BAB V PENUTUP
B. Saran
Berdasarakan Penelitian yang dilakukan, beberapa saran yang penulis berikan adalah:
1. Perhitungan Protitabilitas Pembiayaan Mikro menggunakan Economic Value Added (EVA) sangat bergantung pada tingkat Modal dan Tingkat Hutang yang dikeluarkan bank untuk Produk Pembiayaan Mikro. Namun dalam Struktur Laporan Keuangan Pembiayaan Mikro tidak ada nilai modal dan hutang yang tepat. Maka, peneliti sarankan untuk menentukan nilai Modal dan hutang yang tepat untuk Pembiayaan Mikro agar leih mudah dalam Pengukuran lainnya. 2. Seluruh Prosedur yang telah ditetapkan oleh PT. Bank BRISyariah agar
dilakukan dengan tepat dan menyeluruh agar resiko pembiayaan dapat dikurangi.
3. PT. Bank BRI Syariah agar melakukan Ekspansi Pembiayaan kepada sektor lain selain usaha produktif harian seperti Pedagang Makanan dan Pakaian agar penyaluran Pembiayaan dapat dirasakan oleh seluruh sektor mikro.
DAFTAR PUSTAKA BUKU
A, Wangsawidjaya, Z, Pembiayaan Bank Syariah, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2012
Adiwarman A. Karim, Bank Islam Analisi Fiqh dan Keuangan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001
Charles, W Lamb, Jr., dkk, Pemasaran, Jakarta: Salemba Empat, Edisi Ke-1 Jilid I, 2001
Don. R Hansen dan Maryanne M. Mowen, Manajemen Biaya Akuntansi dan Pengendalia Buku 2, Jakarta: PT Salemba Empat patria, 200
Edward J. Blocher, Kung H. chen &Thomas W. lin, Manajemen Biaya dengan tekanan stratejik, Jilid 2, Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 2001
Hansen, Don R dan Maryanne M. Mowen, Manajemen Biaya: Akuntansi dan Pengendalian Buku 2, Jakarta: PT Salemba Empat Patria, 2001
Husein, Umar. Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, Edisi Kedua, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009
Ikatan Bankir Indonesia, Memahami Bank Syariah, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2014
Iqbal Hasan, Analisis Data Penelitian dengan Statistik, Jakata:Bumi Aksara, 2006 Ismail, Manajemen Perbankan dari Teori menuju Aplikasi, Jakarta: Kencana Prenada
Media Grup, 2010
Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan lainnya, edisi keenam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada 2012
Moeloeng, Lexy J,Metode Penelitian Kualitatif, Bandung, Remaja Karya, 1998
Mudrajad Kuncoro, Metode Riset untuk Bisnis & Ekonomi- Bagaimana meneliti & menulis Tesis Edisi 3, Jakarta:Penerbit Erlangga, 2009
Muhammad, Bank Syariah: Problem dan Prospek Perkembangan di Indonesia, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2005
Muhammad, Manajemen Bank Syariah, Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan (UPP) AMP YKPN, 2005
Muhammad, ManajemenPembiayaan Bank Syariah, Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2005
Philip Kotler, Marketing Mangement, New Jersey: Prentince Hall, 2000
Rivai, Veithzal, dan Arviyan Arifin, Islamic Banking: Sebuah Teori, Konsep, dan Aplikasi, Jakarta: Bumi Aksara, 2010
Ronald W Hilton, Michael W. Maher, dan Frank H. Selto, Cost Management: Strategic for Business Decision, North America: Brent Gordon (Mc Gaw Hill), 2003
Ronald W. Hilton, Managerial Accounting: Creating Value in a Dynamic Business Environment Sevent Edition, Kuala Lumpur:McGraw Hill Irwin, 2008 hal.
Saefuddin Arif, Azharuddin Lathif. Diktat Kontrak Bisnis Syariah. Jakarta: Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta, 2011
Samiaji Sarosa. Penelitian Kualitatif: Dasar-Dasar. Jakarta: Indeks, 2012 Suharsini Arikunto, Manajemen Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta, 2002
Sunarto Zulkifili, Panduan Praktis Transaksi Perbankan Syariah, Jakarta: Zikrul Hakim, 2006
Wangsawidjaya, A. Z. Pembiayaan Bank Syariah, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2012
Warde, Ibrahim, Islamic Finance: Islam dalam Perekonomian Global, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009
JURNAL DAN SKRIPSI
Ali Usman, “Analisa Komparasi tingkat profitabilitas produk Penyaluran dana antara PT Bank Syariah Mandiri dengan Baitul Mal Al-Falaah”, (Skripsi S1 Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri Yogyakarta, 2007)
Dwi Rosita, “Analisis Pengaruh Economic Value Added (EVA) terhadap Return On Equity (ROE) pada PT. Aqua Golden Mississipi, Tbk” (Skripsi S1 Fakultas Ekonomi, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta, 2009)
Farida Ayu Avisena Nusantari, “Strategi BRI Syariah dalam Menganalisis Kelayakan Pembiayaan Mikro (Studi Kasus BRI Syariah Cabang Pembantu Cipulir)”(Skripsi
S1 Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011)
G. Bennet Stewart III, “EVA works- buat Not if You make these common Mistake,” Fortune, 1 Mei 1995
Hilman Fathoni, “Penilaian Kinerja Bank Syariah Menggunakan Economic Value Added (EVA)”, (Skripsi S1 Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011)
Muhammad Ilham Khairuddin, “Strategi Pembiayaan Murabahah dalam rangka meningkatkan jumlah pendapatan di BPRS Harta Insan Karimah.” (Skripsi S1 Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2007)
Nani Sutianingsih, “Pengaruh Kinerja Keuangan dengan Pendekatan Economic Value Added (EVA) terhadap Tingkat Pengembalian Saham pada Perusahaan di Industri Semen”, (Tesis S2 Universitas Widyatama, 2008)
Taufikurrahman, “Model Analisis profitabilitas produk pembiayaan pada bank Syariah dengan menggunakan integrasi konsep Activity-Based Costing (ABC) dan
Economic Value Added (EVA)”, (Tesis S2 Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia,2005)
Teddy Sumirat Bassar ,“Analisa Perbandingan Kinerja Penghimpunan dana dan Penyaluran Dana Masyarakat pada PT. Bank Muamalat Indonesia sebelum dan sesudah Kebijakan Perbankan 1998.” (Tesis S2 Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, 2004)
WEBSITE
Laporan Tahunan BRI Syariah Tahun 2013 Laporan Tahunan BRI Syariah Tahun 2014
Metadata Kredit UMKM Indonesia, diakses pada 29 Januari 2014 dari
http://www.bi.go.id/id/statistik/metadata/kredit-umkm/Contents/Default.aspx Nugraha Ridha, Manajemen Pembiayaan Panduan Untuk Koperasi Syariah SDM
Kementerian Koperasi, artikel diakses pada 2 Februari 2015 dari http://hasbullah.multiply.multiplycontent.com
Pengertian UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah), artikel diakses pada 3 maret 2015 dari http://abstraksiekonomi.blogspot.com/
Persyaratan Pembiayaan Mikro, diakses pada 12 September 2015 dari http://www.brisyariah.co.id/?q=pembiayaan-mikro
Hasil Wawancara Mengenai Pembiayaan Mikro Narasumber:
1. Nama : Irwan
Jabatan : Unit Micro Syariah Head Pondok Gede 2. Nama : Gus Dwi Atmoko
Jabatan : Keuangan Micro Banking Group (MBC) Waktu : Selasa, 8 September 2015
Tempat : Kantor Pusat BRI Syariah, Divisi Pembiayaan Mikro
1. Mohon dijelaskan mengenai Produk Pembiayaan Mikro yang ada di Bank
Untuk sekarang prosuk Pembiayaan Mikro di BRI Syariah ada 3 Produk. Pertama, Mikro 25 itu jumlah pembiayaan yang diberikan berkisar 5-25 juta tapi merupakan pembiayaan KTA (Kredit Tanpa Agunan). Kedua, mikro 75 itu jumlah pembiayaan yang diberikan berkisar 5-75 juta tapi bukan Pembiayaan KTA (Kredit tanpa Agunan) dan kemudian yang terakhir. Ketiga, Mikro 500 ini merupakan pembiayaan yang diberikan besarnya berkisar 76-500 juta. Untuk jangka waktu pada mikro 25 itu hanya 6 bulan-2 tahun atau 6 -24 bulan, sedangkan untuk mikro 75 dan mikro 500 itu jangka waktunya 6 bulan-5 tahun atau 6-60 bulan. Pembiayaan Mikro memberikan pembiayaan untuk modal kerja, investasi dan konsumtif. Namun khusus untuk pembiayaan konsumtif itu tidak diberikan secara 100% namun hanya 50:50, maksudnya untuk pembiayaan produktif 50% dan untuk pembiayaan konsumtif 50%.
