LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 202
JL. KEJAYAAN RAYA BLOK XI NO. 2 PERIODE 2 JANUARI
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
PROGRAM PROFESI APOTEKER UNIVERSITAS INDONESIA
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 202
JL. KEJAYAAN RAYA BLOK XI NO. 2 DEPOK II TIMUR PERIODE 2 JANUARI – 14 FEBRUARI 2014
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
Benny Ismayandi, S.Farm. 1306434124
ANGKATAN LXXVIII
FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK JUNI 2014
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
DEPOK II TIMUR
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 202
JL. KEJAYAAN RAYA BLOK XI NO. 2 PERIODE
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker UNIVERSITAS INDONESIA
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 202
JL. KEJAYAAN RAYA BLOK XI NO. 2 DEPOK II TIMUR PERIODE 2 JANUARI – 14 FEBRUARI 2014
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker
Benny Ismayandi, S.Farm. 1306434124
ANGKATAN LXXVIII
FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK JUNI 2014
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
DEPOK II TIMUR 14 FEBRUARI 2014
Puji syukur kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek Kimia Farma No. 202 yang dilaksanakan pada tanggal 2 Januari – 14 Februari 2014.
Kegiatan ini dilaksanakan untuk menambah pemahaman, pengetahuan dan keterampilan apoteker dalam dunia kerjanya. Laporan ini disusun sebagai syarat untuk menempuh ujian akhir apoteker pada Fakultas Farmasi Unversitas Indonesia. Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak yang telah penulis terima, kiranya sulit bagi penulis untuk menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya. Pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan terima kasih yang tulus kepada:
1. Bapak Gunawan Rachmat Buana, S.Si., Apt., selaku Apoteker Pengelola Apotek Kimia Farma No. 202 sekaligus selaku pembimbing, yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membimbing penulis; 2. Ibu Dra. Juheini Amin, M.Si., Apt., selaku dosen pembimbing yang telah
menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membimbing penulis; 3. Bapak Dr. Mahdi Jufri, M.Si., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi
Universitas Indonesia;
4. Bapak Dr. Harmita, Apt., selaku Ketua Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Indonesia sampai dengan 20 Desember 2013;
5. Bapak Dr. Hayun, M.Si., Apt., selaku ketua Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Indonesia periode 21 Desember 2013 sampai dengan sekarang;
6. Seluruh staf dan karyawan Apotek Kimia Farma No. 202 atas segala keramahan dan bantuan yang diberikan;
7. Seluruh staf pengajar dan tata usaha program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Indonesia atas bantuan yang telah diberikan;
8. Keluarga tercinta atas semua dukungan, kasih sayang, perhatian, kesabaran, semangat, dan doa;
Penulis 2014
Nama : Benny Ismayandi NPM : 1306434124
Judul : Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek Kimia Farma No. 202 Jl. Kejayaan Raya Blok XI No. 2 Depok II Timur Periode 2 Januari-14 Februari 2014
Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek Kimia Farma bertujuan agar mahasiswa mengetahui gambaran umum kegiatan pelayanan kefarmasian di apotek serta mengetahui peran dan fungsi apoteker di apotek. Tugas khusus yang diberikan berjudul Kerasionalan Resep Obat Varises di Apotek Kimia Farma 202 dan 298 bertujuan untuk mengevaluasi kerasionalan resep obat varises berdasarkan pemilihan obat, dosis dan interaksi obat yang terjadi.
Kata Kunci : Praktek Kerja Profesi Apoteker, Apotek Kimia Farma 202, Kerasionalan Resep Obat Varises Tugas Umum : xiii + 106 halaman, 6 gambar, 24 lampiran Tugas Khusus : iv + 17 halaman, 5 gambar, 6 tabel
Daftar Acuan Tugas Umum : 14 (1978-2009) Daftar Acuan Tugas Khusus : 12 (2000-2011)
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan... 2
BAB 2. TINJAUAN UMUM APOTEK ... 3
2.1 Definisi Apotek ... 3
2.2 Landasan Hukum Apotek ... 3
2.3 Tugas dan Fungsi Apotek ... 4
2.4 Tata Cara Pemberian Izin Apotek ... 4
2.5 Persyaratan Apotek ... 6
2.6 Tenaga Kerja Apotek ... 8
2.7 Apoteker Pengelola Apotek ... 8
2.8 Pengalihan Tanggung Jawab Apoteker ... 10
2.9 Pencabutan Surat Izin Apotek ... 11
2.10 Sediaan Farmasi ... 13
2.11 Pelayanan Kefarmasian di Apotek ... 17
2.12 Pengelolaan Narkotika ... 20
2.13 Pengelolaan Psikotropika ... 24
2.14 Pengadaan Persediaan Apotek ... 25
2.15 Pengendalian Persediaan Apotek ... 26
2.16 Penentuan Prioritas Pengadaan ... 29
BAB 3. TINJAUAN UMUM PT KIMIA FARMA APOTEK ... 32
3.1 PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. ... 32
4.2 Tata Ruang Apotek ... 39
4.3 Struktur Organisasi dan Personil Apotek ... 41
4.4 Kegiatan Apotek ... 41
BAB 5. PEMBAHASAN ... 48
BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 56
6.1 Kesimpulan ... 56
6.2 Saran ... 56
DAFTAR ACUAN ... 58
Gambar 2.1. Penandaan obat bebas ... 13
Gambar 2.2. Label peringatan obat bebas terbatas ... 13
Gambar 2.3. Penandaan obat bebas terbatas ... 14
Gambar 2.4. Penandaan obat keras ... 14
Gambar 2.5. Penandaan obat narkotika ... 15
Lampiran 1. Contoh formulir APT-1 ... 61
Lampiran 2. Contoh formulir APT-2 ... 63
Lampiran 3. Contoh formulir APT-3 ... 64
Lampiran 4. Contoh formulir APT-4 ... 70
Lampiran 5. Contoh formulir APT-5 ... 71
Lampiran 6. Contoh formulir APT-6 ... 74
Lampiran 7. Contoh formulir APT-7 ... 75
Lampiran 8. Contoh formulir APT-9 ... 76
Lampiran 9. Berita Acara Pemusnahan Sediaan Farmasi dan Perbekalan Kesehatan ... 78
Lampiran 10. Berita Acara Pemusnahan Resep ... 83
Lampiran 11. Daftar Obat Wajib Apotek No. 1 ... 85
Lampiran 12. Daftar Obat Wajib Apotek No. 2 ... 90
Lampiran 13. Daftar Obat Wajib Apotek No. 3 ... 91
Lampiran 14. Obat yang Dikeluarkan dari Daftar Obat Wajib Apotek ... 93
Lampiran 15. Denah Apotek Kimia Farma 202 ... 95
Lampiran 16. Struktur Organisasi PT Kimia Farma Apotek, BM Bogor, dan Apotek Kimia Farma 202 ... 96
Lampiran 17. Etiket dan Label Apotek Kimia Farma ... 98
Lampiran 18. Kemasan Obat Apotek Kimia Farma ... 99
Lampiran 19. Copy Resep dan Bon Pengambilan Obat Apotek Kimia Farma .. 100
Lampiran 20. Kuitansi Pembayaran Resep/Tunai Apotek Kimia Farma ... 102
Lampiran 21. Kartu Stok Apotek Kimia Farma ... 103
Lampiran 22. Surat Pesanan Narkotik dan Psikotropik Apotek Kimia Farma .. 104
Lampiran 23. Faktur Apotek Kimia Farma ... 105
1.1 Latar Belakang
Kesehatan merupakan satu di antara unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan melalui pembangunan yang berkesinambungan. Pembangunan kesehatan diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya kesehatan, yaitu setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintregasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit, dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan atau masyarakat. Satu di antara sarana kesehatan untuk melaksanakan upaya kesehatan adalah apotek.
Apotek merupakan satu diantara sarana penunjang kesehatan, turut berperan dalam mewujudkan upaya kesehatan yang dilaksanakan oleh pemerintah sebagai sarana distribusi obat dan perbekalan farmasi yang aman, bermutu, berkhasiat serta terjangkau harganya oleh masyarakat luas. Keberadaan apotek di lingkungan masyarakat ditujukan untuk menjamin tersedianya sediaan farmasi yang cukup bagi masyarakat.
Apotek dipimpin oleh seorang apoteker yang disebut Apoteker Pengelola Apotek (APA). Apoteker berperan dalam pelaksanaan tugas profesional pelayanan kefarmasian di apotek. Selain itu apoteker juga berperan dalam hal manajerial dan
retailer karena selain sebagai tempat dilakukannya tugas profesional, apotek juga
merupakan suatu tempat bisnis. Oleh karena itu, apoteker di apotek tidak cukup dengan berbekal ilmu teknis kefarmasian saja tetapi juga harus memiliki kemampuan memahami manajerial yang meliputi pengelolaan administrasi, persediaan, sarana, keuangan dan pengelolaan sumber daya manusia. sehingga apotek mampu berjalan dengan baik dan memperoleh keuntungan.
Dalam menjalankan perannya di apotek, apoteker dituntut untuk bekerja secara profesional. Dalam hal ini, apoteker juga harus memahami pengelolaan
dengan patient-oriented. Mengingat akan pentingnya hal tersebut, maka Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi UI bekerja sama dengan Apotek Kimia Farma dalam menyelenggarakan Praktek Kerja Profesi Apoteker yang kali ini berlangsung dari tanggal 2 Januari - 14 Februari 2014. Praktek Kerja Profesi Apoteker ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman calon apoteker mengenai peranan, kegiatan manajerial serta pelayanan kefarmasian di apotek dengan mengikuti kegiatan yang ada di apotek.
1.2 Tujuan
Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Apotek Kimia Farma bertujuan untuk:
1. Memahami peran, fungsi, dan tanggung jawab apoteker dalam pelayanan kefarmasian di apotek.
2. Memahami cara pengelolaan Apotek dalam kegiatan teknis dan non teknis kefarmasian.
2.1 Definisi Apotek
Pengertian Apotek berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 51 Tahun 2009, apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktik kefarmasian oleh apoteker, sedangkan menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, apotek adalah tempat dilakukannya pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, serta perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat, dan obat tradisional. Pelayanan kefarmasian merupakan suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan tujuan untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional, dan kosmetika, sedangkan perbekalan kesehatan adalah semua bahan selain obat dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan.
2.2 Landasan Hukum Apotek
Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang mempunyai landasan hukum yang diatur dalam :
a. Undang-Undang No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. b. Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. c. Undang-Undang No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
d. Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. e. Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1980 tentang perubahan atas PP No.26
Tahun 1965 tentang Apotek.
f. Peraturan Menteri Kesehatan No. 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Kententuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek.
g. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.889/MENKES/PER/V/2011 tentang Registrasi, Izin Praktik, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian.
h. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1027/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek.
i. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1332/MENKES/SK/X/2003 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No.922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek.
2.3 Tugas dan Fungsi Apotek
Tugas dan fungsi apotek berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 2009 adalah sebagai berikut:
a. Tempat pengabdian profesi seorang Apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan.
b. Sarana farmasi yang melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran, dan penyerahan obat atau bahan obat.
c. Sarana penyaluran perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan masyarakat secara luas dan merata.
2.4 Tata Cara Pemberian Izin Apotek
Suatu apotek baru dapat beroperasi setelah mendapat Surat Izin Apotek (SIA) yaitu surat izin yang diberikan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia kepada Apoteker atau Apoteker yang bekerjasama dengan pemilik sarana apotek untuk menyelenggarakan pelayanan apotek pada suatu tempat tertentu. Tata Cara Pemberian Izin Apotek menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 992/MENKES/SK/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotik pasal 7 adalah sebagai berikut: a. Permohonan izin apotek diajukan kepada Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota dengan menggunakan contoh Formulir Model APT-1 (Lampiran 1).
b. Dengan menggunakan Formulir APT-2 (Lampiran 2) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 (enam) hari kerja setelah menerima permohonan dapat meminta bantuan teknis kepada Kepala Balai POM untuk melakukan pemeriksaan terhadap kesiapan apotek melakukan kegiatan.
c. Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM selambat-lambatnya 6 (enam) hari kerja setelah permintaan bantuan teknis dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan hasil pemeriksaan setempat dengan menggunakan contoh Formulir APT-3 (Lampiran 3). d. Dalam hal pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan (3) tidak
dilaksanakan, Apoteker Pemohon dapat membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas Propinsi dengan menggunakan contoh Formulir Model APT-4 (Lampiran 4).
e. Dalam jangka waktu 12 (dua belas) hari kerja setelah diterima laporan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud ayat (3) atau pernyataan ayat (4) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat mengeluarkan Surat Izin Apotek dengan menggunakan contoh Formulir Model APT-5 (Lampiran 5). f. Dalam hal hasil pemeriksaan Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau
Kepala Balai POM dimaksud ayat (3) masih belum memenuhi syarat, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dalam waktu 12 (dua belas) hari kerja mengeluarkan Surat Penundaan dengan menggunakan contoh Formulir Model APT-6 (Lampiran 6).
g. Terhadap surat penundaan, sebagaimana dimaksud dalam ayat (6), Apoteker diberi kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat-lambatnya dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal Surat Penundaan.
Beberapa ketentuan lain yang terkait:
a. Terhadap permohonan izin apotek yang ternyata tidak memenuhi persyaratan atau lokasi yang tidak sesuai dengan permohonan, maka Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam jangka waktu selambat-lambatnya 12 (dua belas) hari kerja wajib mengeluarkan Surat Penolakan disertai
dengan alasanalasannya dengan menggunakan contoh Formulir Model APT-7 (Lampiran APT-7).
b. Bila Apoteker menggunakan sarana milik pihak lain dalam pendirian apotek, dengan mengadakan kerja sama dengan Pemilik Sarana Apotek, maka harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
1) Penggunaan sarana apotek yang dimaksud, wajib didasarkan atas perjanjian kerja sama antara Apoteker dan pemilik sarana.
2) Pemilik sarana yang dimaksud harus memenuhi persyaratan tidak pernah terlibat dalam pelanggaran peraturan perudang-undangan di bidang obat sebagaimana dinyatakan dalam surat pernyataan yang bersangkutan.
2.5 Persyaratan Apotek
Persyaratan apotek berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan RI No.922/MENKES/PER/X/1993 pasal 6 yaitu :
a. Untuk mendapatkan izin apotek, apoteker atau apoteker yang bekerja sama dengan pemilik sarana yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan tempat, perlengkapan termasuk sediaan farmasi dan perbekalan lain yang merupakan milik sendiri atau milik pihak lain.
b. Sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan pelayanan komoditi lain di luar sediaan farmasi.
c. Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi lain di luar sediaan farmasi.
Sebuah apotek yang akan didirikan harus memenuhi sejumlah persyaratan yaitu:
a. Lokasi dan Tempat
Lokasi apotek harus dapat dengan mudah diakses oleh masyarakat dan pada halaman terdapat papan petunjuk yang dengan jelas tertulis kata “APOTEK”. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 922/Menkes/Per/X/1993 lokasi apotek tidak lagi ditentukan harus memiliki jarak minimal dari apotek lain dan sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama namun sebaiknya harus mempertimbangkan segi penyebaran dan pemerataan
pelayanan, jumlah penduduk, jumlah dokter, sarana pelayanan kesehatan, lingkungan yang higienis dan faktor-faktor lainnya.
b. Bangunan dan Kelengkapannya 1) Bangunan apotek
Bangunan memiliki alamat apotek serta terdiri dari ruang tunggu pasien, ruang peracikan dan penyerahan obat, ruang administrasi, ruang penyimpanan obat dan ruang kerja apoteker, serta toilet.
2) Kelengkapan Bangunan Apotek
Bangunan apotek perlu dilengkapi dengan sumber air, sumber penerangan, alat pemadam, ventilasi, sanitasi, papan nama APA, serta billboard nama apotek. c. Perlengkapan Kerja
Perlengkapan kerja di apotek meliputi:
1) Alat pengolahan atau peracikan, seperti batang pengaduk, cawan penguap, corong, gelas ukur, kompor/ pemanas, labu erlenmeyer, mortar-alu, penangas air, panci, spatel logam, spatel tanduk, spatel gelas, spatel porselen, termometer skala 100ºC, serta timbangan mg atau g ditambah anak timbangan (ditera).
2) Wadah berupa pot / botol, kertas perkamen, klip, dan kantong plastik serta etiket (putih dan biru).
3) Tempat penyimpanan: lemari/ rak obat, lemari narkotika, lemari psikotropika, kulkas, dan lemari bahan berbahaya.
d. Perlengkapan Administrasi
Perlengkapan administrasi seperti blanko surat pemesanan, faktur penjualan, nota penjualan, salinan resep, serta blanko laporan narkotika dan psikotropika; buku catatan pembelian dan catatan penjualan, catatan narkotika dan psikotropika, catatan racun dan bahan berbahaya, serta kartu stok obat.
e. Kelengkapan Pustaka
1) Buku standar wajib: Farmakope edisi IV 1995 dan kumpulan peraturan/ UU;
2.6 Tenaga Kerja Apotek
Tenaga kerja yang terlibat dalam kegiatan operasional apotek terdiri dari: a. Apoteker Pengelola Apotek (APA), yaitu apoteker yang namanya tercantum
dalam Surat Izin Apoteker (SIA).
b. Apoteker Pendamping, yaitu apoteker yang bekerja di apotek mendampingi Apoteker Pengelola Apotek (APA) dan/atau menggantikan pada jam-jam tertentu pada hari buka apotek.
c. Asisten Apoteker adalah mereka yang berdasarkan peraturan perundangundangan berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai Asisten Apoteker di bawah pengawasan apoteker. Tenaga lainnya yang diperlukan untuk mendukung kegiatan di apotek terdiri dari :
1) Juru resep adalah petugas yang membantu pekerjaan Asisten Apoteker. 2) Kasir adalah petugas yang bertugas menerima uang dan mencatat
pemasukan serta pengeluaran uang.
3) Pegawai tata usaha adalah petugas yang melaksanakan administrasi apotek dan membuat laporan pembelian, penjualan, penyimpanan dan keuangan apotek.
2.7 Apoteker Pengelola Apotek
Berdasarkan Kepmenkes RI No. 1332/MENKES/SK/X/2002, APA adalah apoteker yang telah diberi Surat Izin Apotek (SIA). Dalam mengajukan berkas permohonan SIA, ada beberapa persyaratan yang perlu dipenuhi seorang apoteker untuk kemudian menjadi APA diantaranya:
a. Fotokopi Surat Izin Praktek Apoteker (SIPA); b. Fotokopi KTP;
c. Surat pernyataan APA, tentang tidak bekerja di perusahaan farmasi lain atau APA di apotek lain;
d. Surat izin dari atasan langsung (untuk pegawai negeri dan ABRI); e. Fotokopi ijazah apoteker yang telah dilegalisir;
f. Surat pernyataan kesanggupan menjadi APA.
Setiap tenaga kefarmasian yang melaksanakan pekerjaan kefarmasian di Indonesia wajib memiliki surat izin sesuai tempat Tenaga Kefarmasian bekerja.
Surat izin bagi apoteker yang melakukan Pekerjaan Kefarmasian di Apotek, puskesmas atau instalasi farmasi rumah sakit (IFRS) disebut SIPA (Surat Izin Praktek Apoteker). Seorang apoteker yang telah memiliki SIPA dapat melaksanakan praktik di 1 (satu) Apotik, atau puskesmas atau IFRS. Sedangkan untuk Apoteker yang bekerja di fasilitas produksi atau distribusi farmasi disebut Surat Izin Kerja Apoteker (SIKA).
SIPA dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tempat pekerjaan kefarmasian dilakukan. SIPA dapat dibatalkan demi hukum apabila pekerjaan kefarmasian dilakukan pada tempat yang tidak sesuai dengan yang tercantum dalam surat izin. Untuk mendapatkan SIPA, Apoteker harus memiliki (Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 Pasal 55):
a. Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA);
b. Tempat atau ada tempat untuk melakukan pekerjaan kefarmasian atau fasilitas kesehatan yang memiliki izin;
c. Rekomendasi dari organisasi profesi.
Surat Tanda Registrasi (STRA) merupakan bukti tertulis yang diberikan oleh Menteri kepada Apoteker yang telah diregistrasi. STRA berlaku 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu lima tahun selama masih memenuhi persyaratan. Untuk memperoleh STRA, Apoteker harus memenuhi persyaratan (Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 Pasal 40):
a. Memiliki ijazah Apoteker.
b. Memiliki sertifikat kompetensi profesi.
c. Mempunyai surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji Apoteker. d. Mempunyai surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang
memiliki surat izin praktik.
e. Membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi.
APA memiliki beberapa fungsi penting di apotek, antara lain: a. Fungsi Pengabdian Profesi
1) Berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dalam proses penggunaan produk farmasi.
3) Memilih dan menjamin penyediaan produk.
4) Menyediakan & menyerahkan sediaan farmasi untuk penggunaan masyarakat.
5) Memonitor kepatuhan penggunaan produk. 6) Memonitor interaksi & efek samping . 7) Mengontrol bagian peracikan.
8) Menyelenggarakan informasi tentang obat.
9) Mengontrol pelayanan R/ yang telah diserahkan kepada pasien. b. Fungsi Administratif
1) Memimpin, mengatur dan mengawasi pekerjaan karyawan . 2) Membuat laporan dan surat-menyurat.
3) Mengawasi penggunaan dan pemeliharaan aktiva apotek. c. Fungsi Kewirausahaan
1) Merencanakan & mengatur kebutuhan barang. 2) Mengatur & mengawasi penjualan.
3) Menentukan kebijakan harga. 4) Meningkatkan permintaan.
5) Memupuk hubungan baik dengan pelanggan. 6) Mencari pelanggan baru.
7) Mengadakan efisiensi dalam segala bidang.
2.8 Pengalihan Tanggung Jawab Apoteker
APA yang berhalangan melakukan tugasnya pada jam buka apotek harus menunjuk Apoteker Pendamping. Pengalihan tanggung jawab apoteker diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1332/MenKes/SK/X/2002 (Pasal 19 dan 24) yaitu:
a. Apabila Apoteker Pengelola Apotek (APA) berhalangan melakukan tugasnya pada jam buka apotek, APA harus menunjuk apoteker pendamping.
b. Apabila APA dan Apoteker pendamping karena hal-hal tertentu berhalangan melakukan tugasnya, APA menunjuk apoteker pengganti. Apoteker pengganti adalah apoteker yang menggantikan APA selama APA tersebut
tidak berada di tempat lebih dari 3 (tiga) bulan secara terus-menerus, telah memiliki SIPA, dan tidak bertindak sebagai APA di apotek lain.
c. Apabila APA meninggal dunia, dalam jangka waktu dua kali dua puluh empat jam, ahli waris APA wajib melaporkan kejadian tersebut secara tertulis kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
d. Apabila pada apotek tersebut tidak terdapat apoteker pendamping, pelaporan oleh ahli waris wajib disertai penyerahan resep, narkotika, psikotropika, obat keras, dan kunci tempat penyimpanan narkotika dan psikotropika. e. Pada penyerahan resep, narkotika, psikotropika dan obat keras serta kunci
tersebut, dibuat berita acara serah terima dengan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat.
f. Penunjukkan Apoteker Pendamping dan Apoteker Pengganti harus dilaporkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi setempat.
g. Apabila APA berhalangan melakukan tugasnya lebih dari 2 (dua) tahun secara terus-menerus, SIA atas nama Apoteker bersangkutan dicabut.
