• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan, maka penulis akan

mencoba memberikan saran yang mungkin akan dapat dipakai sebagai masukan

untuk pihak-pihak yang terkait, yaitu:

1. Perlunya peningkatan frekuensi diadakannya sosialisasi mengenai

dengan membayar pajak kepada Wajib Pajak guna menunjang kesadaran

membayar pajak serta kerja sama yang baik antara Wajib Pajak dengan

fiskus.

2. Direktorat Jenderal Pajak ada baiknya menaruh perhatian lebih pada Seksi

Penagihan mungkin dengan menambah jumlah jurusita atau memikirkan dan

mengimplementasikan strategi-strategi penagihan pajak baru sehingga

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Perpajakan

Pembangunan nasional adalah kegiatan yang berlangsung terus

menerus dan bergerak secara berkesinambungan. Pembangunan nasional

bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat baik materiil maupun

spiritual. Untuk dapat merealisasikan tujuan tersebut maka perlu perhatian

utama ditujukan kepada masalah pembiayaan pembangunan.

Salah satu usaha untuk mewujudkan kemandirian suatu bangsa atau

negara dalam pembiayaan pembangunan yaitu menggali sumber dana yang

berasal dari dalam negara berupa pajak. Pajak digunakan untuk membiayai

pembangunan yang berguna baik untuk kepentingan bersama.

2.1.1 Pengertian Pajak

Pengertian pajak menurut Undang-Undang No.28 Tahun 2007 tentang

Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan adalah sebagai berikut:

“Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”

Pengertian pajak menurut buku Leroy Beaulieu yang berjudul Traite

de la Science des Finances, 1906:

L’impot et la contribution, soit directe soit dissimule, que La Puissance Publique exige des habitants ou des biens subvenir aux depenses du Government.

(“Pajak adalah bantuan, baik secara langsung maupun tidak yang dipaksakan oleh kekuasaan publik dari penduduk atau dari barang, untuk menutup belanja pemerintah”.)

Karianton (2013:6) mengemukakan pengertian pajak menurut

Soemitro yang dapat dilihat dari dua aspek yaitu aspek ekonomis dan aspek

hukum. Pengertian pajak dari aspek ekonomis yaitu peralihan kekayaan dari

swasta kepada sektor publik berdasarkan undang-undang yang dapat

dipaksakan dengan tidak mendapat imbalan secara langsung dapat

ditunjukkan, digunakan untuk membiayai pengeluaran umum dan sebagai

pendorong, penghambat atau pencegah untuk mencapai tujuan yang ada di

luar bidang keuangan negara. Sedangkan dari aspek hukum, pajak adalah

perikatan yang timbul karena undang-undang yang mewajibkan seseorang

memenuhi syarat-syarat sesuai undang-undang untuk membayar uang kepada

negara yang dapat dipaksakan tanpa mendapatkan suatu imbalan yang secara

langsung dapat ditunjuk, dan digunakan untuk membiayai

pengeluaran-pengeluaran negara.

Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik unsur-unsur utama

pajak adalah kepada siapa pajak tersebut dikenakan, obyek pajak adalah atas

apa pajak tersebut dapat dikenakan, sementara tarif pajak adalah seberapa

besar pajak yang akan dibebankan kepada subyek pajak atas obyek pajaknya.

2.1.2 Fungsi Pajak

Menurut Erly Suandy dalam buku “Hukum Pajak” (2011:12) ada 2

fungsi pajak, yaitu:

a) Fungsi Finansial (Budgetair)

Pajak berfungsi memasukkan uang sebanyak-banyaknya ke kas

negara, dengan tujuan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran negara.

b) Fungsi Mengatur (Regulerend)

Pajak digunakan sebagai alat untuk mengatur masyarakat baik di

bidang ekonomi, sosial, maupun politik dengan tujuan tertentu. Pajak

digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu dapat dilihat dalam

contoh sebagai berikut:

a. Pemberian insentif pajak (misalnya tax holiday, penyusutan dipercepat)

dalam rangka meningkatkan investasi baik investasi dalam negeri maupun

investasi asing.

b. Pengenaan pajak ekspor untuk produk-produk tertentu dalam rangka

memenuhi kebutuhan dalam negeri.

c. Pengenaan bea masuk dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah untuk

produk-produk impor tertentu dalam rangka melindungi produk-produk

Di samping kedua fungsi di atas, pajak masih mempunyai

tujuan-tujuan lain seperti untuk redistribusi pendapatan dan menanggulangi inflasi.

