• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 50-79)

BAB I PENDAHULAN

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

Perlu lebih melibatkan mahasiswa PKPA dalam kegiatan yang berhubungan dengan unit kerja secara keseluruhan, sehingga mahasiswa mendapat gambaran kerja dari unit tersebut pada kondisi yang sebenar-benarnya

DAFTAR PUSTAKA

Badan POM RI. 2011. Budaya Organisasi.

http://www.pom.go.id/profile/budaya_organisasi.asp. Diakses tanggal 17 Februari 2013

Badan POM RI. 2011. Fungsi Badan POM.

http://www.pom.go.id/profile/fungsi_badan_POM.asp. Diakses tanggal 17

Februari 2013

Badan POM RI. 2011. Informasi Obat. http://pom.go.id/index.php/io. Diakses tanggal 17 Februari 2013.

Badan POM RI. 2011. Katalog Informasi Keracunan. http://ik.pom.go.id/katalog-informasi-keracunan. Diakses tanggal 17 Februari 2013.

Badan POM RI. 2011. Kerangka Konsep SISPOM

http://www.pom.go.id/profile/kerangka_konsep_SisPOM.asp. Diakses tanggal 17 Februari 2013

Badan POM RI. 2011. Kebijakan Strategis Badan POM.

http://www.pom.go.id/profile/kebijakan_strategis_Badan_POM.asp. Diakses

tanggal 17 Februari 2013

Badan POM RI. 2011. Latar belakang.

http://www.pom.go.id/profile/latar_belakang.asp. Diakses tanggal 17 Februari 2013

Badan POM RI. 2011. Laporan kasus keracunan. http://ik.pom.go.id/laporan-kasus-keracunan. Diakses tanggal 17 Februari 2013

Badan POM RI. 2011. Layanan informasi. http://ik.pom.go.id/layanan-informasi. Diakses tangga 17 Februari 2013

Badan POM RI. 2011. Organisasi Badan POM.

http://www.pom.go.id/profile/organisasi_badan_POM.asp. Diakses tanggal 17 Februari 2013

Badan POM RI. 2011. Prinsip Dasar SISPOM.

http://www.pom.go.id/profile/prinsip_dasar_SisPOM.asp. Diakses tanggal 17 Februari 2013

Badan POM RI. 2011. Struktur Organisasi.

http://www.pom.go.id/profile/struktur_organisasi.asp. Diakses tanggal 17

Februari 2013

Badan POM RI. 2011. Sistem Notifikasi Kosmetika On-line.

http://notifkos.pom.go.id/bpom-notifikasi/. Diakses tanggal 17 Februari 2013

Badan POM RI. 2011. Sistem Informasi Pelaporan Terpadu.

http://sipt.pom.go.id/. Diakses tanggal 17 Februari 2013

Badan POM RI. 2011. Sentra Informasi Keracunan. http://ik.pom.go.id/. Diakses tanggal 17 Februari 2013

Badan POM RI. 2011. Target Kinerja.

http://www.pom.go.id/profile/target_kinerja.asp. Diakses tanggal 17 Februari 2013

Badan POM RI. 2011. Visi_Misi. http://www.pom.go.id/profile/visi_misi.asp. Diakses tanggal 17 Februari 2013

Lampiran 1. Struktur organisasi Badan POM RI

KEPALA BADAN

INSPEKTORAT

SEKRETARIAT UTAMA

1. Biro Perencanaan dan

Keuangan

2. Biro Kerjasama Luar Negeri

3. Biro Hukum dan Humas

4. Biro Umum Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional Pusat Penyidika n Obat Makanan Pusat Riset Obat dan Makanan Pusat Informasi Obat dan Makanan DEPUTI I

Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan NAPZA

1. Direkterot Penilaian Obat dan Produk Biologi 2. Direktorat Standardisasi

Produk Terapetik dan PKRT 3. Direktorat Pengawasan Produksi Produk Terapetik dan PKRT 4. Direktorat Pengawasan Distribusi Produk Terapetik dan PKRT 5. Direktorat Pengawasan Narkotika, Psikotropika DEPUTI II Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan

Produk Komplemen 1. Direkterot Penilaian

Obat Tradisional, Suplemen Makanan dan Kosmetik.

