• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 63-106)

6. KESIMPULAN DAN SARAN

6.2 Saran

6.2.1 Untuk meningkatkan fungsi pelayanan kepada masyarakat luas dan meningkatkan peran apoteker, apoteker sebaiknya mengoptimalkan pelayanan dengan menerapkan paradigma pharmaceutical care mengingat makin tingginya jumlah masyarakat yang melaksanakan swamedikasi. 6.2.2 Perlu ditambahkan space atau meja konsultasi untuk melakukan pelayanan

Pharmaceutical care agar pemberian konseling obat kepada pasien lebih efektif dan optimal.

6.2.3 Kondisi tempat penyimpanan obat-obatan perlu diperhatikan kerapihan dan keteraturannya agar memudahkan dalam mencari obat yang dibutuhkan.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (1978). Peraturan Menteri Kesehatan No. 28/MENKES/PER/I/1978 tentang Penyimpanan Narkotika. Jakarta.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (1993). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2002). Peraturan Menteri Kesehatan No. 1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2004a). Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2004b). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/MENKES/ SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta.

Presiden Republik Indonesia. (1980). Peraturan Pemerintah Repulik Indonesia Nomor 25 tahun 1980 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 1965 tentang Apotek. Jakarta.

Presiden Republik Indonesia. (1997). Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1997 Tentang Psikotropika. Jakarta.

Presiden Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Jakarta.

Presiden Republik Indonesia. (2009). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta.

Presiden Republik Indonesia. (2011). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 88/ MENKES/PER/X/2011 tentang Registrasi Izin Prakik dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian. Jakarta.

Lampiran 2. Struktur Organisasi Apotek Kimia Farma No.278 Karyawan Non AA Asisten Apoteker Apoteker Pendamping Supervisor Pelayanan (asisten apoteker)

MAP (Manager Apotek Pelayanan) / APA (Apoteker Pengelola Apotik)

Asisten Apoteker Asisten Apoteker Asisten Apoteker

LAPORAN TUGAS KHUSUS

PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI APOTEK KIMIA FARMA NO.278

RUKO VERSAILLES FB NO.15 SEKTOR 1.6 BSD SERPONG

PERIODE 03 APRIL - 30 APRIL 2013

PENGGUNAAN KINA DAN PRIMAKUIN

SEBAGAI OBAT ANTIMALARIA

GEBRIELA TASYA, S. Farm.

1206197526

ANGKATAN LXXVI

FAKULTAS FARMASI

PROGRAM PROFESI APOTEKER

DEPOK

ii Universitas Indonesia

HALAMAN JUDUL ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR GAMBAR ... iii DAFTAR TABEL ... iv DAFTAR LAMPIRAN ... v BAB 1. PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Tujuan ... 2 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 3 2.1. Epidemiologi Malaria... 3 2.2. Etiologi Malaria ... ... 5 2.3. Manifestasi Klinis ... 8 2.4. Diagnosis Malaria ... 9 2.5. Kina.. ... 13 2.6. Primakuin.. ... 16 BAB 3. PEMBAHASAN ... 19 3.1. Pengobatan Malaria... 19 3.2. Penggunaan Kina dan Primakuin ... ... 19 3.3. Pemantauan Respon Pengobatan.. ... 20 3.4. Kriteria Keberhasilan Pengobatan.. ... 21 3.5. Resistensi Obat Antimalaria.. ... 22 BAB 4. KESIMPULAN DAN SARAN ... 23 4.1. Kesimpulan... ... 23 4.2. Saran ... 23 DAFTAR PUSTAKA ... 24

Gambar Halaman Gambar 2.1. Penyebaran malaria di dunia pada tahun 2010... 4 Gambar 2.2. Penyebaran malaria di Indonesia tahun 2011... 5 Gambar 2.3. Siklus hidup Plasmodium... 7

iv Universitas Indonesia

Tabel Halaman

Lampiran Halaman Lampiran 1. Alur Penemuan Penderita Malaria... 25 Lampiran 2. Penatalaksanaan Malaria Tanpa Komplikasi... 26 Lampiran 3. Penatalaksanaan Malaria Berat... 27

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan di masyarakat luas dan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan bangsa Indonesia. Malaria dapat menyebabkan kematian terutama pada kelompok resiko tinggi, yaitu bayi, balita, dan ibu hamil. Prevalensi nasional malaria berdasarkan hasil Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2010 adalah 0,6%. Tingkat prevalensi tertinggi ditemukan di wilayah Timur Indonesia, yaitu di Papua Barat (10,6%), Papua (10,1%), dan Nusa Tenggara Timur (4,4%).

Penanggulangan malaria dilakukan secara komprehensif dengan upaya promotif, preventif, dan kuratif. Hal ini bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian, serta mencegah KLB. Upaya untuk menekan angka kesakitan dan kematian dilakukan melalui program pemberantasan malaria yang meliputi diagnosis dini, pengobatan cepat dan tepat, surveilans dan pengendalian vektor dalam hal pendidikan masyarakat, dan pengertian tentang kesehatan lingkungan yang semuanya ditujukan untuk memutus mata rantai penularan malaria. Untuk mencapai hasil yang optimal dan berkualitas, upaya tersebut harus dilakukan secara terintegrasi dengan layanan kesehatan dasar dan program lainnya.

Penggunaan obat antimalaria yang tidak tepat atau tidak rasional dapat menyebabkan penurunan efikasi pada beberapa obat antimalaria, bahkan terdapat resistensi terhadap obat antimalaria. Kasus resistensi di Indonesia pertama kali dilaporkan pada tahun 1973 di Kalimantan Timur, yaitu resistensi P. falciparum terhadap klorokuin. Sejak itu kasus resistensi dilaporkan semakin meluas. Untuk menghindari hal tersebut pada tugas khusus ini akan dibahas mengenai penggunaan obat antimalaria yaitu Kina dan Primakuin. Penggunaan Kina dan Primakuin yang tepat, rasional, dan sesuai indikasi diharapkan dapat mencegah resistensi dan meningkatkan mutu pengobatan malaria.

1.2. Tujuan

Tujuan dari pembuatan tugas khusus ini adalah:

1. Mengetahui epidemiologi, etiologi, manifestasi klinis, dan diagnosis penyakit malaria.

2. Mengetahui tentang penggunaan Kina dan Primakuin yang digunakan sebagai obat antimalaria.

Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang dapat ditandai dengan demam, hepatosplenomegali dan anemia. Plasmodium hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia. Penyakit ini secara alami ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina.

2.1 Epidemiologi Malaria

Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia. Penyakit ini mempengaruhi tingginya angka kematian ibu hamil, bayi dan balita. Setiap tahun lebih dari 500 juta penduduk dunia terinfeksi malaria dan lebih dari 1.000.000 orang meninggal dunia. Kasus terbanyak terdapat di Afrika dan beberapa negara Asia termasuk Indonesia, Amerika Latin, Timur Tengah dan beberapa bagian negara Eropa (Gambar 2.1). Di Indonesia, sampai tahun 2009, sekitar 80% Kabupaten/Kota masih termasuk kategori endemis malaria dan sekitar 45% penduduk bertempat tinggal di daerah yang berisiko tertular malaria (Gambar 2.2). Sementara jumlah kasus yang dilaporkan pada tahun 2009 sebanyak 1.143.024 orang. Jumlah ini mungkin lebih kecil dari keadaan yang sebenarnya karena lokasi yang endemis malaria adalah desa-desa yang terpencil dengan sarana transportasi yang sulit dan akses pelayanan kesehatan yang rendah.

Data WHO menyebutkan pada tahun 2010 terdapat 544.470 kasus malaria positif di Indonesia, sedangkan pada tahun 2009 terdapat 1.100.000 kasus malaria klinis, dan pada tahun 2010 meningkat lagi menjadi 1.800.000 kasus malaria klinis (http://www.depkes.go.id/).

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI diperoleh data tiga daerah dengan kasus baru malaria tertinggi di Indonesia. Ketiga daerah tersebut antara lain Papua, Papua Barat, dan NTT. Hasil riset ini juga hampir sama dengan hasil Riskesdas 2007 yang menempatkan ketiga provinsi ini sebagai daerah tertinggi kasus baru malaria (http://www.jurnalmedika.com).

