Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)
Oleh
EMY OKTAVIA
NIM: 1811013000028JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
Belajar Mengajar di MTs. Nurul Ummah Ciampea, Bogor”. Penelitian pada siswa kelas VIII MTs. Nurul Ummah Nagrog Cibuntu Ciampea Bogor. Skripsi Jakarta: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2014.
Penelitian ini berawal dari ketertarikan penulis melihat adanya campur kode dan alih kode yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Penulis juga ingin melihat manfaat atau fungsi penggunaan campur kode dan alih kode yang sering digunakan dalam proses belajar mengajar di MTs. Nurul Ummah Nagrog Cibuntu Ciampea, Bogor. Untuk memahami campur kode dan alih kode dalam proses belajar mengajar, penulis mendata dan mengkalsifikasikan terlebih dahulu campur kode dan alih kode dalam proses belajar mengajar di MTs. Nurul Ummah Nagrog Cibuntu Ciampea, Bogor.
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui bentuk dan fungsi penggunaan campur kode dan alih kode dalam proses belajar mengajar di MTs. Nurul Ummah Nagrog Cibuntu Ciampea bogor. Pengumpulan data dilakukan dengan metode pengamatan dan dokumentasi. Pelaksanaan pengumpulan data dengan menggunakan metode pengamatan dan dokumentasi (rekam) dilakukan pada saat proses belajar mengajar dimulai sampai proses belajar mengajar berakhir. Penelitian dilakukan pada siswa kelas VIII MTs. Nurul Ummah Nagrog Cibuntu Ciampea Bogor, tahun pelajaran 2013/2014.
Hasil penelitian diperoleh data dari segi bentuk dan fungsi campur kode dan alih kode. Dari hasil klasifikasi bentuk data campur kode penggunaan bahasa Sunda dalam proses belajar mengajar yang diperoleh yaitu bentuk yang sering muncul adalah dari segi bentuk kata dan kalimat, sedangkan hasil klasifikasi bentuk data alih kode penggunaan bahasa Sunda yang sering muncul adalah dari bentuk segi kalimat. Dari fungsi campur kode dan alih kode bahasa Sunda yang digunakan dalam proses belajar mengajar di MTs. Nurul Ummah Nagrog Cibuntu Ciampea, Bogor yaitu untuk mejalin keakraban, memberikan penjelasan, penegasan kepada
Alhamdulillahirobil alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat, hidayah dan karunia-NYA sehingga penulis diberikan kesempatan dan kemudahan untuk menyelesaikan skripsi ini, shalawat berserta salam semoga tercurah kepada Nabi besar Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya.
Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan, bimbingan, petunjuk, dan dorongan baik moril maupun materil dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada:
1. Nurlena Rifa’i M.A., Ph,D., Selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Dra. Mahmudah Fitriyah, ZA. M.Pd., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, yang selalu memberikan arahan, saran, dan masukan kepada seluruh mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dalam menempuh perkuliahan. 3. Dr. Nuryani, S.Pd. M.Hum., selaku Dosen Pembimbing yang telah
memberikan arahan, masukan, petunjuk dan ilmu yang sangat bermanfaat serta waktu yang telah diluangkan dalam membimbing dalam penyelesaian skripsi ini.
penulis untuk melaksanakan penelitian.
6. Keluarga besar KH. Syibli, yang selalu mendoakan penulis untuk tetap semangat menuntut ilmu yang Allah ridhoi.
7. Ibunda tersayang Salmah, yang selalu memberikan motivasi dan doanya serta dengan tulus menjaga buah hati penulis selama menempuh perkuliahan hingga selesai.
8. Suami tercinta Yudi Saepul Rizal, M.Pd., yang selalu memberikan bantuan dan dukungan moril maupun materil, serta anak-anakku tercinta ananda Fazrian Awal Al Fharabi, Zahra Abie Nabila, Faris Syahba Salzabil, yang selalu menjadikan penyemangat dalam menempuh perkuliahan ini hingga selesai.
9. Nawawi, S.Pd.I. dan Elis Fadliyah, S.Pd., yang turut serta dalam membantu dalam penyusunan skipsi ini.
10. Teman-teman seperjuangan PBSI Dual Mode, yang telah memberikan saran dan informasinya.
Terimakasih tidak lupa saya sampaikan kepada semua pihak yang tidak tersebutkan namun telah memberikan kontribusi yang sangat berharga hingga terselesaikannya skripsi ini. Akhir kata harapan penulis semoga skripsi ini bermanfaat bagi seluruh pembaca dan lembaga-lembaga pendidikan sebagai perbandingan maupun dasar untuk penelitian lebih lanjut. Penulis sangat menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun tetap penulis harapakan untuk perbaikan di masa yang akan datang.
Jakarta, Juli 2014
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR... ii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL... vi
DAFTAR LAMPIRAN... vii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 3
C. Batasan Masalah ... 3
D. Rumusan Masalah ... 3
E. Tujuan Penelitian ... 4
F. Manfaat Penelitian ... 4
BAB II LANDASAN TEORI A. Sosiolinguistik... 5
B. Kedwibahasaan ... 6
C. Campur Kode... 8
D. Alih Kode... 13
E. Sintaksis... 17
F. Variasi bahasa... 21
G. Bahasa Pengantar dalam Proses Belajar Mengajar ... 23
H. Penelitian yang Relevan ... 24
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 26
B. Metode dan Desain Penelitian ... 27
C. Objek Penelitian ... 27
G. Instrumen Penelitian ... 30
H. Teknik Analisis Data ... 31
BAB IV PEMBAHASAN A. Latar Belakang MTs. Nurul Ummah ... 33
B. Profil MTs. Nurul Ummah ... 34
C. Visi, Misi, dan Tujuan Madrasah ... 34
D. Keadaan Pendidik dan peserta didik ... 35
E. Deskripsi dan Analisis Data Campur Kode dan Alih Kode dalam Proses Belajar Mengajar MTs. Nurul Ummah ... 38
BAB V PENUTUP A. Simpulan ... 84
B. Saran ... 85
Tabel 1.2 Analisis Bentuk Campur Kode Tabel 1.3 Analisis bentuk Alih Kode Tabel 2.1 Profil Madrasah
Tabel 2.2 Staf Pengajar MTs. Nurul Ummah Tabel 2.3 Data Campur Kode
A.Latar Belakang Masalah
Penggunaan bahasa Indonesia adalah sarana untuk mengekspresikan apa yang terkandung dalam pikiran, alat komunikasi sebagai penyampai pesan, sekaligus merupakan wujud dalam perkembangan kebudayaan suatu bangsa. Sebagai bangsa yang terdiri dari berbagai macam suku, bahasa Indonesia mempunyai status istimewa sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Berbahasa adalah aktivitas sosial, dan sebagai bahasa pengantar dalam berkomunikasi memegang peranan yang penting dalam berbagai ranah, seperti pemerintahan, keluarga, agama, etnik, maupun pendidikan.
Kegiatan berbahasa bisa terwujud apabila manusia terlibat di dalamnya. Dalam ranah pendidikan, bahasa Indonesia merupakan pengantar dalam proses belajar mengajar. Bahasa menjadi media yang digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan materi pelajaran. Melalui bahasa, peserta didik dapat memahami apa yang disampaikan pendidik. Melalui bahasa pula, peserta didik dapat mengatasi kesulitannya dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan aspek linguistik terdapat istilah bilingualisme dalam bahasa Indonesia disebut kedwibahasaan “berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode bahasa, masyarakat tutur yang terbuka dan mempunyai hubungan dengan masyarakat tutur lain, tentu akan mengalami apa yang disebut kontak bahasa dengan segala peristiwa-peristiwa kebahasaan sebagai akbitnya ”.1 Dengan adanya kontak komunikasi yang dwibahasa sehingga melahirkan alih kode dan campur kode.
Kontak bahasa yang terjadi di dalam diri dwibahasawan menyebabkan saling pengaruh antara B1 dan B2. “Penggunaan sistem bahasa tertentu pada bahasa lainnya disebut transfer”.2 Penguasaaan dua bahasa atau lebih oleh seorang
1
Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal, (Jakarta: Rineka Cipta 2010), h. 84.
2
penutur bahasa memungkinkan terjadinya dampak negatif maupun positif. Bila sistem yang digunakan itu bersifat membantu karena kesejajaran maka transfer itu disebut transfer positif yang mengakibatkan terjadinya pembaharuan yang sifatnya menguntungkan kedua bahasa. Sebaliknya, bila sistem yang digunakan itu berlainan atau bertentangan dan bersifat mengacaukan karena perbedaan sistem bahasa disebut transfer negatif, ini menyebabkan timbulnya kesulitan dalam pengajaran B2 sekaligus merupakan salah satu sumber kesalahan berbahasa yang akhirnya melahirkan interferensi, yaitu penyimpangan dari norma-norma bahasa sebagai akibat pengenalan terhadap bahasa lain.
