• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 PENUTUP

5.2 Saran

Perlunya peningkatan pengetahuan peternak tentang kepentingan lalat H. equina terhadap kesehatan sapi perah di kawasan usaha peternakan sapi perah Cibungbulang Kabupaten Bogor.

                           

DAFTAR PUSTAKA

[Anonim]. 2012. Pengendalian Lalat. [terhubung berkala]. http://www. depkes.go.id/downloads/Pengendalian lalat.pdf. [9 Juli 2012].

Abubakar. 2012. Pedoman Pelaksanaan Manajemen Pembibitan Ternak Terpadu

Tahun 2012. Jakarta. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian.

[BMKG] Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. 2011. Data Temperatur,

Curah Hujan, dan Kelembaban Udara. Bogor. Stasiun Klimatologi Darmaga Bogor.

Borror DJ, Triplehorn CA, Johnson. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga.

Partosoedjono S, Penerjemah; Brotowidjoyo MD, editor. Terjemahan dari: An Introduction to the Study of Insects. Ed ke-6. Yogyakarta: Gadjah Mada University Pr.

Bowmans DD. 1999. Parasitology for Veterinarians 7th ed. Philadelphia: Wb

Saunders Company.

Cheng TC. 1973. General Parasitology. London. Academic Pr.

Hadi UK, Soviana S. 2010. Ektoparasit: Pengenalan, Diagnosis, Biologi dan

Pengendaliannya. Bogor. IPB Pr.

Hafez M, Hilali M, Fouda M. 2009. Biological studies of Hippobosca equina (L) (Diptera: Hippoboscidae) infesting domestic animal in Egypt. J Applied Entomol 83:14-71.

Hutson AM. 1984. Diptera: Keds, Flat-Flies & Bat-Flies (Hippoboscidae & Nycteribiidae). Handbooks for the Identification of British Insects.

London:Royal Entomological Society.

Levine DN. 1994. Parasitologi Veteriner. Yogyakarta. Gadjah Mada University Pr.

Maa TC. 1969. A Revised Checklist and Concise Host Index of Hippoboscidae

(Diptera). USA. Bishop Museum Honolulu.

Masshall AG. 1981. The Ecology of Ectoparasitic Insects. London. Academic Pr.

Mullen G, Durden L. 2002. Medical and Veterinary Entomology. London.

Academic Pr.

Mwkozlowski. 2011. Diptera. [terhubung berkala]. http://72.44.83.99/photogallery.php?photo_id=7963. [11 Juli 2012].

Partosoedjono S, Soekardono S. 1984. Beberapa Pengendalian Insektisida untuk Pengendalian Lalat-Lalat Pengganggu dan Pengisap Darah pada Ternak di Indonesia. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

Quercia O, Emiliani F, Foschi FG, Stefanini GF. 2005. Anaphylactic reaction after Hippobosca equina bite. JAlergi Immunol Clin 20:31-33.

Rani PAMA, Coleman GT, Irwin PJ, Traub RJ. 2011. Hippobosca longipennis a

potential intermediate host of a species of Acanthocheilonema in dogs in northern India. J Par Vect 4:143.

Salmi AS, Putra A, Antika I, Tantina. 2010. Jenis dan Tata Cara Pemeliharaan Sapi Perah. Bogor. Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Sigit SH, Partosoedjono S, Akib MS. 1983. Inventarisasi dan Pemetaan Parasit

Indonesia Tahap Pertama: Ektoparasit (Proyek No. 2/Penel/P4T-IPB/1980-1981). Bogor. Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

Sigit SH, Koesharto FX, Hadi UK, Amin AA, Gunandini DJ. 1990. Studi Infestasi Ektoparasit pada Ternak Besar di Daerah Nusa Tenggara Timur. Bogor. Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

Siregar S. 1995. Jenis dan Teknik Pemeliharaan Sapi Perah. Jakarta: Penebar Swadaya.

Soulsby EJL. 1982. Helminths, Arthopods and Protozoa of Domesticated

Animals. Ed ke-7. The English Language Book Society, Bailiere Tindall, London.

Taylor MA, Coop RL, Wall RL. 1996. Veterinary Parasitoloy. Hongkong:

Graphicraft limited.

Turner CR, Mann DJ. 2005. Recent observations on Hippobosca equina L.

(Diptera: Hippoboscidae) in South Devo. J Entomol Nat Hist 1:37-40.

Wall R, Shearer D. 1997. Veterinary Entomology: Artropod Ectoparasites of

Veterinary Importance. London. Chapman & Hall.

Walravens E. 2010. Dipteres. [terhubung berkala]. http://www.afblum.be/bioafb/especes/dipteres/dipteres.htm. [9 Juli 2012).

Williamson G, Payne WJA. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis.

