BAB V PENUTUP
B. Saran
Daftar Pustaka
Lampiran-lampiran
BAB n
KAJIAN PUSTAKAA. Kajian Tentang Belajar dan Pembelajaran
1. Pengertian Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Hal ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung pada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik.
Belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya (Usman & Setiawati, 1993:4). Pendapat hampir serupa juga dikemukakan oleh Sardinian (2009:9), menurutnya belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya.
Sementara itu menurut Dimyati & Mudjiono (2006:17), belajar merupakan hal yang kompleks. Mereka menjelaskan bahwa kompleksitas belajar tersebut dapat dipandang dari dua subyek, yaitu dari siswa dan dari guru. Dari segi siswa, belajar dialami sebagai suatu proses. Siswa
28
mengalami proses mental mengahadapi bahan ajar berupa keadaan alam, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia, dan bahan yang telah terhimpun dalam buku-buku pelajaran. Adapun dari segi guru, proses belajar tersebut tampak sebagai perilaku belajar tentang sesuatu hal. Dan setelah belajar seseorang akan memiliki kapabilitas, baik berupa pengetahuan, sikap, dan nilai.
Dari beberapa pendapat di atas dapat penulis simpulkan bahwa dalam proses belajar seorang individu akan mengalami perubahan tingkah laku, baik dalam aspek pengetahuannya, keterampilannya, maupun dalam sikapnya. Dari aspek pengetahuannya, seorang individu akan mengalami perubahan dari yang tidak tahu menjadi tahu; dari yang tidak mengerti menjadi mengerti; dari yang bodoh menjadi pintar. Dari aspek keterampilan, seorang individu akan mengalami perubahan dari yang tidak bisa menjadi bisa; dari yang tidak termpil menjadi terampil. Sedangkan dari aspek sikap, seoamg individu akan mengalami perubahan dari tidak patuh menjadi patuh pada orang tua dan guru; dari yang kurang ajar menjadi orang yang punya tata krama; dari yang kekanak-kanakan menjadi lebih dewasa dalam bersikap.
2. Beberapa Teori Tentang Belajar
Pada mulanya teori-teori belajar dikembangkan oleh para ahli psikologi dan diujicobakan secara tidak langsung kepada manusia di sekolah, melainkan menggunakan percobaan dengan binatang. Mereka
29
beranggapan bahwa hasil percobaannya akan dapat diterapkan pada proses belajar-mengajar untuk manusia (Sardinian, 2009:29).
Pada tingkat perkembangan berikutnya, baru para ahli mencurahkan perhatiannya pada proses belajar-mengajar untuk manusia di sekolah. Dari hasil penelitiannya tersebut diperoleh berbagai teori tentang belajar. Menurut Ahmadi (1991:15-16), ada tiga teori tentang belajar: a. Teori Belajar Menurut Ilmu Jiwa Daya
Menurut teori ini, jiwa manusia terdiri dari berbagai daya seperti berpikir, mengenal, mengingat, dan lain-lain. Daya-daya ini dapat berkembang dan berfungsi dengan baik apabila dilatih dengan bahan- bahan dan cara-cara tertentu. Berdasarkan pandangan ini, maka yang dimaksud dengan belajar ialah usaha melatih daya-daya itu agar berkembang, sehingga kita dapat berpikir, mengingat, dan sebagainya. b. Teori Belajar Menurut Ilmu Jiwa Asosiasi
Menurut Imu Jiwa Asosiasi, jiwa manusia terdiri dari himpunan dari berbagai respon yang masuk ke dalam jiwa kita. Berdasarkan teori ini, maka yang dimaksud dengan belajar adalah usaha membentuk hubungan-hubungan stimulus respon dan melatih hubungan itu agar bertalian erat.
30
Menurut teori Ilmu Jiwa Gestalt, jiwa manusia merupakan satu keseluruhan yang utuh, bukan elemen-elemen yang terpisah-pisah. Jiwa manusia bersifat hidup dan aktif, berinteraksi dengan lingkungan. Jadi, belajar menurut pandangan ini adalah mengalami, bereaksi, berbuat, berfikir secara kritis.
Banyak teori dan prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli yang satu dengan yang lain memiliki persamaan dan juga perbedaan. Dari berbagai prinsip belajar tersebut terdapat beberapa prinsip yang relatif berlaku umum yang dapat kita pakai sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa yang perlu meningkatkan upaya belajarnya, maupun bagi guru dalam upaya meningkatkan mengajarnya. Ada beberapa prinsip belajar menurut aliran Ilmu Jiwa Gestalt (Soetomo, 1993:126), yaitu:
a. Bahwa belajar harus bertujuan dan terarah.
b. Dalam belajar itu manusia akan bereaksi secara keseluruhan pribadinya dan selalu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. c. Belajar tidak akan mungkin terjadi tanpa adanya kemauan untuk
belajar dan motivasi.
Selain prinsip-prinsip di atas, menurut Ahmadi (1991:17) prinsip-prinsip belajar antara lain sebagai berikut:
31
a. Belajar memerlukan bimbingan, baik dari guru atau buku pelajaran itu sendiri.
b. Belajar memerlukan pemahaman atas hal-hal yang dipelajari, sehingga tidak terjadi verbalisme.
c. Belajar membutuhkan latihan dan ulangan agar apa-apa yang telah dipelajari dapat dikuasai.
d. Belajar dapat dikatakan berhasil apabila telah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun menurut Mulyati (2005:12-14), teori-teori belajar dapat diklasifikasikan menjadi dua:
a. Teori Belajar Sebelum Abad ke-20 1) Teori Disiplin Mental
Menurut teori ini, belajar bisa diartikan sebagai usaha untuk mendisiplinkan mental. Misalnya, dalam kegiatan membaca, teori disiplin mental mengartikan bahwa anak melatih “otot-otot” mentalnya mulai dari menghafal huruf-huruf, kata- kata, kalimat, dan seterusnya.
2) Teori Perkembangan Alamiah
Belajar baru akan terjadi dan mendatangkan hasil bila anak telah benar-benar merasakan kebutuhan untuk belajar. Saat
32
itu, ia akan melakukannya dengan penuh kegembiraaan sehingga pengalaman akan melekat sebagai kecakapan atau keterampilan. Misalnya, ia akan belajar membaca karena membutuhkan untuk mengetahui isi “pengetahuan” dalam tulisan dan belajar berhitung karena ingin tahu cara memecahkan suatu masalah secara aritmastis.
Dengan kata lain, menurut teori ini seseorang akan belajar bukan karena paksaan maupun tuntutan orang lain. Melainkan atas kemauannya sendiri dan kebutuhannya.
3) Teori Apersepsi
Menurut teori ini, yang dimaksud dengan belajar adalah suatu proses terasosiasinya gagasan-gagasan baru dengan gagasan-gagasan lama, yang sudah terbentuk di alam pikiran. Misalnya, anak akan mempelajari kata ”kuda”, ia diperlihatkan gambar kuda di atas tulisan “kuda”. Kemudian, ia menganalisis huruf per huruf. Demikian sebaliknya, ia dapat menggabungkan huruf-huruf yang dikenal ke dalam kata-kata baru, kalimat, dan seterusnya.
b. Teori Belajar Abad ke-20 1) Teori Behavioristik
33
Prinsip pertama teori koneksionisme bahwa belajar adalah suatu kegiatan membentuk asosiasi antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. Misalnya, jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit, maka ia akan cenderung untuk mengerjakannya. Apabila hal ini dilaksanakan, ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi yang memuaskan.
Jadi, dapat dikatakan bahwa belajar menurut teori ini tidak akan terjadi tanpa adanya ketertarikan seseorang terhadap sesuatu dan keinginanya untuk mengerjakan hal tersebut. (b) Teori C lasiccal Conditioning (Pavlov)
Menurut Pavlov, tingkah laku tertentu dapat dibentuk dengan cara diulang-ulang, yaitu, “dipancing” dengan sesuatu yang memang dapat menimbulkan tingkah laku tersebut. Jadi, menurut teori ini bahwa belajar adalah munculnya tingkah laku yang dilakukan secara berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan. Teori ini selanjutnya dikembangkan oleh Watson. (c) Teori Operant Conditioning (Skinner)
Teori operant conditioning memiliki persamaan dengan teori Pavlov dan Watson, hanya saja lebih terperinci. Skinner membedakan adanya dua macam respon, yaitu: respondent response, respon yang timbul karena adanya stimulus tertentu
34
(misalnya, air liur timbul karena melihat makanan) dan
operant respondent, respon yang menimbulkan stimulus baru sehingga memperkuat respon yang telah dilakukan.
Skinner berpendapat bahwa dalam proses belajar dibutuhkan usaha untuk menimbulkan dan mengembangkan respon sebagai usaha memperoleh ’’penguatan”. Sehingga pengalaman yang telah diperoleh dalam proses belajar akan lebih melekat di dalam individu sebagai sebuah kacakapan atau keterampilan.
2) Teori Kognitif (a) Teori Gestalt
Prinsip penting dari teori ini adalah bahwa inti dalam belajar terletak pada insight (pengertian, pemahaman), belajar dapat dikatakan berhasil bila seseorang telah benar-benar memahami apa yang ia pelajari, bukan hanya sekedar mengerti.
(b) Teori Medan
Pada dasarnya, teori yang dikembangkan oleh Kurt Lewin ini dapat dikatakan sebagai perluasan dari teori Gestalt. Ada beberapa teori yang dikemukakan oleh Kurt Lewin dalam teori medan ini, antara lain:
35
> Belajar adalah pengubahan struktur kognitif. Maksudnya, pemecahan masalah hanya akan terjadi bila struktur kognitifnya diubah.
> Hadiah dan hukuman merupakan dua sarana motivasi belajar yang memerlukan pengawasan agar digunakan secara wajar dan tepat.
> Faktor motivasi belajar lain adalah masalah sukses dan gagal. Kesuksesan akan menjadi factor pendorong seseorang untuk belajar lebih giat, sedangkan kegagalan akan menyebabkan kemunduran dalam belajar.
Dari uraian para pakar tersebut, kesimpulan yang dapat diperoleh adalah bahwa sejak zaman kuno, orang-orang telah memikirkan tentang bagaimana seseorang dapat memperoleh pengetahuan yang kemudian disebut belajar. Seiring dengan perkembangan zaman, maka pemikiran-pemikiran para ahli tersebut juga ikut mengalami perkembangan disesuaikan dengan kondisi zaman.
3. Jenis-jenis Belajar
Menurut Slameto (1991:5-8), jenis-jenis belajar antara lain sebagai berikut:
36
Umumnya belajar bagian dilakukan oleh individu bila ia dihadapkan pada materi pelajaran yang bersifat luas atau ekstensif, misalnya mempelajari sajak atau gerakan-gerakan motoris seperti bermain piano. Dalam hal ini individu memecah seluruh materi pelajaran menjadi bagian-bagian yang satu sama lainnya berdiri sendiri. Lawan dari cara belajar bagian adalah cara belajar keseluruhan.
b. Belajar dengan Wawasan
Konsep ini diperkenalkan oleh W. Kohler, salah seorang tokoh psikolog Gestalt pada permulaan tahun 1917. Menurut Gestalt teori wawasan merupakan proses mereorganisasikan pola-pola tingkah laku yang telah terbentuk menjadi satu tingkah laku yang ada hubungannya dengan penyelesainnya suatu persoalan.
c. Belajar Diskriminatif
Belajar diskriminatif diartikan sebagai suatu usaha untuk memilih beberapa sifat situasi stimulasi dan kemudian menjadikannya sebagai pedoman dalam bertingkah laku. Dengan pengertian ini maka dalam eksperimen, subjek diminta untuk merespon secara berbeda-beda terhadap stimulasi yang berlainan.
d. Belajar Keseluruhan
Dengan belajar secara keseluruhan bahan pelajaran yang dipelajari secara keseluruhan berulang sampai individu menguasainya.