Alih kode dan campur kode ini terjadi karena faktor kebiasaan akibat dari pergaulan antara penutur bahasa. Alih kode dan campur kode terjadi karena faktor keinginan menjelaskan dan menafsirkan sesuatu yang disebabkan oleh keinginan pendidik untuk menyampaikan materi yang dapat dipahami peserta didik dengan baik, sementara peserta didik lebih memahami segala sesuatu hal yang ingin diketahui dengan menggunakan alih kode dan campur kode.
Faktor ini dapat terjadi karena adanya kontak langsung dengan penutur yang dalam hal ini pendidik dengan peserta didik. Pada umumnya dalam proses belajar mengajar di MTs. Nurul Ummah, pendidik dan peserta didik senantiasa menggunakan alih kode dan campur kode dalam tuturannya. Hal ini dilakukan agar proses belajar mengajar dapat dipahami satu sama lain. Dalam dunia pendidikan, alih kode dan campur kode masih dapat kita lihat, khususnya dalam interaksi belajar mengajar di sekolah. Hal ini bisa terjadi karena warga sekolah menguasai lebih dari satu bahasa.
B.Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, permasalahan dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Bentuk campur kode dan alih kode dalam proses belajar mengajar di
MTs. Nurul Ummah Ciampea, Bogor.
2. Manfaat penggunaan campur kode dan alih kode bagi pendidik dan
peserta didik dalam proses belajar mengajar di MTs. Nurul Ummah Ciampea, Bogor.
3. Berhasil atau tidaknya proses belajar mengajar dengan adanya alih kode
dan campur kode di MTs. Nurul Ummah Ciampea, Bogor.
4. Kendala yang dihadapi pendidik dan peserta didik dengan adanya alih
kode dan campur kode dalam proses belajar mengajar di MTs. Nurul Ummah Ciampea, Bogor.
C.Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas dengan fenomena kebahasaan campur kode dan alih kode yang ditemukan, penulis mencoba meneliti campur kode dan alih kode bahasa Sunda ke dalam bahasa Indonesia dalam Proses Belajar Mengajar khususnya pada mata pelajaran bahasa Indonesia kelas VIII MTs. Nurul Ummah Ciampea, Bogor.
D.Rumusan Masalah
Berdasarkan masalah penelitian yang telah ditetapkan agar dalam pelaksanaan penelitian dapat mencapai tujuan dengan baik, maka masalah yang diteliti harus dirumuskan. Rumusan masalah yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana bentuk campur kode dan alih kode dalam proses belajar mengajar di MTs. Nurul Ummah Ciampea, Bogor?
E.Tujuan Penelitian
Sejalan dengan latar belakang dan rumusan masalah di atas, dapat dirumuskan tujuan dari penelitian ini sebagai berikut.
1. Untuk mendeskripsikan bentuk campur kode dan alih kode dalam proses belajar mengajar di MTs. Nurul Ummah Ciampea, Bogor.
2. Untuk mendeskripsikan fungsi penggunaan campur kode dan alih kode dalam proses belajar mengajar di MTs. Nurul Ummah Ciampea, Bogor.
F. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini sebagai berikut. 1. Manfaat Teoretis
Manfaat teoretis penelitian ini adalah dapat mengembangkan teori sosiolingustik, khususnya mengenai alih kode dan campur kode serta bahasa dalam proses belajar mengajar.
2. Manfaat Praktis
a. Guru bahasa Indonesia
Memberikan sumbangan informasi tentang bahasa yang seharusnya dipakai dalam proses belajar mengajar sehingga pendidik dan peserta didik mengetahui bahwa alih kode dan campur kode tidak diperkenankan digunakan dalam proses belajar mengajar di dalam kelas, khususnya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.
b. Peserta Didik
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat secara langsung bagi peserta didik untuk memberikan sumbangan pengetahuan tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam proses belajar mengajar.
c. Peneliti lain
Teori adalah sarana pokok untuk menyatakan hubungan sistematik dalam gejala sosial yang ingin diteliti dan teori adalah alat bantu dari ilmu dengan cara memberikan definisi dari tiap-tiap jenis data yag akan dibuat abstraksinya. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa teori yang terkait. Semua teori tersebut dipaparkan sebagai berikut.
A. Sosiolinguistik
“Sosiolinguistik merupakan ilmu antardisiplin antara sosiologi dan linguistik, dua bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan sangat erat”.1 “Sebagai objek dalam sosiolinguistik, bahasa tidak dilihat atau didekati sebagai bahasa, sebagaimana yang dilakukan oleh linguistik umum, melainkan dilihat atau didekati sebagai sarana interaksi atau komunikasi di dalam masyarakat manusia”.2
Fishman memaparkan “sosiolinguistik adalah kajian tentang ciri khas variasi bahasa, fungsi-fungsi variasi bahasa, dan pemakai bahasa karena ketiga unsur ini selalu berinteraksi, berubah, dan saling mengubah satu sama lain dalam suatu masyarakat tutur”.3 Sementara, Apel mengatakan “sosiolinguistik memandang bahasa sebagai sistem sosial dan sistem komunikasi serta merupakan bagian dari masyarakat dan kebudayaan tertentu, sedangkan yang dimaksud dengan pemakaian bahasa adalah bentuk interaksi sosial yang terjadi dalam situasi konkret”.4
“Linguistik atau ilmu bahasa adalah disiplin ilmu yang mempelajari bahasa secara luas dan umum. Secara luas berarti cakupannya meliputi semua aspek dan komponen bahasa. Secara umum berarti sasarannya tidak hanya terbatas pada salah satu bahasa saja (misalnya bahasa Indonesia saja). Akan tetapi semua bahasa
1
Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal, (Jakarta: Rineka Cipta 2010), h. 2.
2
Ibid, h. 3. 3
Ibid, 4
yang ada di dunia. Secara garis besar cakupan linguistik meliputi dua lingkup, yaitu lingkup mikrolinguistik dan lingkup makrolinguistik”.5
1. Mikrolinguistik
Mikrolingiuistik adalah lingkup linguistik yang mempelajari bahasa dalam rangka kepentingan ilmu bahasa itu sendiri, tanpa mengaitkan dengan ilmu lain dan tanpa memikirkan bagaimana penerapan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
2. Makrolinguistik
Makrolinguistik adalah lingkup linguistik yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan dunia di luar bahasa, yang berhubungan dengan ilmu lain dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan definisi-definisi yang telah diuraikan oleh para pakar di atas dapat disimpulkan bahwa sosiolinguistik adalah cabang ilmu linguistik yang bersifat interdisipliner dengan ilmu sosiologi, dengan objek penelitian hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor sosial di dalam suatu masyarakat tutur. Linguistik menjadikan bahasa sebagai objek kajiannya.
B. Kedwibahasaan
Kedwibahasaan merupakan fenomena yang menggejala di setiap negara di dunia ini termasuk Indonesia. Di samping itu, bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa resmi dan bahasa nasional. Selain itu, keterlibatan dengan negara lain yang memiliki bahasa yang berbeda juga merupakan fakta yang menyebabkan timbulnya kedwibahasaan. Teori kedwibahasaan sangat terkait dengan alih kode dan campur kode, karena alih kode dan campur kode merupakan aspek kedwibahasaan. Selain itu, subjek yang diteliti merupakan masyarakat kedwibahasaan yang cenderung melakukan alih kode dan campur kode.
Pendapat beberapa para ahli sehubungan dengan kedwibahasaan. Encyclopedia Britanica mendefinisikan “penguasaan dua bahasa atau lebih kedwibahasaan atau keanekabahasaan adalah suatu keterampilan khusus,
5
kedwibahasaan dan keanekabahasaan merupakan istilah yang relatif karena tipe dan jenjang penguasaan bahasa seseorang berbeda”.6 Sementara, bloomfield mendefinisikan kedwibahasaan adalah “penguasaan dua bahasa secara sempurna, tentu saja penguasaan dua bahasa itu tidak dapat dijelaskan secara tepat karena penguasaan itu berjenjang atau relatif”.7
Kedwibahasaan adalah hasil dari pemerolehan bahasa, kedwibahasaan menimbulkan interferensi dan interferensi merupakan salah satu faktor penyebab kesalahan berbahasa”.8 Sementara, Weinreich mengatakan bahwa „kedwibahasaan the pratice of alternately using two languages (kebiasaan menggunakan dua bahasa atau lebih secara bergantian)”.9 Faktor yang mendorong terjadinya bilingualisme atau kedwibahsaan adalah adanya kontak bahasa di dalam otak. Bilingualisme adalah kasus yang hampir dialami oleh separuh lebih orang Indonesia. Masyarakat Indonesia rata-rata menguasai bahasa daerah dan bahasa Indonesia, khususnya ragam lisan.