Yogyakarta: Gadjah Mada University Pr. Terjemahan dari: An

LAMPIRAN

Lampiran 1 Jumlah lalat H. equina pada sapi perah dikawasan usaha peternakan sapi perah Cibungbulang Kabupaten Bogor pada bulan Mei 2011

sampai dengan April 2012

Sapi Pengamatan ke-  

Mei Juni Juli Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr 1 8 3 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 20 7 4 3 4 6 1 0 0 0 0 0 3 30 18 7 3 0 0 0 0 0 0 0 0 4 18 15 10 6 4 3 1 0 0 0 0 0 5 21 16 4 4 2 0 0 0 0 0 0 0 6 12 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 14 6 4 4 0 0 0 0 0 0 0 0 8 16 5 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 15 5 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 10 11 8 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 11 13 5 4 2 2 0 0 0 0 0 0 0 12 10 10 6 4 2 0 0 0 0 0 0 0 13 10 4 2 4 2 0 0 0 0 0 0 0 14 16 10 3 2 2 0 0 0 0 0 0 0 15 18 14 8 6 4 3 0 0 0 0 0 0 Jumlah (ekor) 232 129 59 40 23 12 2 0 0 0 0 0

Lampiran 2 Data curah hujan (mm) di kawasan usaha peternakan sapi perah Cibungbulang Kabupaten Bogor pada bulan Mei 2011 sampai dengan April 2012

Tanggal Mei

2011 Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

Jan

2012 Feb Mar Apr

1 4 14 40 - 2 - 72 20 8 9 15 3 2 3 78 - - 12 - 2 27 - 6 14 3 3 35 - 3 - 2 - 12 10 - - - 41 4 - - 37 - 12 - - - 7 - - 34 5 - 45 - 2 - - - 12 - 3 7 1 6 12 - 7 7 - - - - 16 - - 5 7 20 - - - - 7 - - 10 4 - 8 8 3 - - - - 21 - - 23 6 21 - 9 1 8 - - - 6 - 6 - 10 - 34 - - 40 - 2 - - 4 - 39 11 2 - 7 - - 18 1 4 3 23 6 - 12 1 - - - 36 8 6 34 - 29 13 - 2 14 - - 30 10 - 37 68 - 20 14 - - - - 56 35 43 10 - 14 15 12 82 2 20 - - 4 18 32 63 - 54 16 6 2 13 - 2 - 63 4 7 4 - - 17 - - - - 8 - - - 6 3 - 53 18 - - - - 7 - 51 - 21 86 - - 19 - 4 - - 31 2 24 - 3 81 - 69 20 46 - 108 10 4 - 48 - 1 6 4 - 21 27 - 7 7 40 - - - - 6 - 20 22 35 - - - - 13 - - - - - 2 23 - - - - - 7 4 3 4 74 - - 24 16 - - - - 21 - 4 - 16 - - 25 3 - - - - 2 65 51 1 - - - 26 27 - 2 - 9 43 17 10 7 19 - 14 27 65 - - - - 31 - 15 - 31 - 3 28 14 18 - - - 7 5 - - 6 57 - 29 10 13 - - 104 15 - - - - 3 6 30 - 58 - - 2 10 - - 5 13 - 31 5 - 20 - 12 7 6 Rata-rata 16.5 29.8 21.8 11 19.6 16.2 27.7 15.5 12 25.5 13.8 22

Keterangan : (-) Tidak ada hujan

Sumber: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Bogor

Lampiran 3 Data suhu lingkungan (°C) pada bulan Mei 2011 sampai dengan April 2012

Tanggal Mei

2011 Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

Jan

2012 Feb Mar Apr

1 25.8 25.8 27.1 25.3 25.8 26.5 25.6 27.0 24.4 25.5 26.4 25.8 2 25.6 25.6 26.9 25.9 25.0 27.4 26.3 25.8 25.4 26.3 25.6 25.2 3 26.2 26.2 26.6 25.9 25.1 26.5 26.3 26.0 25.6 24.2 26.0 24.6 4 26.6 26.6 25.9 25.2 26.5 25.7 25.8 25.6 26.4 25.2 25.9 25.6 5 25.2 25.2 26.9 25.1 25.9 26.3 25.4 27.1 24.8 26.0 26.0 25.1 6 25.9 25.9 26.8 24.5 26.1 26.3 27.2 25.6 24.1 25.5 27.0 25.2 7 25.3 25.3 25.5 25.3 26.4 27.1 26.6 25.9 23.9 25.6 24.2 26.0 8 25.8 25.8 26.0 25.4 26.1 25.1 26.2 26.8 25.2 26.6 25.9 25.8 9 26.4 26.4 26.3 25.9 25.5 25.6 25.6 26.8 25.8 24.4 26.6 25.2 10 26.6 26.6 26.2 25.9 26.2 26.3 25.8 25.4 24.3 25.3 26.3 26.2 11 27.4 27.4 26.0 26.0 26.3 25.5 27.3 26.3 24.2 25.2 26.6 25.1 12 26.7 26.7 25.7 26.2 26.8 25.6 25.8 26.5 24.4 26.5 26.6 25.9 13 27.2 27.2 26.0 26.3 26.6 26.9 25.0 25.7 23.8 25.1 26.9 26.9 14 26.5 26.5 26.0 25.6 27.0 26.9 25.1 25.7 23.2 26.0 26.5 26.5 15 25.4 25.4 26.4 25.6 24.7 27.2 25.8 25.6 24.4 26.3 25.7 26.7 16 26.0 26.0 26.0 26.2 25.9 27.4 25.9 26.5 25.0 26.2 25.8 26.9 17 25.7 25.7 26.1 25.6 25.6 26.6 26.1 26.4 25.6 25.2 27.0 25.7 18 25.7 25.7 24.7 25.8 25.4 26.5 25.4 26.7 26.0 25.8 25.6 26.4 19 27.1 27.1 25.7 26.3 25.3 27.1 25.4 25.4 25.5 24.4 26.4 25.6 20 25.1 25.1 25.9 26.0 26.2 26.8 25.6 24.9 25.8 24.9 26.6 25.7 21 25.5 25.5 26.7 25.0 25.7 25.4 26.8 27.2 25.4 25.9 26.3 25.7 22 25.6 25.6 26.5 25.6 25.6 26.0 25.3 27.5 24.6 25.8 27.0 26.0 23 25.3 25.3 26.2 25.6 26.4 24.7 26.1 26.4 25.3 26.6 26.4 26.5 24 26.5 26.5 26.0 25.8 26.2 27.1 27.4 25.9 27.3 26.7 26.6 27.3 25 26.1 26.1 26.3 25.4 26.4 25.8 24.9 25.3 25.3 26.3 25.8 26.9 26 26.5 26.5 25.5 24.9 26.7 25.4 28.2 25.2 26.8 24.4 25.6 26.4 27 26.4 26.4 26.7 25.0 26.4 27.1 27.2 27.0 27.0 25.6 26.2 27.8 28 26.7 26.7 25.8 25.2 25.4 24.7 27.1 26.7 24.4 25.9 25.5 26.9 29 25.1 25.1 25.4 25.6 26.1 27.0 27.1 25.9 23.7 24.2 26.4 25.9 30 25.7 25.7 25.0 25.7 26.1 26.5 26.8 26.3 24.4 26.4 24.2 31 26.7 25.9 25.8 26.1 25.7 25.2 23.4 Rata-rata 26.1 26.0 26.1 25.6 26.0 26.3 26.2 26.1 25.1 25.6 26.1 26.0

Sumber: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Bogor

Lampiran 4 Data kelembaban udara (%) pada bulan Mei 2011 sampai dengan April 2012

Tanggal Mei

2011 Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des

Jan

2012 Feb Mar Apr

1 84 81 89 72 81 72 88 87 92 86 79 89 2 86 84 80 77 82 77 88 86 88 85 88 87 3 81 82 79 75 82 75 84 81 90 91 90 90 4 77 84 83 80 73 80 74 84 82 88 83 85 5 90 86 80 78 72 78 75 80 89 84 85 89 6 85 84 76 77 74 77 74 88 94 83 83 87 7 89 85 78 72 72 72 72 83 96 83 95 90 8 85 82 75 76 75 76 79 82 89 85 84 86 9 78 84 79 73 69 73 83 80 85 94 82 87 10 83 79 78 74 70 74 85 90 88 86 88 85 11 81 80 81 75 70 75 76 84 89 87 86 86 12 81 83 81 73 71 73 85 81 86 84 81 86 13 80 81 84 76 74 76 88 83 94 88 78 85 14 82 78 82 80 75 80 83 88 95 90 89 83 15 86 80 85 78 87 78 84 90 93 82 88 84 16 79 75 84 73 80 73 82 79 89 85 87 81 17 80 72 77 77 82 77 84 81 85 90 82 86 18 85 75 81 81 79 81 84 81 84 81 88 83 19 79 73 86 80 81 80 85 88 85 90 83 95 20 90 77 83 76 77 76 89 89 79 88 85 91 21 83 72 84 78 75 78 79 83 80 84 85 89 22 86 78 82 73 77 73 84 81 86 91 81 90 23 87 79 79 76 70 76 85 86 81 86 82 85 24 85 78 78 77 72 77 83 89 69 87 88 82 25 86 75 78 64 72 64 94 90 82 88 80 79 26 85 74 75 64 74 64 79 92 79 95 79 81 27 86 76 77 72 77 72 84 83 76 84 77 78 28 84 88 78 69 78 69 85 86 86 88 84 82 29 81 86 75 75 75 75 82 74 91 97 84 88 30 87 87 73 79 76 79 86 84 90 86 96 31 82 70 82 82 85 86 95 Rata-rata 84 80 80 75 76 75 83 84 86 87 85 86