2.9 Pencabutan Surat Izin Apotek
Pemberian, pembekuan, pencairan, dan pencabutan izin apotek wajib dilaporkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dalam jangka waktu setahun sekali kepada Menteri dan tembusan disampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten dapat mencabut SIA apabila:
a. Apoteker tidak lagi memenuhi kewajibannya untuk menyediakan, menyimpan dan menyerahkan sediaan farmasi yang bermutu baik dan keabsahannya terjamin.
b. APA berhalangan melakukan tugasnya lebih dari dua tahun secara terus menerus.
c. Terjadi pelanggaran terhadap Undang tentang Narkotika, Undang-Undang Obat Keras, dan Undang-Undang-Undang-Undang tentang Kesehatan.
d. SIPA APA dicabut.
e. PSA terbukti terlibat dalam pelanggaran perundang-undangan di bidang obat.
f. Apotek tidak dapat lagi memenuhi persyaratan mengenai kesiapan tempat pendirian apotek, serta kelengkapan sediaan farmasi dan perbekalan lainnya baik merupakan milik sendiri atau pihak lain.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebelum melakukan pencabutan surat izin apotek berkoordinasi dengan Kepala Balai POM setempat. Pelaksanaan pencabutan surat izin apotek dilaksanakan setelah dikeluarkan:
a. Peringatan secara tertulis kepada APA sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut dengan tenggang waktu masing-masing 2 (dua) bulan dengan menggunakan contoh Formulir Model APT-12.
b. Pembekuan izin apotek untuk jangka waktu selama-lamanya 6 (enam) bulan sejak dikeluarkannya penetapan pembekuan kegiatan Apotek dengan menggunakan Formulir Model APT-13.
Pembekuan Izin Apotek sebagaimana dimaksud dalam huruf (b) di atas, dapat dicairkan kembali apabila apotek telah membuktikan memenuhi seluruh persyaratan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan ini dengan menggunakan contoh Formulir Model APT-14. Pencairan Izin Apotek yang dimaksud dilakukan setelah menerima laporan pemeriksaan dari Tim Pemeriksaan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat. Apabila Surat Izin Apotek dicabut, Apoteker Pengelola Apotek atau Apoteker Pengganti wajib mengamankan perbekalan farmasi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengamanan yang dimaksud wajib mengikuti tata cara sebagai berikut :
a. Dilakukan inventarisasi terhadap seluruh persediaan narkotika, obat keras tertentu, dan obat lain serta seluruh resep yang tersedia di apotek.
b. Narkotika, psikotropika dan resep harus dimasukkan dalam tempat yang tertutup dan terkunci.
Apoteker Pengelola Apotek wajib melaporkan secara tertulis kepada Kepala Wilayah Kantor Kementeriaan Kesehatan atau petugas yang diberi wewenang olehnya, tentang penghentian kegiatan disertai laporan inventarisasi yang dimaksud dalam huruf (a).
2.10 Sediaan Farmasi
Obat, bahan obat, obat tradisional, dan kosmetik termasuk dalam kategori sediaan farmasi. Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi untuk manusia. Untuk menjaga keamanan penggunaan obat oleh masyarakat, maka pemerintah menggolongkan obat menjadi obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras, serta narkotik dan psikotropik.
2.10.1 Obat bebas
Obat tanpa peringatan, yang dapat diperoleh tanpa resep dokter disebut sebagai obat bebas. Tanda khusus yang terdapat pada obat bebas adalah lingkaran bulat berwarna hijau dengan garis tepi hitam. Contohnya adalah Parasetamol
Gambar 2.1. Penandaan obat bebas 2.10.2 Obat bebas terbatas
Obat yang sebenarnya termasuk obat keras, tapi masih dapat dijual atau dibeli bebas tanpa resep dokter, dan disertai dengan tanda peringatan disebut sebagai obat bebas terbatas. Tanda khusus yang terdapat obat bebas terbatas adalah lingkaran bulat berwarna biru dengan garis tepi hitam (Gambar 2.3)
Gambar 2.3. Penandaan obat bebas terbatas
2.10.3 Obat keras daftar G
Obat yang hanya dapat diperoleh dengan resep dokter disebut sebagai obat keras. Tanda pada obat keras berupa lingkaran bulat berwarna bulat merah dengan garis tepi hitam dengan huruf K yang menyentuh garis tepi dan harus mencantumkan kalimat “Harus dengan resep dokter”.
Gambar 2.4. Penandaan obat keras
2.10.4 Obat Wajib Apotek
Obat keras yang dapat diserahkan oleh apoteker tanpa resep dokter di apotek merupakan definisi dari obat wajib apotek. Hal tersebut didasarkan pada Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Pada tanggal 16 Juli 1990, Menteri Kesehatan mengeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 347/Menkes/SK/VII/1990 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No.1. Kemudian, pada tanggal 23 Oktober 1993, Menteri Kesehatan mengeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 924/Menkes/Per/X/1993 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No.2 dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 925/Menkes/Per/X/1993 tentang Daftar Perubahan Obat No.1. Pada tanggal 7 Oktober 1999, Menteri Kesehatan mengeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1176/Menkes/SK/X/1999 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No.3, disertai lampiran obat yang dikeluarkan dari Daftar Obat Apotek.
2.10.5 Narkotika
Berdasarkan UU nomor 35 tahun 2009, narkotika merupakan zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Narkotika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan
kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Obat narkotika ditandai dengan palang medali berwarna merah (Gambar 2.5)
Gambar 2.5. Penandaan obat narkotika
UU nomor 22 tahun 1997 telah menggolongkan narkotika menjadi 3 golongan. Kemudian sejak UU nomor 35 tahun 2009 berlaku, terdapat tambahan, dimana psikotropika golongan I dan II dimasukkan dalam narkotika golongan I. Golongan-golongan narkotika tersebut yaitu:
a. Narkotika Golongan I adalah narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Narkotika Golongan I dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan diproduksi dan/atau digunakan dalam proses produksi, kecuali dalam jumlah yang sangat terbatas untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Contohnya antara lain: tanaman Papaver somniferum L. (kecuali bijinya), tanaman koka, tanaman ganja, desmorfina, heroina, katinona, MDMA, dan lain-lain.
b. Narkotika Golongan II adalah narkotika berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contohnya antara lain: difenoksilat, fentanil, metadona, morfin, petidina, dan lain-lain.
c. Narkotika Golongan III adalah narkotika berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contohnya antara lain: kodeina, etilmorfina, dihidrokodeina, buprenorfina, dan lain-lain.
2.10.6 Psikotropika
Menurut Undang-undang nomor 5 Tahun 1997, psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Sebelum tahun 2009, psikotropika terbagi menjadi empat golongan, yaitu:
a. Psikotropika golongan I adalah psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Psikotropika golongan I dilarang diproduksi dan/atau digunakan dalam proses produksi. Contohnya psilosibin, dan lisergida.
b. Psikotropika golongan II adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan, contohnya amfetamin, deksamfetamin, metamfetamin, dan sekobarbital. c. Psikotropika golongan III adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan
dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contohnya amobarbital, pentazosin, pentobarbital, dan siklobarbital.
d. Psikotropika golongan IV adalah psikotropika yang berkhasiat pengobat-an dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan, contohnya alobarbital, alprazolam, barbital, diazepam, dan fenobarbital.
Sejak tahun 2009, psikotropika hanya terdiri dari dua golongan karena berlakunya Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dimana pada pasal 153 disebutkan bahwa psikotropika golongan I dan II diubah menjadi narkotika golongan I. Dengan demikian, psikotropik yang sebelumnya terdiri dari 4 golongan, sekarang hanya terdapat 2 golongan yaitu golongan III dan golongan IV.
2.11 Pelayanan Kefarmasian di Apotek
Pharmaceutical care (PC) atau pelayanan kefarmasian adalah bentuk
pelayanan dan tanggung jawab langsung profesi apoteker dalam pekerjaan kefarmasian untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Untuk menjamin bahwa layanan kefarmasian yang diberikan Apoteker kepada setiap pasien telah memenuhi kualitas yang tepat, maka pelaksanaan PC sudah seharusnya mengikuti standar atau pedoman. Good Pharmacy Practice atau yang sering disingkat GPP merupakan sekumpulan pedoman bagi apoteker praktik tentang cara pelayanan kefarmasian yang baik di sarana pelayanan kefarmasian meliputi apotek, puskesmas, klinik dan rumah sakit. GPP berfungsi sebagai Pedoman bagi tenaga kefarmasian khususnya Apoteker dalam melaksanakan praktik kefarmasian sehingga dapat Melindungi masyarakat/pasien dari penggunaan obat yang tidak rasional. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004, standar pelayanan kefarmasian di apotek meliputi pelayanan resep, promosi dan edukasi, serta pelayanan residensial (home care).
