LAPORAN PRAKTI
APOTEK SAMMARIE BASRA JALAN BASUKI RACHMA
NO. 31 JAKARTA TIMUR PERIODE 11 AGUSTUS
LAPORAN
FRISCA SARASWATI, S. Farm
PROGRAM PROFESI APOTEKER
i Universitas Indonesia
LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI
APOTEK SAMMARIE BASRA JALAN BASUKI RACHMA
NO. 31 JAKARTA TIMUR PERIODE 11 AGUSTUS
SEPTEMBER 2014
LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER
FRISCA SARASWATI, S. Farm
1306502466
ANGKATAN LXXIX
PROGRAM PROFESI APOTEKER
FAKULTAS FARMASI
DEPOK
JANUARI 2015
Universitas Indonesia
K KERJA PROFESI APOTEKER DI
APOTEK SAMMARIE BASRA JALAN BASUKI RACHMAT
NO. 31 JAKARTA TIMUR PERIODE 11 AGUSTUS – 06
LAPORAN PRAKTI
APOTEK SAMMARIE BASRA
NO. 31 JAKARTA TIMUR PERIODE 11 AGUSTUS
LAPORAN
Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Apoteker
FRISCA SARASWATI, S. Farm
PROGRAM PROFESI APOTEKER
LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI
APOTEK SAMMARIE BASRA JALAN BASUKI RACHMA
NO. 31 JAKARTA TIMUR PERIODE 11 AGUSTUS
SEPTEMBER 2014
LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER
Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Apoteker
FRISCA SARASWATI, S. Farm
1306502466
ANGKATAN LXXIX
PROGRAM PROFESI APOTEKER
FAKULTAS FARMASI
DEPOK
JANUARI 2015
K KERJA PROFESI APOTEKER DI
JALAN BASUKI RACHMAT
NO. 31 JAKARTA TIMUR PERIODE 11 AGUSTUS – 06
K KERJA PROFESI APOTEKER
vii Universitas Indonesia
Segala puji dan syukur penulis uncapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Apotek SamMarie Basra yang berlokasi di Jalan Basuki Rachmat No. 31 Jakarta Timur pada tanggal 11 Agustus – 06 September 2014.
Laporan ini merupakan hasil Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) yang disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Profesi Apoteker di Fakultas Farmasi Universitas Indonesia. Setelah mengikuti kegiatan PKPA ini, diharapkan apoteker yang lulus nantinya dapat mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki kepada masyarakat pada saat memasuki dunia kerja.
Kegiatan PKPA ini dapat terlaksana dengan baik berkat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:
1. Bapak T. Nebrisa Z., S.Farm., MARS., Apt. selaku pembimbing I, yang telah memberikan kesempatan, bimbingan, pengarahan, serta nasehat kepada penulis selama kegiatan PKPA di Apotek SamMarie Basra.
2. Ibu Widia, S.Si., Apt., selaku Apoteker Pengelola Apotek dan pembimbing lapangan yang telah memberikan pengarahan dan penjelasan kepada penulis selama kegiatan PKPA di Apotek SamMarie Basra.
3. Ibu Nadia Farhanah Syafhan, M. Si selaku Pembimbing II yang telah memberikan arahan kepada penulis selama penulisan laporan PKPA. 4. Bapak DR. Hayun, M. Si. Apt. sebagai Ketua Program Profesi Apoteker
Fakultas Farmasi Universitas Indonesia.
5. Bapak DR. Mahdi Jufri, M.Si., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia yang telah memberikan kesempatan menempuh pendidikan profesi apoteker di Fakultas Farmasi Universitas Indonesia. 6. Karyawan dan Karyawati Apotek SamMarie Basra atas perhatian dan
kerjasama selama penulis melaksanakan PKPA.
7. Seluruh staf pengajar dan sekretariat Fakultas Farmasi Universitas Indonesia yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan bantuan selama
8. Rekan-rekan Program Profesi Apoteker Universitas Indonesia angkatan LXXIX yang selalu mendukung, menyemangati, dan memberikan rasa kebersamaan selama satu tahun ini.
9. Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu, yang telah memberikan dukungan dalam penyusunan laporan ini.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan laporan ini masih terdapat kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Akhir kata, penulis berharap semoga pengetahuan dan pengalaman yang penulis peroleh selama menjalani PKPA ini dapat memberikan manfaat bagi rekan-rekan sejawat dan semua pihak yang membutuhkan.
Penulis 2014
ix Universitas Indonesia
Nama : Frisca Saraswati, s.farm NPM : 1306502466
Program studi : Profesi Apoteker
Judul : Laporan Praktik Kerja Profesi Apoteker di Apotek SamMarie Basra Jalan Basuki Rachmat No. 31 Jakarta Timur Periode 11 Agustus – 06 September 2014
Praktik Kerja Profesi Apoteker di Apotek SamMarie Basra bertujuan untuk memahami tugas pokok, peran dan fungsi apoteker di apotek, melaksanakan dan memahami kegiatan di apotek baik secara teknis kefarmasian maupun non teknis kefarmasian. Sedangkan tujuan dari tugas khusus ini adalah untuk menganalisa penulisan resep dari persyaratan administrasi, kesesuaian farmasetik dan pertimbangan klinik di Apotek SamMarie Basra periode Mei 2014 berdasarkan persyaratan yang berlaku.
Kata Kunci : Apotek SamMarie Basra, persyaratan administrasi, kesesuaian farmasetik, pertimbangan klinik
Tugas Umum : viii + 64 halaman, 17 lampiran Tugas Khusus : iv + 19 halaman, 1 lampiran Daftar Acuan Tugas Umum : 20 (1978 - 2012) Daftar Acuan Tugas Khusus : 25 (1963 - 2012)
Name : Frisca Saraswati, S. Farm. NPM : 1306502466
Program Study : Apothecary profession
Title : Report of Pharmacist Internship at Apotek SamMarie Basra Jalan Basuki Rachmat No.31 Jakarta Timur, 11th August - 6th September 2014
The aim of pharmacist internship program inApotek SamMarie Basra is to understand the basic tasks, roles and functions of pharmacists, implement and understand the activities both technical and non-technical pharmacy. While the aim of this specific task is to analyze the prescription of administrative requirements, suitability pharmaceutical and clinical considerations in Apotek SamMarie Basra in May 2014 period based on the applicable requirements .
Keywords : Apotek SamMarie Basra, administrative requirements, suitability pharmaceutical, clinical considerations
General Assignment : viii + 64 pages, 17 appendices Spesific Asignment : iv + 19 pages, 1 appendices Bibliography of General Assignment : 20 (1978 - 2012) Bibliography of Specific Assignment : 25 (1963 - 2012)
xi Universitas Indonesia
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ... iv
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... v
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI... vi
KATA PENGANTAR ... vii
ABSTRAK ... ix
ABSTRACT ... x
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan ... 2
BAB 2 TINJAUAN UMUM 2.1 Pengertian Apotek ... 3
2.2 Landasan Hukum Apotek ... 3
2.3 Tugas dan Fungsi Apotek ... 4
2.4 Kelengkapan Apotek ... 4
2.5 Perbekalan Farmasi ... 6
2.6 Tata Cara Mendapatkan Izin Apotek ... 10
2.7 Pengelolaan Sumber Daya Apotek ... 12
2.8 Pelayanan Apotek ... 16
2.9 Pengelolaan Narkotika & Psikotropika ... 23
2.10 Pelanggaran Apotek ... 28
2.11 Pencabutan Izin Apotek ... 29
BAB 3 TINJAUAN KHUSUS 3.1 Sejarah Singkat... 32
3.2 Lokasi, Bangunan dan Tata Ruang Apotek... 32
3.3 Struktur Organisasi ... 32
3.4 Kegiatan di Apotek ... 34
3.5 Pengelolaan Narkotika dan Psikotropika ... 36
BAB 4 PEMBAHASAN 4.1 Sumber Daya Manusia dan Organisasi ... 38
4.2 Lokasi dan Tata Ruang Apotek ... 39
4.3 Pengelolaan Apotek ... 41
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 45
xiii Universitas Indonesia
Gambar 2.1 Penandaan Obat Bebas ... 7
Gambar 2.2 Penandaan Obat Bebas Terbatas ... 7
Gambar 2.3 Tanda Peringatan Pada Obat Bebas Terbatas ... 8
Gambar 2.4 Penandaan Obat Keras ... 8
Lampiran 1. Denah Lokasi Apotek SamMarie Basra ... 48
Lampiran 2. Desain Depan Apotek SamMarie Basra ... 49
Lampiran 3. Desain Ruang Racik & Penyimpanan Obat ... 50
Lampiran 4. Denah Apotek SamMarie Basra ... 51
Lampiran 5. Struktur Organisasi Apotek ... 52
Lampiran 6. Alur Pemesanan ... 53
Lampiran 7. Faktur Pembelian ... 54
Lampiran 8. Surat Pesanan... 55
Lampiran 9. Kartu Stok ... 56
Lampiran 10. Surat Pesanan Narkotika... 57
Lampiran 11. Surat Pesanan Psikotropika ... 58
Lampiran 12. Lemari Khusus Penyimpanan Narkotika & Psikotropika 59 Lampiran 13. Laporan Penggunaan Narkotika ... 60
Lampiran 14. Laporan Penggunaan Psikotropika ... 61
Lampiran 15. Formulir Resep ... 62
Lampiran 16. Formulir Salinan Resep ... 63
1 Universitas Indonesia BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan merupakan hal penting yang diperlukan dan merupakan hak asasi manusia serta salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Menurut Kepmenkes No.1197 tahun 2004, upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif), yang dilaksanakan secara terpadu dan berkesinambungan.
Agar upaya kesehatan berlangsung dengan baik maka diperlukan fasilitas pelayanan kesehatan. Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, apotek merupakan sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker. Apoteker melakukan praktek kefarmasian di apotek yang meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat, dan obat tradisional.
Apotek, dengan fungsinya yang tidak hanya tempat penyediaan obat sebagai komoditi melainkan tempat pelayanan kefarmasian yang komprehensif, memerlukan pengelolaan profesional yang dilaksanakan oleh apoteker yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan perilaku untuk dapat berinteraksi langsung dengan pasien. Oleh karena itu kemampuan dari segi teknis kefarmasian saja tidaklah cukup untuk memberikan pelayanan yang optimal, melainkan perlu dilengkapi dengan penguasaan manajerial meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan evaluasi kinerja yang diselenggarakan untuk mengelola setiap investasi dan sumber daya yang ada. Sedangkan kemampuan berkomunikasi diperlukan dalam upaya memberikan pelayanan kefarmasian yang berorientasi
pada kualitas hidup pasien. Hal ini diperlukan karena pelayanan kefarmasian di apotek pada saat ini telah bergeser orientasinya, yang semula hanya berorientasi pada pelayanan produk (product oriented) menjadi pelayanan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dari pasien (patient oriented). Sebagai konsekuensi perubahan tersebut maka diperlukan seorang apoteker yang profesional.
Sebagai upaya agar apoteker dapat melaksanakan pelayanan kefarmasian dengan baik, maka program profesi apoteker Universitas Indonesia bekerja sama dengan Apotek SamMarie Basra menyelenggarakan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) yang berlangsung selama 4 minggu sejak tanggal 11 Agustus - 6 September 2014. PKPA ini dilaksanakan dengan harapan agar calon apoteker dapat mengembangkan teori yang diperoleh selama perkuliahan dan memahami peran dan tanggungjawab seorang apoteker sehingga calon apoteker lebih siap bekerja di apotek.
1.2 Tujuan
Tujuan pelaksanaan Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Apotek SamMarie Basra yang diselenggarakan oleh Fakultas Farmasi Universitas Indonesia adalah:
a. Memahami tugas pokok, peran dan fungsi apoteker di apotek; dan
b. Melaksanakan dan memahami kegiatan di apotek baik secara teknis kefarmasian maupun non teknis kefarmasian
3 Universitas Indonesia BAB 2
TINJAUAN UMUM
2.1 Pengertian Apotek
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, yang dimaksud dengan apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukannya pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat.
Berdasarkan KMK No.1027/MENKES/SK/IX/2004, Apotek merupakan tempat tertentu, tempat dilakukannya pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Pengertian lainnya menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.51 Tahun 2009, apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukannya praktik kefarmasian oleh apoteker, dan apoteker sendiri adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker.
2.2 Landasan Hukum Apotek
Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang diatur dalam:
a. Undang-Undang No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan; b. Undang-Undang No.35 tahun 2009 tentang Narkotika; c. Undang-Undang No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika;
d. Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 1980 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 1965 tentang Apotek;
e. Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1990 tentang Masa Bakti Apoteker, yang disempurnakan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 184/Menkes/Per/II/1995;
f. Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian; g. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
h. Menteri Kesehatan No. 184 tahun 1995 tentang Penyempurnaan Pelaksanaan Masa Bakti dan Izin kerja Apoteker;
i. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 922/Menkes/Per/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek;
j. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek; dan
k. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 922/MenKes/Per/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek.
2.3 Tugas dan Fungsi Apotek
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 1980 pasal 2, tugas dan fungsi apotek adalah sebagai berikut:
a. Tempat praktik profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan;
b. Sarana farmasi yang melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran, dan penyerahan obat atau bahan obat;
c. Sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan masyarakat secara meluas dan merata.
2.4 Kelengkapan Apotek
Untuk mendapatkan izin apotek, seorang apoteker atau apoteker yang bekerja sama dengan pemilik sarana yang telah memenuhi persyaratan, harus siap dengan tempat, perlengkapan termasuk sediaan farmasi dan perbekalan farmasi yang lain yang merupakan milik sendiri atau milik pihak lain. Beberapa kelengkapan yang harus diperhatikan dalam pendirian sebuah apotek adalah tempat atau lokasi, bangunan, perlengkapan apotek, tenaga kerja apotek, dan perbekalan farmasi (Said, 2012).
Universitas Indonesia 2.4.1 Lokasi
Apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan pelayanan komoditi lainnya di luar sediaan farmasi. Persyaratan jarak minimum antar apotek tidak dipermasalahkan lagi, tetapi ketentuan ini dapat berbeda, sesuai dengan kebijakan atau peraturan daerah masing-masing. Lokasi apotek dapat dipilih dengan mempertimbangkan segi pemerataan dan pelayanan kesehatan, jumlah penduduk, jumlah praktik dokter, sarana dan pelayanan kesehatan lain, sanitasi dan faktor-faktor lainnya (Said, 2012).
2.4.2 Bangunan
Suatu apotek sebaiknya mempunyai luas bangunan yang cukup sehingga dapat menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi apotek. Bangunan apotek yang baik hendaknya memiliki ruang tunggu pasien, ruang peracikan dan penyerahan obat, ruang administrasi, ruang kerja apoteker, tempat pencucian alat, dan kamar kecil. Bangunan apotek sebaiknya juga memiliki sumber air yang memenuhi syarat kesehatan, sumber penerangan yang dapat memberikan penerangan yang memadai, alat pemadam kebakaran, serta ventilasi dan sanitasi yang baik. Papan nama apotek dipasang di depan bangunan dengan ketentuan memenuhi ukuran minimal panjang 60 cm, lebar 40 cm dengan tulisan hitam di atas dasar putih, tinggi huruf minimal 5 cm, umumnya terbuat dari papan seng yang pada bagian mukanya memuat nama apotek, nama APA, nomor SIA, alamat apotek, dan nomor telepon (Said, 2012).
2.4.3 Peralatan Apotek
Suatu apotek baru yang ingin beroperasi harus memiliki peralatan apotek yang memadai agar dapat mendukung pelayanan kefarmasiannya. Peralatan apotek yang harus dimiliki antara lain (Said, 2012):
a. Peralatan pembuatan, pengolahan dan peracikan seperti timbangan, lumpang, alu,gelas ukur, dan lain-lain;
b. Peralatan dan tempat penyimpanan alat perbekalan farmasi seperti lemari obat, lemari pendingin (kulkas), dan lemari khusus untuk narkotika dan
psikotropika. Lemari narkotik harus memenuhi persyaratan yang ada dalam Undang-Undang Narkotika Nomor 35 tahun 2009;
c. Wadah pengemas dan pembungkus;
d. Perlengkapan administrasi seperti blanko pesanan, salinan resep, buku catatan penjualan, buku catatan pembelian, kartu stok obat, kuitansi; dan e. Buku-buku dan literatur standar yang diwajibkan, serta kumpulan
perundang- undangan yang berhubungan dengan kegiatan apotek.
2.5 Perbekalan Farmasi
Pemerintah menetapkan beberapa peraturan mengenai “tanda” untuk membedakan jenis-jenis obat yang beredar di wilayah Republik Indonesia agar pengelolaan obat menjadi mudah. Beberapa peraturan tersebut antara lain yaitu:
a. Undang-Undang RI No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika;
b. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 2380/A/SK/VI/83 tentang Tanda Khusus Obat Bebas dan Obat BebasTerbatas;
c. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 2396/A/SK/VIII/86 tentang Tanda Khusus Obat Keras Daftar G;
d. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 347/Menkes/SK/VIII/90 tentang Obat Wajib Apotek; dan
e. Peraturan Menteri Kesehatan RI No.688/Menkes/Per/VII/1997 tentang Peredaran Psikotropika.
Berdasarkan ketentuan peraturan tersebut, maka obat dapat dibagi menjadi beberapa golongan yaitu (Said, 2012; Presiden RI, 1997b):
1. Obat Bebas
Obat bebas adalah obat tanpa peringatan, yang dapat diperoleh tanpa resep dokter. Tanda khusus untuk obat bebas adalah lingkaran bulat berwarna hijau dengan garis tepi berwarna hitam (Menteri Kesehatan RI, 1983). Contoh obat bebas adalah Panadol®, Promag®, dan Diatab®.
2. Obat Bebas Terbatas
Obat bebas terbatas adalah obat dengan peringatan, yang dapat diperoleh tanpa resep dokter. Tanda khusus untuk obat bebas terbatas adalah lingkaran bulat berwarna biru dengan garis tepi berwarna hitam (Menteri Kesehatan RI, 1983).
Gambar 2.2
Komposisi obat bebas terbatas merupakan obat keras sehingga dalam wadah atau kemasan perlu dicantumkan tanda peringatan (P1
peringatan tersebut berwarna hitam dengan ukuran panjang 5 cm dan lebar 2 cm (disesuaikan dengan
peringatan penggunaannya dengan huruf berwarna putih.
peringatan ini sesuai dengan golongan obatnya, yaitu sebagai berikut (Menteri Kesehatan RI, 1983):
a. P No 1: Awas! Obat keras. Baca aturan memakainya. Cont Decolgen®, Ultraflu®, dan Fatigon®.
b. P No 2: Awas! Obat keras. Hanya untuk dikumur, jangan ditelan. Contoh: Betadinegargle® dan Minosep®.
c. P No 3: Awas! Obat keras. Hanya untuk bagian luar dari badan. Contoh: Fosenenema®
d. P No 4: Awas! Obat keras. Hanya u
e. P No 5: Awas! Obat keras. Tidak boleh ditelan.
Universitas Indonesia Gambar 2.1. Penandaan obat bebas
Obat Bebas Terbatas
Obat bebas terbatas adalah obat dengan peringatan, yang dapat diperoleh tanpa resep dokter. Tanda khusus untuk obat bebas terbatas adalah lingkaran bulat berwarna biru dengan garis tepi berwarna hitam (Menteri Kesehatan RI, 1983).
Gambar 2.2. Penandaan obat bebas terbatas
Komposisi obat bebas terbatas merupakan obat keras sehingga dalam wadah atau kemasan perlu dicantumkan tanda peringatan (P1
peringatan tersebut berwarna hitam dengan ukuran panjang 5 cm dan lebar 2 cm (disesuaikan dengan warna kemasannya) dan diberi tulisan peringatan penggunaannya dengan huruf berwarna putih.
peringatan ini sesuai dengan golongan obatnya, yaitu sebagai berikut (Menteri Kesehatan RI, 1983):
P No 1: Awas! Obat keras. Baca aturan memakainya. Cont Decolgen®, Ultraflu®, dan Fatigon®.
P No 2: Awas! Obat keras. Hanya untuk dikumur, jangan ditelan. Contoh: Betadinegargle® dan Minosep®.
P No 3: Awas! Obat keras. Hanya untuk bagian luar dari badan. Contoh: Fosenenema®
P No 4: Awas! Obat keras. Hanya untuk dibakar.
P No 5: Awas! Obat keras. Tidak boleh ditelan.
Universitas Indonesia Obat bebas terbatas adalah obat dengan peringatan, yang dapat diperoleh tanpa resep dokter. Tanda khusus untuk obat bebas terbatas adalah lingkaran bulat berwarna biru dengan garis tepi berwarna hitam
Komposisi obat bebas terbatas merupakan obat keras sehingga dalam wadah atau kemasan perlu dicantumkan tanda peringatan (P1-P6). Tanda
peringatan tersebut berwarna hitam dengan ukuran panjang 5 cm dan warna kemasannya) dan diberi tulisan peringatan penggunaannya dengan huruf berwarna putih. Tanda-tanda
peringatan ini sesuai dengan golongan obatnya, yaitu sebagai berikut
P No 1: Awas! Obat keras. Baca aturan memakainya. Contoh:
P No 2: Awas! Obat keras. Hanya untuk dikumur, jangan ditelan.
f. P No 6: Awas! Obat keras. Obat wasir, jangan ditelan. Contoh: Anusol® Suppositoria.
Gambar 2.3
3. Obat Keras Daftar G Obat
mendesinfeksi, dan lain
atau tidak yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan disebut obat keras. Tanda khusus untuk obat keras adalah lingkaran bulat berwar
dengan garis tepi berwarna hitam dan huruf K di dalamnya yang menyentuh garis tepi (Menteri Kesehatan RI, 1986). Pada etiket dan bungkus luar obat jadi yang tergolong obat keras harus dicantumkan secara jelas tanda khusus untuk obat keras. Tanda k
dicantumkan pada blister, strip aluminium/selofan, vial, ampul, tube atau bentuk wadah lain, apabila wadah tersebut dikemas dalam bungkus luar (Menteri Kesehatan RI, 1986).
P No 6: Awas! Obat keras. Obat wasir, jangan ditelan. Contoh: Anusol® Suppositoria.
Gambar 2.3. Tanda peringatan pada obat bebas terbatas Obat Keras Daftar G
Obat-obat yang mempunyai khasiat mengobati, menguatkan, mendesinfeksi, dan lain-lain, pada tubuh manusia, baik dalam bungkusan atau tidak yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan disebut obat keras. Tanda khusus untuk obat keras adalah lingkaran bulat berwar
dengan garis tepi berwarna hitam dan huruf K di dalamnya yang menyentuh garis tepi (Menteri Kesehatan RI, 1986). Pada etiket dan bungkus luar obat jadi yang tergolong obat keras harus dicantumkan secara jelas tanda khusus untuk obat keras. Tanda khusus dapat tidak dicantumkan pada blister, strip aluminium/selofan, vial, ampul, tube atau bentuk wadah lain, apabila wadah tersebut dikemas dalam bungkus luar (Menteri Kesehatan RI, 1986).
