LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 278
RUKO VERSAILLES FB NO.15 SEKTOR 1.6 BSD SERPONG
PERIODE 3 – 30 APRIL 2013
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
GEBRIELA TASYA, S.Farm.
1206197526
ANGKATAN LXXVI
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
JUNI 2013
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 278
RUKO VERSAILLES FB NO.15 SEKTOR 1.6 BSD SERPONG
PERIODE 3 – 30 APRIL 2013
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker
GEBRIELA TASYA, S.Farm.
1206197526
ANGKATAN LXXVI
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat, taufik, dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan kegiatan dan laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Apotek Kimia Farma No.278 Ruko Versailles FB No.15 Sektor 1.6 BSD Serpong, yang dimulai pada tanggal 3 - 30 April 2013.
Laporan ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker pada Program Studi Profesi Apoteker, Fakultas Farmasi, Universitas Indonesia. Dalam penyusunan laporan ini penulis banyak mendapatkan bimbingan dan dukungan serta pengarahan baik secara moril maupun materil dari semua pihak. Oleh karena itu, dengan segenap kerendahan dan kesungguhan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Aria Y. Armoko, S.Si, Apt. selaku Manager Apotek Pelayanan sekaligus Apoteker Pengelola Apotek serta pembimbing PKPA di Apotek Kimia Farma No. 278 yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan selama PKPA.
2. Ibu Dr. Nelly D. Leswara, M.Sc., Apt. selaku pembimbing dari Fakultas Farmasi Universitas Indonesia yang telah memberikan masukan dan saran dalam penyusunan laporan ini.
3. Prof. Dr. Yahdiana Harahap, MS., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia.
4. Dr. Harmita, Apt. selaku Ketua Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Indonesia.
5. Seluruh staf dan karyawan Apotek Kimia Farma No. 278 atas segala keramahan, pengarahan, bimbingan dan kebaikan yang telah diberikan selama pelaksanaan PKPA.
6. Seluruh staf pengajar, tata usaha, dan karyawan Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi.
7. Orang tua, kakak dan adik-adikku yang telah memberikan bantuan moril dan materil sehingga pelaksanaan PKPA dan penyelesaian laporan menjadi lancar.
semangat kepada penulis selama pelaksanaan PKPA.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan laporan ini. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pihak pembaca untuk menyempurnakan laporan ini. Akhir kata, semoga pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama menjalani PKPA yang dituangkan dalam laporan ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang memerlukan.
Penulis
Sebagai sivitas akademika Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Gebriela Tasya, S.Farm
NPM : 1206197526
Program Studi : Apoteker Fakultas : Farmasi
Jenis Karya : Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker
demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royati Non-ekslusif (Non-exclusive
Roylty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek Kimia Farma No.278 Ruko Versailles Fb No.15 Sektor 1.6 BSD Serpong Periode 3-30 April 2013
beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Non-ekslusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Depok
Pada tanggal: 30 Juli 2013 Yang menyatakan,
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
1. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan ... 2
2. TINJAUAN PUSTAKA ... 3
2.1 Definisi Apotek ... 3
2.2 Landasan Hukum Apotek ... 3
2.3 Tugas dan Fungsi Apotek ………. ... 4
2.4 Persyaratan Apotek………... ... 4
2.4.1 Apoteker Pengelola Apotek... 5
2.4.2 Tempat/ Lokasi ... 7
2.4.3 Bangunan ... 7
2.4.4 Sumber Daya Manusia ... 7
2.4.5 Perlengkapan Apotek ... 8
2.5 Tata Cara Perizinan Apotek……….. ... 8
2.6 Pengelolaan Apotek……….. ... 9
2.7 Pelayanan Apotek………. ... 11
2.7.1 Pelayanan Resep ... 13
2.7.2 Promosi dan Edukasi ... 14
2.7.3 Pelayanan Residental ... 14
2.8 Pemberian Informasi Obat (PIO) di Apotek ... 14
2.9 Pencabutan Izin Apotek……… ... 15
2.9.1 Kriteria Pencabutan Izin Apotek ... 15
2.9.2 Ketentuan Pencabutan Izin Apotek ... 15
2.9.3 Kewajiban Apoteker Pengelola Apotek setelah Pencabutan Surat Izin Apotek ... 16
2.10 Pengelolaan Narkotika……….. ... 17
2.10.1 Pemesanan Narkotika ... 18
2.10.2 Penyimpanan Narkotika ... 18
2.10.3 Pelayanan Resep yang Mengandung Narkotika ... 18
2.10.4 Pelaporan Narkotika ... 19 2.10.5 Pemusnahan Narkotika ... 19 2.11 Pengelolaan Psikotropika……….. ... 20 2.11.1 Pemesanan Psikotropika ... 21 2.11.2 Penyimpanan Psikotropika ... 21 2.11.3 Penyerahan Psikotropika ... 21 2.11.4 Pelaporan Psikotropika ... 22 2.11.5 Pemusnahan Psikotropika ... 22 3. TINJAUAN UMUM ... 23
3.1 PT. Kimia Farma (Persero), Tbk ... 23
3.1.1 Sejarah Singkat PT. Kimia Farma (Persero), Tbk. ... 23
3.1.2 Visi dan Misi ... 24
3.1.3 Struktur Organisasi ... 25
3.2 PT. Kimia Farma Apotek ... 26
3.2.1 Logo PT. Kimia Farma Apotek ... 28
3.2.2 Visi dan Misi PT. Kimia Farma Apotek ... 29
3.2.3 Struktur Organisasi PT Kimia Farma Apotek ... 30
4. TINJAUAN KHUSUS APOTEK KIMIA FARMA NO. 278 ... 31
4.1 Lokasi dan tata ruang ... 31
4.1.1 Lokasi ... 31
4.1.2 Tata Ruang ... 31
4.2 Struktur Organisasi dan Personalia ……….. ... 34
4.3 Tugas dan Tanggung Jawab Personil Apotek ... 34
4.3.1 Apoteker Pengelola Apotek (APA) ... 34
4.3.2 Apoteker Pendamping ... 35
4.3.3 Supervisor Layanan Farmasi ... 35
4.3.4 Asisten Apoteker ... 35
4.3.5 Karyawan Non AA ... 36
4.4 Kegiatan Apotek Kimia Farma No.278………... . 36
4.4.1 Kegiatan Teknis Kefarmasian ... 36
4.4.2 Kegiatan Non Teknis Kefarmasian ... 43
5. PEMBAHASAN ... 44
6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 53
6.1 Kesimpulan ... 53
6.2 Saran ... 54
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Struktur Organisasi PT Kimia Farma Apotek ... 56
Lampiran 2 Struktur Organisasi Apotek Kimia Farma No. 278 ... 57
Lampiran 3 Salinan Resep ... 58
Lampiran 4 Etiket Obat ... 59
Lampiran 5 Kartu Stok ... 60
Lampiran 6 Kuitansi Pembayaran ... 61
Lampiran 7 Surat Pesanan Narkotika... 62
1.1. Latar Belakang
Pelayanan kesehatan adalah upaya yang diselenggarakan secara pribadi maupun bersama-sama untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok atau masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan adanya suatu pembangunan kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, kenyamanan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2004a). Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dilakukan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh di setiap lapisan masyarakat, termasuk dalam hal penggunaan dan pendistribusian obat.
Apotek sebagai salah satu sarana penyaluran obat dan perbekalan farmasi, mempunyai peran dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat untuk memperoleh perbekalan farmasi yang bermutu dan terjamin serta terjangkau harganya. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1332/MENKES/SK/X/2002 yang merupakan perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, definisi apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukannya pekerjaan kefarmasian dan penyaluran perbekalan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Perbekalan farmasi yang dimaksud adalah obat, bahan obat, obat asli Indonesia (obat tradisional), alat kesehatan, dan kosmetika.
Apotek sebagai salah satu sarana penyalur perbekalan farmasi yang berhubungan langsung dengan masyarakat, dituntut untuk dapat memberikan pelayanan terbaik dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan obat dan alat kesehatan. Terlebih lagi, pelayanan kefarmasian pada saat ini telah mengalami pergeseran orientasi, yang semula berorientasi pada pengelolaan obat (drug oriented) sebagai komoditi, telah beralih menjadi berorientasi pada pasien, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dari pasien (patient oriented). Oleh
kompetensi yang baik (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2004b). Selain ilmu kefarmasian, seorang Apoteker Pengelola Apotek juga dituntut untuk dapat menguasai ilmu-ilmu ekonomi, seperti ilmu manajemen dan ilmu akuntansi, sehingga seluruh kegiatan di apotek dapat memberikan keuntungan yang optimal tanpa harus menghilangkan fungsi sosialnya di masyarakat.