Sumber: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Bogor

Lampiran 5 Cara perhitungan Indeks Curah Hujan (ICH) pada bulan Mei 2011 sampai dengan April 2012

Rumus Indeks Curah Hujan (ICH)

= Σ curah hujan (mm) perbulan X Σ hari hujan perbulan Σ hari (dalam satu bulan)

ICH (mm) bulan Mei = Σ curah hujan (mm) perbulan X Σ hari hujan perbulan Σ hari (dalam satu bulan)

= 347 mm X 21 31 hari = 235.1 mm

ICH (mm) bulan Juni = Σ curah hujan (mm) perbulan X Σ hari hujan perbulan Σ hari (dalam satu bulan)

= 358 mm X 12 30 hari = 143.2 mm

ICH (mm) bulan Juli = Σ curah hujan (mm) perbulan X Σ hari hujan perbulan Σ hari (dalam satu bulan)

= 240 mm X 11 31 hari = 85.2 mm

ICH (mm) bulan Agustus = Σ curah hujan (mm) perbulan X Σ hari hujan perbulan Σ hari (dalam satu bulan)

= 66 mm X 6

31 hari

= 12.8 mm

ICH (mm) September = Σ curah hujan (mm) perbulan X Σ hari hujan perbulan Σ hari (dalam satu bulan)

= 275 mm X 14

30 hari = 128.3 mm

ICH (mm) bulan Oktober = Σ curah hujan (mm) perbulan X Σ hari hujan perbulan Σ hari (dalam satu bulan)

= 227 mm X 14 31 hari = 102.5 mm

ICH (mm) November = Σ curah hujan (mm) perbulan X Σ hari hujan perbulan Σ hari (dalam satu bulan)

= 472 mm X 17 30 hari = 267.5 mm

ICH (mm) Desember = Σ curah hujan (mm) perbulan X Σ hari hujan perbulan Σ hari (dalam satu bulan)

= 233 mm X 15 31 hari = 112.7 mm

ICH (mm) Januari = Σ curah hujan (mm) perbulan X Σ hari hujan perbulan

= 253 mm X 21 31 hari = 171.4 mm

ICH (mm) Februari = Σ curah hujan (mm) perbulan X Σ hari hujan perbulan Σ hari (dalam satu bulan)

= 565 mm X 22 29 hari = 426.3 mm

ICH (mm) Maret = Σ curah hujan (mm) perbulan X Σ hari hujan perbulan Σ hari (dalam satu bulan)

= 152 mm X 11 31 hari .= 53.9 mm

ICH (mm) April = Σ curah hujan (mm) perbulan X Σ hari hujan perbulan Σ hari (dalam satu bulan)

= 418 mm X 19 30 hari = 264.7 mm

Lampiran 6 Foto Penelitian

Penangkapan lalat H. equina

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Peningkatan permintaan susu dan daging di masyarakat berdampak baik bagi peternak dan masyarakat. Susu dan daging merupakan bahan makanan yang mempunyai nilai gizi yang tinggi. Tingginya permintaan susu dan daging mengakibatkan peningkatan jumlah peternakan seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba. Pada umumnya peternak mengambil ternak dari satu daerah ke daerah lain, hal ini mengakibatkan peningkatan perpindahan ternak dari suatu daerah. Transportasi ternak dapat mendorong terjadinya perpindahan penyakit atau vektor. Penyakit pada ternak biasanya disebabkan oleh bakteri, virus, endoparasit, dan ektoparasit.

Jenis ektoparasit yang sering menginfestasi sapi potong dan sapi perah adalah lalat dari genus Stomoxys, Tabanus, Chrysomya, dan Hippobosca. Lalat Hippobosca sp. merupakan lalat yang berkembangbiak di daerah tropis dengan curah hujan rendah dan suhu lingkungan relatif tinggi seperti di Indonesia bagian timur yaitu Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat (Taylor et al. 1996). Namun demikian, lalat ini sudah dapat beadaptasi dan berkembangbiak di

kawasan usaha peternakan sapi perah Cibungbulang Kabupaten Bogor. Lalat

Hippobosca sp. berperan sebagai vektor tripanosomiasis. Selain itu, lalat ini juga berperan dalam menularkan Trypanosoma theileri yang tidak patogen pada sapi dan Haemoproteus pada angsa, itik, serta unggas lainnya (Hadi & Soviana 2010).