2. Direktorat Standardisasi Obat Tradisional, kosmetik dan Produk Komplemen

3. Direktorat Inspeksi dan Sertifikasi Obat

Tradisional, Kosmetika dan Produk Komplemen 4. Direktorat Obat Asli

DEPUTI III Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan

Bahan Berbahaya 1. Direktorat Penilaian

Keamanan Pangan 2. Direktorat Standardisasi

Produk Pangan

3. Direktorat Inspeksi dan Sertifikasi Produk Pangan

4. Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan

5. Direktorat Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya

Lampiran 3. Contoh pertanyaaan yang diajukan ke PIONas beserta jawabannya.

1. Jika parasetamol dikonsumsi hingga 2,5 gram dalam 24 jam menimbulkan efek samping apa? Dan bagaimana solusinya?

Jawaban :

Parasetamol diindikasikan untuk meredakan nyeri ringan sampai sedang, demam, sakit kepala, sakit gigi. Namun, berbeda dengan asetosal/aspirin, obat ini tidak dapat mengurangi gejala penyakit rematik seperti kemerahan, kaku, dan pembengkakan pada sendi.

Dosis dan aturan pakai, dijelaskan seperti di bawah ini :

a. Orang dewasa dosisnya 0,5 – 1 gram setiap 4-6 jam hingga maksimum

4 gram perhari.

b. Anak-anak umur 2 bulan dosisnya 60 mg untuk demam pasca

imunisasi.

c. Anak-anak di bawah umur 3 bulan (hanya dengan saran dari dokter), dosisnya 10 mg/kgBB (5 mg/kgBB jika jaundice),

d. Anak-anak umur 3 bulan – 1 tahun dosisinya 60 -120 mg.

e. Anak-anak umur 1 - 5 tahun dosisnya 120-250 mg.

f. Anak-anak umur 6-12 tahun dosisnya 250-500 mg.

Dosis ini dapat diulangi setiap 4-6 jam jika diperlukan (maksimum 4 kali dosis dalam 24 jam)

Efek samping jarang terjadi, tetapi dilaporkan pemakaian jangka panjang dapat terjadi ruam kulit, kelainan darah (termasuk trombositopenia, leukopenia, neutropenia), kerusakan hati dan ginjal jika overdosis. Parasetamol dapat diminum sebelum atau bersama makanan.

a. Alergi terhadap parasetamol ditandai dengan mata merah, pipi bengkak, keluar cairan dari mata dan hidung (jarang terjadi). Seseorang yang alergi dengan parasetamol kemungkinan juga alergi asetosal (aspirin) dan ibuprofen. Konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan antipiretik (penurun panas) yang sesuai.

b. Gangguan fungsi hati dan ginjal atau ketergantungan alkohol.

c. Beberapa sediaan sirup mungkin mengandung pemanis aspartam, yang

sebaiknya dihindari bagi anak penderita fenilketourea.

d. Dapat terjadi interaksi dengan obat lain yang diminum bersamaan. Konsultasikan dengan dokter, apoteker, atau tenaga kesehatan lainnya. Penggunaan bersama obat lain :

a. Obat yang sejenis dengan parasetamol dapat diresepkan oleh dokter, seperti diklofenak, diflunisal, etodolak, fenoprofen, flurbiprofen oral, ibuprofen, indometasin, ketoprofen, ketorolak, asam mefenamat, nabubeton, naproksen, fenilbutazon, piroksikam, tenoksikam, dan asam tiaprofenat, Oleh karena itu, bila Anda sedang berkonsultasi dengan dokter, sampaikan bahwa Anda sedang mengkonsumsi parasetamol agar dokter dapat memutuskan apakah Anda dapat melanjutkan mengkonsumsi parasetamol atau menggantinya dengan obat sejenis lainnya tersebut.

b. Resiko terjadinya kerusakan hati lebih besar pada peminum alkohol atau bila minum parasetamol melebihi dosis yang dianjurkan.

c. Parasetamol relatif tidak berinteraksi dengan makanan. Referensi :

-IONI, 2008

2. Mohon diinformasikan, salep apa yang dapat mengeringkan bekas luka/koreng karena digaruk pada anak usia 5 tahun?

Jawaban :

Luka sebenranya dapat sembuh dengan sendirinya, penggunaan penutup luka yang tepat dan pemakaian antiseptik dapat membantu penyembuhan dan mencegah bekas luka dan infeksi kulit sekunder.

Proses penyembuhan luka dimulai segera setelah terjadinya luka dan terdiri dari 3 tahapan yang saling berkaitan, yaitu peradangan, proliferasi, dan maturasi.

a. Peradangan, pada fase ini terjadi proses perkembangan jaringan yang baru 3 sampai 4 hari setelah luka.

b. Proliferasi, pada fase ini luka akan ditutupi dengan jaringan ikat dan jaringan epitel baru. Fase ini dimulai hari ke-3 dan berlanjut sekitar 3 minggu.

c. Maturasi, fase ini merupakan fase terlama dan baru dimulai sekitar minggu ke-3 setelah luka telah ditutupi jaringan ikat dan dilapisi sel-sel epitel.

Penanggulangan :

Penanggulangan luka bertujuan untuk melindungi luka dari infeksi dan

trauma lebih lanjut dan meminimalisasi adanya bekas luka.

Penanggulangan luka dimulai dari tahapan pembersihan luka, pemberian antiseptik dan atau antibiotik yang benar serta penutupan luka dengan bahan yang sesuai.

Pasien harus membaca petunjuk penggunaan produk secara hati-hati dan memperhatikan hal-hal berikut untuk mencapai efek terpi yang optimal, yaitu :

- Jika permukaan luka kotor, bilaslah dengan air bersih . Gunakan antiseptik secara selektif dan hati-hati.

- Ketika menggunakan air sabun untuk membersihkan luka, cucilah tangan, tuang sedikit sabun cair pada kapas basah, dan cuci luka tersebut secara lembut dengan kapas kemudian bilas dengan air hangat yang mengalir dan keringkan perlahan.

- Tutuplah luka dengan bahan penutup luka yang dapat menjaga

kelembapan pada luka dan pastikan bahwa ukuran penutup luka sesuai dengan luas tubuh yang terkena luka.

- Teruslah menggunakan penutup luka hingga permukaan luka sudah tertutup dengan jaringan yang baru dan tanda-tanda peradangan pada jaringan sekitar telah berkurang.

- Hindarkan menyentuh penutup luka jika tidak diperlukan dan gantilah

penutup luka jika sudah kotor (umumnya setiap 3-5 hari sekali). - Gunakanlah analgesik ringan untuk mengurangi rasa sakit.

- Semua penutup luka harus disimpan dalam kemasan aslinya dan

dijauhkan dari kelembapan.

- Amati tanda-tanda infeksi pada luka seperti adanya bau busuk. Adanya kemerahan, pembengkakan dan cairan/eksudat pada luka adalah hal yang normal untuk tahap penyembuhan luka.

Terapi non obat

Langkah-langkah dasar pengobatan luka seperti luka gores dan luka bakar ringan yaitu mencuci luka dengan air bersih yang mengalir dan

penggunaan perban/kasa sebagai penutup luka untuk mencegah bakteri masuk ke daerah luka. Bekas luka yang berhubungan dengan tipe penutup luka yang digunakan. Penutup luka yang ideal adalah:

• Menghilangkan eksudat yang berlebih. • Menjaga kelembaban permukaan luka.

• Mempunyai pori-pori untuk lewatnya oksigen. • Luka terlindungi dari panas.

• Melindungi luka dari infeksi.

• Bebas dari partikulat atau kontaminan yang toksik. • Dapat dilepas tanpa merusak jaringan kulit yang baru.

