• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 80-142)

6. KESIMPULAN DAN SARAN

6.2 Saran

Adapun saran yang dapat diberikan dalam pelaksanaan PKPA ini adalah sebagai berikut :

1) Sebaiknya mahasiswa PKPA dilibatkan dalam proses perumusan standar agar memahami lebih dalam mengenai penyusunan standar.

2) Dalam penulusuran literatur untuk penyusunan standar sebaiknya sarana dan prasarana dalam pencarian data terutama perangkat komputer dan koneksi internet ditingkatkan kinerjanya.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2001). Keputusan kepala Badan POM N0. 02001/SK/KBPOM Tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Obat dan Makanan. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2005). Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.00.05.52.0685 Tahun 2005 Tentang Ketentuan Pokok Pengawasan Pangan Fungsional. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2006). Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.00.05.52.4040 Tahun 2006 Tentang Kategori Pangan.Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2008). Peraturan Kepala Badan POM N0.HK.005.05.52.1831 Tentang Pedoman Periklanan Pangan. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2009). Penetapan Batas Maksimum Cemaran Mikroba dan Kimia dalam Makanan. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.

Menteri Perindustrian. (2010). Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor: 75/M-IND/PER/7/2010 Tentang Pedoman Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (Good Manufacturing Practices). Jakarta: Menteri Perindustrian.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2011a). Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.04.1.21.10.11.08514 Tahun 2011 Tentang Penerapan Sistem Manajemen Mutu (Quality Management Sistem) Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2011b). Peraturan Kepala Badan Pengawas

Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.03.1.23.11.11.09909 Tahun 2011 Tentang Pengawasan Klaim Dalam Label dan Iklan Pangan Olahan. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2011c). Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.03.1.23.12.11.10569 Tahun 2011 Tentang Pedoman Cara Ritel Pangan Modern. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2011d). Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.03.1.23.12.11.10720 Tahun 20 11 Tentang Pedoman Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik untuk Formula Bayi dan Formula. Lanjutan Bentuk Bubuk. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2012a). Modul Materi Ujian Perpindahan PFM. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2012b). Pedoman Kriteria Cemaran pada

Pangan Siap Saji dan Pangan Industri Rumah Tangga. Jakarta: Direktorat Standardisasi Produk Pangan, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2012c). Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.03.1.23.03.12.1564 Tahun 2012 Tentang Pengawasan Pelabelan Pangan Produk Rekayasa Genetik..Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2012d). Peraturan Kepala Badan Pengawas

Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.03.1.23.03.1563 Tahun 2012 Tentang Pedoman Pengkajian Keamanan Pangan Produk Rekayasa Genetik. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2013a). Panduan Kerja Codex. Jakarta:

Direktorat standardisasi Produk Pangan Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan berbahaya Badan Pengawas Obat dan Makanan. Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2013b). Peraturan Kepala Badan POM RI Nomor 26 tahun 2013 Tentang Pengawasan Pangan Iradiasi. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2013c). Peraturan Kepala Badan POM RI No. 39 Tahun 2013 Tentang Standar Pelayanan Publik di Lingkungan Badan Pengawas Obat dan Makanan. Jakarta: Badan pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2013d). Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 29 Tahun 2013Tentang Rencana Strategi Badan Pengawas Obat dan Makanan Tahun 2010-2014. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.

Menteri Kesehatan. (2012). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 033 tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan. Jakarta: Menteri Kesehatan.

Presiden Republik Indonesia. (2001). Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2001 Tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen. Jakarta: Presiden

Presiden Republik Indonesia. (2005). Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2005 Tentang Perubahan Keenam Atas Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 Tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen. Jakarta: Presiden.

Profil Peraturan Standar. (2014). Profil Peraturan, Standar dan Pedoman yang Telah Ditetapkan. Direktorat Standardisasi Produk Pangan. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republk Indonesia.

Pemerintah Republik Indonesia. (1999a). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 1999 Tentang Label dan Iklan Pangan. Jakarta: Sekretariat Negara.

Pemerintah Republik Indonesia. (1999b). Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Jakarta: Sekretariat Negara.

Pemerintah Republik Indonesia. (2000). Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia Nomor 102 Tahun 2000 Tentang Standardisasi Nasional Indonesia.Jakarta: Sekretariat Negara.

Pemerintah Republik Indonesia. (2004). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2004 Tentang Keamanan, Mutu, dan Gizi Pangan. Jakarta: Sekretariat Negara.

