BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.2 Saran
1. Setiap personel berusaha meningkatkan kinerjanya pada setiap pelaksanaan tugas dan fungsi masing-masing, dan sesuai dengan tingkat pendidikan/kompetensinya.
2. Peningkatan kompetensi personel dapat dilakukan dengan memperhatikan tiga hal pokok yaitu pendidikan, pelatihan dan pengalaman.
3. Melakukan sosialisasi kembali sistem pelaporan terbaru secara online yaitu dengan SIPNAP agar penanggung jawab di Puskesmas masing-masing Kecamatan di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur memahami alur pelaporan dan juga penanganan jika terjadi kendala dalam memasukkan data.
DAFTAR ACUAN
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2012). Peraturan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.03.1.23.04.12.2205 Tahun 2012 tentang Pedoman Pemberian Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga. Jakarta: Badan
Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. (2009). Peraturan Gubernur
Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta No. 150 Tahun 2009 tentang Tugas Pokok dan Fungsi Suku Dinas Kesehatan. Jakarta: Pemerintah
Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2002). Keputusan Menteri
Kesehatan Nomor1332 Tahun 2002 tentang Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2003). Keputusan Menteri
Kesehatan Nomor 1202 Tahun 2003 tentang Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Penetapan Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat. Jakarta.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2004). Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 128 Tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2007). Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 284 Tahun 2007 tentang Apotek Rakyat. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2011a). Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 889 Tahun 2011 tentang Registrasi, Izin Praktik, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian. Jakarta: Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2011b). Peraturan Menteri
Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran. Jakarta: Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2012). Data Dasar Puskesmas
Kondisi Desember Tahun 2011. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia.
Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. (2002). Keputusan Gubernur
Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 58 Tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kesehatan Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Jakarta: Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota
Jakarta.
Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. (2008). Peraturan Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 10 Tahun 2008.(2008).
Organisasi Perangkat Daerah.
Pemerintah Republik Indonesia. (2000). Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun
2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.
Pemerintah Republik Indonesia. (2004). Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun
2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan. Jakarta: Pemerintah
Republik Indonesia.
Republik Indonesia. (1999). Undang-UndangNomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.
Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang
Pelayanan Publik. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.
Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia
Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur.(2012). Quality Manual Suku Dinas
PELAYANAN KEFARMASIAN
DI PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT
KECAMATAN DUREN SAWIT
JL. H. DOGOL NO. 15 A JAKARTA TIMUR
TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
DEWI SANTY LOPA, S. Farm.
1206329493
ANGKATAN LXXVII
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
HALAMAN JUDUL ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR TABEL ... iii DAFTAR LAMPIRAN ... iv
BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Tujuan ... 2
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 3
2.1. Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) ... 3 2.2. Profil Puskesmas Kecamatan Duren Sawit ... 5 2.3 Tugas Pokok dan Fungsi Farmasi di Puskesmas ... 10 2.4 Pengelolaan Obat di Puskesmas ... 11 2.5 Pelayanan Informasi Obat di Puskesmas ... 21 2.6 Penggunaan Obat Rasional di Puskesmas ... 25
BAB 3. METODE PENGKAJIAN ... 34
3.1 Waktu dan Lokasi ... 34 3.2 Metode Pengumpulan Data ... 34 3.3 Cara Kerja ... 34
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN... 35
4.1 Tugas Pokok dan Fungsi Farmasi di PKDS Jaktim ... 35 4.2 Pengelolaan Obat di PKDS Jaktim ... 35 4.3 Pelayanan Informasi Obat di PKDS Jaktim ... .... 40 4.4 Penggunaan Obat Rasional di PKDS Jaktim ... 41
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN... 44
6.1 Kesimpulan ... 44 6.2 Saran ... 45
Tabel 2.1. Luas Wilayah Kecamatan Duren Sawit ... .. 6 Tabel 2.2. Jumlah Penduduk Kecamatan Duren Sawit ... .. 7 Tabel 2.3. Fasilitas Kesehatan yang terdapat di Kecamatan Duren Sawit ... .. 7 Tabel 2.4. Jenis Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Kecamatan Duren
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Puskesmas merupakan salah satu saranan kesehatan yang berfungsi untuk melakukan upaya kesehatan dasar. Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan disuatu wilayah kerja. Secara nasional, standar wilayah puskesmas adalah suatu kecamatan (Departemen Kesehatan RI, 2006). Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, puskesmas termasuk fasilitas pelayanan kefarmasian yang digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan pelayanan kefarmasian.
Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah tercapainya kecamatan sehat. Kecamatan sehat mencakup 4 indikator utama, yaitu lingkungan sehat, perilaku sehat, cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu dan derajat kesehatan penduduk. Misi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan Puskesmas adalah mendukung tercapainya pembangunan kesehatan nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat mandiri dalam hidup sehat. Untuk mencapai visi dan misi tersebut, Puskesmas menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat. Dalam menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat, puskesmas perlu ditunjang dengan pelayanan kefarmasian yang bermutu.
Pelayanan kefarmasian pada saat ini telah berubah paradigmanya dari orientasi pada obat menjadi orientasi pada pasien. Sebagai konsekuensi dari perubahan orientasi tersebut, apoteker atau asisten apoteker sebagai tenaga farmasi dituntut untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku agar dapat berinteraksi langsung dengan pasien. Pelayanan kefarmasian meliputi pengelolaan sumber daya (sumber daya manusia, sarana dan prasarana, sediaan farmasi, dan perbekalan kesehatan serta administrasi) dan pelayanan farmasi klinik (penerimaan resep, peracikan obat, penyerahan obat, informasi obat,
dana, prasarana, sarana, dan metode tatalaksana yang sesuai dalam mencapai tujuan yang ditetapkan (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2006). Beberapa aspek yang perlu diperhatikan untuk tercapainya pelayanan kefarmasian yang bermutu yaitu pengelolaan sumber daya, dalam hal ini pengelolaan obat (perencanaan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, dan pelaporan obat), pelayanan informasi obat serta penggunaan obat yang rasional. Oleh karena itu, sangat diperlukan pemahaman dan peninjauan lebih jauh mengenai aspek-aspek tersebut.
Untuk mengetahui peran dan fungsi apoteker dalam hal sistem pengelolaan obat, pelayanan informasi obat serta penggunaan obat yang rasional di puskesmas maka calon apoteker membutuhkan suatu program yang dapat memfasilitasi agar kebutuhan tersebut tercapai. Sehingga, Fakultas Farmasi Universitas Indonesia bekerja sama dengan Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Timur dan Puskesmas Tingkat Kecamatan dalam mengadakan kegiatan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA). Kegiatan PKPA dilaksanakan pada tanggal 17-28 Juni 2013 di Puskesmas Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur yang selanjutnya disebut sebagai PKDS Jaktim dengan tujuan untuk memberikan gambaran mengenai peran profesi apoteker di Puskesmas.
1.2 Tujuan
Pelaksanaan PKPA di Pusat Kesehatan Masyarakat Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur bertujuan agar mahasiswa calon Apoteker :
1. Mengetahui tugas pokok dan fungsi bagian farmasi di PKDS Jaktim. 2. Mengetahui alur pengelolaan obat di PKDS Jaktim.
3. Mengetahui. berapa banyak obat generik yang diadakan di PKDS Jaktim. 4. Mengetahui jumlah kunjungan pasien dan resep di PKDS Jaktim pada
periode Januari – Maret 2013.
5. Mengetahui 10 penyakit terbanyak di PKDS Jaktim.
6. Mengetahui 10 pemakaian obat terbanyak di PKDS Jaktim.
7. Mengetahui Pelayanan Informasi Obat (PIO) dan konseling di PKDS Jaktim. 8. Mengetahui Penggunaan Obat Rasional (POR) periode Januari – Maret 2013
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas)
Puskesmas atau Pusat Kesehatan Masyarakat merupakan organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dapat diterima, dan terjangkau oleh masyarakat, didukung dengan peran aktif masyarakat dan dengan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna serta biaya yang dapat dipikul oleh pemerintah dan masyarakat. Upaya kesehatan tersebut diselenggarakan dengan menitik beratkan kepada pelayanan untuk masyarakat luas guna mencapai derajat kesehatan yang optimal, tanpa mengabaikan mutu pelayanan kepada perorangan. Secara umum, puskesmas harus memberikan pelayanan preventif, promotif, kuratif sampai dengan rehabilitative baik melalui upaya kesehatan perorangan (UKP) atau upaya kesehatan masyarakat (UKM) (Dinas Kesehatan Kabupaten Siak, 2012).
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di satu atau sebagai wilayah. Dengan kata lain, puskesmas merupakan unit pelaksana teknis kesehatan di bawah supervisi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (Kepmenkes no. 128 tahun 2004). Berdasarkan peraturan gubernur provinsi daerah khusus ibukota jakarta nomor 4 tahun 2011, puskesmas dibedakan menjadi puskesmas kecamatan dan puskesmas kelurahan. Pusat kesehatan masyarakat kecamatan yang selanjutnya disebut puskesmas kecamatan adalah pusat kesehatan masyarakat di kecamatan. