• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

1. Bagi Pemerintah Kabupaten Dairi

a. Hasil penelitian ini mempunyai implikasi terhadap Pemerintah Kabupaten Dairi untuk meningkatkan PDRB. Khusus untuk pembangunan pada sektor basis (sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan; sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum; dan sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial) agar dipertahankan produktivitasnya, bahkan ditingkatkan. Hal ini dapat dilakukan dengan kebijakan mengundang investor untuk mengembangkan sarana dan prasarana pada sektor basis, juga mengembangkan penggunaan teknologi pada proses produksi sektor basis.

b. Melaksanakan pola pembangunan yang terfokus dan terarah. Hal ini dapat dieksekusi dengan melakukan pola pembangunan sistem zona (wilayah

pembangunan). Rekomendasi pembangunan sistem zona sesuai hasil penetapan satuan wilayah pembangunan dalam skripsi ini.

c. Membangun dan sarana dan prasarana pelayanan umum yang layak di setiap kecamatan untuk meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat. Hal ini amat penting sebagai wujud pemerintah hadir bagi masyarakat. Juga agar terjadi peningkatan interaksi antar kecamatan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap ibukota kabupaten.

d. Memanfaatkan hasil-hasil penelitian dan riset yang bisa dijadikan bahan untuk mengembangkan pembangunan Kabupaten Dairi pada sektor apapun.

2. Bagi peneliti selanjutnya.

a. Tetap memperhatikan pergerakan sektor-sektor perekonomian di Kabupaten Dairi untuk selalu memperbarui kondisi perekonomian. Hal ini penting mengingat pembangunan bersifat dinamis. Karena itu lah, pembangunan Kabupaten Dairi harus terus di kaji tahun ke tahun.

b. Menyusun strategi pembangunan Kabupaten Dairi dengan alat analisis lainnya untuk memperbanyak ragam hasil penelitian yang dapat dijadikan masukan bagi pemerintah dalam membuat kebijakan pembangunan. 3. Bagi masyarakat (khususnya masyarakat Kabupaten Dairi).

a. Aktif berpartisipasi dalam pembangunan, minimal dengan menjaga sarana dan prasarana agar tetap awet, karena sarana dan prasarana itu milik bersama dan peruntukannya demi mendukung kesejahteraan bersama.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi

Pembangunan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi adalah dua hal yang berbeda namun tidak dapat dipisahkan. Pembangunan ekonomi dilaksanakan untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Dilaksanakannya pembangunan ekonomi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, sehingga pertumbuhan ekonomi dapat menggambarkan geliat pembangunan di suatu negara. Geliat pembangunan bukan hanya pada sektor ekonomi, namun di seluruh aspek kehidupan.

Todaro (1998) mengatakan tujuan utama dari usaha-usaha pembangunan ekonomi selain menciptakan pertumbuhan yang setinggi-tingginya, harus pula menghapus atau mengurangi tingkat kemiskinan, ketimpangan pendapatan, dan tingkat pengangguran. Kesempatan kerja bagi penduduk atau masyarakat akan memberikan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Bahkan Rostow dalam Sukirno (1985) mengartikan pembangunan secara lebih dalam. Ia memahami pembangunan sebagai suatu proses yang menyebabkan perubahan dari ciri-ciri penting dalam suatu masyarakat; yaitu perubahan dalam keadaan sistem politiknya, struktur sosialnya, nilai-nilai masyarakatnya, dan struktur kegiatan ekonominya. Apabila perubahan-perubahan seperti itu timbul sehingga menyebabkan pertumbuhan lebih selalu berlaku, maka proses pertumbuhan ekonomi dapatlah dikatakan sudah mulai berlaku.

