BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.3 Saran
Dari analisa yang telah dilakukan, perlu adanya saran bagi praktisi dan peneliti selanjutnya untuk penyempurnaan penelitian ini.
1. Bagi Praktisi
Dalam meningkatkan Kualitas Audit pada KAP di Medan perlu dilakukan adanya rotasi wajib dari auditor terhadap klien sehingga kualitas akan meningkat selain itu, auditor perlu memiliki pengetahuan atau keahlian lain selain Akuntansi dan Auditing agar bisa memahami industri klien sehingga kualitas audit akan meningkat serta untuk menjaga kompetensi auditor perlu mengikuti pendidikan profesi lanjutan. Dari segi pengalaman, auditor pada KAP di Medan telah memiliki pengalaman yang cukup banyak sehingga untuk meningkatkan kualitas audit juga perlu meningkatkan pengalaman dengan memberikan jasa audit pada klien dengan jenis industri yang berbeda – beda.
2.
Bagi PenelitiBagi peneliti sejenis sebaiknya memperluas penelitian dengan menambah sampel penelitian tidak hanya pada KAP yang ada di Medan tapi dengan
menambah KAP lain diluar Medan seperti KAP di wilayah Riau, Padang atau diluar Sumatera sehingga hasil penelitiannya dapat mewakili auditor di Indonesia atau di beberapa wilayah serta menambah variabel penelitian atau menggunakan variabel lain untuk meneliti Kualitas Audit seperti tekanan dari klien dan jasa non audit.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Auditing
Menurut Arens (2008) definisi auditing adalah “proses pengumpulan dan evaluasi bukti mengenai suatu informasi untuk menetapkan dan melaporkan tingkat kesesuaian antara informasi tersebut dengan kriterianya, auditing hendaknya dilakukan oleh seorang yang kompeten dan independen”. Sekalipun auditor seorang ahli, tetapi apabila dia tidak mempunyai sikap independen dalam pengumpulan informasi, maka informasi yang digunakan untuk mengambil keputusan dianggap bias.
Tujuan audit adalah hasil yang hendak dicapai dari suatu audit. Tujuan audit mempengaruhi jenis audit yang dilakukan. Secara umum audit dilakukan untuk menentukan apakah informasi keuangan dan operasi telah akurat dan dapat diandalkan, risiko yang dihadapi telah diidentifikasi, peraturan ekstern dan kebijakan intern telah dipatuhi, kriteria operasi telah tercapai, serta sumber daya telah digunakan secara efisien dan diperoleh secara ekonomis.
Auditing merupakan jasa atestasi yang diberikan oleh seorang akuntan publik yang independen. Atestasi adalah suatu pernyataan pendapat atau pertimbangan orang yang independen dan kompeten tentang apakah asersi suatu entitas sesuai, dalam semua hal yang material, dengan
kriteria yang telah ditetapkan.
Jasa Audit mencakup pemrolehan dan penilaian bukti yang mendasari laporan keuangan historis suatu entitas yang berisi asersi yang dibuat oleh manajemen entitas tersebut. Berdasarkan audit yang dilaksanakan terhadap laporan keuangan historis suatu entitas, auditor menyatakan suatu pendapat mengenai apakah laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan hasil usaha entitas sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum (Mulyadi, 2002).
Auditing merupakan jasa yang diberikan oleh orang yang independen untuk memberikan keyakinan yang memadai kepada pengguna jasa dengan memberikan opini atas laporan keuangan historis yang mendasar melalui bukti – bukti yang diperoleh dan dinilai. Jasa audit merupakan jasa yang penting sehingga kaulitas audit yang tinggi diperlukan agar opini yang dikeluarkan auditor bisa memberikan keyakinan bahwa laporan keuangan telah disajikan secara wajar.
2.1.2 Kualitas Audit
De Angelo (1981) dalam Sinaga dan Ghazali (2012) mendefinisikan kualitas audit sebagai kemungkinan bahwa auditor akan menemukan dan melaporkan pelanggaran dalam sistem akuntansi klien. Temuan pelanggaran mengukur kualitas audit berkaitan dengan pengetahuan dan keahlian auditor, sedangkan pelaporan pelanggaran tergantung kepada dorongan auditor untuk mengungkapkan pelanggaran
tersebut. Dorongan ini akan tergantung pada independensi yang dimiliki auditor tersebut.
Berikut ini pernyataan Harom (2012) dalam sinaga dan Ghazali (2012).
