• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 40-98)

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

1. Kegiatan-kegiatan binwasdal sarana farmasi, makanan, dan minuman yang telah dilakukan perlu ditingkatkan lagi dalam rangka sosialisasi informasi dan untuk meningkatkan kesadaran serta pengetahuan tenaga kesehatan dan pemilik sarana kesehatan.

2. Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Selatan perlu memiliki website yang interaktif dan menarik untuk media penyampaian informasi pelayanan, kebijakan, maupun kegiatan Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan. 3. Perlunya penambahan penempatan apoteker di Puskesmas Kecamatan terutama Puskesmas dengan jumlah pelayanan resep yang tinggi sehingga tercapainya pelayanan kefarmasian yang optimal.

4. Sebaiknya terdapat SDM yang kompeten dan tepat terkait pembuatan laporan LPLPO di Puskesmas Kelurahan dan Kecamatan agar pelaporan dapat dijalankan secara online untuk mengatasi keterlambatan yang masih sering terjadi.

DAFTAR ACUAN

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2003). Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Nomor HK.00.05.5.1640 tentang Pedoman Tata Cara Penyelenggaraan Sertifikasi Produksi Pangan Industri Rumah Tangga. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1972). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 167 Tahun 1972 tentang Pedagang Eceran Obat. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1990). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 246 Tahun 1990 tentang Izin Usaha Industri Obat Tradisional dan Pendaftaran Obat Tradisional. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2002a). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1331 Tahun 2002 tentang: Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 167 Tahun 1972 tentang Pedagang Eceran Obat. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2002b). Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1332 Tahun 2002 tentang: Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 922 Tahun 1993 tentang: Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2006). Petunjuk Teknis Cara Distribusi Alat Kesehatan yang Baik. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2007). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 284 tahun 2007 tentang Apotek Rakyat. Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Peraturan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia Nomor 1191 Tahun 2010 tentang penyaluran alat kesehatan. Jakarta.

Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. (2010). Materi Pelatihan Manajemen Kefarmasian di Instalasi Farmasi Kabupaten/ Kota. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Gubernur Provinsi DKI Jakarta. (2008) Peraturan Daerah DKI Jakarta No. 10 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Jakarta: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. (2008). Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 10 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Jakarta.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. (2009a). Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 4 Tahun 2009 tentang Sistem Kesehatan Daerah. Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. (2009b). Peraturan Gubernur Provinsi DKI

Jakarta Nomor 150 Tahun 2009 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Dinas Kesehatan. Jakarta.

Pemerintah Republik Indonesia. (1998). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1998 tentang pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan. Jakarta.

Pemerintah Republik Indonesia. (2000). Peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Otonom. Jakarta.

Pemerintah Republik Indonesia. (2004). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Jakarta.

Pemerintah Republik Indonesia. (2007). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Jakarta.

Pemerintah Republik Indonesia. (2009a). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Jakarta.

Pemerintah Republik Indonesia. (2009b). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta.

Lampiran 1. Struktur organisasi Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Kota Administasi Jakarta Selatan

Lampiran 2. Formulir Permohonan Surat Izin Apotek

Lampiran 10. Formulir Permohonan Sertifikasi Produksi Pangan

Pesanggrahan tahun 2011

No Jenis penyakit Persentase

Jumlah Persentase 1 Infeksi Akut Lain Pernafasan

Atas

22.152 37,37

2 Peny. Pulpa & jar. Periapikal 7.467 12,60

3 Peny. Lainnya 6.717 11,33

4 Peny. Darah Tinggi 5.726 9,66

5 Peny. Pada Sistem Otot & jar. Pengikat

4.044 6,82

6 Peny. Kulit Infeksi 3.377 5,70

7 Gangguan Gigi dan Jar. Penyangga lain

2.901 4,89

8 Ginggivitis dan Penyakit Periodental

2.535 4,28

9 Tonsilitis 2.363 3,99

10 Diare (Termasuk Tersangka Kolera)

1.990 3,36

Jumlah 59.272 100,00

Keterangan:

a. Kepala dinas kesehatan provinsi berkoordinasi dengan kepala dinas kesehatan kabupaten/kota untuk membentuk tim pemeriksa dan membuat Berita Acara Pemeriksaan dengan menggunakan Formulir 2.

b. Apabila telah memenuhi persyaratan, kepala dinas kesehatan kabupaten/kota setelah menerima hasil pemeriksaan tim pemeriksa bersama meneruskan kepada kepala dinas kesehatan provinsi dengan menggunakan Formulir 3. **Bila pemeriksaan tidak dilaksanakan pada waktunya, pemohon dapat membuat surat siap melaksanakan kegiatan kepada kepala dinas kesehatan provinsi dengan menggunakan Formulir 4.

c. Setelah melakukan pemeriksaan, kepala dinas kesehatan provinsi dapat mengeluarkan izin cabang PAK, penundaan atau penolakan permohonan izin Cabang PAK dengan menggunakan Formulir 5 dan 6 .

d. Pemohon diberikan waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi sejak diterbitkan surat penundaan.

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

BERITA ACARA PEMERIKSAAN PEDAGANG ECERAN

OBAT

NURUL HASANAH, S.Farm.

1206313463

ANGKATAN LXXVI

FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER

DEPOK JUNI 2013

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR LAMPIRAN ... iii BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan... 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 3 2.1 Definisi Pedagang Eceran Obat ... 3 2.2 Dasar Hukum ... 3 2.3 Perizinan Pedagang Eceran Obat ... 4 2.4 Penanggung Jawab PEO ... 5 2.5 Ketentuan dalam Pendirian PEO ... 7 2.6 Berita Acara Pemeriksaan ... 8 BAB III METODOLOGI PENGKAJIAN ... 9 3.1 Lokasi dan Waktu Pengkajian ... 9 3.2 Metode Pengkajian data………. .. 9 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN………. 10 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan ... 15 5.2 Saran ... 15 DAFTAR PUSTAKA………. .. 16

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Alur Penerbitan Izin PEO ... 17 Lampiran 2. Formulir BAP Sarana PEO ... 19 Lampiran 3. Formulir BAP BINWASDAL PEO ... 21

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan dalam pelayanan kesehatan adalah dalam rangka pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal (UU No. 36 Tahun 2009). Peningkatan kesadaran masyarakat akan hidup sehat sejalan dengan peningkatan kebutuhan pelayanan dan pemerataan yang mencakup tenaga, sarana dan prasarana. Salah satu komponen yang tidak bisa terlepas dalam upaya pembangunan kesehatan adalah sarana kesehatan.

Sarana kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan (UU Bidang Hukum dan Sosial Budaya. Kesehatan, psikotropika dan narkotika Tahun 2003). Sarana kesehatan yang terkait dengan pelayanan kefarmasian diantaranya adalah Apotek dan Toko Obat (Pedagang Eceran Obat). Perbedaan diantara keduanya terletak pada pelayanan kefarmasian yang dapat diberikan. Pada Toko Obat menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1331 Tahun 2002, disebutkan bahwa Toko Obat tidak boleh meracik dan melayani resep dokter, serta hanya boleh menjual obat bebas dan obat bebas terbatas. Perbedaan lainnya terletak pada penanggung jawab dari sarana tersebut, yakni Asisten Apoteker sebagai penanggung jawab dari Toko Obat dan Apoteker sebagai penanggung jawab dari Apotek.

Setiap sarana kesehatan yang akan dibangun di suatu daerah harus mengurus perizinan ke pemerintah setempat, tidak terkecuali Toko Obat. Perizinan adalah salah satu bentuk pelaksanaan fungsi pengaturan dan pengendalian yang dimiliki pemerintah terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan provinsi sebagai daerah otonomi, disebutkan bahwa sarana kesehatan menjadi kewenangan dari dinas kesehatan kabupaten/ kota.

Untuk Provinsi DKI Jakarta, yang dimaksud dengan dinas kesehatan kabupaten/ kota setara dengan suku dinas kesehatan kota administratif.