2.1.3 Pengelompokan Pajak

Pengelompokan pajak dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :

1. Menurut golongannya

a) Pajak Langsung, yaitu pajak yang harus dipakai sendiri oleh wajib

pajak dan tidak dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain.

Contoh : Pajak Penghasilan.

b) Pajak Tidak Langsung, yaitu pajak yang pada akhirnya dapat

dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contoh : Pajak

Pertambahan Nilai.

2. Menurut sifatnya

a) Pajak Subyektif, yaitu pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada

subyeknya, dalam arti memperhatikan keadaan dari wajib pajak.

Contoh : Pajak Penghasilan.

b) Pajak Objektif, yaitu pajak yang berpangkal pada obyeknya, tanpa

memperhatikan keadaan diri wajib pajak. Contoh : Pajak Pertambahan

Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.

3. Menurut lembaga pemungutannya

a) Pajak Pusat, yaitu pajak yang dipungut oleh pusat dan digunakan

untuk membiayai rumah tangga Negara. Contoh : PPh, PPN, dan

b) Pajak Daerah, yaitu pajak yang digunakan oleh pemerintah daerah dan

digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah. Contoh : PBB,

PKB, Pajak Hotel dan Restoran, Pajak Reklame, Pajak Penerangan

Jalan dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor.

2.1.4 Tata Cara Pemungutan Pajak

Pemungutan pajak dapat dilakukan berdasarkan tiga stelsel yaitu :

1. Stelsel Nyata (Riel Stelsel)

Pengenaan pajak didasarkan pada objek (penghasilan yang nyata),

sehingga pemungutan baru dapat dilakukan pada akhir tahun pajak.

Kelebihan dari stelsel ini pajak yang dikenakan realistis, sesuai dengan

yang seharusnya dibayarkan oleh wajib pajak. Sedangkan kelemahan dari

stelsel ini pajak baru dapat dibayarkan setelah penghasilan diketahui pada

akhir periode.

2. Stelsel Anggapan (Fictieve Stelsel)

Pengenaan pajak didasarkan pada suatu anggapan yang diatur oleh

undang-undang. Misalnya, penghasilan suatu tahun dianggap sama dengan

tahun sebelumnya, sehingga pada awal tahun pajak sudah dapat ditetapkan

besarnya pajak yang terutang untuk tahun pajak berjalan. Kelebihan dari

sistem ini adalah pajak dapat dibayar selama tahun berjalan, tanpa harus

menunggu akhir tahun. Sedangkan kekurangan dari sistem ini terkadang

besarnya pajak yang dibayar tidak sesuai dengan besarnya pajak yang

3. Stelsel Campuran

Stelsel ini merupakan kombinasi antara stelsel nyata dan stelsel anggapan.

Stelsel ini mengombinasikan kelebihan-kelebihan dari stelsel nyata dan

stelsel anggapan. Dalam stelsel ini, besarnya pajak dihitung sesuai

anggapan seperti pada stelsel anggapan, besarnya penghasilan dalam tahun

berjalan dianggap sama dengan tahun sebelumnya, sehingga pajak dapat

dibayarkan pada awal tahun pajak. Akan tetapi pada akhir tahun besarnya

pajak disesuaikan dengan kenyataan yang harus dibayarkan. Apabila

ternyata pajak yang dibayarkan kurang, maka wajib pajak harus

menambahnya, dan apabila yang dibayarkan berlebih maka wajib pajak

berhak untuk mengambil kelebihan tersebut.