2. Bagaimana Kriteria usaha mikro yang layak diberikan Pembiayaan?
Pada umumnya kami melihat yang perputaran usahanya harian, kalo perputaran usahanya mingguan itu kita hindari, meskipun ada beberapa usaha yang perputarannya mingguan kita berikan pembiayaan. Kita pilih usaha yang perputarannya harian karena omsetnya akan terlihat pada harian. Kedua, tidak memiliki masalah dengan bank ini dibuktikan dengan BI Checking yang bagus. Ketiga, jika menggunakan jaminan maka jaminan yang dimiliki meng-cover
pembiayaan yang diberikan dan jaminannya bagus. Untuk bentuk jaminan yang diberikan dapat berupa AJB (Akta Jual Beli), BPKB (Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor), Sertifikat dan lain-lain tergantung jumlah pembiayaan yang diberikan.
3. Apa Keunggulan Pembiayaan Mikro pada Bank BRI Syariah dibandingkan dengan Bank lain?
Keunggulan yang dimiliki pembiayaa mikro pada Bank BRI Syariah tentu saja karena kami memberikan Pembiayaan Mikro yang bergerak di bidang Syariah dan menggunakan sistem Murabahah sehingga segala sesuatu menggunakan akad jual-beli. Dan pada sistem Murabahah menggunakan margin yang flat
sehingga tidak akan terpengaruh dengan BI rate.
Kami hanya memberikan Pembiayaan pada sektor UMKM dan tidak pernah bermain pada perusahaan besar, maksimal jenis usaha yang kita berikan pembiayaan adalah CV, itupun CV perorangan atau keluarga jika merupakan CV berkelompok maka akan kami tolak.
5. Bagaimana Prosedur Permohonan Pembiayaan Bank untuk sektor UMKM? Langkah awal yang biasanya dilakukan adalah SO (Sales Officer) melakukan
canvasing atau mencari nasabah. SO (Sales Officer) akan memberikan perkenalan, penawaran harga, margin, dan Plafond yang sesuai, kemudian jika nasabah setuju atau cocok dengan tawaran dari SO (Sales Officer) maka selanjutnya akan dilakukan pengajuan pembiayaan. Pada saat ini akan ada syarat-syarat awal pada proses pengajuan pinjaman seperti fotocopy KTP, fotocopy KK, NPWP dan lain-lain. Kemudian pihak bank akan menyiapkan berkas, yang pertama dilakukan adalah BI Checking stelah hasil BI Checking
keluar dan menunjukan Clear atau kol 2 maka akan dilanjutkan dengan survey yang dilakukan oleh UFO (Unit Financing Officer) dan UH (Unit Head). Jika Pembiayaan diatas 50 juta maka akan ditarik ke AFO (Analys Financing Officer). Kemudian jika pembiayaan diatas 100 juta maka akan ditemani oleh Pincapem (Pimpinan Cabang Pembantu) dan harus ada pada saat survey bahkan pada foto Survey. Setelah survey selesai maka komite (UFO, AFO, SO, pihak bisnis) akan menentukan jumlah pembiayaan yang layak diberikan berdasarkan berkas usaha, karakter, dan jaminan. Misalnya jika nasabah mengajukan
pembiayaan sebesar 300 juta namun berdasarkan komite hanya layak diberikan pembiayaan sebesar 200 juta, maka hal ini akan disampaikan kepada nasabah. Nah pada saat pnawaran jumlah pembiayaan ini lah terjadi murabahah dimana ada penjual dan pembeli yang menawarkan. Jika margin sesuai maka nasabah akan lanjut namun jika tidak sesuai maka nasabah berhak untuk menolak. Jika nasabah sudah cocok maka selanjutnya akan dilakukan proses akad yang dimulai dengan keluarnya SP3 (Surat Persetujuan Permohonan Pembiayaan) dari komite yang akan ditandatangani oleh nasabah, setelah itu maka akan ada proses pengikatan akad dan Pencairan Pembiayaan.
