• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sanksi Pelanggaran Hukum Humaniter Internasional

HUMANITER INTERNASIONAL

C. Sanksi Pelanggaran Hukum Humaniter Internasional

Hukum humaniter merupakan bagian dari hukum internasional.Salah satu kelemahan yang cukup mencolok dari hukum internasional adalah bahwa seolah-olah tidak ada sanksi. Seorang ahli mengatakan International law is a system without sanctions.††††††††††††††

International law is a body a law characteristic of an underdeveloped community. Lacking a central legislative body and a central power which is able to enforce the law. This lack of enforcement power is one of the characteristics of the law of nations, showing clearly its underdeveloped character. Another feature of its underdevelopment is the absence of a central court which can decide upon conflicts concerning the interpretation of the law.‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡

Mengenai kelemahan ini, Roling mengatakan sebagai berikut.

††††††††††††††

J.G.Starke, 1977:30

‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡

Membahas soal sanksi ini, para ahli menggunaan pendekatan atau sistematik yang berbeda-beda. Lauterpacht misalnya dalam membahas sarana-sarana yang dapat dipakai untuk menjamin berlangsungnya suatu legitimate warfare membagi sarana

tersebut dalam tiga kelompok, yaitu§§§§§§§§§§§§§§

a. Measures of self-help, seperti reprisal, penghukuman prajurit yang melaksanakan kejahatan perang, penyanderaan

:

b. Protes (complaints) yang disampaikan kepada musuh, atau kepada negara

netral, jasa-jasa baik, mediasi dari negara netral

c. Kompensasi

Tentara Amerika Serikat menyatakan sebagai berikut

In the event of violation for the law of war, the injured party may legally resort to remedial action of the following type***************

a. Publication of the facts (influencing public opinion) : b. Protest and demand for compensation

c. Solicitation of the good offices, mediator intervention of neutral states d. Punishment of captured offenders

e. Reprisals

Uraian yang lebih mendalamnya adalah†††††††††††††††

1. Protes (Complaints)

:

Tidak jarang terjadi bahwa para kombat pasukan yang saling berhadapan saling mengajukan protes karena menganggap pihak lawan melakukan suatu pelanggaran. Protes semacam itu dapat disampaikan dengan perantaraan apa yang lazim disebut pada artikel 32-33-34 sudah diatur segala sesuatunya yang berhubungan dengan parlementer itu.

§§§§§§§§§§§§§§ Lauterpacht, 1955: 577-578 *************** Field Manual, 1956: 176 ††††††††††††††† Haryomataram, op cit, hlm 98

Apabila terjadi pelanggaran yang cukup berat, pihak yang dirugikan dapat mengajukan protes melalui suatu negara netral dengan maksud :

a. Agar negara netral tersebut dapat memberikan jasa-jasa baiknya atau dapat

melakukan mediasi

b. Sekedar menyampaikan fakta atau pelanggaran untuk diketahui

c. Untuk mempengaruhi pendapat umum

Protes atau complaints ini juga disampaikan kepada protecting prosedure (negara pelindung). Artikel 11 Konvensi Jenewa I diatur cara untuk melakukan konsiliasi.

Konvensi Jenewa I artikel 52 diatur enquiry procedure, yang mengatur cara yang harus ditempuh apabila terjadi pelanggaran terhadap konvensi.

2. Penyanderaan (Hostages)‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡

Penyanderaan merupakan suatu upaya untuk menjamin berlangsungnya suatu legitimate warfaresering dilakukan masa lampau. Konvensi Jenewa 1949, semua bentuk penyanderaan dilarang. Artikel 3 ayat (1) dari Konvensi I berbunyi sebagai berikut

Tindakan-tindakan berikut dilarang dan tetap akan dilarang untuk dilakukan terhadap orang-orang tersebut di atas pada waktu dan di tempat apapun juga (a) tindakan kekerasan atas jiwa dan raga, terutama setiap macam pembunuhan,

pengudungan (multilation), pemberlakuan kejam dan penganiayaan, (b)

penyanderaan dan seterusnya.

‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡

Artikel 34 Konvensi Jenewa IV (Perlindungan orang sipil di waktu perang) dinyatakan bahwa penangkapan orang untuk dijadikan sandera dilarang. Artikel 147 Konvensi yang sama juga terdapat larangan untuk melakukan panyanderaan. Artikel tersebut menyatakan penyanderaan termasuk salah satu pelanggaran berat (grave breanch).Haque Regulation belum menyebut

mengenai hostages, hanya saja dalam artikel 50 dinyatakan bahwa seseorang

tidak dapat dijatuhi hukuman karena suatu perbuatan yang tidak dilakukan olehnya.

3. Pembayaran Kompensasi§§§§§§§§§§§§§§§

Ketentuan mengenai kompensasi ini dapat ditemukan dalam Haque Regulation IV 1907, artikel 3 yang berbunyi sebagai berikut

A belligrent which violets the provision of the said regulation shall, of the case demands, be liable to pay compensation. It shall be responsible for all acts committed by persons forming part of its Armed Force.

Artikel 3 ini mencakup dua macam ketentuan, yaitu :

a. Bahwa pihak berperang yang melanggar Haque Regulations harus

membayar kompensasi

b. Bahwa pihak berperang bertanggungjawab atas semua perbuatan yang

dilakukan oleh anggota-anggota angkatan bersenjatanya.

Selain Haque Regulations ini konvensi yang menyatakan mengenai

pembayaran kompensasi juga termuat dalam Haque Rules of Air Warfare tahun 1923. Bab tentang Bombardment, dalam artikel 24 (5) dinyatakan :

§§§§§§§§§§§§§§§

A belligerent state is liable ti pay compensation for injuries to person or to property caused by the violations by any of its. Officers or forces or the provisions of this article.

Air Warfare Rules ini dirumuskan oleh satu Commission of Jurist tahun 1923, tetapi Rules ini tidak pernah diratifikasi.

4. Reprisal****************

Reprisal dikemukakan dengan dua batasan. Pertama, batasan yang terdapat dalam F.M dan yang lain dari Lauterpacht.

Menurut F.M, yang dimaksud dengan reprisal adalah sebagai berikut

Acts of retaliation in the form of conduct which would otherwise be unlawful, resorted to by one belligerent against enemy personel or property for acts of warfare committed by the other belligerent in violation of the law of war, for the purpose of enforcing future complaince with the recognized rules if civilized warfare††††††††††††††††

Reprisals (in time of war) occur when one belligerent retaliates upon another, by mean of otherwise illegitimate acts of warfare, in order to compel him and his subjects and members of his forces to abandon illegitimate acts of warfare and to comply in future with the rules of legitimate warfare‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡

Lauterpacht menyatakan bahwa yang dimaksud dengan reprisal ialah

Kesimpulan dari batasan diatas adalah reprisal merupakan tindakan yang bertentangan dengan hukum dan tindakan tersebut dilakukan dengan maksud **************** Haryomataram, Ibid, hlm 101 †††††††††††††††† Field Manual, 1956:177 ‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡ Lauterpacht, 1955:561

agar pihak yang melanggar hukum perang menghentikan perbuatannya dan juga untuk memaksa ia agar dikemudian hari menaati hukum tersebut.

Mengenai reprisal perlu diketahui beberapa ketentuan berikut ini

a. Reprisal hanya boleh dilakukan apabila sarana-sarana lain sudah tidak ada lagi

b. Reprisal tidak pernah dilancarkan hanya sebagai pembalasan saja. Reprisal hanya dilakukan sebagai unavoidable last resort untuk mencegah lawan melakukan lagi tindakan yang bertentangan dengan hukum perang

c. Reprisal yang dilakukan tidak perlu sama dengan tindakan yang dilakukan oleh lawan dan dianggap bertentangan dengan hukum

d. Reprisal tidak boleh berlebihan atau melebihi kekerasan yang dilakukan oleh lawan

e. Reprisal harus diperintahkan oleh seorang komandan yang diberi wewenang untuk itu

f. Reprisal against, dilarang

Artikel 13 Konvensi Jenenwa III dinyatakan bahwa tindakan reprisal terhadap tawanan perang dilarang. Menurut artikel 46 Konvensi Jenewa I, reprisal dilarang dilakukan terhadap yang luka, sakit pegawai

Artikel 47 Konvensi Jenewa II melarang reprisal terhadap yang luka, sakit dan korban karam.Artikel 33 Konvensi Jenewa IV ditentukan bahwa tindakan pembalasan terhadap orang-orang yang dilindungi dan harta miliknya dilarang. Protokol I tahun 1977, ada beberapa ketentuan mengenai reprisal, yaitu artikel 51 paragraf 6 yangberbunyi “attack against the civilian population of civilians

by way of reprisals are prohibited” juga pada artikel 52 paragraf 1 menentukan sebagai berikut :“civilian objects shall not be the object of attack or of reprisals”. Selain kedua artikel tersebut larangan untuk melakukan reprisal juga terdapat dalam artikel 20, 53 (c), 54 paragraf 4, 55 paragraf 2 dan 56 paragraf 4.

5. Penghukuman Pelanggar yang Tertangkap§§§§§§§§§§§§§§§§

Mengenai hal ini di ketentuannya diatur dalam Pasal 49 Konvensi Jenewa I yang berbunyi sebagai berikut

a. Pihak peserta agung berjanji untuk menetapkan undang-undang yang

diperlukan untuk memberi sanksi pidana efektif terhadap orang-orang yang melakukan atau memerintahkan melakukan salah satu diantara pelanggaran berat atas konvensi ini.

b. Tiap pihak peserta agung berkewajiban mencari orang-orang yang disangka

telah melakukan atau memerintahkan untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran berat yang dimaksudkan, dan harus mengadili orang-orang demikian dengan tidak memandang kebangsaaannya

Pihak peserta agung juga jika dikehendaki dan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan sendiri, menyerahkan kepada pihak peserta agung lain yang berkepentingan, orang-orang demikian untuk diadili, asal saja pihak peerta agumg itu dapat menunjukan suatu perkara prima facie

c. Tiap pihak peserta agung harus mengambil tindakan-tindakan yang peru

untuk memberantas selain pelanggaran berat yang ditentukan dalam pasal

§§§§§§§§§§§§§§§§

berikut, segala perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan-ketentuan konvensi ini.

Dalam segala keadaan, orang yang dituduh harus mendapat jaminan-jaminan peradilan dan pembelaan yang wajar, yang tidak boleh kurang mengntungkan dari jaminan-jaminan yang diberikan oleh Konvensi Jenewa mengenai Perlakuan Tawanan Perang tertanggal 12 Agustus 1949, dalam pasal 105 dan seterusnya.

Artikel ini meletakkan landasan bagi suatu sistem yang dimaksudkan untuk dapat menekan (suppress) pelanggaran terhadap konvensi.

Sistem ini berlandaskan tiga kewajiban (obligations) fundamental yaitu :

a. Kewajiban untuk menerbitkan peraturan yang berhubungan dengan

persoalan ini

b. Kewajiban untuk mencari seorang yang dituduh melakukan pelanggaran

c. Kewajiban untuk mengadili orang tersebut

Dengan ini maka sebenarnya pengaturan mengenai sanksi bagi pelanggar hukum internasional maupun hukum humaniter terkhusus sanksi bagi pelaku penggunaan UAV/drone/pesawat tanpa awak dalam perang tidak ada pengaturannya.Hal ini dikarenakan pada ketentuan Konvensi Jenewa dan Konvensi Den Haaq tidak mengatur secara jelas dan terperinci mengenai sanksi yang dapat dijatuhkan pada pelaku pelanggaran hukum humaniter pelaku penggunaan UAV/drone/pesawat tanpa awak dalam perang.Secara teknologi, pada saat pembuatan Konvensi Jenewa 1949 dan Konvensi Den Haaq 1988 dan1907 penggunaan drone dalam perang belum semarak sekarang ini.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

1. Pengaturan mengenai larangan penggunaan senjata tertentu telah diatur dalam

beberapa konvensi internasional. Hal tersebut termuat dalam beberapa perjanjian utama dari Konvensi Jenewa yang mengatur tentang penggunaan maupun pelarangan penggunaan peralatan atau alat perang tertentu dalam suatu konflik dan pengadopsiannya antara lain Deklarasi St. Petersburg 1868 (pelarangan penggunaan proyektil jenis tertentu pada waktu perang), Protokol Jenewa 1925 tentang pelarangan penggunaan gas pencekik, beracun ataupun jenis gas lainnya dan juga cara berperang biologis yang menggunakan bakteri untuk kepentingan perang, Konvensi 1972 konvensi tentang pelarangan pengembangan, pembuatan dan penimbunan senjata biologis atau bakteriologis dan beracun, dan tentang pemusnahannya, Konvensi 1980 tentang larangan atau pembatasan penggunaan senjata konvensional tertentu yang dianggap dapat mengakibatkan luka yang berlebihan atau dapat memberikan efek tidak pandang bulu (Konvensi Senjata Konvensional/Certain Conventional Weapons Conventionl (CCW). Selain itu juga dalam Konvensi Senjata Kimia 1993 tentang larangan dan pembatasan pengembangan, pembuatan, penimbunan dan penggunaan senjata kimia dan tentang pemusnahannya, Protokol 1995 yang berkaitan dengan Senjata laser yang dapat menyebabkan kebutaan permanen (Protoko IIV [baru] untuk Konvensi 1980), Protokol 1996 revisi tentang larangan atau pembatasan penggunaan ranjau