Oleh karena itu, program profesi apoteker Universitas Indonesia bekerja sama dengan Apotek Kimia Farma menyelenggarakan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) yang berlangsung selama 4 minggu sejak tanggal 3 – 30 April 2013. PKPA ini dilaksanakan dengan harapan agar calon apoteker dapat mengembangkan teori yang diperoleh selama perkuliahan.
1.2. Tujuan
Pelaksanaan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek Kimia Farma bagi para calon apoteker bertujuan untuk:
1.2.1 Mengetahui dan memahami peran apoteker di apotek dalam bidang manajemen apotek maupun pelayanan kefarmasian.
1.2.2 Mengetahui dan memahami kegiatan kefarmasian baik secara teknis maupun non teknis yang dilakukan di apotek.
2.1 Definisi Apotek
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No.922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, disebutkan bahwa apotek merupakan suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 51 Tahun 2009, apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker. Yang dimaksud dengan pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan, dan pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan dan obat tradisional. Sediaan farmasi yang dimaksud adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009).
2.2 Landasan Hukum Apotek
Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang apotek dan kegiatannya adalah :
a. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian.
b. Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
c. Undang-undang Republik Indonesia No.35 tahun 2009 tentang Narkotika. d. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1027/ MENKES/ SK/
IX/ 2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek.
e. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1332/ MENKES/ SK/X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan No.922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek.
g. Peraturan Menteri Kesehatan No.688/MENKES/PER/VII/1997 tentang Psikotropika.
h. Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 1980 tanggal 14 Juli 1980 sebagai Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 1965 tentang Apotek. i. Peraturan Menteri Kesehatan No.28/MENKES/PER/I/1978 tentang
Penyimpanan Narkotika.
2.3 Tugas dan Fungsi Apotek
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009, apotek mempunyai tugas dan fungsi sebagai berikut :
a. Tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker.
b. Sarana yang digunakan untuk melakukan Pekerjaan Kefarmasian.
c. Sarana farmasi yang melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran dan penyerahan obat atau bahan obat.
d. Sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan masyarakat secara meluas dan merata.
2.4 Persyaratan Apotek
Apotek baru yang akan beroperasi harus mempunyai Surat Izin Apotek (SIA), yaitu surat izin yang diberikan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia kepada apoteker atau apoteker yang bekerjasama dengan pemilik sarana untuk menyelenggarakan kegiatan apotek di suatu tempat tertentu. Izin apotek berlaku untuk seterusnya selama apotek yang bersangkutan masih aktif melakukan kegiatan dan Apoteker Pengelola Apotek dapat melaksanakan pekerjaannya serta masih memenuhi persyaratan (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2002).
Persyaratan pendirian sebuah apotek menurut Peraturan Menteri Kesehatan No.922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek yaitu :
a. Untuk mendapatkan izin apotek, apoteker atau apoteker yang bekerjasama dengan pemilik sarana yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan
tempat, perlengkapan termasuk sediaan farmasi dan perbekalan lainnya yang merupakan milik sendiri atau milik pihak lain.
b. Sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan pelayanan komoditi lainnya di luar sediaan farmasi.
c. Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi lainnya di luar sediaan farmasi.
2.4.1 Apoteker Pengelola Apotek
Apoteker Pengelola Apotek adalah apoteker yang telah diberi Surat Izin Apotek (SIA). Untuk menjadi Apoteker Pengelola Apotek, harus memenuhi persyaratan sebagai berikut (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1993) : a. Ijazahnya telah terdaftar pada Departemen Kesehatan.
b. Telah mengucapkan sumpah/janji sebagai apoteker. c. Memiliki Surat Izin Kerja dari Menteri
d. Memenuhi syarat-syarat kesehatan fisik dan mental untuk melaksanakan tugasnya sebagai apoteker.
e. Tidak bekerja di suatu perusahaan farmasi dan tidak menjadi Apoteker Pengelola Apotek di apotek lain.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.889/MENKES/PER/V/2011 tentang Registrasi, Izin Praktek, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian, seorang apoteker sebelum menjalankan pekerjaan kefarmasian wajib memiliki Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA). Seorang apoteker harus memenuhi beberapa persyaratan untuk memperoleh STRA, seperti:
a. Memiliki ijazah apoteker.
b. Memiliki sertifikat kompetensi profesi.
c. Memiliki surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji apoteker.
d. Memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki surat izin praktik.
e. Membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi.
Apoteker yang telah memenuhi syarat untuk memperoleh STRA, selanjutnya dapat mengajukan permohonan kepada KFN (Komite Farmasi Nasional) dengan membuat surat permohonan STRA yang harus melampirkan (Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2009; Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011) :
a. Fotokopi ijazah apoteker.
b. Fotokopi surat sumpah/janji apoteker.
c. Fotokopi sertifikat kompetensi profesi yang masih berlaku.
d. Surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki surat izin praktik.
e. Surat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi. f. Pas foto terbaru berwarna ukuran 4 x 6 cm sebanyak 2 (dua) lembar dan
ukuran 2 x 3 cm sebanyak 2 (dua) lembar.
Setiap tenaga kefarmasian yang akan menjalankan pekerjaan kefarmasian wajib memiliki surat izin sesuai tempat tenaga kefarmasian bekerja. Surat izin sebagaimana dimaksud berupa SIPA bagi apoteker penanggung jawab dan apoteker pendamping di fasilitas pelayanan kefarmasian. SIPA bagi apoteker penanggung jawab di fasilitas pelayanan kefarmasian hanya diberikan untuk 1 (satu) tempat fasilitas kefarmasian.; sedangkan SIPA bagi apoteker pendamping dapat diberikan untuk paling banyak 3 (tiga) tempat fasilitas pelayanan kefarmasian.
SIPA dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tempat pekerjaan kefarmasian tersebut dilakukan. Untuk memperoleh SIPA, apoteker mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tempat pekerjaan kefarmasian dilaksanakan. Permohonan SIPA harus melampirkan: a. Fotokopi STRA yang dilegalisir oleh KFN.
b. Surat pernyataan mempunyai tempat praktik profesi atau surat keterangan dari pimpinan fasilitas pelayanan kefarmasian atau dari pimpinan fasilitas produksi atau distribusi/penyaluran.
c. Surat rekomendasi dari organisasi profesi.
d. Pas foto berwarna ukuran 4 x 6 sebanyak 2 (dua) lembar dan 3 x 4 sebanyak 2 (dua) lembar.
2.4.2 Tempat/ Lokasi
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Republik Indonesia No. 922/MENKES/PER/X/1993 lokasi apotek tidak lagi ditentukan harus memiliki jarak minimal dari apotek lain dan sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan pelayanan komoditi lainnya di luar sediaan farmasi. Segi penyebaran dan pemerataan pelayanan, jumlah penduduk, jumlah dokter, sarana pelayanan kesehatan, lingkungan yang bersih dan faktor-faktor lainnya juga harus diperhatikan.
2.4.3 Bangunan
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.922/MENKES/PER/X/1993, luas apotek tidak diatur lagi, namun harus memenuhi persyaratan teknis sehingga kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi serta kegiatan pemeliharaan perbekalan farmasi dapat terjamin. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1027/MENKES /SK/IX/2004, bangunan apotek berlokasi pada daerah yang mudah dikenali oleh masyarakat. Bangunan di apotek harus mempunyai luas bangunan yang cukup dan memenuhi persyaratan teknis, sehingga dapat menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi apotek. Suatu apotek paling sedikit memiliki ruang tunggu pasien, ruang peracikan dan penyerahan obat, ruang administrasi, ruang kerja Apoteker, tempat pencucian alat dan kamar kecil. Bangunan apotek dilengkapi dengan sumber air yang memenuhi syarat kesehatan, sumber penerangan sehingga dapat memberikan penerangan yang memadai, alat pemadam kebakaran, ventilasi dan sanitasi yang baik, papan nama apotek beserta keterangan nama Apoteker Penanggung jawab Apotek (APA).
2.4.4 Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia yang terdapat di apotek antara lain Apoteker Pengelola Apotek, yaitu apoteker yang telah diberi Surat Izin Apotek (SIA); Apoteker Pendamping, yaitu apoteker yang bekerja di apotek disamping Apoteker Pengelola Apotek dan atau menggantikannya pada jam-jam tertentu pada hari buka apotek; Asisten Apoteker, yaitu mereka yang berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai Asisten Apoteker; personalia lain yang membantu kegiatan di apotek, antara lain juru resep yang membantu asisten apoteker dalam menyiapkan obat-obat untuk diracik, pemegang kas/kasir dan petugas kebersihan.
2.4.5 Perlengkapan Apotek
Perlengkapan yang harus ada di apotek adalah peralatan untuk membuat, mengolah dan meracik obat seperti timbangan, mortir dan stamfer, gelas ukur dan lain-lain; tempat penyimpanan perbekalan farmasi seperti lemari dan rak untuk menyimpan obat, lemari pendingin, lemari khusus untuk menyimpan narkotika dan psikotropika; wadah pengemas dan pembungkus seperti etiket obat; peralatan administrasi seperti blanko pemesanan obat, salinan resep dan kartu stok; dan buku standar yang diwajibkan serta kumpulan perundang-undangan yang berhubungan dengan apotek.
2.5 Tata Cara Perizinan Apotek (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2002)
Izin apotek diberikan oleh Menteri Kesehatan yang wewenangnya kemudian dilimpahkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota wajib melaporkan pelaksanaan pemberian izin, pencairan izin dan pencabutan izin apotek sekali setahun kepada Menteri dan tembusan disampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi.
Tata cara pengurusan izin apotek adalah :
a. Permohonan izin apotek diajukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan menggunakan contoh formulir model APT-1.
b. Dengan menggunakan Formulir APT-2 Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 (enam) hari kerja setelah menerima permohonan dapat meminta bantuan teknis kepada Kepala Balai POM untuk melakukan pemeriksaan setempat terhadap kesiapan apotek untuk melakukan kegiatan.
c. Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM selambat-lambatnya 6 (enam) hari kerja setelah permintaan bantuan teknis dari Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan hasil pemeriksaan setempat dengan menggunakan contoh formulir APT-3.
d. Dalam hal pemeriksaan dan pelaporan oleh Balai POM tidak dilaksanakan, apoteker pemohon dapat membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dengan menggunakan contoh formulir model APT-4.
e. Dalam jangka waktu 12 (dua belas) hari kerja setelah diterima laporan hasil pemeriksaan oleh Balai POM, atau pernyataan dari pemohon untuk siap melakukan kegiatan, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat mengeluarkan Surat Izin Apotek dengan menggunakan contoh formulir model APT-5.
f. Dalam hal hasil pemeriksaan Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM masih belum memenuhi syarat, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dalam waktu 12 (dua belas) hari kerja mengeluarkan Surat Penundaan dengan menggunakan contoh formulir model APT-6.
g. Terhadap Surat Penundaan, apoteker diberi kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat-lambatnya dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal Surat Penundaan.
h. Jika permohonan izin apotek tidak memenuhi persyaratan atau lokasi apotek tidak sesuai dengan permohonan, maka Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dalam jangka waktu selambat-lambatnya 12 (dua belas) hari kerja wajib mengeluarkan Surat Penolakan disertai dengan alasan-alasannya dengan menggunakan contoh formulir model APT-7.
2.6 Pengelolaan Apotek (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2002). Pengelolaan apotek meliputi :
a. Pembuatan, pengolahan, peracikan, pengubahan bentuk pencampuran, penyimpanan dan penyerahan obat atau bahan obat.
b. Pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan penyerahan perbekalan farmasi lainnya.
c. Pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi, yang meliputi pelayanan informasi tentang obat dan perbekalan farmasi lainnya yang diberikan, baik kepada dokter dan tenaga kesehatan lainnya maupun kepada masyarakat dan pengamatan serta pelaporan informasi mengenai khasiat keamanan, bahaya dan atau mutu obat dan perbekalan farmasi lainnya.
Dalam mengelola apotek, seorang apoteker wajib menyediakan, meyimpan dan menyerahkan perbekalan farmasi yang bermutu baik dan yang keabsahannya terjamin. Obat dan perbekalan farmasi lainnya yang karena sesuatu hal tidak dapat digunakan lagi atau dilarang digunakan, maka harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau ditanam atau dengan cara lain yang ditetapkan oleh Menteri. Pemusnahan dilakukan oleh Apoteker Pengelola Apotek atau Apoteker Pengganti yang dibantu oleh sekurang-kurangnya seorang karyawan apotek. Pada saat pemusnahan, dibuat berita acara pemusnahan dengan menggunakan contoh formulir model APT-8.
Dalam pelaksanaan pengelolaan apotek, Apoteker Pengelola Apotek dapat dibantu oleh Asisten Apoteker yang melakukan pekerjaan kefarmasian di apotek di bawah pengawasan apoteker.
Tanggung jawab pengelolaan apotek dapat dialihkan oleh Apoteker Pengelola Apotek dengan ketentuan :
a. Pada setiap pengalihan tanggung jawab pengelolaan kefarmasian yang disebabkan karena penggantian Apoteker Pengelola Apotek kepada Apoteker Pengganti, wajib dilakukan serah terima resep, narkotika, obat dan perbekalan farmasi lainnya serta kunci-kunci tempat penyimpanan narkotika dan psikotropika. Pada saat serah terima, wajib dibuat berita acara serah terima sesuai dengan bentuk yang telah ditentukan dalam rangkap empat yang ditandatangani oleh kedua belah pihak, yang melakukan serah terima dengan menggunakan contoh formulir model APT-10.
b. Apabila Apoteker Pengelola Apotek meninggal dunia, dalam jangka waktu dua kali dua puluh empat jam, ahli waris Apoteker Pengelola Apotek wajib melaporkan kejadian tersebut secara tertulis kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Apabila di apotek tersebut tidak terdapat Apoteker Pendamping, maka wajib disertai penyerahan resep, narkotika, psikotropika,
obat keras dan kunci tempat penyimpanan narkotika dan psikotropika. Pada saat penyerahan dibuat Berita Acara Serah Terima kepada Kepala Kantor Wilayah atau petugas yang diberi wewenang selaku pihak yang menerima dengan menggunakan contoh formulir model APT-11.
2.7 Pelayanan Apotek
Dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No.922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek disebutkan mengenai beberapa ketentuan umum dalam pelayanan apotek, antara lain :
a. Apotek wajib melayani resep dokter, dokter gigi dan dokter hewan yang sepenuhnya berada dalam tanggung jawab Apoteker Pengelola Apotek.
b. Apoteker wajib melayani resep sesuai dengan tanggung jawab dan keahlian profesinya yang dilandasi pada kepentingan masyarakat.
c. Apoteker tidak diizinkan untuk mengganti obat generik yang tertulis di dalam resep dengan obat paten.
d. Dalam hal pasien tidak mampu menebus obat yang tertulis di dalam resep, apoteker wajib berkonsultasi dengan dokter untuk pemilihan obat yang lebih tepat.
e. Apoteker wajib memberikan informasi yang berkaitan dengan penggunaan obat yang diserahkan kepada pasien dan mengenai penggunaan obat secara tepat, aman, rasional atas permintaan masyarakat. Apabila apoteker menganggap bahwa dalam resep terdapat kekeliruan atau penulisan resep yang tidak tepat, maka apoteker harus memberitahukan dokter yang menulis resep tersebut. Apabila dokter tetap dengan pendiriannya, dokter wajib menyatakan secara tertulis atau membubuhkan tanda tangan di atas resep.
f. Salinan resep harus ditandatangani oleh apoteker.
g. Resep harus dirahasiakan dan disimpan di apotek dengan baik dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun.
penulis resep atau yang merawat penderita, penderita yang bersangkutan, petugas kesehatan atau petugas lain yang berwenang menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
i. Apoteker Pengelola Apotek, Apoteker Pendamping atau Apoteker Pengganti diizinkan untuk menjual obat keras yang dinyatakan sebagai Daftar Obat Wajib Apotek tanpa resep yang telah ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. j. Apabila Apoteker Pengelola Apotek berhalangan melakukan tugasnya
pada jam buka apotek, Apoteker Pengelola Apotek dapat menunjuk Apoteker Pendamping. Apoteker Pendamping bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas pelayanan kefarmasian selama yang bersangkutan bertugas menggantikan Apoteker Pengelola Apotek.
k. Apoteker pendamping adalah apoteker yang bekerja di apotek disamping Apoteker Pengelola Apotek (APA) dan/atau menggantikannya pada jam-jam tertentu pada hari buka apotek.
l. Apabila Apoteker Pengelola Apotek dan Apoteker Pendamping karena hal-hal tertentu berhal-halangan melakukan tugasnya, Apoteker Pengelola Apotek dapat menunjuk Apoteker Pengganti. Penunjukan harus dilaporkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi setempat dengan menggunakan contoh formulir model APT-9.
m. Apoteker pengganti adalah apoteker yang menggantikan Apoteker Pengelola Apotek selama Apoteker Pengelola Apotek tersebut tidak berada di tempat lebih dari 3 bulan terus-menerus, telah memiliki Surat Izin Kerja dan tidak bertindak sebagai Apoteker Pengelola Apotek di apotek lain.
n. Apabila Apoteker Pengelola Apotek berhalangan melakukan tugasnya lebih dari 2 (dua) tahun secara terus menerus, maka Surat Izin Apotek atas nama apoteker yang bersangkutan dicabut.