37
Lawan dari metode keseluruhan adalah belajar secara bagian. Metode belajar ini sering juga disebut metode Gestalt.
e. Belajar Insidental
Konsep ini bertentangan dengan anggapan bahwa belajar itu selalu mempunyai arah dan tujuan. Dalam belajar insidental, jumlah frekuensi materi belajar diperlihatkan tidak memegang peranan penting, prestasi individu menurun dengan meningkatnya motivasi.
f. Belajar Instrumental
Pada belajar instrumental, reaksi-reaksi individu yang diperlihaatkan akan diikuti oleh tanda-tanda yang mengarah pada apakah individu tersebut akan mendapat hadiah, hukuman, berhasil atau gagal. Oleh karena itu, cepat atau lambatnya seseorang belajar dapat di atur dengan jalan memberikan penguat atas dasar tingkat-tingkat kebutuhan. Dalam hal ini, maka salah satu bentuk belajar instrumental yang khusus adalah “pembentukan tingkah laku”.
g. Belajar Intensional
Belajar intensional adalah belajar dengan arah dan tujuan. Maksudnya adalah proses belajar yang berlangsung secara intensif dan terarah untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Belajar intensional berlawanan dengan belajar secara insidental yang terjadi secara tiba-tiba tanpa persiapan dan tujuan yang jelas.
38
h. Belajar Laten
Dalam belajar secara laten, perubahan-perubahan tingkah laku yang terlihat tidak terjadi seketika. Akan tetapi, perubahan-perubahan tersebut terjadi secara perlahan-lahan melalui berbagai proses.
i. Belajar Mental
Perubahan tingkah laku yang terjadi tidak terlihat secara nyata, melainkan hanya berupa perubahan proses kognitif dari bahan yang dipelajari. Ada tidaknya belajar mental ini sangat jelas terlihat pada tugsa-tugas yang sifatnya motoris. Ada juga yang mengartikan belajar mental sebagai belajar dengan cara melakukan observasi dari tingkah laku orang lain, membayangkan gerakan-gerakan orang lain, dan sebagainya.
j. Belajar Produktif
Belajar produktif menurut R. Bergius adalah sebagai kegiatan belajar dengan transfer yang maksimum. Belajar disebut produktif bila individu mampu mentransfer prinsip menyelesaikan satu persoalan dalam satu situasi ke situasi yang lain.
k. Belajar Verbal
Belajar verbal adalah belajar mengenai materi verbal melalui latihan dan ingatan. Dasar dari belajar verbal diperlihatkan dalam eksperimen klasik dari Ebbinghaus. Sifat eksperimen ini meluas dari
39
belajar asosiatif mengenai hubungan dua kata yang tidak bermakna sampai belajar dengan wawasan mengenai penyelesaian persoalan yang kompleks harus diungkapkan secara verbal.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Prestasi siswa banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik berasal dari dirinya (internal) maupun dari luar dirinya (eksternal). Prestasi belajar yang dicapai siswa pada hakikatnya merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor tersebut. Oleh karena itu, sangat penting bagi guru dalam upayanya meningkatkan prestasi belajar siswa untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa.
Menurut Usman & Setiawati (1993:10), faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa meliputi hal-hal sebagai berikut ini: a. Faktor Internal
Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari diri sendiri, diantaranya adalah:
1) Faktor fisik (jasmani), seperti: (a) Kesehatan
Siswa yang sedang tidak enak badan biasanya menjadi kurang konsentrasi dalam belajar. Hal ini mengakibatkan pelajaran sulit masuk dalam pikirannya.
40
(b)Cacat fisik
Menurut Ahmadi (1991:94), cacat fisik dapat juga menghambat proses belajar siswa. Siswa yang cacat seringkali mengalami kesulitan-kesulitan dalam belajar lebih tinggi dibandingkan dengan siswa normal lainnya. Sehingga mereka membutuhkan penanganan tersendiri.
b. Faktor psikis (rohani)
Menurut Ahmadi (1991:94), yang termasuk dalam faktor ini ialah:
(a) Intellegensi (IQ)
Anak yang intellegensinya rendah, maka anak tersebut akan sukar mencapai hasil belajar yang baik. Karena anak tersebut sulit mengerti apa yang dipelajarinya.
(b) Perhatian
Perhatian juga termasuk salah satu faktor penting dalam usaha belajar siswa. Untuk dapat menjamin belajar yang baik, siswa harus ada perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya. Oleh karena itu, tugas guru adalah bagaimana upaya guru agar dapat menampilkan bahan pelajaran dengan menarik. Sehingga siswa tertarik untuk memperhatikan bahan pelajaran yang disampaikan oleh guru tersebut.
41
(c) Motivasi
Motivasi seringkali timbul bila ada perhatian. Setelah siswa tertarik untuk memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru, maka timbulah motivasi dalam dirinya untuk mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.