Gambar 2.4. Penandaan obat keras
P No 6: Awas! Obat keras. Obat wasir, jangan ditelan. Contoh:
. Tanda peringatan pada obat bebas terbatas
obat yang mempunyai khasiat mengobati, menguatkan, lain, pada tubuh manusia, baik dalam bungkusan atau tidak yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan disebut obat keras. Tanda khusus untuk obat keras adalah lingkaran bulat berwarna merah
dengan garis tepi berwarna hitam dan huruf K di dalamnya yang menyentuh garis tepi (Menteri Kesehatan RI, 1986). Pada etiket dan bungkus luar obat jadi yang tergolong obat keras harus dicantumkan husus dapat tidak dicantumkan pada blister, strip aluminium/selofan, vial, ampul, tube atau bentuk wadah lain, apabila wadah tersebut dikemas dalam bungkus luar
Universitas Indonesia
Obat keras merupakan obat yang hanya bisa didapatkan dengan resep dokter dan dapat diulang tanpa resep baru bila dokter menyatakan pada resepnya “boleh diulang“. Obat-obat golongan ini antara lain obat jantung, obat diabetes, hormon, antibiotika, beberapa obat ulkus
lambung, semua obat suntik, dan psikotropika. 4. Psikotropika
Zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku disebut psikotropika. Penggolongan dari psikotropika adalah (Presiden RI, 1997a):
a. Psikotropika golongan I adalah psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh: etisiklidina, tenosiklidina, metilendioksimetilamfetamin (MDMA);
b. Psikotropika golongan II adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan/ atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh: amfetamin, deksamfetamin, metamfetamin, fensiklidin;
c. Psikotropika golongan III adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/ atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh: amobarbital, pentobarbital, siklobarbital; dan
d. Psikotropika golongan IV adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/ atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh: diazepam, estazolam, etilamfetamin, alprazolam.
5. Narkotika
Zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun s
perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, disebut narkotika (Presiden RI, 2009b).
Narkotika dibagi menjadi 3 golongan, yaitu (Presiden RI, 2009b):
a. Narkotika Golongan I adalah narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh: kokain, opium, heroin, ganja;
b. Narkotika Golongan II adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh:
morfin,
c. Narkotika Golongan III adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh: ko
2.6 Tata Cara Mendapatkan Surat Izin Apotek
Izin apotek diberikan oleh Menteri yang melimpahkan wewenangnya kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pelaksanaan pemberian izin, pembekuan izin, pencairan izin, dan pencabutan
oleh Kepala Dinas Kesehatan kepada Menteri dan tembusan disampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi.
Zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, disebut narkotika (Presiden RI, 2009b).
Gambar 2.5. Penandaan obat narkotika
ika dibagi menjadi 3 golongan, yaitu (Presiden RI, 2009b):
Narkotika Golongan I adalah narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh: kokain, opium, heroin, ganja;
ka Golongan II adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh:
petidin, normetadona, metadona; dan
Narkotika Golongan III adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh: kodein, norkodeina, etilmorfina.
Tata Cara Mendapatkan Surat Izin Apotek
Izin apotek diberikan oleh Menteri yang melimpahkan wewenangnya kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pelaksanaan pemberian izin, pembekuan izin, pencairan izin, dan pencabutan izin dilaporkan setahun sekali oleh Kepala Dinas Kesehatan kepada Menteri dan tembusan disampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi.
Zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik emi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, disebut narkotika
ika dibagi menjadi 3 golongan, yaitu (Presiden RI, 2009b):
Narkotika Golongan I adalah narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh: kokain, opium, heroin, ganja;
ka Golongan II adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh:
Narkotika Golongan III adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan
dein, norkodeina, etilmorfina.
Izin apotek diberikan oleh Menteri yang melimpahkan wewenangnya kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pelaksanaan pemberian izin, izin dilaporkan setahun sekali oleh Kepala Dinas Kesehatan kepada Menteri dan tembusan disampaikan kepada
Universitas Indonesia
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1332/Menkes/SK/X/2002 pasal 7 dan pasal 9 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 922/Menkes/PER/X/1993 mengenai Tata Cara Pemberian Izin Apotek adalah sebagai berikut:
a. Permohonan izin apotek diajukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan menggunakan formulir APT-1;
b. Dengan menggunakan formulir APT-2 Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 (enam) hari kerja setelah menerima permohonan dapat meminta bantuan teknis kepada Kepala Balai POM untuk melakukan pemeriksaan terhadap kesiapan apotek melakukan kegiatan; c. Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM selambat-
lambatnya 6 (enam) hari kerja setelah permintaan bantuan teknis dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan hasil pemeriksaan setempat dengan menggunakan contoh formulir APT-3;
d. Dalam hal pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam (b) dan (c) tidak dilaksanakan, apoteker pemohon dapat membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas Provinsi dengan menggunakan contoh formulir APT-4;
e. Dalam jangka waktu 12 (dua belas) hari kerja setelah diterima laporan pemeriksaan sebagaimana dimaksud ayat (c) atau pernyataan ayat (d) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat mengeluarkan SIA dengan menggunakan contoh formulir APT-5;
f. Dalam hal hasil pemeriksaan Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM dimaksud ayat (c) masih belum memenuhi syarat. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dalam waktu 12 (dua belas) hari mengeluarkan Surat Penundaan dengan menggunakan contoh formulir APT-6;
g. Terhadap Surat Penundaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (f), apoteker diberi kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat-lambatnya dalam jangka waktu satu bulan sejak tanggal SuratPenundaan.
Surat penundaan dikeluarkan dalam keadaan sebagai berikut:
a) Apabila apoteker menggunakan sarana pihak lain, maka penggunaan sarana dimaksud wajib didasarkan atas perjanjian kerjasama antara apoteker dan pemilik sarana;
b) Pemilik sarana yang dimaksud (poin h) harus memenuhi persyaratan tidak pernah terlibat dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang obat sebagaimana dinyatakan dalam surat penyataan yang bersangkutan; dan c) Terhadap permohonan izin apotek yang ternyata tidak memenuhi persyaratan
APA dan atau persyaratan apotek atau lokasi apotek tidak sesuai dengan permohonan, maka Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dalam jangka waktu selambat-lambatnya (12) dua belas hari kerja wajib mengeluarkan surat penolakan disertai dengan alasannya dengan menggunakan formulir model APT-7.
2.7 Pengelolaan Sumber Daya Apotek 2.7.1. Sumber Daya Manusia
Sesuai ketentuan perundangan yang berlaku apotek harus dikelola oleh seorang apoteker yang profesional. Dalam pengelolaan apotek, apoteker senantiasa harus memiliki kemampuan menyediakan dan memberikan pelayanan yang baik, mengambil keputusan yang tepat, mampu berkomunikasi antar profesi, menempatkan diri sebagai pimpinan dalam situasi multidisipliner, kemampuan mengelola SDM secara efektif, selalu belajar sepanjang karier dan membantu memberi pendidikan dan memberi peluang untuk meningkatkan pengetahuan. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1332/MENKES/SK/X/2002 pasal 1, tenaga kerja yang terlibat dalam kegiatan operasional apotek terdiri dari: a. Satu orang Apoteker Pengelola Apotek (APA), yaitu apoteker yang telah
diberi Surat Izin Apotek (SIA);
b. Apoteker Pendamping, yaitu apoteker yang bekerja di apotek di samping Apoteker Pengelola Apotek (APA) dan/atau menggantikan pada jam-jam tertentu pada hari buka apotek;
c. Apoteker Pengganti, yaitu apoteker yang menggantikan Apoteker Pengelola Apotek selama Apoteker Pengelola Apotek tersebut tidak berada di tempat lebih dari 3 (tiga) bulan secara terus-menerus, telah memiliki Surat Izin
Universitas Indonesia
Praktik Apoteker dan tidak bertindak sebagai Apoteker Pengelola Apotek di apotek lain; dan
d. Asisten Apoteker adalah mereka yang berdasarkan peraturan perundang-undangan berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai Asisten Apoteker.
Tenaga-tenaga lainnya yang diperlukan untuk mendukung kegiatan di apotek terdiri dari:
a. Juru resep adalah petugas yang membantu pekerjaan Asisten Apoteker; b. Kasir adalah petugas yang bertugas menerima uang dan mencatat pemasukan
serta pengeluaran uang; dan
c. Pegawai tata usaha adalah petugas yang melaksanakan administrasi apotek dan membuat laporan pembelian, penjualan, penyimpanan dan keuangan apotek.
Apoteker yang akan menjalankan pekerjaan kefarmasian harus memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut (Presiden RI, 2009a):
a. Memiliki keahlian dan kewenangan; b. Menerapkan Standar Profesi;
c. Didasarkan pada Standar Kefarmasian dan Standar Operasional; d. Memiliki sertifikat kompetensi profesi;
e. Memiliki Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA);
f. Wajib memiliki Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA) bagi Apoteker Pengelola Apotek (APA) dan Apoteker Pendamping di Apotek; dan
g.