Menurut Mullen & Durden (2002) lalat Hippobosca equina sebagai vektor

penyakit piroplasmosis pada kuda, Q fever, dan rickettsiosis. Kerugian yang

ditimbulkan akibat infestasi lalat Hippobosca sp. yaitu iritasi, kegatalan,

kegelisahan sehingga ternak tidak nyaman untuk makan dan minum, penurunan berat badan, produksi susu, daya kerja, merusak kulit, jaringan tubuh, dan anemia (Partosoedjono & Soekardono 1984). Menurut Rani et al. (2011) lalat Hippobosca sp. di India mengisap darah inangnya sebanyak 1.5-4.5 µl dalam waktu 3-13

menit dan berperan sebagai vektor Achanthocheilonema dracunculoides pada

Penyebaran lalat Hippobosca sp. di Indonesia sangat luas seperti Bali,

Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Aceh. Lalat Hippobosca sp.

juga terdapat di Inggris dengan nama umum forest fly. Lalat ini di Inggris

menyerang kuda dan kadang-kadang ditemukan pada ternak. Jenis lalat Hippobosca sp. yang terdapat di Afrika adalah Hippobosca rufipes. Lalat ini banyak menyerang hewan, terutama sapi dan kuda. Lalat ini disebut juga lalat kutu karena bentuknya pipih atau gepeng dorsoventral seperti kutu (Hadi & Soviana 2010). Menurut Sigit et al. (1983) induk semang lalat Hippobosca sp. yaitu sapi dan kuda. Lalat Hippobosca sp. dikenal sebagai lalat Sumba, lalat ini di Indonesia terdiri dari dua jenis yaitu Hippobosca equina (lalat Sumba kecil) dan Hippobosca variegata (lalat Sumba besar).

Peningkatan transportasi ternak yang tidak diringi dengan pengawasan kesehatan ternak mengakibatkan lalat Hippobosca sp. menyebar luas ke seluruh daerah, termasuk di Kabupaten Bogor. Kabupaten Bogor merupakan daerah yang mempunyai suhu rendah dan curah hujan relatif tinggi. Peningkatan infestasi lalat Hippobosca sp. di kawasan usaha peternakan sapi perah Cibungbulang Kabupaten Bogor dapat mengganggu kesehatan sapi. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengamatan terhadap bioekologi lalat Hippobosca sp. sehingga dapat ditentukan cara pengendalian yang tepat.

1.2 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mempelajari aspek

bioekologi lalat Sumba (Hippobosca sp.) pada sapi perah di kawasan usaha

peternakan sapi perah Cibungbulang Kabupaten Bogor. 1.3 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan informasi dasar tentang jenis dan bioekologi lalat Sumba (Hippobosca sp.) pada sapi perah di kawasan usaha peternakan sapi perah Cibungbulang Kabupaten Bogor sehingga dapat menjadi dasar pertimbangan dalam menentukan cara pengendalian yang tepat.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sapi Perah

Sapi perah merupakan salah satu komoditi peternakan yang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan bahan pangan bergizi tinggi yaitu susu. Jenis sapi perah yang paling cocok dan menguntungkan untuk dibudidayakan di

Indonesia adalah Friesian Holstein (FH) yang berasal dari Belanda. Sapi ini

terkenal dengan produksi susu yang sangat tinggi yaitu ± 6350 kg/tahun, dengan persentase lemak susu sekitar 3-7%. Suhu lingkungan merupakan faktor iklim yang penting dan harus diperhatikan dalam usaha peternakan (Siregar 1995).

Suhu udara yang optimal untuk ternak sapi perah adalah 21-27 ºC

(Williamson & Payne 1993). Suhu dan kelembaban udara merupakan dua faktor iklim yang mempengaruhi produksi sapi perah karena dapat menyebabkan perubahan keseimbangan panas, air, energi, dan tingkah laku ternak. Manajemen pemeliharaan sapi perah memiliki persyaratan teknis salah satunya adalah kandang. Konstruksi kandang harus kuat, tahan lama, kedap air, sirkulasi udara, sinar matahari cukup, drainase, dan pembuangan limbah yang baik. Selain itu kandang harus mudah dibersihkan, lantai rata, kasar, tidak licin, luas kandang yang sesuai, mudah mendapatkan aliran air, tidak mengganggu fungsi lingkungan hidup, pakan dalam jumlah yang cukup, mutu yang baik, dan air minum disediakan tidak terbatas (Abubakar 2012).

Manfaat pemeliharaan sapi perah yaitu menghasilkan air susu, daging, dan sebagai biogas. Susu merupakan bahan pangan sumber protein hewani yang harganya relatif murah jika dibandingkan dengan daging. Sapi perah memiliki daya tahan yang rendah terhadap suhu tinggi dan memiliki kemampuan beradaptasi yang sangat tinggi di negara Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya sapi perah yang dipelihara di kota-kota besar untuk menunjang perekonomian (Salmi et al. 2010).