Istilah kualitas audit dapat memiliki makna yang berbeda tergantung dari sudut pandang penerima atau pemberi jasa audit. Entitas pemilik maupun pihak pengguna laporan keuangan berpendapat bahwa kualitas audit terjadi jika auditor dapat memberikan jaminan bahwa tidak ada salah saji material atau kecurangan (fraud) dalam laporan keuangan auditan. Sedangkan para auditor memandang kualitas audit terjadi apabila mereka berkerja sesuai standar profesional yang ada, dapat menilai resiko bisnis audit dengan tujuan untuk meminimalisasi resiko litigasi dan meghindari kajatuhan reputasi auditor.
Menurut Rosnidah (2011) dalam Wulandari, dkk (2014) kualitas audit adalah pelaksanaan audit yang dilakukan sesuai dengan standar sehingga mampu mengungkapkan dan melaporkan apabila terjadi pelanggaran yang dilakukan klien. Kualitas audit menurut Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) menyatakan bahwa audit yang dilakukan auditor dikatakan berkualitas, jika memenuhi standar auditing dan standar pengendalian mutu. Kualitas audit ini penting karena dengan kualitas audit yang tinggi akan menghasilkan laporan keuangan yang dapat dipercaya sebagai dasar pengambilan keputusan. Selain itu adanya kekhawatiran akan merebaknya skandal keuangan, dapat mengikis kepercayaan publik terhadap laporan keuangan auditan dan profesi akuntan publik.
menyatakan bahwa hal khusus yang paling penting dalam rekanan adalah kemampuan dan pengetahuan dari para auditor. Sumber daya manusia Kantor Akuntan Publik diwujudkan dalam keahlian dan pengalaman auditor dan merupakan hal penting dalam menentukan kualitas audit.
Dari pendapat para peneliti diatas dapat disimpulkan bahwa kualitas audit adalah pelaksanaan audit sesuai dengan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dan Standar Auditing (SA) sehingga menemukan dan melaporkan pelanggaran yang terjadi pada sistem informasi akuntansi klien.
2.1.3 Peer Review
Peer review adalah telaah terhadap Kantor Akuntan Publik (KAP) yang dilakukan oleh rekan KAP lainnya yang ditunjuk oleh organisasi profesi akuntan publik di Indonesia yaitu IAPI. Menurut SPM no. 1 IAPI paragraf 12 poin (d) menyatakan bahwa peer review adalah suatu proses yang dirancang untuk memberikan evaluasi yang objektif pada atau sebelum tanggal laporan perikatan, atas pertimbangan signifikan yang dibuat oleh tim perikatan dan kesimpulan yang dihasilkan dalam menyusun laporannya. Proses penelaahan pengendalian mutu perikatan berlaku bagi audit atas laporan keuangan Emiten dan perikatan lain, jika ada, yang berdasarkan pertimbangan KAP mengharuskan dilakukannya penelaahan pegendalian mutu pekerjaan.
Di Indonesia, penelaahan atau Peer Review telah diatur dalam Pasal 44 ayat 1 (d) UU Akuntan Publik No 5 Tahun 2011 dan Pasal 51
Anggaran Rumah Tangga (ART) IAPI Tahun 2013. Ada beberapa alasan mengapa review mutu harus dilakukan yaitu :
1). Public interest dan public trust.
2). Standar profesi (Standar Profesional Akuntan Publik, Kode Etik Profesi Akuntan Publik)
3). Hakekat asosiasi profesi (UU AP dan persyaratan IFAC)
Casterella et al (2009) menyatakan bahwa agar peer review berdampak pada kualitas audit, peer review harus mengidentifikasi secara efektif kelemahan – kelemahan dalam KAP dan mengkomunikasikan informasi ini dalam laporan. Tanpa ini, tindakan koreksi tidak bisa dibuat dan tekanan pasar terkait tidak bisa ditanggung. Anantharaman (2007) “menyatakan bahwa Peer Review mengarah pada pengujian sistem pengendalian mutu dengan menguji sebuah sampel dari perikatan audit dan akuntansi KAP”. Sepp (1983) dalam Anantharaman (2007) mengatakan bahwa review terutama berorientasi pada sistem, yaitu sistem pengendalian mutu, dokumentasi, dan prosedur KAP yang direview
Dari uraian mengenai peer review dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa peer review sangat penting untuk menjaga kualitas audit dari KAP. Peer review merupakan telaah terhadap standar mutu pengendalian KAP serta kepatuhan auditor dan KAP terhadap
prinsip – prinsip dan peraturan yang berlaku yang dilakukan oleh rekan KAP lainnya.