Lado menyatakan bahwa “kedwibahasaan merupakan kemampuan berbicara dua bahasa dengan sama atau hampir sama baiknya”.10 Sementara itu, Weinreich “membedakan kemampuan bilingualisme menjadi tiga tipe’,11 yaitu:
1. Kedwibahasaan Majemuk
Kedwibahasaan majemuk adalah kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa salah satu bahasa yang lebih baik dari pada kemampuan berbahasa yang lain.
2. Kedwibahasaan Koordinatif
Kedwibahasaan koordinatif adalah kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa pemakaian dua bahasa sama baiknya oleh individu. Proses kedwibahasaan ini terjadi karena seorang individu memiliki pengalaman yang berbeda dalam menguasai dua bahasa sehingga jarang sekali dipertukarkan pemakainnya.
6
Henry Tarigan dan Djago Tarigan, Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa, (Bandung: Angkasa, 2011), h. 8.
7
Ibid, h. 8. 8
Ibid, h. 15. 9
Aslinda dan Leni Syafyahya, Pengantar Sosiolinguistik, (Bandung: Refika Aditama, 2007), h. 23. 10
Nuryani, dan Dona Aji Kurnia Putra, Psikolinguistik, (Ciputat: Mazhab, 2013), h. 176 11
3. Kedwibahasaan Subordinatif
Kedwibahasaan Subordinatif merupakan kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa seorang individu pada saat memakai B1 sering memasukkan unsur B2 atau sebaliknya.
Berdasarkan pendapat dari beberapa pakar yang telah di uraikan di atas mengenai kedwibahasaan dapat penulis simpulkan bahwa, kedwibahasaan adalah peristiwa pemakaian dua bahasa atau lebih yang digunakan secara bergantian oleh penutur yang sama, maka dapat dikatakan bahwa bahasa-bahasa tersebut dalam keadaan saling kontak pada diri penutur secara individual. Kedwibahasaan ini sangat terkait dengan campur kode dan alih kode yang akan penulis teliti, karena campur kode dan alih kode merupakan aspek kedwibahasaan.
C. Campur Kode
Pembahasan mengenai campur kode, biasanya diikuti dengan pembicaraan tentang campur kode. Campur kode terjadi apabila seseorang penutur bahasa, misalnya bahasa Indonesia memasukan unsur-unsur bahasa daerahnya ke dalam pembicaraan bahasa Indonesia. Dengan kata lain, seseorang yang berbicara dengan kode utama bahasa Indonesia yang memiliki fungsi keotonomiannya, sedangkan kode bahasa daerah yang terlibat dalam kode utama merupakan serpihan-serpihan saja tanpa fungsi atau keotonomian sebagai sebuah kode.
Nababan memaparkan ciri yang menonjol dalam campur kode ini ialah kesantaian atau situasi informal. Dalam situasi berbahasa formal, jarang terjadi campur kode kalau terdapat campur kode dalam keadaan itu karena tidak ada kata atau ungkapan yang tepat untuk menggantikan bahasa yang sedang dipakai sehingga perlu memakai kata atau ungkapan dari bahasa daerah atau bahasa asing”.12 Campur kode adalah ”sebuah kode utama atau dasar yang digunakan dan memiliki fungsi dan keotonomiannya, sedangkan kode-kode lain yang terlibat dalam peristiwa tutur hanyalah berupa serpihan-serpihan (pieces) saja, tanpa fungsi atau keotonomian sebagai sebuah kode”.13
12
Aslinda dan Leni Syafyahya, Pengantar Sosiolinguistik, (Bandung: Refika Aditama, 2007), h. 87 13
Sementara Pieter muysken menjelaskan bahwa “a am using the term code -mixing to refer to all cases where lexical items and grammatical features from two languages appear in one sentence” “(penggunaan istilah campur kode diartikan apabila bagian-bagian kebahasaan atau struktur bahasa dari dua bahasa muncul dalam kalimat)”.14 Seorang penutur yang dalam berbahasa Indonesia banyak menyelipkan serpihan-serpihan bahasa daerahnya, bisa dikatakan telah melakukan campur kode. Thelander menjelaskan, “apabila di dalam suatu peristiwa tutur, klausa-klausa maupun frase-frase yang digunakan terdiri dari klausa dan frase campuran (hybrid clauses, hybrid pharases), dan masing-masing klausa atau frase itu tidak ada lagi mendukung fungsi sendiri-sendiri, maka peristiwa yang terjadi adalah campur kode”.15
Dari beberapa pendapat dan pandangan para ahli mengenai campur kode dapat disimpulkan bahwa campur kode merupakan peristiwa penggunaan bahasa atau unsur bahasa lain ke dalam suatu bahasa atau peristiwa pencampuran bahasa atau seorang penutur yang dalam berbahasa Indonesia banyak menyelipkan serpihan-serpihan bahasa daerahnya, bisa dikatakan telah melakukan campur kode. Peristiwa campur kode dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari pada saat melakukan interaksi.
Terjadinya campur kode biasanya disebabkan oleh tidak adanya padanan kata dalam bahasa yang digunakan untuk menyatakan suatu maksud. Sesuai dengan kesimpulan di atas, keterkaitan teori campur kode dengan penelitian ini mencakup campur kode bahasa Sunda ke dalam Bahasa Indonesia dalam proses belajar mengajar di MTs. Nurul Ummah Ciampea Bogor.
1. Faktor Penyebab Campur Kode
Campur kode muncul karena tuntutan situasi, tetapi ada hal lain yang menjadi faktor terjadinya campur kode itu. Pada penjelasan sebelumnya telah dibahas menganai ciri-ciri peristiwa campur kode, yaitu tidak dituntut oleh situasi dan
14
Made Iwan Indrawan Jendra, Sosiolinguistic The Study Of Societies Languages, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010), h.78.
15
konteks pembicaraan, adanya ketergantungan bahasa yang mengutamakan peran dan fungsi kebahasaan yang biasanya terjadi pada situasi yang santai.
Berdasarkan hal tersebut, Suwito memaparkan beberapa faktor yang melatar belakangi terjadinya campur kode yaitu sebagai berikut.
a. Faktor peran
Yang termasuk peran adalah status sosial, pendidikan, serta golongan dari peserta bicara atau penutur bahasa tersebut.
b. Faktor ragam
Ragam ditentukan oleh bahasa yang digunakan oleh penutur pada waktu melakukan campur kode, yang akan menempati pada hirarki status sosial.
c. Faktor keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan
Yang termasuk faktor ini adalah tampak pada peristiwa campur kode yang menandai sikap dan hubungan penutur terhadap orang lain, dan hubungan orang lain terhadapnya. Jendra mengatakan bahwa “setiap peristiwa wicara (speech event) yang mungkin terjadi atas beberapa tindak tutur (speech act) akan
melibatkan unsur pembicara dan pembicara lainnya (penutur dan petutur), media bahasa yang digunakan, dan tujuan pembicaraan”16
.
Lebih lanjut, Jendra menjelaskan bahwa ketiga faktor penyebab itu dapat dibagi lagi menjadi dua bagian pokok, umpamanya peserta pembicaraan dapat disempitkan menjadi penutur, sedangkan dua faktor yang lain (faktor media bahasa yang digunakan dan faktor tujuan pembicaraan) dapat disempit lagi menjadi faktor kebahasaan.
d. Faktor Penutur
Pembicara kadang-kadang sengaja bercampur kode terhadap mitra bahasa karena dia mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Pembicara kadang-kadang melakukan campur kode antara bahasa yang satu ke bahasa yang lain karena kebiasaan dan kesantaian. Contoh: “Ok, urang kudu stand by”.
16
e. Faktor Bahasa
Dalam proses belajar mengajar media yang digunakan dalam berkomunikasi adalah bahasa lisan. Penutur dalam pemakaian bahasanya sering mencampurkannya bahasanya dengan bahasa lain sehingga terjadi campur kode. Misalnya hal itu ditempuh dengan jalan menjelaskan atau mengamati istilah-istilah (kata-kata) yang sulit dipahami dengan istilah-istilah-istilah-istilah atau kata-kata dari bahasa daerah maupun Bahasa Asing sehingga dapat lebih dipahami. Contoh: “Kita harus enjoy dalam bekerja”. Uraian tentang faktor-faktor penyebab terjadinya campur kode yang dipaparkan di atas sangat terkait dengan penelitian yang dilakukan.