Gambar 1 Sapi perah 2.2 Jenis Ektoparasit yang Menginfestasi Sapi

Parasit adalah organisme yang hidupnya bergantung pada organisme lain sebagai inang tumpangannya. Berdasarkan tempat menumpangnya, parasit dibedakan menjadi ektoparasit dan endoparasit. Ektoparasit adalah parasit yang hidup di bagian luar atau pada permukaan tubuh inangnya. Sedangkan endoparasit adalah parasit yang hidup di dalam tubuh inangnya. Berdasarkan sifatnya, ektoparasit bersifat obligat dan fakultatif. Ektoparasit obligat merupakan ektoparasit yang seluruh siklus hidupnya yaitu mulai dari pradewasa sampai dewasa hidup bergantung pada inangnya. Ektoparasit fakultatif merupakan ektoparasit yang sebagian besar siklus hidupnya di luar tubuh inangnya (Bowmans 1999).

Jenis ektoparasit yang menginfestasi sapi adalah lalat, kutu, dan nyamuk. Jenis lalat yang paling banyak menginfestasi sapi perah adalah lalat dari genus Stomoxys (lalat kandang), Tabanus (lalat kuda), Chrysomya (lalat hijau), dan Hippobosca (lalat sumba). Ciri morfologi lalat Stomoxys (lalat kandang) yaitu ukuran tubuh jantan 5.8-6.5 mm dan betina 6.5-7.5 mm dengan warnanya lebih gelap. Lalat ini memiliki 4 garis hitam longitudinal pada toraks dan bercak-bercak hitam pada abdomen, probosisnya panjang dan mencuat ke depan, palpus maksilanya pendek, arista berambut hanya pada sisi dorsal, telur berbentuk lonjong berwarna putih, dan berjumlah 150-450 butir dalam beberapa kelompok. Lalat ini baik jantan maupun betina merupakan lalat pengisap darah, penerbang

yang kuat, dan berumur panjang. Menurut Mullen & Durden (2002) Lalat ini berperan dalam penularan vektor penyakit surra dan antraks pada ternak.

Lalat Tabanus memiliki ukuran tubuh 6-25 mm, kepalanya berbentuk

setengah lingkaran, memiliki mata yang dominan, antenanya pendek terdiri dari tiga ruas. Telur lalat ini berbentuk silindris dengan ukuran 1-2 mm dan jumlahnya sekitar 100-500 butir, larvanya silindris dan runcing. Lalat ini merupakan lalat pengisap darah, penerbang yang tangguh, dan penggigit persisten yang aktif pada siang hari. Lalat ini merupakan vektor penyakit surra dan antraks. Lalat Chrysomya bezziana memiliki ukuran tubuh 9-11 mm, berwarna hijau metalik dengan banyak bulu-bulu pendek menutupi tubuh. Larva lalat ini berbentuk silinder dengan deretan duri-duri pada keliling tiap ruas tubuh. Telur lalat ini berjumlah 150-500 butir. Lalat ini merupakan penyebab miasis obligat yang meletakkan telurnya pada tepi luka yang terbuka (Hadi & Soviana 2010).

2.3 Klasifikasi Lalat Hippobosca sp.

  Lalat Hippobosca sp. banyak menginfestasi sapi dan kuda. Lalat ini

mengisap darah pada daerah perineum dan di antara kaki belakang. Lalat Hippobosca sp. banyak terdapat pada daerah dengan temperatur tinggi (Wall &

Shearer 1997). Menurut Soulsby (1982) lalat Hippobosca sp. diklasifikasikan

sebagai berikut: Filum Arthropoda Kelas Insecta Ordo Diptera Subordo : Cyclorrapha Superfamili : Hippoboscoidea Famili : Hippoboscidae Subfamili : Hippoboscinae Genus : Hippobosca

Spesies : Hippobosca equina

2.4 Morfologi dan Bioekologi Lalat Hippobosca sp.

Jenis lalat Hippobosca sp. di Indonesia yaitu H. equina (lalat Sumba kecil) dan H. variegata (lalat Sumba besar). Menurut Hutson (1984) lalat Hippobosca

sp. mempunyai sepasang sayap, ukuran sekitar 10 mm, dan warna pupa hitam.

Pupa lalat ini berbentuk oval atau bulat, berukuran 5 x 4 mm, dan mempunyai bercak gelap pada ujung posterior. Lalat H. equina memiliki ukuran tubuh sekitar 10 mm, tubuhnya melebar, pipih dorsoventral dan berwarna coklat kemerahan. Pada bagian dorsal toraks terdapat bercak kekuningan. Lalat ini memiliki sepasang sayap yang kuat dengan vena anterior yang jelas, dan antenanya tidak berkembang (Gambar 2). Probosis lalat ini langsing yang digunakan untuk menusuk dan merobek jaringan. Palpi lalat H. equina tebal, pendek dan berfungsi melindungi probosis. Kaki dan kuku lalat ini berkembang baik. Bagian utama dari probosis biasanya untuk menusuk dan ditarik kembali di bawah kepala, kecuali saat makan.