2.1.4 Audit Tenure
Audit Tenure adalah masa perikatan KAP dalam memberikan jasa audit dengan auditee-nya. Masa perikatan yang terjalin antara KAP dengan auditee dibatasi oleh peraturan kementrian keuangan. Masa perikatan yang terlalu lama antara KAP dengan auditee bisa menimbulkan adanya hubungan yang lebih dekat antara auditor dengan klien. Hal ini dapat menyebabkan auditor yang tidak independen sehingga auditor tersebut tidak mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi pada perusahaan auditee.
Sebuah Kebijakan rotasi penugasan partner audit kepada klien menjadi suatu hal yang mempengaruhi peningkatan kualitas audit dan juga peningkatan kualitas terhadap tujuan umum laporan keuangan. Dasar dari adanya kebijakan rotasi KAP adalah bahwa adanya penurunan dalam kualitas audit yang melebihi masa perikatan dengan KAP. Sebagaimana sebuah kebijakan menganggap bahwa kualitas audit cukup tinggi diperoleh bertahun – tahun hingga direkomendasikannya rotasi. Hal ini menyimpulkan bahwa setelah masa tenure yang panjang, hubungan yang berlanjut bisa mempengaruhi waktu dan indpendensi auditor yang bisa mengikis kemampuan auditor dalam penilaian kritis (Carey and Simnett, 2006).
Berlawanan dengan rotasi penugasan auditor, Johnson et al (2002) dalam Kramer et al (2011) menemukan bahwa tenure KAP yang pendek (2-3 tahun) dibandingkan dengan masa tenure KAP menengah (4-8 tahun) memiliki kualitas laporan audit yang lebih rendah. Imhoff (2003) dalam Kramer et al (2011) menyatakan bahwa rotasi penugasan KAP akan mengurangi kecenderungan dari auditor untuk tidak melaporkan isu – isu khusus, karena KAP lainnya akan segera mengambil alih audit dan menemukan kelalaian dari audit yang dilakukan KAP sebelumnya.
Di Indonesia, masalah audit tenure atau masa kerja auditor dengan klien sudah diatur pada Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Pasal 3 No. 17/PMK.01/2008 tentang Jasa Akuntan Publik menyatakan bahwa pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf a dilakukan oleh KAP paling lama untuk 6 (enam) tahun buku berturut-turut dan oleh seorang Akuntan Publik paling lama untuk 3 (tiga) tahun buku berturut-turut. Berikut ini pernyataan Pertiwi (2012) dalam Wulandari, dkk (2014).
Penugasan audit yang terlalu lama kemungkinan dapat mendorong akuntan publik kehilangan independensinya karena akuntan publik tersebut merasa puas, kurang inovasi, dan kurang ketat dalam melaksanakan prosedur audit. Sebaliknya, penugasan audit yang lama kemungkinan dapat pula meningkatkan independensi karena akuntan publik sudah familiar, pekerjaan dapat dilaksanakan dengan efisien dan lebih tahan terhadap tekanan klien
Berikut ini pernyataan dalam penelitian Flint (1988) dalam Nasser et al. (2006) dalam Sinaga dan Ghazali (2013).
Independensi akan hilang jika auditor terlibat dalam hubungan pribadi dengan klien, karena hal ini dapat mempengaruhi sikap mental dan opini mereka. Salah satu ancaman yang berpengaruh adalah audit tenure yang panjang. Dia berpendapat bahwa audit tenure yang panjang dapat menyebabkan auditor untuk mengembangkan “hubungan yang lebih nyaman” serta kesetiaan yang kuat atau hubungan emosional dengan klien mereka, yang dapat mencapai tahap dimana independensi auditor terancam.
2.1.5 Ukuran KAP
Kantor Akuntan Publik (KAP) adalah sebuah organisasi jasa profesional yang memberikan jasa ke perusahaan – perusahaan dengan profesional auditornya.
Menurut Wibowo dkk. dalam penelitian Hamid (2013) yang berjudul “Pengaruh Tenur dan Ukuran KAP terhadap Kualitas Audit” ada empat penentu ukuran KAP, yaitu:
1. Besarnya jumlah dan ragam klien yang ditangani KAP, 2. Banyaknya ragam jasa yang ditawarkan,
3. Luasnya cakupan geografis, termasuk afiliasi internasional, dan 4. Banyaknya jumlah staf audit dalam suatu KAP.
Secara praktik, semakin besar perusahaan, semakin komplek struktur organisasi, semakin tinggi internal agency cost. Oleh karena itu, perusahaan meminta KAP yang lebih besar untuk mengaudit laporan keuangan mereka untuk mengurangi agency cost (Simunic and Stein, 1996;Francis et al., 1999) dalam Chen et al (2013). KAP yang lebih besar mempunyai dorongan untuk menawarkan kualitas jasa audit yang lebih tinggi kepada sejumlah klien khusus (DeAngelo, 1981).
