• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 65-138)

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.2. Saran

Saran yang dapat diberikan adalah:

a. Peningkatan kompetensi petugas melalui pengikutsertaaan pada seminar atau pelatihan yang berkaitan dengan tugas dan fungsinya masing-masing.

b. Penambahan sarana dan prasarana, seperti komputer dan printer.

c. Implementasi sistem manajemen mutu berdasarkan ISO 9001:2008 yang telah dijalankan saat ini harus dipertahankan, bahkan ditingkatkan lagi di masa yang akan datang.

DAFTAR REFERENSI

Undang No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. (2009). Undang-Undang No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.

Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. (2009). Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.

Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. (2009). Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.

Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Kesehatan. (1999). Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Kesehatan. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.

Undang No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. (1997). Undang-Undang No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.

Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonomi. (2000). Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom Presiden RI. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.

Keputusan Menteri Kesehatan No. 092 / MENKES / SK / II / 2012 tentang Harga Eceran Tertinggi. (2012). Keputusan Menteri Kesehatan No. 092 / MENKES / SK / II / 2012 tentang Harga Eceran Tertinggi. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Keputusan Menteri Kesehatan No. 889 / MENKES / Per / V / 2011 tentang Registrasi, Izin Praktik, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian. (2011). Keputusan Menteri Kesehatan No. 889 / MENKES / Per / V / 2011 tentang Registrasi, Izin Praktik, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Peraturan Menteri Kesehatan No. 2052 / MENKES / Per / X / 2011 tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran. (2011). Peraturan Menteri Kesehatan No. 2052 / MENKES / Per / X / 2011 tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Keputusan Menteri Kesehatan No. 1191 / MENKES / Per / VIII / 2010 tentang Penyaluran Alat Kesehatan. (2010). Keputusan Menteri Kesehatan No. 1191 / MENKES / Per / VIII / 2010 tentang Penyaluran Alat Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Peraturan Menteri Kesehatan No 284 / MENKES / PER / III / 2007 tentang Apotek Rakyat. (2007). Peraturan Menteri Kesehatan No. 284 / MENKES / PER / III / 2007 tentang Apotek Rakyat. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Keputusan Menteri Kesehatan No. 1202 / MENKES / SK / VIII / 2003 tentang Indikator Indonesia Sehat 2010. (2003). Keputusan Menteri Kesehatan No. 1202 / MENKES / SK / VIII / 2003 tentang Indikator Indonesia Sehat 2010. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Peraturan Menteri Kesehatan No. 1332 / MENKES / SK / X / 2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. (2002). Peraturan Menteri Kesehatan No. 1332 / MENKES / SK /X / 2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Peraturan Menteri Kesehatan No. 142 / MENKES / PER / III / 1991 tentang Penyalur Alat Kesehatan. (1991). Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 142 / MENKES / PER / III / 1991 tentang Penyalur Alat Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Peraturan Menteri Kesehatan No. 246 / MENKES / PER / V / 1990 tentang Izin Usaha Industri Kecil Obat Tradisional dan Pendaftaran Obat Tradisional. (1990). Peraturan Menteri Kesehatan No. 246 / MENKES / PER / V / 1990 Tentang Izin Usaha Industri Kecil Obat Tradisional dan Pendaftaran Obat Tradisional. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Peraturan Gubernur Propinsi DKI Jakarta No. 114 Tahun 2011 tentang Unit Pelayanan Terpadu Satu Atap. (2011). Peraturan Gubernur Propinsi DKI Jakarta No. 114 Tahun 2011 tentang Unit Pelayanan Terpadu Satu Atap. Jakarta : Pemerintah Propinsi DKI Jakarta.

Peraturan Gubernur Propinsi DKI Jakarta No. 150 Tahun 2009 tentang Tugas Pokok dan Fungsi Suku Dinas Kesehatan. (2009). Peraturan Gubernur Propinsi DKI Jakarta No. 150 Tahun 2009 tentang Tugas Pokok dan Fungsi Suku Dinas Kesehatan. Jakarta : Pemerintah Propinsi DKI Jakarta.

