BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.2 Saran
1. Bagi para investor agar lebih teliti lagi dalam menyaring berbagai informasi yang ada di pasar sehingga keputusan yang diambil dalam berinvestasi merupakan keputusan yang efektif.
2. Bagi para emiten diharapkan lebih meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan sehingga hal ini akan memicu pandangan para investor tentang prospek yang baik di masa yang akan datang dan mengurangi tingkat keraguan para investor untuk melakukan transaksi.
3. Bagi peneliti selanjutnya agar menambah variabel-variabel lain yang memiliki hubungan dengan abnormal return dan trading volume activity (TVA) serta memperbanyak sampel penelitian dan memperpanjang
periode pengamatan. Hal ini diharapkan dapat memberikan hasil penelitian yang lebih baik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Uraian Teoritis
2.1.1 Teori Efisiensi Pasar
Konsep efisiensi pasar membahas bagaimana pasar merespon informasi- informasi yang masuk dan bagaimana informasi tersebut selanjutnya bisa mempengaruhi pergerakan harga saham (Tandelin, 2001:111). Pasar modal yang efisien didefinisikan sebagai pasar modal yang sekuritas-sekuritasnya telah mencerminkan semua informasi yang mungkin terjadi dengan cepat dan akurat. Pemodal selalu memasukkan informasi yang tersedia dalam keputusan mereka sehingga terefleksikan pada harga yang mereka transaksikan (Ang dalam Wafiyah, 2005).
Konsep efisiensi pasar menghubungkan antara informasi dan harga saham yang sering dinyatakan sebagai hipotesa pasar yang efisien. Reverse stock split merupakan informasi yang mempengaruhi harga saham. Teori ini yang pada akhirnya digunakan untuk menjawab apakah pasar bereaksi terhadap informasi pengumuman reverse stock split.
Masing-masing bentuk efisiensi pasar terkait erat dengan sejauh mana penyerapan informasi. Semakin cepat pasar bereaksi terhadap informasi yang ada, semakin cepat potensi pasar tersebut untuk mencapai kondisi efisien (Gumanti, 2011:329). Tiga bentuk efisiensi pasar tersebut adalah:
1. Efisiensi Pasar Bentuk Lemah (Weak-Form Efficiency)
Efisiensi pasar bentuk lemah adalah dimana harga-harga mencerminkan semua informasi yang ada pada catatan harga yang bersifat historis atau di waktu yang lampau. Suatu pasar dideskripsikan sebagai efisien bentuk lemah (weak form efficient) bila tidak mungkin membuat keuntungan
abnormal (kecuali secara kebetulan) dengan menggunakan harga-harga
yang terjadi dimasa lalu untuk memformulasikan keputusan membeli dan menjual (Sharpe, et al., 2005:87). Penelitian tentang random walk menunjukkan bahwa sebagian besar pasar modal paling tidak efisien dalam bentuk ini (Husnan, 1994:251).
2. Efisiensi Pasar Bentuk Setengah Kuat (Semistrong-From Efficient)
Efisiensi pasar bentuk setengah kuat adalah bentuk efisiensi pasar yang lebih komprehensif dimana harga-harga bukan hanya mencerminkan harga di waktu yang lampau, tetapi mencerminkan semua informasi yang dipublikasikan seperti stock split, penerbitan saham baru, pengumuman laba dan deviden, perkiraan tentang laba perusahaan, perubahan praktek praktek akuntansi, dan merger. Suatu pasar dideskripsikan sebagai efisien bentuk semi kuat (semistrong-form
efficient) bila tidak mungkin untuk membuat keuntungan abnormal
(kecuali secara kebetulan) dengan menggunakan informasi yang tersedia untuk publik untuk memformulasikan keputusan membeli dan menjual (Sharpe, et al., 2005:87). Pada pasar yang efisien dalam bentuk setengah kuat ini, investor tidak dapat berharap mendapatkan abnormal return
jika strategi perdagangan yang dilakukan hanya didasari oleh informasi yang telah dipublikasikan, sebaliknya jika pasar tidak efisien, maka akan ada lag dalam proses penyesuaian harga terhadap informasi baru dan ini dapat digunakan investor untuk mendapatkan
return abnormal (Tandelilin, 2001:115).