Pemerintah Republik Indonesia. (2012). Undang-Undang No. 18 Tahun 2012 Tentang

UNIVERSITAS INDONESIA

PENYUSUNAN RANCANGAN STANDAR NASIONAL

INDONESIA 1 (RSNI 1) KERIPIK BAYAM

TUGAS KHUSUS PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER

DI BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN JALAN

PERCETAKAN NEGARA NOMOR 23 JAKARTA

PUSAT PERIODE 2 – 26 SEPTEMBER 2014

SAKINAH

1306502844

ANGKATAN LXXIX

FAKULTAS FARMASI

PROGRAM PROFESI APOTEKER

DEPOK

ii Universitas Indonesia DAFTAR ISI DAFTAR ISI ... ii DAFTAR GAMBAR ... iv DAFTAR TABEL ... v DAFTAR LAMPIRAN ... vi 1. PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan ... 3 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 4

2.1 Bayam (Amaranthus hybridus L.)... 4 2.1.1 Deskripsi Bayam ... 4 2.1.2 Taksonomi Tanaman Bayam... 5 2.1.3 Kandungan Gizi Bayam ... 5 2.1.4 Manfaat Bayam ... 6 2.2 Keripik Bayam ... 6 2.3 Standar dan Standardisasi ... 8 2.4 Proses Penyusunan SNI ... 9 2.4.1 Rancangan SNI... 9 2.4.2 Penyusunan Konsep (drafting) ... 11 2.4.3 Rapat Teknis... 12 2.4.4 Rapat Konsensus Panitia Teknis atau Sub panitia Teknis ... 12 2.4.5 Tahap Jajak Pendapat (Enquiry) Melalui Media Elektronik ... 14 2.4.6 Tahap Pemungutan Suara (Voting) Melalui Media Elektronik ... 17 2.4.7 Penetapan SNI dan Dokumen Teknis ... 20 2.4.8 Ketentuan Teknis dalam Perumusan SNI ... 20 2.4.9 Publikasi ... 21 2.4.10 Pemeliharaan SNI... 21

3. METODOLOGI PENGKAJIAN ... 23

3.1 Lokasi dan Waktu Pengkajian. ... 23 3.2 Metodologi Pengkajian ... 23

iii Universitas Indonesia

5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 28

5.1 Kesimpulan.. ... 28 5.2 Saran ... 28

iv Universitas Indonesia

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Tanaman Bayam ... 4 Gambar 2.2. Keripik Bayam ... 7 Gambar 2.3. Tahap Perumusan SNI ... 11

v Universitas Indonesia

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Tanaman Bayam ... 5 Tabel 2.2 Tahap Perumusan SNI ... 10

vi Universitas Indonesia

DAFTAR LAMPIRAN

1 Universitas Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kerja sama di bidang ekonomi antara negara-negara di dunia, seperti Asean Free Trade Area (AFTA), Asia Pasific Economic Coorperatioan (APEC) dan World Trade Organization (WTO) telah menicptakan sistem perdagangan dunia yang bebas (free trade). Sistem ini nantinya akan memperoleh gerak arus transaksi barang dan atau jasa melintasi batas-batas wilayah suatu negara. Sehingga pasar nasional nantinya akan bersifat terbuka terhadap barang dan atau jasa impor.

Untuk mendukung pasar nasional dalam menghadapi sistem perdagangan bebas, maka Indonesia perlu mempersiapkan produk-produk pangan yang berkualitas dan terstandardisasi. Standardisasi dimaksud untuk meningkatkan perlindungan kepada konsumen, pelaku usaha, tenaga kerja, dan masyarakat lainnya baik untuk keselamatan, keamanan maupun kesehatan masyarakat serta untuk membantu kelancaran perdagangan dan mewujudkan persaingan usaha yang sehat.

Penyusunan peraturan/standar/pedoman, perlu mempertimbangkan standar yang ada di negara lain. Negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang dan European Union merupakan acuan ideal dalam penyusunan standar. Namun perlu disesuaikan dan dipertimbangkan kemampuan/kondisi nasional dalam mengikuti standar di negara tersebut. Standar yang ada di negara berkembang merupakan acuan yang dapat dijadikan pembanding mengingat kondisi negara tersebut hampir sama dengan Indonesia (Badan POM RI, 2012).

Salah satu produk yang perlu mempunyai standar mutu adalah keripik bayam. Saat ini standar mutu untuk keripik bayam belum ada karena produk ini relatif masih baru untuk dikonsumsi di Indonesia. Keripik sayuran masih merupakan barang baru dalam variasi pangan di Indonesia. Biasanya keripik terbuat dari karbohidrat seperti kentang dan beras serta ada yang terbuat dari sumber glukosa, seperti nangka dan nanas. Sangat jarang makanan ringan yang dibuat dari sayuran.

