BAB V PENUTUP
B. Saran
1. Penggunaan campur kode dan alih kode dalam proses belajar mengajar sebenarnya kurang baik, apalagi penggunaan campur kode dan alih kode ini dilakukan pada saat belajar bahasa Indonesia. Keterbiasaan menggunakan bahasa daerah akan menyebabkan dampak negatif, apabila bahasa yang digunakan itu berlainan atau bertentangan dan bersifat mengacaukan karena perbedaan sistem bahasa, hal ini akan menyebabkan timbulnya kesulitan dalam pengajaran. Ini merupakan salah satu sumber kesalahan berbahasa yang akhirnya melahirkan interferensi, yaitu penyimpangan dari norma-norma bahasa sebagai akibat pengenalan terhadap bahasa lain. Seharusnya pendidik bisa memberikan contoh penggunaan bahasa yang baik dan benar, agar peserta didik terbiasa menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional.
2. Penggunaan campur kode dan alih kode yang dilakukan pendidik dan peserta didik dalam proses belajar mengajar memang kurang baik, tapi di sisi lain penggunan campur kode dan alih kode mempunyai fungsi yang bisa memberikan manfaat baik itu untuk pendidik maupun peserta didik. pendidik lebih mudah untuk mentransfer ilmunya sementara peserta didik akan lebih mudah memehamai materi yang sedang dipelajari.
DAFTAR PUSTAKA
Aslinda dan Leni Syafyahya, Pengantar Sosiolinguistik, Bandung: Refika Aditama, 2007
Chaer, Abdul, Kajian Bahasa. Jakarta: Rineka Cipta, 2007.
---Morfologi Bahasa Indonesia, Jakarta: Rineka Cipta, 2008. ---Linguistik Umum, Jakarta: Rineka Cipta, 2012.
Chaer, Abdul, dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta, 2010.
Edi Subroto D, Pengantar Metodologi Penelitian linguistik Stuktural, Surakarta: USM, 2007.
Achmad HP dan Alek Abdullah, Linguistik Umum, Jakarta: Erlangga, 2012.
Fatimah Djajasudarma, Metode Linguistik Ancangan Metode Penelitian dan Kajian, Bandung: Aditama, 2010.
Heryanto,Yusuf, Ikhtisar Ilmu Bahasa. Bogor: Media Ilmiah dan STKIP Muhammadiyah, 2010.
Jendre dalam weebesite:http://datayuni.blogspot.com/2010/06/campur-code.html Jendra, Made Iwan Indrawan, Sosiolinguistic The Study Of Societies Languages,
Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010.
Kridalaksana, Harimurt,. Kamus Linguistik, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008.
Mahsun, Metodologi Penelitian Bahasa. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012. Munadi Yudhi, Media Pembelajaran, Jakarta: Gaung Persada Press, 2012. Nuryani dan Dona Aji Kurnia Putra, Psikolinguistik, Ciputat: Mazhab, 2013. Ramlan M, Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis, Yogyakarta: Karyono, 2005.
Ramlan A. Gani dan Mahmudah Fitriyah Z.A, Disiplin Berbahasa Indonesia. Jakarta: FITK PRESS, 2011.
Sagala Saiful, Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung: Alfabeta, 2011. Soeparno, Dasar-dasar Linguistik Umum, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002. Subuki, Makyun, Semantik Pengantar Memahami Makna Bahasa, Jakarta:
Transpustaka, 2011.
Sugiyono. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta, 2011. Sumiati dan Asra, Metode Pembelajaran, Bandung: Wacana Prima, 2008. Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara, 2003.
Syamsudin AR, dan Vismaia S. Damaianti, Metodologi Penelitian Pendidikan Bahasa. Bandung: Rosdakarya, 2009.
Tarigan, Henry. dan D. Tarigan. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa. Bandung: Angkasa, 2011.
Verhaar, Asas-asas Linguistik Umum, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2010.
Zuriah, Nurul. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara, 2005.