Terapi obat

Larutan saline steril adalah pilihan pertama yang efektif untuk membersihkan luka. Untuk terapi pendukung, dapat digunakan antiseptic untuk mencegah infeksi sekunder. Komponen zat aktif dari antiseptic yang aman dan efektif penggunaannya yaitu etanol (48-95%), isopropyl alkohol (50-91,3%), larutan iodin, povidon iodin (5-10%), senyawa amonium (0,13%) dan fenol kamfer. Selain itu, untuk mengurangi rasa sakit pada luka dapat digunakan analgesik ringan seperti asetosal, ibuprofen, dan parasetamol.

Untuk menghilangkan bekas luka, dapat digunakan salep penghilang bekas luka yang dijual bebas di pasaran, silahkan Anda dapat menanyakannya kepada apoteker/tenaga kesehatan lainnya.

Referensi : -IONI, 2008

-KOMPENDIA OBAT BEBAS, 2011

3. Selamat malam PIO Nas, saya ingin bertanya obat untuk keseleo apa ya? kaki saya terkilir/keseleo, boleh minum obat deksametason tidak untuk menghilangkan nyeri dan bengkaknya? Terima kasih

Jawaban :

a. Jika otot mengalami cedera/keseleo, istirahatkan selama beberapa jam untuk membantu mempercepat proses penyembuhan.

b. Untuk mengatasi nyeri otot yang disebabkan karena cedera atau kelelahan, istirahatkan bagian tubuh yang terkena dan gunakan acetaminophen atau ibuprofen untuk meredakan nyeri. Berikan kompres dingin dengan es batu dalam waktu 24-72 jam sesudah terjadinya cedera untuk meredakan nyeri dan inflamasi. Selanjutnya, berikan kompres hangat.

c. Nyeri otot akibat kelelahan dan fibromyalgia seringkali memberi respon yang baik terhadap pemijatan.

d. Untuk mengurangi pembengkakan, tinggikan otot yang cedera dan

kenakan perban elastic.

e. Minum banyak air sebelum, selama, dan sesudah berolahraga, terutama saat cuaca panas untuk mencegah dehidrasi yang dapat memicu timbulnya kram otot.

Pencegahan :

a. Olahraga teratur dapat membantu memperbaiki tonus otot. Contoh

olahraga jenis aerobik yang dianjurkan: jalan kaki, bersepeda, berenang.

b. Olahraga ringan juga dapat mencegah timbulnya nyeri otot

c. Lakukan gerakan pemanasan sebelum berolahraga, dan gerakan

pendinginan setelah berolahraga

d. Mulai lakukan gerakan olahraga dengan perlahan, lalu tingkatkan kecepatan dan intensitasnya secara bertahap.

e. Cukup tidur dan coba kurangi stress dengan melakukan latihan relaksasi, seperti yoga atau meditasi.

f. Hindari olahraga jenis aerobic high-impact dan latihan beban jika sedang terjadi cedera atau nyeri.

g. Lakukan gerakan perengangan otot-otot setidaknya tiap jam jika tubuh berada dalam posisi yang sama terus menerus dlam waktu yang lama (misalnya duduk di dalam pesawat, atau mengetik).

Untuk terapi farmakologi :

Keseleo ringan disarankan menggunakan obat ibuprofen. Ibuprofen merupakan antiiflamasi non steroid (AINS) yang memiliki aktivitas antiinflamasi, analgesik, dan antipiretik bisa diindikasikan untuk meringankan nyeri dan terkilir. Contoh sediaan yang beredar di pasaran adalah Ibufen, Proris, Prosic, Neo Rheumacyl, Paramex Nyeri Otot. Ibuprofen bisa didapat secara bebas.

Pilihan obat lainnya adalah Natrium Diklofenak, namun hanya bisa didapatkan dengan resep dokter. Untuk bentuk sediaan Natrium Diklofenak yang beredar di pasaran adalah tablet dan gel, contohnya adalah Voltaren, Flamar, Voltadex, dll.