Bayam merupakan salah satu sayuran yang memberikan banyak manfaat bagi tubuh. Sayuran ini juga banyak ditemui di seluruh daerah di Indonesia. Namun, tidak semua orang suka mengkonsumsi sayur bayam. Agar kebutuhan sayur tetap terpenuhi dan tetap disukai, maka bayam diolah menjadi sajian yang enak serta memiliki manfaat positif bagi kesehatan.

Pengolahan bayam menjadi keripik selain dapat memberikan keanekaragaman pangan juga mampu meningkatkan kualitas dan nilai ekonomis dari sayuran tersebut. Selain itu keripik memiliki umur simpan lebih lama dari produk segarnya serta menjadikan keripik bayam suatu produk yang khas, yaitu renyah dan gurih (Harris, 1989).

Produktivitas bayam tidak hanya ditemukan di Indonesia, melainkan di negara-negara ASEAN lainnya. Produk olahan bayam di negara-negara ASEAN telah banyak dikembangkan. Di jepang dan korea bayam diolah menjadi snack dengan campuran beberapa bahan tambahan. Di Jepang, bayam dikembangkan menjadi sajian sehat dengan kemasan yang menarik seperti Vegetable Snack serta produk olahan mie dari daun bayam yaitu Dry Spinach Noodle. Sedangkan di Korea, bayam diolah menjadi snack dengan campuran beberapa jenis sayuran, berbeda dengan Indonesia, daun bayam diolah menjadi keripik, dimana daun bayam utuh dilapisi dengan tepung yang kemudian digoreng.

Pengembangan produk keripik bayam, diharapkan dapat menambah daftar keragaman pangan di Indonesia. Penyusunan Standar Nasional Indonesia (SNI) produk pangan seperti keripik bayam, selain dapat memberi nilai tambah pada produk tersebut, SNI juga dapat menjaga daya saing produk lokal dari serbuan produk asing yang masuk ke Indonesia. Selain itu dapat memperlancar transaksi perdagangan dengan adanya jaminan mutu dari produk yang dihasilkan.

Perumusan SNI (termasuk merumuskan SNI keripik bayam terdapat berbagai proses yang dimulai dari penyusunan Rancangan Standar Nasional Indonesia 1 (RSNI1) dilakukan oleh konseptor yang bertujuan untuk memperoleh konsep awal SNI keripik bayam yang selanjutnya akan melalui tahap – tahap perumusan SNI.

Dalam tugas khusus penyusunan RSNI1 keripik bayam, penyusun memposisikan diri sebagai konseptor untuk menyusun RSNI1 keripik bayam.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan tugas khusus ini adalah :

1. Mempelajari dan memahami proses perumusan Standar Nasional Indonesia (SNI).

2. Mempelajari dan mengetahui tujuan penyusunan Rancangan Standar Nasional Indonesia 1 (RSNI 1) keripik bayam.

4 Universitas Indonesia

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bayam (Amaranthus hybridus L.) 2.1.1 Deskripsi Bayam

Tanaman bayam sangat mudah dikenali, yaitu berupa perdu yang tumbuh tegak, batangnya tebal berserat dan ada beberapa jenis yang mempunyai duri. Daunnya bisa tebal atau tipis, besar atau kecil, berwarna hijau atau ungu kemerahan (pada jenis bayam merah). Bunganya berbentuk pecut, muncul di pucuk tanaman atau pada ketiak daunnya. Bijinya berukuran sangat kecil berwarna hitam atau coklat dan mengkilap. Tanaman bayam sangat toleran terhadap perubahan keadaan iklim. Bayam banyak ditanam di dataran rendah hingga menengah, terutama pada ketinggian antara 5-2000 meter dari atas permukaan laut. Kebutuhan sinar matahari untuk tanaman bayam adalah tinggi, dimana pertumbuhan optimum dengan suhu rata-rata 20-30 oC, curah hujan antara 1000-2000 mm, dan kelembaban di atas 60 %. Oleh karena itu, bayam tumbuh baik bila ditanam di lahan terbuka dengan sinar matahari penuh atau berawan dan tidak tergenang air (Bandini dan Nurudin, 2001).

2.1.2 Taksonomi Tanaman Bayam (Bandini dan Nurudin, 2001)

Kerajaan : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta Super Divisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Sub Kelas : Hamamelidae

Ordo : Caryophyllales

Famili : Amaranthaceae

Genus : Amaranthus

Spesies : Amaranthus hybridus L.

Tanaman bayam digolongkan dalam keluarga Amaranthaceae. Sebagai keluarga Amaranthaceae, bayam termasuk tanaman gulma yang tumbuh liar. Namun karena perkembangannya, manusia memanfaatkan bayam sebagai tanaman budidaya yang mengandung gizi tinggi.

2.1.3 Kandungan Gizi Bayam (Bandini dan Nurudin, 2001)

Di dalam daun tanaman bayam terdapat cukup banyak kandungan protein, mineral, kalsium, zat besi dan vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Pada tabel 3.1 diuraikan mengenai komposisi gizi yang terkandung tiap 100 g pada daun tanaman bayam, yaitu:

Tabel 2.1 Komposisi Gizi Tanaman Bayam

No. Zat Gizi Bayam Hijau Bayam Merah

1. Kalori (kal) 36 52 2. Karbohidrat 6,5 10 3. Lemak (g) 0,5 0,5 4. Protein (g) 3,5 4,6 5. Kalsium (mg) 267 368 6. Fosfor (mg) 6,7 111

7. Besi (mg) 3,9 2,2

8. Vitamin A (SI) 6090 5800

9. Vitamin B1 (mg) 0,08 0,08

10 Vitamin C (mg) 80 80

11. Air (g) 86,9 82

2.1.4 Manfaat Bayam (Bandini dan Nurudin, 2001)

Mengkonsumsi bayam dalam jumlah yang cukup memberikan manfaat yang besar. Ditinjau dari kandungan gizinya, bayam merupakan jenis sayuran hijau yang banyak manfaatnya bagi kesehatan dan pertumbuhan badan, terutama bagi anak-anak dan para ibu yang sedang hamil. Daun bayam mengandung cukup banyak protein, mineral, kalsium, zat besi dan vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Kandungan vitamin A dalam daun bayam berguna untuk memberikan ketahanan tubuh dalam menanggulangi penyakit mata, sakit pernafasan, kesehatan kulit dan selaput lendir. Kandungan vitamin B dapat mencegah penyakit beri-beri, memperkuat syaraf dan melenturkan otot rahim, sehingga dianjurkan bagi ibu yang sedang hamil untuk memudahkan persalinannya. Vitamin C sangat membantu menyembuhkan sariawan atau gusi berdarah. Zat besi dapat mencegah penyakit anemia dan sakit kuning serta memperkuat tulang dan gigi. Manfaat lain dari bayam yaitu akarnya dapat menjadi obat untuk menghilangkan panas (antipiretik), meluruhkan kencing (diuretik), menghilangkan racun (antitoksik), menyembuhkan bengkak, obat diare dan membersihkan darah.

2.2 Keripik Bayam

Keripik bayam adalah makanan yang terbuat dari bayam sebagai bahan dasarnya dan menggunakan tepung pelapis sebagai penyalut lembaran bayam yang akan digoreng. Tepung pelapis yang umum digunakan untuk keripik terbuat dari tepung beras dan tapioka. Pengolahan bayam menjadi keripik selain memberikan keanekaragaman pangan juga mampu meningkatkan kualitas dan nilai ekonomis dari sayuran tersebut. Selain itu keripik memiliki umur simpan lebih lama dari produk

segarnya serta memberikan flavor produk yang khas, yaitu renyah dan gurih (Harris, 1989; Ramdhan, 2009).

Gambar 2.2 Keripik Bayam

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan pada pembuatan keripik bayam yaitu tekstur, warna, kandungan minyak dan masa simpannya untuk mempertahankan mutu sensoriknya. Semua faktor tersebut selain tergantung pada sifat bahan dasar juga tergantung pada proses pengolahannya (Tursilawati, 1999).

Adapun proses pembuatan keripik bayam adalah sebagai berikut (Risna, 2014) :

a) Sebelum sayur bayam diolah menjadi keripik terlebih dahulu dipisahkan pada batang dan daunnya,kemudian daunnya yang diambil untuk membuat keripik tersebut.Setelah daunnya diambil kemudian dicuci dengan menggunakan air bersih.

b) Siapkan adonan berupa tepung beras serta bahan tambahan lain seperti bawang putih, ketumbar serta tambahkan gula dan garam secukupnya. Campur adonan secara merata.

c) Masukkan sehelai demi sehelai (selembar daun bayam) kedalam adonan, kemudian digoreng. Keripik daun bayam telah matang dan dapat diangkat apabila keripik daun bayam tersebut telah berwarna agak kecoklatan.