Pembangunan telah berlangsung sejak dulu. Pada awalnya pembangunan hanya tertuju pada usaha untuk meningkatkan pendapatan negara (PDB). Paradigma ini terjadi pada tahun 1950 sampai awal tahun 1960-an. Negara-negara dunia ketiga sepakat untuk menjadikan peningkatan pendapatan sebagai target utama dari pembangunan, namun ternyata tidak ada peningkatan kualitas kehidupan dari masyarakatnya. Bahkan, selain terjadi peningkatan PDB, ternyata jumlah kemiskinan absolut juga meningkat, terjadi ketimpangan distribusi pendapatan dan pengangguran dimana-mana. Akibatnya, pada tahun 1970, paradigma pembangunan mengalami pergerseran definisi dari yang semula mengejar peningkatan pendapatan negara menjadi usaha-usaha untuk mengurangi kemiskinan, ketimpangan dan pengangguran.

Pembangunan diarahkan untuk menciptakan kesejahteraan dan mengurangi kemiskinan, ketimpangan dan pengangguran. Tiga hal ini merupakan masalah yang paling sulit dihadapi oleh pemerintah. Secara umum, orang-orang miskin itu biasanya lebih rentan terhadap berbagai penyakit sosial, mulai dari gaya hidup menggelandang yang kurang manusiawi, ketergantungan obat bius, kekerasan rumah tangga, masalah-masalah kesehatan, kehamilan remaja di luar nikah, buta huruf, pengangguran dan prestasi pendidikan yang rendah (Mankiw, 2001). Ketimpangan juga menjadi masalah yang sangat serius. Mayoritas kekayaan negara dinikmati dan dirasakan hanya oleh orang-orang kaya, sementara orang miskin sisanya yang sedikit. Ini menunjukkan ketimpangan yang besar di negara-negara dunia ketiga. Begitu juga dengan pengangguran yang terus meningkat.

Masalah-masalah ini lah yang harus diatasi pemerintah dengan meningkatkan kesejahteraan.

Salah satu indikator untuk melihat kesejahteraan masyarakat yaitu melalui tingkat pertumbuhan ekonominya. Pertumbuhan ekonomi juga merupakan salah satu target dalam proses pembangunan ekonomi. Bahkan pembangunan ekonomi suatu negara dapat dikatakan meningkat dengan hanya melihat pada pertumbuhan ekonominya. Jika pertumbuhan ekonomi meningkat pada setiap tahunnya, maka dapat dikatakan pembangunan ekonomi pun meningkat (Dhyatmika, 2013 dalam Nisa, 2014).

Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana aktivitas perekonomian akan menghasilkan pendapatan bagi masyarakat pada suatu periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi merupakan peningkatan output atas penambahan faktor produksi. Bahkan Kuznet (1959) dalam Nisa (2014) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi bukanlah hanya terdapat peningkatan output pada suatu negara saja melainkan mampu menyediakan berbagai barang ekonomi untuk penduduknya dalam waktu yang cukup panjang.

Pertumbuhan ekonomi dapat dihitung dengan formula: Pertumbuhan Ekonomi = �� �−�� �−�

�� �−�

x

Keterangan :

�� : PDB pada tahun tertentu. �� �− : PDB pada tahun sebelumnya.

Dengan rumus diatas, dapat dihitung besarnya pertumbuhan ekonomi suatu negara maupun suatu daerah dengan membandingkan pendapatan tahun berjalan dengan pendapatan tahun sebelumnya.

2.1.2 Pembangunan Ekonomi Daerah

Ketika Republik Indonesia diproklamirkan sebagai republik yang merdeka pada 17 Agustus 1945, masalah kemelaratan sudah menjadi isu yang kuat untuk diberantas disamping isu kebodohan (rendahnya tingkat pendidikan, 96% rakyat buta huruf). Hal itu lah yang hingga kini juga masih menjadi isu nasional dengan sedikit berganti nama namun maknanya tetap yaitu menjadi isu kemiskinan. Masalah kemiskinan telah merambah menjadi masalah pengangguran, ketimpangan, dan masalah-masalah lainnya. Hal inilah yang akan diminimalisir lewat pembangunan.