Pelayanan yang dilakukan di apotek harus menerapkan pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care) yaitu bentuk pelayanan dan tanggung jawab langsung profesi apoteker dalam pekerjaan kefarmasian untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Untuk mewujudkan pelayanan kefarmasian, farmasis harus menerapkan standar pelayanan yang baik dalam memberikan pelayanan kepada
pelanggan, yang meliputi pelayanan resep, promosi dan edukasi, dan pelayanan residential (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2004b).
2.7.1 Pelayanan Resep (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2004b) a. Skrining resep meliputi persyaratan administratif (nama, Surat Izin Praktek dan alamat dokter; tanggal penulisan resep; tanda tangan/paraf dokter penulis resep; nama, alamat, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien; nama obat, potensi, dosis, jumlah obat yang diminta; cara pemakaian yang jelas serta informasi lainnya yang diperlukan), kesesuaian farmasetik (bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama pemberian), dan pertimbangan klinis (adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian dosis, durasi, jumlah obat dan lain-lain).
b. Penyiapan obat meliputi peracikan (menyiapkan, menimbang, mencampur, mengemas dan memberikan etiket pada wadah), penulisan etiket harus jelas dan dapat dibaca, kemasan obat harus cocok dan rapi sehingga terjaga kualitasnya, penyerahan obat oleh apoteker dengan melakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dan resep, dan pemberian informasi serta konseling kepada pasien. Informasi obat yang diberikan kepada pasien harus benar, jelas, mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana dan terkini. Informasi ini sekurang-kurangnya meliputi cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi. Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan monitoring penggunaan obat, terutama untuk pasien kardiovaskular, diabetes, tuberkulosis, asma dan penyakit kronis lainnya.
c. Konseling didefinisikan sebagai proses komunikasi dua arah yang sistematik antara apoteker dan pasien untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan obat dan pengobatan. Apoteker harus memberikan konseling mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan salah sediaan farmasi atau perbekalan kesehatan lainnya.
2.7.2 Promosi dan Edukasi (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2004b)
Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, apoteker harus berpartisipasi secara aktif dalam promosi dan edukasi kepada pasien. Apoteker ikut membantu penyebaran informasi antara lain dengan penyebaran leaflet/brosur, poster, penyuluhan dan lainnya.
2.7.3 Pelayanan Residensial (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2004b)
Pelayanan residensial adalah pelayanan apoteker sebagai care giver dalam pelayanan kefarmasian di rumah-rumah khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Untuk itu apoteker harus membuat catatan pengobatan pasien (medication record).
2.8 Pemberian Informasi Obat (PIO) di Apotek
Pekerjaan kefarmasian di apotek tidak hanya pada pembuatan, pengolahan, pengadaan, dan penyimpanan perbekalan farmasi, tetapi juga pada pelayanan informasi obat.
Tujuan diselenggarakannya PIO di apotek adalah demi tercapainya penggunaan obat yang rasional, yaitu tepat indikasi, tepat pasien, tepat regimen (dosis, cara, saat dan lama pemberian), tepat obat, dan waspada efek samping. Dalam memberikan informasi obat, hendaknya seorang apoteker mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Mandiri, artinya bebas dari segala bentuk keterikatan dengan pihak lain yang dapat mengakibatkan informasi yang diberikan menjadi tidak objektif.
b. Objektif, artinya memberikan informasi dengan sejelas-jelasnya mengenai suatu produk obat tanpa dipengaruhi oleh berbagai kepentingan.
c. Seimbang, artinya informasi diberikan setelah melihat dari berbagai sudut pandang yang mungkin berlawanan
d. Ilmiah, yang artinya informasi berdasarkan sumber data atau referensi yang dapat dipercaya.
e. Berorientasi pada pasien, maksudnya informasi tidak hanya mencangkup informasi produk seperti ketersediaan, kesetaraan generik, tetapi juga harus mencangkup informasi yang mempertimbangkan kondisi pasien. Oleh sebab itu, peranan terhadap keberadaan apoteker di apotek dalam pemberian informasi obat tersebut kepada pasien, dokter, maupun tenaga medis lainnya sangat penting.
2.9 Pencabutan Izin Apotek (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2002).
2.9.1 Kriteria Pencabutan Izin Apotek
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melakukan pencabutan Surat Izin Apotek (SIA) apabila :
a. Apoteker sudah tidak lagi memenuhi ketentuan yang tercantum dalam persyaratan sebagai Apoteker Pengelola Apotek.
b. Apoteker tidak memenuhi kewajiban sebagai Apoteker Pengelola Apotek. c. Apoteker Pengelola Apotek tidak melakukan tugasnya lebih dari 2 (dua)
tahun secara terus menerus.
d. Terjadi pelanggaran terhadap ketentuan perundang-undangan yang berhubungan dengan kegiatan di apotek.
e. Surat Izin Kerja Apoteker Pengelola Apotek dicabut.
f. Pemilik sarana apotek terbukti terlibat dalam pelanggaran perundang-undangan di bidang obat.
g. Apotek tidak lagi memenuhi persyaratan, baik dalam hal tempat atau lokasi, perlengkapan, serta kegiatan pelayanan di apotek.
2.9.2 Ketentuan Pencabutan Izin Apotek
Ketentuan mengenai pencabutan izin apotek berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1322/MENKES/SK/X/2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek adalah :
a. Pelaksanaan pencabutan izin apotek dilakukan setelah dikeluarkan peringatan secara tertulis kepada Apoteker Pengelola Apotek sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut dengan tenggang waktu masing-masing 2 (dua)
bulan dengan menggunakan formulir model APT-12 dan pembekuan izin apotek untuk jangka waktu selama-lamanya 6 (enam) bulan sejak dikeluarkannya penetapan pembekuan kegiatan apotek dengan menggunakan contoh formulir model APT-13.
b. Pembekuan izin apotek dapat dicairkan apabila apotek telah membuktikan memenuhi seluruh persyaratan sesuai dengan ketentuan dengan menggunakan contoh formulir model APT-14.
c. Pencairan izin apotek dilakukan setelah menerima laporan pemeriksaan dari Tim Pemeriksaan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat.
d. Keputusan pencabutan Surat Izin Apotek oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota disampaikan langsung kepada apotek yang bersangkutan dengan menggunakan contoh formulir model APT-15 dan tembusan kepada Menteri Kesehatan dan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi setempat serta Kepala Balai Pengawas Obat dan Makanan setempat.
2.9.3 Kewajiban Apoteker Pengelola Apotek setelah Pencabutan Surat Izin Apotek
Apabila Surat Izin Apotek dicabut, Apoteker Pengelola Apotek atau Apoteker Pengganti wajib mengamankan perbekalan farmasi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengamanan dilakukan dengan mengikuti tata cara sebagai berikut (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2002) : a. Dilakukan inventarisasi terhadap seluruh persediaan narkotika, obat
keras tertentu dan obat lainnya serta seluruh resep yang tersedia di apotek. b. Narkotika, psikotropika dan resep harus dimasukkan dalam tempat
yang tertutup dan terkunci.
c. Apoteker Pengelola Apotek wajib melaporkan secara tertulis kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tentang penghentian kegiatan disertai laporan inventarisasi seluruh perbekalan farmasi di apotek.