6. Seberapa besar keuntungan dari pembiayaan mikro?
Dalam pembiayaan mikro syariah yang digunakan adalah margin, nah margin itu tergantung plafond pembiayaan yang diberikan. Untuk mikro 25 margin perbulan itu ratenya 2-2,5 dan itu flat. Tapi ini tidak tergantung wewenang siapa yah? Karena kalo membahas itu akan panjang jadinya. Sedangkan untuk mikro 75 itu ratenya 1,5 sampai 1,68 eh 1,5-1,8. Untuk mikro 500 itu 0,94-1,5.
7. Apa yang dilakukan untuk menghindari kredit macet?
Nah tadi ada analisa survey, analisa kredit dan lain-lain merupakan langkah awal untuk menghindari kredit macet yang kedua untuk saat ini ada RO (Relationsgip Officer) yang bertugas untuk maintenance nasabah disamping SO (Sales Officer) itu sendiri. Caranya dengan sering datang mengunjungi nasabah baik
pada saat pembiayaan ataupun setelah Pembiayaan. RO (Relationsgip Officer)
ini tidak bertugas sebagai kolektor melainkan sebagai penghubung antara pihak bank dengan nasabah. Dan untuk menjaga kestabilan itu RO, SO, UH dan yang lainnya akan tetap menjaga komunikasi dengan nasabah. Ini merupakan sistem yang digunakan di tahun 2014 tahun ini sistemnya akan berubah. Tapi jika terjadi kredit macet maka ada collection supervisor dari kantor pusat dan itu sudah beda lagi, biasanya dari pihak unit dulu baru ke pusat
8. Jumlah Pembiayaan yang paling sering dikeluarkan berapa dan jangka waktunya berapa lama?
Yang paling banyak diberikan rata-rata adalah mikro 25 dan mikro 75. Ini karena jumlah orang yang diberikan pembiayaan mikro 25 dan mikro 75 lebih banyak dibandingkan dengan mikro 500. Tapi kalo nominal tentu saja mikro 500 karena sekali mengeluarkan pembiayaan nominal yang dikeluarkan besar.
9. Jika dilihat dari golongan pembiayaan berapa besar porsi pembiayaan yang disalurkan ke sektor UMKM?
Kalo secara nilai tidak terlalu besar paling sekitar 3,7 triliun atau 3,3 triliun. Beda dengan pembiayaan yang lain yang bisa 100 miliar untuk satu pembiayaan. Mungkin sekitar 30-40%. Pembiayaan kan ada Komersil, SME (Small Medium Enterprise) dan Konsumer. Nah mungkin pembiayaan mikro sebesar 30% dan yang lainnya sekitar 70%.
