Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat diberikan antara lain: 1. Pemerintah Kota Bogor sebaiknya turut dalam mempromosikan daging
kelinci sebagai sumber protein hewani alternatif di Kota Bogor. Selain itu, pengembangan kelompok ternak kelinci di Kota Bogor juga harus di kembangkan agar suplai daging kelinci tidak hanya bergantung pada Kabupaten Bogor saja, karena kurangnya ketersediaan daging kelinci di Kota Bogor menyebabkan harga daging kelinci lebih mahal dibandingkan dengan daging yang lain.
2. Kepada pemasar sebaiknya menjadikan konsumen perempuan sebagai target pasar karena konsumen berjenis kelamin perempuan lebih cenderung memberikan persepsi yang baik terhadap daging kelinci dibandingkan dengan konsumen berjenis kelamin laki-laki. Selain itu pihak pemasar yang hendak mengembangkan usaha daging kelinci di Kota Bogor sebaiknya meningkatkan promosi penjualan, menyesuaikan harga, dan memilih tempat yang strategis agar pasar sasaran lebih mudah dalam mendapatkan produk dari daging kelinci.
3. Untuk peneltian selanjutnya dapat ditambahkan beberapa variabel yang mempengaruhi persepsi konsumen terhadap daging kelinci. Salah satunya adalah pengetahuan konsumen terhadap kandungan gizi daging kelinci. Karena pada saat dilakukan wawancara, konsumen yang memiliki pengetahuan nilai gizi dagng kelinci yang lebih tinggi, cenderung memberikan persepsi yang baik terhadap daging kelinci. Adapun variabel lain yang bisa ditambahkan adalah motivasi dan preferensi. Untuk penelitian selanjutnya akan lebih menarik jika dilakukan komparasi antara konsumen yang sudah mengkonsumsi daging kelinci dengan yang belum, sehingga pasar potensial dan strategi yang direkomendasikan semakin komprehensif. Untuk preferensi sendiri, bisa dilakukan komparasi antara preferensi konsumen daging kelinci dibandingkan dengan daging yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Amalia R.2009. Strategi pengembangan usaha jus buah pada CV.Winner Perkasa Indo Unggul [skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Ariningsih E. 2002. Perilaku konsumsi pangan sumber protein hewani dan nabati sebelum dan pada masa krisis di Jawa [tesis]. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.
Arindita S. 2003. Hubungan antara persepsi kualitas pelayanan dan citra bank dengan loyalitas nasabah [skripsi]. Surakarta: Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadyah Surakarta.
[Balitnak] Balai Penelitian Ternak Ciawi. 2010. Pedoman pembibitan ternak kelinci yang baik. Bogor: Balitnak Kabupaten Bogor.
[Balitnak] Balai Penelitian Ciawi. 2010. Teknologi budidaya ternak kelinci. Bogor: Balitnak Kabupaten Bogor.
[BPS] Badan Pusat Statistik Kabupaten Bogor. 2010. Kabupaten Bogor dalam angka. Bogor. BPS Kabupaten Bogor.
[BPS] Badan Pusat Statistik Kota Bogor. 2010. Kota Bogor dalam angka. Bogor. BPS Kota Bogor.
[BPS] Badan Pusat Statistik Kota Bogor. 2010. Produk domestik regional Kota Bogor 2005-2009. Bogor. BPS Kota Bogor.
[BPS] Badan Pusat Statistik Indonesia. 2009. Rata-rata Konsumsi Protein per Kapita Menurut Kelompok Makanan 1999, 2002 - 2009. Jakarta: BPS Indonesia.
Churchill GA. 2001. Dasar-dasar riset pemasaran. Andriati, Yahya KD, Salim Emil, penerjemah; Saat Suryadi, Kristiaji WC, editor. Jakarta: Penerbit Erlangga. Terjemahan dari: Basic Marketing Research, Fourth Edition. Engel JF, Blackwel RD, Miniard PW. 1994. Budijanto, penerjemah; Jakarta:
Binarupa Aksara. Terjemahan dari: Consumer Behavior.
Engel JF, Blackwel RD, Miniard PW. 1995. Budijanto, penerjemah; Jakarta: Binarupa Aksara. Terjemahan dari: Consumer Behavior 6th ed.
