• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran

Dalam dokumen Kasus BPH (Halaman 47-58)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.2. Saran

Dari kesimpulan diatas dapat dikemukakan saran-saran yang bisa diterima dan dapat meningkatkan mutu dalam pemberian perawatan pada klien dengan Post Open Prostatectomy dengan indikasi BPH antara lain :

5.2.1. Bagi Rumah Sakit

Diharapkan pihak rumah sakit dapat meningkatkan mutu pelayanan yang diberikan dengan memberi penjelasan pada pasien dan keluarga pasien tentang tanda-tanda infeksi serta cara pencegahannya.

5.2.2. Bagi Ruangan

Diharapkan pihak ruangan bisa memberikan informasi tentang tanda-tanda infeksi serta informasi yang berhubungan dengan kesehatan di ruangan kepada pasien dan keluarga pasien.

5.2.3. Bagi Institusi Pendidikan

Diharapkan pihak institusi bisa memberikan materi perkuliahan tentang infeksi saluran kemih serta perawatan kateter yang benar.

5.2.4. Bagi Masyarakat

Setelah masyarakat mengetahui tentang tanda-tanda infeksi serta cara pencegahannya diharapkan masyarakat bisa menerapkan di rumah maupun lingkungan sekitarnya.

5.2.5. Bagi Peneliti Lain

Diharapkan penelitian selanjutnya mampu mengakaji lebih dalam tentang tanda-tanda infeksi pada pasien yang menggunakan kateter serta mampu mengevaluasi hasil perawatan kateter pada pasien post open prostatectomy bph.

DAFTAR PUSTAKA

Arthur C. Guyton, dkk. 2006. “Buku Ajar Fisiologi Kedokteran”. Edisi 9. Jakarta : EGC

brunner & suddarth. Konsep dan Askep Benigna Prostate

http://cintadoraemon.blogspot.com/2012/02/konsep-dan-askep-benigna-prostate.html diakses pada 12 Juli 2012

Carpenito, L J. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8. Jakarta: EGC. Doenges, Marylin E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk

Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3. Jakarta:

EGC.

Farida, Nor., 1999. Asuhan Keperawatan pada Tn. S dengan Gangguan Sistem

Urologi (Pre dan Post Operasi BPH) di Ruang XVIII (Bedah Pria) Rumah Sakit Umum Daerah dr. Saiful Anwar Malang. Karya Tulis Ilmiah DIII

Keperawatan UMM. Malang

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2009. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik

Analisis Data. Jakarta: SalembaMedika

Johnson, Joyce Young., Temple, Jean Smith., Carr, Patricia. 2005. Prosedur

Perawatan di Rumah. Jakarta: EGC

Mansjoer A, Suprahaita, Wardhani. 2000. Pembesaran Prostat Jinak. Dalam:

Kapita selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius

Mahummad A., 2008., Benigna Prostate Hiperplasia.,

http://ababar.blogspot.com/2008/12/benigna-prostate-hyperplasia.html., diakses 13 Juli 2012

Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrument Penelitian Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu

Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Priyantono Bagong. 2011. Prostate. Materi kuliah prostate AKPER UMM Purnomo, Basuki B., 2000. Dasar-Dasar Urologi. Jakarta: Sagung Seto

Purnomo, Basuki B. 2003. Dasar – dasar urologi., Edisi ke – 2. Jakarta: Sagung Seto

Putra, Mahatma. 2010. Penyakit Prostat - Penanganan Pembesaran Prostat Jinak. Webmaster RSMK Group - http://www.rumahsakitmitrakemayoran.com/ [email protected] diakses pada 23 Juli 2012

Sylvia A. Price, dkk. 2006. “Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit”. Edisi 6. Volume 2. Jakarta : EGC

Yastroki. 2012. Hipertropi prostat Salah satu penyebab penyebab kencing anda tidak lancar. http://www.yastroki.or.id/read.php?id=191. Diakses pada 19 Juli 2012

Lampiran 1 Rencana Tindakan Keperawatan

Intervensi Keperawatan pada pasien post op bph

1. Nyeri berhubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi sekunder pada TUR-P

Tujuan: Nyeri berkurang atau hilang. Kriteria hasil :

- Klien mengatakan nyeri berkurang / hilang. - Ekspresi wajah klien tenang.

- Klien akan menunjukkan ketrampilan relaksasi. - Klien akan tidur / istirahat dengan tepat.

- Tanda – tanda vital dalam batas normal. Rencana tindakan :

1. Jelaskan pada klien tentang gejala dini spasmus kandung kemih. R/ Kien dapat mendeteksi gajala dini spasmus kandung kemih.

2. Pemantauan klien pada interval yang teratur selama 48 jam, untuk mengenal gejala – gejala dini dari spasmus kandung kemih.

R/ Menentukan terdapatnya spasmus sehingga obat – obatan bisa diberikan

3. Jelaskan pada klien bahwa intensitas dan frekuensi akan berkurang dalam 24 sampai 48 jam.

R/ Memberitahu klien bahwa ketidaknyamanan hanya temporer. 4. Beri penyuluhan pada klien agar tidak berkemih ke seputar kateter.

R/ Mengurang kemungkinan spasmus.

5. Anjurkan pada klien untuk tidak duduk dalam waktu yang lama sesudah tindakan TUR-P.

R / Mengurangi tekanan pada luka insisi

6. Ajarkan penggunaan teknik relaksasi, termasuk latihan nafas dalam, visualisasi.

R / Menurunkan tegangan otot, memfokuskan kembali perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping.

7. Jagalah selang drainase urine tetap aman dipaha untuk mencegah peningkatan tekanan pada kandung kemih. Irigasi kateter jika terlihat bekuan pada selang.

R/ Sumbatan pada selang kateter oleh bekuan darah dapat menyebabkan distensi kandung kemih dengan peningkatan spasme.

8. Observasi tanda – tanda vital

R/ Mengetahui perkembangan lebih lanjut.

9. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat – obatan (analgesik atau anti spasmodik )

R / Menghilangkan nyeri dan mencegah spasmus kandung kemih.

2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering.

Tujuan: Klien tidak menunjukkan tanda – tanda infeksi . Kriteria hasil:

- Klien tidak mengalami infeksi.

- Dapat mencapai waktu penyembuhan.

- Tanda – tanda vital dalam batas normal dan tidak ada tanda – tanda shock. Rencana tindakan:

1. Pertahankan sistem kateter steril, berikan perawatan kateter dengan steril. R/ Mencegah pemasukan bakteri dan infeksi

2. Anjurkan intake cairan yang cukup ( 2500 – 3000 ) sehingga dapat menurunkan potensial infeksi.

R/ . Meningkatkan output urine sehingga resiko terjadi ISK dikurangi dan mempertahankan fungsi ginjal.

3. Pertahankan posisi urobag dibawah.

R/ Menghindari refleks balik urine yang dapat memasukkan bakteri ke kandung kemih.

4. Observasi tanda – tanda vital, laporkan tanda – tanda shock dan demam. R/ Mencegah sebelum terjadi shock.

5. Observasi urine: warna, jumlah, bau. R/ Mengidentifikasi adanya infeksi.

6. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat antibiotik.

R/ Untuk mencegah infeksi dan membantu proses penyembuhan.

3. Resiko tinggi cidera: perdarahan berhubungan dengan tindakan pembedahan .

Tujuan: Tidak terjadi perdarahan. Kriteria hasil:

- Tanda – tanda vital dalam batas normal . - Urine lancar lewat kateter .

Rencana tindakan:

1. Jelaskan pada klien tentang sebab terjadi perdarahan setelah pembedahan dan tanda – tanda perdarahan .

R/ Menurunkan kecemasan klien dan mengetahui tanda – tanda perdarahan

2. Irigasi aliran kateter jika terdeteksi gumpalan dalm saluran kateter R/ Gumpalan dapat menyumbat kateter, menyebabkan peregangan dan perdarahan kandung kemih

3. Sediakan diet makanan tinggi serat dan memberi obat untuk memudahkan defekasi .

R/ Dengan peningkatan tekanan pada fosa prostatik yang akan mengendapkan perdarahan .

4. Mencegah pemakaian termometer rektal, pemeriksaan rektal atau huknah, untuk sekurang – kurangnya satu minggu .

R/ Dapat menimbulkan perdarahan prostat .