Deksametason bisa digunakan karena deksametason merupakan antiinflamasi, namun sebaiknya penggunaan deksametason bukan terapi pilihan pertama karena dapat menyebabkan iritasi lambung dan bersifat immunosupresan (menekan sistem imun). Deksametason juga harus menggunakan resep dokter.

Referensi

Mims petunjuk konsultasi edisi 12, 2012/2013.

4. Apakah ranitidin injeksi jika warnanya berubah menjadi kuning masih boleh digunakan? warna awalnya adalah putih jernih dan penyimpanannya pada suhu kamar. Ranitidin tersebut produksi dari Bernofarma.

Injeksi ranitidine HCl sebaiknya disimpan pada suhu 4-30oC dan terlindung dari cahaya dan panas yang berlebih. Paparan singkat pada suhu diatas 40oC tidak mempengaruhi stabilitas dari injeksi tersebut, namun ada laporan terjadinya perubahan warna menjadi cokelat pada suhu 40o C atau lebih selama penyimpanan beberapa bulan. Produk jernih, tidak berwarna sampai kuning. Penyimpanan pada tempat yang agak gelap tidak mempengaruhi potensinya. pH sediaan antara 6,7 – 7,3. Vial dan syringe berisi ranitidin HCl yang disimpan pada 4oC selama 91 hari dalam lemari pendingin, diperkirakan mengalami kehilangan konsentrasi ranitidin 5-6%, setelah dianalisis dengan HPLC. Sediaan ranitidine HCl yang mengandung dekstrosa dan NaCl dan dibekukan dalam wadah yang terbuat dari PVC tidak menunjukkan adanya perubahan pemerian atau potensi selama 30 hari pada suhu -30oC, kemudian 14 hari setelahnya disimpan dalam lemari pendingin bersuhu 4oC juga tidak menunjukkan kehilangan potensi.

Ranitidine HCl dalam dekstrosa terlihat baik secara visual dan tidak menunjukkan kehilangan potensi setelah dianalisis dengan HPLC ketika dibekukan pada -20oC selama 30 hari dan kemudian dilanjutkan 10 hari penyimpanan dalam lemari pendingin pada 4oC.

Jika telah terjadi perubahan warna, hal tersebut mungkin diakibatkan oleh perubahan stabilitas karena penyimpanan yang tidak terlindung dari cahaya. Sediaan yang sudah berubah baik warna, bau, dan bentuknya, sebaiknya tidak digunakan kembali.

Referensi

Lampiran 4. Tampilan website informasi obat

Lampiran 6. Tampilan website informasi keracunan

Lampiran 8. Tampilan formulir permintaan informasi bidang informasi keracunan

Lampiran 10. Diagram media layanan publik

Media

Layanan

Publik

e-

procurement

e-notifikasi

e -

registration

e -

bpom

e-recruitment

Lampiran 11. Diagram media informasi Peraturan Public Warning IONI Subsite Informasi Obat (IO) Berita Aktual Produk Teregistrasi

Lampiran 15. Tampilan subsite e-registrasi obat tradisional

UNIVERSITAS INDONESIA

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI PUSAT INFORMASI OBAT DAN MAKANAN

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN

REPUBLIK INDONESIA

JL. PERCETAKAN NEGARA NO. 23, JAKARTA

PERIODE 4 - 26 FEBRUARI 2013

STRATEGI PENINGKATAN SOSIALISASI

PUSAT INFORMASI OBAT DAN MAKANAN

OLEH :

YOGA OCTA PERDANA, S.Farm.

1206313904

ANGKATAN LXXVI

FAKULTAS FARMASI

PROGRAM PROFESI APOTEKER

DEPOK

UNIVERSITAS INDONESIA

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI PUSAT INFORMASI OBAT DAN MAKANAN

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN

REPUBLIK INDONESIA

JL. PERCETAKAN NEGARA NO. 23, JAKARTA

PERIODE 4 - 26 FEBRUARI 2013

STRATEGI PENINGKATAN SOSIALISASI

PUSAT INFORMASI OBAT DAN MAKANAN

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Apoteker

OLEH :

YOGA OCTA PERDANA, S.Farm.