[Ditjennak] Direktorat Jendral Peternakan. 2010. Analisa impor peternakan. Jakarta: Ditjennak Jakarta.
Fannani O. 2006. Analisis respon dan kepuasan konsumen terhadap sate kelinci Kedai Daci studi kasus di Kelurahan Ciparigi, Kecamatan Bogor Utara, Kotamadya Bogor, Provinsi Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanin, Institut Pertanian Bogor.
Hawkins DI, Best RJ. 1996. Consumer Behavior Building Strategy. New York: Mc Graw Hill Inc.
Kartadisatra HR. 1994. Kelinci Unggul. Yogyakarta: Kanisius.
Kotler P, Amstrong. 2001. Prinsip-Prinsip Pemasaran (Terjemahan Jilid I). Jakarta: Erlangga.
Loudon DL, Albert JDB. 1993. Consumer Behaviour: Concepts and Aplicants. New York: Mc Graw Hill Inc.
Mar’at, 1991. Sikap Manusia Perubahan Serta Pengukurannya. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Nazir, M. 2003. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Numarchus T. 2006. Analisis pola konsumsi dan persepsi konsumen ikan laut di Kota Bogor [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Papilia DG, Olds SW. 1986. Human Development . New York: McGraw-Hill
Book Company
Purba RP. 2004. Analisis perubahan pola konsumsi daging di Indonesia [tesis]. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.
Rismunandar. 1990. Meningkatkan Konsumsi Protein dengan Beternak Kelinci. Bandung: Sinar Baru.
Setiawan A. 2006. Analisis persepsi dan pilihan konsumen terhadap produk teh di Kota Bogor [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Peranian Bogor. Sevilla, C. G et al.1993. Pengantar Metode Penelitoan. Tuwu A, Penerjemah: UI
Press. Terjemahan dari: An Introduction to Research Methods.
Sumarwan, U. 2003. Perilaku konsumen : teori dan Penerapannya dalam Pemasaran. Ghalia Indonesia. Jakarta
Supranto, J.1997. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan Untuk Menaikkan Pangsa Pasar. Jakarta: Rhineka Cipta
Tjiptono F. 2008. Strategi Pemasaran. Yogyakarta: Andi Offset
Wicaksena B. 2006. Analisis persepsi konsumen terhadap kopi bubuk Torabika di Jkarta Timur [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
ANALLISIS PE
FAKUL
IN
ERSEPSI
KELINC
HEDEPART
LTAS EK
NSTITUT
KONSUM
CI DI KO
SKRIP ENGKI AG H34070TEMEN A
KONOMI
T PERTA
BOGO
2011MEN TER
OTA BOG
PSI GUSTIAN 014AGRIBIS
DAN MA
ANIAN BO
OR
1RHADAP
GOR
SNIS
ANAJEM
OGOR
P DAGIN
MEN
G
RINGKASAN
HENGKI AGUSTIAN Analisis Persepsi Konsumen Terhadap Daging Kelinci di Kota Bogor. Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan FEBRIANTINA DEWI).
Peternakan merupakan salah satu subsector pertanian penyuplai protein hewani yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Namun saat ini kebutuhan tersebut sebagian besar masih dipenuhi dengan cara mengimpor. Oleh sebab itu perlu dikembangkan ternak lokal yang dapat membantu dalam penyediaan protein hewani. Salah satu potensi ternak lokal yang bisa dikembangkan adalah kelinci. Kelinci mempunyai banyak keunggulan untuk dikembangkan. Namun pada kenyataannya daging kelinci belum terlalu dikenal di Kota Bogor.Hal ini salah satunya disebabkan oleh adanya masalah psikologis yang dihadapi masyarakat saat mengkonsumsi daging kelinci. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) menganalisis karakteristik konsumen daging kelinci di Kota Bogor (2) mengetahui persepsi konsumen Kota Bogor terhadap daging kelinci, (3) menganalisis variabel apa saja yang mempengaruhi persepsi konsumen terhadap daging kelinci di Kota Bogor, (4) mengetahui konsumen potensial daging kelinci, dan (5) memberikan rekomendasi bauran pemasaran produk daging kelinci di Kota Bogor.