3. Efisiensi Pasar Bentuk Kuat (Strong-Form Efficiency)
Efisiensi pasar bentuk kuat adalah dimana harga tidak hanya mencerminkan semua informasi yang dipublikasikan, tetapi juga informasi yang bisa diperoleh dari analisa fundamental tentang perusahaan dan perekonomian. Suatu pasar dideskripsikan sebagai efisien bentuk kuat (strong-form efficient) bila tidak mungkin membuat keuntungan abnormal (kecuali secara kebetulan) dengan menggunakan informasi apa saja untuk membuat keputusan membeli dan menjual (Sharpe, et al., 2005:87). Dalam hal ini semua informasi baik yang terpublikasi atau tidak dipublikasikan sudah tercermin dalam harga sekuritas saat ini (Tandelilin, 2001:115)
2.1.2 Reverse Stock Split
Pada dasarnya ada dua jenis pemecahan yang dapat dilakukan yaitu pemecahan saham naik (split-up) dan pemecahan saham turun (split-down) atau yang biasa dikenal dengan reverse stock split. Reverse stock split adalah perubahan nilai nominal per lembar saham dan mengurangi jumlah saham yang beredar sesuai dengan faktor pemecahan misalnya 1:2, 1:3 dan 1:4. Reverse stock
split biasanya dilakukan ketika harga saham dinilai terlalu rendah, sehingga
dianggap tidak memiliki prospek yang cukup baik (Van Horne et al., 2007:291). Perusahaan juga memiliki alasan lain dalam melakukan reverse split salah satunya terhindar dari delisting di pasar modal. Noermohamed (2012) menyatakan bahwa
Reverse stock splits are just as stock splits an interesting topic to investigate, but get less attention, because forward stock splits seem to occur more often. In the USA the number of stock splits and reversed stock splits seem to be equal for the past few years. Academics in the field study why companies consider and execute reverse stock splits. Several studies reported a number of possible reasons like moving the share price to an optimal range conform to the trading range hypothesis. Another reason for managers is to enhance its image among investors (conform to the signaling hypothesis) by reducing transaction costs for shareholders and avoiding to be delisted from the stock exchange.
Sebagai ilustrasi, sebuah perusahaan sebelum melakukan reverse stock
split memiliki 300.000 lembar saham dengan nilai par $5, kemudian perusahaan
memutuskan untuk melakukan reverse stock split 3:1 yaitu 3 saham lama menjadi 1 saham baru. Setelah melakukan reverse stock split, nilai par per lembar saham akan menjadi $15 ($5 x 3) dan saham yang beredar akan menjadi 100.000 lembar saham (300.000 lembar saham / 3).
Perubahan nilai nominal tersebut hanya mengakibatkan pengurangan jumlah lembar saham, tetapi tidak mengubah jumlah modal ditempatkan dan modal disetor (paid in capital). Dengan kata lain, seperti halnya aksi stock split, aksi penggabungan saham juga tidak akan mengurangi atau menambah nilai investasi dari pemegang saham/investor. Penggabungan saham (reverse split) tidak dipahami sebagaimana pemecahan saham (stock split), karena banyak yang percaya bahwa perusahaan memilih untuk menggabungkan saham bertujuan untuk
meningkatkan image saham dan meningkatkan pemasaran saham (Han dalam Wafiyah, 2005).
Beberapa faktor yang mendorong emiten melakukan aksi korporat reverse
split diantaranya adalah untuk membuat harga saham menjadi lebih tinggi dari
sebelumnya, menyejajarkan harga saham dengan saham-saham sejenisnya atau yang dianggap memiliki karakteristik yang sama, menaikkan posisi saham dari saham yang masuk kategori papan pengembangan ke papan utama, serta membentuk harga saham yang lebih wajar (Susiyanto dalam Wafiyah, 2005).
Sedangkan menurut Lihua Jing dalam Mardiyanti dan Khasanah (2011), dalam penelitiannya menyatakan empat alasan utama perusahaan (emiten) melakukan reverse split adalah sebagai berikut: (1) Reverse split akan mengurangi biaya transaksi, jumlah lembar saham akan berkurang menyebabkan biaya transaksi juga berkurang. (2) Reverse split akan memperbaiki fleksibilitas harga saham baru (new issue) ketika dibutuhkan. Perusahaan (emiten) yang melakukan
reverse split akan mengurangi nilai nominal sahamnya, sehingga ketika
perusahaan tersebut akan menerbitkan saham baru perusahaan tersebut tidak perlu menetapkan nilai nominal untuk saham barunya. (3) Reverse split akan meningkatkan investor institusional dan internasional. Perusahaan yakin bahwa dengan melakukan penggabungan saham akan meningkatkan profil perusahaan di mata investor institusional. (4) Direktur percaya bahwa dengan reverse split rentang harga saham yang digunakan dapat membawa nilai saham yang sesungguhnya.