TRANSKRIPSI
KEGIATAN PROSES BELAJAR MENGAJAR
NO
A. KEGIATAN AWAL Guru memasuki ruang kelas
Guru membimbing peserta didik untuk doa bersama sebelum memulai pelajaran
1 Guru “Anak-anaku sekalian marilah untuk memulai pelajaran hari ini tolong kepada KM untuk disiapkan dan membaca doa secara bebarengan untuk KM silahkan disiapkan dulu”. (Guru dan siswa melakukan berdoa bersama-sama sebelum memulai pelajaran)
2 Guru
“Baiklah sebagaimana moto yang biasa kita ucapkan pada saat kita belajar tentu poe iyeu harus lebih baik dari pada hari kemarin, siap?”
3 Siswa “siap...”
4 Guru “Sebelumnya bapak tanyakan dulu hari ini siapa yang tidak hadir?” tolong coba lihat absennya, siapa tadi yang tidak hadir tadi?”
5 Siswa “Rendi ...”
6 Guru “Ini Rendi geus opat poe iyeu... ya?” 7 Siswa “muhun pak”
8 Guru “Rendi udah empat hari tidak masuk, keterangan dua hari sakit tapi berikutnya alpa, apa betul ini?”
9 Siswa “betul...”
10 Guru “Siapa terus setelah ini lagi?” 11 Siswa “Sultan...”
12 Guru “Ada suratnya?” 13 Siswa “Gak ada pak..”
14 Guru “Tidak ada, alpa ya... yang lain hadir semua...?” 15 Siswa “Hadir...”
1. Apersepsi
16 Guru “Terimakasih, ya kalau memang sudah siap hari ini kita teruskan untuk membahas yaitu materi berikutnya ya, tapi bapak ingatkan kembali kemarin kita sudah sama-sama membicarakan tentang pantun ya?. Kemarin itu pertemuan terakhir kita membicarakan tentang pantun ya?, bahwa di dalam pantun itu ada ketentuan-ketentuan yang khusus yang masuk karidor, kategori atau kelompok dari pantun itu sendiri ya, dimana kita tahu bahwa pantun biasanya terbagi dua, ada
dua bagian, bagian baris pertama berupa sampiran kemudian dua baris kedua berupa isi dan biasanya seperti itu di dalam pantun. Baik kalau memang materi kemarin sudah kita pahami, untuk pertemuan kali ini kita akan sama-sama mencoba ya, memahami kajian kita yaitu tentang puisi ya, tentu ngomongkeun masalah puisi urang geus teu aneh deui nya’, sudah tidak asing lagi, mengapa? karena kita banyak dihadapkan dengan objek-objek yang memang selama ini bisa kita buat atau kita susun sebagai dasar pokok puisi itu sendiri ya, umpamanya saja dilingkungan sekolah kita sering dihadapkan dengan beraneka bunga atau umpamanya dengan pegunungan atau mungkin bisa juga dengan sawah ya, dimana dalam sawah itu ada padi yang menguning atau mungkin juga ada sebagian padi yang masih hijau yang belum keluar, ini juga ketika kita dihadapkan ke sana maka tentu saja dengan mengetahui unsur-unsur dari puisi itu sendiri”.
2.Motivasi
17 Guru “InsyaAllah ya, kita akan mencoba dan untuk mampu serta bisa untuk membuat puisi. Tetapi ada sesuatu hal yang peting yang perlu kita ketahui dalam membuat puisi yang pertama adalah tentu unsur-unsurnya. Dimana hiji puisi bisa dipilih atau dengan kata lain dengan pilihan kata, artinya banyak kata yang kita bisa pilih kata mana yang lebih tepat untuk kita buatkan sebagai dasar puisi, dengan kata lain bahwa di dalam bahasa Indonesia disebutkan dengan sinonim ya, iya kan? artinya kata-katanya itu lafalnya, bunyinya berbeda tapi mungkin bisa jadi makna kata yang berbeda itu hampir sama minimal mirip. Itulah yang disebut dengan sinonim maka dalam hal ini kita harus pandai-pandai milih kana eta kata anu bakal ku urang dijadikeun puisi nah ini salah satu unsur dari puisi iya kan?. Lalu yang kedua dalam puisi itu kita kenal ada yang disebut dengan sajak yaitu penentuan atau persamaan bunyi pada akhir baris puisi itu sendiri contohnya kalau AA. Kita ketahui juga kan dalam puisi itu ada irama, ada sajak kalau sajaknya kita ukur ke dalam rumusnya ada yang disebut degan sajak silang. Sajak silang itu umpamanya baris pertama A dan baris kedua B, baris ketiga A baris ke empat B, ini namanya silang tentu saja dipersamaan akhir baris. Baris pertama AA kemudian yang ke empat disebut dengan baris merdeka, sajak merdeka ini yaitu tidak ada persamaan bahwa
akhir baris pertama berbeda dengan bunyi akhir baris kedua enya kitu deui akhir baris kadua beda jeung akhir baris katilu, akhir baris ketiga berbeda pula dengan akhir baris keempat maka itu bisa disebutkan ABCD berarti merdeka atau yang disebut dengan sajak bebas”.