Penelitian dilaksanakan di Kota Bogor selama bulan Mei 2011. Responden yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 50 responden yang dipilih dengan metode convenience. Metode analisis data menggunakan metode deskriptif dan analisis regresi logistik biner.
Karakteristik konsumen konsumen daging kelinci yang ada di Kota Bogor dapat dibagi berdasarkan usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan pengeluaran. Berdasarkan usia, mayoritas konsumen berada pada usia produktif, yaitu antara 31-40 tahun sedangkan jumlah yang paling sedikit adalah pada kelompok usia 51-65 tahun. Konsumen tersebut mayoritas berjenis kelamin perempuan dengan tingkat pendidikan tinggi yang didominasi oleh sarjana. Adapun pekerjaan sebagian besar dari konsumen daging kelinci adalah pegawai swasta. Untuk tingkat pengeluaran, sebagian besar konsumen berada pada kisaran antara Rp 1.620.000,00 hingga Rp 2.700.000,00.
Persepsi konsumen dari aspek budaya adalah sangat baik ditinjau dari adat istiadat dan agama konsumen. Dari aspek sosial, konsumen memberikan persepsi yang baik terhadap daging kelinci. Untuk aspek psikologis konsumen juga memberikan persepsi yang baik, hal ini berarti masalah psikologis bagi konsumen yang mengkonsumsi daging kelinci, tidak terlalu berpengaruh. Sedangkan aspek bauran pemasaran mendapatkan persepsi tidak baik dari konsumen, terutama dalam hal promosi. Untuk persepsi keseluruhan, konsumen memberikan persepsi yang baik terhadap daging kelinci.
Variabel yang memiliki pengaruh nyata dalam pembentukan persepsi konsumen terhadap daging kelinci ini adalah variabel jenis kelamin. Konsumen yang berjenis kelamin perempuan cenderung memberikan persepsi yang baik terhadap daging kelinci 8,3 kali dibandingkan konsumen pria.
Pasar potensial dari daging kelinci inilah adalah para konsumen wanita golongan ekonomi menengah ke atas dengan menonjolkan aspek kesehatan yang ditawarkan oleh daging kelinci.
Rekomendasi bauran pemasaran yang bisa dilakukan pemasar antara lain: membuat produk inovatif, bekerja sama dengan kelompok ternak kelinci, menetapkan pasar sasaran menengah ke atas, menciptakan layanan delivery order, membangun lokasi usaha di wilayah yang memiliki konsumen potensial yang lebih besar, menyebarkan pamflet dan brosur mengenai daging kelinci, mengikuti pameran-pameran, serta menggunakan media internet.
I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar BelakangPeternakan memegang peranan penting dalam pembangunan nasional dan perekonomian Indonesia. Bidang peternakan memiliki kontribusi dalam pemenuhan kebutuhan hidup manusia yaitu sebagai komoditas utama penghasil daging, telur, susu, maupun produk sampingan berupa kotoran. Peternakan juga berkontribusi dalam menyediakan sumber protein dalam bentuk protein hewani. Protein hewani merupakan bagian yang sangat penting bagi tubuh manusia karena sifatnya yang sulit digantikan dan merupakan pembawa sifat keturunan dari generasi ke generasi dan sangat berperan dalam proses perkembangan kecerdasan manusia dan pembangunan bangsa.
Indonesia, pada saat ini cukup banyak mengalami masalah kesehatan berupa malnutrisi protein yang cukup besar. Sesuai dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG) dari Departemen Kesehatan, konsumsi ideal protein untuk orang Indonesia dewasa rata-rata sebesar 55,14 gram/hari. Dari Tabel 1 dapat dilihat kebutuhan rata-rata protein masyarakat Indonesia.