2.1.3 Abnormal Return
Abnormal return adalah kelebihan dari actual return atas expected return (Gumanti, 2011:57). Actual return adalah keuntungan (return) yang
sesungguhnya terjadi dan expected return adalah keuntungan (return) yang diharapkan akan diterima oleh para investor. Return yang diharapkan oleh para investor tidak selamanya sama dengan return yang sesungguhnya diterima dan sangat mungkin berlainan dengan apa yang diharapkan. Selisih return akan positif jika return yang didapatkan lebih besar dari return yang diharapkan atau
return yang dihitung. Selisih return akan bernilai negatif apabila return yang
didapatkan lebih kecil dari return yang diharapkan atau yang dihitung (Jogiyanto, 2008:433).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa abnormal return terjadi karena dipicu oleh adanya kejadian atau peristiwa tertentu misalnya hari libur nasional, kejadian – kejadian luar biasa, stock split, reverse stock split, penawaran perdana dan lain- lain. Formulasi abnormal return adalah sebagai berikut: (Jogiyanto, 2008:433).
ARi.t= Ri.t– E(Ri.t) dimana :
ARi,t = abnormal return saham i pada periode t
Ri,t = return sesungguhnya yang terjadi untuk saham i periode t E(Ri,t) = return ekspektasi yang terjadi untuk saham i periode t
Rumus menghitung actual return untuk mengetahui perbandingan antara harga saham hari ini dengan harga saham sebelumnya yaitu dengan persamaan:
Rit = �� − ��−�
dimana:
Rit = Actual return atau return yang sesungguhnya terjadi untuk saham i periode t Pt = Harga saham pada periode t
Pt-1 = Harga saham pada pada periodet-1
Penelitian Brown dan Warner dalam Hendrawijaya Dj (2009) menyatakan bahwa return ekspektasi merupakan return yang harus diestimasi. Mengestimasi
expexted return dapat menggunakan tiga model:
1. Mean-Adjusted Model
Mean Adjusted Model menganggap return bernilai konstan yang sama
dengan rata-rata return realisasi sebelumnya selama periode estimasi.
E( ��)= ∑ ��
�
dimana:
E(Rit) = return ekspektasi sekuritas ke-i pada waktu t Rit = actual return sekuritas ke-i pada waktu t T = periode estimasi
Periode estimasi (estimation period) merupakan periode sebelum periode peristiwa. Periode peristiwa (event period) disebut juga dengan periode pengamatan atau jendela peristiwa (event window).
2. Market Model
Market model dalam menghitung return ekspektasi dilakukan dengan dua
tahap yaitu membentuk model ekspektasi dengan menggunakan data realisasi selama periode estimasi dan menggunakan model ekspektasi untuk mengestimasi return ekspektasi di periode jendela. Model
ekspektasi dapat dibentuk dengan menggunakan teknik regresi OLS (Ordinary Least Square) dengan persamaan:
E(Rit)= αi+ βi.Rmt+ εit dimana:
E(Rit) = return realisasi sekuritas ke-i pada periode estimasi ke-j αi = intercept untuk sekuritas ke-i
βi = koefisien slope yang merupakan beta dari sekuritas ke-i Rmt = return indeks pasar pada periode estimasi ke-j
εit = kesalahan residu sekuritas i pada peride estimasi ke t. Return pasar dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
�� = � − �−�
�−�
Keterangan :
= return pasar
= Indeks Harga Saham Gabungan periodet −1 = Indek Harga Saham Gabungan periodet-1 3. Market Adjusted Model.
Market adjusted model menganggap bahwa penduga yang terbaik untuk
mengestimasi return suatu sekuritas adalah return indeks pasar pada saat tersebut. Dengan menggunakan model ini, tidak perlu menggunakan periode estimasi untuk membentuk model estimasi karena return sekuritas yang diestimasi sama dengan return indeks pasar.
dimana :
E(Rit) = Expected return sekuritas ke-i pada peristiwa ke-t Rmit = Return pasar dari sekuritas ke-i pada peristiwa ke-t
Dalam penelitian ini, expected return dihitung dengan menggunakan
Market Adjusted Model karena model ini mengestimasi sekuritas sebesar return
indeks pasarnya sehingga tidak perlu menggunakan periode estimasi. Hal ini dilakukan untuk meyakinkan peneliti bahwa reaksi yang terjadi adalah akibat dari peristiwa yang diamati bukan karena peristiwa lain yang bisa mempengaruhi peristiwa yang diamati.
