• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penggunaan kelompok dalam praktek kesehatan jiwa memberikan dampak posotif dalam upaya pencegahan, pengobatan atau terapi pemulihann kesehatan seseorang. Keuntungan yang dapat diperoleh klien melalui terapi aktivitas kelompok meliputi dukungan, meningkatkan kemampuan memecahkan masalah, meningkatkan hubungan interpersonal dan juga menggunakan uji realitas pada klien dengan gangguan orientasi realitas (Keliat & Akemat, 2005).

1. Manfaat TAK

Terapi aktivitas kelompok mempunyai manfaat: 1) Umum: Meningkatkan kemampuan menguji kenyataan (reality testing) melalui komunikasi dan umpan balik dengan atau dari orang lain, membentuk sosialisasi, meningkatkan fungsi psikologis, yaitu meningkatkan kesadaran tentang hubungan antara reaksi emosional diri sendiri dengan perilaku defensive (bertahan terhadap stress) dan adaptasi, membangkitkan motivasi bagi kemajuan fungsi-fungsi psikologis seperti kognitif dan afektif. 2) Khusus: Meningkatkan identitas diri, menyalurkan emosi secara konstruktif, meningkatkan keterampilan hubungan sosial untuk diterapkan sehari-hari, bersifat rehabilitatif: meningkatkan kemampuan ekspresi diri, keterampilan sosial, kepercayaan diri, kemampuan empati, dan meningkatkan kemampuan tentang masalah-masalah kehidupan dan pemecahannya.

2. Komponen Kelompok

Komponen kelompok terdiri dari 8 aspek (Stuart & Laraia, 2001 dalam Keliat & Akemat 2005), terdiri dari:

a) Sturktur Kelompok

Struktur kelompok menjelaskan batasan, komunikasi, proses pengambilan keputusan dan hubungan otoritas dalam kelompok. Struktur kelompok menjaga stabilitas dan membantu pengaturan pola perilaku dan interaksi. Struktur dalam kelompok diatur dengan adanya pemimpin dan anggota kelompok, arah komunikasi dipandu oleh pemimpin sedangkan keputusan diambil secara bersamaan.

b) Besar Kelompok

Jumlah anggota kelompok yang nyaman adalah kelompok kecil yang anggotanya 5-12 orang. Jika anggota kelompok terlalu besar akibatnya tidak semua anggota kelompok mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan perasaan, pendapat dan pengalaman. Jika terlalu kecil, tidak cukup variasi informasi dan interaksi.

c) Lamanya Sesi

Waktu optimal untuk satu sesi adalah 20-40 menit bagi fungsi kelompok yang rendah dan 60-120 menit bagi fungsi kelompok yang tinggi. Biasanya dimulai dengan pemanasan berupa orientasi, kemudian tahap kerja dan terminasi. Benyak sesi bergantung pada tujuan kelompok, dapat satu kali atau dua kali per minggu; atau dapat direncanakan sesuai dengan kebutuhan.

d) Komuikasi

Salah satu tugas pemimpin kelompok yang terpenting adalah mengobservasi dan menganalisis pola komuikasi dalam kelompok. Pemimpin menggunakan umpan balik untuk memberi kesadaran pada anggota kelompok terhadap dinamika tang terjadi. Pemimpin kelompok dapat mengkaji hambatan dalam kelompok, konflik interpersonal, tingkat kompetisi dan seberapa jauh anggota kelompok mengerti serta melaksanakan kegiatan yang dilaksanakan.

e) Peran Kelompok

Pemimpin perlu mengobservasii peran yang terjadi dalam kelompok. Ada tiga peran dan fungsi kelompok yang ditampilkan anggota kelompok dalam kerja kelompok yaitu maintenance roles (peran serta aktif dalam proses kelompok dan fungsi kelompok), task roles (fokus pada penyelesaian tugas), dan

individual roles (self-centered dan distraksi pada kelompok). f) Kekuatan Kelompok

Kekuatan adalah kemampuan anggota kelompok dalam mememngaruhi berjalannya kegiatan kelompok. Untuk menetapkan kekuatan anggota kelompok yang bervariasi diperlukan kajian siapa yang paling banyak mendengar dan siapa yang membuat keputusan dalam kelompok.

g) Norma Kelompok

Norma adalah standar perilaku yang ada dalam kelompok. Pengharapan terhadap perilaku kelompok pada masa yang akan datang berdasarkan pengalaman masa lalu dan saat ini. Pemahaman tentang norma kelompok berguna untuk mengetahui pengaruhnya terhadap komunikasi dan interaksi dalam kelompok. Kesesuaian perilaku anggota kelompok dengan norma kelompok, penting dalam menentukan anggota kelompok dengan norma kelompok. Anggota kelompok yang tidak mengikuti norma dianggap pemberontak dan ditolak anggota kelompok lain.