B. KEGIATAN INTI 1. Eksplorasi
18 Guru “InsyaAllah untuk kali ini kita akan bicara tentang itu tentang bagaimana membuat puisi bebas. Itulah yang kedua unsur puisi ini penting, iyeu teh penting dikanyahokeun ku urang sabab urang tidak akan bisa mengukur, membangun sebuah puisi kalau tidak diketahui unsur-unsurnya, kemudian berikutnya yaitu ada yang disebut dengan majas, jadi diksi tadi kata-kata yang kita pilih lalu kita rangkai yang dibuat kalimat maka kalimat-kalimat itu ada yang mengandung majas, ada yang bermakna majas atau ada yang bermakna majas, nah itu juga bisa kita bangun dengan diksi tadi dengan memilih kata sehingga bahwa kalimat itu termasuk kalimat yang bermajas. Itu diantara unsur yang ketiga unsur yang membangun sebuah puisi. Untuk itu untuk lebih jelasnya baik kita lihat dulu catatan kita hari, tentang membuat puisi. Kemudian puisi juga ada yang namanya irama dan ingat bahwa puisi itu adalah karangan yang terikat berbeda dengan prosa, prosa itu bentuknya bebas tidak terikat oleh syarat-syarat yang ada pada puisi. Berbeda dengan puisi, puisi itu terikat oleh syarat-syarat, yang pertama ingat, jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris, ada berapa suku kata dalam tiap-tiap barisnya, yang kedua jumlah baris dalam tiap-tiap bait, kalau di dalam prosa kita mengenal yang namanya alenia, kita mengenalnya dengan paragraf kalau dalam puisi, tapi kalau di dalam prosa terdapat alenia atau paragraf kalau dalam puisi tidak mengenal istilah alenia atau paragraf, yang kita ketahui dalam puisi yang kita kenal istilah bait. Yang keempat adalah irama ini penting karena bapak katakan tadi maca puisi teh beda jeung maca prosa, iya kan? baik dari intonasinya yang jelas beda lah, dituntut adanya irama dalam membacakan puisi. Dan yang terakhir adalah sajak yaitu penentuan akhir baris, ini juga berbeda dengan prosa, kalau prosa kan akhir barisnya tidak terikat, kalau dalam sebuah puisi akhir barisnya itu disitulah
ada sajak. Kira-kira sudah ada bayangan tidak kalau kita akan membangun sebuah puisi? Ada gak bayangan? Dengan mengumpulkan kata-kata kemudian dengan kata-kata yang sudah ada kita bangun sebuah puisi. InsyaAllah nanti akan bapak contohkan ada gambar, dari gambar itu nanti apa yang kamu lihat, jujur dan konsekwen sebutkan apa yang ada dalam gambar itu, lalu kalau kita sudah mengidentifikasi kata-kata yang kita lihat langsung dari gambar yang ada barulah kata-kata kita susun menjadi sebuah puisi dengan unsur-unsur yang tadi jangan dilupakan, gitu barangkali. Jadi lamun urang sakali deui lamun urang teh rek nyieun puisi kudu nyaho naon? Unsur-unsurna heula kalau unsur tadi sudah dikanyahokeun, sudah ditemukan oleh kita maka tentu saja dengan mudah membangun atau membuat sebuah puisi. tah ayeuna bapak boga gambar yeuh coba ku maraneh tingali. Jujur dan konsekwen apa yang kamu lihat dari gambar ini tolong sebutkan. Sebutkeun naon wae anu katingali dina gambar, kahiji sebutkeun gambar naon, gambar iyeu gambar naon ?”