(d) Minat dan Bakat
Siswa lebih senang mempelajari segala sesuatu yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Oleh sebab itu, sebaiknya bahan pelajaran yang disampaikan disesuaikan dengan bakat siswa. Sehingga siswa akan lebih berminat untuk belajar dan mendapatkan hasil belajar yang baik.
(e) Emosi
Keadaan emosi siswa yang tidak stabil dapat menghambat proses belajar. Biasanya dalam keadaan seperti ini, siswa sukar untuk menerima pelajaran. Maka dari itu, siswa tersebut membutuhkan situasi yang cukup tenang dan penuh pengertian agar belajarnya dapat berjalan lancar.
c. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar peserta didik. Yang termasuk faktor eksternal antara lain (Ahmadi, 1991:96):
42
1) Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga sangat berpengaruh pada keberhasilan belajar anak. Pendidikan orang tua, status ekonomi keluarga, hubungan dengan orang tua dan saudara, bimbingan dan dukungan orang tua sangat mempengaruhi prestasi belajar anak. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT berikut ini:
^ ♦ j l 4J
jL klJ/CW
i&ri
J-®J
iiij /A
^ f \
i
J 3^=^ O*
^ (J
pij Jlp
Artinya :Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, d i waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
Dan kam i perintahkan kepada m anusia (berbuat baik)
kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya Telah
mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.(Q.S. Luqman:13-14)
Pada hakekatnya orang tua merupakan pembimbing dan pendidik dalam keluarga yang pertama dan utama bagi anak-
43
anaknya. Oleh karena itu, merekalah yang mula-mula menerima kewajiban dan tanggung jawab atas pemeliharaan dan pendidikan bagi putra-putrinya. Berhasil tidaknya, baik buruknya sifat anak sangat bergantung pada orang tua dalam mendidik dan mengarahkan mereka. Hal ini juga dijelaskan dalam hadist Nabi Muhammad saw berikut ini:
“Setiap anak tidaklah dilahirkan melainkan dalam
keadaan fitrah, (maka) kedua orang tuanyalah yang
menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi.'’'’ (H.R. Bukhori) 2) Lingkungan Sekolah
Lingkungan sekolah seperti lokasi sekolah, kualitas guru, metode pembelajaran, kurikulum sekolah, perangkat kelas, hubungan dengan teman dan para guru juga ikut mempengaruhi prestasi belajar siswa. Lingkungan sekolah yang baik dapat mendukung proses belajar siswa.
3) Lingkungan Masyarakat
Lingkungan masyarakat sekitar seperti suasana tempat tinggal yang tenang, teman bergaul yang baik, dan warga sekitarnya berpendidikan, dapat memicu anak untuk lebih giat dalam belajar.
44
Demikianlah beberapa pendapat para ahli tentang faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi prestasi belajar siswa baik secara langsung maupun tidak langsung.
5. Pengertian Pembelajaran
Dalam buku yang ditulis oleh Jogiyanto (2007:12), pembelajaran menurut Hilgard dan Bower dapat didefinisikan sebagai suatu proses kegiatan yang di dalamnya terjadi suatu perubahan lewat reaksi dari suatu situasi yang dihadapi, dan karakteristik-karakteristik dari perubahan aktivitas tersebut tidak dapat dijelaskan berdasarkan kecenderungan- kecenderungan reaksi asli, kematangan, atau perubahan-perubahan sementara dari organisme.
Dari pendapat di atas dapat dipahami bahwa pembelajaran terjadi karena adanya interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang menimbulkan perubahan pada diri peserta didik. Dan perubahan tersebut bukan terjadi karena perubahan secara alami atau karena menjadi dewasa yang dapat terjadi dengan sendirinya, melainkan lebih karena reaksi dari situasi yang dihadapinya.
Menurut Jogiyanto (2007:20), pembelajaran yang baik mempunyai sasaran-sasaran yang seharusnya berfokus pada hal-hal sebagai berikut: a. Meningkatkan kualitas berpikir, yaitu berpikir dengan efisien,
konstruktif, mampu melakukan penilaian dan kearifan.
a. Guru memberi kepercayaan kepada kelas agar kelas memilih belajar secara terstruktur.
b. Guru dan siswa membuat kontrak belajar.
c. Guru menggunakan metode inkuiri, atau belajar menemukan. d. Guru menggunakan metode simulasi.
e. Guru mengadakan latihan kepekaan agar siswa mampu menghayati perasaan dan berpartisipasi dengan kelompok lain.