h) Kekohensifan

Kekohensifan dalah kekuatan anggota kelompok bekerja sama dalam mencapai tujuan. Hal ini mempengaruhi anggota kelompok untuk tetap betah dalam kelompok. Apa yang membuat anggota kelompok tertarik dan puas terhadap kelompok, perlu diidentifikasi agar kehidupan kelompok dapat dipertahankan. 3. Tahapan-Tahan dalam TAK

Menurut Yalom yang dikutip Stuart & Sundeen (1995), kelompok berkembang melalui empat fase, yaitu: Fase prakelompok, fase awal kelompok, fase kerja kelompok dan fase terminasi kelompok (Purwaningsih, 2009):

a) Fase Prakelompok

Dimulai dengan membuat tujuan, menentukan leader, jumlah anggota, kriteria anggota,mtempat dan waktu kegiatan, media yang digunakan beserta dana yang dibutuhkan.

b) Fase Awal Kelompok

Fase ini dibagi menjadi tiga fase, yaitu orientasi, konflik, dan kebersamaan. 1) Tahap Orientasi: Anggota mulai mencoba mengembangkan sistem sosial masing-masing, leader menunjukkan rencana terapi dan menyepakati kontrak dengan anggota. 2) Tahap Konflik: Merupakan masa sulit dalam proses kelompok. Anggota mulai memikirkan siapa yang berkuasa dalam kelompok, bagaimana peran anggota, tugasnya dan saling ketergantungan yang akan terjadi. 3) Tahap Kebersamaan: Anggota kelompok merasa bebas membuka diri tentang informasi dan lebih intim satu sama lain (Keliat, 2004).

c) Fase Kerja Kelompok

Pada fase ini, kelompok sudah menjadi tim. Fase ini merupakan fase yang menyenangkan bagi pemimpin dan anggota, perasaan negatif dan positif dapat dikoreksi dengan hubungan yang saling percaya yang telah terbina, semua naggota bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah disepakati, tanggungjawab merata, kecemasana menurun, kelompok lebih stabil dan realistis, kelompok mulai mengeksplorasi lebih jauh sesuai dengan tujuan dan tugas kelompok dalam menyelesaikan tugasnya dan fase ini merupakan fase penyelesaian masalah.

d) Fase Terminasi

Ada 2 jenis terminasi yaitu terminasi akhir dan terminasi sementara. Anggota kelompok mungkin mengalami terminasi premature, tidak sukses atau sukses. Terminasi dapat menyebabkan kecemasan, regresi dan kecewa. Untuk menghindari hal ini, terapis perlu mengevaluasi kegiatan dan menunjukkan sikap betapa bermaknanya kegiatan tersebut, menganjurkan anggota kelompok untuk memberi umpan balik pada tiap anggota. Terminasi tidak boleh disangkal, tetapi haruus tuntas didiskusikan. Akhir terapi aktivitas kelompok harus dievaluasi, bisa melalui per dan post test.

4. Macam Terapi Aktivitas Kelompok

Ada beberapa terapi aktivitas kelompok yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan klien: TAK kognitif/persepsi, TAK stimulasi sensori, TAK orientasi realitas, TAK sosialisasi dan TAK penyaluran energi (Purwaningsih, 2009).

1. Terapi aktivitas kelompok stimulasi kognitif/persepsi

Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) stimulasi persepsi adalah terapi yang menggunakan aktivitas sebagai stimulus terkait dengan pengalaman dan atau kehidupan untuk didiskusikan dalam kelompok (Keliat, 2004). Fokus terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi adalah membantu klien yang mengalami kemunduran orientasi dengan karakteristik: klien dengan

gangguan persepsi; halusinasi, menarik diri dengan realitas, kurang inisiatif atau ide, kooperatif, sehat fisik, dan dapat berkomunikasi verbal.

Adapun tujuan dari TAK stimulasi persepsi adalah klien mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang diakibatkan oleh paparan stimulus kepadanya. Sementara, tujuan khususnya: klien dapat mempersepsikan stimulus yang dipaparkan kepadanya dengan tepat dan menyelesaikan masalah yang timbul dari stimulus yang dialami (Darsana, 2007).