19 Siswa “Mawar...”
20 Guru “Anggrek, Mawar?” 21 Siswa “Mawar”
22 Guru “Kembang mawar, apalagi yang kamu lihat?” 23 Siswa “ Daun, duri....”
24 Guru “Ada daunnya?” 25 Siswa “Ada...”
26 Guru “Kemudian setelah daun? kemudian...” 27 Siswa “Tangkai....”
28 Guru “Ada tangkai, betul” bunganya bunga mawar, durinya sudah terlihat, tangkainya juga ada, sudah berapa kata? Mawar, duri, tangkai, nah sekarang kita mengidentifikasikan kata yang ditemukan dari gambar ini yang pertama yaitu ada mawar yang kedua merah yang ketiga daun kemudian keempat tangkai, yang kelima duri yang keenam apa?”
29 Siswa “Hijau...hejo”
30 Guru “Cukup jelas ya, masih ada?” 31 Siswa “Harum...seungit”
32 Guru “Apalagi?” 33 Siswa “Mekar....muka”
34 Guru “Mekar, bunga itu kuncupnya sudah agak terbuka, kuncupna geus muka”
35 Siswa “Indah, cantik geulis”
36 Guru “Jadi melihat bunga warnanya merah berarti indah, masih ada?”
37 Siswa ”Cukup pak”
38 Guru “Kalau kita melihat sesuatu benda itu cantik disebut?” 39 Siswa “Mempesona”
40 Guru “Nah inilah kira-kira kita sudah mengidentifikasi kata-kata dari gambar ini, setelah kita mengidentifikasi terus ku urang kata-kata yang ada itu dirangkai menjadi sebuah kalimat, kalimat-kalimat itu kita bangun akhirnya nanti menjadi sebuah puisi, paham?”
41 Siswa “Paham”
(guru membacakan sebuah puisi)
42 Guru “dari kata-kata yang sudah disebutkan ini, bapak sudah corat coret sebagai dasar contoh dari gambar yang ada, bapak disini akan baca, Mawar...ada kata mawar?”
43 Siswa “ada....”
44 Guru “Kemudian di sini bapak rangkai ada kata merah warna rupamu, ada kata merah?”
45 Siswa “Ada....”
46 Guru “kau sungguh sedap dipandang mata, ada sedap?” 47 Siswa “Indah pak”
48 Guru “kau sungguh indah dipandang mata, nah bapak katakan tadi ada diksi indah di sini hampir sama maknanya dengan sedap, tapi kalau umpamanya dijadikan kau sungguh sedap dipandang mata, nah berarti kata-kata di sini bapak katakan mengandung majas, sebab di sini ada tanggapan dua indera yang berbeda iya kan?, sedap itu kan dirasakan dengan lidah, tapi di sini kau sedap dipandang mata, mata pernah merasakan sedap tidak?
49 Siswa “tidak...”
50 Guru “tapi kalau mata merasakan indah, pernah? 51 Siswa “pernah...”
52 Guru “makanya tadi kita ada diksi ya, ada pilihan kata, supaya kalimat itu mengandung majas bisa saja, kau sungguh sedap dipandang mata, tadi juga tidak salah macakeun kau sungguh indah dipandang mata, kalau yan memandang indah itu kan mata betul, tapi kalau sedap biasanya lidah, jadi ada dua indra,
indera mata dan indera lidah itu tanggapannya berbeda, nanti kalau kalimat itu mengandung majas maka bisa dipilih katanya, diksinya itu. baik bapak bacakan lagi jadi kamu dengarkan saja dulu ya.. kau sungguh sedap dipandang mata, kau nampak cantik ketika mekar merekah.. ada kata mekar..? 53 Siswa “ada...”
54 Guru “harum semerbak kau tebarkan wangi tubuh mu, ada kata harum..?
55 Siswa “ada..”
56 Guru “berikutnya, hijau daun yang menghiasi, ada kata daun...?” 57 Siswa “Ada...?”
58 Guru “kemudian berikutnya lagi ada, semakin membuat kau nampak indah,,, ada kata indah?”
59 Siswa “ada...”
60 Guru “tiupan angin yang lembut, nah ini bagaimana kita merangkainya saja dengan inisiatif kita tentunya kita menambahkan kata-kata lain artinya kita tidak harus terpaku dengan kata yang kita temukan pada gambar ini walaupun kita sudah mengidentifikasi ketika di dalam ini kita tahu di dalamnya ada konjungsi, ada kata sambung, ada kata sifat sehingga kalimatnya berdiri menjadi kalimat yang baik. Kemudian di sini ada kalimat membuatmu berayun-ayun di atas tangkai yang lemah, ada tangakai tidak..?”