Dewasa ini pembangunan dapat dilakukan secara makro maupun mikro. Pembangunan secara makro berarti pembangunan secara nasional yang merupakan akumulasi pembangunan di tiap daerah. Secara mikro, pembangunan lebih bersifat regional atau terdesentralisasi. Nyatanya, pembangunan secara makro membawa permasalahan ketimpangan di daerah-daerah. Banyak daerah yang kurang tersentuh, sementara terdapat daerah yang pembangunannya gencar. Hal inilah yang menyebabkan pentingnya pembangunan secara regional, karena akan lebih menyentuh masyarakat secara keseluruhan.

Seperti yang telah dijelaskan, pembangunan berarti usaha-usaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Begitu pula dengan pembangunan

ekonomi daerah. Semua kegiatan pembangunan harus dirasakan oleh masyarakat, dan yang lebih penting, dirasakan membawa peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat.

Kegiatan pembangunan daerah dapat dilakukan oleh pemerintah dan juga oleh swasta. Semua kegiatan pembangunan, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun yang dilaksanakan masyarakat, merupakan investasi (Muljana, 1996). Sebagaimana kita ketahui, investasi setidaknya ada dua jenis, yaitu yang bersifat mengganti yang susut dan yang bersifat menambah kapasitas. Investasi yang kita perhitungkan dalam rangka pembangunan terutama adalah yang menambah kapasitas. Mengganti yang susut diperhitungkan dalam rangka pemeliharaan.

Karena sifatnya yang menambah kapasitas, maka pembangunan ekonomi daerah harus terlihat secara fisik maupun non fisik. Secara fisik, investasi tersebut terlihat dari semakin banyaknya bangunan-bangunan, jalan raya, hotel-hotel, transportasi yang baik, gedung-gedung sekolah yang memadai dan infrastruktur fisik lainnya terbangun. Secara non-fisik dapat dirasakan melalui peningkatan kualitas pendidikan dengan semakin rendahnya angka buta huruf, meningkatnya minat baca, semakin tinggi usia harapan hidup, semakin aman dan tentram daerah itu, akur masyarakatnya dan pembangunan non fisik lainnya. Semuanya ini merupakan wujud hadirnya pembangunan di daerah.

Pembangunan ekonomi bukan hanya pembangunan dalam bidang ekonomi. Segala bidang harus dibangun dalam rangka menciptakan kesejahteraan masyarakat. Setiap daerah memiliki potensi wilayah dan juga permasalahan yang menjadi kebutuhan wilayah masing-masing. Potensi wilayah akan dikembangkan

menjadi keunggulan daerah. Keunggulan daerah pada langkah awal ditujukan untuk memenuhi kebutuhan daerah dan selanjutnya dapat melakukan ekspor, memenuhi kebutuhan daerah lain. Permasalahan yang menjadi kebutuhuhan daerah dapat dipenuhi dengan melakukan impor dari daerah lain. Jadi pembangunan daerah merupakan interaksi dari semua daerah, agar masrayarakat lokal disejahterakan lebih dahulu, lalu dapat mensejahterakan masyarakat luar.

Jadi pembangunan ekonomi daerah harus diarahkan untuk melakukan investasi dalam rangka pemenuhan kebutuhan daerah terlebih dahulu. Setelahnya dilakukan investasi dalam rangka penciptaan nilai tambah yang dapat dimiliki daerah dari segala potensinya.

2.1.3 Analisis Perencanaan Pembangunan Wilayah

Proses perencanaan dapat diartikan sebagai rangkaian kegiatan perencanaan yang diawali dengan pemilihan tujuan sosial dan target-target ekonomi dari pemerintah, yang disusul dengan perumusan suatu kerangka kerja bagi kegiatan-kegiatan implementasi, koordinasi, dan pemantauan hasil-hasilnya (Todaro, 1998).

Perencanaan ekonomi mempunyai peranan dan fungsi yang sangat penting dalam pembangunan/pertumbuhan ekonomi. Perencanaan dapat dikatakan sebagai suatu fungsi dari pemerintah untuk menjalankan fungsinya sebagai regulator. Namun, dalam banyak hal, bisa saja sebenarnya pemerintah membuat suatu campur tangan tanpa adanya perencanaan (Adisasmita, 2013).

