pajak tidak dibayar, hutang itu dapat ditagih dengan menggunakan kekerasan seperti surat paksa,sita maupun juga penyanderaan.
2.1.5 Wajib Pajak
Menurut ketentuan pasal 1 angka 1 UU KUP,wajib pajak adalah orang pribadi atau badan yang meliputi pembayar pajak,pemotong pajak, dan pemungut pajak yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan undang- undang perpajakan. Dalam UU Perpajakan Indonesia terkait dengan pajak subjektif,yaitu berkaitan dengan siapa subjek pajaknya.
Pasal 2 ayat (1) UU PPh menyebutkan bahwa subjek pajak adalah : 1. Orang pribadi
Sebagai subjek pajak,orang pribadi dapat bertempat tinggal atau berada di Indonesia atau pun di luar Indonesia. Dalam hal waris, warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan merupakan subjek pajak pengganti,yaitu menggantikan ahli waris. Penunjukan warisan yang belum terbagi sebagai subjek pajak pengganti dimaksudkan agar pengenaan pajak atas penghasilan yang berasal dari warisan tersebut agar dapat dilaksanakan.
2. Badan
Badan merupakan sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan, baik yang melakukan usaha maupun tidak. Badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah merupakan subjek pajak tanpa memperhatikan nama dan bentuknya. Dengan begitu, setiap unit tertentu dari badan pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan untuk memperoleh penghasilan subjek pajak.
3. Bendahara sebagai pemotong/pemungut pajak.
Bendahara adalah pejabat yang dalam satuan kerja di instansi pemerintah atau lembaga negara yang ditunjuk pimpinannya dengan Surat Keputusan untuk melaksanakan tugas kebendaharaan. Tugasnya antara lain menghitung pajak, memotong atau memungut pajak, serta menyetornya ke kas negara atau sebagian melalui Kantor Pelayanaan Perbendaharaan Negara (KPPN) bagi instansi pemerintah pusat atau lembaga negara,kemudian melaporkan pajak tersebut.
2.2 Kepatuhan Wajib Pajak
Wajib pajak yang patuh adalah wajib pajak yang taat dan mematuhi serta melaksanakan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan (Ngadiman dan Husin,2015:228). Selain itu terdapat beberapa pengertian kepatuhan dalam bidang perpajakan menurut ahli,yaitu menurut Nurmantu (2010:148) yang dikutip oleh Ngadiman dan Husin (2015:228) dijelaskan bahwa terdapat dua macam kepatuhan pajak,yaitu :
1. Kepatuhan Formal.
Kepatuhan Formal adalah suatu keadaan dimana wajib pajak memenuhi kewajiban perpajakan secara formal sesuai dengan ketentuan dalam Undang- Undang Perpajakan. Dalam hal ini meliputi :
a. Wajib pajak membayar pajak dengan tepat waktu;
b. Wajib pajak membayar pajak dengan tepat jumlah;
c. Wajib pajak tidak memiliki tanggungan Pajak Bumi dan Bangunan.
2. Kepatuhan Material.
Kepatuhan Material adalah dimana suatu keadaan dimana wajib pajak secara substansi/hakekat memenuhi semua ketentuan perpajakan,yakni sesuai dengan isi dan jiwa Undang-Undang Perpajakan.
Pengertian kepatuhan material dalam hal ini adalah :
a. Wajib pajak bersedia melaporkan informasi tentang pajak apabila petugas membutuhkan informasi.
b. Wajib pajak bersikap kooperatif (tidak menyusahkan)petugas pajak dalam pelaksanaan proses administrasi. Wajib pajak berkeyakinan bahwa melaksanakan kewajiban perpajakan merupakan tindakan sebagai warga negara yang baik.
Rahayu (2009) yang dikutip dari Ngadiman dan Husin (2015:229) tentang kepatuhan perpajakan ialah:
“Kepatuhan perpajakan dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana wajib pajak memenuhi semua kewajiban perpajakn dan melaksanakan hak perpajakannya.”