Apoteker Pengelola Apotek (APA) hanya dapat melaksanakan praktik di satu apotek sedangkan Apoteker Pendamping hanya dapat melaksanakan praktik paling banyak di tiga Apotek.2.7.2 Sarana dan Prasarana
Apotek berlokasi pada daerah yang dengan mudah dikenali oleh masyarakat. Pada halaman terdapat papan petunjuk yang dengan jelas tertulis kata apotek. Apotek harus dapat dengan mudah diakses oleh anggota masyarakat. Pelayanan produk kefarmasian diberikan pada tempat yang terpisah dari aktivitas pelayanan dan penjualan produk lainnya, hal ini berguna untuk menunjukkan integritas dan kualitas produk serta mengurangi risiko kesalahan penyerahan.
Masyarakat harus diberi akses secara langsung dan mudah oleh apoteker untuk memperoleh informasi dan konseling. Lingkungan apotek harus dijaga kebersihannya. Apotek harus bebas dari hewan pengerat, serangga. Apotek memiliki suplai listrik yang konstan, terutama untuk lemari pendingin.
Apotek harus memiliki:
a. Ruang tunggu yang nyaman bagi pasien.
b. Tempat untuk menampilkaninformasi bagi pasien, termasuk penempatan brosur/materi informasi.
c. Ruangan tertutup untuk konseling bagi pasien yang dilengkapi dengan meja dan kursi serta lemari untuk menyimpan catatan medikasi pasien.
d. Ruang racikan.
e. Tempat pencucian alat.
f. Perabotan apotek harus tertata rapi, lengkap dengan rak-rak penyimpanan obat dan barang-barang lain yang tersusun dengan rapi, terlindung dari debu,kelembaban dan cahaya yang berlebihan serta diletakkan pada kondisi ruangan dengan temperatur yang telah ditetapkan.
Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 922/Menkes/Per/X/1993 yang telah diperbarui melalui Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1332/Menkes/SK/X/2002, menyatakan persyaratan yang harus dipenuhi oleh apotek sebagai persyaratan pendirian apotek, yaitu:
a. Untuk mendapatkan izin apotek, apoteker, atau apoteker yang bekerjasama dengan pemilik sarana yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan tempat, perlengkapan, termasuk sediaan farmasi dan perbekalan farmasi lainnya yang merupakan milik sendiri atau milik pihak lain;
b. Sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan pelayanan komoditi lainnya di luar sediaan farmasi; dan
c. Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi lainnya di luar sediaan farmasi;
Universitas Indonesia
Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1027/Menkes/SK/IX/2004 juga menyebutkan bahwa:
a. Sarana apotek berlokasi pada daerah yang dengan mudah dikenali oleh masyarakat;
b. Pada halaman terdapat papan petunjuk yang dengan jelas tertulis kata apotek. c. Apotek harus dapat dengan mudah diakses oleh anggota masyarakat;
d. Pelayanan produk kefarmasian diberikan pada tempat yang terpisah dari aktivitas pelayanan dan penjualan produk lainnya, hal ini berguna untuk menunjukkan integritas dan kualitas produk serta mengurangi risiko kesalahan penyerahan;
e. Masyarakat harus diberi akses secara langsung dan mudah oleh apoteker untuk memperoleh informasi dan konseling;
f. Lingkungan apotek harus dijaga kebersihannya, bebas dari hewan pengerat, serangga; dan
g. Apotek memiliki suplai listrik yang konstan, terutama untuk lemari pendingin.
2.7.3 Sediaan Farmasi dan Perbekalan Kesehatan lainnya.
Pengelolaan persediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya dilakukan sesuai ketentuan perundangan yang berlaku meliputi: perencanaan, pengadaan, penyimpanan dan pelayanan. Pengeluaran obat memakai sistem FIFO
(firstinfirstout) dan FEFO (firstexpirefirstout)
2.7.3.1. Perencanaan.
Dalam membuat perencanaan pengadaan sediaan farmasi perlu diperhatikan :
a. Pola penyakit.
b. Kemampuan masyarakat. c. Budaya masyarakat.
2.7.3.2. Pengadaan.
Dalam upaya menjamin kualitas pelayanan kefarmasian maka pengadaan sediaan farmasi harus melalui jalur resmi sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku.
2.7.3.3. Penyimpanan.
a. Obat/bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik. Dalam hal pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada wadah lain, maka harus dicegah terjadinya kontaminasi dan harus ditulis informasi yang jelas pada wadah baru, wadah sekurang-kurangnya memuat nama obat, nomor batch dan tanggal kadaluarsa.
b. Semua bahan obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai, layak dan menjamin kestabilan bahan.
2.7.4 Administrasi
Dalam menjalankan pelayanan kefarmasian di apotek, perlu dilaksanakan kegiatan administrasi yang meliputi:
2.7.4.1. Administrasi Umum.
Pencatatan, pengarsipan, pelaporan narkotika, psikotropika dan dokumentasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
2.7.4.2. Administrasi Pelayanan.
Pengarsipan resep, pengarsipan catatan pengobatan pasien, pengarsipan hasil monitoring penggunaan obat.
2.8 Pelayanan Apotek (KMK No.1027/MENKES/SK/IX/2004) 2.8.1 Pelayanan Resep
2.8.1.1 Skrining Resep
Apoteker melakukan skrining resep meliputi : a) Persyaratan Administratif :
1. Nama, SIP dan alamat dokter 2. Tanggal penulisan resep
3. Tanda tangan/paraf dokter penulis resep
Universitas Indonesia
5. Cara pemakaian yang jelas 6. Informasi lainnya
b) Kesesuaian farmaseutik : bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama pemberian
c) Pertimbangan klinis : adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat dan lain lain). Jika ada keraguan terhadap resep hendaknya dikonsultasikan kepada dokter penulis resep dengan memberikan pertimbangan dan alternatif seperlunya bila perlu menggunakan persetujuan setelah pemberitahuan.
2.8.1.2 Penyiapan obat.
a) Peracikan.
Merupakan kegiatan menyiapkan menimbang, mencampur, mengemas dan memberikan etiket pada wadah. Dalam melaksanakan peracikan obat harus dibuat suatu prosedur tetap dengan memperhatikan dosis, jenis dan jumlah obat serta penulisan etiket yang benar.
b) Etiket.
Etiket harus jelas dan dapat dibaca. c) Kemasan Obat yang Diserahkan
Obat hendaknya dikemas dengan rapi dalam kemasan yang cocok sehingga terjaga kualitasnya.
d) Penyerahan Obat.
Sebelum obat diserahkan pada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dengan resep. Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai pemberian informasi obat dan konseling kepada pasien.
e) Informasi Obat.
Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi obat pada pasien sekurang-kurangnya meliputi: cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi.
Dalam memberikan informasi obat, hendaknya seorang apoteker mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Mandiri, artinya bebas dari segala bentuk keterikatan dengan pihak lain yang dapat mengakibatkan informasi yang diberikan menjadi tidak objektif;
b. Objektif, artinya memberikan informasi dengan sejelas-jelasnya mengenai suatu produk obat tanpa dipengaruhi oleh berbagai kepentingan;
c. Seimbang, artinya informasi diberikan setelah melihat dari berbagai sudut pandang yang mungkin berlawanan;
d. Ilmiah, artinya informasi berdasarkan sumber data atv-au referensi yang dapat dipercaya; dan
e. Berorientasi pada pasien, maksudnya informasi tidak hanya mencakup informasi produk seperti ketersediaan, kesetaraan generik, tetapi juga harus mencakup informasi yang mempertimbangkan kondisi pasien. f) Konseling.
Apoteker harus memberikan konseling, mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan obat yang salah. Untuk penderita penyakit tertentu seperti kardiovaskular, diabetes, TBC,asma dan penyakit kronis lainnya, apoteker harus memberikan konseling secara berkelanjutan.
g) Monitoring Penggunaan Obat.
Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan pemantauan penggunaan obat, terutama untuk pasien tertentu seperti kardiovasku-lar, diabetes, TBC, asma, dan penyakit kronis lainnya.