Ketiadaan perencanaan yang sering kali menyebabkan pembangunan menjadi tidak tepat sasaran. Hal ini dikarenakan dalam setiap kebijakan yang diambil tanpa perencanaan itu tidak ada kajian yang dalam. Menurut Adisasmita (2013) fungsi utama dari pemerintah di bidang perekonomian ada tiga, yaitu (1) penentuan kebijakan stabilisasi makro ekonomi (prinsip kemantapan). Pemerintah dalam fungsi ini berperan untuk menjaga variabel-variabel makro ekonomi tetap terkendali. (2) Mempengaruhi alokasi sumber daya untuk memperbaiki efisiensi ekonomi (prinsip keseimbangan). Fungsi ini menuntut pemerintah menggali secara menyeluruh sumber daya daerah yang ada dan menggunakannya untuk mengembangkan daerah. Bisa jadi sumberdaya di satu daerah berbeda dengan daerah lainnya, namun bukan berarti daerah yang lebih sedikit sumber dayanya tidak diperhatikan. Pemerintah harus tetap membangun seluruh daerah. (3) Penciptaan program yang dapat mempengaruhi distribusi pendapatan (prinsip keadilan). Dengan fungsi ini, maka pemerintah harus menciptakan program yang mampu memperkecil ketimpangan pendapatan masyarakat. Fungsi ini dinilai tidak berjalan baik jika ada masyarakat yang sangat kaya, namun di saat yang bersamaan, terdapat juga masyarakat yang sangat miskin.

Untuk itu harus didukung oleh perencanaan pembangunan wilayah yang komprehensif, terintegrasi (terpadu), terkoordinasi, berkeseimbangan, dan berkelanjutan (comprehensive, integrated, coordinated, and sustainable regional planning) (Adisasmita 2013). Rangkaian kegiatan ini membutuhkan dasar analisis sebagai acuan untuk membuat kebijakan yang tepat. Dasar analisis yang dipergunakan dalam melakukan perencanaan dapat dilakukan dengan

menggunakan teori basis sektor, teori pusat pertumbuhan, teori gravitasi dan strategi SWOT.

2.1.3.1 Teori Basis Sektor

Kegiatan ekonomi dikelompokkan menjadi kegiatan basis dan kegiatan bukan basis ekonomi dari suatu daerah. Kegiatan basis lah yang dapat mendorong secara signifikan peningkatan ekonomi daerah. Analisis basis dan bukan basis didasarkan atas nilai tambah yang dihasilkan oleh suatu sektor perekonomian. Setiap daerah pasti memiliki basis perekonomiannya. Karena itu diperlukan analisis yang tepat mengenai apa yang menjadi basis perekonomian daerah.

Basis perekonomian ditentukan dari besarnya pengaruh ekspor daerah dari suatu sektor terhadap peningkatan pendapatan daerah dan pertumbuhan ekonomi. Ekspor yang dimaksud yaitu menjual atau menyalurkan produksi daerah ke daerah lain ataupun ke luar negeri. Suatu sektor dapat menjadi basis di suatu daerah tergantung pada bagaimana pengaruhnya mempengaruhi ekonomi daerah. Besarnya kemampuan pengaruh ini ditentukan oleh banyaknya kegiatan ekonomi yang menghasilkan nilai tambah di sektor tersebut.

Semua kegiatan lain yang bukan kegiatan basis tergolong ke dalam kegiatan/sektor service atau pelayanan. Namun bukan berarti seluruh sektor yang bukan basis menjadi tergolong kedalam sektor jasa. Untuk tidak menciptakan pengertian yang keliru tentang arti service maka disebut saja sektor non basis. Sektor nonbasis (service) berperan dalam pemenuhan kebutuhan konsumsi lokal daerah. Karena sifatnya yang berperan dalam pemenuhan kebutuhan lokal,