Peraturan Daerah DKI Jakarta No.4 Tahun 2009 tentang Sistem Kesehatan Daerah. (2009). Peraturan Daerah DKI Jakarta No.4 Tahun 2009 tentang Sistem Kesehatan Daerah. Jakarta: Pemerintah Propinsi DKI Jakarta.

Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta. (2009). Pedoman Perizinan Sarana Farmasi, Makanan, dan Minuman Propinsi DKI Jakarta. Jakarta: Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur.

Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta. (2002). Pedoman Perizinan Sarana Farmasi, Makanan, dan Minuman Propinsi DKI Jakarta. Jakarta : Suku Dinas Kesehatan Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta.

Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur. (2009). Dokumen Sistem Manajemen Mutu Sudinkes Kodya Jakarta Timur Tahun 2009;Deskripsi Kerja Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur. Jakarta: Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur.

UNIVERSITAS INDONESIA

TUGAS KHUSUS

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI SUKU DINAS KESEHATAN KOTA ADMINISTRASI

JAKARTA TIMUR

JL. MATRAMAN RAYA NO. 218

PERIODE 7 JANUARI - 28 JANUARI 2013

UJI COBA SOFTWARE SIPNAP TERBARU UNTUK

PELAPORAN PSIKOTROPIKA DI SUKU DINAS

KESEHATAN JAKARTA TIMUR BULAN OKTOBER DAN

NOVEMBER 2012

MERRIE NATALIA, S.Farm.

1206313356

ANGKATAN LXXVI

FAKULTAS FARMASI

PROGRAM PROFESI APOTEKER

DEPOK

UNIVERSITAS INDONESIA

TUGAS KHUSUS

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI SUKU DINAS KESEHATAN KOTA ADMINISTRASI

JAKARTA TIMUR

JL. MATRAMAN RAYA NO. 218

PERIODE 7 JANUARI - 28 JANUARI 2013

UJI COBA SOFTWARE SIPNAP TERBARU UNTUK

PELAPORAN PSIKOTROPIKA DI SUKU DINAS

KESEHATAN KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

BULAN OKTOBER DAN NOVEMBER 2012

MERRIE NATALIA, S.Farm.

1206313356

ANGKATAN LXXVI

FAKULTAS FARMASI

PROGRAM PROFESI APOTEKER

DEPOK

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas

berkat dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Timur. Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan guna menyelesaikan pendidikan Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Indonesia. Pada penulisan laporan ini, penulis tidak terlepas dari bimbingan, arahan, bantuan, serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Drs. Mawardinur, Apt., selaku pembimbing PKPA dan Kepala Seksi Sumber Daya Kesehatan yang telah membimbing dan memberikan bantuan kepada penulis selama PKPA berlangsung.

2. Dr. Fadlina Chany Saputri, M.Si., Apt., selaku pembimbing PKPA dari Fakultas Farmasi yang telah membantu dan memberikan bimbingan, serta arahan selama PKPA berlangsung dan dalam penyusunan laporan ini.

3. Dr. Safaruddin, MARS selaku Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Timur yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melaksanakan PKPA.

4. Dra. Dian Sulistyowati, Apt., selaku Koordinator Farmasi Makanan dan Minuman yang telah memberikan bimbingan dan memberikan bantuan kepada penulis selama PKPA berlangsung.

5. drg. Margaretha S.D.W., selaku Koordinator Tenaga Kesehatan yang telah memberikan bimbingan dan memberikan bantuan kepada penulis selama PKPA berlangsung.

6. drg. Roselyne Tobing, selaku Koordinator Standarisasi Mutu Kesehatan yang telah memberikan bimbingan dan memberikan bantuan kepada penulis selama PKPA berlangsung.

7. Prof. Dr. Yahdiana Harahap, MS., Apt., selaku dekan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia.

8. Dr. Harmita, Apt., selaku ketua Program Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Indonesia yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan selama PKPA.

9. Seluruh staf Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Timur yang telah menerima dan membantu penulis selama melaksanakan kegiatan PKPA. 10. Seluruh staf pengajar dan tata usaha Fakultas Farmasi Universitas Indonesia. 11. Orang tua dan keluarga penulis yang selalu memberikan doa, serta dukungan

moral dan finansial kepada penulis.