2.10 Pengelolaan Narkotika (Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009)
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintesis maupun semisintesis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Narkotika dibedakan dalam tiga golongan yaitu:
a. Narkotika golongan I, yang dapat digunakan untuk kepentingan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan dilarang digunakan untuk kepentingan lainnya, serta mempunyai potensi yang sangat tinggi untuk menimbulkan ketergantungan. Contohnya tanaman Papaver somniferum (kecuali biji), Erythroxylon coca, dan Cannabis sativa.
b. Narkotika golongan II, yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan sebagai pilihan terakhir dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi untuk menimbulkan ketergantungan. Contohnya adalah morfin dan petidin.
c. Narkotika golongan III, yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan untuk menimbulkan ketergantungan, contohnya yaitu Codein.
Tujuan dari undang-undang tentang narkotika yaitu :
a. Menjamin ketersediaan narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
b. Mencegah, melindungi dan menyelamatkan bangsa Indonesia dari penyalahgunaan narkotika.
c. Memberantas peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika.
d. Menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan sosial bagi penyalah guna dan pecandu narkotika.
Kegiatan pengelolaan narkotika yang dilakukan di apotek meliputi pemesanan narkotika, penyimpanan narkotika, pelayanan resep yang mengandung narkotika, pelaporan narkotika dan pemusnahan narkotika.
2.10.1 Pemesanan Narkotika
Pengadaan narkotika di apotek dilakukan dengan pemesanan tertulis melalui Surat Pesanan (SP) narkotika kepada Pedagang Besar Farmasi (PBF) PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. Surat Pesanan narkotika harus ditandatangani oleh Apoteker Penanggung Jawab Apotek dengan mencantumkan nama jelas, nomor SIK, SIA dan stempel apotek. Satu Surat Pesanan narkotika terdiri dari rangkap empat dan hanya dapat digunakan untuk memesan satu jenis obat narkotika.
2.10.2 Penyimpanan Narkotika (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1978).
Apotek harus memiliki tempat khusus untuk penyimpanan narkotika. Lemari khusus yang digunakan untuk menyimpan narkotika tidak boleh digunakan untuk menyimpan barang lain selain narkotika dan anak kunci lemari khusus harus dipegang oleh penanggung jawab atau pegawai lain yang ditunjuk. Lemari khusus harus ditempatkan di tempat yang aman dan tidak terlihat oleh umum. Persyaratan untuk lemari atau tempat khusus penyimpanan narkotika harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :
a. Harus dibuat seluruhnya dari kayu atau bahan lain yang kuat. b. Harus mempunyai kunci yang kuat.
c. Dibagi dua masing-masing dengan kunci yang berlainan, bagian pertama digunakan untuk menyimpan morfin, petidin dan garam-garamnya serta bagian kedua untuk persediaan narkotika lainnya yang dipakai sehari-hari.
d. Apabila tempat khusus tersebut berupa lemari berukuran kurang dari 40x80x100 cm, maka lemari tersebut harus dibaut pada tembok atau lantai.
2.10.3 Pelayanan Resep yang Mengandung Narkotika
Narkotika hanya digunakan untuk kepentingan pengobatan dan atau ilmu pengetahuan serta dapat digunakan untuk kepentingan pengobatan hanya berdasarkan resep dokter. Penyerahan narkotika dari apotek kepada pasien hanya dapat dilakukan berdasarkan resep dari dokter (Undang-Undang Nomor 35
Tahun 2009).
Apotek dilarang melayani salinan resep yang mengandung narkotika. Untuk resep narkotika yang baru dilayani sebagian, apotek boleh membuat salinan resep, tetapi salinan resep tersebut hanya boleh dilayani di apotek yang menyimpan resep asli. Salinan resep narkotika dengan tulisan iter tidak boleh dilayani sama sekali. Oleh karena itu, dokter tidak boleh menambah tulisan iter pada resep yang mengandung narkotika.
2.10.4 Pelaporan Narkotika
Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika menyatakan bahwa apotek wajib membuat, menyampaikan dan menyimpan laporan berkala mengenai pemasukan dan/atau pengeluaran narkotika yang berada dalam penguasaannya. Pelaporan penggunaan narkotika telah dikembangkan dalam bentuk perangkat lunak atau program Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika (SIPNAP) sejak tahun 2006 oleh Kementerian Kesehatan. Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika (SIPNAP) adalah sistem yang mengatur pelaporan penggunaan Narkotika dan Psikotropika dari Unit Layanan (Puskesmas, Rumah Sakit dan Apotek) ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan menggunakan pelaporan elektronik selanjutnya Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan ke tingkat yang lebih tinggi (Dinkes Provinsi dan Dit jen Binfar dan Alkes) melalui mekanisme pelaporan online yang menggunakan fasilitas internet. Namun, penerapan undang-undang ini belum dilaksanakan secara menyeluruh di Indonesia.
2.10.5 Pemusnahan Narkotika
Pemusnahan narkotika dilakukan terhadap narkotika yang rusak, kadaluarsa, dan tidak memenuhi syarat lagi. Pemusnahan tersebut harus disaksikan oleh petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Apoteker Pengelola Apotek membuat berita acara pemusnahan paling sedikit rangkap 3 (tiga) yang memuat :
a. Nama, jenis, sifat, dan jumlah
pemusnahan
c. Keterangan mengenai pemilik, apoteker pimpinan apotek dan dokter pemilik narkotika
d. Tanda tangan dan identitas lengkap pelaksana dan pejabat atau pihak terkait lainnya yang menyaksikan pemusnahan (saksi dari pemerintah dan seorang saksi dari perusahaan atau badan tersebut).
Berita acara pemusnahan narkotika harus dikirimkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Dinas Kesehatan Propinsi, Kepala Balai Besar POM setempat, dan satu disimpan untuk arsip apotek.
2.11 Pengelolaan Psikotropika
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No.5 tahun 1997 tentang psikotropika, psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintesis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan prilaku. Tujuan pengaturan di bidang psikotropika adalah untuk menjamin ketersediaan psikotropika guna kepentingan pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan, mencegah terjadinya penyalahgunaan psikotropika, serta memberantas peredaran gelap psikotropika. Psikotropika dibagi menjadi beberapa golongan :
a. Psikotropika golongan I adalah psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan. Contohnya adalah ekstasi.
b. Psikotropika golongan II adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan, digunakan dalam terapi, dan/atau atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contohnya adalah amfetamin.
c. Psikotropika golongan III adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi, dan/atau atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contohnya adalah fenobarbital.
d. Psikotropika golongan IV adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi, dan/atau atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan. Contohnya adalah diazepam dan nitrazepam.
Ruang lingkup pengaturan psikotropika dalam Undang-Undang No.5 tahun 1997 adalah segala hal yang berhubungan dengan psikotropika yang mengakibatkan ketergantungan.
2.11.1 Pemesanan Psikotropika (Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997)
Pemesanan psikotropika dilakukan dengan menggunakan Surat Pesanan Psikotropika yang ditandatangani oleh APA dengan mencantumkan nomor SIA dan SIK. Surat pesanan tersebut dibuat rangkap tiga dan setiap surat pesanan dapat digunakan untuk memesan beberapa jenis psikotropika.
2.11.2 Penyimpanan Psikotropika (Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997) Penyimpanan obat psikotropika sampai dengan saat ini belum diatur dengan peraturan perundang-undangan. Namun untuk mencegah penyalahgunaan obat-obat psikotropika, maka sebaiknya obat-obat tersebut disimpan di dalam rak atau lemari yang terpisah dengan obat lain.
2.11.3 Penyerahan Psikotropika (Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997)
a. Penyerahan psikotropika dari apotek kepada apotek lainnya diberikan berdasarkan surat permintaan tertulis yang ditandatangani oleh Apoteker Pengelola Apotek.
b. Penyerahan psikotropika dari apotek kepada rumah sakit diberikan berdasarkan surat permintaan tertulis yang ditandatangani oleh direktur rumah sakit.
c. Penyerahan psikotropika dari apotek kepada puskesmas diberikan berdasarkan surat permintaan tertulis dari kepala puskesmas.
d. Penyerahan psikotropika dari apotek kepada balai pengobatan diberikan berdasarkan surat permintaan tertulis dari dokter penanggung jawab balai pengobatan.
e. Penyerahan psikotropika dari apotek kepada dokter diberikan berdasarkan resep dokter.
f. Penyerahan psikotropika dari apotek kepada pasien diberikan berdasarkan resep dokter.