2.1.5 Sistem Pemungutan Pajak

Dalam memungut pajak dikenal beberapa sistem pemungutan pajak

yaitu :

1. Official Assessment System

Sistem pemungutan pajak ini memberikan wewenang kepada pemerintah

(petugas pajak) untuk menentukan besarnya pajak terhutang wajib pajak.

Sistem pemungutan pajak ini sudah tidak berlaku lagi setelah reformasi

perpajakan pada tahun 1983. Ciri-ciri sistem pemungutan pajak ini adalah

(i) pajak terhutang dihitung oleh petugas pajak, (ii) wajib pajak bersifat

pasif, dan (iii) hutang pajak timbul setelah petugas pajak menghitung pajak

2. Self Assessment System

Sistem pemungutan pajak ini memberikan wewenang kepada wajib pajak

untuk menghitung sendiri, melaporkan sendiri, dan membayar sendiri

pajak yang terhutang yang seharusnya dibayar. Ciri-ciri sistem

pemungutan pajak ini adalah (i) pajak terhutang dihitung sendiri oleh

wajib pajak, (ii) wajib pajak bersifat aktif dengan melaporkan dan

membayar sendiri pajak terhutang yang seharusnya dibayar, dan (iii)

pemerintah tidak perlu mengeluarkan surat ketetapan pajak setiap saat

kecuali oleh kasus-kasus tertentu saja seperti wajib pajak terlambat

melaporkan atau membayar pajak terhutang atau terdapat pajak yang

seharusnya dibayar tetapi tidak dibayar.

3. With Holding System

Sistem pengumutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga

(bukan fiskus dan bukan wajib pajak yang bersangkutan) untuk

menentukan besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak sesuai dengan

peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Ciri-ciri sistem

pemungutan pajak ini adalahwewenang menentukan besarnya pajak yang

2.1.6 Tarif Pajak

Tarif pajak dibagi kedalam 4 jenis, yaitu:

1. Tarif proporsional atau sebanding, berupa persentase yang tetap, terhadap

berapapun jumlah yang dikenai pajak sehingga besarnya pajak yang

terutang proposional terhadap besarnya nilai yang dikenai pajak.

Contoh: Untuk PPN terhadap barang kena pajak dikenakan tarif 10%

Jumlah Penjualan Tarif Pajak

Rp. 500.000,- 10% Rp. 50.000,-

Rp. 1.000.000,- 10% Rp. 100.000,-

Rp. 5.000.000,- 10% Rp. 500.000,-

Rp. 10.000.000,- 10% Rp.

1.000.000,-2. Tarif tetap, berupa jumlah yang tetap (sama) terhadap berapapun jumlah

yang dikenai pajak sehingga besarnya pajak yang terutang tetap.

Contoh: Pajak materai atau bea materai yang besar tarifnya tidak berubah

(tetap) dengan tarif senilai Rp. 3.000,- atau Rp. 6.000,-.

3. Tarif progresif, dimana persentase tarif yang digunakan semakin besar bila

jumlah yang dikenai pajak semakin besar.

Contoh: Untuk Pajak Penghasilan (PPh) Wajib Pajak Orang Pribadi

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak

Sampai dengan Rp. 50.000.000,- 5%

Diatas Rp. 50.000.000,- s/d Rp. 250.000.000,- 15%

Diatas Rp. 250.000.000,- s/d Rp. 500.000.000,- 25%

Diatas Rp. 500.000.000,- 30%

4. Tarif degresif, dimana persentase tarif yang digunakan semakin kecil bila

jumlah yang dikenai pajak semakin besar.