2.3.Tax Amnesty (Pengampunan Pajak)
Tax Amnesty (Pengampunan Pajak) adalah penghapusan pajak yang seharusnya terutang tidak dikenai sanksi administrasi perpajakan dan sanksi pidana di bidang perpajakan,dengan cara mengungkap harta dan membayar uang tebusan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pengampunan Pajak.
Sementara yang dimaksud dengan harta yaitu akumulasi tambahan kemampuan ekonomis berupa seluruh kekayaan,baik berwujud maupun tidak berwujud,baik bergerak maupun tidak bergerak,baik yang digunakan untuk usaha maupun bukan untuk usaha,yang berada didalam dan/atau diluar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara itu, pengertian uang tebusan adalah sejumlah uang yang dibayarkan ke kas negara untuk mendapatkan pengampunan pajak.
Tax Amnesty yang diberikan mencakup dua aspek,yaitu pengampunan terhadap pokok pajak yaitu berupa pemberian keringanan tarif pajak yang jauh lebih rendah dari tarif umum atas pajak yang tidak/kurang dibayar sebelumnya dan pembebasan wajib pajak dari tuntutan pidana pajak. Dari berbagai literatur, Tax Amnesty merupakan strategi jangka pendek yang efektif untuk mengejar penerimaan pajak dalam rangka menutup defisit anggaran (shortfall). Dengan Tax Amnesty trasnsaksi ekonomi bawah tanah (underground economy) yang selama ini tidak terjangkau aparat pajak akan masuk dalam sistem perpajakn sehingga menambah basis perpajakan yang pada akhirnya meningkatkan penerimaan pajak
pasca Tax Amnesty. Beberapa negara tercatat berhasil menghimpun penerimaan pajak melalui Tax Amnesty seperti India, Italia, dan Afrika Selatan. Keberhasilan negar-negara tersebut utamanya dengan masuknya dana-dana masyarakat wajib pajak dalam jumlah sangat besar yang selama ini diparkirkan di luar negeri dan selama ini tidak pernah dapat dipajaki.
Tax Amnesty diberlakukan dua kali di Indonesia pada tahun 1964 melalui Penentapan Presiden Nomor 5 Tahun 1964 serta Keputusan Presiden No.26 Tahun 1984 tentang Pengampunan Pajak. Akan tetapi, tidak lama kemudian dilakukan perubahan terhadap keputusan presiden tersebut berdasarkan Keputusan Presiden No.72 Tahun 1984 tentang Perubahan Keputusan Presiden No.26 Tahun 1984 tentang Pengampunan Pajak. Perubahan ditunjukkan pada jangka waktu pengampunan pajak dari selambat-lambatnya 31 Desember 1984 menjadi selambat-lambatnya 1985. Kedua program Tax Amnesty tersebut dinilai gagal karena tidak didukung dengan sistem administrasi dan basis data perpajakan yang baik serta penegakan hukum (law-enforcement) yang tegas pasca Tax Amnesty.
a. Sunset Policy
Istilah Sunset Policy digunakan untuk menggambarkan kebijakan pemerintah yang pernah diterapkan di Indonesia yaitu pemberian penghapusan sanksi administrasi berupa bunga atas keterlambatan pelunasan kekurangan pembayaran pajak sebagaimana diatur dalam Pasal 37A Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP). Pemberian penghapusan sanksi bunga atas pajak yang tidak atau kurang dibayar berlaku bagi:
a. Wajib pajak orang pribadi dan badan yang telah mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan melakukan pembetulan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan (SPT Tahunan PPh) sebelum tahun pajak 2007 yang mengakibatkan pajak yang masih harus dibayar menjadi lebih besar.
b. Wajib pajak orang pribadi yang belum mempunyai NPWP tetapi secara sukarela mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP.