Tujuan perizinan terhadap sarana kesehatan adalah untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari praktik pemberian pelayanan kesehatan yang tidak memenuhi standar atau tidak bermutu, agar tidak membahayakan keselamatan dan kesehatan. Tujuan lain dari perizinan sarana kesehatan seperti Toko Obat yakni untuk mengawasi obat-obat yang boleh dan tidak boleh diperjualbelikan di Toko Obat, akan tetapi harus di Apotek. Bagi pemohon yang ingin mngajukan permohonan izin, baik perizinan baru ataupun perubahan perizinan (pindah, pergantian penanggung jawab, perpanjangan) harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kota setempat (UU No. 36 Tahun 2009; Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 920/Menkes/PER/XII/1986). Salah satu komponen penting dalam proses perizinan sarana kesehatan yakni inspeksi atau peninjauan oleh regulator terhadap pemohon dan semua hal yang terkait dengan sarana yang akan didirikan. Sarana kesehatan memiliki krieria yang berbeda dalam penilaian untuk mendapatkan perizinan. Kriteria apa saja yang dinilai dari suatu pemeriksaan tercantum dalam berita acara pemeriksaan (BAP). Oleh karena itu, perlu diketahui mengenai BAP dalam peninjauan sarana pelayanan kefarmasian khususnya PEO yang dilakukan oleh Farmakmin (Sub Seksi SDK Sudinkes Jakarta Selatan) dalam rangka melakukan fungsi pembinaan, pengawasan dan pengendalian terhadap sarana pelayanan kefarmasian.

1.2 Tujuan

Pelaksanaan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Selatan Seksi Sumber Daya Kesehatan, terutama di Sub Seksi Farmasi Makanan dan Minuman, bertujuan agar mahasiswa calon apoteker:

1. Mengetahui tentang Pedagang Eceran Obat (PEO)

2. Mengetahui berkas apa saja yang diperlukan dalam pengajuan permohonan izin

PEO

3. Mengetahui tentang BAP sarana PEO dan kesesuaiannya dengan peraturan

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Pedagang Eceran Obat (PEO)

Sediaan Farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika. Obat adalah bahan atau paduan bahan yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki system fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit, pemulihan, dan peningkatan kesehatan termasuk kontrasepsi dan sediaan biologis. Sedangkan perdagangan dalam peredaran sediaan farmasi dan alat kesehatan adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka penjualan dan/ atau pembelian sediaan farmasi dan alat kesehatan dan kegiatan lain berkenaan dengan pemindahtanganan sediaan farmasi dan alat kesehatan dengan memperoleh imbalan.

Pedagang eceran obat yang selanjutnya disingkat PEO adalah Orang atau Badan Hukum Indonesia yang memiliki izin untuk menyimpan obat-obat bebas dan obat-obat bebas terbatas (daftar W) untuk dijual secara eceran di tempat tertentu sebagaimana tercantum dalam surat izin. Pedagang eceran obat dapat berupa Perusahaan Negara, Perusahaan Swasta atau Perorangan. Penjualan obat-obatan oleh PEO dilakukan secara eceran dan masih dalam bentuk bungkusan dari pabrik yang membuatnya. PEO berkewajiban untuk menjaga agar obat-obat yang dijual bermutu baik dan berasal dari pabrik-pabrik farmasi atau pedagang besar farmasi (PBF) yang mendapat izin dari Menteri Kesehatan. Setiap PEO wajib mempekerjakan seorang Asisten Apoteker sebagai penanggung jawab teknis farmasi.

2.2 Dasar Hukum

Terdapat beberapa undang-undang, peraturan pemerintah dan peraturan Menteri Kesehatan yang menjadi dasar hukum terkait pedagang eceran obat (PEO), yakni

1. Undang-undang Obat Keras (St. 1937 No.541);

3. Undang-undang No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika;

4. Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah;

5. Undang-undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara

Pemerintah Pusat dan Daerah;

6. Undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;

7. Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1980 tentang Perubahan atas Peraturan

No. 26 Tahun 1965 tentang Apotik;

8. Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1966 tentang Tenaga Kesehatan;

9. Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan

Farmasi dan Alat Kesehatan;

10. Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Provinsi

sebagai Daerah Otonomi;

11. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1331 Tahun 2002 tentang Perubahan

atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 167 Tahun 1972, tentang Pedagang Eceran Obat.