Contoh: Untuk Pajak Penghasilan (PPh) Wajib Pajak Orang Pribadi

dikenakan tarif degresif yaitu;

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak

Sampai dengan Rp 10.000.000,- 30%

di atas Rp 10.000.000,- sampai dengan Rp 50.000.000,- 28%

di atas Rp 50.000.000,- sampai dengan Rp 100.000.000,- 26%

di atas Rp 100.000.000,- 24%

2.1.7 Pembayaran Pajak

Mekanisme pembayaran pajak bagi Wajib Pajak dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Membayar sendiri pajak yang terutang:

a. Pembayaran angsuran PPh setiap bulan (PPh Pasal 25)

Pembayaran PPh Pasal 25 yaitu pembayaran Pajak Penghasilan secara

angsuran. Hal ini dimaksudkan untuk meringankan beban Wajib Pajak

dalam melunasi pajak yang terutang dalam satu tahun pajak. Wajib

Pajak diwajibkan untuk mengangsur pajak yang akan terutang pada

akhir tahun dengan membayar sendiri angsuran pajak tersebut setiap

bulan.

Khusus untuk Wajib Pajak Orang Pribadi yang sumber

penghasilannya dari usaha dan pekerjaan bebas, pembayaran angsuran

PPh Pasal 25 terbagi atas 2 yaitu:

1. Angsuran PPh Pasal 25 sebagai Wajib Pajak Orang Pribadi

Pengusaha Tertentu (OPPT).

Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu adalah wajib

pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha penjualan

barang baik secara grosir maupun eceran dan usaha

penyerahan jasa, yang mempunyai satu atau lebih tempat

usaha termasuk yang memiliki tempat usaha yang berbeda

dengan tempat tinggal.

Angsuran PPh Pasal 25 Wajib Pajak OPPT : 0,75% x jumlah

peredaran usaha (omset) setiap bulan dari masing-masing

2. Angsuran PPh Pasal 25 sebagai Wajib Pajak Orang Pribadi

Selain Pengusaha Tertentu (OPSPT).

Wajib Pajak Orang Pribadi Selain Pengusaha Tertentu

(OPSPT) adalah Orang Pribadi yang melakukan kegiatan

usaha tanpa melalui tempat usaha misalnya sebagai pekerja

bebas atau sebagai karyawan.

Angsuran PPh Pasal 25 sebagai Wajib Pajak OPSPT :

Penghasilan Kena Pajak x Tarif PPh Pasal 17 ayat (1) huruf a

UU PPh : 12 bulan.

Tarif Pasal 17 ayat (1) a UU PPh adalah :

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak

Sampai dengan Rp 50.000.000,- 5%

Diatas Rp. 50.000.000,- s/d Rp. 250.000.000,- 15%

Diatas Rp. 250.000.000,- s/d Rp. 500.000.000,- 25%

Diatas Rp. 500.000.000,- 30%

b. Untuk Wajib Pajak Badan, besarnya pembayaran Angsuran PPh 25

yang terutang diperoleh dari penghasilan kena pajak dikalikan dengan

tarif PPh yang diatur di Pasal 17 ayat (1) huruf b Undang Undang

Pajak Penghasilan. Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a) UU

PPh adalah 25%.

sampai dengan Rp. 50.000.000.000,- mendapat fasilitas berupa

pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif pasal 17 ayat (1) huruf b dan

ayat (2a) UU PPh, yang dikenakan atas penghasilan kena pajak dari

peredaran bruto sampai dengan Rp. 4.800.000.000,-

2. Membayar PPh melalui pemotongan dan pemungutan oleh pihak lain (PPh

Pasal 4 (2), PPh Pasal 15, PPh Pasal 21, 22, dan 23, serta PPh Pasal 26).

Pihak lain disini adalah:

 Pemberi penghasilan;  Pemberi kerja; atau

 Pihak lain yang ditunjuk atau ditetapkan oleh pemerintah.

3. Membayar PPN kepada pihak penjual atau pemberi jasa ataupun oleh pihak

yang ditunjuk pemerintah.

Tarif PPN adalah 10% dari harga jual atau penggantian atau nilai ekspor atau

nilai lainnya.

4. Pembayaran pajak-pajak lainnya:

o Pembayaran PBB yaitu pelunasan berdasarkan Surat Pemberitahuan

Pajak Terutang (SPPT).