5. Pantau traksi kateter: catat waktu traksi di pasang dan kapan traksi dilepas.

R/ Traksi kateter menyebabkan pengembangan balon ke sisi fosa prostatik, menurunkan perdarahan. Umumnya dilepas 3 – 6 jam setelah pembedahan .

6. Observasi: Tanda – tanda vital tiap 4 jam,masukan dan haluaran dan warna urine

R/ Deteksi awal terhadap komplikasi, dengan intervensi yang tepat mencegah kerusakan jaringan yang permanen .

4. Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan ketakutan akan impoten akibat dari TUR-P.

Tujuan: Fungsi seksual dapat dipertahankan Kriteria hasil:

- Klien tampak rileks dan melaporkan kecemasan menurun . - Klien menyatakan pemahaman situasi individual .

- Klien menunjukkan keterampilan pemecahan masalah . - Klien mengerti tentang pengaruh TUR – P pada seksual.

Rencana tindakan :

1 . Beri kesempatan pada klien untuk memperbincangkan tentang pengaruh TUR – P terhadap seksual .

R/ Untuk mengetahui masalah klien .

2 . Jelaskan tentang : kemungkinan kembali ketingkat tinggi seperti semula dan kejadian ejakulasi retrograd (air kemih seperti susu)

R/ Kurang pengetahuan dapat membangkitkan cemas dan berdampak disfungsi seksual

3 . Mencegah hubungan seksual 3-4 minggu setelah operasi . R/ Bisa terjadi perdarahan dan ketidaknyamanan

4 . Dorong klien untuk menanyakan kedokter salama di rawat di rumah sakit dan kunjungan lanjutan .

R / Untuk mengklarifikasi kekhatiran dan memberikan akses kepada penjelasan yang spesifik.

5. Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi

Tujuan: Klien dapat menguraikan pantangan kegiatan serta kebutuhan berobat lanjutan .

Kriteria hasil:

- Klien akan melakukan perubahan perilaku. - Klien berpartisipasi dalam program pengobatan.

- Klien akan mengatakan pemahaman pada pantangan kegiatan dan kebutuhan berobat lanjutan .

Rencana tindakan:

1. Beri penjelasan untuk mencegah aktifitas berat selama 3-4 minggu . R/ Dapat menimbulkan perdarahan .

2. Beri penjelasan untuk mencegah mengedan waktu BAB selama 4-6 minggu; dan memakai pelumas tinja untuk laksatif sesuai kebutuhan.

R/ Mengedan bisa menimbulkan perdarahan, pelunak tinja bisa mengurangi kebutuhan mengedan pada waktu BAB

3. Pemasukan cairan sekurang–kurangnya 2500-3000 ml/hari. R/ Mengurangi potensial infeksi dan gumpalan darah .

4. Anjurkan untuk berobat lanjutan pada dokter. R/. Untuk menjamin tidak ada komplikasi .

5. Kosongkan kandung kemih apabila kandung kemih sudah penuh . R/ Untuk membantu proses penyembuhan .

6. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri / efek pembedahan

Tujuan: Kebutuhan tidur dan istirahat terpenuhi. Kriteria hasil:

- Klien mampu beristirahat / tidur dalam waktu yang cukup. - Klien mengungkapan sudah bisa tidur .

- Klien mampu menjelaskan faktor penghambat tidur . Rencana tindakan:

1. Jelaskan pada klien dan keluarga penyebab gangguan tidur dan kemungkinan cara untuk menghindari.

R/ meningkatkan pengetahuan klien sehingga mau kooperatif dalam tindakan perawatan .

2. Ciptakan suasana yang mendukung, suasana tenang dengan mengurangi kebisingan .

R/ Suasana tenang akan mendukung istirahat

3. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan penyebab gangguan tidur. R/ Menentukan rencana mengatasi gangguan

4. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat yang dapat mengurangi nyeri ( analgesik ).

Lampiran 2. Deskripsi Obyek Penelitian

Klien bernama Tn. P berusia 65 tahun, beragama Islam, pendidikan klien SMA (kelas III), alamat klien Gondanglegi Malang. Klien masuk rumah sakit Wava Husada Kepanjen, Kab. Malang di Ruang Rawat Inap D pada tanggal 29 Juni 2012 malam. Klien dirawat dengan diagnosa medis BPH. Kemudian klien dilakukan operasi open prostatectomy pada tanggal 01 Juli 2012.