2.1.4 Trading Volume Activity
Likuiditas saham merupakan indikator dan reaksi pasar terhadap suatu pengumuman yang diukur dengan Trading Volume Activity (TVA). Trading
Volume Activity atau aktifitas volume perdagangan merupakan suatu instrumen
yang dapat digunakan untuk melihat reaksi pasar modal terhadap informasi melalui parameter pergerakan aktifitas volume perdagangan di pasar modal (Suryawijaya dalam Wafiyah, 2005).
Pengamatan terhadap aktivitas volume perdagangan dilakukan disekitaran tanggal pengumuman corporate action. Menurut Widayanto dan Sunarjanto dalam Laksmana dan Bagja (2014)
Trading volume is measure the volume of a particular stock traded, indicates the ease of stock trading. The amount of trading volume variable determined by observing stock trading activity that can be seen through indicator Trading Volume Activity (TVA). TVA is an indicator that can be used to look at the stock market reaction to information through TVA calculation doing by comparing total share traded in a given period with total share outstanding of the company at the same tim). After TVA each
stock is known, then calculated the average TVA for the period surrounding the announcement date.
Sedangkan Husnan dalam Wafiyah (2005) mengukur kegiatan perdagangan saham melalui indikator TVA yang digunakan untuk melihat apakah investor individual menilai laporan keuangan informatif, dalam arti apakah informasi tersebut membuat keputusan perdagangan di atas keputusan perdagangan yang normal.
TVA (Trading Volume Activity) suatu saham merupakan penjumlahan dari setiap transaksi perdagangan yang dilakukan oleh para pelaku pasar. Proses penjumlahan ini mencerminkan adanya perbedaan pandangan (asimetri) di antara investor mengenai nilai suatu saham. Volume perdagangan terjadi karena adanya perbedaan pendapat (differing beliefs) di antara investor mengenai berapa nilai saham sesungguhnya. Oleh karena itu kenaikan volume perdagangan saham merefleksikan seberapa jauh terjadinya asimetri informasi di antara para investor sebagai reaksi atas suatu pengumuman yang dipublikasikan.
Perhitungan TVA (Trading Volume Activity) dilakukan dengan membandingkan jumlah saham perusahaan yang diperdagangkan dalam suatu periode tertentu dengan keseluruhan jumlah saham beredar perusahaan tersebut pada kurun waktu yang sama. Perubahan volume perdagangan saham di pasar modal menunjukkan aktifitas perdagangan saham dan mencerminkan keputusan investasi investor (Wismar’in dalam Wafiyah, 2005). Berikut formulasi menghitung tingkat aktivitas perdagangan saham (TVA) untuk masing-masing emiten (Paula dan Kananlua, 2012):
TVA = ℎ � ℎ � � � �� � � � � � �
ℎ � ℎ � � � � � �
Setelah TVA masing-masing saham tersebut diketahui, kemudian menghitung rata-rata TVA saham sebelum dan sesudah pemecahan saham. Rata- rata TVA dapat dihitung dengan cara membagi jumlah TVA dengan banyaknya periode (n). Berikut rumus menghitung rata-rata TVA:
ATVA =
∑
��
� �=1
Keterangan :
ATVA = Rata-rata Trading Volume Activity pada perusahaan i pada waktu t
∑�=1 �� = Jumlah total Trading Volume Activity
N = jumlah periode
2.1.5 Signaling Theory
Asimetri informasi (information asymmetric) merupakan informasi privat yang hanya dimiliki oleh investor-investor yang mendapat informasi saja (informed investor). Asimetri informasi akan terjadi jika manajemen tidak secara penuh menyampaikan semua informasi yang diperoleh tentang semua hal yang dapat mempengaruhi perusahaan ke pasar, maka pada umumnya pasar akan merespon informasi tersebut sebagai suatu sinyal yang tercermin dari perubahan harga saham (Schweitzer dalam Wafiyah, 2005).
