KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) yang telah dilakukan di Apotek SamMarie Basra dapat disimpulkan bahwa:
a. Apoteker Pengelola Apotek (APA) memiliki peran dan fungsi sebagai penanggung jawab seluruh kegiatan kefarmasian di apotek baik kegiatan teknis maupun non teknis, yang meliputi pengelolaan sumber daya manusia, pengelolaan sarana dan prasarana di apotek, pengelolaan sediaan farmasi (perencanaan, pengadaan, penyimpanan, dan penyaluran), administrasi, pelayanan resep (skrining resep, penyiapan obat, penyerahan obat, pemberian informasi obat), dan pelayanan swamedikasi.
b. Pada pelaksanaan PKPA di Apotek SamMarie Basra, mahasiswa calon apoteker diberi kesempatan untuk melakukan praktik kefarmasian meliputi penerimaan resep, penyiapan obat (peracikan, penulisan etiket, pengemasan obat, penyerahan obat), melakukan penyimpanan obat dan pengecekan suhu ruang penyimpanan serta pengisian kartu stok berdasarkan faktur.
5.2 Saran
a. Apotek SamMarie Basra perlu meningkatkan penerapan pelayanan kefarmasian dalam hal komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kepada para pelanggannya sebagai wujud peran apoteker dalam menjalankan praktik kefarmasian.
b. Apotek SamMarie Basra perlu melakukan skrining resep untuk mencegah terjadinya medicationerror, skrining resep ini meliputi persyaratan administrasi, kesesuaian farmasetika, serta pertimbangan klinis.
c. Perlu seorang Apoteker Pendamping yang selalu ada di apotek agar pelayanan kefarmasian dapat berjalan setiap saat.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2008). Petunjuk Teknis Pelaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek (SK Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004). Jakarta: Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (1978). Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 28/Menkes/Per/1978 tentang Penyimpanan Narkotika. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (1983). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2380/A/SK/VI/83 tentang Tanda Khusus untuk Obat Bebas dan Obat Bebas Terbatas. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (1986). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nmor. 2396/A/SK/VIII/86 tentang Tanda Khusus Obat Keras Daftar G. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (1990). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 347/Menkes/SK/VII/1990 tentang Obat Wajib Apotek. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (1993a). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 918/Menkes/Per/X/1993 tentang Pedagang Besar Farmasi. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (1993b). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 919/MENKES/PER/X/1993 tentang Kriteria Obat yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (1993c). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (1993d). Peraturan Menteri Kesehatan No. 924/Menkes/Per/X/1993 tentang Daftar Obat Wajib Apotik No.2. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (1993e). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1176/Menkes/SK/X/1993 tentang Daftar Obat Wajib ApotikNo. 3. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Menteri Kesehatan Repbulik Indonesia. (2002). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1332/ Menkes/SK/X/2002 Tahun 2002 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
Universitas Indonesia
922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2004). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 889/Menkes/PerV/2011 tentang Registrasi, Izin Praktik, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Presiden Republik Indonesia. (1980). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1980 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1965 tentang Apotik. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Presiden Republik Indonesia. (1997a). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Presiden Republik Indonesia. (1997b). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Presiden Republik Indonesia. (2009a). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Presiden Republik Indonesia. (2009b). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Presiden Republik Indonesia. (2009c). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Said, M. U. (2012). Manajemen Apotek Praktis. (Cetakan ke-4 Ed. rev). Jakarta: PD Wira Putra Kencana.