Tabel 1. Angka Kecukupan Gizi (Energi dan Protein) Rata-Rata yang Dianjurkan untuk Usia 7-19 Tahun (per orang per hari)
Umur Berat Badan
(Kg)
Tinggi Badan (Cm) Energi (Kkal) Protein (g)
7-9 tahun 25 120 1800 45 Pria : 10-12 tahun 13-15 tahun 16-19 tahun 35 46 55 138 150 160 2050 2400 2600 50 60 65 Wanita : 10-12 tahun 13-15 tahun 16-19 tahun 37 48 50 145 153 154 2050 2350 2200 50 57 50
Sumber: Departemen Kesehatan (2004)
Pada kenyataannya pemenuhan protein di Indonesia masih di bawah AKG yaitu sebesar 54,35 gram/hari di mana 40,58 persen protein disokong oleh konsumsi serealia seperti beras. Sedangkan sumber-sumber protein seperti hewan ternak, susu, sayuran, dan telur hanya dikonsumsi masyarakat berkisar nol hingga enam persen saja (BPS, 2009). Hal ini dikarenakan pola konsumsi masyarakat Indonesia yang sebagian besar menjadi beras sebagai makanan pokok sehingga
kontribusi serealia menjadi sangat besar. Pada Tabel 2 disajikan Rata-rata Konsumsi Protein per Kapita Menurut Kelompok Makanan.
Tabel 2. Rata-rata Konsumsi Protein per Kapita Menurut Kelompok Makanan (2005 – 2009) No. Komoditi 2005 2006 2007 2008 2009 1 Padi-padian 23.69 23.33 22.43 22.75 22.06 2 Umbi-umbian 0.45 0.41 0.4 0.42 0.33 3 Ikan 8.02 7.49 7.77 7.94 7.28 4 Daging 2.61 1.95 2.62 2.4 2.22
5 Telur dan susu 2.71 2.51 3.23 3.05 2.96
6 Sayur-sayuran 2.52 2.66 3.02 3.01 2.58
7 Kacang-kacangan 6.31 5.88 6.51 5.49 5.19
8 Buah-buahan 0.43 0.39 0.57 0.52 0.41
9 Minyak dan lemak 0.48 0.45 0.46 0.39 0.34
10 Bahan minuman 1.08 1 1.13 1.06 0.98 11 Bumbu-bumbuan 0.82 0.81 0.76 0.73 0.68 12 Konsumsi lainnya 1.03 0.95 1.43 1.37 1.21 13 Makanan jadi 6,44 5.83 7,33 8,36 8,10 Jumlah 55.27 53.65 57.66 57.49 54.35 Sumber: BPS (2010)
Pada Tabel 2 dapat dilihat rata-rata konsumsi protein per kapita penduduk Indonesia sebagian besar masih bergantung pada beras-berasan yang kandungan proteinnya hanya berkisar antara dua hingga delapan gram, dibandingkan dengan daging dan telur yang kandungan proteinnya masing-masing berkisar antara 14 sampai 55 gram dan 10 sampai 17 gram. Hal ini dikarenakan masih terbatasnya kemampuan Indonesia dalam mencukupi sumber protein hewani yang berupa daging, telur, dan susu melalui hasil dari ternak lokal. Padahal dalam kurun waktu lima tahun ke depan, kebutuhan protein hewani penduduk Indonesia belum dapat dipenuhi hanya dengan mengandalkan hasil pemotongan ternak lokal, baik ruminansia maupun nonruminansia (Balitnak, 2008). Untuk memenuhi kebutuhan protein asal ternak tersebut, pemerintah melakukan impor ternak bakalan dan daging dari negara tetangga.
Selama kurun waktu 5 tahun terakhir (2003-2007) angka impor ternak dan hasil ternak meningkat cukup tajam, baik ternak, hasil ternak, dan bahan baku pakan dan bahan-bahan selain yang digunakan untuk pangan yang berasal dari
ternak. Sementara nilai ekspor yang masih jauh lebih kecil dibandingkan impor menyebabkan Indonesia mengalami deficit dalam neraca ekspor impor ternak seperti yang ditunjukkan pada Tabel 3 berikut:
Tabel 3. Neraca Ekspor-Impor Komoditi Peternakan Tahun 2003-2007 (US$ 000) No
.