2. Jenis-jenis Campur Kode
Berdasarkan unsur serapan yang menimbulkan terjadinya campur kode itu, campur kode dibagi menjadi tiga bagian17. Bagian-bagian tersebut akan diuraikan di bawah ini.
a. Campur Kode ke Luar (outer code mixing)
Dalam hal ini, “campur kode keluar adalah campur kode yang menyerap unsur- unsur bahasa asing”. Misalnya, dalam peristiwa campur kode pada pemakaian bahasa Indonesia terdapat sisipan dari bahasa asing seperti bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Jepang, bahasa Cina, dan lain sebagainya. Lebih konkret contoh berikut akan memperjelas pengertian campur kode keluar : “Maybe, tapi saya belum berani memastikannya”.
Kalimat di atas menunjukkan sebuah kalimat yang bercampur kode. Dikatakan bercampur kode karena dalam kalimat tersebut terdapat kata dari bahasa asing yaitu bahasa Inggris (Maybe). Oleh karena itu, kalimat itu bercampur kode keluar. Teori campur kode keluar di atas tidak terkait dengan penelitian ini karena subjek yang diteliti adalah pendidik dan peserta didik yang mencampurkan bahasa Sunda ke dalam bahasa Indonesia. Jadi, dalam penelitian ini yang diteliti adalah campur kode ke dalam.
b. Campur Kode ke Dalam (Inner Code Mixing)
Mengenai definisi tentang campur kode ke dalam, ada beberapa ahli yang memiliki pandangan yang hampir sama. Suwito mengatakan bahwa seorang yang dalam pemakaian bahasa Indonesianya banyak menyisipkan unsur- unsur bahasa daerah, atau sebaliknya. Maka, penutur tersebut bercampur kode ke dalam. Sementara itu, Jendra menyatakan campur kode ke dalam adalah jenis kode yang menyerap unsur-unsur bahasa sunda yang sekerabat.
Gejala campur kode pada peristiwa tururan bahasa Indonesia terdapat di dalamnya unsur-unsur bahasa daerah seperti bahasa Bali, bahasa Jawa, bahasa Sunda, dan sebagainya. Lebih jelasnya, berikut contoh kalimat yang bercampur kode ke dalam: “Sebelum pelajaran dilanjutkan, sok saha nu bade naros?”. Dari teori mengenai campur kode ke dalam di atas, dapat ditentukan bahwa teori campur kode ke dalam terkait dengan penelitian ini karena latar belakang kedwibahasaan yang dimiliki guru dan siswa yang bahasa ibunya adalah bahasa Sunda. Campur kode yang diteliti termasuk dalam kategori jenis campur kode ke dalam.
c. Campur Kode Campuran
Definisi mengenai campur kode campuran ialah “campur kode yang di dalam (mungkin klausa atau kalimat) telah menyerap unsur bahasa Bali/Melayu/Sunda (bahasa daerah) dan bahasa asing”18
. Selanjutnya Jendra lebih tegas mengatakan bahwa campur kode campuran merupakan unsur serapan yang diterima oleh bahasa penyerap dengan pembagian menjadi dua bagian seperti (inner dan outer code mixing) telah pula dilakukan. Misalnya “seorang mahasiswa hendaknya bisa eling dan established”.
Kalimat di atas menunjukkan sebuah kalimat yang bercampur kode campuran. Jika kita melihat kata eling (ingat) yang berasal dari bahasa daerah yaitu bahasa Sunda, kalimat tersebut merupakan campur kode ke dalam. Namun, jika kita melihat kata estabilished yang berasal dari bahasa asing (bahasa Inggris) maka kalimat di atas merupakan kalimat yang bercampur kode ke luar. Jadi secara
18
keseluruhan kalimat di atas dimaksukkan dalam kalimat yang bercampur dengan kode campuran karena dalam kalimat di atas terdapat unsur bahasa daerah (bahasa Sunda) dan bahasa asing (bahasa Inggris).
Dari paparan di atas, dapat ditentukan bahwa tidak ada keterkaitan antara teori campur kode campuran dengan penelitian ini. Ini disebabkan oleh dalam penelitian ini subjek yang diteliti yaitu guru dan siwa cenderung menggunakan Bahasa Sunda dan bahasa Indonesia dalam proses belajar mengajar.
D. Alih Kode
Alih kode adalah Peristiwa pergantian bahasa yang digunakan dalam proses belajar mengajar dari bahasa sunda ke bahasa Indonesia, atau berubahnya dari ragam santai menjadi ragam resmi, atau ragam resmi ke ragam santai.19
Pengertian serupa mengenai alih kode, Appel mendefinisikan alih kode itu sebagai “gejala peralihan pemakaian bahasa
karena berubahnya situasi”.20 Dell Hymes menyatakan “Code switching has become a common term for alternate use of two or more language, or varieties of
language, or even speech styles” ( alih kode telah menjadi istilah umum untuk alternatif kita dari dua atau lebih bahasa, variasi bahasa, atau bahkan gaya bicara)”.21
Pietro menyatakan bahwa “Code switching is the use of more than one language by communicants in the execution of a speech act” (alih kode terjadi dalam suatu tuturan yang menggunakan lebih dari satu bahasa)”.22 Sementara wardhaugh membedakan alih kode atas dua bagian, yaitu situational code-switching dan metaporical code-code-switching. Situational code-code-switching terjadi bila
bahasa yang digunakan berubah sesuai dengan situasi tempat para penutur berada. Mereka berbicara dalam suatu bahasa dalam suatu situasi dan dalam bahasa yang lain pada situasi yang lain pula. Dalam hal ini tidak terjadi perubahan topik. Jika
19
Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal, (Jakarta: Rineka Cipta 2010), h. 107.
20Ibid, h. 107. 21
Made Iwan Indrawan Jendra, Sosiolinguistic The Study Of Societies Languages, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010), h. 74.
22
suatu topik menghendaki perubahan bahasa yang digunakan, maka alih kode yang terjadi disebut metaporical code-switching”.23 Selanjutnya, Soewito membedakan adanya dua macam alih kode yaitu, alih kode intern dan alih kode ekstern. “Alih kode intern adalah alih kode yang berlangsung antar bahasa sendiri, seperti bahasa Indonesia ke bahasa Jawa, atau sebaliknya, sedangkan alih kode ekstern adalah alih kode terjadi antara bahasa sendiri (salah satu bahasa atau ragam yang ada dalam verbal reportoir masyarakat tuturnya) dengan bahasa asing”.24
1. Faktor Penyebab Alih Kode
Fishman mengemukakan penyebab terjadinya alih kode yaitu, “siapa berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan, dan dengan tujuan apa”.25 Dalam berbagai kepustkaan linguistik secara umum penyebab alih kode itu disebutkan antara lain:26
a. Pembicara atau penutur
Seorang pembicara atau penutur seringkali melakukan alih kode untuk mendapatkan “keuntungan” atau “manfaat” dari tindakannya itu. Alih kode untuk memperoleh „keuntungan” ini biasanya dilakukan oleh si penutur yang dalam peristiwa tutur itu mengharapkan bantuan lawan tuturnya.
b. Pendengar atau lawan tutur
Lawan bicara atau lawan tutur dapat menyebabkan terjadinya alih kode, misalnya karena si penutur ingin mengimbangi kemampuan berbahasa si lawan tutur itu. Dalam hal lain biasanya kemampuan berbahasa si lawan tutur kurang atau agak kurang karena memang mungkin bukan bahasa pertamanya.
c. Perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga
Kehadiran orang ketiga atau orang lain yang tidak berlatar belakang bahasa yang sama dengan bahasa yang sedang digunakan oleh penutur dan lawan tutur dapat menyebabkan terjadinya alih kode.
23
Achmad HP dan Alek Abdullah, Linguistik Umum, (Jakarta: Erlangga, 2012), h. 161. 24
Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal, (Jakarta: Rineka Cipta 2010),h. 114.
25
Ibid, h. 108. 26
d. Perubahan dari formal ke informal atau sebaliknya
Perubahan situasi bicara dapat menyebabkan terjadinya alih kode peristiwa peralihan dari satu kode ke kode yang lain dalam suatu peristiwa tutur terjadi untuk menyesuaikan diri dengan peran, atau adannya tujuan tertentu.
e. Perubahan topik pembicaraan
Berubahnya topik pembicaraan dapat juga menyebabkan terjadinya alih kode, perpindahan topik yang menyebabkan terjadinya perubahan situasi dari situasi formal menjadi situasi tidak formal merupakan penyebab ganda.