Universitas Indonesia Lampiran 2. Desain Depan Apotek SamMarie Basra
Lampiran 3. Desain Ruang Racik dan Penyimpanan Obat
(a) Meja Racik (b) Lemari Penyimpanan ObarEthical
Universitas Indonesia Lampiran 4. Denah Apotek SamMarie Basra
Lampiran 5 Struktur Organisasi Apotek Pemiliki Sarana Apotek (PSA) Asisten Apoteker Asisten Apoteker Asisten Apoteker Asisten
Apoteker Juru Resep Apoteker
Penanggung Jawab Apotek
Universitas Indonesia Lampiran 6. Alur Pemesanan
Petugas melakukan pengecekan buku defecta dan
melihat stok obat kembali
Petugas mencatat pesanan yang diinginkan
Pemesanan melalui telepon ke PBF
Barang dari PBF datang pada hari yang sama
Cek keseuaian barang (nama, jumlah, jenis) dengan faktur
Cek kondisi fisik barang
Jika sesuai faktur ditandatangai dan diberi cap
oleh petugas apotek
Catat barang ke dalam kartu stok dan input data barang
Universitas Indonesia Lampiran 8. Surat Pesanan
Universitas Indonesia Lampiran 10. Surat Pesanan Narkotika
Universitas Indonesia Lampiran 12. Lemari Khusus Penyimpanan Narkotika & Psikotropika
Keterangan: bagian pertama dipergunakan untuk persediaan narkotika, sedangkan bagian kedua dipergunakan untuk menyimpan narkotika yang dipakai sehari-hari
Universitas Indonesia Lampiran 14. Laporan Penggunaan Psikotropika
Universitas Indonesia Lampiran 17. Formulir Salinan Resep
TUGAS KHUSUS PRAKTI
APOTEK SAMMARIE BASRA JALAN BASUKI RACHMAT
NO.31 JAKARTA TIMUR PERIODE 11 AGUSTUS
ANALISA RESEP PADA PASIEN RAWAT JALAN DI
APOTEK SAM MARIE BASRA PERIODE MEI 2014
FRISCA SARASWATI, S.Farm.
PROGRAM PROFESI APOTEKER
lxv Universitas Indonesia
UNIVERSITAS INDONESIA
TUGAS KHUSUS PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI
APOTEK SAMMARIE BASRA JALAN BASUKI RACHMAT
NO.31 JAKARTA TIMUR PERIODE 11 AGUSTUS
SEPTEMBER 2014
ANALISA RESEP PADA PASIEN RAWAT JALAN DI
APOTEK SAM MARIE BASRA PERIODE MEI 2014
FRISCA SARASWATI, S.Farm.
1306502466
ANGKATAN LXXIX
PROGRAM PROFESI APOTEKER
FAKULTAS FARMASI
DEPOK
JANUARI 2015
Universitas Indonesia
K KERJA PROFESI APOTEKER DI
APOTEK SAMMARIE BASRA JALAN BASUKI RACHMAT
NO.31 JAKARTA TIMUR PERIODE 11 AGUSTUS - 6
ANALISA RESEP PADA PASIEN RAWAT JALAN DI
APOTEK SAM MARIE BASRA PERIODE MEI 2014
TUGAS KHUSUS PRAKTI
APOTEK SAMMARIE BASRA JALAN BASUKI RACHMAT
NO.31 JAKARTA TIMUR PERIODE 11 AGUSTUS
ANALISA RESEP PADA PASIEN RAWAT
APOTEK SAM MARIE BASRA PERIODE MEI 2014
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker
FRISCA SARASWATI, S.Farm.
PROGRAM PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS INDONESIA
TUGAS KHUSUS PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER DI
APOTEK SAMMARIE BASRA JALAN BASUKI RACHMAT
NO.31 JAKARTA TIMUR PERIODE 11 AGUSTUS
SEPTEMBER 2014
ANALISA RESEP PADA PASIEN RAWAT JALAN DI
APOTEK SAM MARIE BASRA PERIODE MEI 2014
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker
FRISCA SARASWATI, S.Farm.