Aktivitas mempersepsikan stimulus tidak nyata dan respon yang dialami dalam kehidupan, khususnya untuk klien halusinasi. Aktivitas dibagi dalam empat sesi yang tidak dapat dipisahkan, yaitu: Sesi pertama: mengenal halusinasi, sesi kedua: mengontrol halusinasi dan menghardik halusinasi, sesi ketiga: menyusun jadwal kegiatan, sesi keempat: cara minum obat yang benar.

2. Terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori

TAK stimulasi sensori adalah TAK yang diadakan dengan memberikan stimulus tertentu kepada klien sehingga terjadi perubahan perilaku. Bentuk stimulus: Stimulus suara (musik), stimulus visual (gambar), stimulus gabungan visual dan suara (melihat televisi, video)

Tujuan dari TAK stimulasi sensori bertujuan agar klien mengalami : Peningkatan kepekaan terhadap stimulus, peningkatan kemampuan merasakan keindahan, peningkatan apresiasi terhadap lingkungan. Jenis TAK yaitu: TAK stimulasi suara, TAK stimulasi gambar, TAK stimulasi suara dan gambar 3. Terapi aktivitas orientasi realita

Terapi Aktivitas Kelompok Orentasi Realita (TAK): orientasi realita adalah upaya untuk mengorientasikan keadaan nyata kepada klien, yaitu diri sendiri, orang lain, lingkungan/ tempat, dan waktu. Klien dengan gangguan jiwa psikotik, mengalami penurunan daya nilai realitas (reality testing ability). Klien tidak lagi mengenali tempat,waktu, dan orang-orang di sekitarnya. Hal ini dapat mengakibatkan klien merasa asing dan menjadi pencetus terjadinya ansietas pada klien. Untuk menanggulangi kendala ini,

maka perlu ada aktivitas yang memberi stimulus secara konsisten kepada klien tentang realitas disekitarnya. Stimulus tersebut meliputi stimulus tentang realitas lingkungan, yaitu diri sendiri, orang lain, waktu, dan tempat. Tujuan umum yaitu klien mampu mengenali orang, tempat, dan waktu sesuai dengan kenyataan, sedangkan tujuan khususnya adalah: klien mampu mengenal tempat ia berada dan pernah berada, klien mengenal waktu dengan tepat, klien dapat mengenal diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya dengan tepat.

Aktivitas yang dilakukan tiga sesi berupa aktivitas pengenalan orang, tempat, dan waktu. Klien yang mempunyai indikasi disorientasi realitas adalah klien halusinasi, dimensia, kebingungan, tidak kenal dirinya, salah mngenal orang lain, tempat, dan waktu. Tahapan kegiatan: sesi pertama: orientasi orang, sesi kedua: orientasi tempat: sesi ketiga: orientasi waktu. 4. Penyaluran energi

Merupakan teknik untuk menyalurkan energi secara kontruktif dimana memungkinkan penembanghan pola-pola penyaluran energi seperti katarsis, peluapan marah dan rasa batin secara konstruktif dengan tanpa menimbulkan kerugian pada diri sendiri maupun lingkungan. Tujuan: menyalurkan energi, destruktif ke konstrukstif, mengekspresikan perasaan, meningkatkan hubungan interpersonal.

5. Terapi aktivitas kelompok sosialisasi

Kegiatan sosialisasi adalah terapi untuk meningkatkan kemampuan klien dalam melakukan interaksi sosial maupun berperan dalam lingkungan social. Sosialisasi dimaksudkan memfasilitasi psikoterapis untuk: memantau dan meningkatkan hubungan interpersonal, memberi tanggapan terhadap orang lain, mengekspresikan ide dan tukar persepsi, menerima stimulus eksternal yang berasal dari lingkungan.

Tujuan umum: mampu meningkatkan hubungan interpersonal antar anggota kelompok, berkomunikasi, saling memperhatikan, memberi tanggapan terhadap orang lain, mengekpresikan ide serta menerima stimulus eksternal. Tujuan khusus: penderita mampu menyebutkan identitasnya,

menyebutkan identitas penderita lain, berespon terhadap penderita lain, mengikuti aturan main, mengemukakan pendapat dan perasaannya.

Karakteristik: penderita kurang berminat atau tidak ada inisiatif untuk mengikuti kegiatan ruangan, penderita sering berada ditempat tidur, penderita menarik diri, kontak sosial kurang, penderita dengan harga diri rendah, penderita gelisah, curiga, takut dan cemas, tidak ada inisiatif memulai pembicaraan, menjawab seperlunya, jawaban sesuai pertanyaan, sudah dapat menerima trust, mau berinteraksi dan sehat fisik.

Lampiran 2

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

Dokumen terkait