2.11.1 Pelayanan Resep a. Skrining resep
Apoteker melakukan skrining resep meliputi:
1) Persyaratan administratif, seperti : nama, SIK, dan alamat dokter; tanggal penulisan resep, nama, alamat, umut, jenis kelamin, dan berat badan pasien; nama obat, potensi, dosis, jumlah yang diminta, cara pemakaian serta informasi lainnya.
2) Kesesuaian farmasetik : bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama pemberian.
3) Pertimbangan klinis : adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat dan lain-lain)
b. Penyiapan obat
Kegiatan penyiapan obat meliputi:
1) Peracikan yang merupakan kegiatan menyiapkan, menimbang, mencampur, mengemas dan memberikan etiket pada wadah.
3) Kemasan obat yang diserahkan harus rapi dan cocok sehingga terjaga kualitasnya.
4) Penyerahan obat pada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dengan resep dan penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai pemberian informasi obat dan konseling kepada pasien. 5) Apoteker harus memenuhi informasi yang benar, jelas dan mudah
dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana dan terkini. Informasi obat pada pasien sekurang-kurangnya meliputi : cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi.
6) Apoteker harus memberikan konseling kepada pasien. Konseling adalah suatu proses komunikasi dua arah yang sistematik antara apoteker dan pasien untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan obat dan pengobatan. Apoteker harus memberikan konseling, mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan salah sediaan farmasi atau perbekalan kesehatan lainnya. Konseling terutama ditujukan untuk pasien penyakit kronis (hipertensi, diabetes melitus, TBC, asma dan lain-lain) 7) Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan
pemantauan penggunaan obat.
2.11.2 Promosi dan Edukasi
Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, apoteker harus berpartisipasi secara aktif dalam promosi dan edukasi. Apoteker ikut membantu diseminasi informasi, antara lain dengan penyebaran leaflet/brosur, poster, penyuluhan, dan lain-lainnya.
2.11.3 Pelayanan Residensial (Home Care)
Pelayanan apoteker sebagai care giver dalam pelayanan kefarmasian di rumah pasien khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan terapi kronis lainnya disebut sebagai pelayanan resdensial (home care). Apoteker
sebagai care giver diharapkan juga dapat melakukan pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Untuk aktivitas ini apoteker harus membuat catatan berupa catatan pengobatan (medication record).
2.11.4 Swamedikasi
Selain pelayanan resep, promosi & edukasi, pelayanan di apotek juga meliputi swamedikasi atau pengobatan sendiri. Menurut International
Pharmaceutical Federation (FIP), swamedikasi adalah pemilihan dan penggunaan
obat oleh individu untuk mengobati penyakit atau gejala penyakit tanpa resep dokter. Swamedikasi biasanya dilakukan untuk mengobati penyakit ringan seperti sakit kepala, demam, atau flu. Beberapa hal yang menjadi faktor berkembangnya swamedikasi di masyarakat adalah:
a. Faktor sosioekonomi
Seiring makin tingginya tingkat pendidikan masyarakat serta makin mudahnya akses informasi, perhatian masyarakat akan kesehatan personal pun meningkat. Hal ini menyebabkan masyarakat makin mampu berpartisipasi langsung dalam mengambil keputusan untuk kesehatan personal.
b. Gaya hidup
Kesadaran masyarakat akan bahaya yang ditimbulkan dari perilaku tidak sehat seperti merokok dan makan sembarang makanan makin meningkat sehingga kesadaran masyarakat untuk mencegah penyakit dan menjaga kesehatan pun meningkat. Untuk itu, upaya yang dilakukan adalah pencegahan terhadap kemungkinan terserang penyakit, sehingga obatan yang dicari adalah obat-obat bebas dan suplemen makanan atau suplemen kesehatan.
c. Kemudahan akses
Konsumen lebih memilih pelayanan kesehatan yang lebih murah, mudah dan cepat didapatkan seperti apotek atau toko obat dibandingkan harus mengantri dan mebayar mahal di klinik atau fasilitas kesehatan lain.
d. Munculnya produk-produk baru
Banyaknya produk kesehatan/obat-obat baru yang telah diperbaik efisiensi dan efektifitasnya, membuat masyarakat ingin mencoba produk-produk tersebut.
Swamedikasi hanya diizinkan untuk golongan obat tertentu saja, yaitu obat bebas, obat bebas terbatas, dan Obat Wajib Apotek (OWA). Apabila setelah tiga hari pasien tidak sembuh, sebaiknya swamedikasi dihentikan dan segera memeriksakan diri ke dokter..
Obat yang dapat diserahkan tanpa resep dokter harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Tidak dikontraindikasikan untuk wanita hamil, anak di bawah 2 tahun, dan orang tua di atas 65 tahun.
2. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberi resiko pada kelanjutan penyakit.
3. Penggunaan tidak memerlukan cara dan atau alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan.
4. Penggunaan diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia.
5. Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri.
2.12 Pengelolaan Narkotika
Menurut Undang- Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika mendefinisikan narkotika sebagai suatu zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan yang dibedakan ke dalam tiga golongan. Dimana golongan II dan III dapat digunakan untuk tujuan terapi maupun pengembangan ilmu pengetahuan, sedangkan golongan I hanya digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Untuk menghindari penyalahgunaan narkotika maka dalam pengelolaannya narkotika bebeda dengan pengelolaan sediaan farmasi yang lain. Pengelolaan narkotika di apotek meliputi pemesanan, penyimpanan, pelayanan/penyerahan, pemusnahan, pencatatan dan pelaporan serta dokumentasi.
2.12.1 Pengadaan Narkotika
Dalam rangka mempermudah pengawasan penggunaan Narkotika di wilayah Indonesia maka Pemerintah menetapkan PT. Kimia Farma sebagai satu-satunya perusahaan yang diizinkan untuk memproduksi, mengimpor dan mendistribusikan narkotika di Indonesia. Oleh karena itu pemesanan narkotika ditujukan pada PT.Kimia Farma dengan membuat surat pesanan narkotika asli yang ditandatangani oleh Apoteker Penanggung jawab Apotek yang dilengkapi dengan nama, nomor Surat Izin Praktek Apoteker (SIPA) di apotek, tanggal dan nomor surat, alamat lengkap, dan stempel apotek. Satu surat pesanan hanya untuk satu jenis narkotika.
2.12.2 Penyimpanan Narkotika (Departemen Kesehatan, 1978)
Berdasarkan Permenkes Nomor 28/Menkes/Per/1978 pasal 5, apotek harus memiliki tempat khusus untuk penyimpanan narkotika yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Harus dibuat seluruhnya dari kayu atau bahan lain yang kuat. b. Harus mempunyai kunci yang kuat.
c. Dibagi dua masing-masing dengan kunci yang berlainan; bagian pertama dipergunakan untuk menyimpan morfina, petidina, dan garam-garamnya serta persediaan narkotika; bagian kedua dipergunakan untuk menyimpan narkotika lainnya yang dipakai sehari-hari.
d. Apabila tempat khusus tersebut berupa lemari berukuran kurang dari 40 x 80 x 100 cm, maka lemari tersebut harus dibaut pada tembok atau lantai. Selain itu pada pasal 6 Peraturan Menteri Kesehatan RI No.28/Menkes/Per/I/1978 dinyatakan bahwa:
1.) Apotek harus menyimpan narkotika dalam lemari khusus sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 5 Peraturan Menteri Kesehatan No. 28/Menkes/Per/1978 dan harus dikunci dengan baik.
2.) Lemari khusus tidak boleh dipergunakan untuk menyimpan barang lain selain narkotika, kecuali ditentukan oleh Menteri Kesehatan.
3.) Anak kunci lemari khusus dikuasai oleh penanggung jawab atau pegawai lain yang diberi kuasa.