2.3 Perizinan Pedagang Eceran Obat (PEO) (Kepmenkes RI No. 1331 Tahun

2002 tentang Pedagang Eceran Obat)

Dalam pendirian pedagang eceran obat oleh suatu perusahaan ataupun perorangan harus melalui perizinan dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota setempat. Untuk Provinsi DKI Jakarta, perizinan dikeluarkan oleh Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota Administratif tempat PEO tersebut akan didirikan. Setiap penerbitan izin PEO, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota harus menyampaikan tembusan kepada Menteri Kesehatan, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi serta Kepala Balai POM setempat. Adanya regulasi yang mengatur keberadaan dan perizinan PEO dimaksudkan untuk memberikan pembinaan, pengawasan dan pengendalian terhadap pelayanan di bidang kesehatan. Tujuan tersebut didasarkan pada upaya perlindungan masyarakat dari pelayanan di bidang kesehatan yang tidak memenuhi standar.

Pengajuan permohonan izin PEO harus diajukan secara tertulis dengan melampirkan beberapa hal, yaitu

b. Nama dan alamat pemohon

c. Nama dan alamat Asisten Apoteker

d. Foto kopi Ijazah, Surat Penugasan, dan Surat Izin Kerja Asisten Apoteker e. Surat pernyataan kesediaan bekerja asisten apoteker sebagai penanggung jawab

teknis.

Alur perizinan yang harus dilakukan oleh pemohon hingga diterbitkannya surat izin oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota dapat dilihat pada Lampiran.

Surat izin PEO hanya berlaku selama dua tahun. Jika pemohon ingin memperpanjang izinnya, pengurusan perpanjangan izin harus dilakukan tiga bulan sebelum masa berlaku izin sebelumnya habis. Surat izin PEO harus diperbaharui apabila Asisten Apoteker (AA) sebagai penanggung jawab meninggal dunia, berhenti atau beralih pada AA yag baru; toko obat pindah tempat/ lokasi; toko obat berubah nama; dan penggantian pemilik sarana.

Terjadinya pelanggaran peraturan oleh PEO ataupun Asisten Apoteker sebagai penanggung jawabnya dapat dikenakan sanksi pencabutan izin. Pencabutan izin PEO hanya dapat dilakukan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota. Apabila terjadi pembatalan atau pencabutan izin, pemilik izin tersebut harus segera mengembalikan surat izin Toko Obat-nya kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota setempat.

2.4 Penanggung Jawab PEO (Permenkes No. 889/MENKES/PER/V/2011)

Dalam perizinan sarana, salah satu berkas yang dilampirkan yakni ijazah, dan SIK bagi asisten apoteker sebagai penangggung jawab PEO. Untuk memperoleh SIK terlebih dahulu seorang AA harus memiliki STRTTK. AA yang ingin mengurus STRTTK harus memenuhi persyaratan:

a. Memiliki ijazah sesuai dengan pendidikannya;

b. Memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki

surat izin praktik;

c. Memiliki rekomendasi tentang kemampuan dari Apoteker yang telah memiliki

STRA, atau pimpinan institusi pendidikan lulusan, atau organisasi yang menghimpun Tenaga Teknis Kefarmasian; dan

d. Membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika kefarmasian.