Ketentuan pelaksanaan pasal 37A UU KUP tersebut kemudian dituangkan dalam Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri Keuangan serta Peraturan Direktut Jenderal Pajak. Masa berlaku kebijakan pemberian penghapusan sanksi bunga tersebut dibatasi yaitu paling lambat tanggal 29 Februari 2009 bagi wajib pajak orang pribadi dan badn yang telah mempunyai NPWP dan tanggal 31 Maret 2009 bagi wajib pajak orang pribadi yang belum mempunyai NPWP.
Selanjutnya dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE 34 /PJ/2008 tanggal 31 Juli 2008 Tentang Penegasan Pelaksanaan Pasal 37A UU No.28 Tahun 2008 Tentang Penegasan Pelaksanaan Pasal 37A Undang-Undang Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan beserta ketentuan pelaksanaannya. Pelaksanaan Sunset Policy diberikan penegasan sebagai berikut :
1. Konsep dasar Undang-Undang Perpajakan yang mengatur tentang Sunset Policy adalah sistem self assessment. Dalam sistem self assessment, wajib pajak diberi kepercayaan untuk menghitung,memperhitungkan,menyetor,dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Sebagai konsekuensi pemberian kepercayaan tersebut, wajib pajak wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan berikut keterangan dan/atau dokumen yang harus dilampirkan,yang telah diisi secara benar,lengkap dan jelas.
2. Sunset Policy memberi kesempatan kepada :
a. Membetulkan SPT Tahunan PPh untuk Tahun Pajak 2006 dan/atau Tahun Pajak sebelumnya.
b. Wajib pajak orang pribadi yang memperoleh NPWP secara sukarela dalam tahun 2008 untuk menyampaikan SPT tahunan PPh untuk Tahun Pajak 2007 atau Tahun Pajak 2007 dan sebelumnya,untuk memperoleh fasilitas
berupa penghapusan sanksi administrasi berupa bunga atas keterlamabatan pembayaran pajak atau bunga atas pajak yang tidak atau kurang dibayar.
3. Ketentuan Sunset Policy berdasarkan Pasal 37A Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan bersifat khusus dan hanya berlaku untuk jangka waktu terbatas sehingga beberapa ketentuan umum yang diatur dalam Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan tidak berlaku.
Ketentuan umum yang tidak berlaku sehubungan dengan Sunset Policy seperti ketentuan yang terkait dengan :
a. Pembatasan jangka waktu pembetulan SPT tahunan PPh paling lama dua tahun sejak berakhirnya Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak.
b. Persyaratan belum dilakukan pemeriksaan,sebagaimana diatur dalam pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
4. Dalam pelaksanaan Sunset Policy,wajib pajak diberikan kepercayaan untuk mengungkapkan seluruh penghasilan termasuk harta dan kewajiban dalam SPT Tahunan PPh wajib pajak badan atau wajib pajak orang pribadi. Data dan/atau informasi yang telah diungkapkan dalam SPT Tahunan PPh wajib pajak badan atau wajib pajak orang pribadi yang telah disampaikan atau dibetulkan oelh wajib pajak sehubungan dengan pelaksanaan Sunset Policy tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan pemeriksaan.
Sunset Policy telah diberlakukan pada tahun 2008. Sejak program Sunset Policy diimplementasikan sepanjang tahun 2008 telah berhasil menambah jumlah NPWP baru,bertambahnya SPT tahunan dan bertambahnya penerimaan PPh sebesar Rp.7,64 triliun.
Pada tahun 2015 tepatnya dibulan Mei,pemerintah menerapkan kebijakan yang dikenal dengan Sunset Policy Jilid II untuk menyempurnakan kebijakan Sunset Policy sebelumnya,dimana perbedaannya adalah sebagai berikut:
1. Landasan hukum kewenangan penghapusan sanksi administrasi berupa bunga pada Sunset Policy Jilid I adalah pasal 37A UU KUP.