2.3 Standar dan Standardisasi(Pemerintah Republik Indonesia, 2000)

Standar adalah spesifikasi atau persyaratan teknis yang dibakukan, termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat-syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pengalaman perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya. Standardisasi adalah proses merumuskan, menetapkan, menerapkan dan merevisi standar, yang dilaksanakan secara tertib dan bekerjasama dengan semua pihak.

Standar Nasional Indonesia (SNI), adalah standar yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional dan berlaku secara nasional. Badan Standardisasi Nasional (BSN) adalah Badan yang membantu Presiden dalam menyelenggarakan pengembangan dan pembinaan di bidang standardisasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sistem Standardisasi Nasional (SSN) adalah tatanan jaringan sarana dan kegiatan standardisasi yang serasi, selaras dan terpadu serta berwawasan nasional, yang meliputi penelitian dan pengembangan standardisasi, perumusan standar, penetapan standar, pemberlakuan standar, penerapan standar, akreditasi, sertifikasi, pembinaan dan pengawasan standardisasi, kerjasama, informasi dan dokumentasi, pemasyarakatan, pendidikan dan pelatihan standardisasi.

Perumusan Rancangan Standar Nasional Indonesia dilaksanakan oleh Panitia Teknis melalui konsensus dari semua pihak yang terkait. Ketentuan tentang konsensus diatur oleh Kepala Badan Standardisasi Nasional. Rancangan Standardisasi Nasional Indonesia ditetapkan menjadi SNI oleh Kepala Badan Standardisasi Nasional.

Prinsip dasar yang harus diterapkan dalam proses perumusan SNI adalah (Badan Standardisasi Nasional, 2007) :

a) Transparansi dan keterbukaan

Terbuka bagi semua pihak yang berkepentingan untuk mengetahui program pengembangan SNI serta memberikan kesempatan yang sama bagi yang

berminat untuk berpartisipasi melalui kelembagaan yang berkaitan dengan pengembangan SNI.

b) Konsensus dan tidak memihak

Memberikan kesempatan bagi pihak-pihak yang memiliki kepentingan berbeda untuk mengutarakan pandangannya serta mengakomodasikan pencapaian kesepakatan oleh pihak-pihak tersebut secara konsensus (mufakat atau suara mayoritas) dan tidak memihak kepada pihak tertentu.

c) Efektif dan relevan

Harus mengupayakan agar hasilnya dapat diterapkan secara efektif sesuai dengan konteks keperluannya.

d) Koheren

Sejauh mungkin mengacu kepada satu standar internasional yang relevan dan menghindarkan duplikasi dengan kegiatan perumusan standar internasional agar hasilnya harmonis dengan perkembangan internasional.

e) Dimensi pengembangan

Mempertimbangkan kepentingan usaha kecil/menengah dan daerah dengan memberikan peluang untuk dapat berpartisipasi dalam proses perumusan SNI.

2.4 Proses Penyusunan SNI

2.4.1 Rancangan SNI (Badan Standardisasi Nasional, 2007; Pemerintah Republik Indonesia, 2000)

Berdasarkan PP 102 tahun 2000, Standardisasi Nasional Merupakan subsistem dari Sistem Standardisasi Nasional (SSN). Pada dasarnya, Standardisasi Nasional merupakan akumulasi pengetahuan teknologi dan pengalaman dari para pemangku kepentingan (stakeholder) yang terlibat proses pencapaian kesepakatan. Pengembangan suatu standar melalui 2 (dua) pendekatan berbeda:

a) Berbasis konsensus, kesepakatan terhadap suatu rancangan standar di kalangan para pemangku kepentingan (stakeholder).

b) Berbasis scientific evidence, kesepakatan terhadap suatu rancangan standar yang berlandaskan pada pembuktian secara ilmiah.