2.11.4 Pelaporan Psikotropika (Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997)
Apotek berkewajiban menyusun dan mengirimkan laporan bulanan melalui perangkat lunak atau program Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika (SIPNAP). Mekanisme pelaporan psikotropika sama dengan pelaporan narkotika.
2.11.5 Pemusnahan Psikotropika (Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997) Pemusnahan psikotropika dilakukan dengan membuat berita acara dan disaksikan oleh pejabat yang ditunjuk. Pemusnahan psikotropika tersebut dilakukan apabila kadaluarsa, tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan atau pengembangan ilmu pengetahuan, atau berkaitan dengan tindak pidana.
BAB 3
TINJAUAN UMUM
3.1 PT. Kimia Farma (Persero), Tbk.
3.1.1 Sejarah Singkat PT. Kimia Farma (Persero), Tbk.
Sejarah PT. Kimia Farma tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah bangsa, dan khususnya perkembangan dunia kefarmasian di Indonesia. Setelah proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, perusahaan-perusahaan swasta milik Belanda masih beroperasi di wilayah Republik Indonesia. Sejarah Kimia Farma (KF) dimulai pada saat pengambilalihan perusahaan milik Belanda yang bergerak di bidang farmasi oleh Pemerintah Republik Indonesia. Perusahaan kimia farma berasal dari nasionalisasi perusahaan farmasi Belanda oleh Penguasa Perang Pusat berdasarkan Undang-Undang No.74/1957 yang baru dilaksanakan pada tahun 1958. Perusahaan-perusahaan yang mengalami nasionalisasi antara lain N.V. Pharmaceutische Hendel vereneging J. Van Gorkom (Jakarta), N.V. Chemicalier Handle Rathcamp & Co., (Jakarta), N.V. Bavosta (Jakarta), N.V. Bandoengsche Kinine Fabriek (Bandung) dan N.V Jodium OndernemingWatoedakon (Mojokerto).
Setelah nasionalisasi perusahaan-perusahaan swasta milik Belanda dapat terlaksana, Penguasa Perang Pusat menyerahkan perusahaan-perusahaan swasta milik Belanda kepada departemen-departemen sesuai dengan bidang usahanya masing-masing. Berdasarkan SK Penguasa Perang Pusat No. Kpb/Peperpu/0348/1958 dan SK Menkes No. 58041/Kab/1958, terbentuklah Bapphar (Badan Pusat Penguasaan Perusahaan Farmasi Belanda). Selain itu, Bapit (Badan Pusat Penguasaan Industri dan Tambang-Departemen perindustrian) juga turut menerima penyerahan beberapa perusahaan Belanda.
Berdasarkan Undang-undang No. 19/Prp/tahun 1960 tentang Perusahaan Negara (PN) dan PP No.69 tahun 1961, Departemen Kesehatan Republik Indonesia mengganti Bapphar menjadi Badan Pimpinan Umum (BPU) Farmasi Negara dan membentuk beberapa PN Farmasi, yaitu PN Farmasi dan alat kesehatan Radja Farma (Jakarta), PN Farmasi dan alat kesehatan Nurani Farma (Jakarta), PN Farmasi dan alat kesehatan Nakula Farma (Jakarta), PN Bio Farma,
Husada (Yogyakarta), dan PN Farmasi dan alat kesehatan Kasa Husada (Surabaya).
Pada tanggal 23 Januari 1969, berdasarkan PP No. 3 Tahun 1969 perusahaan-perusahaan negara tersebut digabung menjadi PNF Bhinneka Kimia Farma dengan tujuan penertiban dan penyederhanaan perusahaan-perusahaan negara. Selanjutnya pada tanggal 16 agustus 1971, Perusahaan Negara Farmasi Kimia Farma mengalami peralihan bentuk hukum menjadi Badan Usaha Milik Negara dengan status sebagai Perseroan Terbatas, sehingga selanjutnya disebut PT. Kimia Farma (Persero), Tbk.
Berdasarkan Surat Menteri Negara Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN No. S-59/M-PM. BUMN/2000 tanggal 7 Maret 2000, PT. Kimia Farma diprivatisasi. Sejak tanggal 4 Juli 2000, PT. Kimia Farma resmi terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) sebagai perusahaan publik dengan nama PT Kimia Farma (Persero) Tbk. Untuk dapat mengelola perusahaan lebih terarah dan berkembang dengan cepat, maka pada tanggal 4 januari 2002 Direksi PT. Kimia Farma (Persero) Tbk mendirikan 2 (dua) anak perusahaannya yaitu PT. Kimia Farma Apotek yang bergerak dibidang ritel farmasi dan PT. Kimia Farma Trading & Distribution.
PT. Kimia Farma Apotek saat ini memilki 36 unit bisnis dan 412 apotek yang tersebar di seluruh Indonesia, sedangkan PT. Kimia Farma Trading &Distribution memiliki 2 wilayah pasar, dan 35 cabang PBF (Pedagang Besar Farmasi).
3.1.2 Visi dan Misi a. Visi :
Visi PT. Kimia Farma (Persero), Tbk. adalah menjadi korporasi bidang kesehatan terintegrasi dan mampu menghasilkan pertumbuhan nilai yang berkesinambungan melalui konfigurasi dan koordinasi bisnis yang sinergis. b. Misi :
Misi PT. Kimia Farma (Persero), Tbk. adalah menghasilkan pertumbuhan nilai korporasi melalui usaha di bidang-bidang:
1) Industri kimia dan farmasi dengan basis penelitian dan pengembangan produk yang inovatif.
2) Perdagangan dan jaringan distribusi.
3) Pelayanan kesehatan yang berbasis jaringan retail farmasi dan jaringan pelayanan kesehatan lainnya.
4) Pengelolaan aset-aset yang dikaitkan dengan pengembangan usaha perusahaan.
3.1.3 Struktur Organisasi
PT. Kimia Farma (Persero), Tbk., dipimpin oleh seorang Direktur Utama yang membawahi tiga Direktur, yaitu Direktur Operasional, Direktur Keuangan, dan Direktur SDM dan Umum.
Dalam upaya perluasan, penyebaran, pemerataan dan pendekatan pelayanan kefarmasian pada masyarakat, PT. Kimia Farma (Persero), Tbk. telah membentuk suatu jaringan distribusi yang terorganisir. PT. Kimia Farma (Persero), Tbk. mempunyai 2 (dua) anak perusahaan, yaitu PT. Kimia Farma Trading & Distribution dan PT. Kimia Farma Apotek yang masing-masing berperan dalam penyaluran sediaan farmasi, baik distribusi melalui PBF maupun pelayanan kefarmasian melalui Apotek.
PT. Kimia Farma Trading & Distribution (T&D) membawahi PBF-PBF yang tersebar di seluruh Indonesia. Wilayah usaha PT. Kimia Farma T&D dibagi menjadi 2 (dua) wilayah yang keseluruhannya membawahi 35 PBF di seluruh Indonesia. PBF mendistribusikan produk-produk baik yang berasal dari PT. Kimia Farma (Persero), Tbk. maupun dari produsen-produsen yang lain ke Apotek-Apotek, toko obat dan institusi pemerintahan maupun swasta.
PT. Kimia Farma Apotek membawahi Apotek Kimia Farma (KF) yang wilayah usahanya terbagi menjadi 36 wilayah Unit Bisnis yang menaungi kurang lebih 412 Apotek di seluruh Indonesia. Tiap-tiap unit bisnis (Bussiness Manager) membawahi sejumlah Apotek pelayanan yang berada di wilayah usahanya. Untuk wilayah Jabodetabek dibagi menjadi lima Unit Bisnis, yaitu:
1. Bisnis Manager Jaya I, membawahi wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Barat dengan BM (Bisnis Manager) di Apotek Kimia Farma No. 42, Kebayoran Baru.
2. Bisnis Manager Jaya II, membawahi wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Utara dan Bekasi, dengan BM di Apotek Kimia Farma No. 48, di Matraman.