10. Bagaimana Strategi Bank dalam menganalisa kelayakan Pembiayaan mikro yang diajukan nasabah?
Iya biasanya dilakukan dengan survey, tanya jawab dengan perusahaan kemudian bertanya ke tetangga atau kadang juga verifikasi ke supplier atau pelanggannya. Selain 5C tidak ada tambahan lain. Namun biasanya C terakhir
Condition of Economic jarang digunakan tapi untuk yang lainnya pasti digunakan. Condition of Economic jika digunakan akan sulit karena parameternya susah dan kalaupun digunakan maka perusahaan akan kesulitan dan oleh karena itu kita menggunakan usaha harian karena tidak akan terlalu berpengaruh. Karena usaha harian tidak akan terlalu terpengaruh dengan BI rate
kalau perusahaan yang terpengaruh dengan BI rate itu yang kita hindari. 11. Berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga pembiayaan disetujui?
Jika berdasarkan SOP (Standard Operating Procedure) maka untuk mikro 25 dan mikro 75 itu 3 hari sedangkan untuk mikro 500 itu bisa 5 hari. Namun ini bisa saja lebih lama karena berkas yang tidak lengkap. Biasanya perusahaan akan kesulitan untuk melengkapi kelengkapan berkas pembiayaan itu yang kibatkan proses pembiayaan lebih lama. Namun jika berkas sudah lengkap maka pembiayaan bisa lebih cepat dilakukan. Kemudian jika berkas sudah lengkap hasil BI Checking bagus, jaminan meng-cover maka pembiayaan akan lebih cepat dilaksanakan.
12. Jelaskan mengenai istilah-istilah dalam alur proses pembiayaan!
Untuk istilah dalam alur proses Pembiayaan itu mungkin ada Canvasing, yaitu proses SO (Sales Officer) untuk mencari nasabah kemudian jika ada kendala maka akan dibantu oleh UH (Unit Head) sampai dengan closing. Setelah closing
makan akan ada pelengkapan berkas, jika berkas sudang lengkap akan ada BI Checking, jika BI Checking sudah lengkap maka akan dilakukan survey oleh UFO (Unit Financing Officer). Setelah selesai dan jumlah pembiayaan diatas 50 juta maka akan ada area dan pincapem turun langsung untuk mempercepat proses pencairan. Setelah proses ini selesai makan akan naik ke komite, setelah dari komite maka akan ada persetujuan yang keluar dalam bentuk SP3 (surat permohonan pengajuan pembiayaan).
13. Bagaimana cara untuk menilai karakter calon nasabah?
Untuk yang pertama adalah menilai karakter nasabah menggunakan BI Checking kemudian yang kedua pada saat interview, biasanya kita sudah tahu untuk usaha tertentu biasanya omset seberapa besar dan ketika nasabah bohong maka akan ketahuan bahwa nasabah memiliki karakter yang kurang baik. Setelah itu juga akan bertanya pada tetangga mengenai karakter nasabah, atau misalnya ada tukang tagih yang pernah datang sebelumnya.biasanya semua terjadi dalam survey. Namun semua ini tergantung BI Checking, jika BI Checking buru maka tidak akan dilanjutkan sedangkan jika BI Checking hasilnya bagus maka akan dilanjutkan ke survey.
14. Bagaimana mengenai analisa pasar?
Analisa Pasar ada 2 Jenis. Pertama, Target Marketing untuk target marketing ini dapat di proses namun jaminan dalam pasar itu tidak bisa digunakan contohnya kios yang memiliki BOP (Balance of Payment) dan surat kepemilikan lainnya tapi kiosnya kita tidak bisa berikan pembiayaan tapi hanya usaha yang dijalankan saja. Kedua, Target Jaminan. Target jaminan yang dimaksud adalah jaminan yang meerupakan target pasar, jadi yang dapat diberikan pembiayaan tidak hanya usaha tapi juga kios yang digunakan sebagai contoh kios-kios di jatinegara itu bisa mencapai harga 700 juta maka kios di pasar tersebut dapat dijadikan terget jaminan. Setiap unit biasanya memiliki target jaminan. Kemudian jika hanya dijadikan target pasar maka itu hanya terjadi pada tingkat cabang namun jika sudah sampai target jaminan maka harus sampai ke FRM
(Financing Risk Management) dan itu harus dengan persetujuan dari FRM
(Financing Risk Management), jika disetujui oleh FRM (Financing Risk Management) maka dapat dijadikan jaminan.