Tarif PBB terdiri dari 2 tarif yaitu:

a. 1/1000 dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) khusus untuk yang

b. 2/1000, dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) khusus untuk yang

NJOP-nya kurang dari Rp. 1.000.000.000,-

o Pembayaran Bea Meterai yaitu pelunasan pajak atas dokumen yang dapat

dilakukan dengan cara menggunakan benda meterai berupa meterai

tempel atau kertas bermeterai atau dengan cara lain seperti menggunakan

mesin teraan.

Meterai tempel yang terutang untuk dokumen yang menyebut jumlah

(kuitansi) diatas Rp. 250.000,- sampai dengan Rp. 1.000.000,- adalah Rp.

3.000,-. Untuk dokumen yang menyebut jumlah diatas Rp. 1.000.000,-

dan surat-surat perjanjian, terutang materai tempel sebesar Rp. 6.000,-.

5. Pemotongan / Pemungutan Pajak

Selain pembayaran bulanan yang dilakukan sendiri, ada pembayaran bulanan

yang dilakukan dengan mekanisme pemotongan/pemungutan yang dilakukan

oleh pihak pemberi penghasilan. Pihak pemberi penghasilan adalah pihak

yang ditunjuk berdasarkan ketentuan perpajakan untuk memotong/memungut,

antara lain yang ditunjuk tersebut adalah badan pemerintah, subjek pajak

badan dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap atau

perwakilan perusahaan luar negeri lainnya. Untuk subjek pajak badan dalam

negeri, maka diwajibkan juga sebagai pemotong/pemungutan pajak.

Adapun jenis pemotongan/pemungutan adalah: PPh Pasal 21, PPh Pasal 22,

PPn BM. Penjelasan lebih lanjut dari masing-masing pajak tersebut adalah

sebagai berikut:

a. PPh Pasal 21 adalah pemotongan pajak yang dilakukan oleh pihak

pemberi penghasilan kepada oleh Wajib Pajak Orang Pribadi dalam

negeri sehubungan dengan pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan.

Misalnya pembayaran gaji yang diterima oleh pegawai dipotong oleh

perusahaan pemberi kerja. Wajib Pajak berbentuk badan ditunjuk oleh

UU Perpajakan sebagai pemotong PPh Pasal 21 atas penghasilan yang

dibayarkan kepada karyawannya maupun yang bukan karyawannya.

Wajib Pajak perseorangan dapat juga ditunjuk sebagai pemotong PPh

Pasal 21 sepanjang ada penunjukannya dari KPP tempat Wajib Pajak

terdaftar. Selain diwajibkan memotong PPh Pasal 21, Wajib Pajak

perseorangan bisa juga dilakukan pemotongan PPh Pasal 21 atas

penghasilan yang diterimanya.

b. PPh Pasal 22 adalah pemungutan pajak yang dilakukan oleh pihak

tertentu yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan sehubungan dengan

pembayaran atas penyerahan barang (seperti penyerahan barang oleh

rekanan kepada bendaharawan pemerintah), impor barang dan kegiatan

usaha di bidang-bidang tertentu serta penjualan barang yang tergolong

sangat mewah.

Pemungutan PPh Pasal 22 ini antara lain adalah:

2. Pemungutan PPh atas kegiatan impor barang;

3. Pemungutan PPh atas produksi barang-barang tertentu misalnya

produksi baja, kertas, rokok, dan otomotif;

4. Pemungutan atas pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri

atau ekspor oleh badan usaha industri atau eksportir di bidang

perhutanan, perkebunan, pertanian dan perikanan dari pedagang

pengumpul;

5. Pemungutan PPh atas penjualan atas barang yang tergolong mewah.

Wajib Pajak dapat ditunjuk sebagai pemungut PPh Pasal 22 atau dapat

juga sebagai pihak yang dipungut PPh Pasal 22.

c. PPh Pasal 23 adalah pemotongan pajak yang dilakukan oleh pihak

pemberi penghasilan sehubungan dengan pembayaran berupa deviden,

bunga, royalti, sewa, dan jasa kepada WP badan dalam negeri, dan BUT.