2.8.2 Promosi dan Edukasi.
Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, apoteker harus memberikan edukasi apabila masyarakat ingin mengobati diri sendiri (swamedikasi) untuk penyakit ringan dengan memilihkan obat yang sesuai dan apoteker harus
Universitas Indonesia
berpartisipasi secara aktif dalam promosi dan edukasi. Apoteker ikut membantu diseminasi informasi, antara lain dengan penyebaran leaflet/brosur, poster, penyuluhan, dan lain lainnya.
2.8.3 Pelayanan Residensial (Home Care).
Apoteker sebagai caregiverdiharapkan juga dapat melakukan pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Untuk aktivitas ini apoteker harus membuat catatan berupa catatan pengobatan (medicationrecord).
2.8.4 Pelayanan Swamedikasi
Pengobatan sendiri (swamedikasi) adalah tindakan mengobati diri sendiri dengan obat tanpa resep (golongan obat bebas dan bebas terbatas) yang dilakukan secara tepat guna dan bertanggung jawab. Hal ini mengandung makna bahwa walaupun digunakan untuk diri sendiri, pengobatan sendiri harus dilakukan secara rasional. Ini berarti bahwa tindakan pemilihan dan penggunaan produk bersangkutan sepenuhnya merupakan tanggung jawab bagi para penggunanya. Penggunaan obat bebas, obat bebas terbatas dan obat wajib apotek (OWA) dalam pengobatan sendiri (swamedikasi) harus mengikuti prinsip penggunaan obat secara aman dan rasional. Pelaksanaan swamedikasi yang bertanggung jawab membutuhkan produk obat yang sudah terbukti keamanan, khasiat, dan kualitasnya, serta membutuhkan pemilihan obat yang tepat sesuai dengan indikasi penyakit dan kondisi pasien.
Apoteker mempunyai peran yang sangat penting dalam memberikan bantuan, nasihat dan petunjuk kepada masyarakat yang ingin melakukan swamedikasi, agar dapat masyarakat dapat melakukan swamedikasi secara bertanggung jawab. Apoteker harus dapat menekankan kepada pasien, bahwa walaupun dapat diperoleh tanpa resep dokter, namun penggunaan obat bebas, obat bebas terbatas, dan OWA tetap dapat menimbulkan bahaya dan efek samping yang tidak dikehendaki jika dipergunakan secara tidak semestinya.
Dalam pelaksanaan swamedikasi, apoteker memiliki dua peran yang sangat penting, yaitu menyediakan produk obat yang sudah terbukti keamanan,
khasiat dan kualitasnya serta memberikan informasi yang dibutuhkan atau memberikan informasi kepada pasien dan keluarganya agar obat digunakan secara aman, tepat dan rasional. Pemberian informasi dilakukan terutama dalam mempertimbangkan:
a. Ketepatan penentuan indikasi atau penyakit.
b. Ketepatan pemilihan obat yang efektif, aman, dan ekonomis. c. Ketepatan dosis dan cara penggunaan obat.
Satu hal yang sangat penting dalam informasi swamedikasi adalah meyakinkan agar produk yang digunakan tidak berinteraksi negatif dengan produk-produk yang sedang digunakan pasien. Selain itu, apoteker juga diharapkan dapat memberikan petunjuk kepada pasien bagaimana memonitor penyakitnya dan kapan harus menghentikan pengobatannya atau kapan harus berkonsultasi kepada dokter. Informasi yang perlu disampaikan oleh apoteker pada masyarakat dalam pelaksanaan swamedikasi antara lain:
a. Khasiat obat
Apoteker perlu menerangkan dengan jelas khasiat obat yang bersangkutan, sesuai atau tidak dengan indikasi atau gangguan kesehatan yang dialami pasien.
b. Kontraindikasi
Pasien perlu diberi tahu dengan jelas kontraindikasi dari obat yang diberikan,agar tidak menggunakannya jika memiliki kontraindikasi dimaksud. c. Efek samping dan cara mengatasinya (jika ada)
Pasien juga perlu diberi informasi tentang efek samping yang mungkin muncul dan apa yang harus dilakukan untuk menghindari atau mengatasinya.
d. Cara pemakaian
Cara pemakaian harus disampaikan secara jelas kepada pasien untuk menghindari salah pemakaian, apakah ditelan, dihirup, dioleskan, dimasukkan melalui anus, atau cara lain.
e. Dosis
Dosis harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan pasien. Apoteker dapat menyarankan dosis sesuai dengan yang disarankan oleh produsen
Universitas Indonesia
(sebagaimana petunjuk pemakaian yang tertera di etiket) atau dapat menyarankan dosis lain sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
f. Waktu pemakaian
Waktu pemakaian juga harus diinformasikan dengan jelas kepada pasien, misalnya sebelum atau sesudah makan atau saat akan tidur.
g. Lama penggunaan
Lama penggunaan obat juga harus diinformasikan kepada pasien, agar pasien tidak menggunakan obat secara berkepanjangan karena penyakitnya belum hilang atau sudah memerlukan pertolongan dokter.
h. Hal yang harus diperhatikan sewaktu minum obat tersebut, misalnya pantangan makanan atau tidak boleh minum obat tertentu dalam waktu bersamaan.
i. Hal apa yang harus dilakukan jika lupa meminum obat. j. Cara penyimpanan obat yang baik.
k. Cara memperlakukan obat yang masih tersisa.
l. Cara membedakan obat yang masih baik dan sudah rusak.
Selain itu, apoteker juga perlu memberi informasi kepada pasien tentang obat generik yang memiliki khasiat sebagaimana yang dibutuhkan, serta keuntungan yang dapat diperoleh dengan menggunakan obat generik. Hal ini penting dalam pemilihan obat yang selayaknya harus selalu memperhatikan aspek farmakoekonomi dan hak pasien. Selain konseling dalam farmakoterapi, apoteker juga memiliki tanggung jawab lain yang lebih luas dalam swamedikasi. Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh IPF (International Pharmaceutical
Federation) dan WMI (World Self-Medication Industry) tentang swamedikasi
yang bertanggung jawab (ResponsibleSelf-Medication) dinyatakan sebagai berikut:
a. Apoteker memiliki tanggung jawab profesional untuk memberikan nasihat dan informasi yang benar, cukup dan objektif tentang swamedikasi dan semua produk yang tersedia untuk swamedikasi.
b. Apoteker memiliki tanggung jawab profesional untuk merekomendasikan kepada pasien agar segera mencari nasihat medis yang diperlukan, apabila dipertimbangkan swamedikasi tidak mencukupi.
c. Apoteker memiliki tanggung jawab profesional untuk memberikan laporan kepada lembaga pemerintah yang berwenang, dan untuk menginformasikan kepada produsen obat yang bersangkutan, mengenai efek yang tidak dikehendaki (adverse reaction) yang terjadi pada pasien yang menggunakan obat tersebut dalam swamedikasi.
d. Apoteker memiliki tanggung jawab profesional untuk mendorong anggota masyarakat agar memperlakukan obat sebagai produk khusus yang harus dipergunakan dan disimpan secara hati-hati, dan tidak boleh dipergunakan tanpa indikasi yang jelas.
2.8.5 Pelayanan Obat Wajib Apotek (OWA)
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 919/MENKES/PER/X/1993 tentang Kriteria Obat yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak di bawah usia 2 tahun dan orangtua di atas 65 tahun;
b. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan risiko pada kelanjutan penyakit;
c. Penggunaannya tidak memerlukan cara dan atau alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan;
d. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia; dan
e. Obat dimaksud memiliki risiko khasiat keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri.
Obat Wajib Apotek (OWA) yaitu obat keras yang dapat diserahkan oleh apoteker kepada pasien di apotek tanpa resep dokter (Menteri Kesehatan RI, 1990). Apoteker di apotek dalam melayani pasien yang memerlukan obat, wajib: a. Memenuhi ketentuan dan batasan tiap jenis obat per pasien sesuai dengan yang
disebutkan dalam daftar obat wajib apotek;
b. Membuat catatan pasien serta obat yang telah diserahkan; dan
c. Memberikan informasi meliputi dosis dan aturan pakainya, kontraindikasi, efek samping, dan hal-hal lain yang perlu diperhatikan oleh pasien.