permintaan sektor-sektor yang tergolong serice (nonbasis) ini sangat tergantung terhadap besanya pendapatan masyarakat setempat. Oleh karena itu, kenaikan permintaan sektor ini sejalan apabila terjadi peningkatan pendapatan masyarakat lokal. Dengan kondisi itu, maka dapat dikatakan bahwa sektor-sektor yang tergolong non basis sangat terikat terhadap kondisi ekonomi setempat dan tidak bisa berkembang melebihi pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut. Berarti, hanya sektor basis yang mampu memiliki peningkatan melebihi peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah karena sektor basis melakukan ekspor ke daerah atau negara lain. Sektor basis tidak lagi terikat pada perekonomian daerah, tapi telah mampu mandiri memenuhi kebutuhan daerah dan disaat yang sama, membantu memenuhi kebutuhan daerah lain.

2.1.3.2 Teori Pusat Pertumbuhan

Teori pusat pertumbuhan pada awalnya dikemukakan pada tahun 1955 oleh Francis Perroux (seorang ekonom berkebangsaan Prancis). Pemikirannya ini muncul sebagai reaksi atas pandangan dari Casel (1927) dan Schumpeter (1951). Dua nama terakhir berpendapat bahwa transfer pertumbuhan antar wilayah umumnya berjalan lancar pada semua daerah. Mereka berpandangan adanya pemerataan pertumbuhan daerah yang terjadi oleh pembangunan. Namun, kenyataannya menunjukkan kondisi yang berbeda. Transfer pertumbuhan wilayah umunya tidaklah lancar. Selalu terbentuk konsentrasi-konsentrasi pertumbuhan pada daerah-daerah tertentu, yang menyebabkan beberapa daerah lebih besar dibandingkan daerah lainnya.

Pandangan ini juga yang disetujui dan didukung oleh Hirschman (1958) dalam Tarigan (2005). Ia berpendapat selalu ada daerah yang bertumbuh sangat cepat dan ada pula daerah yang bertumbuh sangat lambat. Hal ini terjadi karena dalam pembangunan terdapat efek rembesan (trickle down effect) dan efek konsentrasi (polarization effect) yang berbeda antar daerah. Karena itu Friedman dan Alonso dalam Syafrijal (2008) mengemukakan bahwa pengambilan keputusan mengenai dimana sebaiknya kegiatan ekonomi tersebut berlokasi merupakan keputusan investasi yang sangat penting. Pemikiran ini dielaborasi lebih lanjut oleh Hansen (1967) dalam Syafrizal (2008) untuk mengetahui lebih konkrit tentang struktur ekonomi yang terdapat dalam sebuah pusat pertumbuhan.

Daerah-daerah yang menjadi pusat pertumbuhan dapat dilihat dari adanya sekelompok kegiatan ekonomi yang terkonsentrasi pada daerah tersebut. Ini berarti bahwa pada daerah tersebut bukan terdapat satu kegiatan ekonomi saja, namun beberapa kegiatan ekonomi yang terkonsentrasi ada di dalam daerah itu. Biasanya pusat pertumbuhan ini berlokasi di perkotaan. Selain itu pusat petumbuhan dapat pula di daerah tertentu lainnya yang mempunyai potensi ekonomi spesifik seperti daerah perkebunan, daerah pariwisata, daerah pertambangan, atau yang lainnya.

Pembangunan daerah secara berkesinambungan akan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan. Pusat-pusat-pusat pertumbuhan ini lebih cepat berkembang dan yang kemudian akan mempengaruhi daerah-daerah di sekitarnya untuk berkembang juga. Pentingnya peranan pusat-pusat pertumbuhan tersebut ditunjukkan oleh pemusatan penduduk, tersedianya berbagai fasilitas produktif,

dan kemudahan-kemudahan lainnya, yang menimbulkan keuntungan-keuntungan bagi daerah.