Wajib Pajak berbentuk badan ditunjuk untuk memotong PPh Pasal 23,

sedangkan Wajib Pajak perseorangan tidak ditunjuk untuk memotong

PPh Pasal 23. Demikian sebaliknya, apabila Wajib Pajak menerima

penghasilan yang merupakan objek pemotongan PPh Pasal 23 dan

pemberi penghasilan (pemberi kerja) juga merupakan pemotong PPh

Pasal 23, maka atas penghasilan yang diterima Wajib Pajak akan

dipotong PPh Pasal 23 oleh si pihak pemotong tersebut.

tertentu (jasa servis mesin atau komputer) yang pemotongannya

dilakukan oleh Wajib Pajak berbentuk badan.

d. PPh Pasal 26 adalah pemotongan pajak yang dilakukan oleh pihak

pemberi penghasilan sehubungan dengan pembayaran berupa deviden,

bunga, royalti, hadiah dan penghasilan lainnya kepada WP luar negeri.

Wajib Pajak baik yang berbentuk perseorangan maupun badan ditunjuk

untuk memotong PPh Pasal 26.

Contohnya adalah pemotongan dan penghitungan PPh Pasal 26 atas

penghasilan tertentu (royalti) yang dilakukan oleh Wajib Pajak berbentuk

badan.

e. PPh Final (Pasal 4 ayat (2))

Pemotongan pajak yang dilakukan oleh pihak pemberi penghasilan

sehubungan dengan pembayaran untuk objek tertentu seperti sewa tanah

dan/atau bangunan, jasa konstruksi, pengalihan hak atas tanah dan/atau

bangunan dan lainnya. Yang dimaksud final disini bahwa pajak yang

dipotong, dipungut oleh pihak pemberi penghasilan atau dibayar sendiri

oleh pihak penerima penghasilan, penghitungan pajaknya sudah selesai

dan tidak dapat dikreditkan lagi dalam penghitungan Pajak Penghasilan

pada SPT Tahunan.

Wajib Pajak berbentuk badan ditunjuk untuk memotong PPh Pasal 4 ayat

(2), sedangkan Wajib Pajak perseorangan tidak ditunjuk untuk memotong

menerima penghasilan yang merupakan objek pemotongan PPh Pasal 4

ayat (2) dan pemberi penghasilan (pemberi kerja) juga merupakan

pemotong PPh Pasal 4 ayat (2), maka atas penghasilan yang diterima

Wajib Pajak akan dipotong PPh Pasal 4 ayat (2) oleh si pihak pemotong

tersebut. Namun, apabila Wajib Pajak menerima penghasilan yang

merupakan objek PPh Pasal 4 ayat (2) dan pihak pemberi penghasilan

adalah orang pribadi (bukan pemotong), maka Wajib Pajak tersebut

wajib menyetor sendiri PPh Pasal 4 ayat (2) tersebut.

f. PPh Pasal 15 adalah pemotongan pajak penghasilan yang dilakukan oleh

pihak pemberi penghasilan kepada Wajib Pajak tertentu yang

menggunakan norma penghitungan khusus.

Wajib Pajak tertentu tersebut adalah perusahaan pelayaran atau

penerbangan international, perusahaan asuransi luar negeri, perusahaan

pengeboran minyak, gas dan panas bumi, perusahaan dagang asing,

perusahaan yang melakukan investasi dalam bentuk bangun guna serah.