1206313904

ANGKATAN LXXVI

FAKULTAS FARMASI

PROGRAM PROFESI APOTEKER

DEPOK

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB I PENDAHULAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan ... 2

BAB II TINJAUAN UMUM ... 3

2.3 Komunikasi ... 4

2.5 Tujuan Komunikasi ... 5

2.6 Komunikasi Kesehatan ... 6

2.7 Tujuan Komunikasi Kesehatan ... 6

2.8 Manfaat Komunikasi Kesehatan ... 7

2.9 Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Menyampaikan Informasi ... 7

BAB III TINJAUAN KHUSUS ... 8

3.1 Sosialisasi PIOM Secara Umum... 8

3.2 Sosialisasi PIOM ke Mahasiswa... 10

3.3 Sosialisasi PIOM ke Tenaga Kesehatan ... 13

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ... 15

4.1 Kesimpulan ... 15

4.2 Saran ... 15

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Saat ini orientasi paradigma pelayanan kefarmasian telah bergeser dari pelayanan obat (drug oriented) menjadi pelayanan pasien (patient oriented) dengan mengacu kepada Pharmaceutical Care. Salah satu bentuk pelayanan kefarmasian yang sangat penting adalah pelayanan informasi obat. Pelayanan informasi obat sangat berguna bagi pasien untuk mengetahui penggunaan obat yang tepat dalam swamedikasi, mengetahui cara kerja obat, cara pemakaian obat, dan efek sampingnya sehingga dapat mengoptimalkan terapi obat, dan mencegah terjadinya kesalahan penggunaan obat, serta mengurangi risiko terjadinya reaksi obat yang tidak diinginkan (Departemen Kesehatan RI, 2006).

Keberadaan Pusat Informasi Obat dan Makanan (PIOM) Badan POM sebagai unit pendukung pelaksanaan pengawasan Obat dan Makanan yang memberikan pelayanan informasi obat dan keracunan melalui teknologi informasi menjadi tempat bagi para apoteker dalam menjalankan pelayanan informasi obat dan sebagai sarana untuk meningkatkan kompetensinya. Layanan PIOM tidak hanya diberikan kepada masyarakat umum saja, tetapi juga tenaga kesehatan, seperti apoteker, dokter dan perawat. Sayangnya, tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan dan fungsi PIOM, termasuk apoteker dan mahasiswa program profesi apoteker. Hal ini disebabkan oleh kurangnya informasi mengenai PIOM yang disampaikan kepada mereka. Karena itulah penulis merasa masalah sosialisasi PIOM ke kalangan umum, kalangan mahasiswa kesehatan, dan kalangan tenaga kesehatan perlu mendapat perhatian khusus.

Sejauh ini PIOM Badan POM sudah melaksanakan kegiatan sosialisasi melalui pembuatan produk informasi berupa Buletin InfoPOM, leaflet, dan poster yang disebarkan ke balai-balai POM seluruh Indonesia. Sosialisasi langsung ke masyarakat dilakukan melalui seminar, pameran, workshop, dan penyuluhan langsung ke sekolah, ibu rumah tangga, tim penggerak PKK, ibu-ibu majelis taklim,

karyawan industri rumah tangga. Selain itu, dilakukan juga sosialisasi tidak langsung melalui pengunggahan produk informasi dan artikel di subsite PIOM. Untuk memudahkan masyarakat dalam mendapatkan pelayanan informasi, juga dibentuk contact center yang dapat dihubungi melalui sms, e-mail, dan telepon. Talkshow di radio juga pernah dilakukan untuk mensosialisasikan PIOM (Badan POM RI, 2011). Namun, usaha sosialisasi yang telah dilakukan ini dirasa masih belum cukup.