Untuk memperoleh STRTTK, Tenaga Teknis Kefarmasian harus mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi. Dalam mengajukan permohonan STRTTK harus melampirkan:

a. Fotokopi ijazah Sarjana Farmasi atau Ahli Madya Farmasi atau Analis Farmasi

atau Tenaga Menengah Farmasi/ Asisten Apoteker.

b. Surat keterangan sehat fisik dan menta dari dokter yang memiliki surat ijin

praktik

c. Surat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika

kefarmasian

d. Surat rekomendasi kemampuan dari Apoteker yang telah memiliki STRA, atau

pimpinan institusi pendidikan lulusan, atau organisasi yang menghimpun Tenaga Teknis Kefarmasian

e. Pas foto terbaru berwarna ukuran 4x6 cm sebanyak dua lembar dan ukuran 2x3

cm sebanyak dua lembar.

Registrasi ulang harus dilakukan minimal enam bulan sebelum STRTTK habis masa berlakunya. STRTTK dapat dicabut karena permohonan dari yang bersangkutan, STRTTK tidak lagi memenuhi persyaratan baik fisik dan mental untuk menjalankan pekerjaan kefarmasian berdasarkan surat keterangan dokter, melakukan pelanggaran disiplin tenaga kefarmasian, dan melakukan pelanggaran hukum di bidang kefarmasian yang dibuktikan dengan putusan pengadilan. Pencabutan STRTTK disampaikan kepada pemilik STRTTK dengan tembusan kepada Direktur Jenderal, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota dan organisasi yang menghimpun Tenaga Teknis Kefarmasian.

Untuk memperoleh SIKTTK, Tenaga Teknis Kefarmasian mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota tempat pekerjaan kefarmasian. Permohonan SIKTTK harus melampirkan :

a. Fotokopi STRTTK

b. Surat pernyataan Apoteker atau pimpinan tempat pemohon melaksanakan

c. Surat rekomendasi dari organisasi yang menghimpun Tenaga Teknis Kefarmasian

d. Pas foto berwarna ukuran 4x6 cm sebanyak dua lembar dan 3x4 cm sebanyak

dua lembar.

Dalam pengajuan permohonan SIKTTK harus dinyatakan secara tegas permintaan SIKTTK tersebut untuk tempat pekerjaan kefarmasian pertama, kedua atau ketiga.

2.5 Ketentuan dalam Pendirian PEO

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 1331 Tahun 2002 dikatakan bahwa PEO dilarang menerima atau melayani resep dokter. Dengan adanya larangan tersebut maka dibuatlah beberapa ketentuan, diantaranya

a. Pedagang eceran obat harus memasang papan dengan tulisan “Toko Obat

Berijin” tidak menerima resep dokter. Papan ini harus mudah dilihat dan dibagian bawah pojok kanan harus dicantumkan nomor izin yang diterbitkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota.

b. Tulisan pada papan tersbut harus berwarna hitam diatas dasar putih. Kemudian,

tinggi huruf minimal 5 cm dan tebalnya minimal 5 mm.

c. Ukuran papan tersebut minimal 60 cm x 40 cm.

Dalam peraturan yang sama, pedagang eceran obat sebagai toko obat berizin dilarang membuat/ meracik obat atau membungkus kembali obat. Sehingga obat-obat yang diizinkan untuk dijual oleh toko obat-obat ini harus masih dalam kemasan pabrik pembuatnya dan dijual secara eceran. Untuk obat-obat bebas terbatas (daftar W) terdapat ketentuan harus disimpan dalam lemari khusus dan tidak boleh dicampur dengan penyimpanan obat-obat atau alat kesehatan lain. Larangan lainnya dalam pendirian PEO adalah tidak boleh memasang nama yang sama atau menyerupai nama apotek, pabrik farmasi atau PBF. Hal tersebut untuk menghindari timbulnya kesan yang salah oleh masyarakat seperti seakan-akan Toko Obat tersebut adalah sebuah apotek atau terkait dengan apotek, pabrik farmasi atau PBF.

2.6 Berita Acara Pemeriksaan (BAP)

Berita acara pemeriksaan merupakan lembar bukti hasil peninjauan yang dilakukan tim inspeksi/peninjau terhadap objek inspeksi yang dapat berupa sarana maupun pemilik sarana. Isi dari lembar BAP berbeda-berbeda tergantung sarana dan kriteria seperti apa yang dijadikan standar pemenuhan persyaratan oleh regulator.