darat, booby trap dan alat lainnya (Protokol II [telah direvisi] untuk Konvensi 1980), Konvensi tentang larangan penggunaan, penyimpanan, serta pembuatan

dan pengiriman (transfer) ranjau anti personil dan tentang pemusnahannya,

Amandemen 2001 terhadap Pasal I dari Konvensi Senjata Konvensional (CCW), dan juga Konvensi Dublin 2009, Tentang Larangan Pengunaan Bom Cluster/Bom Curah. Perjanjian Biological and Toxin Weapon Convention (BTWC) dan juga Haque Declaration concerning Asphyxiating Gases, Chemical Weapons Convention, serta ICC Statute.

2. Legalitas penggunaan pesawat tanpa awak (drone) dalam perang sebenarnya

menurut hukum humaniter internasional tidak ada pengaturan secara spesifik baik secara tertulis dilarang ataupun dianggap sebagai alat yang menimbulkan tidak pandang bulu. Pesawat ini tidak ada bedanya dengan senjata yang diluncurkan dari pesawat berawak. Penggunaan pesawat ini bukanlah tidak sah namun apabila dilihat dari apa yang terjadi bahwa penggunaan pesawat tanpa awak ini banyak mengakibatkan korban berjatuhan yang tidak termasuk kombatan dan menimbulkan penderitaan yang berlebihan tidak perlu tetapi sejatinya harus tunduk pada hukum humaniter. Pasal 2 ayat (4) Piagam PBB ada larangan secara tegas untuk tidak menggunakan atau bahkan ancaman penggunaan kekerasan yang mana melanggar integritas teritorial dan kebebasan politik dari suatu negara. Secara tidak langsung PBB tidak menghendaki adanya penggunaan kekeuatan bersenjata yang melanggar integritas dan kebebasan politik dari suatu negara.

3. Kelemahan dari hukum internasional maupun hukum humaniter badalah tidak adanya sanksi yang tegas. Sanksi bagi pelanggaran hukum humaniter internasional terlebih pada pelaku penggunaan drone/UAV tidak ada pengaturannya. Hal ini dikarenakan pula tidak ada peraturan yang khusus mengenai penggunaan pesawat tanpa awak ini. Konvensi Jenewa dan Konvensi Den Haaq tidak mengatur ketentuan drone ini karena secara teknologi pada saat pembuatan konvensi ini penggunaan drone dalam perang pada waktu itu tidak semarak dan sesering sekarang ini.

terbukti melakukan pelanggaran hukum humaniter internasional. B. Saran

1. Adanya pengaturan mengenai penggunaan senjata/alat yang diperbolehkan maupun dilarang oleh hukum humaniter diharapkan dihormati dan dijalankan oleh negara-negara yang berperang sehingga tidak menyebabkan banyak penderitaan yang berlebihan dan tidak perlu.

2. Legalitas penggunaan drone masih belum ada kata sah bagi penggunaannya, karenanya untuk itu sebaiknya dibuat peraturan internasional mengenai sah atau tidaknya penggunaan UAV/drone ini dalam perang sehingga adanya kepastian hukum.

3. Seharusnya ada sanksi yang tegas terhadap setiap pelanggaran hukum

humaniter, hal ini supaya ada efek jera yang dirasakan oleh pelaku sehingga tidak mengulangi kesalahan yang sama. Terkhusus bagi pelaku penggunaan drone dalam perang ini karena bila dilihat banyak sekali pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dari efek penggunaan drone dalam perang ini

Daftar Singkatan

UAV : Unmmaned Aerial Vehicle UCAV : Unmmaned Combat Air Vehicle USAF : United State Air Force

DAFTAR PUSTAKA