Di samping perubahan situasi, setiap bahasa dan ragam-ragamnya itu mempunyai fungsi pemakaian tertentu. Maka, menurut Widjajakusumah penyebab terjadinya alih kode dari bahasa Sunda ke bahasa Indonesia adalah karena:27
a. kehadiran orang ketiga;
b.perindahan topik dari yang nonteknis ke yang teknis; c. beralihnya suasana bicara;
d.ingin dianggap terpelajar; e. ingin menjaukan jarak;
f. menghindarkan adanya bentuk kasar dan halus dalam bahasa Sunda; g. mengutip pembicaraan orang lain;
h. terpengaruh lawan bicara yang beralih ke bahasa Indonesia; i. mitra bicaranya lebih mudah;
j. berada ditempat umum;
k. menunjukkan bahasa pertamanya bukan bahasa Sunda; l. beralih media/sarana bicara.
sedangkan penyebab alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Sunda adalah karena:
a. perginya orang ketiga;
b. topiknya beralih dari hal teknis ke hal nonteknis;
27
c. suasana beralih dari remi ke tidak resmi; dari situasi kesundaan keindonesiaan;
d. merasa ganjil untuk tidak berbahasa sunda dengan orang sekampung; e. ingin mendekati jarak;
f. ingin beradab-adab dengan menggunakan bahasa sunda halus, dan berakrab-akrab dengan bahasa Sunda kasar;
g. mengutip dari peristiwa bicara yang lain;
h. terpengaruh oleh lawan bicara yang berbahasa Sunda; i. perginya generasi muda, mitra bicara lain yang lebih muda; j. merasa di rumah sendiri, bukan di tempat umum;
k. ingin menunjukkan bahasa pertamanya adalah bahasa Sunda; l. beralih bicara biasa tanpa alat-alat seperti telepon.
Di samping faktor penyebab terjadinya alih kode yang dipaparkan di atas, masih banyak faktor atau variabel lain yang dapat menyebabkan terjadinya peristiwa alih kode. Penyebab-penyebab ini biasanya sangat berkaitan dengan peristiwa tutur (Speech Event) yaitu “terjadinya atau berlangsungnya interaksi linguistik dalam suatu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak, yaitu penutur dan lawan tutur, dengan satu pokok tuturan, di dalam waktu, tempat, dan situasi tertentu”.28
2. Jenis-jenis Alih Kode
Hasil pengelompokan secara tatabahasa dalam alih kode ada beberapa jenis yaitu:29
a. Tag code-switching (alih kode bentuk kalimat)
“A tag code-switching happens when a bilingual inserts short expressions (tag) from different language at the end of his/her utterances. Here are there examples”.
28
Ibid, h. 47. 29
Alih kode bentuk kalimat terjadi ketika seseorang yang bilingual memasukan atau menggunakan ungkapan pendek/singkat dari bahasa yang lain atau berbeda diakhir ungkapan yang dia ucapkan.
b. Inter-sentential code-switching (alih kode antar kalimat)
“An inter-sentential code-switching happens when there is a complete sentence in a foreign language uttered between two sentences in a base language”.
Alih kode antar kalimat terjadi apabila adanya kalimat utuh dalam bahasa asing diungkapkan antara dua kalimat.
c. Intra-sentential code-switching (alih kode intra kalimat)
“An intra-sentential code-switching is found when a word, a phrase, or a clause, of aforeign language is found within the sentence in a base lnguage”.
Alih kode intra kalimat terjadi ketika sebuah frase atau sebuah klausa dalam bahasa asing ditemukan dalam kalimat dalam pokok bahasa.
Jadi dapat penulis simpulkan bahwa pengalihan bahasa indonesia kebahasa sunda atau bahasa sunda kebahasa indonesia yang dilakukan dengan sadar dan bersebab oleh adalah tercakup ke dalam peristiwa alih kode.
E. Sintaksis
Dalam kajian linguistik tidak terlepas dari kajian tata bahasa yang di dalamnya mencakup bidang dan sub disiplin yang salah satu diantaranya adalah linguistik deskriptif yang mengkaji tentang saintaksis. Sintaksis merupakan subdisiplin linguistik yang menelaah struktur bahasa dari tatanan frasa sampai dengan kalimat.30 Kajian sintaksis diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Kata
Para ahli bahasa tradisional pada umumnya memberi pengertian kata berdasarkan arti dan ortografi, menurut mereka kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buh spasi dan mempunyai satu arti31.
Kata merupakan bentuk yang, ke dalam mempunyai susunan fonologi yang stabil dan tidak berubah, dan keluar mempunyai kemungkinan mobilitas di dalam
30
Soeparno, Dasar-dasar Linguistik Umum, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), h. 24. 31
kalimat. Batasan atau konsep itu menyiratkan dua hal. Pertama bahwa setiap kata mempunyai susunan fonem yang urutannya tetap dan tidak dapat berubah, serta tidak dapat diselipi atau disela oleh fonem lain.32
2. Frasa
Frasa ialah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa.33 Sedangkan Cook, Elson, dan Pickett memaparkan frasa adalah satuan linguistik yang secara potensial merupakan gabungan dua kata atau lebih yang tidak mempunyai ciri-ciri klausa.34 Berdasarkan distribusi dengan golongan atau kategori kata, frase digolongkan menjadi empat golongan yaitu:35
a. Frase Nominal
Frase nominal adalah frase yang memiliki distribusi yang sama dengan kata nominal.
b. Frase Verbal
Frase verbal adalah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata verbal. Persamaan distribusi itu ada dapat diketahui dengan jelas dari adanya jajaran.
c. Frase Bilangan (numerial)
Frase bilangan adalah frase yang empunyai distribusi yang sama dengan kata bilangan
d. Frase Keterangan
Frase keterangan adalah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata keterangan.
e. Frase Depan (preposisional)
Frase depan atau preposisional adalah frase yang terdiri dari kata depan sebagai penanda.
32
Abdul Chaer, Morfologi Bahasa Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h. 63 33
M. Ramlan, Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis, (Yogyakarta: Karyono, 2005), h. 138 34
Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Sintaksis, (Bandung: Angkasa, 2009), h. 96. 35
3. Klausa
Klausa adalah “satuan gramatikal berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri dari subyek dan predikat, dan mempunyai potensi untuk menjadi kalimat”.36 Berdasarkan fungsi P (predikat), klausa dapat digolongkan menjadi empat golongan yaitu37:
1) Klausa Nominal
Klausa nominal adalah klausa yang P-nya terdiri dari kata atau frase golongan N.
2) Klausa Verbal
Klausa verbal adalah klausa yang P-nya terdiri dari kata atau frase golongan V.
3) Klausa Bilangan (numerial)
Klausa bilangan atau klausa numerial adalah klausa yang P-nya terdiri dari kata atau frase golongan Bil.
4) Klausa Depan (preposisional)
Klausa depan atau klausa preposisional adalah klausa yang P-nya terdiri dari frase depan, yaitu frase yang diawai oleh kata depan sebagai penanda.
4. Kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa”.38 Sementara Djoko Kentjo memaparkan bahwa “kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konsitituen dasar, yang biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan, serta disertai dengan intonasi final”.39 Kalimat juga diartikan pada salah satu satuan tuturan artinya “kalimat adalah satuan yang merupakan suatu keseluruhan yang memiliki intonasi tetentu sebagai pemarkah keseluruhan itu”.40
36
Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), h. 124 37
M. Ramlan, Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis, (Yogyakarta: Karyono, 2005), h. 129-137. 38
Kridalaksana, op.cit, h. 103 39
Abdul Chaer, linguistik Umum, (Jakarta: Rineka Cipta, 2012), h. 240 40
Berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, kalimat dapat digolongkan menjadi tiga golongan yaitu:41
a. Kalimat Berita
Kalimat berita berfungsi untuk memberitahukan sesuatu kepada orang lain sehingga tanggapan yang diharapkan berupa perhatian seperti tercermin pada pandangan mata yang menunjukkan adanya perhatian.
b. Kalimat Tanya
Kalimat tanya berfungsi untuk menanyakan sesutu. Kalimat ini memiliki pola intonasi yang berbeda dengan pola intonasi kalimat berita.
c. Kalimat Suruh/Perintah
Kalimat suruh atau kalimat perintah berfungsi dalam hubungan situasi, kalimat suruh atau perintah mengharapkan tanggapan yang berupa tindakan dari orang yang diajak berbicara.
5. Singkatan/Penyingkatan/Akronim
Penyingkatan merupakan “gabungan dari huruf, atau bunyi, depan dari setiap kata yang membentuknya. Bentuk tersebut biasanya merupakan bentuk penuh yang bagian akhirnya dilesapkan”.42 Akronimisasi adalah “proses pembentukan sebuah kata dengan cara menyingkat sebuah konsep yang direalisasikan dalam sebuah konstruksi lebih dari sebuah kata, proses ini menghasilkan sebuah kata yang disebut akronim, jadi akronim adalah sebuah singkatan”.43
Sementara Kamus Linguistik menjelaskan bahwa “singkatan/akronimi adalah proses pemendekan yang menggabungkan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai sebuah kata yang sedikit-banyak memenuhi kaidah fonatik suatu bahasa”.44
41
M. Ramlan, Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis, (Yogyakarta: Karyono, 2005), h. 26-39. 42
Makyun Subuki, Semantik Pengantar Memahami Makna Bahasa, (Jakarta: Transpustaka, 2011), h. 67.