Tabel 2.2 Proses perumusan SNI

Tahapan

Perumusan Pelaksana Peserta

Dokumen Terkait Nama dokumen

yang dihasilkan Singkatan Penyusunan

konsep (drafting)

Konseptor PT/SPT Rancangan SNI 1 RSNI 1

Rapat teknis *) PT/SPT PT/SPT dan

TAS Rancangan SNI 2 RSNI 2

Rapat

Konsensus PT/SPT

PT/SPT dan

TAS Rancangan SNI 3 RSNI 3

Jajak Pendapat

(enquiry) BSN

PT/SPT dan

MASTAN - -

Perbaikan akhir PT/SPT - Rancangan SNI 4 RSNI 4

Pemungutan

suara (voting) BSN -

Standar Nasional

Indonesia SNI

*) Rapat teknis diadakan minimal satu kali pertemuan, namun jika diperlukan dapat diadakan lebih dari satu kali pertemuan.

Keterangan: PT = Panitia teknis, SPT= sub panitia teknis, MASTAN= masyarakat standardisasi

Keterangan : PNPS = Panitia nasional penyusun standar, RSNI = rancangan standar nasional Indonesia, RASNI = rancangan akhir standar nasional Indoneia, PT = panitia teknis, SPT = sub panitia teknis

Gambar 2.3 Tahap Perumusan SNI

2.4.2 Penyusunan Konsep (drafting) (Badan Standardisasi Nasional, 2007)

a) Panitia teknis atau sub panitia teknis menunjuk konseptor untuk merumuskan RSNI1.

b) Konseptor dapat berbentuk perorangan atau gugus kerja yang terdiri atas tenaga ahli yang berkaitan dengan bidang standar yang akan dirumuskan dan dapat berasal dari luar anggota panitia teknis atau sub panitia teknis.

c) Gugus kerja ini bersifat sementara dan tugasnya selesai setelah RSNI1 disetujui menjadi RSNI2 oleh panitia teknis atau sub panitia teknis.

d) Apabila diperlukan gugus kerja atau sub panitia teknis atau panitia teknis dapat berkonsultasi dengan berbagai pihak lain yang berkepentingan, melakukan penelitian, studi banding, dan atau pengujian untuk memastikan

agar ketentuan yang dicakup dalam RSNI1 sesuai dengan konteks tujuan penyusunan SNI tersebut serta kondisi yang mempengaruhinya.

e) Apabila menetapkan metode pengujian baru yang berdiri sendiri atau merupakan bagian suatu standar dan metode tersebut tidak mengadopsi atau tidak mengacu suatu standar lain yang biasa digunakan, maka harus dilakukan validasi.

f) Penulisan RSNI1 harus sesuai dengan PSN 08:2007 tentang Penulisan Standar Nasional Indonesia.

2.4.3 Rapat Teknis (Badan Standardisasi Nasional, 2007)

a) RSNI1 yang disusun oleh konseptor atau gugus kerja dibahas dalam rapat panitia teknis atau sub panitia teknis untuk mendapatkan pandangan dan masukan dari seluruh anggota. Apabila diperlukan dalam tahap ini dapat diundang pakar dari luar anggota panitia teknis atau sub panitia teknis, dilakukan konsultasi dengan berbagai pihak dan atau melakukan penelitian/pengujian sesuai dengan kebutuhan. Hasil rapat teknis setelah diperbaiki oleh tim editor diperoleh RSNI2.

b) Pada tahap ini, BSN dapat memantau pelaksanaan rapat teknis dengan menugaskan Tenaga Ahli Standardisasi sebagai pengendali mutu (TAS-QC) perumusan SNI.

c) Seluruh substansi pembahasan dalam rapat teknis harus terekam secara lengkap, akurat serta mudah dibaca dan dimengerti.

Apabila dalam rapat teknis, semua persyaratan konsensus dapat terpenuhi, maka hasil rapat teknis dapat disepakati sebagai hasil konsensus, dan diperoleh RSNI3.

2.4.4 Rapat Konsensus Panitia Teknis atau Sub panitia Teknis (Badan Standardisasi Nasional, 2007)

a) Pada tahap ini RSNI2 dikonsensuskan oleh panitia teknis atau sub panitia teknis dengan memperhatikan pandangan seluruh peserta rapat yang hadir dan pandangan tertulis dari anggota panitia teknis atau sub panitia teknis yang tidak hadir.

b) Apabila diperlukan, dalam tahap ini dapat diundang pakar dari luar anggota panitia teknis atau sub panitia teknis sebagai nara sumber yang pendapatnya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan oleh anggota panitia teknis atau sub panitia teknis dalam mengambil keputusan, tetapi tidak memiliki hak suara.

c) Rapat konsensus hanya dapat dilakukan apabila rapat mencapai kuorum, yaitu minimal 2/3 anggota panitia teknis atau sub panitia teknis hadir dan semua

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 80-142)

Dokumen terkait