Uraian Tahun/ Year
2003 2004 2005 2006 2007 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1 Ekspor / Export 336.492,6 356.370,1 354.644,8 288.784,9 377.671,9 2 Impor/ Import 512.753.0 694.099,1 817.668,2 886.754,4 1.386.482,8 3 Neraca / Balanc e (176.260,4 ) (337.729,0 ) (463.023,4 ) (597.969,5 ) (1.008.810,9 )
Sumber: Direktorat Jenderal Peternakan Dan Kesehatan Hewan (2010)
Tahun 2003 nilai impor keseluruhan ternak, belum termasuk bahan baku pakan dan hasil-hasilnya berjumlah US$ 512.753.000 yang identik Rp 4,7 triliun. (kurs rupiah ekuvalen Rp 9.200). Kemudian pada tahun 2007 ini meningkat menjadi US$ 1.386.482,8 ribu atau menyedot devisa senilai Rp12,8 triliun, Tetapi nilai impor tahun 2007 akan semakin membengkak apabila kita memasukkan nilai impor bahan baku pakan unggas yang bernilai US$ 1.102.373.548,52 atau berjumlah Rp. 10,2 triliun sehingga nilai impor keseluruhan peternakan untuk tahun 2007 menjadi berjumlah Rp. 22,9 triliun (Ditjennak 2010). Melihat nilai impor tehadap hewan ternak yang terus mengalami peningkatan, sudah seharusnya dikembangkan sumber daya yang ada di negara kita sendiri, misalnya dengan mengembangkan ternak lokal yang potensial.
Kelinci merupakan ternak potensial yang keberadaannya belum banyak mendapat perhatian dari berbagai pihak. Menurut Sartika (2009), kelinci cepat dan mudah berkembang biak, sehingga sangat cocok dikembangkan pada masyarakat miskin karena hanya membutuhkan input pakan yang relatif murah. Dengan kemampuan berkembang biak yang sangat cepat, maka kelinci sangat
memungkinkan untuk dikembangkan dalam rangka memenuhi kekurangan pasokan daging di Indonesia. Selain itu daging kelinci juga lebih sehat, kandungan kolesterolnya rendah, kandungan proteinnya lebih baik dibandingkan ayam, babi, domba, dan sapi, serta kotorannya dapat dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk organik sebagai salah satu solusi dalam mencegah pemanasan global yang saat ini menjadi perhatian dunia. Perbandingan komposisi kimia antara kelinci dengan ternak lain disajikan dalam Tabel 4.
Tabel 4. Perbandingan Komposisi Kimia Daging Kelinci dan Ternak Lainnya Jenis Energi (kkal/kg) Sodium (mg/g) Lemak Jenuh (mg/g) Kadar Air (%) Protein (%) Lemak (%) Kelinci 160 40 37 70 21 8 Ayam 200 70 67 19.5 12 Sapi 380 65 41.3 49 15.5 35 Domba 345 75 55.4 53 15 31 Babi 330 70 38.6 54.5 15 29.5 Sumber: Sarwono (2001)
Komposisi gizi kelinci yang sehat tersebut membuat ternak ini cocok untuk dijadikan menu diet. Daging kelinci bisa diolah menjadi berbagai produk turunan, seperti abon, bakso, dendeng, dan sate kelinci. Selain untuk menu diet, daging kelinci juga bisa mencegah kanker dan menolong penderita asma. Hal ini dikarenakan kelinci mengandung niasin (8,43 mg/100 gr bahan, setara dengan 42% dari total kebutuhan harian), vitamin B12 (8,3 µg/100 gr bahan), dan selenium (Se) dengan kadar 38,5 µg/100 gr bahan, suatu jumlah yang dapat menutupi sekitar 55 persen kebutuhan harian tubuh akan unsur ini dan daging kelinci juga mengandung ketotifen, yaitu kandungan kimia organik yang mampu membantu meredakan asma.1
Dari keunggulan-keunggulan tersebut, kelinci sudah seharusnya mampu menjadi salah satu penyumbang protein nasional yang sangat potensial. Namun pada kenyataanya masyarakat sendiri secara psikologis masih belum nyaman mengkonsumsi daging kelinci. Hal ini dikarenakan kelinci umumnya dianggap sebagai hewan kesayangan yang lucu dan menggemaskan. Bahkan ada yang menganggap kelinci mirip dengan kucing sehingga tidak tega untuk
mengkonsumsinya. Hal ini membuat daya terima masyarakat terhadap daging kelinci juga menjadi sangat rendah.