Sedangkan pada Sunset Policy Jilid II penghapusan sanksi administrasi menggunakan kewenangan Direktur Jenderal Pajak yang terdapat dalam Pasal 36 ayat (1) huruf a UU KUP.
2. Pemberian penghapusan sanksi administrasi pada Sunset Policy Jilid I dilakukan dengan KPP tidak menerbitkan SPT,sedangkan pada Sunset Policy Jilid II ini nantinya SPT atas sanksi administrasi akan tetap diterbitkan lalu akan dihapuskan setelah KPP menerima permohonan penghapusan dari wajib pajak.
3. Pada Sunset Policy Jilid I penyampaian atau pembentulan SPT mengandalkan pada kesukarelaan wajib pajak,sedangkan dalam Sunset Policy Jilid II selain bersifat voluntary,ada juga yang bersifat keharusan (mandatory).
Kebijakan ini dinamakan Sunset Policy Jilid II yang disebut-sebut sebagai Reinventing Policy. Bagi wajib pajak orang pribadi dan badan yang telah maupun yang belum menyampaikan SPT Tahunan PPh Badan,SPT Tahunan PPh orang pribadi, SPT masa PPh maupun SPT masa PPN,akan diberikan penghapusan sanksi administrasi atas keterlambatan penyampaian SPT,pembetulan SPT dan keterlambatan penyetoran atau pembayaran pajak apabila dalam 2015,wajib pajak menyampaikan atau melakukan pembetulan SPT untuk lima tahun belakang.
2.5 Sistem Administrasi Perpajakan Modern Berbasis Online Pengelolaan pelayanan dalam pemenuhan kewajiban perpajakan menjadi tanggung jawab Direktorat Jenderal Pajak yang merupakan otoritas perpajakan di Indonesia. Untuk itu,pelayanan yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Pajak harus dapat memberikan kemudahan bagi wajib pajak dalam melakukan pembayaran dan pelaporan pajak. Pada saat ini, proses pemenuhan kewajiban perpajakan sudah dapat menggunakan sistem daring (dalam jaringan) atau online.
Sehingga membuat wajib pajak lebih mudah dalam mendaftar,membayar,dan melaporkan pajaknya.
Sistem pelayanan yang dibuat secara online dibangun untuk meningkatkan pelayanan kepada wajib pajak. Dengan tingkat penetrasi internet yang sudah semakin tinggi dan terus meningkat di Indonesia diharapkan para wajib pajak dapat memanfaatkan fasilitas tersebut,sehingga dapat menghemat waktu dan biaya. Menghemat waktu karena tidak perlu lagi hadir secara fisik ke kantor pajak dan menghemat biaya karena tidak memerlukan biaya transportasi serta pencetakan formulir SPT. Dengan sistem pelayanan yang dibuat secara online dapat mengurangi beban administrasi di kantor pajak. Dengan telah disampaikan secara online,petugas pajak tidak perlu lagi melakukan input ulang data perpajakan yang ada dalam SPT.
Sistem administrasi pelayanan online yang dibuat oleh Direktorat Jenderal Pajak adalah sebagai berikut :
2.5.1 e-registration
e-Registration atau sistem pendaftaran wajib pajak secara online adalah sistem aplikasi bagian dari sistem informasi perpajakan di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak dengan berbasis perangkat keras dan perangkat lunak yang dihubungkan oleh perangkat komunikasi data yang digunakan untuk mengelola proses pendaftaran wajib pajak.
Sistem ini terbagi dua bagian, yaitu sistem yang dipergunakan oleh wajib pajak yang berfungsi sebagai sarana pendaftaran wajib pajak secara online dan sistem yang dipergunakan oleh petugas pajak yang berfungsi untuk memproses pendaftaran wajib pajak.
2.5.2 e-filling
e-Filing adalah suatu cara penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) secara elektronik yang dilakukan secara online dan real time melalui internet
pada website Direktorat Jenderal Pajak atau Penyedia Layanan SPT Elektronik atau Application Service Provider (ASP).