4.) Lemari khusus diletakkan di tempat aman dan tidak boleh terlihat oleh umum.
2.12.3 Pelayanan/ penyerahan Narkotika
Menurut Undang-undang nomor 35 tahun 2009 pasal 43, Apotek hanya dapat melakukan penyerahan narkotika kepada rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, apotek lainnya, balai pengobatan, dokter, dan pasien. Apotek hanya dapat menyerahkan narkotika kepada pasien berdasarkan resep dari dokter. Apotek dilarang mengulangi menyerahkan narkotika atas dasar resep yang sama dari seorang dokter atau atas dasar salinan resep dokter (Undang-Undang Nomor 9 tahun 1976 Pasal 7). Pada resep narkotika yang baru dilayani sebagian, apotek boleh membuat salinan resep tetapi salinan resep tersebut hanya boleh dilayani di apotek yang menyimpan resep asli.
2.12.4 Pelaporan Narkotika
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, apotek wajib membuat, menyampaikan, dan menyimpan laporan berkala mengenai pemasukan dan/atau pengeluaran narkotika yang berada dalam penguasaannya. Pelaporan dilakukan sebulan sekali sebelum tanggal 10 setiap bulannya. Pelaporan penggunaan narkotika telah dikembangkan dalam bentuk perangkat lunak atau program Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika (SIPNAP) sejak tahun 2006 oleh Kementerian Kesehatan. Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika (SIPNAP) adalah sistem yang mengatur pelaporan penggunaan Narkotika dan Psikotropika dari Unit Layanan (Puskesmas, Rumah Sakit dan Apotek) ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan menggunakan pelaporan elektronik selanjutnya Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan ke tingkat yang lebih tinggi (Dinkes Provinsi dan Ditjen Binfar dan Alkes) melalui mekanisme pelaporan online yang menggunakan fasilitas internet.
2.12.5 Pemusnahan Narkotika
Tujuan dilakukannya pemusnahan narkotika adalah untuk menghapus pertanggungjawaban apoteker terhadap pengelolaan narkotika, menjamin narkotika yang sudah tidak memenuhi persyaratan dikelola sesuai dengan standar yang berlaku, dan mencegah penyalahgunaan bahan narkotika serta mengurangi resiko terjadinya penggunaan obat yang substandar (Departemen Kesehatan RI, 2008). Berdasarkan Undang-undang nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika Pasal 60, pemusnahan narkotika dilakukan dalam hal diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku dan/atau tidak dapat digunakan dalam proses produksi, kadaluarsa, tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan/atau berkaitan untuk pengembangan ilmu pengetahuan atau berkaitan dengan tindak pidana. Pemusnahan yang dilakukan oleh apotek dengan membuat berita acara pemusnahan narkotika dan dilaporkan kepada pihak-pihak yang terkait. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.28/MENKES/PER/I/1978 Tentang Penyimpanan Narkotika dan Undang-Undang nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika, berita acara pemusnahan memuat:
a. Keterangan tempat, hari, tanggal, bulan, dan tahun pemusnahan
b. Nama pemegang izin khusus, apoteker pimpinan apotek dan dokter pemilik narkotika;
c. Nama seorang saksi dari pemerintah dan seorang saksi dari perusahaan atau badan tersebut.
d. Nama dan jumlah narkotika yang dimusnahkan. e. Cara pemusnahan.
f. Tanda tangan penanggung jawab apotek/ pemegang izin khusus, dokter pemilik narkotika dan saksi-saksi. Berita acara pemusnahan tersebut dikirimkan kepada dibuat rangkap empat untuk ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Kepala Dinas Kesehatan Propinsi, Kepala Balai Pengawasan Obat dan Makanan, dan satu disimpan sebagai arsip di apotek.
2.13 Pengelolaan Psikotropika
Menurut Undang-undang No. 5 tahun 1997 psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika dibagi menjadi empat golongan, dimana golongan II, III, dan IV dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan atau ilmu pengetahuan, sedangkan golongan I hanya digunakan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan.
Tujuan pengaturan di bidang psikotropika adalah untuk menjamin ketersediaan psikotropika guna kepentingan pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan, mencegah terjadinya penyalahgunaan psikotropika, serta memberantas peredaran gelap psikotropika.
2.13.1 Pemesanan Psikotropika
Tata cara pemesanan obat-obat psikotropika sama dengan pemesanan obat lainnya yakni dengan surat pemesanan yang sudah ditandatangani oleh APA yang dikirim ke pedagang besar farmasi (PBF). Pemesanan psikotropika tidak memerlukan surat pemesanan khusus dan dapat dipesan apotek dari PBF atau pabrik obat. Penyaluran psikotropika tersebut diatur dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1997 pasal 12 ayat (2) dinyatakan bahwa penyerahan psikotropika oleh apotek hanya dapat dilakukan kepada apotek lainnya, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter dan pelayanan resep. Satu lembar surat pesanan psikotropika dapat terdiri lebih dari satu jenis obat psikotropika.
2.13.2 Penyimpanan Psikotropika
Penyimpanan psikotropika belum diatur di dalam perundang-undangan atau peraturan lainnya. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan psikotropika maka sebaiknya obat golongan psikotropika disimpan pada rak atau lemari khusus.
2.13.3 Penyerahan Psikotropika
Penyerahan psikotropika oleh apotek hanya dapat dilakukan kepada apoteklain, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter, dan pasien. Penyerahan psikotropika oleh apotek dilaksanakan berdasarkan resep dokter.
2.13.4 Pelaporan Psikotropika
Apotek berkewajiban menyusun dan mengirimkan laporan bulanan melalui perangkat lunak atau program Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika (SIPNAP). Mekanisme pelaporan psikotropika sama dengan pelaporan narkotika.
2.13.5 Pemusnahan Psikotropika
Pemusnahan psikotropika dilaksanakan dalam hal berhubungan dengan tindak pidana, diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku dan/atau tidak dapat digunakan dalam proses produksi psikotropika, kadaluarsa, dan tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan/atau untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Setiap pemusnahan psikotropika wajib dibuatkan berita acara.
2.14 Pengadaan Persediaan Apotek
Pengadaan merupakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan perbekalan farmasi berdasarkan fungsi perencanaan dan penganggaran. Tujuan pengadaan yaitu untuk memperoleh barang atau jasa yang dibutuhkan dalam jumlah yang cukup dengan kualitas harga yang dapat dipertanggungjawabkan dalam waktu dan tempat tertentu secara efektif dan efisien menurut tata cara dan ketentuan yang berlaku. Model pengadaan secara umum berdasarkan waktu adalah sebagai berikut:
a. Annual purchasing, yaitu pemesanan satu kali dalam satu tahun.
b. Scheduled purchasing, yaitu pemesanan secara periodik dalam waktu
tertentu misalnya mingguan, bulanan, dan sebagainya.
c. Perpetual purchasing, yaitu pemesanan dilakukan setiap kali tingkat
persediaan rendah.
d. Kombinasi antara annual purchasing, scheduled purchasing, dan perpetual
purchasing yaitu pengadaan dengan pemesanan yang bervariasi waktunya,
seperti cara ini dapat diterapkan tergantung dari jenis obat yang dipesan. Misalnya obat impor yang mahal cukup dipesan sekali dalam setahun saja. Obat-obatan yang termasuk slow moving dapat dipesan secara periodik
setiap tahun (scheduled purchasing), dan obat-obatan yang banyak diminati oleh pembeli maka pemesanan dilakukan secara perpetual purchasing. Setelah menentukan jenis pengadaan yang akan diterapkan berdasarkan frekuensi dan waktu pemesanan maka pengadaan atau pembelian barang di apotek dapat dilakukan dengan cara:
a. Pembelian kontan
Pembelian kontan adalah pembelian di mana pihak apotek langsung membayar harga obat yang dibeli dari distributor.
b. Pembelian kredit
Pembelian kredit adalah pembelian yang pembayarannya sampai jatuh tempo.
c. Konsinyasi (Titipan obat)
Konsinyasi adalah titipan barang dari pemilik kepada apotek, dimana apotek bertindak sebagai agen komisioner yang menerima komisi bila barang tersebut terjual. Bila barang tersebut tidak terjual sampai batas waktu kadaluarsa atau waktu yang telah disepakati maka barang tersebut dapat dikembalikan pada pemiliknya.