BAB 3

METODOLOGI PENGKAJIAN

3.1 Waktu dan Tempat

Pengambilan data dilakukan di Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan Seksi Sumber Daya Kesehatan Sub-Seksi Farmasi Makanan dan Minuman dari tanggal 7 Januari 2012 sampai 25 Januari 2012.

3.2 Metode Pengkajian

Data Metode yang digunakan untuk mengkaji regulasi perizinan dan BAP saat peninjauan adalah melalui penelusuran literatur (studi pustaka).

BAB 4 PEMBAHASAN

Pedagang eceran obat atau toko obat berizin merupakan salah satu sarana pelayanan kefarmasian yang saat ini banyak terdapat di masyarakat. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan hidup sehat menjadikan pengetahuan masyarakat mengenai pengobatan juga meningkat, seperti swamedikasi. Toko obat dapat menjadi sarana untuk masyarakat dapat melakukan swamedikasi yakni dengan menjual obat-obat bebas dan obat bebas terbatas. Namun, pelayanan toko obat terbatas hanya dengan menjual obat-obat tersebut dan dilarang untuk melayani resep dokter (Kemenkes, 2002).

Untuk melaksanakan salah satu fungsi preventif dalam pelayanan kesehatan terhadap masyarakat dibuat suatu regulasi perizinan terhadap setiap toko obat yang akan didirikan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan provinsi sebagai daerah otonom, disebutkan bahwa sarana kesehatan menjadi kewenangan dari dinas kesehatan kabupaten/ kota. Oleh karena itu, setiap toko obat yang akan didirikan di DKI Jakarta harus melalui pengajuan perizinan ke Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota Administratif daerah tempat toko obat tersebut akan dibuat, misalnya toko obat akan didirikan di daerah Jakarta Selatan maka pengajuan perizinan melalui Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan.

Alur penerbitan surat izin pedagang eceran obat (PEO) di Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Selatan dapat dilihat pada lampiran. Dari bagan lampiran terlihat bahwa proses pengajuan berkas permohonan izin diawali dengan pengisian formulir dan penyerahan berkas ke bagian pelayanan terpadu (Yandu) yang berada di Kantor Walikota Jakarta Selatan. Setelah formulir diisi dan diterima oleh petugas pelayanan terpadu, selanjutnya dilakukan verifikasi awal dengan memeriksa kelengkapan berkas sesuai persyaratan yang telah ditetapkan. Saat berkas dianggap lengkap oleh petugas, kemudian dilakukan pencatatan di buku register pelayanan terpadu dan pencetakan tanda terima untuk diberikan kepada pemohon. Setelah itu, petugas pelayanan terpadu menyerahkan berkas ke Sub Bagian TU. Pada Sub Bagian TU dilakukan pencatatan di buku

register surat masuk dan berkas permohonan yang diterima akan dimasukkan ke Kepala Sudinkes untuk mendapatkan disposisi terhadap permohonan, lalu menyerahkan ke seksi SDK dengan melampirkan lembar disposisi.

Pada seksi SDK, berkas permohonan diperiksa ulang untuk dilakukan verifikasi kedua. Apabila pada tahap ini ditemukan ada berkas yang tidak lengkap, maka akan diinformasikan kepada pemohon untuk melengkapi pada saat peninjauan lapangan. Pencatatan kembali dilakukan pada tahap ini, yakni di buku register seksi dan buku register bagian Sub Seksi Farmasi Makanan dan Minuman (Farmakmin). Selanjutnya dilakukan koordinasi dengan bagian Farmakmin untuk melakukan pemeriksaan/ peninjauan sarana sesuai dengan surat tugas yang telah ditandatangani oleh Kepala Suku Dinas Kesehatan. Dalam peninjauan sebagai persyaratan untuk memperoleh izin PEO oleh tim dari Sub Seksi SDK Farmakmin, petugas terkait akan membawa seluruh dokumen dalam rangka

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 40-98)

Dokumen terkait