1306502466
ANGKATAN LXXIX
PROGRAM PROFESI APOTEKER
FAKULTAS FARMASI
DEPOK
JANUARI 2015
K KERJA PROFESI APOTEKER DI
APOTEK SAMMARIE BASRA JALAN BASUKI RACHMAT
NO.31 JAKARTA TIMUR PERIODE 11 AGUSTUS - 6
JALAN DI
APOTEK SAM MARIE BASRA PERIODE MEI 2014
ii Universitas Indonesia DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR TABEL ... iii DAFTAR LAMPIRAN ... iv BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan ... 2
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 3
2.1 Resep ... 3 2.1.1 Definisi Resep ... 3 2.1.2 Pelayanan Resep ... 3 2.1.3 Format Penulisan Resep ... 5 2.1.4 Penyimpanan Resep ... 5 2.2 Skrining Resep ... 6
BAB 3. METODE PENELITIAN ... 7
3.1 Waktu dan Tempat ... 7 3.2 Populasi dan Sampel ... 7 3.3 Rancangan Penelitian ... 8
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 9
4.1 Persyaratan Administrasi ... 9 4.2 Kesesuaian Farmasetika ... 11 4.3 Pertimbangan Klinis ... 12
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 16
5.1 Kesimpulan ... 16 5.2 Saran ... 16
DAFTAR PUSTAKA ... 17 LAMPIRAN ... 19
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1. Analisa kelengkapan persyaratan administrasi pada Resep Pasien Rawat Jalan di Apotek Sam Marie Basra periode Mei 2014 ... 9 Tabel 4.2. Obat tidak tercampur (inkompatibilitas) ... 11 Tabel 4.3. Racikan sediaan salut ... 12 Tabel 4.4. Kesesuaian dosis ... 12 Tabel 4.5 Interaksi Obat ... 14
iv Universitas Indonesia DAFTAR LAMPIRAN
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembinaan upaya kesehatan ditujukan untuk menjamin mutu pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan bagi masyarakat harus berkualitas, terjamin keamanannya bagi penerima dan pemberi upaya, dapat diterima masyarakat, efektif, dan sesuai, serta mampu menghadapi tantangan globalisasi. Salah satu bentuk pelayanan kesehatan adalah pelayanan kefarmasian. Pelayanan kefarmasian ditujukan untuk dapat menjamin penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan secara rasional, aman, dan bermutu di semua sarana pelayanan kesehatan dengan mengikuti norma, standar, prosedur, dan kriteria yang ditetapkan (Depkes RI, 2009)
Pelayanan kefarmasian merupakan salah satu kunci pokok suksesnya sistem kesehatan. Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien (PP 51, 2009). Pelayanan kefarmasian saat ini telah berpindah orientasinya, yang semula berorientasi pada produk obat bergeser orientasi ke pasien yang mengacu kepada Pharmaceutical care (Depkes RI, 2004).
Salah satu sarana pelayanan kefarmasian di masyarakat adalah apotek. Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker. Dalam menjalani pekerjaan kefarmasian, apoteker dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis Farmasi, dan Tenaga Menengah Farmasi/Asisten Apoteker (Pemerintah RI, 2009). Apoteker bertanggungjawab penuh terhadap setiap aktivitas yang diselenggarakan di apotek. Peran apoteker kini juga semakin berkembang dengan adanya kewajiban dalam menjalankan apotek sesuai dengan standar pelayanan kefarmasian yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup pasien, sebagaimana yang telah ditegaskan dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2014 tentang pelayanan kefarmasian di apotek.
Universitas Indonesia
Pelayanan kefarmasian di apotek mencakup pelayanan resep, promosi dan edukasi, serta pelayanan residensial (Home Care) (Depkes, 2004). Pelayanan resep di apotek mencakup skrining resep dan penyiapan obat, skrining resep meliputi persyaratan administrasi, kesesuaian farmasetika, dan pertimbangan klinis. Skrining resep ini berguna untuk mencegah terjadinya medication error.
Medication error adalah kejadian yang merugikan pasien akibat pemakaian obat,
tindakan, dan perawatan selama dalam penanganan tenaga kesehatan yang sebetulnya dapat dicegah (Depkes, 2004). Menurut Cohen (1999) salah satu faktor yang meningkatkan resiko kesalahan dalam pengobatan adalah dari resep. Resep adalah permintaan tertulis dari seorang dokter, dokter gigi, dokter hewan yang diberi izin berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku kepada apoteker pengelola apotek untuk menyiapkan dan atau membuat, meracik serta menyerahkan obat kepada pasien (Syamsuni, 2006). Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.26/MenKes/Per/I/I/1981 menyebutkan bahwa resep harus ditulis dengan lengkap dan jelas, adapun tujuannya adalah untuk menghindari terjadinya salah persepsi diantara dokter dan apoteker dalam mengartikan sebuah resep, sehingga dapat meminimalkan terjadinya medication error. Penelitian mengenai skrining resep ini belum pernah dilakukan di Apotek SamMarie Basra, mengingat jumlah resep yang dilayani di apotek banyak setiap harinya, maka untuk menghindari terjadinya medication error, skrining resep dinilai perlu untuk dilakukan, sehingga penulis tertarik untuk membuat tugas khusus yang berjudul "Analisa Resep pada Pasien Rawat Jalan di Apotek Sam Marie Basra periode Mei 2014".