3. Bisnis Manager Bogor, membawahi wilayah Bogor, Depok, dan Sukabumi dengan BM di Apotek Kimia Farma No. 7, Bogor.
4. Bisnis Manager Tangerang membawahi wilayah Provinsi Banten dengan BM di Apotek Kimia Farma No. 95, Tangerang.
5. Bisnis Manager Rumah Sakit di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Bisnis Manager secara struktur organisasi langsung membawahi para manager apotek pelayanan dan membawahi supervisor akuntasi dan keuangan serta supervisor inventory. Masing-masing dari bagian tersebut terdiri dari fungsi-fungsi yang menjalankan perannya masing-masing.
3.2 PT. Kimia Farma Apotek
PT Kimia Farma Apotek merupakan anak perusahaan yang dibentuk oleh PT Kimia Farma Tbk., untuk mengelola apotek-apotek milik perusahaan yang ada. PT. Kimia Farma Apotek yang dahulu terkoordinasi dalam Unit Apotek Daerah (UAD) sejak bulan Juli tahun 2004 dibuat dalam orientasi Bisnis Manajer (BM) dan Apotek Pelayanan sebagai hasil restrukturisasi organisasi yang dilakukan. Manajemen PT. Kimia Farma Apotek melakukan perubahan struktur (restrukturisasi) organisasi dan sistem pengelolaan SDM dengan pendekatan efisiensi, produktifitas, kompetensi dan komitmen dalam rangka mengantisipasi perubahan yang ada.
Dalam upaya meningkatkan kontribusi penjualan untuk memperbesar penjualan maka PT Kimia Farma Apotek hingga April 2013 telah mengelola sebanyak 412 apotek yang tersebar diseluruh tanah air. Penambahan jumlah apotek yang terus dikembangkan merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam memanfaatkan momentum pasar bebas, dimana pihak yang memiliki
jaringan luas seperti Kimia Farma akan diuntungkan. Apotek Kimia Farma melayani beberapa jenis pelayanan, yaitu penjualan langsung, pelayanan resep dokter, penyediaan, pelayanan praktek dokter, optik, dan pelayanan swalayan farmasi, serta pusat pelayanan informasi obat.
Salah satu perubahan yang dilakukan adalah dengan mengubah persepsi dan citra lama tentang Kimia Farma. Dengan konsep baru bahwa setiap apotek Kimia Farma bukan lagi terbatas sebagai gerai untuk jual obat, tetapi menjadi pusat pelayanan kesehatan yang didukung oleh berbagai aktivitas penunjang seperti laboratorium klinik, optik, praktek dokter, dan gerai untuk obat-obatan tradisional Indonesia. Perubahan yang dilakukan secara fisik antara lain dengan memperbaharui penampilan eksterior dan interior dari Apotek Kimia Farma yang tersebar di seluruh Indonesia. Bersamaan itu diciptakan pula budaya baru di lingkungan setiap apotek untuk lebih berorientasi kepada pelayanan konsumen, dimana setiap Apotek Kimia Farma haruslah mampu memberikan servis yang baik, penyediaan obat yang baik dan lengkap, berikut pelayanan yang cepat dan terasa nyaman.
Saat ini, unit Bisnis Manajer (BM) dan Apotek Pelayanan merupakan garda terdepan dari PT. Kimia Farma Apotek dalam melayani kebutuhan obat kepada masyarakat. Unit BM membawahi beberapa Apotek Pelayanan yang berada dalam suatu wilayah tertentu, dengan tugas menangani administrasi permintaan barang dari apotek pelayanan yang berada di bawahnya, administrasi pembelian/ pemesanan barang, administrasi piutang dagang, administrasi hutang dagang dan administrasi perpajakan. Fokus dari Apotek Pelayanan adalah pelayanan perbekalan farmasi dan informasi obat pasien, sehingga layanan apotek yang berkualitas dan berdaya saing mendukung dalam pencapaian laba melalui penjualan setinggi-tingginya.
3.2.1 Logo PT. Kimia Farma Apotek
Logo PT. Kimia Farma Apotek sama dengan PT. Kimia Farma (Persero) Tbk, yaitu matahari dengan jenis huruf italic seperti dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Logo PT. Kimia Farma Apotek
3.2.1.1 Pengertian
Maksud dari simbol matahari tersebut adalah: a. Paradigma baru
Matahari terbit adalah tanda memasuki babak baru kehidupan yang lebih baik.
b. Optimis
Matahari memiliki cahaya sebagai sumber energi, cahaya tersebut adalah penggambaran optimisme Kimia Farma dalam menjalankan bisnisnya. c. Komitmen
Matahari selalu terbit dari timur dan tenggelam dari arah barat secara teratur dan terus menerus memiliki makna adanya komitmen dan konsistensi dalam menjalankan segala tugas yang diemban oleh Kimia Farma dalam bidang farmasi dan kesehatan.
d. Sumber energi
Matahari sumber energi bagi kehidupan dan Kimia Farma baru memposisikan dirinya sebagai sumber energi bagi kesehatan masyarakat. e. Semangat yang abadi
Warna orange berarti semangat, warna biru berarti keabadian. Harmonisasi antara kedua warna tersebut menjadi satu makna yaitu semangat yang abadi.
3.2.1.2 Jenis huruf
Dirancang khusus untuk kebutuhan Kimia Farma disesuaikan dengan nilai dan citra yang telah menjadi energi bagi Kimia Farma, karena prinsip sebuah identitas harus berbeda dengan identitas yang telah ada.
3.2.1.3 Sifat huruf a. Kokoh
Memperlihatkan Kimia Farma sebagai perusahaan terbesar dalam bidang farmasi yang memiliki bisnis hulu hilir dan merupakan perusahaan farmasi pertama yang dimiliki Indonesia.
b. Dinamis
Dengan jenis huruf italic, memperlihatkan kedinamisan dan optimisme c. Bersahabat
Dengan jenis huruf kecil dan lengkung, memperlihatkan keramahan Kimia Farma dalam melayani konsumennya dalam konsep apotek jaringan. Konsep apotek jaringan sendiri telah dicanangkan pada tahun 1998 yang artinya sudah kurang lebih 14 tahun kebijakan itu diberlakukan untuk menjadikan beberapa apotek bergabung ke dalam grup yang pada akhirnya diharapkan menjadi suatu jaringan apotek yang kuat.
3.2.2 Visi dan Misi PT. Kimia Farma Apotek 3.2.2.1 Visi
Menjadi perusahaan jaringan layanan kesehatan yang terkemuka dan mampu memberikan solusi kesehatan masyarakat di Indonesia.
3.2.2.2 Misi
Menghasilkan pertumbuhan nilai perusahaan melalui :
1. Jaringan layangan kesehatan yang terintegrasi meliputi jaringan apotek, klinik laboratorium klinik dan layanan kesehatan lainnya
2. Saluran distribusi utama bagi produk sendiri dan produk prinsipal
3. Pengembangan bisnis waralaba dan peningkatan pendapatan lainnya (Fee-Based Income).
3.2.3 Struktur Organisasi PT Kimia Farma Apotek
PT Kimia Farma Apotek dikepalai oleh seorang Direktur Utama yang membawahi tiga direktur yaitu Direktur Operasional, Direktur Keuangan, serta Direktur Umum & SDM, serta membawahi langsung Manajer Pengembangan Bisnis.
Terdapat dua jenis apotek Kimia Farma, yaitu Apotek Administrator yangsekarang disebut Business Manager (BM) dan Apotek Pelayanan (APP). BM membawahi beberapa Apotek Pelayanan yang berada dalam suatu wilayah. Bisnis Manajer bertugas menangani pembelian, penyimpanan barang dan administrasi apotek pelayanan yang berada dibawahnya. Dengan adanya konsep BM diharapkan pengelolaan aset dan keuangan dari apotek dalam satu area menjadi lebih efektif dan efisien, demikian juga kemudahan dalam pengambilan keputusan-keputusan yang menyangkut antisipasi dan penyelesaian masalah.
Secara umum keuntungan yang diperoleh melalui konsep BM adalah koordinasi modal kerja menjadi lebih mudah, apotek pelayanan akan lebih fokus pada kualitas pelayanan sehingga mutu pelayanan akan meningkat yang diharapkan akan berdampak pada peningkatan penjualan, merasionalkan jumlah SDM terutama tenaga administrasi yang diharapkan berimbas pada efisiensi biaya administrasi, serta meningkatkan penawaran dengan pemasok untuk memperoleh sumber barang dagangan yang lebih murah.