Gambar 2.1. Penyebaran malaria di dunia pada tahun 2010 (Sumber: www.who.int)

Spesies yang terbanyak dijumpai adalah Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax. Plasmodium malariae dijumpai di Indonesia bagian timur, Plasmodium ovale pernah ditemukan di Irian Jaya dan Nusa Tenggara Timur.

Gambar 2.2. Penyebaran malaria di Indonesia tahun 2011 (Sumber: Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan

Kementerian Kesehatan RI, 2012)

2.2 Etiologi Malaria

Ada 5 jenis plasmodium pada manusia yang dapat menyebabkan malaria yaitu :

1. Plasmodium falciparum, menyebabkan malaria falciparum yang dapat pula disebut sebagai malaria tertiana berat dengan gejala demam timbul intermiten dan dapat kontinyu.

2. Plasmodium vivax, menyebabkan malaria vivax yang disebut pula sebagai malaria tertiana dengan gejala demam berulang dan memiliki interval bebas demam selama 2 hari.

3. Plasmodium ovale, menyebabkan malaria ovale dengan gejala mirip malari vivax. Malaria ini merupakan jenis ringan dan dapat sembuh sendiri.

4. Plasmodium malariae, menyebabkan malaria malariae atau malaria kuartana karena serangan demam berulang pada tiap hari keempat.

5. Plasmodium knowlesi, menyebabkan malaria knowlesi dengan gejala mirip malaria falciparum.

Parasit malaria memerlukan dua hospes untuk siklus hidupnya, yaitu manusia dan nyamuk Anopheles betina (Gambar 2.3):

1. Siklus pada manusia

Pada waktu nyamuk Anopheles infektif menghisap darah manusia, sporozoit yang berada di kelenjar liur nyamuk akan masuk ke dalam peredaran darah selama lebih kurang setengah jam. Setelah itu sporozoit akan masuk ke dalam sel hati dan menjadi tropozoit hati. Kemudian berkembang menjadi skizon hati yang terdiri dari 10.000-30.000 merozoit hati (tergantung spesiesnya).

Siklus ini disebut siklus ekso-eritrositer yang berlangsung selama lebih kurang 2 minggu. Pada P. vivax dan P. ovale, sebagian tropozoit hati tidak langsung berkembang menjadi skizon, tetapi ada yang menjadi bentuk dorman yang disebut hipnozoit. Hipnozoit tersebut dapat tinggal di dalam sel hati selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. Pada suatu saat bila imunitas tubuh menurun, akan menjadi aktif sehingga dapat menimbulkan relaps (kambuh).

Merozoit yang berasal dari skizon hati yang pecah akan masuk ke peredaran darah dan menginfeksi sel darah merah. Di dalam sel darah merah, parasit tersebut berkembang dari stadium tropozoit sampai skizon (8-30 merozoit, tergantung spesiesnya). Proses perkembangan aseksual ini disebut skizogoni. Selanjutnya eritrosit yang terinfeksi (skizon) pecah dan merozoit yang keluar akan menginfeksi sel darah merah lainnya. Siklus ini disebut siklus eritrositer.

Pada P. falciparum setelah 2-3 siklus skizogoni darah, sebagian merozoit yang menginfeksi sel darah merah dan membentuk stadium seksual (gametosit jantan dan betina). Pada spesies lain siklus ini terjadi secara bersamaan. Hal ini terkait dengan waktu dan jenis pengobatan untuk eradikasi.

Siklus P. knowlesi pada manusia masih dalam penelitian. Reservoar utama Plasmodium ini adalah kera ekor panjang (Macaca sp). Kera ekor panjang ini banyak ditemukan di hutan-hutan Asia termasuk Indonesia. Pengetahuan mengenai siklus parasit tersebut lebih banyak dipahami pada kera dibanding manusia.