Dalam penelitian tentang hubungan ukuran kantor audit dengan kualitas audit dan audit pricing, Choi et al. (2010) menemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara ukuran perusahaan audit (KAP) terhadap kualitas audit. Hasil analisis mereka mendukung pandangan yang menyatakan bahwa kantor audit yang lebih besar menyediakan audit yang lebih berkualitas dibandingkan dengan kantor audit yang berukuran kecil.
Berikut ini pernyataan hasil penelitian Dong yu (2007 dalam Sinaga dan Ghazali (2012).
Terdapat hubungan yang signifikan antara ukuran perusahaan audit (KAP) dengan kualitas audit. Dia berpendapat bahwa kantor akuntan yang besar secara sistematis pasti akan menghasilkan audit yang berkualitas lebih tinggi. Dia mendasarkan penelitiannya atas dua argumen yang dibuatnya berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya. Pertama, auditor yang berkerja di perusahaan yang lebih besar memiliki pengalaman pertemuan yang lebih banyak dengan klien yang berbeda - beda, dan membuat mereka memiliki pengalaman yang kolektif sehingga mereka mampu untuk menyediakan audit yang lebih berkualitas. Kedua, ketergantungan ekonomi dapat mengancam objektivitas dan independensi auditor.
Dong Yu (2007) menghubungkan ukuran KAP ke penghasilan, yang mana di dalamnya termasuk kualitas akrual dan penghasilan yang dibandingkan dengan perilaku, dan opini going concern. Peneliti menemukan bahwa klien yang diaudit KAP besar cenderung mempunyai lower accruals yang tidak normal, dan kemungkinan besar menemukan target penghasilan benchmark dari laba kecil dan penghasilan kecil yang meningkat. Peneliti juga menemukan bahwa kap yang besar kemungkinan
besar menerbitkan laporan going concern. Bersamaan dengan itu, hasil menunjukkan bahwa ada pengaruh signifikan dalam kualitas audit dari perbedaan ukuran KAP, dengan KAP yang lebih besar memberikan kualitas audit yang lebih tinggi.
2.1.6 Kompetensi Auditor
Menurut Novrizah (2010) Kompetensi merupakan suatu karakteristik dan keterampilan individu yang mencerminkan kemampuan potensialnya dalam melakukan suatu pekerjaan superior. Karakteristik dan keterampilan individu dapat dimiliki sebagai hasil dari menempuh jalur pendidikan formal maupun non formal, serta ujian sertifikasi, maupun keikutsertaan dalam seminar, pelatihan, lokakarya dan lain – lain.
Standar umum pertama (SA seksi 210 dalam SPAP, 2015) menyebutkan bahwa audit harus dilaksanakan oleh seorang atau yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor, sedangkan standar umum ketiga (SA seksi 230 dalam SPAP, 2015) menyebutkan bahwa auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama dalam pelaksanaan audit terhadap laporan keuangan kliennya. Oleh karena itu, maka setiap auditor wajib memiliki dan memelihara kemahiran profesionalitas dan keahlian dalam melaksanakan tugasnya sebagai auditor.
Berikut ini pernyataan mengenai komptensi auditor dalam prinsip etika profesi Ikatan Akuntan Indonesia – Kompartemen Akuntan Publik
Kompetensi profesional dapat dibagi menjadi dua fase yang terpisah, yaitu pencapaian kompetensi profesional dan pemeliharaan Kompetensi Profesional. Pencapaian kompetensi profesional pada awalnya memerlukan standar pendidikan umum yang tinggi, diikuti oleh pendidikan khusus, pelatihan dan ujian profesional dalam subyek – subyek yang relevan, dan pengalaman kerja. Hal ini harus menjadi pola pengembanngan normal bagi anggota. Kompetensi harus dipelihara dan dijaga melalui komitmen untuk belajar dan melakukan peningkatan profesional secara berkesinambungan selama kehidupan profesional anggota.
Kekuatan sumber daya manusia pada kualitas audit di KAP berpengaruh signifikan berbeda dengan KAP lainnya (Chen et al , 2009). DeAngelo (1981) Francis and Wilson (1988) and Defond (1922) dalam Chen et al (2013), meyakini bahwa kualitas auditor akan meningkat dengan pendidikan, pengalaman dan pelatihan dalam KAP. Kompetensi menunjukkan terdapatnya pencapaian dan pemeliharaan suatu tingkatan pemahaman dan pengetahuan yang memungkinkan seorang auditor untuk memberikan jasa dengan kemudahan dan kecerdikan.
2.2 Penelitian Terdahulu
Berikut ini hasil penelitian terdahulu mengenai kualitas audit disajikan pada tabel 2.1.
No. Peneliti Variabel Penelitian Hasil Penelitian
1. Anantharaman
(2007)
Variabel Independen : Opini peer review, ukuran KAP reviewer, dan Pemilihan KAP reviewer
Variabel Dependen : Kualitas Audit
Peer Review tidak efektif sebagai indikator objektif dari kualitas audit
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
2. Casterella et all (2009)
Variabel Independen : Peer Review, Litigation Risk
Variabel Dependen : Audit Quality
Laporan Peer Review
dibawah sistem regulator mandiri AICPA memberikan tanda yang dapat diyakini sebagai kualitas aktual dari KAP. 3. Wulandari, dkk (2014) Variabel Independen : Pengalaman, Pengetahuan, Audit Tenure, Peer Review Variabel Dependen Kualitas Audit
Pengalaman, Pengetahuan auditor dan Peer Review berpengaruh signifikan positif terhadap kualitas audit, sedangkan audit tenure tidak
berpengaruh signifkan terhadap kualitas audit.
4. Sinaga dan
Ghozali (2012)
Variabel independen: Audit tenure, ukuran Kap Dan ukuran perusahaan klien
Variabel dependen : Opini Going Concern
Audit Tenure tidak
berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit yang diproksikan dengan opini going concern, Ukuran KAP,
Ukuran Perusahaan berpengaruh signifikan positif
terhadap kualitas audit yang diproksikan dengan opini going concern
5. Giri, (2010) Variabel Independen : Audit Tenur, Reputasi KAP
Variabel Dependen : Kualitas Audit
Variabel Tenur berpengaruh negatif signifikan terhadap kualitas audit, sedangkan variabel reputasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit.
6. Carey and Simnett (2006)
Variabel Independen : Long Tenure (Audit Tenure)
Variabel Dependen : Opini Going Concern, Earning Management, Abnormal Working Capital Accruals
Audit tenure berpengaruh signifikan positif terhadap kualitas audit yang diproksikan dengan opini going concern, dan Earning Management sedangkan Audit tenure berpengaruh negatif terhadap kualitas yang diproksikan dengan abnormal working capital
accrual. 7. Septriani,
(2012)
Variabel Independen : Pengetahuan, Audit Tenure, Peer Review, Persaingan dan Ukuran KAP, Fee Audit, dan Jasa Non Audit
Variabel Dependen : Kualitas Audit
Pengetahuan, Audit Tenure, Peer Review, Persaingan dan Ukuran KAP, Fee Audit, dan Jasa Non Audit berpengaruh signifikan positif terhadap kualitas audit
8. Indah (2010) Variabel Independen :
Pengetahuan, Audit Tenure, Peer Review, dan Jasa Non Audit, tekanan dari klien
Variabel Dependen : Pengalaman,
Kualitas Audit
Pengalaman, pengetahuan dan peer review berpengaruh positif terhadap kualitas audit, sedangkan audit tenure, jasa non audit dan tekanan dari klien berpengaruh negatif terhadap kualitas audit
9. Dong Yu,
(2007)
Variabel Independen : Big 4 Office Size Variabel Dependen :
Audit Quality (Opini
Going Concern, Accruals, Earning bencmark)
Ukuran KAP berpengaruh positif terhadap kualitas audit.
10. Irawati (2011) Variabel Independen :
Kompetensi Auditor, Independensi Auditor Variabel Dependen :
Kualitas Audit
Independen berpengaruh positif terhadap Kualitas Audit, sedangkan Kompetensi
berpengaruh terhadap Kualitas Audit.