15. Apa tujuan dari BI Checking?
Tujuan BI Checking yang pertama adalah untuk mengetahui karakter nasabah kemudian yang kedua untuk mengetahui kemampuan nasabah maksudnya kemampuan bayar atau kemampuan cicilan. Jika nasabah sudah memiliki banyak cicilan ya jangan ditambah lagi nanti bisa macet.
16. Pembiayaan Mikro memiliki resiko yang tinggi, maka cara apa yang ditempuh untuk meminimalisir resiko?
Untuk meminimalisir resiko itu semua harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang ada. Semua SOP (Standard Operating Procedure) harus dilakukan dengan baik. Contoh dari BI Checking itu agar tidak ada penyalahgunaan tujuan oleh nasabah
17. Apakah Pembiayaan Mikro memiliki manajemen keuangan sendir yang terpisah dari peusahaan?
Ya Pembiayaan Mikro memiliki Laporan keuangan sendiri yang terpisah dari Perusahaan.
18. Berapa besar Modal dan besar hutang yang digunakan perusahaan untuk pembiayaan Mikro?
Tergantung Produktivitasnya karena perusahaan selalu support untuk Pembiayaan Mikro jadi tidak ada pembatasan, tapi berdasarkan jumlah pembiayaan jika dipersentasekan yang mungkin 30% tapi perusahaan tidak pernah membatasi. Jika hari ini ternyata pencairan sangat besar perusahaan pasti support tapi kan Pembiayaan Mikro itu nominalnya kecil maka untuk pembiayaan 1 triliun rupiah mungkin ada ratusan nasabah yang diberikan pembiayaan. Perusahaan tidak pernah membatasi untuk Pembiayaan Mikro
karena Core Base dari perusahaan induk kita adalah mikro. Tapi tetap harus dijaga jangan sampai banyak kredit macet
19. Berapa besar aset perusahaan yang digunakan untuk Pembiayaan Mikro? Sekitar 30%
20. Akad apa yang digunakan oleh Bank untuk Pembiayaan Mikro?
Untuk akad prosuk memang hanya murabahah tapi dalam pelaksanaan ada 3 akad yang digunakan yaitu akad Murabahah, Wakalah dan Qardh. Murabahah
digunakan saat jual beli antara nasabah dan bank, kemudian wakalah digunkan pada saat nasabah mewakili bank untuk membeli barang yang dibutuhkan oleh nasabah yang kemudian akan dijual kepada nasabah dengan menggunkaan akad
murabahah. Sedangkan untuk Qardh digunakan pada saat take over. Pada saat
Take over akad yang digunakan adalah Qardh kemudian wakalah baru dilakukan akad murabahah. Dan semua akad wajib dilakukan kecuali Qardh yang hanya digunkan pada saat take over.
21. Bagaimana cara bank mempertahankan tingkat pembiayaan mikro hingga sekarang?
Yang terpenting adalah menjalankan sesuai SOP (Standard Operating Procedure) jika sudah sesuai dengan SOP (Standard Operating Procedure) maka resiko kredit macet hampir tipis. Kecuali ada kejadian tidak terduga seperti kecelakaan, kebakaran, nasabah meninggal dunia.
22. Untuk mengatasi hal tidak terduga tersebut apa yang dilakukan oleh bank? Untuk mengatasi hal tersebut semua pembiayaan akan diasuransikan sehingga ketika kejadian tidak terduga terjadi akan ada asuransi yang membantu. Asuransi yang digunakan oleh kami saat ini ada BSAM (Bringin Sejahtera Arta Makmur), Askrindo Syariah, Jamkindo Syariah, Sinar Mas Syariah, BNI Syariah dan satu asuransi lain yang sering digunakan untuk asuransi Pembiayaan Mikro 25 dan Mikro 75. Karena BSAM (Bringin Sejahtera Arta Makmur) lebih sering digunakan untuk asuransi Jaminan.