2. Siklus pada nyamuk Anopheles betina

Apabila nyamuk Anopheles betina menghisap darah yang mengandung gametosit, di dalam tubuh nyamuk gamet jantan dan betina melakukan pembuahan menjadi zigot. Zigot berkembang menjadi ookinet kemudian menembus dinding lambung nyamuk. Pada dinding luar lambung nyamuk ookinet akan menjadi ookista dan selanjutnya menjadi sporozoit. Sporozoit ini bersifat infektif dan siap ditularkan ke manusia.

Gambar 2.3. Siklus hidup Plasmodium

(Sumber: http://www.dpd.cdc.gov/dpdx/html/malaria.htm)

Penyakit malaria yang tinggal di dalam sel darah merah dapat ditularkan melalui transfusi darah, jarum suntik yang telah terkontaminasi, atau transplantasi organ. Penyakit malaria juga dapat ditularkan oleh ibu hamil kepada bayinya. Dari seluruh jenis plasmodium yang menyerang manusia, Plasmodium vivax paling sering ditemukan dalam kasus penyakit malaria di seluruh dunia, sementara Plasmodium falciparum paling sering menyebabkan terjadinya malaria dengan

komplikasi (malaria berat) dan ditemukan sebagai penyebab malaria akut yang menyebabkan kematian di seluruh dunia dengan angka sekitar 90% dari total kematian akibat penyakit malaria di seluruh dunia.

Jenis Plasmodium yang banyak ditemukan di Indonesia adalah P. falciparum dan P. vivax, sedangkan P. malariae dapat ditemukan di beberapa provinsi antara lain Lampung, Nusa Tenggara Timur, dan Papua. P ovale pernah ditemukan di Nusa Tenggara Timur dan Papua. Pada tahun 2010 di Pulau Kalimantan dilaporkan adanya P. knowlesi yang dapat menginfeksi manusia dimana sebelumnya hanya menginfeksi hewan primata/monyet dan sampai saat ini masih terus diteliti.

2.3 Manifestasi Klinis

Masa inkubasi malaria bervariasi tergantung spesies plasmodium (Tabel 2.1). Masa inkubasi adalah rentang waktu sejak sporozoit masuk sampai timbulnya gejala klinis yang ditandai dengan demam (Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, 2008).

.

Tabel 2.1. Masa Inkubasi Penyakit Malaria

Plasmodium Masa Inkubasi (hari)

P. falciparum 9-14

P. vivax 12-17

P. ovale 16-18

P. malariae 18-40 P. knowlesi 10-12

Keluhan utama pada malaria tanpa komplikasi adalah demam, menggigil, berkeringat dapat disertai sakit kepala, mual, muntah, diare dan nyeri otot atau pegal-pegal. Gejala pada malaria dengan komplikasi (malaria berat) adalah gangguan kesadaran, keadaan umum yang lemah, kejang-kejang, panas sangat tinggi, perdarahan, warna air seni seperti teh tua dan gejala lainnya (Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian, 2007).

Serangan demam yang khas pada malaria terdiri dari tiga stadium (trias malaria), yang terdiri dari (Prabowo, 2004):

1. Stadium menggigil (periode dingin)

Stadium ini dimulai dengan perasaan kedinginan hingga menggigil. Penderita sering membungkus badannya dengan selimut. Pada saat menggigil, seluruh tubuh penderita bergetar, denyut nadinya cepat, bibir dan jari-jari tangan biru, serta kulitnya pucat. Pada anak-anak sering disertai dengan kejang. Stadium ini berlangsung 15 menit sampai satu jam yang diikuti dengan meningkatnya suhu badan.

2. Stadium puncak demam (periode panas)

Penderita yang sebelumnya merasa kedinginan berubah menjadi panas sekali. Wajah penderita merah, kulit kering dan terasa panas seperti terbakar, frekuensi pernapasan meningkat, nadi penuh dan berdenyut keras, sakit kepala semakin hebat, muntah-muntah, kesadaran menurun, sampai timbul kejang (pada anak-anak). Suhu badan bisa mencapai 41oC. Stadium ini berlangsung selama dua jam atau lebih yang diikuti dengan keadaan berkeringat.

3. Stadium berkeringat (periode berkeringat)

Penderita berkeringan banyak di seluruh tubuhnya hingga tempat tidurnya basah. Suhu badan turun dengan cepat, penderita merasa sangat lelah, dan sering tertidur. Setelah bangun dari tidurnya, penderita akan merasa sehat dan dapat melakukan pekerjaan seperti biasa padahal sebenarnya penyakit ini masih bersarang dalam tubuh penderita. Stadium ini berlangsung selama 2-4 jam.

2.4 Diagnosis Malaria (Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, 2008)

Diagnosis malaria ditegakkan seperti diagnosis penyakit lainnya berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium. Diagnosis pasti malaria harus ditegakkan dengan pemeriksaan sediaan darah secara mikroskopik atau tes diagnosis cepat (RDT – Rapid Diagnostic Test).

2.4.1 Anamnesis

Pada anamnesis sangat penting diperhatikan:

1. Keluhan utama: demam, menggigil, berkeringat, dan dapat disertai sakit kepala, mual, muntah, diare, dan nyeri otot atau pegal-pegal

2. Riwayat berkunjung dan bermalam 1-4 minggu yang lalu ke daerah endemik malaria

3. Riwayat tinggal di daerah endemik malaria 4. Riwayat sakit malaria

5. Riwayat minum obat malaria satu bulan terakhir 6. Riwayat mendapat transfusi darah

Selain hal di atas, pada penderita malaria berat, dapat ditemukan keadaan di bawah ini:

1. Gangguan kesadaran dalam berbagai derajat

2. Keadaan umum yang lemah (tidak bisa duduk/berdiri) 3. Kejang-kejang

4. Panas sangat tinggi 5. Mata atau tubuh kuning

6. Perdarahan hidung, gusi, atau saluran pencernaan 7. Nafas cepat dan atau sesak napas

8. Muntah terus menerus dan tidak dapat makan minum 9. Warna air seni seperti teh tua dan dapat sampai kehitaman 10. Jumlah air seni kurang (oliguria) sampai tidak ada (anuria) 11. Telapak tangan sangat pucat

2.4.2 Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik pada penderita malaria antara lain: 1. Demam (pengukuran dengan thermometer 37,5o

C) 2. Konjungtiva atau telapak tangan pucat

3. Pembesaran limpa (splenomegali) 4. Pembesaran hati (hepatomegali)

Pada penderita malaria berat, ditemukan tanda-tanda klinis sebagai berikut:

1. Temperatur rektal 40o

C 2. Nadi cepat dan lemah/kecil

3. Tekanan darah sistolik < 70 mmHg pada orang dewasa dan pada anak-anak < 50 mmHg

4. Frekuensi napas > 35 x per menit pada orang dewasa atau > 40 x per menit pada balita, anak di bawah 1 tahun > 50 x per menit

5. Penurunan derajat kesadaran dengan Glasgow coma scale (GCS) < 11 6. Manifestasi perdarahan (petekie, purpura, hematom)

7. Tanda dehidrasi (mata cekung, turgor, dan elastisitas kulit berkurang, bibir kering, produksi air seni berkurang)

8. Tanda-tanda anemia berat (konjungtiva pucat, telapak tangan pucat, lidah pucat, dan lain-lain)

9. Terlihat mata kuning/ikterik 10. Adanya ronki pada kedua paru 11. Pembesaran limpa dan atau hepar

12. Gagal ginjal ditandai dengan oliguria sampai dengan anuria 13. Gejala neurologi (kaku kuduk, reflek patologik)

2.4.3 Pemeriksaan laboratorium 2.4.3.1 Pemeriksaan dengan mikroskop

Pemeriksaan dengan mikroskop merupakan gold standard (standar baku) untuk diagnosis pasti malaria. Pemeriksaan mikroskop dilakukan dengan membuat sediaan darah tebal dan tipis. Pemeriksaan sediaan darah (SD) tebal dan tipis dilakukan untuk menemukan:

a. Ada tidaknya parasit malaria (positif atau negatif) b. Spesies dan stadium plasmodium

c. Kepadatan parasit - Semi kuantitatif

(-) = negatif (tidak ditemukan parasit dalam 100 LPB/lapangan pandang besar)