43
Abdul Chaer, Morfologi Bahasa Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h. 236. 44
F. Variasi Bahasa
Variasi bahasa adalah “keanekaragaman bahasa yang disebabkan oleh faktor tertentu”.45 Sedangkan Ragam bahasa secara garis besar terbagi atas ragam bahasa tulis dan ragam bahasa lisan. Ragam bahasa lisan ditandai dengan penggunaan lafal atau pengucapan, intonsi, kosakata (baku atau tidak baku), dan penyusunan kalimat yang agak longgar. “Ragam lisan menghendaki orang kedua atau teman berbicara. Ragam ini terikat dengan situasi, kondisi, ruang, dan waktu”.46
Bahasa yang baik adalah penggunaan bahasa yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Hal ini biasanya berhubungan dengan nilai rasa, sedangkan bahasa yang benar adalah “bahasa yang sesuai dengan kaidah yang ada, bahasa yang baik dan benar harus menggunakan tatabahasa, sistem ejaan, artikulasi, dan kalimat yang sesuai dengan aturan bahasa”.47
1. Istilah Variasi Bahasa
Mengenai variasi bahasa ini terdapat istilah yang perlu diketahui yaitu:48 a. Idiolek
Aidiolek adalah variasi atau ragam bahasa yang bersifat perseorangan karena setiap orang mempunyai ciri khas bahasanyamasing-masing. b. Dialek
Dialek adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu.
c. Ragam
Ragam atau ragam bahasa adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan, atau untuk keperluan tertentu.untuk itu situasi formal digunakan ragam bahasa yang disebut ragam baku atau ragam standar, untuk situasi tidak formal digunakan ragam yang tidak baku atau ragam non standar.
45
Soeparno, Dasar-dasar Linguistik Umum, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), h. 71. 46
Ramlan A. Gani dan Mahmudah Fitriyah Z.A, Disiplin Berbahasa Indonesia, (Jakarta: FITK PRESS, 2011), h. 4.
47
Ibid, h. 6. 48
2. Macam-macam Variasi Bahasa
Penggunaan variasi atau ragam bahasa ini sering kita temukan salah satunya adalah di dalam ruang lingkup sekolah dalam proses belajar mengajar. Bila dilihat dari latar belakang budaya, suku dan etnik masyarakat di lingkungan sekolah tentunya ragam bahasa yang digunakan pun akan bervariasi. Berikut beberapa variasi bahasa berdasarkan macamnya:49
a. Variasi Kronologis
Variasi bahasa ini disebabkan oleh faktor keurutan waktu atau masa. Perbedaan pemakaian bahasa telah mengakibatkan perbedaan wujud pemakaian bahasa.
b. Variasi Geografis
Variasi bahasa ini disebabkan oleh perbedaan geografis atau faktor regional atau sering juga disebut variasi regional.
c. Variasi Sosial
Variasi ini disebabkan oleh perbedaan sosiologis, realisasi variasi sosial ini berupa sosiolek.
d. Variasi Fungsional
Variasi ini disebabkan oleh perbedaan fungsi pemakaian bahasa, sampai berapa jauh fungsi-fungsi bahasa itu dimanifestasikan akan tampak pada wujud variasi fungsional atau yang populer dengan sebutan fungsiolek.
e. Variasi Gaya/Style
Variasi ini disebabkan oleh perbedaan gaya. Gaya adalah cara berbahasa seseorang dalam perpormansinya secara terencana maupun tidak, baik secara lisan maupun tertulis.
f. Variasi Kultural
Variasi ini disebabkan oleh perbedaan budaya masyarakat pemakainya. Suatu bahasa yang dipergunakan oleh penutur asli atau penutur pribumi kadang-kadang mengalami perubahan dengan masuknya budaya lain.
49
g. Variasi Individual
Variasi ini disebabkan oleh perbedaan perorangan. Wujud varietasnya dinamakan idiolek. Setiap individu penutur memiliki ciri tuturan yang berbeda dengan penutur lain.
Dengan demikian dapat penulis simpulkan bahwa variasi bahasa atau ragam bahasa ini dapat menyebabkan terjadinya penggunaan alih kode dan campur kode, dan ini sangat berkaitan dengan penelitian yang penulis teliti.
G. Bahasa Pengantar dalam Proses Belajar Mengajar 1. Pengertian Proses Belajar Mengajar
Proses Belajar Mengajar adalah interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam pengajaran. Dalam proses belajar mengajar, tentunya ada yang diajar dan ada yang mengajar. Dalam hal ini pendidik lebih berfungsi sebagai sumber pesan dan peserta didik sebagai penerimanya. Media dalam konteks pembelajaran, dengan demikian adalah bahasa yang digunakan pendidik. Bahasa pendidik dalam proses pembelajaran tersebut dapat secara verbal maupun non verbal. Bahasa verbal adalah “semua jenis komunikasi yang menngunakan satu kata atau lebih”.50
Belajar merupakan salah satu kebutuhan manusia yang vital guna mempertahankan hidup dan mengembangkan diri dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut pandangan B.F Skiner „belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif”.51
2. Bahasa Pengantar dalam Proses Belajar Mengajar
Dalam proses belajar mengajar, baik dalam kegiatan awal, inti, maupun penutup diwajibkan memakai bahasa Indonesia sebagai pengantar. Hal ini dimaksudkan untuk menunjang efektivitas komunikasi. Tidak bisa dipungkiri bahwa pendidik dalam suatu pengajaran merupakan kunci sentral bagi peserta didiknya dalam proses belajar mengajar. Jadi, sudah seyogyanyalah pendidik menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam proses belajar mengajar.
50
Yudhi Munadi, Media Pembelajaran, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2012), h. 9. 51
Komunikasi merupakan bagian yang hakiki dari kehidupan manusia. Demikian pula dalam kehidupan di sekolah. Komunikasi pendidik dan peserta didik mempunyai arti yang sangat besar bagi kehidupan dan pengembangan pengetahuan. Istilah komunikasi berarti “berpartisipasi, memberitahukan, dan menjadikan milik bersama”. Hal ini berarti, “komunikasi mengandung pengertian “memberitahukan” (dan menyebarkan) berita, pengetahuan, pikiran-pikiran, nilai-nilai dengan maksud untuk menggugah partisipasi agar hal-hal yang diberitahukan itu menjadi milik bersama”.52
Dalam proses pembelajaran, komunikasi pendidik dan peserta didik seringkali menemui hambatan. Hal ini disebabkan bebrapa faktor, antara lain: a) Faktor penguasaan dan penggunaan bahasa (terutama bahasa asing)”53, b) adanya gangguan (interference) atau kegaduhan (noice)54. Fungsi pendidik dalam komunikasi terutama dalam proses pembelajaran tidak hanya berfungsi sebagai komunikator, tetapi juga adalah sebagai fasilitator (pemberi kemudahan proses belajar) dan motivator yang memberi dorongan dan semangat dalam belajar kepada peserta didiknya.
H. Penelitian Yang Relevan
Penelitian tentang fenomena campur kode sudah pernah dilakukan di antaranya, yaitu penelitian dengan judul “ Campur Kode dalam Pemakaian
Bahasa Bali pada Etnik Jawa di Desa Tegallinggah Buleleng” penelitian oleh I Gusti Putu Antara dan Ni Nyoman Garminah. Penelitian tersebut membahas masalah campur kode dalam pemakaian bahasa Bali yang dikaitkan dengan ranah bahasa, topik pembicaraan, serta partisipan yang dilibatkan dalam komunikasi.
Penelitian ini juga pernah dilakukan oleh R. Jamaluddin dalam tesisnya di program Pascsarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta, berjudul ”Peristiwa Campur Kode dalam Komunikasi Lisan Masyarakat Multilingual (Studi Kasus di Pesantren Pabelan Magelang)”. Hasil analisis menunjukkan di
52
Sumiati, dan Asra, Metode Pembelajaran, (Bandung: Wacana Prima, 2008), h. 67. 53Ibid,
h. 68. 54
Pondok Pesantren Magelang banyak digunakan campur kode dalam wujud kata, frasa, idiom, pengulangan kata, dan klausa.
Penelitian ini juga pernah dilakukan oleh Hanifatul Hijriati dengan judul
”Alih kode dan campur kode dalam Pembelajaran English Conversation pada siswa kelas X program ICT SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar” Penelitian ini membahas masalah wujud alih kode dan campur kode dalam kegiatan pembelajaran English Conversation dan faktor-faktor penentu peristiwa alih kode dan campur kode yang menonjol dalam kegiatan belajar mengajar English Conversation di kelas X program ICT SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar.