12. Seluruh teman-teman mahasiswa Apoteker angkatan 76 yang telah berjuang bersama dalam menyelesaikan studi di Program Profesi Apoteker Universitas Indonesia.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pihak yang membaca. Penulis memohon maaf apabila ada kesalahan-kesalahan dalam laporan ini. Penulis berharap semoga pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama menjalani PKPA yang dituangkan dalam laporan ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang memerlukan.

Penulis 2013

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i HALAMAN JUDUL ... ii KATA PENGANTAR ... iii DAFTAR ISI ... v DAFTAR GAMBAR ... vi DAFTAR TABEL... vii DAFTAR LAMPIRAN ... ix BAB 1. PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Tujuan ... 2 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 4 2.1. Tugas Sumber Daya Kesehatan ... 4 2.2. Psikotropika ... 5 2.2.1. Definisi dan Penggolongan Psikotropika ... 5 2.2.2. Peredaran dan Pelaporan Penggunaan Psikotropika ... 6 2.3. Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika (SIPNAP) ... 7 BAB 3. METODOLOGI PENGKAJIAN SISTEM PELAPORAN DAN

DATA LAPORAN PENGGUNAAN PSIKOTROPIKA ... 12 3.1. Waktu dan Tempat Pengkajian ... 12 3.2. Metode Pengumpulan, Pengolahan, serta Pengkajian Data dan

Sistem ... 12 BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 14 4.1. Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika ... 14 4.2. Laporan Penggunaan Psikotropika ... 16 BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 31 5.1. Kesimpulan ... 31 5.2. Saran ... 32 DAFTAR REFERENSI ...33

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Tampilan awal website SIPNAP ... 8 Gambar 2.2. Tampilan saat akan memasukkan laporan penggunaan

psikotropika pada website SIPNAP ... 9 Gambar 2.3. Tampilan saat akan menyetujui pendaftaran unit

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1. Sepuluh psikotropika yang paling banyak digunakan pada sampel

unit pelayanan kesehatan (10 Puskesmas tingkat kecamatan, 10 Rumah Sakit, 25 Apotek) di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur pada bulan Oktober 2012 ... 17

Tabel 4.2. Sepuluh psikotropika yang paling banyak digunakan pada sampel

unit pelayanan kesehatan (10 Puskesmas tingkat kecamatan, 10 Rumah Sakit, 25 Apotek) di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur pada bulan November 2012 ... 18

Tabel 4.3. Sepuluh psikotropika yang paling banyak digunakan pada 10

Puskesmas tingkat kecamatan di wilayah Kota Administrasi

Jakarta Timur pada bulan Oktober 2012 ... 19 Tabel 4.4. Sepuluh psikotropika yang paling banyak digunakan pada 10

sampel Rumah Sakit di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur pada bulan Oktober 2012 ... 19

Tabel 4.5. Sepuluh psikotropika yang paling banyak digunakan pada 25

sampel Apotek di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur pada bulan Oktober 2012 ... 20 Tabel 4.6. Sepuluh psikotropika yang paling banyak digunakan pada 10

Puskesmas tingkat kecamatan di wilayah Kota Administrasi

Jakarta Timur pada bulan November 2012 ... 21

Tabel 4.7. Sepuluh psikotropika yang paling banyak digunakan pada 10

sampel Rumah Sakit di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur pada bulan November 2012 ... 21

Tabel 4.8. Sepuluh psikotropika yang paling banyak digunakan pada 25

sampel Apotek di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur pada bulan November 2012 ... 22

Tabel 4.9. Sepuluh dari sampel unit pelayanan kesehatan (10 Puskesmas

tingkat kecamatan, 10 Rumah Sakit, 25 Apotek) yang paling banyak menggunakan psikotropika di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur pada bulan Oktober 2012 ... 23 Tabel 4.10. Sepuluh dari sampel unit pelayanan kesehatan (10 Puskesmas

tingkat kecamatan, 10 Rumah Sakit, 25 Apotek) yang paling banyak menggunakan psikotropika di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur pada bulan November 2012 ... 24 Tabel 4.11. Sepuluh Puskesmas tingkat kecamatan yang paling banyak

menggunakan psikotropika di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur pada bulan Oktober 2012 ... 24 Tabel 4.12. Sepuluh dari 10 sampel Rumah Sakit yang paling banyak

menggunakan psikotropika di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur pada bulan Oktober 2012 ... 25 Tabel 4.13. Sepuluh dari 25 sampel Apotek yang paling banyak menggunakan

psikotropika di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur pada bulan Oktober 2012 ... 26

Tabel 4.14. Sepuluh Puskesmas tingkat kecamatan yang paling banyak menggunakan psikotropika di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur pada bulan November 2012 ... 26 Tabel 4.15. Sepuluh dari 10 sampel Rumah Sakit yang paling banyak

menggunakan psikotropika di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur pada bulan November 2012 ... 27 Tabel 4.16. Sepuluh dari 25 sampel Apotek yang paling banyak menggunakan

psikotropika di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur pada bulan November 2012 ... 28 Tabel 4.17. Tingkat kepatuhan unit pelayanan kesehatan dari semua sampel

unit pelayanan kesehatan (10 Puskesmas tingkat kecamatan, 10 Rumah Sakit, 25 Apotek) yang menggunakan psikotropika di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur pada bulan Desember 2012 ... 28

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Puskesmas, Rumah Sakit, dan Apotek yang data laporan

penggunaan psikotropikanya dijadikan sampel data. ... 34 Lampiran 2. Data Jumlah Penggunaan Psikotropika pada Bulan Oktober

dan November 2012 di 10 puskesmas tingkat kecamatan, 10 rumah sakit, dan 25 apotek ... 35 Lampiran 3. Format laporan psikotropika dari program SIPNAP ... 42 Lampiran 4. Absensi unit layanan dari program SIPNAP... 49

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1997 psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika sangat bermanfaat serta dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, ketersediaan psikotropika perlu dijamin oleh pemerintah. Akan tetapi, penggunaan psikotropika ini sering disalahgunakan oleh kelompok tertentu. Penggunaan psikotropika tanpa pengawasan dan petunjuk tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dan kewenangan tertentu dapat menyebabkan sindroma ketergantungan. Penyalahgunaan ini tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga berdampak pada bangsa dan negara. Penyalahgunaan ini juga mendorong adanya peredaran gelap. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan adanya pengendalian dan pengawasan terhadap penggunaan dan peredaran psikotropika (Pemerintah Republik Indonesia, 1997).

Pengendalian dan pengawasan terhadap penggunaan dan peredaran psikotropika dilakukan oleh pemerintah, baik pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Dalam hal ini, Kementrian Kesehatan dibantu oleh Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Propinsi dibantu oleh Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Kabupaten/Kota masing-masing. Salah satunya adalah Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Kota Administrasi Jakarta Timur yang didirikan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta Nomor 150 Tahun 2009 (Gubernur Propinsi DKI Jakarta, 2009). Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Kota Administrasi Jakarta Timur ini terdiri dari beberapa seksi, salah satunya adalah Seksi Sumber Daya Kesehatan (SDK) yang memiliki Subseksi Farmasi, Makanan, dan Minuman yang melakukan pengawasan terhadap penggunaan psikotropika unit-unit pelayanan kesehatan.

Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 pabrik obat, pedagang besar farmasi, sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah, apotek, rumah

sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter, lembaga penelitian, dan/atau lembaga pendidikan, wajib membuat dan menyimpan catatan mengenai kegiatan masing-masing yang berhubungan dengan psikotropika. Unit-unit tersebut wajib melaporkan catatan kepada Menteri secara berkala. Menteri melakukan pengawasan dan pemeriksaan atas pelaksanaan pembuatan dan penyimpanan catatan tersebut (Pemerintah Republik Indonesia, 1997).

Kementerian Kesehatan mengembangkan sistem pelaporan narkotika dan psikotropika secara online menggunakan fasilitas internet melalui program Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika (SIPNAP) sejak tahun 2008 (Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian). Tujuannya ialah untuk membangun sistem yang dapat terintegrasi dalam melakukan pengawasan secara menyeluruh dari penyediaan hingga penyerahan obat golongan narkotika dan psikotropika sehingga dapat meminimalkan bahaya penyalahgunaan, serta peredaran gelap narkotika dan psikotropika. Pelaporan melalui program SIPNAP ini juga bertujuan untuk menjamin ketersediaan narkotika dan psikotropika jenis tertentu yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat (Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2009). Program ini kemudian mengalami perkembangan dan pembaharuan pada tahun 2012 dan rencananya akan mulai diberlakukan pada tahun 2013.

Berdasarkan hal tersebut, mahasiswa yang melakukan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) perlu mengetahui dan mengerti tentang program SIPNAP terbaru ini, serta mengetahui jumlah penggunaan psikotropika dan unit pelayanan kesehatan yang banyak menggunakan psikotropika di wilayah Jakarta Timur. Oleh karena itu, penulis mendapatkan tugas khusus untuk mempelajari program SIPNAP dan melakukan rekapitulasi data laporan psikotropika unit pelayanan kesehatan di wilayah Jakarta Timur pada bulan Oktober dan November 2012.

1.2. Tujuan

Pelaksanaan PKPA di Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Timur, bertujuan agar mahasiswa calon Apoteker:

b. Mengetahui pemakaian psikotropika terbanyak di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur pada bulan Oktober dan November 2012.

c. Mengetahui unit pelayanan kesehatan dengan pemakaian psikotropika terbanyak di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur pada bulan Oktober dan November 2012.

d. Mengetahui tingkat kepatuhan unit pelayanan kesehatan dalam melaporkan penggunaan psikotropika di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tugas Sumber Daya Kesehatan (Gubernur Provinsi DKI Jakarta, 2009) Berdasarkan Peraturan Gubernur Propinsi DKI Jakarta No 150 Tahun 2009, Pasal 39, tentang :

a. Seksi Sumber Daya Kesehatan merupakan Satuan Kerja lini Suku Dinas Kesehatan dalam pelaksanan kegiatan pengelolaan sumber daya kesehatan. b. Seksi Sumber Daya Kesehatan dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang

berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Suku Dinas. c. Seksi Sumber Daya Kesehatan mempunyai tugas:

1) Menyusun bahan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) dan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Suku Dinas sesuai dengan lingkup tugasnya;

2) Melaksanakan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Suku Dinas sesuai dengan lingkup tugasnya;

3) Melaksanakan pemberian perizinan tenaga dan sarana farmasi, makanan, dan minuman;

4) Memberikan rekomendasi perizinan praktik tenaga kesehatan; 5) Melaksanakan kegiatan bimbingan teknis tenaga kesehatan;

6) Menyusun peta kebutuhan pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan berdasarkan analisa kebutuhan pendidikan dan pelatihan;

7) Melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi tingkat kepatuhan petugas kesehatan terhadap standar pelayanan;

8) Melaksanakan kegiatan audit internal dan audit eksternal penerapan sistem manajemen mutu;

9) Melaksanakan survei kepuasan pelanggan kesehatan;

10) Melaksanakan kegiatan bimbingan, konsultasi, dan pendampingan penerapan sistem manajemen mutu kepada Puskesmas;

11) Melaksanakan kegiatan pengembangan mutu melalui forum dan fasilitator; 12) Melaksanakan fasilitasi peningkatan kemampuan tenaga fasilitator,

13) Melaksanakan kegiatan pembinaan, pengawasan, dan pengendalian pelayanan sarana pelayanan kefarmasian meliputi industri kecil obat tradisional, subpenyalur alat kesehatan, apotek, toko obat, depo obat, dan industri makanan minuman rumah tangga;

14) Melaksanakan kegiatan pemantauan dan pengendalian harga obat dan persedian cadangan obat esenssial;

15) Melaksanakan pengelolaan persediaan obat dan perbekalan kesehatan pada lingkup Kota Administrasi;

16) Melaksanakan monitoring dan pemetaan sumber daya kesehatan;

17) Menyiapkan bahan laporan Suku Dinas Kesehatan yang terkait dengan tugas Seksi Sumber Daya Kesehatan;

18) Melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas Seksi Sumber Daya Kesehatan.