1.2 Tujuan
Tujuan dari tugas khusus ini adalah untuk menganalisa penulisan resep dari persyaratan administrasi, kesesuaian farmasetik dan pertimbangan klinik di Apotek SamMarie Basra periode Mei 2014 berdasarkan persyaratan yang berlaku.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Resep
2.1.1 Definisi Resep
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No 919/MENKES/PER/X/1993 yang dimaksud dengan resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan kepada apoteker pengelola apotek untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Berdasarkan surat Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.: 1332/MENKES/SK/2002, resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, atau dokter hewan kepada apoteker untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
Resep adalah permintaan tertulis dari seorang dokter, dokter gigi, dokter hewan yang diberi izin berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku kepada apoteker pengelola apotek untuk menyiapkan dan atau membuat, meracik serta menyerahkan obat kepada pasien (Syamsuni, 2006).
2.1.2 Pelayanan Resep
Dalam perundang-undangan, pelayanan resep di atur dalam :
a. Permenkes Nomor 278/279/280/MenKes/SK/V/1981, Apotek wajib melayani resep dokter, dokter gigi dan dokter hewan, salinan resep harus ditanda-tangani atau diparaf oleh Apoteker, resep harus dirahasiakan dan disimpan di Apotek dalam jangka waktu 3 tahun.
b. Permenkes Nomor 922/MenKes/Per/X/1993 yang berbunyi Apotek wajib melayani resep dokter, dokter gigi dan dokter hewan, APA/Apoteker pendamping atau Apoteker pengganti diizinkan menjual obat keras yang dinyatakan sebagai sebagai Daftar Obat Wajib Apotek (DOWA) tanpa resep, salinan resep harus ditanda-tangani atau diparaf oleh Apoteker
Universitas Indonesia
c. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, Pelayanan resep meliputi :
1) Skrining Resep, dan 2) Penyiapan Obat
a) Peracikan.
Merupakan kegiatan menyiapkan, menimbang, mencampur, mengemas dan memberikan etiket pada wadah. Dalam melaksanakan peracikan obat, harus dibuat suatu prosedur tetap dengan memperhatikan dosis, jenis dan jumlah obat serta penulisan etiket yang benar.
b) Etiket.
Etiket harus jelas dan dapat dibaca. c) Kemasan obat yang diserahkan.
Obat hendaknya dikemas dengan rapi dalam kemasan yang cocok sehingga terjaga kualitasnya.
d) Penyerahan Obat.
Sebelum obat diserahkan pada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dengan resep. Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai pemberian informasi obat dan konseling kepada pasien dan tenaga kesehatan.
e) Informasi Obat.
Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi obat pada pasien sekurang-kurangnya meliputi: cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi.
f) Konseling.
Apoteker harus memberikan konseling, mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan salah sediaan farmasi atau perbekalan kesehatan lainnya. Untuk penderita penyakit tertentu
seperti kardiovaskular, diabetes, TBC, asma, dan penyakit kronis lainnya, apoteker harus memberikan konseling secara berkelanjutan. g) Monitoring Penggunaan Obat.
Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan pemantauan penggunaan obat, terutama untuk pasien tertentu seperti kardiovaskular, diabetes , TBC, asma, dan penyakit kronis lainnya.
2.1.3 Format Penulisan Resep
Menurut Jas (2009), resep terdiri dari 6 bagian :
a. Inscriptio: Nama dokter, no. SIP, alamat/ telepon/HP/kota/tempat, tanggal
penulisan resep. Untuk obat narkotika hanya berlaku untuk satu kota provinsi. Sebagai identitas dokter penulis resep. Format inscriptio suatu resep dari rumah sakit sedikit berbeda dengan resep pada praktik pribadi.
b. Invocatio : permintaan tertulis dokter dalam singkatan latin “R/ = recipe”
artinya ambilah atau berikanlah, sebagai kata pembuka komunikasi dengan apoteker di apotek.
c. Prescriptio/ Ordonatio : nama obat dan jumlah serta bentuk sediaan yang
diinginkan.
d. Signatura : yaitu tanda cara pakai, resimen dosis pemberian, rute dan interval
waktu pemberian harus jelas untuk keamanan penggunaan obat dan keberhasilan terapi.
e. Subscrioptio : yaitu tanda tangan/ paraf dokter penulis resep berguna sebagai
legalitas dan keabsahan resep tersebut.
f. Pro (diperuntukkan) : dicantumkan nama dan umur pasien. Teristimewa
untuk obat narkotika juga harus dicantumkan alamat pasien (untuk pelaporan ke Dinas Kesehatan setempat).