47
Darsono & Ibrahim berpendapat bahwa kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia, seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat (2008:3). Dengan demikian Sejarah Kebudayaan Islam adalah serangkaian peristiwa tentang hasil karya cipta manusia muslim.
Mengenai Sejarah Kebudayaan Islam, para ahli membagi menjadi beberapa periode (Sunanto, 2003:4), yakni antara lain sebagai berikut: a. Zaman ideal, yang meletakkan dasar-dasar pertama Kebudayaan Islam,
berjalan selama 40 tahun terdiri dari:
1) Masa Nabi Muhammad saw, semenjak hijrah ke Madinah samapai wafatnya, selama 10 tahun.
2) Masa Khulafau ar-Rasyidin dari Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, selama 30 tahun.
b. Zaman perkembangan, yaitu masa berkembangya kebudayaan islam, meliputi tiga benua Asia, Afrika, dan Eropa. Ini terjadi pada masa Dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus selama 90 tahun.
c. Zaman keemasan Islam, yaitu zaman kebudayaan Islam mencapai puncaknya, baik di bidang ekonomi, kekuasaan, ilmu pengetahuan
* maupun kesenian. Zaman ini meliputi:
48
1) Masa Abbasiyah I yang berpusat di Baghdad, berjalan selama 100 tahun dengan para khalifahnya yang mempunyai kekuasaan penuh, berpikir maju dan pecinta ilmu.
2) Masa Abbasiyah II, di mana politik pusat Abbasiyah berangsur- angsur melemah, tetapi dalam bidang kebudayaan , terutama dalam bidang ilmu pengetahuan, ibukota-ibukota provinsi berlomba menyaingi Baghdad dalam hal kemajuan.
d. Zaman penyerbuan, yaitu zaman ketika umat Islam mengalami penyerbuan dari segala penjuru.
e. Zaman kemunduran, yang dimulai oleh zaman gemilang dalam bidang politik di zaman Ustmaniyah, Shafawi, dan Mughal, diakhiri dengan penjajahan hampir seluruh Dunia Islam oleh Eropa Barat.
Perkembangan Kebudayaan Islam memang tidak lepas dari politik dan kekuasaan. Sebagaimana diketahui bahwa Sejarah Kebudayaan Islam di Jazirah Arab mulai muncul setelah Nabi Muhammad saw diangkat menjadi rasul. Sebelum Islam lahir, masyarakat Arab sudah memiliki kebudayaan. Contohnya adalah kebudayaan nomaden atau hidup secara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain.
Kebudayaan orang Arab baru mendapat pengakuan dan memegang peranan yang sangat penting dalam kebudayaan dunia setelah Islam lahir. Dari sini dapat dipahami bahwa agama Islam menjadi faktor utama yang membuat kebudayaa Arab diakui dunia. Dengan agama Islam, orang-orang
49
Arab berubah menjadi penakluk di seluruh Jazirah Arab (Darsono & Ibrahim, 2008:3).
2. Objek Sejarah Kebudayaan Islam
Menurut Sunanto (2003:4), objek/bentuk kebudayaan Islam adalah soal-soal muamalah. Muamalah adalah hubungan antara sesama manusia, dan ini selalu berubah sesuai dengan perkembangan manusia. Dengan demikian kebudayaan Islam meliputi segala aspek kehidupan manusia. Secara rinci unsur-unsur yang menjadi bentuk kebudayaan adalah (Darsono & Ibrahim, 2008:7-9) :
a. Sistem Politik
Bentuk kebudayaan dapat dilihat melalui sistem politik yang berlaku di dalam Kebudayaan Islam, seperti: hukum Islam sangat menghargai hak-hak asasi manusia, tidak ada perbedaan status di dalamnya; berkembangnya sistem khalifah setelah wafatnya Rasullulah saw; pembentukan lembaga Administrasi dan Kementrian pada masa khalifah Umar bin Khattab yang mengurusi administrasi negara.
b. Sistem Kemasyarakatan/sosial
Dalam perkembangan Kebudayaan Islam, masyarakat terbagi ke