Bagi wajib pajak yang hendak menyampaikan laporan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi dengan menggunakan Formulir 1770S dan 1770SS dapat mengisi dan menyampaikan laporan SPT-nya secara langsung pada aplikasi e-Filing di DJP Online.
2.5.3 e-Payment
e-Payment adalah sistem pembayaran pajak yang dilakukan WP secara elektronik yang terhubung dengan tempat pembayaran pajak. Hingga saat ini penerapan e-Payment masih terbatas yaitu hanya untuk pembayaran PBB dan PPh pasal 4 ayat (2) Final sehubungan dengan pelaksanaan PP No.46/2013 melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Untuk mendukung pelaksanaan e-Payment ke depan, DJP telah menyiapkan Billing System (e-Billing). Billing System atau sistem pembayaran pajak secara elektronik adalah serangkaian proses yang meliputi kegiatan pendaftaran peserta Billing,pembuatan kode Billing,pembayaan berdasarkan kode Billing,dan rekonsiliasi Billing dalam sistem Modul Penerimaan Negara. WP yan akan melakukan pembayaran pajak melalui Billing System harus membuat kode Billing melalui pengisian data setoran pajak secara elektronik. WP melakukan pembayaran pada bank/pos persepsi dengan menggunakan kode Billing yang berlaku dalam waktu 48 jam sejak diterbitkan. Bila melewati jangka waktu dimaksud, secara otomatis terhapus dari sistem dan tidak dapat digunakan lagi. Dalam hal Kode Billing tidak dapat digunakan,WP dapat membuat kembali Kode Billing.
2.5.4 e-faktur
Faktur Pajak berbentuk elektronik, yang selanjutnya disebut e-faktur, adalah faktur pajak yang dibuat melalui aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Pemberlakuan e- faktur dimaksudkan untuk memberikan kemudahan, kenyamanan, dan keamanan bagi Pengusaha Kena Pajak (PKP) dalam melaksanakan kewajiban perpajakan
khususnya pembuatan Faktur Pajak. PKP yang diwajibkan membuat faktur pajak berbentuk elektronik ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak. PKP yang telah wajib e-faktur namun tidak menggunakannya, secara hukum dianggap tidak membuat faktur pajak sehingga akan dikenakan sanksi pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
2.5.5 e-NPWP
e-NPWP atau disebut aplikasi pendaftaran NPWP merupakan aplikasi untuk mendaftarkan NPWP secara massal bagi karyawan.
2.6 Sanksi Pajak
Sanksi adalah pagar pembatas yang nyata bagi pelaksanaan suatu peraturan yang bermaterikan hak dan kewajiban. Sanksi merupakan wujud dari pelanggaran atas hak suatu pihak atau tidak dipenuhinya kewajiban yang telah ditentukan.
Suatu peraturan dapat dikatakan ideal dalam segi keadilan bagi masing- masing pihak jika ancaman sanksi yang ada mengikat seluruh pihak yang berkepentingan. UU KUP juga telah menetapkan beragam sanksi yang mengikat tidak hanya kepada wajib pajak atau penanggung pajak, tetapi juga mengikat aparat pajak (fiskus) dan pihak ketiga yang terlibat semisal kuasa,pejabat selain pejabat pajak, dan sebagainya. Berdasarkan jenisnya, sanksi di bidang perpajakan dapat dikelompokkan menjadi dua kategori,yaitu :
1. Sanksi Administrasi
Sanksi administrasi merupakan pembayaran kerugian terhadap negara yang bisa berupa denda administrasi,bunga atau kenaikan pajak yang terutang.
Sanksi administrasi ditekankan kepada pelanggaran-pelanggaran administrasi perpajakan yang tidak mengarah kepada tindak pidana perpajakan.