Dalam hal ini ada persamaan dengan penelitian yang tersebut di atas dengan penelitian yang akan penulis teliti, yaitu sama-sama membahas tentang alih kode dan campur kode, penelitian yang penulis teliti juga terdapat perbedaan dibandingkan ketiga penelitian tersebut di atas. Penelitian yang pernah dilakukan I Gusti Putu Antara dan Ni Nyoman Garminah, membahas masalah campur kode dalam pemakaian bahasa Bali yang dikaitkan dengan ranah bahasa, topik pembicaraan, serta partisipan yang dilibatkan dalam komunikasi.
Sementara R. Jamaluddin membahas tentang campur kode dalam wujud kata, frasa, idiom, pengulangan kata, klausa, dan faktor utama penggunaan campur kode. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Hanifatul Hijriati Penelitian ini membahas masalah wujud alih kode dan campur kode dalam kegiatan pembelajaran English Conversation dan faktor-faktor penentu peristiwa alih kode dan campur kode yang menonjol dalam kegiatan belajar mengajar.
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian adalah “lokasi proses studi yang digunakan untuk memperoleh pemecahan masalah penelitian berlangsung”.1 Dalam rangka mendapatkan data-data yang akurat, penulis mengadakan penelitian di Madrasah Tsanawiyah Nurul Ummah yang beralamat di Jl. Cikampak KM. 05 Kp. Nagrog Rt. 02/07, Desa Cibuntu Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor. Kegiatan belajar mengajar di MTs. Nurul Ummah dilakukan pada pagi hari dari mulai pukul 07.00 sampai dengan pukul 13.00. Penelitian ini dimulai dengan pengumpulan data yang akan dilakukan pada bulan April – Mei 2014, sedangkan proses penelitian akan dilakukan pada bulan Juni – Juli 2014.
Berhubungan dengan keberlangsungan proses penelitian, dipermasalahkan tentang keteraturan dalam pelaksanaannya, yaitu “urutan kegiatan penelitian menurut dimensi waktu yang tertuang dalam “time schedule” atau jadwal pelaksanaan penelitian yang dituangkan dalam proposal penelitian”.2 Jadwal kegiatan “merupakan refleksi dari kegiatan yang telah dirancang dalam matriks jalannya penelitian”.3 Semuanya dijadwalkan dengan cermat agar penelitian dapat berjalan disiplin dan bisa selesai tepat waktu. Adapun jadwal penelitian yang disusun oleh penulis adalah sebagai berikut:
Tabel 1.1
Jadwal Pengumpulan Data
No Kegiatan
April Mei
Minggu ke Minggu ke
1 2 3 4 1 2 3 4
1
Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), h. 53. 2
Nurul Zuriah, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), h. 5 3
B. Metode dan Desain Penelitian
Metode penelitian merupakan “cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu”.4 Secara luas desain penelitian adalah “semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian”.5 Metode penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasi objek sesuai dengan apa adanya, penelitian deskriptif pada umumnya dilakukan dengan tujuan utama yaitu, “menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek atau subjek yang diteliti secara tepat”.6
Untuk mencapai tujuan penelitian ini dilakukan dengan penelitian kualitatif. Kajian kualitatif pada dasarnya dilakukan untuk menyusun teori, bukan menguji teori, atau dengan kata lain, “kajian kualitatif ini untuk menemukan pengetahuan baru, atau merumuskan teori baru berdasarkan data yang dikumpulkan”.7
Metode penelitian deskriptif kualitatif dipilih karena cocok dengan karakteristik masalah penelitian ini, yakni campur kode dan alih kode dalam proses belajar mengajar di MTs. Nurul Ummah Ciampea, Bogor yang berlangsung secara alamiah. Selain itu, metode penelitian ini membantu penulis untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena campur kode dalam proses belajar mengajar di MTs. Nurul Ummah. Penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi karena objek yang diteliti diperoleh saat interaksi belajar mengajar berlangsung dan data mengenai campur kode dan alih kode diperoleh melalui observasi, wawancara, langsung dengan pendidik dan peserta didik di MTs. Nurul Ummah Ciampea, Bogor.
C. Objek Penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah campur kode dan alih kode bahasa Sunda ke dalam bahasa Indonesia dalam proses belajar mengajar kelas VIII MTs. Nurul Ummah Ciampea, Bogor.
4
Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi, (Bandung: Alfabeta, 2011), h.1. 5
Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), h. 183. 6
Ibid, h. 157. 7
D. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah pendidik dan peserta didik dalam pembelajaran bidang studi bahasa Indonesia pada kelas VIII MTs. Nurul Ummah Kp. Nagrog Desa Cibuntu Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor, semester genap, tahun pelajaran 2013/2014.
E. Prosedur penelitian
Untuk susunan prosedur penelitiannya yaitu:
1. Tahap pertama, pengidentifikasian dan klasifikasi campur kode dan alih kode berdasarkan kriteria tertentu. Kriteria yang digunakan adalah bentuk dan fungsi campur kode dan alih kode bahasa Sunda ke dalam bahasa Indonesia yang terjadi dalam proses belajar mengajar di MTs. Nurul ummah, yaitu: kata, frasa, klausa, kalimat, dan singkatan.
2. Tahap kedua, menganalisis bentuk dan fungsi campur kode dan alih kode bahasa Sunda ke dalam bahasa Indonesia yang telah diklasifikasi untuk mencari fungsi dan maknanya.
F. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi
Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain. Observasi adalah “tindakan yang merupakan penafsiran dari teori”.8 Sutrisno Hadi mengemukakan bahwa, “observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikhologis”.9
Metode ini juga digunakan dalam suatu studi yang disengaja dan sistematis tentang keadaan/fenomena sosial dan gejala-gejala dengan mengamati. Pengamatan ini dapat dibantu dengan catatan atau rekaman. Pencatatan selama proses observasi tidak dapat di lakukan secara sempurna oleh penulis, dalam arti penulis tidak mampu mencatat semua peristiwa yang berlangsung saat observasi.
8
Syamsudin AR, M.S. dan Vismaia S. Damaianti, Metodologi Penelitian Pendidikan Bahasa, (Bandung: Rosdakarya, 2009), h. 237.
9
Rekaman dapat digunakan sebagai bahan rujuk silang atas ketepatan hasil pencatatan. Hal-hal yang tidak sempat di catat selama pencatatan akan di konfirmasikan dan di sempurnakan melalui hasil rekaman.
Di sisi lain, pemilihan metode observasi dalam penelitian ini didasarkan atas pertimbangan, bahwa metode observasi memiliki beberapa keuntungan yaitu (1) dengan metode observasi penulis memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang kehidupan sosial, (2) metode observasi dapat digunakan untuk melihat dan mengmati fenomena sosial yang tumbuh dan berkembang dan (3) metode observasi dapat di gunakan sebagai eksplorasi.
2. Wawancara
Dalam pengumpulan data, penulis juga menggunakan metode wawancara mengenai campur kode dan alih kode dalam interaksi proses belajar mengajar. Wawancara adalah “suatu percakapan dengan tujuan untuk memperoleh konstruksi yang terjadi sekarang tentang orang, kejadian, aktivitas, organisasi, perasaan, motivasi, pengakuan, kerisauan dan sebagainya; rekonstruksi keadaan tersebut berdasarkan pengalaman masa lalu; proyeksi keadaan tersebut yang diharapkan terjadi pada masa yang akan datang; dan verifikasi, pengecekan dan pengembangan informasi (konstruksi, rekonstruksi dan proyeksi) yang telah didapat sebelumnya”.10 Dalam penelitian ini penulis memilih wawancara tidak terstuktur. Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara secara bebas, Pedoman wawancara tidak terstuktur ini digunakan agar memperoleh data atau jawaban dari responden secara mendalam dan sesuai dengan data yang diharapkan penulis.
Sehubungan dengan pengertian tersebut, maka dalam penelitian ini penulis berperan sebagai orang yang memberikan pertanyaan yang disebut pewawancara, sedangkan informan dalam hal ini adalah pendidik dan peserta didik yang berperan sebagai orang yang memberi jawaban atas pertanyaan yang diberikan oleh penulis. Wawancara dilakukan terhadap guru dan siswa MTs. Nurul Ummah Ciampea. Bogor setelah proses belajar mengajar selesai.