2.1.4 Penyimpanan Resep
Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 704/Ph/63/b Tanggal 14/2/63 mengatakan bahwa penyimpanan resep disimpan selama 3 tahun berdasarkan nomor urut dan tanggal pembuatan. Pemusnahan resep hanya boleh dengan jalan pembakaran Pemusnahan dengan membuat BAP.
Universitas Indonesia 2.2 Skrining Resep
Apoteker melakukan skrining resep meliputi (Depkes, 2004): a. Persyaratan administratif :
1) Nama,SIP dan alamat dokter. 2) Tanggal penulisan resep.
3) Tanda tangan/paraf dokter penulis resep.
4) Nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien. 5) Nama obat , potensi, dosis, jumlah yang minta.
6) Cara pemakaian yang jelas. 7) Informasi lainnya.
b. Kesesuaian farmasetik, meliputi : 1) Bentuk sediaan,
2) Dosis, 3) Potensi, 4) Stabilitas,
5) Inkompatibilitas,
6) Cara dan lama pemberian. c. Pertimbangan klinis, meliputi :
1) adanya alergi, 2) efek samping, 3) interaksi,
4) kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat dan lain-lain).
Jika ada keraguan terhadap resep hendaknya dikonsultasikan kepada dokter penulis resep dengan memberikan pertimbangan dan alternatif seperlunya bila perlu menggunakan persetujuan setelah pemberitahuan.
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Pengambilan data dilaksanakan selama menjalani Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Apotek SamMarie Basra tanggal 11 Agustus hingga 6 September 2014.
3.2 Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh resep yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Sedangkan sampel penelitian merupakan dokumen resep apotek SamMarie Basra pada bulan Mei 2014 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
a. Kriteria Inklusi
1) Resep di apotek SamMarie Basra 2) Resep yang ditulis pada bulan Mei 2014
3) Resep dengan jumlah item obat lebih dari atau sama dengan 4 b. Kriteria Eksklusi
1) Merupakan copy resep / salinan resep
2) Resep yang hanya mencantumkan alat kesehatan habis pakai 3) Resep untuk perawatan kecantikan
4) Resep yang mengandung obat dengan sediaan bukan oral
Sampel dihitung menggunakan rumus estimasi promosi, yaitu :
= − 1 + = 614 1,96 0,5.0,5 0,05 614 − 1 + 1,96 0,5.0,5 = 598,6856 1,5325 + 0,9604
Universitas Indonesia
Keterangan:
n : Jumlah sampel N : Populasi penelitian
P : Perkiraan proporsi (prevalensi), jika tidak diketahui biasanya 50% Q : 1−P
Z : Nilai Z pada α 5%=1,96
d2 : Simpangan yang ditetapkan, jika 5%=0,05 dan jika 10%=0,1
3.3 Rancangan Penelitian
Penelitian ini bersifat non eksperimental secara retrospektif dimana hasil penelitian akan disajikan secara deskriptif analitik.