Sanksi administrasi berupa bunga dikenakan karena :
a. Terlambat menyetorkan/membayar pajak yang melampaui waktu yang telah ditentukan. (Pasal 9 dan 14 UU KUP)
b. Kekurangan pembayaran pajak akibat pembetulan sendiri dalam jangka waktu 2 tahun setelah penyampaian SPT (Pasal 8 ayat (1) UU KUP)
c. Berdasarkan pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang terutang tidak atau kurang bayar (Pasal 13 ayat (1) dan (2) UU KUP)
d. Pajak yang terutang menurut SKPKB (Surat Keterangan Pajak Kurang Bayar),SKPKBT (Surat Keterangan Pajak Kurang Bayar Tambah) dan tambahan jumlah pajak yang harus dibayar berdasarkan SK pembetulan,SK keberatan, atau Putusan banding pada saat jatuh tempo pembayaran tidak atau kurang dibayar (Pasal 19 ayat (1) UU KUP)
e. Wajib pajak diperbolehkan mengangsur atau menunda pembayaran pajak (Pasal 19 ayat (2) UU KUP)
f. Kekurangan pembayaran akibat permohonan perpanjangan jangka waktu (penundaan) penyampaian SPT Tahunan PPh (pasal 19 ayat (3) UU KUP)
g. Wajib pajak dipidana karena melakukan tindak pidana perpajakan setelah lewat waktu 10 tahun (Pasal 13 ayat (5) dan pasal 15 ayat (4) UU KUP)
Sanksi administrasi berupa kenaikan dikenakan dalam hal :
1) SPT tidak disampaikan pada waktunya walaupun telah ditegur secara tertulis dan tidak juga disampaikan dalam jangka waktu yang ditentukan dalam surat teguran. Ditjen Pajak dapat menerbitkan SKPKB dengan sanksi kenaikan sebesar 50% dari pajak yang tidak atau kurang dibayar dalam satu tahun pajak untuk PPh yang harus disetor sendiri dan 100% untuk PPh pemotongan dan pemungutan serta PPN (pasal 13 ayat 3 UU KUP)
2) Wajib pajak tidak menggunakan pembukuan sebagaimana mestinya dengan sanksi kenaikan 50% dari pajak yang seharusnya dibayar untuk
PPh yang harus disetor sendiri dan sebesar 100% untuk PPh pemotongan dan pemungutan serta PPN (Pasal 13 ayat 3 UU KUP)
3) Wajib pajak yang berkewajiban melakukan pemungutan atau pemotongan PPh Pasal 21/23/26 atau PPN namun tidak melakukan pemotongan, melakukan pemotongan namun kurang, tidak menyetorkan pemotongan yang telah dilakukan maka akan dikenakan sanksi kenaikan 100% dalam hal wajib pajak tidak menyampaikan SPT dalam jangka waktu yang ditentukan dalam surat teguran (Pasal 13 ayat 3 UU KUP)
4) Berdasarkan hasil pemeriksaan PPN/PPnBM tidak seharusnya dikompensasikan kelebihan pajaknya atau tidak seharunya dikenakan tarif 0%
dikenakan sanksi 100% (Pasal 13 ayat 3 UU KUP)
5) Jika wajib pajak mengungkapkan ketidakbenaran SPT dengan kemauan sendiri dalam laporan tersendiri melebihi batas waktu 2 tahun dan belum diterbitkan surat ketetapan pajak, wajib pajak harus melunasi pajak yang kurang bayar disertai dengan sanksi berupa kenaikan 50% dari pajak yang kurang dibayar (Pasal 8 ayat 4 dan 5 UU KUP)
6) Berdasarkan hasil pemeriksaan dikeluarkan SKPKB keputusan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak.