Dari hasil anamnesa didapatkan bahwa keluhan utama klien saat masuk rumah sakit adalah 3 hari tidak bisa buang air kecil, sedangkan keluhan utama saat pengkajian adalah klien mengatakan nyeri pada luka operasi. Klien mengeluh kepada keluarganya terutama pada istri klien karena klien tidak bisa buang air kecil sudah 3 hari, kemudian klien,memeriksakan diri ke RS Wava Husada Kepanjen Kab. Malang pada tanggal 30 Juni 2012 melalui UGD kemudian klien di rawat di Ruang Rawat Inap D.

Pola pemenuhan ADL, klien dapat memenuhinya dengan bantuan minimal karena badan klien yang terasa lemas. Untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi, nafsu makan klien baik karena hanya menyisakan sisa sedikit. Untuk pola eliminasi BAK klien dengan menggunakan kateter.

Dari hasil pemeriksaan fisik pada tanggal 4 Juli 2012 diperoleh hasil keadaan umum pasien cukup, kesadaran Compos Mentis, dan terpasang infus ditangan sebelah kiri. Tekanan darah: 130/70 mmHg, nadi : 68x/menit, pernapasan: 20x/menit, suhu: 36,4 °C, BB : 60 kg, TB: 166 cm.

Pemeriksaan head to toe didapatkan kepala brakhiocephalus/bulat, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik. Telinga bentuk normal, ukuran normal dan simetris, dan tidak ada gangguan pendengaran. Hidung simetris dan tidak polip. Mulut bersih, mukosa bibir lembab, bibir bersih. Leher tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada pembesaran vena jugularis, dan tengkuk tidak kaku kuduk.

Pemeriksaan dada tidak ada retraksi otot bantu pernapasan, pola napas eupnea, tidak ditemukan ronchi, rales, dan wheezing, vokal fremitus sebelah kanan

dan kiri sama, suara sonor di area paru. Jantung tidak ada pelebaran ictus cordis, batas jantung dalam batas normal, BJ I dan II terdengar tunggal, tidak ada BJ tambahan, gallop rhythm, dan murmur. Abdomen datar, BU: 10x/menit, terdapat panjang luka jahitan ±10cm, nyeri pada area luka post op, skala nyeri 6, dan tidak ada pembesaran hepar, lien dan ginjal. Genitalia bersih, terpasang spooling kateter, berjenis kelamin laki-laki, bersih, tidak gatal-gatal, tidak ada luka akibat pemasangan kateter lebih dari 1 hari.

Pada pemeriksaan ekstremitas tidak ada lesi, turgor baik (kembali kurang dari 1 detik),

Pada ekstremitas atas sebelah kiri terpasang infus. Untuk pemeriksaan neurologis klien tidak ditemukan gangguan dan semuanya dalam batas normal.

Dari studi dokumentasi yang dilakukan didapatkan hasil dari pemeriksaan rontgen dan BOF yang telah dilakukan, adalah sebagai berikut

 Dari foto rontgen thorax AP pada tanggal 30 juli 2012: Cor : besar dan bentuk normal, klasifikasi aorta (+).

Pulmo : corakan bronchovaskuler dalam batas normal tampak infiltrate. Kedua sinus phrenicocostatis tumpul, hemidiaphragma mendatar, tak tampak fraktur pada tulang.

Kesimpulan : kesan emphysema pulmonum. Gambar 4.1. Status edema ekstremitas

Gambar 4.2. Tonus otot

-- --

5 5 5 5

 Dari pemeriksaan BOF

- bayangan gas dalam usus tampak meningkat dengan distribusi normal - bayangan hepar dan lien tak membesar

- psoas shadow tak tampak

- tulang-tulang lipping formation pada VL dan kesan terdapat vacuum phenomen antara VL 4-5

- tak tampak batu open sepanjang fraktus urinarius

Kesimpulan : tak tampak batu open sepanjang fraktus urinarius spomdylosisi lumbalis

Terapi yang diberikan saat ini adalah sebagai berikut: Zegavit → 1-0-0

Duazat → 3 x 500mg

Tramifen → 3 x 1 Romilar Syrup → 3 x CI

Dalam dokumen Kasus BPH (Halaman 47-58)

Dokumen terkait