Sinyal yang ingin ditunjukan oleh emiten yang melakukan reverse stock
split adalah sinyal positif yang menandakan bahwa sahamnya memiliki kualitas
yang lebih dari harga yang ditunjukannya. Harga yang rendah dengan mudah diasosiasikan dengan rendah kualitasnya, dengan melakukan reverse stock split,
emiten ingin menghindari persepsi tersebut dan menunjukkan kinerja dan prospeknya. Di luar itu, perusahaan kadang menggunakan reverse stock split sebagai alat untuk menarik perhatian pasar (Savitri dan Martani, 2006).
Namun sinyal yang tersampaikan adalah sinyal negatif berupa persepsi investor akan future earnings dan kemampuan perusahaan untuk meningkatkan harga sahamnya di masa mendatang. Apabila perusahaan memutuskan untuk melaksanakan reverse stock split, perusahaan dianggap tidak optimis dalam menilai kinerjanya di masa datang. Perusahaan dianggap tidak mampu untuk menaikkan harga sahamnya dengan cara menunjukan kinerja. Hasil dari persepsi ini diterapkan dalam reaksi investor yang secara empiris telah dibuktikan menyebabkan terjadinya abnormal return yang negatif terutama disekitar hari pengumuman (Van Horne, et al., 2007:296)
2.1.6 Trading Range Theory
Menurut Trading range theory, perusahaan melakukan reverse stock split agar harga sahamnya berada pada range perdagangan yang lebih baik. Pada umumnya perusahaan melakukan reverse stock split karena merasa harga sahamnya sangat murah dan jumlah saham yang beredar sudah terlampau banyak. Oleh karena itu, perusahaan berkeinginan untuk meningkatkan harga sahamnya menjadi lebih mahal, dengan maksud untuk memberi kesan bonafit (harga sahamnya tidak berkesan murahan). Dengan memiliki harga baru yang lebih menarik bagi investor untuk membelinya, diharapkan volume perdagangan dapat meningkat. Peningkatan volume perdagangan merupakan salah satu indikasi terjadinya peningkatan likuiditas saham (Fransiska dan Purwaningsih, 2011).
2.2 Penelitian Terdahulu
Terdapat beberapa peneliti yang menjadikan reverse stock split sebagai objek yang mereka teliti, diantaranya adalah:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Paula dan Kananlua (2012) meneliti perbedaan abnormal return dan trading volume activity saham sebelum dan sesudah reverse split. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah tidak ada perbedaan abnormal return sebelum dan sesudah peristiwa reverse split. Sedangkan, hasil dari penelitian trading volume activity menunjukan adanya perbedaan trading volume activity sebelum sesudah peristiwa reverse split.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Ningrum dan Indarto (2012) meneliti analisis kinerja saham perusahaan go public sebelum dan sesudah aksi reverse
stock split (studi kasus di Bursa Efek Indoneisa). Dalam penelitian ini peneliti
menggunakan trading volume activity dan bid-ask spread sebagai parameter penelitian. Maka Hasil yang didapat dari penelitian ini menunjukan adanya perbedaan antara trading volume activity saham sebelum dan sesudah pelaksanaan reverse stock split. Dan juga terdapat perbedaan bid-ask spread sebelum dan sesudah pelaksanaan reverse stock split.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Fransiska dan Purwaningsih (2011) meneliti perbedaan likuiditas saham sebelum dan sesudah reverse stock split (studi empiris pada Bursa Efek Indonesia). Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan likuiditas saham yang signifikan antara sebelum dan sesudah reverse stock split.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Mardiyanti dan Khasanah (2011) meneliti studi komparatif harga, likuiditas dan risiko saham sebelum dan sesudah melakukan stock split dan reverse stock split. Maka hasil dari penelitian ini adalah bahwa terdapat perbedaan signifikan harga saham sebelum dan sesudah peristiwa
stock split dan reverse stock split. Kemudian tidak terdapat perbedaan spread
saham sebelum dan sesudah stock split tetapi terdapat perbedaan spread saham sebelum dan sesudah reverse stock split. Dan terdapat perbedaan risiko saham sebelum dan sesudah stock split dan reverse stock split.
5. Penelitian yang dilakukan Lihua Jing (2003) dengan judul an event study
of reverse stock split in Hongkong market meneliti abnormal return disekitar
pengumuman reverse split, trading volume setelah reverse split, pengaruh reverse
split terhadap tick size, dan pengaruh reverse split terhadap optimal stock price range. Maka hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa abnormal return
sebelum pengumuman reverse split adalah negatif. Sedangkan, trading volume setelah reverse split meningkat signifikan. Sebaliknya, tick size mengalami penurunan setelah reverse split. Dan terakhir reverse split berpengaruh negatif terhadap optimal stock price range.