Sanksi administrasi berupa denda pasal 7 UU KUP dikenakan :
a) Sebesar Rp.100.000,00 bagi wajib pajak yang tidak atau terlambat menyampaikan SPT Masa kecuali PPN
b) Sebesar Rp.50.000,00 bagi wajib pajak yang tidak atau terlambat menyampaikan SPT PPN
c) Sebesar Rp.100.000,00 bagi wajib pajak yang tidak atau terlambat menyampaikan SPT tahunan pajak penghasilan orang pribadi
d) Sebesar Rp.1000.000,00 bagi wajib pajak yang tidak atau terlambat menyampaikan SPT tahunan pajak penghasilan badan.
e) Denda sebesar 2% dari dasar pengenaan pajak jika :
1) Pengusaha tidak melapokan kegiatan usaha untuk dikukuhkan sebagai PKP
2) PKP tetapi tidak membuat faktur pajak
3) PKP membuat faktur pajak tetapi tidak lengkap 4) PKP membuat faktur pajak tetapi tidak tepat waktu
f) Denda 2 kali jumlah pajak yang kurang bayar dalam hal wajib pajak sebelum dilakukan tindakan penyidikan mengungkapkan ketidakbenaran perbuatannya
g) Denda 4 kali jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar,atau yang tidak seharusnya dikembalikan dalam hal terjadi penghentian penyidikan tindak pidana dibidang perpajakan atas permintaan menteri keuangan untuk kepentingan negara.
2. Sanksi pidana dapat diterapkan dalam hal : a. Setiap orang yang karena kealfaannya : 1) Tidak menyampaikan SPT
2) Menyampaikan SPT tetapi isinya tidak benar/tidak lengkap/melampirkan keterangan yang isinya tidak benar/sehingga menimbulkan kerugian pada pendapatan negar dan perbuatan tersebut merupakan perulangan (bukan untuk pertama kali)
b. Setiap orang yang dengan sengaja:
1) Tidak mendaftarkan diri/melaporkan kegiatan usaha
2) Menyalahgunakan/menggunakan tanpa hak NPWP atau pengukuhan Pengusaha Kena Pajak
3) Tidak menyampaikan SPT
4) Menyampaikan SPT dan keterangan yang isinya tidak benar/tidak lengkap
5) Menolak dilakukan pemeriksaan
6) Memperlihatkan pembukuan/pencatatan/dokumen lain yang palsu/dipalsukan/tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya
7) Tidak menyelenggarakan pembukuan/pencatatan di Indonesia,tidak memperlihatkan /tidak meminjamkan buku/catatan/dokumen lain
8) Tidak menyimpan buku/catatan/dokumen yang menjadi dasar pembukuan/pencatatan/dokumen lain sebagaimana diatur dalam pasal 28 ayat (11) : Buku, catatan, dan dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau secara program aplikasi on-line wajib disimpan selama 10 (sepuluh) tahun di Indonesia, yaitu di tempat kegiatan atau tempat tinggal Wajib Pajak orang pribadi, atau di tempat kedudukan Wajib Pajak badan.
9) Tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara.
c. Seseorang melakukan tindak pidana di bidang perpajakan pasa 39 ayat 1 sebelum lewat 1 tahun,terhitung sejak selesai menjalani pidana penjara yang dijatuhkan
d. Setiap orang yang melakukan percobaan untuk melakukan tindak pidan pada angka (2) huruf b dan d dalam rangka mengajukan permohonan restitusi/kompensasi atau pengkreditan pajak
e. Setiap orang yang dengan sengaja :
1) Menerbitkan dan menggunakan faktur pajak,bukti pemungutan/pemotongan pajak, dan bukti setoran pajak yang tidak berdasarkan transaksi yang sebenarnya
2) Menerbitkan faktur pajak tetapi belum dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak
f. Setiap orang yang dengan sengaja
menghalangi/mempersulit penyidikan tindak pidana perpajakan g. Setiap orang yang dengan sengaja :
1) Menyebabkan tidak terpenuhinya kewajiban pejabat/pihak lain dalam pasal 35 A(1)
2) Tidak memberikan data/informasi yang diminta oleh Dirjen Pajak dalam pasal 35A ayat 2
3) Menyalahgunakan data dan informasi perpajakan sehingga menimbulkan kerugian kepada negara.