(+) = positif 1 (ditemukan 1-10 parasit dalam 100 LPB) (++) = positif 2 (ditemukan 11-100 parasit dalam 100 LPB) (+++) = positif 3 (ditemukan 1-10 parasit dalam 1 LPB) (++++) = positif 4 (ditemukan > 10 parasit dalam 1 LPB)

Adanya korelasi antara kepadatan parasit dengan mortalitas yaitu: - Kepadatan parasit < 100.000 /µl, maka mortalitas < 1 %

- Kepadatan parasit > 100.000/µl, maka mortalitas > 1 % - Kepadatan parasit > 500.000/µl, maka mortalitas > 50 % - Kuantitatif

Jumlah parasit dihitung per mikro liter darah pada sediaan darah tebal (leukosit) atau sediaan darah tipis (eritrosit)

Untuk penderita malaria berat perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Bila pemeriksaan sediaan darah pertama negatif, perlu diperiksa ulang

setiap 6 jam sampai 3 hari berturut-turut.

2. Bila hasil pemeriksaan darah tebal selama 3 hari berturut-turut tidak ditemukan parasit, maka diagnosis parasit disingkirkan.

2.4.3.2 Pemeriksaan dengan tes diagnostik cepat (Rapid Diagnostic Test)

Mekanisme kerja tes ini berdasarkan deteksi antigen parasit malaria, dengan menggunakan metoda imunokromatografi, dalam bentuk dipstik. Tes ini sangat bermanfaat pada unit gawat darurat, pada saat terjadi kejadian luar biasa dan di daerah terpencil yang tidak tersedia fasilitas lab, serta untuk survei tertentu. Tes yang tersedia mengandung:

a. HRP-2 (Histidine rich protein 2) yang diproduksi oleh trofozoit, skizon dan gametosit muda P. falciparum.

b. Enzim parasite lactate dehydrogenase (p-LDH) dan aldolase yang diproduksi oleh parasit bentuk aseksual atau seksual Plasmodium falciparum, P. vivax, P. ovale, dan P. malariae.

Kemampuan rapid test pada umumnya ada 2 jenis yaitu:

a. Single yang mampu mendiagnosis hanya infeksi P. falciparum

2.4.3.3 Pemeriksaan dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) dan Sequensing DNA

Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada fasilitas yang tersedia. Pemeriksaan ini penting untuk membedakan antara re-infeksi dan rekrudensi pada P. falciparum. Selain itu dapat digunakan untuk identifikasi spesies Plasmodium yang jumlah parasitnya rendah atau di bawah batas ambang mikroskopis. Pemeriksaan dengan menggunakan PCR juga sangat penting dalam eliminasi malaria karena dapat membedakan antara parasit impor atau indigenous.

2.4.3.4 Pemeriksaan penunjang untuk malaria berat: 1. Hemoglobin dan hematokrit

2. Hitung jumlah leukosit dan trombosit

3. Kimia darah lain (gula darah, serum bilirubin, SGOT dan SGPT, alkali fosfatase, albumin/globulin, ureum, kreatinin, natrium dan kaluim, analisis gas darah)

4. EKG 5. Foto toraks

6. Analisis cairan serebrospinalis 7. Biakan darah dan uji serologi 8. Urinalisis

2.5 Kina

Selama lebih dari 3 abad Cinchona dan alkaloidnya, terutama quinine, merupakan satu-satunya obat yang efektif terhadap malaria. Belakangan ini preparat-preparat sintesa baru yang telah digunakan diseluruh dunia telah diyakini lebih ampuh dan kurang toksik. Walaupun demikian, strain falciparum yang resisten terhadap klorokuin dan antimalaria lainnya telah meluas sehingga kini kinina kembali digunakan sebagai obat pilihan terhadap malaria berat dan malaria tanpa komplikasi.

2.5.1 Khasiat

Kinina sangat aktif bekerja terhadap skizon darah dan merupakan obat untuk penyembuhan klinis yang efektif. Obat ini dipakai untuk penyembuhan radikal pada P. falciparum. Terhadap gametosit dewasa P. falciparum tidak efektif sedangkan spesies lain cukup efekif.