2.15 Pengendalian Persediaan Apotek
Persediaan barang dagangan apotek merupakan hal yang sangat penting bagi sebuah apotek. Pengendalian persediaan berhubungan dengan aktivitas dalam pengaturan persediaan obat di apotek untuk menjamin kelancaran pelayanan pasien secara efektif dan efisien. Selain itu, pengendalian persediaan obat yang tepat memliki pengaruh kuat dan langsung terhadap perolehan kembali atas investasi apotek. Parameter- parameter yang digunakan dalam pengendalian persediaan adalah konsumsi rata-rata, lead time, safety stock, persediaan minimum, persediaan maksimum, dan perputaran persediaan.
2.15.1 Konsumsi Rata-rata
Permintaan (demand) adalah nama lain dari konsumsi rata-rata. Permintaan yang diharapkan pada pemesanan selanjutnya merupakan variabel kunci yang menentukan berapa banyak stok barang yang harus dipanen. Walaupun
banyaknya permintaan dapat diprediksi, barang dapat menjadi stok mati dapat terjadi apabila salah memperkirakan lead time barang tersebut.
2.15.2 Lead Time
Waktu tenggang yang dibutuhan mulai dari pemesanan sampai dengan penerimaan barang di gudang dari suplier yang telah ditentukan disebut sebagai
lead time. Setiap suplier memiliki lead time yang berbeda-beda. Faktor-faktor
yang dapat berpengaruh pada lead time adalah jarak antara suplier dengan apotek, jumlah pesanan, dan kondisi suplier (Quick, 1997).
2.15.3 Buffer Stock (Safety stock)
Persediaan yang dicadangkan untuk kebutuhan selama menunggu barang datang untuk mengantisipasi keterlambatan barang pesanan atau untuk menghadapi suatu keadaan tertentu yang diakibatkan karena perubahan pada permintaan misalnya karena adanya permintaan barang yang meningkat secara tiba-tiba (karena adanya wabah penyakit) disebut sebagai buffer stock, yang dapat dihitung dengan rumus :
SS = LT x CA SS= Safety stock LT = Lead Time CA = Konsumsi rata-rata 2.15.4 Persediaan Maksimum
Jumlah persediaan terbesar yang telah tersedia dikenal dengan istilah persediaan maksimum. Jika nilai persediaan maksimum ini telah dicapai maka kita tidak perlu lagi melakukan pemesanan untuk menghindari terjadinya stok mati yang dapat menyebabkan kerugian.
2.15.5 Persediaan Minimum
Jumlah persediaan terendah yang masih tersedia disebut sebagai persediaan minimum. Apabila penjualan telah mencapai nilai persediaan minimum ini, maka pemesanan langsung dilakukan agar kontinuitas usaha dapat berlanjut. Jika barang
yang tersedia jumlahnya sudah kurang dari jumlah persediaan minimum maka dapat terjadi stok kosong.
2.15.6 Perputaran Persediaan (Inventory Turnover)
Nama lain dari perputaran persedian ini adalah Inventory Turnover (ITOR). ITOR mengindikasikan efisiensi persediaan yang digunakan. Rasio ini mengukur seberapa cepat barang dibeli/ terjual, dan tergantikan. Dua keuntungan dari peningkatan ITOR yaitu menurunkan investasi persediaan untuk aktivitas di apotek dan mempercepat pengembalian investasi. Jika suatu barang memiliki angka perputaran persediaan yang besar maka barang tersebut dikategorikan sebagai barang fast moving. Sebaliknya, jika angka perputaran persediaan suatu barang terbilang kecil maka barang tersebut termasuk slow moving. Rumus untuk menghitung perputaran persediaan yaitu :
Nilai ITOR tidak boleh terlalu tinggi atau rendah. Nilai ITOR yang paling ideal yaitu 12. Nilai ITOR ini menunjukan bahwa pada setiap bulan terjadi pertukaran barang. Nilai ITOR yang terlalu tinggi menunjukan bahwa terlalu sering terjadi kehabisan stok. Nilai ITOR = 30 mungkin dapat diterima bila apotek dapat memesan dan menerima barang dengan cepat dari suplier dan tidak ada keluhan kekurangan barang. Nilai ITOR yang terlalu rendah menunjukan bahwa terlalu sering terjadi kehabisan stok.
2.15.7 Jumlah Pesanan (Economic Order Quantity/ Economic Lot Size)
Untuk menghitung banyaknya persediaan yang harus ada dalam apotik pada waktu tertentu atau besarnya persediaan yang harus di bangun. Di apotek, jumlah persediaan yang harus ada adalah persediaan untuk jangka waktu tertentu dan disesuaikan dengan kebijakan pada pola kebutuhan. Persediaan dirancang agar setiap saat harus tersedia dan sekaligus untuk mengantisipasi permintaan yang tidak menentu, kemampuan suplier yang terbatas, waktu tenggang pesanan yang tidak menentu, ongkos kirim mahal, dan sebagainya. Faktor yang dipertimbangkan untuk membangun persediaan erat hubungannya dengan biaya
dan resiko penyimpanan, biaya pemesanan, dan biaya pemeliharaan. Merancang persediaan dapat dilakukan dengan perhitungan jumlah pesanan yang ekonomis atau dikenal dengan rumus Economic Order Quality (EOQ) :
R = Jumlah kebutuhan dalam setahun P = Harga barang / unit
S = Biaya memesan tiap kali pemesanan I = % Harga persediaan rata-rata
2.15.8 Re Order Point (ROP/ Titik Pemesanan)
Merupakan suatu titik dimana harus diadakan pemesanan kembali sedemikian rupa sehingga kedatangan atau penerimaan barang yang dipesan adalah tepat waktu, dimana persediaan di atas persediaan pengaman sama denga nol. Pada keadaan khusus (CITO), dapat dilakukan pemesanan langsung tanpa harus menunggu hari pembelian yang telah ditentukan antara apotek dan suplier. Rumus perhitungan ROP:
ROP = SS + LT ROP = Reorder point
SS = Safety stock LT = Lead time
2.16 Penentuan Prioritas Pengadaan
Penyusunan prioritas dapat dilakukan dengan menggunakan metode sebagai berikut:
2.16.1 Analisis VEN (Vital, Esensial, Non-esensial)
Suatu metode untuk mengelompokkan obat berdasarkan nilai kepentingan dan vitalitas obat terhadap pelayanan kesehatan untuk melayani permintaan untuk pengobatan merupakan karakteristik dari metode analisis VEN. Semua jenis obat dalam daftar obat dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok yaitu:
a. V (Vital)
Kelompok obat yang berpotensi untuk menyelamatkan kehidupan (life
saving drugs) atau untuk mengatasi penyakit penyebab kematian terbesar.
Pengadaan obat golongan ini diprioritaskan. Contoh: obat diabetes, hipertensi. b. E (Esensial)
Kelompok obat yang efektif untuk obat-obat yang banyak diminta untuk digunakan dalam tindakan atau pengobatan penyakit terbanyak di masyarakat. Oleh karena itu, obat-obat golongan ini adalah obat yang fastmoving.
c. N (Non esensial)
Kelompok obat yang digunakan untuk obat-obat pelengkap yang sifatnya tidak esensial, tidak digunakan untuk penyelamatan hidup maupun pengobatan penyakit terbanyak. Contoh obat yang termasuk jenis obat Non-essensial adalah vitamin, suplemen dan lain-lain.