10
3. Dokumentasi
Metode dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber non manusia, sumber ini adalah sumber yang cukup bermanfaat, selain lebih akurat sebagai cermin situasi atau kondisi yang sebenarnya serta dapat dianalisis secara berulang-ulang dengan tidak mengalami perubahan. Dokumentasi yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah dalam bentuk rekaman. Teknik rekam ialah “pemerolehan data dengan cara merekam pemakaian bahasa lisan yang bersifat spontan”.11 Sementara Lincoln dan Guba mengartikan “rekaman” sebagai setiap tulisan atau penyataan yang dipersiapkan oleh atau untuk individu atau organisasi dengan tujuan membuktikan adanya suatu peristiwa”.12
G. Instrumen Penelitian
Secara fungsional kegunaan instrumen penelitian adalah “untuk memperoleh data yang diperlukan ketika peneliti sudah menginjak pada langkah pengumpulan informasi di lapangan”.13 Semua dalam penelitian ini disiapkan dan dirancang dengan matang untuk mendapakan data yang mendukung penelitian ini. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
Tabel 1.2
Analisis Bentuk Campur Kode Proses Belajar Mengajar MTs. Nurul Ummah
No Data Kata Frasa Klausa Kalimat Singkatan
11
Edi Subroto D, Pengantar Metodologi Penelitian linguistik Stuktural, (Surakarta: USM, 2007), h. 30.
12
Syamsudin AR, M.S. dan Vismaia S. Damaianti, Metodologi Penelitian Pendidikan Bahasa, (Bandung: Rosdakarya, 2009), h. 108.
13
Tabel 1.3
Analisis Bentuk Alih Kode Proses Belajar Mengajar MTs. Nurul Ummah
No Data Kata Frasa Klausa Kalimat Singkatan
H. Teknik Analisis Data
Analisis data yaitu “kegiatan setelah data terkumpul dari seluruh responden atau sumber data lain yang terkumpul”.14 Sementara bogdan dan Biklen menjelaskan bahwa „analisis data melibatkan pengerjaan organisasi data, pemilihan menjadi satuan-satuan tertentu, sintesis data, pelacakan pola, penemuan hal-hal yang penting dan dipelajari, dan penentuan apa yang harus dikemukakan pada orag lain”.15
Dalam penelitian ini, data yang di analisis adalah data yang di peroleh dari hasil observasi dan wawancara. Adapun tahap-tahap analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Reduksi Data
Proses reduksi sebenarnya merupakan “bagian dari usaha menerjemahkan realitas menjadi kenyataan yang bersifat konseptual, sehingga dapat digunakan untuk memahami hubungan kejadian yang satu dan kejadian lainnya”.16 Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting dicari temanya serta polanya dan membuang yang tidak perlu, reduksi data akan membantu penulis dalam memberikan gambaran yang lebih jelas, mempermudah penulis melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila di perlukan.
14
Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi, (Alfabeta: Bandung, 2011), h. 169. 15
Syamsudin AR, M.S. dan Vismaia S. Damaianti, Metodologi Penelitian Pendidikan Bahasa, (Bandung: Rosdakarya, 2009), h. 110.
16
2. Deskripsi Data
Setelah data di reduksi, maka langkah selanjutnya adalah deskripsi data. Kegiatan deskripsi adalah “menggambarkan data yang ada dengan cara menyusun dan mengelompokkan data guna memperoleh bentuk nyata dari responden, sehingga lebih mudah dimengerti peneliti atau orang lain yang tertarik dengan hasil penelitian yang dilakukan”.17 Deskriptif bukanlah angka-angka, tetapi dapat berupa kata-kata atau gambaran sesuatu, hal tersebut sebagai akibat dari metode kulitatif, semua yang dikumpulkan mungkin dapat menjadi kunci terhadap apa yang sudah diteliti, ciri ini merupakan yang sejalan dengan penamaan kualitatif, deskripsi merupakan “gambaran ciri-ciri data secara akurat sesuai dengan sifat alamiah itu sendiri”.18 Dasar pertimbangan pengelompokan data di sesuaikan dengan fokus penelitian. Dalam hal ini fokus penelitian adalah menemukan gejala alih kode dan campur kode baik bentuk maupun faktor penyebab di lakukan alih kode dan campur kode. Oleh karena itu, gejala alih kode dan campur kode dan penyebab alih kode dan campur kode dikelompokan sehingga menjadi lebih jelas.
3. Teknik Pengolahan Data
Klasifikasi data di lakukan setelah data dari observasi, wawancara, dan rekaman di sajikan. Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Menggolongkan data yang telah tersusun atau yang sudah di pilih sesuai dengan kategori-kategori tertentu;
b. Melakukan pengkodean, yaitu pemberian kode-kode tertentu untuk menandai data sesuai dengan kategori data;
c. Menganalisis data bentuk dan fungsi campur kode dan alih kode; d. Menyimpulkan hasil penelitian.
17
Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), h. 86. 18
A. Latar Belakang/sejarah berdirinya MTs. Nurul Ummah
Berdasarkan adanya desakan dari masyarakat/orang tua peserta didik agar menghendaki adanya jenjang pendidikan yang bernuansakan Islami. Tahun 1968 didirikan Madrasah Tsanawiyah Nurul Ummah oleh Bapak KH. Syibli (Alm), di atas sebidang tanah seluas 4000 m2 dan luas bangunan 1500 m2. Madrasah Tsanawiyah Nurul Ummah sebagai lembaga pendidikan di bawah Yayasan Pendidikan Islam Nurul Ummah, di Akta Notariskan oleh R. Henry Susanto, S.H, tanggal 5 bulan April 2002 dengan Nomor Statistik Madrasah 121232010116, yang dikeluarkan oleh Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Jawa Barat. Madrasah ini terakreditasi A, dengan nomor SK.BAP-S/M Nomor: 02.00/322/BAP-SM/XI/2013.
Madrasah Tsanawiyah Nurul Ummah beralamatkan di Jalan Cikampak Km. 05 Nagrog Desa Cibuntu Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor. Kegiatan pembelajaran berlangsung pada pagi hari, dari mulai jam 07.00 – 13.00. Adapun jumlah siswa pada tahun pelajaran 2013/2014 tercatat sebanyak 585 siswa dengan 30 orang tenaga pengajar dan 2 tenaga administrasi 1 pustakawan dan 1 penjaga madrasah.
Madrasah Tsanawiyah Nurul Ummah Nagrog Cibuntu Ciampea, Bogor, dalam perjalanannya selama empat puluh enam tahun sudah mengalami empat pergantian kepemimpinan. Pertama Madrasah Tsanawiyah Nurul Ummah dipimpin oleh Bapak Kiyai H. Syibli (Alm) dari tahun 1968 sampai dengan tahun 1994. Wafatnya beliau akhirnya kepemimpinan dilanjutkan oleh putra pertamanya yaitu Bapak Drs. Kamal Siroj (Alm) dari tahun 1994 sampai dengan 1999. Sepeninggalnya Bapak Drs. Kamal Siroj kepemimpinan dilanjutkan oleh Ibu Hj. Mimin Mulyani S.Pd.I, putra ketiga dari Bapak KH. Syibli. Periode keempat kepemimpinan dilanjutkan hingga sekarang oleh putra bungsu dari Bapak KH. Syibli, yaitu Bapak Yudi Saepul Rizal, M.Pd.
B. Profil Madrasah Tsanawiyah Nurul Ummah
Profil Madrasah merupakan gambaran tentang identitas Madrasah, adapun profil Madrasah Tsanawiyah Nurul Ummah Nagrog Cibuntu Ciampea, Bogor sebagai berikut:
Tabel 2.1 Profil Madrasah
No Identitas Madrasah
1 Nama Madrasah MTs. Nurul Ummah
2 N.S.S 121232010116
3 Provinsi Jawa Barat
4 Otonomi Bogor
5 Kecamatan Ciampea
6 Desa/Kelurahan Cibuntu
7 Jalan & Nomor Nagrog
8 Kode Pos 16620
9 Telepon Kode wilayah : 0251 Nomor :
10 Faksimile Kode Wilayah Nomor : 11 Daerah Perkotaan Pedesaan 12 Status Madrasah Negeri Swasta 13 Kelompok Madrasah Inti Model Terbuka
14 Akreditasi A
15 Surat Keputusan SK SK.BAP-S/M/No: 0200/322/BAP-SM/XI/2013 16 Penerbit SK (ditandatangani oleh) Pembinaan Perg. Agama Islam
17 Tahun Berdiri 1968
18 Tahun Perubahan -
19 Kegiatan Belajar Mengajar Pagi Siang Pagi & Siang 20 Bangunan Madrasah Milik Sendiri
21 Luas Bangunan L : 4000 M2
22 Lokasi Madrasah Kp. Nagrog Desa Cibuntu 23 Jarak ke Pusat Kecamatan 6 Km
2 Jarak ke Pusat Otoda 40 Km 25 Terletak pada Lintasan Desa 26 Jumlah Keanggotaan Rayon -
27 Organisasi Penyelenggara Yayasan
C. Visi, Misi, dan Tujuan Madrasah