Universitas Indonesia
Obat yang termasuk dalam OWA ditetapkan oleh Menteri Kesehatan (Menteri Kesehatan RI, 1990; Menteri Kesehatan RI, 1993d; Menteri Kesehatan RI, 1993e). Obat-obat yang termasuk ke dalam daftar obat wajib apotek no. 1 antara lain (Menteri Kesehatan RI, 1990):
a. Obat kontrasepsi oral, baik tunggal maupun kombinasi.
b. Obat saluran cerna, yang terdiri dari : Antasida + sedativ/spasmodic, Anti spasmodic, Spasmodik+analgesic, antimual, Laksan,
c. Obat mulut dan tenggorokan d. Obat saluran napas
e. Obat yang mempengaruhi sistem neuromuskular, yang terdiri dari : Analgetik, Antihistamin
f. Antiparasit yang terdiri dari obat cacing.
g. Obat topikal untuk kulit yang terdiri dari : Semua salep/krim antibiotik, Semua salep/krim kortikosteroid, Semua salep/krim/gel antiinflamasinonsteroid (AINS), Antijamur, Antiseptik local, Enzim antiradangtopical, Pemutih kulit. Sedangkan untuk obat-obat yang termasuk ke dalam daftar obat wajib apotek no.2 dapat dilihat pada Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 924/Menkes/PER/X/1993 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No. 2 dan untuk obat-obat yang termasuk ke dalam daftar obat wajib apotek no. 3 dapat dilihat pada Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1176/Menkes/PER/X/1993 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No. 3.
2.9 Pengelolaan Narkotika dan Psikotropika di Apotek 2.9.1 Pengelolaan Narkotika
Narkotika merupakan bahan yang bermanfaat di bidang pengobatan dan pengembangan ilmu pengetahuan, namun menimbulkan ketergantungan yang sangat merugikan apabila dipergunakan tanpa pengendalian dan pengawasan yang ketat dan seksama. Pengendalian dan pengawasan narkotika, di Indonesia merupakan wewenang Badan POM. Untuk mempermudah pengendalian dan pengawasan narkotika maka pemerintah Indonesia hanya memberikan izin kepada PT Kimia Farma (Persero) Tbk. untuk mengimpor bahan baku, memproduksi sediaan dan mendistribusikan narkotika di seluruh Indonesia. Hal tersebut dilakukan mengingat narkotika adalah bahan berbahaya yang penggunaannya
dapat disalahgunakan. Secara garis besar pengelolaan narkotika meliputi pemesanan, penyimpanan, pelayanan, pelaporan dan pemusnahan (Said, 2012).
a. Pemesanan Narkotika
Untuk memudahkan pengawasan maka apotek hanya dapat memesan narkotika ke PBF PT. Kimia Farma dengan menggunakan Surat Pesanan (SP) khusus narkotika, yang ditandatangani oleh APA, dilengkapi dengan nama jelas, stempel apotek, nomor SIPA dan SIA. Surat pesanan terdiri dari empat rangkap. Surat pesanan narkotika dilengkapi dengan nama dan tanda tangan APA, nomor Surat Izin Apotek (SIA), tanggal dan nomor surat, alamat lengkap dan stempel apotek. Satu surat pesanan hanya untuk satu jenis narkotika.
b. Penyimpanan Narkotika
Apotek harus mempunyai tempat khusus untuk menyimpan narkotika dan harus dikunci dengan baik. Tempat penyimpanan narkotika di apotek harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut (Menteri Kesehatan RI, 1978):
a. Harus dibuat seluruhnya dari kayu atau bahan lain yang kuat; b. Harus mempunyai kunci yang kuat;
c. Dibagi dua masing-masing dengan kunci yang berlainan: bagian pertama dipergunakan untuk menyimpan morfin, petidin dan garam-garamnya serta persediaan narkotika, sedangkan bagian kedua dipergunakan untuk menyimpan narkotika yang dipakai sehari-hari;
d. Apabila tempat khusus tersebut berupa lemari berukuran kurang dari 40 x 80 x 100 cm maka lemari tersebut harus dibuat melekat pada tembok atau lantai; e. Lemari khusus tidak boleh digunakan untuk menyimpan barang lain selain
narkotika, kecuali ditentukan oleh Menteri Kesehatan;
f. Anak kunci lemari khusus harus dipegang oleh pegawai yang dikuasakan; dan g. Lemari khusus harus ditempatkan di tempat yang aman dan tidak terlihat oleh
umum.
c. Pelayanan Resep yang Mengandung Narkotika
Prosedur tetap pelayanan resep yang mengandung narkotika, yaitu sebagai berikut (Departemen Kesehatan RI, 2008):
1) Skrining resep
Universitas Indonesia
b) Melakukan pemeriksaan kesesuaian farmaseutik yaitu: bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama pemberian; c) Mengkaji pertimbangan klinis yaitu : adanya alergi, efek samping,
interaksi, kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat dan lain-lain);
d) Narkotik hanya dapat diserahkan atas dasar resep asli rumah sakit, puskesmas, apotek lainnya, balai pengobatan, dokter. Salinan resep narkotika dalam tulisan “iter” tidak boleh dilayani sama sekali;
e) Salinan resep narkotik yang baru dilayani sebagian atau yang belum dilayani sama sekali hanya boleh dilayani oleh apotek yang menyimpan resep asli; dan
f) Konsultasikan ke dokter tentang masalah resep apabila diperlukan. 2) Penyiapan Resep
a) Menyiapkan obat sesuai dengan permintaan pada resep;
b) Untuk obat racikan apoteker menyiapkan obat jadi yang mengandung narkotika atau menimbang bahan baku narkotika;
c) Menutup dan mengembalikan wadah obat pada tempatnya;
d) Menulis nama dan cara pemakaian obat pada etiket sesuai dengan permintaan dalam resep; dan
e) Obat diberi wadah yang sesuai dan diperiksa kembali jenis dan jumlah obat sesuai permintaan dalam resep.
3) Penyerahan Obat
a) Melakukan pemeriksaan akhir kesesuaian antara penulisan etiket dengan resep sebelum dilakukan penyerahan;
b) Memanggil nama dan nomor tunggu pasien;
c) Mengecek identitas dan alamat pasien yang berhak menerima; d) Menyerahkan obat yang disertai pemberian informasi obat;
e) Menanyakan dan menuliskan alamat / nomor telepon pasien dibalik resep; dan
Hal yang harus diperhatikan dalam pelayanan resep yang mengandung narkotika antara lain:
1) Narkotika hanya digunakan untuk kepentingan pengobatan atau ilmu pengetahuan;
2) Narkotika hanya dapat diserahkan kepada pasien untuk pengobatan penyakit berdasarkan resep dokter;
3) Apotek dilarang mengulangi menyerahkan narkotika atas dasar salinan resep dokter;
4) Apotek dilarang melayani salinan resep yang mengandung narkotika, walaupun resep tersebut baru dilayani sebagian atau belum dilayani sama sekali;
5) Untuk resep narkotika yang baru dilayani sebagian atau belum sama sekali, apotek boleh membuat salinan resep tetapi salinan resep tersebut hanya boleh dilayani oleh apotek yang menyimpan resep asli; dan
6) Salinan resep dari resep narkotika dengan tulisan iter tidak boleh dilayani sama sekali. Dengan demikian dokter tidak boleh menambah tulisan iter pada resep-resep yang mengandung narkotika.
d. Pelaporan Narkotika
Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika menyatakan bahwa apotek wajib membuat, menyampaikan, dan menyimpan laporan berkala mengenai pemasukan dan/atau pengeluaran narkotika yang berada dalam penguasaannya. Pelaporan penggunaan narkotika telah dikembangkan dalam bentuk perangkat lunak atau program Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika (SIPNAP) sejak tahun 2006 oleh Kementerian Kesehatan. Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika (SIPNAP) adalah sistem yang mengatur pelaporan penggunaan Narkotika dan Psikotropika dari Unit Layanan (Puskesmas, Rumah Sakit dan Apotek) ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kotadengan menggunakan pelaporan elektronik selanjutnya Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan ke tingkat yang lebih tinggi (Dinkes Provinsi dan DitjenBinfar dan Alkes) melalui mekanisme pelaporan onlineyang menggunakan fasilitas internet. Namun, penerapan undang-undang ini belum dilaksanakan secara menyeluruh di Indonesia.