Dari uraian penelitian terdahulu, maka ringkasan penelitian terdahulu dapat diketahui pada tabel berikut ini:
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No Nama Peneliti Judul Penelitian Variabel Penelitian Teknik Analisis Data Hasil Penelitian 1. Azizan Paula dan Paulus Suluk Kananlua (2012) Perbedaan Abnormal Return dan Trading Volume Activities Saham Sebelum dan Sesudah Reverse Split Independen: Reverse Split Dependen: Abnormal Return dan Trading Volume Activity Analisis uji beda dua rata-rata (Paired sample t test) Tidak ada perbedaan abnormal return sebelum dan sesudah peristiwa reverse split dan terdapat perbedaan trading volume activity sebelum sesudah peristiwa reverse split.
2. Dwi Indah Septi Ningrum dan Indarto (2012) Analisis Kinerja Saham Perusahaan Go Public Sebelum dan Sesudah Aksi Reverse Stock Split Independen: Reverse Stock Split Dependen: Trading Volume activity dan Bid- Ask Spread Uji t berpasang- an Ada perbedaan antara trading volume activity saham sebelum dan sesudah pelaksanaan reverse stock split dan terdapat perbedaan bid-ask spread sebelum dan sesudah pelaksanaan reverse stock split.
Lanjutan Tabel 2.1
No Nama Peneliti Judul Penelitian Variabel Penelitian Teknik Analisis Data Hasil Penelitian 3. Lusiana Fransiska dan Anna Purwaningsih (2011) Perbedaan Likuiditas Saham Sebelum dan Sesudah Reverse Stock Split Independen: Reverse Split Dependen: Likuiditas Saham Uji Wilcoxon Terdapat perbedaan likuiditas saham yang signifikan antara sebelum dan sesudah reverse stock split. 4. Umi Mardiyanti dan Khusfatun Khasanah (2011) Studi komparatif harga, likuiditas dan risiko saham sebelum dan sesudah melakukan
stock split dan reverse stock split
Independen: Stock Split dan Reverse split Dependen: Harga, likuiditas dan Risiko Saham Analisis uji beda dua rata-rata (Paired sample t test) dan Uji Wilcoxon 1. Terdapat perbedaan signifikan harga saham sebelum dan sesudah peristiwa stock split dan reverse stock split 2. Tidak terdapat perbedaan spread saham sebelum dan sesudah stock split 3. Terdapat perbedaan spread saham sebelum dan sesudah reverse stock split
Lanjutan Tabel 2.1
No Nama Peneliti Judul Penelitian Variabel Penelitian Teknik Analisis Data Hasil Penelitian 4. Terdapat perbedaan risiko saham sebelum dan sesudah stock split dan reverse stock split
5. Lihua Jing (2003) An Event Study of Reverse Stock Splits In Hongkong Market Independen: Reverse Split Dependen: Abnormal Return, Trading Volume, Tick Size, Optimal Stock Price Range T-Statistic Test dan Cross- Sectional Regression 1. Reverse split berpengaruh negatif terhadap abnormal return. 2. Trading Volume meningkat signifikan setelah reverse split. 3. Tick size mengalami penurunan setelah reverse split. 4. Reverse split berpengaruh negatif terhadap optimal stock price range
Sumber: berbagai jurnal dan penelitian ilmiah
2.3 Kerangka Konseptual
Reverse stock split merupakan salah satu bentuk corporate action. Di
pasar modal informasi mengenai corporate action akan bernilai apabila dengan adanya informasi tersebut dapat menyebabkan investor melakukan transaksi di pasar modal yang tercemin pada perubahan harga saham dan tingkat aktivitas perdagangan saham (Paula dan Kananlua, 2012). Perubahan harga saham diukur
dengan abnormal return dan tingkat aktivitas perdagangan saham diukur dengan
trading volume activity.
Abnormal return merupakan selisih antara return yang sesungguhya
terjadi dengan return yang diharapkan (Jogiyanto, 2003:433). Abnormal return yang positif ditandai dengan return yang sesungguhnya terjadi lebih tinggi dari
return yang diharapkan. Sebaliknya, abnormal return yang negatif ditandai
dengan return yang sesungguhnya terjadi lebih rendah dari return yang