2.1.3.3 Teori Gravitasi

Model Gravitasi ini diilhami dari Hukum Gravitasi Newton yang dicetuskan oleh Sir Isaac Newton. Hukum Gravitasi Newton berbunyi “Dua massa yang berdekatan akan saling tarik menarik.” Gultom (2013) menyatakan penerapan analisis Gravitasi bermanfaat dalam bidang analisis perencanaan wilayah dengan anggapan dasar bahwa faktor aglomerasi penduduk, pemusatan kegiatan atau potensi sumber daya alam yang dimiliki, mempunyai daya tarik yang dapat dianalogikan sebagai daya tarik menarik antara dua kutub magnet.

Analisis gravitasi digunakan untuk mengukur kekuatan interaksi keruangan antara dua wilayah atau lebih. Dengan analisis gravitasi, dapat diketahui bahwa kekuatan interaksi antara dua wilayah yang berbeda dapat diukur dengan memperhatikan jumlah penduduk dan jarak antara kedua wilayah tersebut. Model gravitasi menurut Tarigan (2005) adalah model yang sering digunakan untuk melihat kaitan potensi suatu lokasi dan besarnya wilayah pengaruh dari potensi tersebut.

Jarak akan mempengaruhi niat orang untuk bepergian ke suatu daerah karena untuk menempuh jarak tersebut diperlukan waktu, tenaga dan biaya. Semakin jauh jarak yang memisahkan kedua daerah, akan semakin rendah keinginan orang untuk bepergian atau akan menghambat mobilitas barang.

Model Gravitasi secara tidak langsung menunjukkan bahwa tidak ada daerah yang mampu hidup mandiri sendiri. Kekuatan interaksi yang diukur menunjukkan sejauh mana satu daerah membutuhkan daerah lainnya untuk saling membantu memenuhi kebutuhan daerahnya. Karena setiap daerah saling membutuhkan dengan daerah lainnya akibatnya terjalin interaksi ekonomi. Tidak semua daerah memiliki kekuatan interaksi yang sama. Bahkan setiap daerah berbeda kekuatan interaksinya dengan daerah lain. Kuatnya interaksi antara satu daerah tertentu dengan daerah lainnya juga menunjukkan kuatnya penawaran dan permintaan antar kedua daerah tersebut.

2.1.3.4 Analisis SWOT

SWOT merupakan singkatan dari kata-kata Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats. Tujuan analisis adalah untuk melakukan identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi kebijakan. Analisis ini didasarkan pada logika untuk memaksimalkan kekuatan (strenghts) dan peluang (opportunity). Strategi ini disaat yang sama meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats).

Analisis SWOT digunakan dengan matrik SWOT. Matrik SWOT merupakan alat pencocokan yang bertujuan membantu pembuat kebijakan mengembangkan empat tipe strategi, yaitu:

1. Strategi SO (Strenghts-Opportunity). Strategi ini dijalankan dengan cara menggunakan seluruh kekuatan yang dimiliki untuk merebut dan memanfaatkan peluang yang ada.

2. Strategi WO (Weakness-Opportunity). Strategi ini dilaksanakan dengan memanfaatkan semua peluang yang ada dengan meminimalkan kelemahan yang ada.

3. Strategi ST (Strenghts-Threats). Strategi ini menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi dampak ancaman yang ada

4. Strategi WT (Weakness-Threats). Strategi ini merupakan taktik defensif yang diarahkan untuk meminimalkan kelemahan yang ada dan menghindari ancaman eksternal.

2.2 Penelitian Terdahulu

Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menjadikan beberapa penelitian terdahulu sebagai bahan referensi. Penelitian-penelitian tersebut yaitu:

Penelitian yang dilakukan Rudatin (2003) yang berjudul “Analisis Sektor Basis Dalam Rangka Pengembangan Wilayah Studi Kasus: Kabupaten-Kabupaten di Jawa Tengah Tahun 1996-2001”. Penelitian Binar Rudatin ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis sektor-sektor yang potensial, keunggulan kompetitif dan spesialisasi sektor-sektor yang ada serta tipologi daerah di seluruh kabupaten di Jawa Tengah dalam kurun waktu 1996-2001. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa masing-masing kabupaten mempunyai sektor potensial sendiri-sendiri sesuai dengan kondisi masing-masing. Sebagian besar kabupaten (22 kabupaten) mempunyai sektor basis sektor pertanian, sektor keuangan sewa dan sektor jasa. Namun yang mempunyai sektor basis sektor industri dan sektor perdagangan hanya enam kabupaten. Dari Sembilan sektor yang diteliti hanya

sektor pertambangan dan penggalian yang tidak mempunyai keunggulan kompetitif namun hanya sektor pertanian dan perdagangan, hotel dan restoran saja yang mempunyai spesialisasi. Walaupun sektor industri tidak mempunyai spesialisasi namun sektor ini memberikan kontribusi paling banyak. Dari hasil analisis Location Quotion, Shift-Share dan tipologi daerah dapat ditentukan sektor-sektor yang dapat diunggulkan di masing-masing daerah. Pemilihan prioritas sektor basis sebagai salah satu dasar pegembangan pembangunan yang akan dilaksanakan, baik untuk tingkat Jawa Tengah maupun untuk setiap kabupaten.

Penelitian yang dilakukan oleh Mangun (2007) yang berjudul “Analisis Potensi Ekonomi Kabupaten dan Kota di Propinsi Sulawesi Tengah”. Studi ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekonomi unggulan serta klasifikasi daerah Kabupaten/Kota di Propinsi Sulawesi Tengah yang belum teridentifikasi dan dimanfaatkan secara optimal untuk pengembangan pembangunan. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis sektor-sektor basis/unggulan, yang mempunyai daya saing kompetitif dan spesialisasi di masing-masing kabupaten/kota, menentukan tipologi daerah dan prioritas sektor basis guna pengembangan pembangunan kabupaten/kota. Hasil penelitian ini yaitu kabupaten/kota di Propinsi Sulawesi Selatan mempunyai potensi masing-masing sesuai dengan kondisinya, namun sektor pertanian masih merupakan sektor basis yang dominan di Propinsi Sulawesi Tengah karena Sembilan kabupatennya mempunyai basis/unggulan di sektor ini, sedangkan sektor lainnya bervariasi khusus sektor pertambangan dan industri pengolahan hanya dimiliki

Kota Palu sekaligus sebagai kota yang paling banyak memiliki sektor basis (delapan sektor basis). Tidak terdapat sektor yang mempunyai keunggulan kompetitif di semua kabupaten/kota di Propinsi Sulawesi Tengah, tetapi memiliki spesialisasi. Sektor listrik, gas, air bersih dan sektor perdagangan, hotel, restoran dan sektor jasa-jasa mempunyai spesialisasi di enam kabupaten/kota. Sektor industri pengolahan, pengangkutan, komunikasi dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan di lima kabupaten/kota. Sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian di empat kabupaten/kota. Dari hasil analisis Location Quotion, Shift-Share, tipologi daerah dan pertumbuhan sektoral, dapat ditentukan kabupaten/kota yang menjadi prioritas pengembangan sektor-sektor unggulan yang dimiliki. Kabupaten Tojo Una-Una mempunyai pri-oritas pertama untuk pengembangan wilayah semua sektor basis yang dimilikinya.

Penelitian yang dilakukan oleh Gultom (2013) dengan judul “Analisis Penetapan Wilayah Pembangunan di Kabupaten Samosir”. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi Kabupaten Samosir dilihat dari basis ekonomi, mengetahui potensi daerah yang dapat dikembangkan di tiap-tiap kecamatan, mengetahui kecamatan yang dapat dijadikan pusat pertumbuhan, mengetahui kekuatan interaksi antar kecamatan, dan mengetahui berapa banyak wilayah pembangunan dan pusat pertumbuhan di kabupaten samosir serta wilayah mana saja yang masuk ke dalamnya. Dalam pencapaian tujuan tersebut digunakan metode analisis Location Quotient, analisis shift-share, penentuan sektor basis dengan metode tidak langsung, analisis gravitasi dan analisis skalogram. Hasil

Dokumen terkait