Universitas Indonesia e. Pemusnahan Narkotika
APA dapat memusnahkan narkotika yang rusak, kadaluwarsa atau tidak memenuhi syarat lagi untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan. Apoteker Pengelola Apotek dan dokter yang memusnahkan narkotika harus membuat Berita Acara Pemusnahan Narkotika yang sekurang-kurangnya memuat (Menteri Kesehatan RI, 1978):
1) Nama, jenis, sifat, dan jumlah narkotika yang dimusnahkan;
2) Keterangan tempat, jam, hari, tanggal, bulan dan tahun dilakukan pemusnahan;
3) Tanda tangan dan identitas lengkap pelaksana dan pejabat yang menyaksikan pemusnahan; dan
4) Cara pemusnahan dibuat Berita Acara Pemusnahan Narkotika dikirim kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Balai POM.
Pelanggaran terhadap ketentuan mengenai penyimpanan dan pelaporan narkotika dapat dikenai sanksi administratif oleh Menteri Kesehatan yang berupa: teguran, peringatan, denda administratif, penghentian sementara kegiatan atau pencabutan izin.
2.9.2 Pengelolaan Psikotropika
Ruang lingkup pengaturan psikotropika adalah segala hal yang berhubungan dengan psikotropika yang dapat mengakibatkan ketergantungan. Tujuan pengaturan psikotropika yaitu:
a. Menjamin ketersediaan psikotropika guna kepentingan pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan.
b. Mencegah terjadinya penyalahgunaan psikotropika. c. Memberantas peredaran gelap psikotropika.
Secara garis besar pengelolaan psikotropika meliputi: a. Pemesanan Psikotropika
Kegiatan ini memerlukan surat pesanan (SP), dimana satu SP bisa digunakan untuk beberapa jenis obat. Penyerahan psikotropika oleh apotek hanya dapat dilakukan kepada apotek lainnya, rumah sakit, puskesmas, balai
pengobatan, dokter, dan pasien dengan resep dokter. Tata cara pemesanan adalah dengan menggunakan SP yang ditandatangani oleh APA dilengkapi dengan nama jelas, stempel apotek, nomor SIPA dan SIA. Surat pesanan dibuat rangkap 3, dua lembar untuk PBF dan 1 lembar untuk arsip apotek. Satu SP untuk beberapa jenis obat psikotropika.
b. Penyimpanan Psikotropika
Kegiatan ini belum diatur oleh perundang-undangan, namun karena kecenderungan penyalahgunaan psikotropika, maka disarankan untuk obat golongan psikotropika diletakkan tersendiri dalam suatu rak atau lemari khusus. c. Pelaporan Psikotropika
Apotek wajib membuat dan menyimpan catatan mengenai kegiatan yang berhubungan dengan psikotropika dan melaporkan pemakaiannya setiap bulan. Laporan ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dengan tembusan kepada Kepala Balai Besar POM setempat, Dinas Kesehatan Provinsi setempat, dan 1 salinan untuk arsip.
d. Pemusnahan Psikotropika
Kegiatan ini dilakukan bila berhubungan dengan tindak pidana, diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku dan atau tidak dapat digunakan dalam proses produksi, kadaluwarsa atau tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Pemusnahan psikotropika wajib dibuat Berita Acara dan dikirim kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Balai POM.
2.10 Pelanggaran Apotek
Kegiatan yang termasuk dalam pelanggaran berat apotek, yaitu sebagai berikut:
a. Melakukan kegiatan tanpa ada tenaga teknis farmasi;
b. Terlibat dalam penyaluran atau penyimpanan obat palsu atau gelap; c. Pindah alamat apotek tanpa izin;
d. Menjual narkotika tanpa resep dokter;
e. Kerja sama dengan PBF dalam menyalurkan obat kepada pihak yang tidak berhak dalam jumlah besar; dan
Universitas Indonesia
f. Tidak menunjuk Apoteker Pendamping atau Apoteker Pengganti pada waktu APA keluar daerah selama tiga bulan berturut-turut.
Kegiatan yang termasuk dalam pelanggaran ringan apotek, yaitu sebagai berikut: a. Tidak menunjuk Apoteker Pendamping pada waktu APA tidak dapat hadir
pada jam buka apotek;
b. Mengubah denah apotek tanpa izin;
c. Menjual obat daftar G kepada yang tidak berhak; d. Melayani resep yang tidak jelas dokternya;
e. Menyimpan obat rusak, tidak mempunyai penandaan atau belum dimusnahkan;
f. Obat dalam kartu stok tidak sesuai dengan jumlah yang ada; g. Salinan resep yang tidak ditandatangani oleh apoteker; h. Melayani salinan resep narkotika dari apotek lain; i. Lemari narkotika tidak memenuhi syarat;
j. Resep narkotika tidak dipisahkan;
k. Buku harian narkotika tidak diisi atau tidak bisa dilihat atau diperiksa; dan l. Tidak mempunyai atau tidak mengisi kartu stok hingga tidak dapat
diketahui dengan jelas asal-usul obat tersebut.
Sanksi pidana berupa denda maupun hukuman penjara diberikan bila terdapat pelanggaran terhadap:
a. Undang-Undang Obat Keras (St. 1937 No. 541); b. Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009; c. Undang-Undang Narkotika No. 35 tahun 2009; dan d. Undang-Undang Psikotropika No. 5 tahun 1997.
2.11 Pencabutan Surat Izin Apotek
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 1332/MENKES/SK/X/2002 pasal 25 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat wajib melaporkan pemberian izin, pembekuan izin, pencairan izin, dan pencabutan izin apotek dalam jangka waktu setahun sekali kepada Menteri Kesehatan dan tembusan disampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat mencabut surat izin apotek apabila:
a. Apoteker tidak lagi memenuhi kewajibannya untuk menyediakan, menyimpan dan menyerahkan sediaan farmasi yang bermutu baik dan keabsahannya terjamin. Sediaan farmasi yang sudah dikatakan tidak bermutu baik atau karena sesuatu hal tidak dapat dan dilarang untuk digunakan, seharusnya dimusnahkan dengan cara dibakar atau ditanam atau dengan cara lain yang ditetapkan oleh Menteri;
b. Apoteker Pengelola Apotek (APA) berhalangan melakukan tugasnya lebih dari 2 (dua) tahun secara terus menerus;
c. Terjadi pelanggaran terhadap Undang-Undang No. 9 tahun 1976 tentang Narkotika yang telah direvisi menjadi Undang-undang No. 35 tahun 2009, Undang-Undang Obat Keras No. St. 1973 No. 541, Undang-Undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan yang telah direvisi menjadi Undang-undang No. 36 tahun 2009.
d. Surat Izin Praktik Apoteker Pengelola Apotek dicabut;
e. Pemilik Sarana Apotek terbukti terlibat dalam pelanggaran perundang-undangan di bidang obat; dan
f. Apotek tidak dapat lagi memenuhi persyaratan mengenai kesiapan tempat pendirian apotek serta kelengkapan sediaan farmasi dan perbekalan lainnya baik merupakan milik sendiri atau pihak lain.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebelum melakukan pencabutan harus berkoordinasi dengan Kepala Balai POM setempat. Pelaksanaan pencabutan Surat Izin Apotek dilakukan setelah dikeluarkan:
a. Peringatan secara tertulis kepada Apoteker Pengelola Apotek sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut dengan tenggang waktu masing-masing 2 (dua) bulan dengan menggunakan contoh Formulir APT-12; dan
b. Pembekuan izin Apotek untuk jangka waktu selama-lamanya 6 (enam) bulan sejak dikeluarkannya penetapan pembekuan kegiatan Apotek dengan menggunakan contoh Formulir APT-13.
Pembekuan Izin Apotek sebagaimana dimaksud dalam poin (b) di atas, dapat dicairkan kembali apabila apotek telah membuktikan memenuhi seluruh persyaratan sesuai dengan ketentuan dalam peraturan ini dengan menggunakan contoh formulir APT-14. Pencairan Izin Apotek dimaksud di atas dilakukan