Anantharaman dalam penelitiannya yang berjudul How Objective is Peer review (2007) meneliti seberapa objektif peer review dalam mempengaruhi kualitas audit dari suatu KAP. Anantharaman menggunakan opini peer review baik AICPA (American Institute of Certified Public Accountant) maupun PCAOB (Public Company Accounting Oversight Board) dengan memberikan skor 1 untuk KAP yang menerima opini clean dari AICPA (American Institute of Certified
Public Accountant), skor 0 untuk KAP yang menerima opini clean baik dari AICPA (American Institute of Certified Public Accountant) maupun PCAOB (Public Company Accounting Oversight Board) dan tidak menerima opini clean dari AICPA (American Institute of Certified Public Accountant) maupun PCAOB (Public Company Accounting Oversight Board), skor -1 untuk KAP yang tidak menerima opini clean dari AICPA (American Institute of Certified Public Accountant) tapi menerima dari PCAOB (Public Company Accounting Oversight Board). Variabel lainnya yaitu karakteristik reviewee yang diukur dengan ukuran KAP dan karakteristik reviewer yang diukur dengan variabel dummy dengan skor 1 jika ditelaah oleh KAP lain, skor 0 jika ditelaah oleh AICPA (American Institute of Certified Public Accountant) atau asosiasi akuntan publik lainnya.
Peneliti membangun proxi untuk memperluas pengaruh dari KAP yang sedang direview dan keramahan reviewer dan menguji apakah ukuran bias dalam peer review memvariasikan secara sistematis dengan proxi – proxi untuk independensi dari review. Peneliti menemukan bahwa beberapa karakter reviewer dan reviewee secara sistematis berkaitan dengan perbedaan dalam mengukur kinerja diantara dua review. KAP yang mana KAP itu sendiri mereview KAP lain cenderung secara konsistensi menerima opini peer review yang lebih rendah kualitas laporan peer reviewnya daripada inspeksi dari PCAOB (Public Company Accounting Oversight Board).
Dalam penelitian Wulandari, dkk (2010) yang berjudul pengaruh pengalaman, pengetahuan, audit tenure dan kompetensi auditor terhadap kualitas
auditor berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas audit sedangkan audit tenure berpengaruh negatif signifikan terhadap kualitas audit. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh auditor yang bekerja di KAP di daerah Pekanbaru, Batam, Padang dan Medan. Uji hipotesis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah Analisis regresi berganda yang diuji terhadap 148 sampel yang dipilih dengan metode purposive sampling.
Sinaga dan Ghozali (2012) meneliti pengaruh audit tenure, ukuran KAP dan ukuran perusahaan klien terhadap kualitas audit terhadap perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI sebelum 1 Januari 2006. Dalam penelitian ini, untuk mengukur variabel kualitas audit, peneliti menggunakan opini going concern sedangkan variabel ukuran KAP sampel dipilih beradsarkan kriteria KAP yang berafiliasi dengan KAP big four akan diberi angka 1 dan yang tidak berafiliasi dengan KAP big four. Dalam menguji variabel – variabel independen berpengaruh positif signifikan atau negatif signifikan terhadap kualitas audit, Sinaga dan Ghozali (2012) melakukan uji analisis regeresi logistik dan hasil penelitiannya adalah audit tenure tidak berpengaruh signifkan terhadap kualitas audit sedangkan variabel lainnya berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit.
Dong Yu (2007) menghubungkan ukuran KAP ke penghasilan, yang mana di dalamnya termasuk kualitas akrual dan penghasilan yang dibandingkan dengan perilaku, dan opini going concern. Peneliti menemukan bahwa klien yang diaudit KAP besar cenderung mempunyai akrual yang lebih rendah yang tidak normal, dan kemungkinan besar menemukan target penghasilan benchmark dari laba kecil dan penghasilan kecil yang meningkat. Peneliti juga menemukan bahwa kap yang
besar kemungkinan besar menerbitkan laporan going concern. Bersamaan dengan itu, hasil menunjukkan bahwa ada pengaruh signifikan dalam kualitas audit dari perbedaan ukuran KAP, dengan KAP yang lebih besar memberikan kualitas audit yang lebih tinggi.
Septriani (2012) meneliti kompetensi auditor dengan menggunnakan subvariabel pengetahuan auditor sebagai proxy untuk mengukur pengaruh kompetensi terhadap kualitas audit pada KAP di Sumatera Barat. Penelitiannya menyimpulkan bahwa kompetensi auditor berpengaruh signifikan positif terhadap kualitas audit.
Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Indah (2010) yang meneliti pengaruh kompetensi dan independensi terhadapa kualitas audit pada KAP di Semarang. Penelitian ini menyimpulkan hasil yang sama dengan septriani (2012)