Bogor merupakan salah satu wilayah yang mulai mengembangkan kelinci sebagai komoditas hias dan pangan. Pertumbuhan populasi ternak kelinci di Kabupaten Bogor, yang merupakan lokasi terdekat penghasil daging kelinci bagi Kota Bogor, menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dari tahun 2008 hingga 2009, yaitu mencapai 24 persen di mana pada tahun 2008 jumlah populasi kelinci di Kabupaten Bogor sebanyak 11.362 menjadi 14.165 pada tahun 2008 (Disnakan 2010). Hal ini diikuti dengan mulai menjamurnya usaha pengolahan daging kelinci di kawasan puncak dan sekitarnya. Namun para pengusaha pengolah daging kelinci tersebut mengeluhkan antusiasme dari warga Bogor yang masih sangat rendah dalam mengkonsumsi daging kelinci. Sehingga pertumbuhan usaha mereka terkesan lambat. Kebanyakan dari masyarakat sekitar masih awam dengan daging kelinci untuk dikonsumsi. Hal ini dikarenakan kelinci merupakan hewan kesayangan yang lucu dan sangat menggemaskan sehingga menimbulkan hambatan psikologis untuk mengkonsumsinya.
Daging kelinci merupakan produk baru di Kota Bogor yang sangat prospektif dikembangkan namun belum mendapatkan penerimaan dari masyarakat luas, maka perlu dilakukan analisis mengenai konsumen daging kelinci di Kota Bogor. Adapun analisis yang akan dilakukan adalah mengenai persepsi konsumen dan penjabaran mengenai karakteristik konsumen daging kelinci di Kota Bogor. Hal ini sangat penting dilakukan agar para pengusaha maupun calon pengusaha yang akan masuk ke dalam industri pangan olahan berbahan baku daging kelinci memiliki gambaran mengenai konsumen yang akan menjadi sasaran mereka sehingga pemasaran yang dilakukan bisa lebih efektif. Selain itu, dari persepsi konsumen yang sudah mengkonsumsi daging kelinci tersebut, bisa menjadi acuan bagi konsumen lain yang belum pernah mengkonsumsi daging kelinci, sehingga diharapkan mampu meningkatkan penerimaan konsumen terhadap daging kelinci.
1.2 Rumusan Masalah
Kelinci merupakan salah satu komoditas pangan penghasil daging yang mulai dikembangkan di wilayah Bogor. Hal ini dikarenakan berbagai keunggulan yang dimiliki oleh daging kelinci dibandingkan dengan ternak lainnya. Di wilayah
Bogor sendiri populasi kelinci mengalami peningkatan sebesar 24,67 persen dimana tahun 2008 populasi kelinci sebanyak 11,362 ekor menjadi 14,165 ekor pada tahun 2009. Pertumbuhan ini dikarenakan pemerintah Bogor mulai gencar menggalakkan pengembangan ternak kelinci di wilayah Bogor, salah satunya melalui pembentukan kampong kelinci. Pemerintah daerah Bogor membagikan bantuan dalam bentuk ternak kelinci kepada kelompok tani dan masyarakat miskin di wilayah Bogor untuk dikembangkan menjadi usaha kelompok maupun keluarga.
Pertumbuhan populasi kelinci di kawasan Bogor ini lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa ternak seperti ayam petelur, itik, sapi potong, kerbau, dan kambing non PE. Perbandingan tingkat pertumbuhan populasi beberapa hewan ternak tersebut disajikan pada Tabel 5 berikut.
Tabel 5. Perbandingan Tingkat Pertumbuhan Populasi Beberapa Hewan Ternak di Kabupaten Bogor (2008-2009)
No. Jenis Ternak Tingkat Pertumbuhan Populasi
(%) 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kelinci Ayam Petelur Itik Sapi Potong Kerbau Kambing Non PE 24,67 11 4,27 -3,98 0,89 5,29
Sumber: Disnakan Kabupaten Bogor (2010)
Pertumbuhan populasi kelinci tersebut ternyata tidak menunjang pertumbuhan usaha makanan olahan dari daging kelinci. Dari hasil wawancara dengan beberapa pemilik usaha yang menjual pangan olahan dari daging kelinci, dari waktu ke waktu pengunjung mereka mulai menurun. Sehingga pemesanan kelinci potong pun tidak rutin dilakukan, hanya sebatas jika ada pesanan. Meskipun daging kelinci mempunyai nilai gizi yang lebih unggul dibanding daging yang berasal dari ternak lainnya, namun pada kenyataannya daging kelinci belum memasyarakat. Hal ini dikarenakan adanya beberapa hambatan psikologis dan teknis, antara lain kelinci merupakan hewan kesayangan, dan bentuknya mirip kucing dan tikus, serta adanya anggapan bahwa kelinci tidak halal untuk dimakan.