61 Siswa “ada...”
62 Guru “kalau orang tadi angin meniup si bunga mawar itu pada tangkai yang lemah, sungguh kau membuat pesona yang luar biasa, tapi kau berduri yang bisa menyakiti. Ada kata duri..?” 63 Siswa “ada...”
64 Guru “inilah setelah kita identifikasi kata-kata yang kita temukan pada gambar ini, lalu kita jadikan sebuah puisi, nah itulah berarti sudah membangun sebuah puisi dengan memenuhi unsur-unsur dari puisi itu sendiri. Sebelum melangkah lebih jauh maka... coba bapak menta yeuh untuk membacakan puisi yang biyeu ku bapak dibacakeun coba salah seorang ke depan untuk membacakan puisi, bapak tunjuk langsung ya, coba Selvi tolong baca”
65 Siswa “enggak mauh ah pak... encan siap “
66 Guru “Selvi encan siap bagaimana kalau lamun ku bapak yeuh diganti ayeuna ka Ummah, Ummah siap mah? Tolong bacakan sok dengekeun”.
67 Siswa “sok atuh ka payun”
(salah seorang siswa membacakan puisi di muka kelas) 2. Elaborasi
68 Guru
bagaimana kalau bapak tugaskan membuat puisi dengan melihat gambar-gambar anu tos aya, sok ayeuna urang ganti
gambarna ka gambar anu sejen nya’, lalu kemudian ngelempokeun atau mengidentifikasi kata anu aya dina eta gambar seperti tadi paham?”
69 Siswa ”pahaaam” 70 Guru
“baik... untuk itu bapak menta maneh nyien kelompok heula sok nyieun kelompok” sok kelompok hiji mana?, ini kelompok satu, ini kelompok dua, kelompok tilu mana?, teuras kelompok empat, berapa kelompok?”
71 Siswa “limaaa”
72 Guru “ hiji, dua, tilu, opat, lima, tah di diyeu kelompok nu kalima, nu kaopat” masing-masing kelompok aya jubirna
nya’, sebelum kita mulai barangkali dari yang tadi bapak jelaskan ada hal-hal yang akan ditanyakan, sok tanyakeun siapa yang mau bertanya?” Wiwi...?
73 Siswa “pak..lamun unsur-unsur puisi yang bapak jelasin tadi salah sahijina teu aya kumaha?”
74 Guru “baik sebelum bapak jawab, dilempar dulu sama teman -temannya, tadi kan sudah jelas ya lamun diantara unsur-unsur tadi teh teu aya kumaha bisa dibangun teu puisi teh? Sok anu bisa ngajawab heula, bisa teu kira-kira? 75 Siswa “heunteu”
76 Guru “coba nu ngomong teu bisa, anu jawab bisa? Urang pan tadi niat puisina puisi bebas iya kan? Tentu saja bahwa dari unsur-unsur puisi itu sendiri ada yang tidak ada di dalam puisi itu sendiri, pan tadi aya opat diantarana syarat mutlak puisi jumlah suku kata dalam tiap baris, jumlah baris dari tiap-tiap bait, kemudian irama dan sajak itu mutlak harus ada, tapi diantarana tadi aya unsur majas, kumaha tah lamun euweuh kata-kata bermajas sabalikna bisa heunteu? Nah bapak neugaskeun eta teh bisa lamun tadi dina unsur puisi tadi teu aya maka bisa wae ngadameul puisi, tapi anu opat mah anu mutlak eta kudu aya sehingga dina salah sahiji geus kaluar kadang-kadang dina puisina puisi bebas maka jumlah suku kata bait pertama dengan bait kedua
kadang-kadang sudah berbeda, kadang-kadang-kadang-kadang beda eta teh, bait kahiji mah delapan kata, bait kadua mah tujuh kata, delapan kata itu bisa saja terjadi apalagi puisi yang kita buat adalah puisi-puisi bebas. Jadi bapak simpulkeun nya’ teu naon -naon lamun salah satu unsur dari puisi itu teu aya urang rek nyieun puisi, hanya barangkali nanti puisinya kurang sempurna saja, kalau ada kata-kata bermajas kan puisinya lebih cantik. Sudah dibagi kelompok ya?”