=589,6856 2,4929
=237
3 = 79
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Persyaratan Administrasi
Tabel 4.1. Analisa Kelengkapan Persyaratan Administrasi pada Resep Pasien
Rawat Jalan di Apotek Sam Marie Periode Mei 2014
No Pengelompokan
Kelengkapan Resep Ada
Persentase (%) Tidak ada Persentase (%) 1 Nama Dokter 78 99 1 1 2 SIP Dokter 58 73 21 27 3 Alamat Dokter 79 100 0 0 4 Tanggal penulisan resep 77 97 2 3 5 Nama Pasien
Satu kata 29 37 0 0
Lebih dari 1 kata 50 63 0 0 6 Umur pasien 68 86 11 14 7 Jenis Kelamin Pasien 63 80 16 20 8 Berat Badan Pasien 22 28 57 72 9 Alamat Pasien 0 0 79 100 10 Nomor Telp. Pasien 2 3 77 97 11 Nama obat 79 100 0 0 12 Bentuk Sediaan 32 41 47 59 13 Dosis Obat 28 35 51 65 14 Jumlah Obat yang diminta 79 100 0 0 15 Aturan pakai/signa 79 100 0 0 16 Tanda tangan/paraf Dokter 46 58 33 42
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.26/MenKes/Per/I/I/1981 menyebutkan bahwa resep harus ditulis dengan lengkap dan jelas, adapun tujuannya adalah untuk menghindari adanya salah persepsi diantara dokter dan
Universitas Indonesia
apoteker dalam mengartikan sebuah resep. Resep yang lengkap harus memuat aspek sebagai berikut : nama, alamat dan nomor Surat Izin Praktik (SIP) dokter, tanggal penulisan resep (inscriptio), tanda R/ (invocatio), nama setiap obat dan komposisinya (praescriptio/ ordonatio), aturan pakai obat (signatura), tanda tangan atau paraf dokter (subscriptio), jenis hewan dan nama serta alamat pemiliknya untuk resep dokter hewan, tanda seru atau paraf dokter untuk resep yang melebihi dosis maksimal dan identitas pasien (nama, alamat untuk resep narkotika dan psikotropika, serta umur pasien). Resep merupakan perwujudan hubungan profesi antara dokter, apoteker, dan pasien. Kegagalan komunikasi antara dokter dengan apoteker merupakan salah satu faktor penyebab timbulnya kesalahan dalam pengobatan (medication error). Medication error meliputi
prescribing error, dispensing error, dan administration error. Prescribing error
meliputi kesalahan administratif dan prosedural yaitu resep yang tidak lengkap, resep tidak terbaca, aturan pakai tidak jelas, penggunaan singkatan yang tidak lazim; kesalahan dosis yaitu dosis yang tidak tepat; dan kesalahan terapeutik yaitu duplikasi terapi. Dispensing error meliputi contenterror yaitu kesalahan membaca resep, obat tidak tepat, jumlah obat tidak tepat, dan kesalahan bentuk sediaan obat; labeling error yaitu kesalahan penulisan aturan pakai. Administration error meliputi kesalahan waktu pemberian obat, kesalahan teknik pemberian obat, dan obat tertukar pada pasien yang namanya sama (right drug for wrong patient).
Tabel 4.1 di atas menjelaskan mengenai persyaratan administrasi yang harus dimiliki oleh resep, yakni mencakup mengenai nama dokter, SIP dokter, alamat dokter, tanggal penulisan resep, nama pasien, umur pasien, jenis kelamin pasien, berat badan pasien, alamat pasien, nomor telepon pasien, nama obat, bentuk sediaan, dosis obat, jumlah obat yang diminta, aturan pakai, dan tanda tangan/paraf dokter. Masing-masing point memiliki tujuan yang berbeda-beda. Penulisan nama dokter, dan alamat dokter dalam resep diperlukan untuk memudahkan dalam menghubungi penulis resep dimana dalam hal ini adalah dokter, bila dalam resep ada yang tidak jelas, baik dari penulisan, konfirmasi dosis, dan lain-lain. Penulisan nomor Surat Izin Praktek (SIP) dokter dalam resep diperlukan untuk menjamin keamanan pasien, bahwa dokter yang bersangkutan mempunyai hak dan dilindungi undang-undang dalam memberikan pengobatan
bagi pasiennya. Pencantuman tanggal resep diperlukan untuk memudahkan dalam penelusuran resep bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam penulisan nama pasien pada resep sebaiknya lebih dari satu kata, hal ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kesalahan dalam pemberian obat, karena tidak menutup kemungkinan terdapat nama pasien yang sama. Umur dan berat badan pasien berguna dalam perencanaan dosis obat, terutama untuk pasien-pasien yang memerlukan penyesuaian dosis, misalnya pada pasien pediatri, lansia, pasien dengan kelainan tertentu seperti gangguan ginjal, dan lain-lain. Berat badan juga merupakan salah satu aspek yang diperlukan dalam perhitungan dosis, terutama bagi pasien anak. Dalam menentukan dosis anak, para ahli telah membuat rumus