2.16.2 Analisis PARETO (ABC)
Metode yang menggolongkan persediaan berdasarkan nilai persediaan (volume persediaan yang dibutuhkan dalam satu periode dikalikan harga per unit) disebut analisis Pareto Kriteria kelas dalam klasifikasi ABC:
a. Kelas A : persediaan yang memiliki volume rupiah yang tinggi. Kelas ini mewakili sekitar 75-80 % dari total nilai penjualan, meskipun jumlahnya hanya sekitar 10-20 % dari seluruh item. Kelas ini memiliki dampak biaya yang tinggi. Pengendalian khusus dilakukan secara intensif.
b. Kelas B : persediaan yang memiliki volume rupiah yang menengah. Kelas ini mewakili sekitar 10-20 % dari total nilai persediaan, meskipun jumlahnya hanya sekitar 15-20 % dari seluruh item. Pengendalian khusus dilakukan secara moderat.
c. Kelas C : persediaan yang memiliki volume rupiah yang rendah. Kelas ini mewakili sekitar 60-80 % dari total nilai persediaan, tapi mewakili 5-10 % dari total penjualan. Pengendalian khusus dilakukan secara sederhana.
2.16.3 Analisa VEN-ABC
Mengkategorikan barang berdasarkan volume dan nilai penggunaannya selama periode waktu tertentu. Digunakan untuk menetapkan prioritas untuk pengadaan obat di mana anggaran yang ada tidak sesuai dengan kebutuhan. Analisis VEN-ABC mengkombinasikan analisis PARETO dan VEN dalam suatu matriks sehingga analisa menjadi lebih tajam. Matriks dapat dibuat sebagai berikut:
V E N
A VA EA NA
B VB EB NB
C VC EC NC
Gambar 2.7. Matriks analisa VEN-ABC
Matriks tersebut dapat dijadikan dasar dalam menetapkan prioritas untuk menyesuaikan anggaran atau perhatian dalam pengelolaan persediaan. Semua obat vital dan esensial dalam kelompok A, B, dan C harus tersedia. Tetapi kuantitasnya disesuaikan dengan kebutuhan konsumen apotek. Untuk obat nonesensial dalam kelompok A tidak diprioritaskan, sedangkan kelompok B dan C pengadaannya disesuaikan dengan kebutuhan.
3.1 PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. 3.1.1 Sejarah PT. Kimia Farma (Persero) Tbk.
Kimia Farma adalah perusahaan industri farmasi pertama di Indonesia yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda tahun 1817. Nama perusahaan ini pada awalnya adalah NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co. Menurut sejarah perkembangan industri farmasi di Indonesia, perusahaan kimia farma berasal dari nasionalisasi perusahaan farmasi Belanda oleh Penguasa Perang Pusat berdasarkan Undang-Undang No.74/1957 yang baru dilaksanakan pada tahun 1958. Jumlah saham Kimia Farma yang terbesar dimiliki oleh pemerintah (90%) dan sisanya (10%) telah dilepas kepada masyarakat.
Perusahaan-perusahaan swasta milik Belanda dapat terlaksana setelah nasionalisasi. Penguasa Perang Pusat menyerahkan perusahaan-perusahaan swasta milik Belanda kepada departemen-departemen sesuai dengan bidang usahanya masing-masing. Berdasarkan SK Penguasa Perang Pusat No. Kpts/Peperpu/0348/1958 dan SK Menkes No.58041/Kab/1958 dibentuk Bapphar (Badan Pusat Penguasa Perusahaan “Farmasi Belanda”). Berdasarkan Undang-undang No. 19/Prp/tahun 1960 tentang Perusahaan Negara (PN) dan PP No.69 tahun 1961, Departemen Kesehatan Republik Indonesia mengganti Bapphar menjadi Badan Pimpinan Umum (BPU) Farmasi Negara dan membentuk beberapa PN Farmasi, yaitu PN Farmasi dan alat kesehatan Radja Farma (Jakarta), PN Farmasi dan alat kesehatan Nurani Farma (Jakarta), PN Farmasi dan alat kesehatan Nakula Farma (Jakarta), PN Bio Farma, PN Farmasi dan alat kesehatan Bhineka Kina Farma (Bandung) dan PNF Sari Husada (Yogyakarta), dan PN Farmasi dan alat kesehatan Kasa Husada (Surabaya).
Tahun 1967 sesuai dengan Instruksi Presiden No. 17 yang dituangkan dalam Peraturan Pemerintah No. 3 tahun 1969, bahwa PNF Nurani Farma, PNF Bio Farma, PNF Radja Farma, PN Sari Husada, PN Bhineka Kina Farma, dan PNF Nakula Farma dilebur menjadi PN Farmasi dan Alat Kesehatan Bhineka Kimia Farma. Pada tanggal 16 Agustus 1971, Perusahaan Negara Farmasi Kimia
Farma mengalami peralihan bentuk hukum menjadi Badan Usaha Milik Negara dengan status sebagai Perseroan Terbatas, sehingga selanjutnya disebut PT. Kimia Farma (Persero). Berdasarkan Surat Menteri Negara Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN No. S-59/M-PM. BUMN/2000 tanggal 7 Maret 2000, PT. Kimia Farma diprivatisasi. Sejak tanggal 4 Juli 2000, PT. Kimia Farma resmi terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) sebagai perusahaan publik dengan nama PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. Untuk dapat mengelola perusahaan lebih terarah dan berkembang dengan cepat, maka pada tanggal 4 januari 2002 Direksi PT. Kimia Farma (Persero) Tbk mendirikan 2 (dua) anak perusahaannya yaitu PT Kimia Farma Apotek yang bergerak di bidang ritel farmasi dan PT Kimia Farma Trading & Distribution.
PT. Kimia Farma Apotek sampai saat ini telah memiliki 36 bisnis manajer dan 412 apotek yang tersebar di seluruh Indonesia. Sedangkan PT. Kimia Farma Trading & Distribution saat ini memiliki 3 wilayah pasar (Sumatra, DKI & Jawa Tengah, dan Jawa Timur & Indonesia Wilayah Timur), dan 35 kantor cabang Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. 3.1.2 Visi dan Misi PT. Kimia Farma (Persero) Tbk.
Visi PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. adalah menjadi korporasi bidang kesehatan terintegrasi dan mampu menghasilkan pertumbuhan nilai yang berkesinambungan melalui konfigurasi dan koordinasi bisnis yang sinergis. Misi PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. adalah menghasilkan pertumbuhan nilai korporasi melalui usaha di bidang-bidang:
1. Industri kimia dan farmasi dengan basis penelitian dan pengembangan produk yang inovatif.
2. Perdagangan dan jaringan distribusi.
3. Pelayanan kesehatan yang berbasis jaringan retail farmasi dan jaringan pelayanan kesehatan lainnya.
4. Pengelolaan aset-aset yang dikaitkan dengan pengembangan usaha perusahaan.
3.1.3 Budaya Perusahaan
Sejak tahun 2004 telah ditetapkan budaya perusahaan PRIMA yang mencakup aspek nilai diri dan nilai kerja, masih tetap relevan dengan visi misi Perseroan saat ini. Budaya perusahan tersebut adalah :
1. Profesionalisme
Kesadaran dalam berpikir, berbicara dan bertindak dalam menjalankan tugas dan fungsinya dengan penuh semangat, dan berbekal pengetahuan dan ketrampilan yang memadai dalam situasi dan kondisi apapun disebut profesionalisme.
2. Kerjasama
Bekerja dalam kebersamaan dalam langkah dan pikiran yang tercermin dalam kerjasama tim antar karyawan yang erat dan solid untuk mendapatkan hasil terbaik bagi perusahaan disebut kerjasama.
3. Integritas
Sikap mental yang positif yang melandasi semangat dan antusiasme dalam bekerja secara professional disebut integritas.
PT. Kimia Farma (Persero), Tbk juga mempunyai motto perusahan yaitu I-CARE yang merupakan singkatan dari:
1. Innovative (I): memiliki budaya berpikir “out of the box” dan membangun
produk unggulan.
2. Customer First (C): mengutamakan pelanggan sebagai rekan kerja atau
mitra.
3. Accountability (A): bertanggung jawab atas amanah yang dipercayakan
oleh perusahaan dengan memegang teguh profesionalisme, integritas, dan kerjasama.
4. Responsibility (R): memiliki tanggung jawab pribadi untuk bekerja tepat
waktu, tepat sasaran, dan dapat diandalkan.
5. Eco Friendly (E): menciptakan dan menyediakan produk maupun jasa