Apabila informasi mengenai PIOM tersebar luas dengan baik, masyarakat umum dapat memanfaatkan PIOM sebagai tempat bertanya untuk membantu menyelesaikan permasalahan terkait informasi obat dan keracunan. Hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan masyarakat untuk melakukan swamedikasi obat dan penanganan keracunan. Keberhasilan penyebaran informasi mengenai PIOM diharapkan dapat membantu apoteker dan tenaga kesehatan lainnya dalam merawat pasien, dan meningkatkan kompetensi mereka.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka pada peserta PKPA di PIOM kali ini diberi tugas untuk merekomendasikan strategi peningkatan sosialisasi agar PIOM lebih dikenal secara luas.

1.2 Tujuan

Tugas khusus ini dilakukan sebagai salah satu syarat penilaian pelaksanaan praktek kerja profesi apoteker di Badan POM RI dan agar mahasiswa peserta PKPA dapat merekomendasikan strategi peningkatan sosialisasi PIOM.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Informasi Obat

Informasi obat adalah setiap data atau pengetahuan objektif, diuraikan secara ilmiah dan terdokumentasi mencakup farmakologi, toksikologi, dan penggunaan terapi obat. Informasi obat mencakup, tetapi tidak terbatasi pada pengetahuan, seperti nama kimia, struktur, dan sifat-sifat, identifikasi, indikasi diagnostik atau indikasi terapi, ketersediaan hayati, bioekivalen, toksisitas, mekanisme kerja, waktu mulai kerja dan durasi kerja, dosis dan jadwal pemberian, dosis yang direkomendasikan, konsumsi, absorbsi, metabolisme, detoksifikasi, ekskresi, efek samping, reaksi merugikan, kontraindikasi, interaksi, harga, tanda, gejala, dan pengobatan toksisitas, efikasi klinik, data komparatif, data klinik, data penggunaan obat, dan setiap informasi lain yang berguna dalam diagnosis, dan pengobatan penderita dengan obat.

Menurut Society of Hospital Pharmacist of Australia (SHPA), informasi obat adalah informasi tertulis dan verbal atau saran tentang obat dan terapi obat sebagai tanggapan atas permintaan/pertanyaan dari tenaga kesehatan lain, organisasi, komite, pasien, atau anggota masyarakat. Informasi ini dapat berkaitan dengan pasien spesifik (tertentu) atau mengandung informasi umum untuk mempromosikan penggunaan obat yang aman dan efektif (SHPA, 1999). Kebutuhan informasi obat untuk praktisi pelayanan kesehatan bervariasi sesuai dengan pratiknya. Karakteristik informasi obat berdasarkan persyaratan klinis sebagai berikut :

a. Informasi harus spesifik bagi penderita yang sedang ditangani

b. Informasi harus disuplai segera jika hendak mengubah keputusan penulisan resep.

2.2. Pelayanan Informasi Obat

Pelayanan informasi obat didefinisikan sebagai kegiatan penyediaan dan pemberian informasi, rekomendasi obat yang independen, akurat, komprehensif, terkini oleh apoteker kepada pasien, masyarakat maupun pihak yang memerlukan di rumah sakit. Pelayanan informasi obat meliputi penyediaan, pengolahan, penyajian, dan pengawasan mutu data/informasi obat dan keputusan profesional. Penyediaan informasi obat meliputi tujuan, cara penyediaan, pengolahan, dan pengawasan mutu data/informasi obat. Sasaran pelayanan informasi obat adalah pasien dan keluarganya, tenaga kesehatan (seperti dokter, dokter gigi, apoteker, perawat, dan bidan), serta pihak lain (seperti pihak manajemen, tim kepanitiaan klinik, dan lain-lain). Tujuan dari pelayanan informasi obat antara lain adalah :

a. Menunjang ketersediaan dan penggunaan obat yang rasional, berorientasi kepada pasien, tenaga kesehatan, dan pihak lain.

b. Menyediakan dan memberikan informasi obat kepada pasien, tenaga kesehatan, dan pihak lain.

c. Menyediakan informasi untuk membuat kebijakan kebijakan yang berhubungan dengan obat terutama bagi Panitia Farmasi dan Terapi/Komite Farmasi dan Terapi (Departemen Kesehatan RI, 2006).

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 50-79)

Dokumen terkait