Wajib Pajak berbentuk badan ditunjuk untuk memotong PPh Pasal 15,

sedangkan Wajib Pajak perseorangan tidak ditunjuk untuk memotong

PPh Pasal 15. Demikian sebaliknya, apabila Wajib Pajak menerima

penghasilan yang merupakan objek pemotongan PPh Pasal 15 dan

pemberi penghasilan (pemberi kerja) juga merupakan pemotong PPh

Pasal 15, maka atas penghasilan yang diterima Wajib Pajak akan

Wajib Pajak menerima penghasilan yang merupakan objek PPh Pasal 15

dan pihak pemberi penghasilan adalah orang pribadi (bukan pemotong),

maka Wajib Pajak tersebut wajib menyetor sendiri PPh Pasal 15 tersebut.

g. PPN dan PPnBM adalah pemungutan PPN dan PPnBM oleh Pengusaha

Kena Pajak (PKP) atau Pemungutan yang ditunjuk (misalnya Bendahara

Pemerintah) atas pengkonsumsian barang dan/atau jasa kena pajak.

Pengusaha Kena Pajak yang ditunjuk untuk memungut PPN dan PPnBM

adalah pengusaha yang memiliki peredaran bruto (omzet) melebihi Rp.

4.800.000.000,- (empat miliar delapan ratus juta rupiah) selama 1 (satu)

tahun bukuatau pengusaha yang memilih sendiri untuk dikukuhkan

sebagai Pengusaha Kena Pajak.

Wajib Pajak baik berbentuk perseorangan maupun badan yang telah

dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak, wajib memungut PPN dan

juga PPnBM (bila barangnya yang diserahkan tergolong mewah) dari

pembeli atau pemakai jasanya. Wajib Pajak juga wajib membayar PPN

dan PPnBM bila mengkonsumsi barang atau jasa dari Pengusaha Kena

Pajak.

Apabila pihak-pihak yang diberi kewajiban oleh Undang-Undang Perpajakan

untuk melakukan pemotongan/pemungutan tidak melakukan sesuai dengan

ketentuan yang berlaku, maka dapat dikenakan sanksi administrasi

2.2 Tinjauan Umum Tentang Penagihan Pajak 2.2.1 Pengertian penagihan pajak

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1997

Tentang Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa, pengertian penagihan pajak

adalah serangkaian tindakan agar penanggung pajak melunasi utang pajak dan

biaya penagihan pajak dengan menegur atau memperingatkan, melaksanakan

penagihan seketika dan sekaligus, memberitahukan surat paksa, mengusulkan

pencegahan, melaksanakan penyitaan, melaksanakan penyanderaan, menjual

barang yang telah disita.

Dasar hukum penagihan pajak sesuai dengan undang-undang pasal 18

ayat 1 UU No. 6 tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan UU No.9

tahun 1994 dan UU No. 16 Tahun 2000 tentang Ketentuan Umum dan Tata

Cara Perpajakan menyatakan dasar adanya tindakan penagihan pajak dan hak

negara untuk melakukan penagihan pajak berawal dari adanya utang pajak

yang jatuh tempo, belum atau kurang bayar. Dalam pelaksanaannya,

penagihan pajak terbagi dua yaitu:

1. Penagihan Pajak Pasif

Penagihan pajak pasif dilakukan dengan menggunakan Surat Tagihan

Pajak (STP), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), Surat

Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambah (SKPKBT), Surat Keputusan

Pembetulan (SKP), Surat Keputusan Keberatan (SKK), Surat Keputusan

lebih besar. Jika dalam jangka waktu 30 hari utang pajak masih belum

dilunasi, maka tujuh hari setelah jatuh tempo akan diikuti dengan

penagihan pajak secara aktif yang dimulai dengan Surat Teguran.

2. Penagihan Pajak Aktif

Penagihan pajak aktif merupakan kelanjutan dari penagihan pajak pasif,

dimana dalam upaya penagihan ini fiskus/pejabat juru sita berperan aktif

dalam arti bukan mengirimkan surat tagihan atau surat ketetapan pajak

melainkan akan diikuti dengan tindakan sita dan dilanjutkan dengan

pelaksanaan lelang. Jurusita pajak adalah pelaksanaan tindakan penagihan

pajak yang meliputi penagihan seketika dan sekaligus, pemberitahuan

Surat Paksa, penyitaan, dan penyanderaan.

Menurut undang-undang perpajakan Ikatan Akuntansi Indonesia, pada

Dokumen terkait