77 Siswa “sudah pak”
78 Guru “baik ini bapak sudah siapkan, panorama alam, kemudian taman, pegunungnan ini sebagai objeknya yang bisa kita lihat kemudian tolong kamu sebutkan seperti tadi contohnya apa yang kamu lihat dari gambar ini, paham?”
79 Siswa ”paham”
(Guru membagikan gambar sebagai media pembelajaran) 80 Guru ”kelompok satu, kelompok hiji, kelompok dua, kelompok tiga,
kelompok empat, satu lagi ya, hiji deui yeuh kelompok lima sok kapayun. Silahkan dilihat apa saja yang ada di dalam gambar itu, kemudian diidentifikasi kata-katanya seperti yang kamu lihat di papan tulis ini, bapak kasih waktu sepuluh menit ya?”
81 Siswa “iya pak...muhun pak..”
82 Guru “ada yang mau ditanyakan mangga tanyakeun?”
83 Siswa ”pak.. ari tema puisi upami berdasarkan alam khayal
atawa imajinasi kenging teu?”
84 Guru ”begini ya, itu kan sudah ada gambar , sakurang-kurang na maraneh yeuh tinggal melihat objek anu aya”.
(guru mengamati jalannya diskusi yang dilakukan oleh peserta didik)
85 guru “waktu yang kita gunakan sudah berjalan lima menit barangkali dari kelompok yang sudah dibangun ada pertanyaan?, tapi sataacana bapak ingetkeun deui supaya urang paham bahwa unsur-unsur puisi adalah unsur yang membangun terbentuknya sebuah puisi, unsur pertama yaitu tema, yang kedua adalah diksi atau pilihan kata, yang ketiga adalah rima atau sajak yaitu persamaan kata, keempat yaitu irama kemudian ada ungkapan atau majas. Tadi bapak poho teu ngajeulaskeun nyaeta dina unsur puisi teh aya pencitraan, citraan itu terbagi kepada beberapa bagian. Citraan nanti akan dihubungkan dengan panca indera, ada citraan
penciuman atau penglihatan atau citraan pendengaran, penciuman contohna seperti kiyeu harum semerbak mawar ditaman karena harum semerbak nah citraan puisi seperti iyeu teh ngarana citraan penciuman, atau contoh anu ku bapak disebutkeun Gunung menjulang tinggi, padi menguning menghampar di sekelilingnya nah itu berarti citraan penglihatan, sebab urang nyebutkeun Gunung menjulang tinggi, padi menguning itu memang dilihat oleh kita, ada lagi perasaan umpamanya detak jantung ini seolah-olah tidak bisa dibohongi nah itu perasaan dan yang terakhir unsurna nu ku bapak disebutkeun tadi aya unsur pencitraan puisi, nanti setelah jadi puisinya akan terasa pencitraan ini, penglihatan, penciuman, pendengaran seperti terdengar suara suling dari kejauhan itu masuknya kepada citraan pendengaran. Sok nuk rek nanyakeun kelompok saha nu rek nanyakeun, sok
silahkan tanyakeun?”
86 Siswa ”kalau judul sama tema sami heunteu pak?”
87 Guru ”judul sama tema sama tidak gitu kan, sami heunteu? Judul sama tema beda misal panorama alam judulnya kan bisa bunga mawar atau yang lain juga bisa, paham, kelompok yang lain? 88 Siswa “contoh kalimat bermajas kumaha pak?”
89 Guru ”kalimat bermajas seperti yang bapak contokeun bunga mawar anu tadi dibacakeun diantarana aya kalimat kau sungguh sedap dipandang mata, kata-kata sedap indetiknya dengan lidah ya, duh makanan itu sedap sekali, makanan ini enak sekali, sedap itu jauh tidak identik dengan mata, kau sungguh sedap dipandang mata itu termasuk kalimat bermajas”.
90 Siswa ”pak ini gambar apa?” 91 Guru ”oh... iyeu mah ombak”
92 Siswa ”eta pak.. nu koneng-koneng tah”
93 Guru ”oh.. ini ada.... ini bebatuan atau cadas yang biasanya cetek,
de’et cai jadi hamparan airna, air nya itu menyentuh kepada