Kehalalan daging kelinci telah terjamin dengan terbitnya Fatwa MUI pada tanggal 12 Maret 1983 M yang menetapkan bahwa memakan daging kelinci hukumnya halal (Balitnak, 2010).
Kurang populernya daging kelinci di masyarakat kemungkinan pada adanya kebiasaan makan (food habit) yang susah dirubah karena manusia biasanya memiliki ikatan batin, loyalitas dan sensitifitas terhadap kebiasaan makannya, meskipun dalam jangka waktu yang lama dapat ditembus pula pola kebiasaan makan tersebut, disamping itu efek psikologis sangat mendominasi kebiasaan makan daging kelinci dan sementara pihak ada yang beranggapan bahwa daging kelinci mempunyai rasa khas yang belum tentu dapat diterima oleh semua orang (Suradi, 2003).
Fannani (2006) dalam penelitiannya menyatakan bahwa perkembangan usaha sate kelinci di Kota Bogor, berjalan dengan sangat lambat. Hal itu bisa dilihat dari kuantitas produsen olahan daging kelinci yang bisa ditemui oleh penulis. Beberapa faktor yang menyebabkan perkembangan usaha ini terhambat seperti: pasokan daging kelinci yang cukup sulit dan mahal, serta persepsi konsumen yang masih awam terhadap kelinci.
Dari pemaparan di atas, maka didapat rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana karakteristik konsumen daging kelinci di Kota Bogor?
2. Bagaimana persepsi konsumen terhadap daging kelinci di Kota Bogor?
3. Apa saja variabel yang mempengaruhi persepsi konsumen terhadap daging kelinci di Kota Bogor?
4. Apa saja yang dapat dilakukan dalam menjalankan usaha daging kelinci di Kota Bogor?
1.3 Tujuan
1. Menganalisis karakteristik konsumen daging kelinci di Kota Bogor. 2. Mengetahui persepsi konsumen Kota Bogor terhadap daging kelinci.
3. Menganalisis variabel apa saja yang mempengaruhi persepsi konsumen terhadap daging kelinci di Kota Bogor.
4. Memberikan rekomendasi kepada pihak pengusaha yang baru akan memulai usaha daging kelinci atau yang akan mengembangkan usaha daging kelinci di Kota Bogor.
1.4 Manfaat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak, diantaranya:
1. Bagi mahasiswa, penelitian ini menjadi sarana untuk menambah wawasan dan aplikasi dari teori yang didapatkan diperkuliahan. Diharapkan pula penelitian ini bisa menjadi referensi bagi mahasiswa lain untuk penelitian lainnya.
2. Bagi para pengusaha produk olahan daging kelinci, penelitian ini bermanfaat dalam memberikan data mengenai pasar potensial dan konsumen sasaran dari produk turunan daging kelinci.
3. Bagi para peternak kelinci, hasil penelitian ini bisa digunakan dalam mengambil keputusan mengenai komposisi pemeliharaan kelinci hias dan kelinci pedaging.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sejarah Perkembangan KelinciKelinci semula merupakan hewan liar yang sulit dijinakkan. Kelinci dijinakkan sejak 2000 tahun silam dengan tujuan keindahan, bahan pangan dan sebagai hewan percobaan. Hampir setiap negara di dunia memiliki ternak kelinci karena kelinci mempunyai daya adaptasi tubuh yang relatif tinggi sehingga mampu hidup di hampir seluruh dunia. Kelinci dikembangkan di daerah dengan populasi penduduk relatif tinggi, Adanya penyebaran kelinci juga menimbulkan sebutan yang berbeda, di Eropa disebut rabbit, Indonesia disebut kelinci, Jawa disebut trewelu dan sebagainya. Adapun menurut Kartadisastra (1994) domestikasi kelinci pertama kali dilakukan oleh bangsa romawi yang menginginkan sumber pangan yang mudah. Domesitikasi dilakukan dari kelinci- kelinci hutan yang liar, proses domestikasi ini pun untuk selanjutnya menyebar ke