Kinina efektif melawan infeksi falciparum yang resisten terhadap klorokuin dan Sulfadoksin-Pirimetamin. Penurunan sensitivitas terhadap kina ditemukan di selatan Asia Timur dimana terlalu sering menggunakan obat ini. Hal ini juga terjadi karena pengobatan kinina tanpa resep dan berobat jalan dengan regimen lebih dari 3 hari. Di Indonesia belum pernah dilaporkan adanya resistensi parasit terhadap kinina.

2.5.2 Penggunaan:

- Kinina masih merupakan obat pilihan untuk malaria berat pada banyak negara. Obat ini juga digunakan untuk pengobatan malaria tanpa komplikasi jika obat alternatif lainnya tidak memungkinkan.

- Kinina sebagai pilihan 1 pada daerah dengan multi drugs resisten malaria, dimana P. falciparum tidak merespon terhadap klorokuin, SP, meflokuin. - Kinina injeksi diberikan i.m/i.v untuk pengobatan malaria tanpa komplikasi

dimana pasien selalu muntah dan tidak sanggup minum per oral.

- Kinina sebagai second line/pilihan 2 untuk pasien yang tidak ada respon terhadap first line terapi/hipersensitif terhadap SP. Pemberian kina selalu disertai obat lainnya.

- Kinina dalam bentuk generik termasuk daftar obat esensial dan luas tersedia dan murah pada banyak negara, termasuk Indonesia.

2.5.3 Terapi yang dianjurkan

Kinina/kina diberikan per oral atau perdrip. Kinina tidak diberikan tunggal untuk pengobatan malaria dalam waktu singkat, misalnya 3 hari, karena kemungkinan akan terjadi rekrudensi. Kinina I.V diberikan dalam infus larutan isotonik dengan tetesan lambat dalam 5% dextrose. Jika I.V tidak mungkin digunakan, I.M dengan cara obat dilarutkan menjadi konsentrasi 60 mg/ml.

2.5.4 Penggunaan pada kehamilan

Kina aman digunakan untuk wanita hamil. Apabila terjadi kontraksi atau fetal distress pada wanita yang minum kina, kemungkinan berhubungan dengan penyakit lain. Risiko penggunaan kina mencetuskan hipoglikemia.

2.5.5 Farmakologi

Setelah melewati lambung, kina dengan cepat dan sempurna diserap usus halus, kemudian sebagian besar (70%) beredar dalam bentuk basa yang terikat pada protein plasma. Konsentrasi puncak dalam plasma dicapai dalam 1-3 jam setelah dosis tunggal yang pertama, konsentrasi dalam eritrosit seperlima konsentrasi dalam plasma. Kina secara ekstensif dimetabolisir di hati dengan eliminasi waktu paruh 10-12 jam dan diekskresikan melalui urine dalam bentuk metabolit hidrosilated.

2.5.6 Efek samping:

- Sindrom Cinchonism: tinitus/telinga berdenging, gangguan pendengaran, vertigo/dizzines/sempoyongan. Gejala akan timbul jika total konsentrasi plasma 5 mg/l .

- Gangguan pada peredaran darah jantung/cardiovascular : hipotensi berat jika pasien diinjeksi terlalu cepat.

- Hipoglikemia terjadi jika ibu hamil diberi terapi infus kina. Hal ini disebabkan obat menstimuli sekresi insulin dari sel B pankreas.

2.5.7 Dosis yang berlebihan

Dosis tunggal >3 gr menyebabkan timbulnya intoksikasi akut, didahului dengan gejala depresi susunan saraf pusat dan kejang. Efek samping lain berupa hipotensi, gagal jantung, dan gangguan penglihatan sampai kebutaan. Berbeda dengan klorokuin, jika amodiakuin digunakan sebagai profilaksis akan menimbulkan fatal agranulositosis dan toksik hepatitis.

2.6 Primakuin 2.6.1 Khasiat:

Primakuin merupakan suatu senyawa 8 aminokuinolin yang sangat efektif melawan gametosit seluruh spesies parasit. Obat ini juga aktif terhadap skizon darah P. falciparum dan P. vivax, tetapi dalam dosis tinggi sehingga harus berhati-hati.

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 63-106)

Dokumen terkait