Apotek Kimia Farma No.278 merupakan salah satu apotek pelayanan yang tergabung dalam unit Business Manager (BM) Tangerang. BM Tangerang membawahi 10 Apotek Kimia Farma yang berada di wilayah Provinsi Banten.
4.1 Lokasi dan Tata Ruang 4.1.1 Lokasi
Apotek Kimia Farma No. 278 berlokasi di Ruko Versailes Blok FB No. 15 sektor 1.6 BSD, Tangerang. Ditinjau dari lokasinya, apotek ini cukup strategis karena berada di tepi jalan besar dua arah yang cukup ramai dan banyak dilalui oleh kendaraan pribadi, dan beberapa kendaraan umum. Pada bagian depan apotek tersedia area parkir yang memadai dan disekitar apotek terdapat gedung pertokoan, praktek dokter, rumah makan, dan pemukiman penduduk.
4.1.2 Tata Ruang
Apotek Kimia Farma No.278 merupakan sebuah ruko yang terdiri dari 2 Lantai. Lantai 1 merupakan Apotek Pelayanan sedangkan Lantai 2 merupakan ruang praktek dokter yang bekerjasama dengan apotek. Tata ruang Apotek Kimia Farma No.278 memiliki konsep semi terbuka sehingga pasien dapat melihat langsung apa yang sedang dilakukan oleh pegawai apotek, kecuali ruangan peracikan dan administrasi. Desain bangunan apotek yang menggunakan kaca di bagian depan apotik dimaksudkan agar menarik perhatian pengguna jalan yang melewati apotek untuk berkunjung. Selain itu, bertujuan agar mempermudah masyarakat untuk melihat kondisi di dalam apotek.
Pembagian ruangan yang terdapat di dalam apotek Kimia Farma no.278 antara lain:
4.1.2.1 Swalayan Farmasi
Ruangan ini berada di bagian depan apotek. Swalayan berada di dekat ruang tunggu, sehingga mudah dilihat oleh pengunjung, baik pengunjung yang
bertujuan langsung membeli obat swalayan, maupun pengunjung yang sedang menunggu pelayanan resep. Ruangan ini terdiri atas dua gondola, satu wall, dan satu lemari kaca. Pengelompokkan produk disusun berdasarkan fungsi / kategori yang berhubungan. Penyusunan barang di rak memperhatikan kemasan, ukuran serta bentuk sediaan. Kemasan botol ditata dari kemasan besar ke kecil dari kiri ke kanan. Sediaan sirup dan tablet/kapsul serta sediaan salep/cream ditempatkan pada rak yang terpisah. Pemajangan produk di swalayan Apotek Kimia Farma No. 278 adalah sebagai berikut :
a. Gondola 1, produk yang dipajang berdasarkan kategori Medicine (tablet dan sirup), Suplemen, Vitamin dan Mineral.
b. Gondola 2, produk yang dipajang berdasarkan kategori Personal Care, Baby & Child Care, First Aid & Topical
c. Wall, pada wall, diletakkan merapat pada dinding, diisi oleh produk dengan kategori Food suplement, Vitamin, Beauty Care, Skin Care, dll. d. Lemari Kaca, terdiri dari 3 bagian. Bagian pertama dipajang alat kesehatan
dan First Aid. Bagian kedua produk salep dan tetes mata. Bagian ketiga dipajang produk-produk susu.
4.1.2.2 Ruang Tunggu
Ruang tunggu di Apotek Kimia Farma No. 278 terdapat di sebelah kanan arah masuk pintu. Ruang tunggu dilengkapi koran, brosur, tabloid dan majalah kesehatan yang disediakan oleh apotek yang dapat dibaca oleh pasien/pelanggan ketika menunggu penyerahan obat. Selain bahan bacaan, terdapat juga televisi dan lemari pendingin berisi minuman ringan yang dapat dibeli oleh pelanggan. Hal ini memberikan kenyamanan bagi pasien karena waktu yang dibutuhkan untuk menunggu menjadi terasa lebih singkat.
4.1.2.3 Area Pelayanan
Area pelayanan terdiri dari tempat penerimaan resep sekaligus kasir, tempat penyiapan obat, tempat penyerahan obat, dan tempat pembelian HV (hand verkoop) atau obat-obat OTC (over the counter). Antara pelanggan dengan bagian dalam area pelayanan dibatasi oleh meja berbentuk huruf L dengan tinggi setara
dada orang dewasa. Terdapat 2 counter untuk penerimaan resep maupun pelanggan yang membeli obat-obat OTC, masing-masing counter memiliki komputer yang berfungsi untuk memeriksa ketersediaan barang dan menginformasikan harga obat kepada pasien sehingga memudahkan pelayanan dan menghindari antrian yang panjang.
4.1.2.4 Tempat Penyimpanan dan Peracikan Obat
Di bagian dalam area pelayanan apotek terdapat lemari obat sebagai tempat penyimpanan obat yang disusun di rak obat. Di ruangan ini dilakukan proses pembacaan resep, penyiapan obat, dan pembuatan etiket. Ruangan ini dilengkapi dengan lemari obat – obat ethical, meja serta kursi untuk menulis, etiket, kemasan, label, lembar copy resep, kuitansi, dan buku – buku panduan yang diperlukan seperti ISO, MIMS, dan buku yang berisi daftar obat untuk resep – resep kredit.
Penempatan obat di rak disusun berdasarkan abjad, antibiotik, bentuk sediaan, dan stabilitasnya. Hal ini dilakukan untuk mempermudah saat pengambilan obat. Untuk obat-obat yang tidak stabil pada suhu ruangan, penyimpanannya diletakkan di dalam lemari pendingin yang memiliki pengatur suhu. Lemari pendingin tersebut terletak di ruang peracikan. Obat-obat golongan narkotika dan psikotropika disimpan terpisah pada lemari yang tidak dapat digeser, tertempel di lantai dan dinding, terbuat dari kayu, memiliki dua bagian, masing-masing memiliki kunci yang berbeda. Sebagian obat – obat psikotropika disimpan di lemari/rak terpisah yang tidak terkunci dan letaknya tidak terlihat oleh umum.
Tempat peracikan obat berada di bagian belakang. Di dalam ruangan ini dilakukan penimbangan, peracikan, dan pengemasan obat – obat racikan. Ruangan ini dilengkapi fasilitas untuk peracikan seperti timbangan, lumpang dan alu, bahan baku, cangkang kapsul, kertas puyer berlogo, kertas perkamen, mesin press untuk kertas puyer, dan mesin penggerus (pulverizer).
4.1.2.5 Ruang Apoteker Pengelola Apotek
Ruangan ini digunakan oleh Apoteker Pengelola Apotek untuk melakukan tugas dan tanggung jawabnya, baik dalam hal teknis kefarmasian (fungsi kontrol) dan nonteknis kefarmasian. Ruangan ini terletak di belakang dan bersebelahan dengan ruang peracikan. Terdapat satu perangkat komputer yang terletak di meja Apoteker. Ruangan ini juga digunakan untuk keperluan administrasi apotek.
4.2 Struktur Organisasi dan Personalia
Apotek Kimia Farma No.278 dipimpin oleh seorang APA yang juga merangkap sebagai Manager Apotek Pelayanan. APA membawahi 1 orang Apoteker Pendamping, 5 orang Asisten Apoteker (AA) dan 1 orang karyawan non AA yang bertugas untuk membantu pelayanan kefarmasian di apotek. Masing-masing asisten apoteker memiliki tanggung jawab pada rak-rak obat tertentu.
4.3 Tugas dan Tanggung Jawab Personil Apotek 4.3.1 Apoteker Pengelola Apotek (APA)
APA bertindak sebagai manajer apotek pelayanan yang memiliki kemampuan dalam perencanaan, organisasi, dan pengawasan seluruh kegiatan yang ada di apotek.
Tugas dan fungsi APA:
a. Melaksanakan visi dan misi apotek.
b. Melaksanakan bussiness plan dan strategic plan. c. Melaksanakan sistem/peraturan pada setiap kegiatan.
d. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program kerja pada setiap fungsi kegiatan yang ada di apotek.
Wewenang dan tanggung jawab Apoteker Pengelola Apotek:
a. Menentukan kebijakan yang berkaitan dengan kegiatan yang ada di apotek. b. Menentukan sistem operasional prosedur seluruh kegiatan yang ada di apotek. c. Mengawasi pelaksanaan seluruh kegiatan yang ada di apotek.