Inang lalat H. equina adalah kuda dan sapi, tetapi ternak lainnya seperti burung juga dapat terinfestasi. Lalat ini paling banyak ada pada bulan musim panas. Distribusi utama lalat Hippobosca sp. adalah di Eropa, Asia, dan Afrika (Turner & Mann 2005). Lalat H. variegata mempunyai ciri khas yaitu ukuran yang lebih besar dan memiliki variasi pada dorsal toraks yang lebih banyak dari pada H. equina. Distribusi lalat H. variegata di Indonesia yaitu Sulawesi, Sumba, dan Timor. Inang lalat ini yaitu sapi, keledai, dan kuda (Maa 1969 dan Cheng 1973).

Gigitan dari lalat H. equina dapat menyebabkan reaksi alergi (Quercia et al. 2005). Menurut Sigit et al. (1990) gigitan lalat H. equina dan H. variegata dapat memberikan rasa sakit sehingga sapi dan kuda yang baru pertama kali digigit sering lari ketakutan. Menurut Masshall (1981) lalat H. equina merupakan lalat yang jarang terbang lebih dari 1 meter. Lalat ini apabila terganggu akan berpindah dengan cepat tetapi tidak lebih dari 1 meter dari inangnya. Pada malam hari atau hujan lebat, lalat H. equina kadang-kadang akan meninggalkan inangnya dan berlindung di bawah daun pakis yang berada di dekatnya atau berlindung dibagian tubuh inang.

Lalat Hippobosca sp. jarang terbang, biasanya merayap pada permukaan inang. Pada siang hari baik jantan maupun betina, lalat ini mengisap darah dan beristirahat pada inang. Lalat ini termasuk kedalam kelompok pupipara, telurnya menetaskan larva yang berkembang hampir mencapai tahap pupa di dalam saluran reproduksi betina, kemudian dilahirkan, dan dalam waktu beberapa jam langsung berubah menjadi pupa. Pupa biasanya diletakkan oleh lalat betina pada batang atau pelepah pohon kelapa atau pohon lainnya yang terlindung, atau tanah yang berlumpur (lembab). Lamanya periode pupa banyak dipengaruhi oleh suhu (Hadi & Soviana 2010).

Daerah yang disukai lalat Hippobosca sp. adalah daerah leher, perineal diantara kaki belakang, dan pubis. Lalat ini tergolong pengisap darah yang sangat merugikan sapi dan kuda karena dapat mengurangi ketahanan tubuh dan

menyebabkan anemia. Lalat ini dapat menularkan Trypanosoma theileri yang

tidak patogen pada sapi dan Haemoproteus pada angsa, itik, serta unggas lainnya (Hadi & Soviana 2010).

Gambar 2 Lalat H. equina (Sumber: Walravens 2010)

Famili Hippoboscidae terkenal dengan nama forest flies (lalat hutan) yang menyerang berbagai jenis hewan seperti sapi, kuda, domba, kelelawar, dan burung (Soulsby 1982). Lalat Hippobosca sp. merupakan lalat pengisap darah (Levine 1994). Lalat ini sebagai ektoparasit pada kuda dan sapi yang terdapat di wilayah timur Indonesia yang bersuhu tinggi dan kelembaban rendah (Taylor et al. 1996). Lalat Hippobosca sp. meletakkan pupanya pada celah-celah kayu, ketiak tanaman, dan celah kandang. Lalat ini tinggal di permukaan tubuh inangnya dalam waktu yang lama dan mengisap darah hewan seperti kuda dan sapi serta menjadi vektor tripanosomiasis (Soulsby 1982).

BAB 3

METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2011 sampai dengan April 2012. Penelitian terdiri dari dua tahap yaitu koleksi dan identifikasi lalat. Koleksi dilakukan di kawasan usaha peternakan sapi perah Cibungbulang Kabupaten Bogor. Sedangkan identifikasi dilakukan di Laboratorium Entomologi Kesehatan, Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

3.2 Metode Penelitian

3.2.1 Pengambilan Sampel Ektoparasit

Pengambilan sampel ektoparasit dilakukan di kandang ternak sapi dengan

populasi sapi sebanyak 212 ekor. Pengambilan sampel lalat dilakukan secara acak pada 15 ekor sapi yang terinfestasi dari peternakan sapi perah milik rakyat yang berpopulasi 60 ekor. Pengamatan dilakukan selama satu tahun dengan frekuensi pengambilan sampel 15 hari sekali. Cara pengambilan ektoparasit dilakukan secara manual yaitu mengambil atau menangkap lalat secara langsung. Lalat yang

telah didapatkan kemudian dimatikan menggunakan killing jar atau dengan

chloroform. Setelah lalat mati, kemudian dilakukan pinning dan disimpan di dalam kotak spesimen.