2.2. Psikotropika

2.2.1. Definisi dan Penggolongan Psikotropika

Obat golongan psikotropika diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun1997. Ruang lingkup pengaturan di bidang psikotropika dalam undang-undang ini adalah segala kegiatan yang berhubungan dengan psikotropika yang mempunyai potensi mengakibatkan sindroma ketergantungan. Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Pengaturan di bidang psikotropika ini adalah untuk beberapa tujuan, yaitu:

a. Menjamin ketersediaan psikotropika guna kepentingan pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan.

b. Mencegah terjadinya penyalahgunaan psikotropika.

c. Memberantas peredaran gelap psikotropika (Pemerintah Republik Indonesia, 1997).

Psikotropika dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu: a. Psikotropika golongan I

Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan.

b. Psikotropika golongan II

Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi, dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan.

c. Psikotropika golongan III

Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta berpotensi sedang mengakibatkan sindrom ketergantungan.

d. Psikotropika golongan IV

Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan (Pemerintah Republik Indonesia, 1997).

Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009, lampiran mengenai jenis Psikotropika golongan I dan golongan II sebagaimana tercantum dalam Lampiran Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3671) telah dipindahkan menjadi Narkotika Golongan I (Pemerintah Republik Indonesia, 2009).

2.2.2. Peredaran dan Pelaporan Penggunaan Psikotropika (Pemerintah Republik Indonesia, 1997)

Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 psikotropika yang berupa obat hanya dapat diedarkan setelah terdaftar pada departemen yang bertanggung jawab di bidang kesehatan. Penyaluran psikotropika dalam rangka peredaran hanya dapat dilakukan oleh pihak-pihak sebagai berikut.

a. Pabrik obat kepada pedagang besar farmasi, apotek, sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah, rumah sakit, dan lembaga penelitian dan/atau lembaga pendidikan.

b. Pedagang besar farmasi kepada pedagang besar farmasi lainnya, apotek, sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah, rumah sakit, dan lembaga penelitian dan/atau lembaga pendidikan.

c. Sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah kepada rumah sakit pemerintah, puskesmas, dan balai pengobatan pemerintah.

Psikotropika golongan I hanya dapat disalurkan oleh pabrik obat dan pedagang besar farmasi kepada lembaga penelitian dan/atau lembaga pendidikan guna kepentingan ilmu pengetahuan. Penyerahan psikotropika dalam rangka peredaran hanya dapat dilakukan oleh apotek, rumah sakit, puskesmas, dan balai pengobatan berdasarkan resep dokter. Penyerahan psikotropika oleh dokter dilaksanakan dalam hal:

a. Menjalankan praktik terapi dan diberikan melalui suntikan. b. Menolong orang sakit dalam keadaan darurat.

c. Menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada apotek.

Pabrik obat, pedagang besar farmasi, sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah, apotek, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter, lembaga penelitian dan/atau lembaga pendidikan wajib membuat dan menyimpan catatan mengenai kegiatan masing-masing yang berhubungan dengan psikotropika. Unit-unit tersebut wajib melaporkan catatan kepada Menteri secara berkala. Menteri melakukan pengawasan dan pemeriksaan atas pelaksanaan pembuatan dan penyimpanan catatan tersebut.

2.3. Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika (SIPNAP)

Pelaporan penggunaan narkotika dan psikotropika dilakukan secara terintegrasi melalui program yang dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, yaitu program SIPNAP. Sistem pada program ini memiliki bagian-bagian yang terintegrasi, yaitu

unit pelayanan kesehatan, dinas kesehatan kabupaten/kota, dinas kesehatan propinsi dan pusat, serta web server (Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2009). Program ini kemudian mengalami perkembangan dari program SIPNAP sebelumnya yang telah disusun dan digunakan sejak tahun 2008 (Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian). Tujuan dari program ini adalah:

a. Pembangunan sistem pelaporan penggunaan sediaan jadi narkotika dan psikotropika nasional yang terintegrasi mulai dari unit pelayanan kesehatan,

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 65-138)

Dokumen terkait