3.2.2 Prosesing Sampel Lalat

Prosesing sampel lalat dilakukan dengan cara menusuk lalat Hippobosca sp. dengan menggunakan jarum pinning pada satu sisi toraks sedikit ke kanan atau ke kiri dari garis tengah. Penusukkan lalat dilakukan secara tegak lurus dan diletakkan pada ketinggian yang sama pada sebuah balok khusus (pinning blok). Lalat yang sudah di pinning kemudian dikeringkan dengan cara disimpan di dalam autoclaf selama 2-3 hari. Setelah kering lalat disimpan dalam kotak penyimpan serangga serta diberi kamper.

3.2.3 Pengambilan Data Cuaca

Data cuaca (suhu lingkungan, kelembaban udara, dan curah hujan) diperoleh dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Darmaga Bogor.

3.2.4 Identifikasi Ektoparasit

Lalat hasil koleksi diidentifikasi dengan menggunakan kunci identifikasi Soulsby (1982) atau dengan mencocokkan dengan koleksi spesimen yang sudah ada di Laboratorium Entomologi.

3.2.5 Analisis Data

Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif, ditampilkan dalam bentuk tabel dan gambar.

                               

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Identifikasi

Berdasarkan hasil wawancara terhadap peternak yang memiliki sapi terinfestasi lalat Hippobosca sp. menyatakan bahwa sapi tersebut berasal dari Kabupaten Boyolali. Sapi tahap pertama masuk ke peternakan tersebut pada tanggal 18 Februari 2008 sebanyak 24 ekor, dan sapi berikutnya masuk pada tanggal 23 Februari 2010 sebanyak 32 ekor. Transportasi sapi perah dari Kabupaten Boyolali ke peternakan sapi perah Cibungbulang Kabupaten Bogor menggunakan mobil bak terbuka. Kondisi sapi tersebut sedang laktasi pertama

dan berumur ± 2 tahun. Hal ini memungkinkan bahwa infestasi lalat Hippobosca

sp. sudah terjadi di daerah asal.

Kabupaten Boyolali memiliki kawasan peternakan dan pasar sapi perah yang besar serta menampung sapi dari daerah lain di Indonesia. Pada umumnya infestasi lalat ini terjadi pada sapi potong, namun sekarang dapat ditemukan di sapi perah, Para peternak membeli sapi dari daerah lain yang tidak dilakukan pemeriksaan terhadap kesehatan ternak sehingga lalat H. equina dapat terbawa pada tubuh sapi tersebut.

Hasil koleksi yang dilakukan selama ± 1 tahun terhadap H. equina pada 15 ekor sapi perah didapatkan jumlah total lalat sebanyak 497 ekor. Jumlah koleksi pupa yang berhasil didapatkan sebanyak 260 buah (Tabel 1). Berdasarkan hasil identifikasi terhadap lalat Hippobosca sp. di kawasan usaha peternakan sapi perah

Cibungbulang Kabupaten Bogor terdiri dari satu jenis yaitu lalat Hippobosca

Tabel 1 Jumlah rata-rata lalat tertangkap dan pupa H. equina di kawasan usaha peternakan sapi perah Cibungbulang Kabupaten Bogor pada

bulan Mei 2011 sampai dengan April 2012

Bulan Lalat tertangkap (ekor) Jumlah pupa (buah)

Mei 232 185 Juni 129 25 Juli 59 19 Agustus 40 12 September 23 8 Oktober 12 8 November 2 3 Desember 0 0 Januari 0 0 Februari 0 0 Maret 0 0 April 0 0 Jumlah 497 260

Tabel 1 menunjukkan bahwa jumlah lalat dan pupa di kawasan usaha peternakan sapi perah Cibungbulang Kabupaten Bogor tertinggi pada pengamatan bulan Mei yaitu 232 ekor. Jumlah lalat semakin menurun sampai tidak ditemukan pupa dan lalat pada pengamatan bulan Desember sampai dengan April 2012. Penurunan jumlah lalat dewasa dan pupa yang ditemukan disebabkan karena intervensi yang dilakukan oleh peternak. Intervensi yang dilakukan berupa pengendalian yang dilakukan oleh peternak seperti melakukan penyemprotan menggunakan insektisida. Insektisida yang digunakan oleh peternak saat pengendalian contohnya deltametrin.

4.2 Morfologi Lalat H. equina

Identifikasi yang dilakukan terhadap lalat dewasa menunjukkan ciri morfologi H. equina. Ciri morfologi yang dimiliki oleh lalat ini berbeda dengan lalat H. variegata. Ciri khas yang dimiliki lalat H. equina adalah ukuran yang lebih kecil dan memiliki variasi bercak pada toraks yang kurang (Gambar 4).

Dokumen terkait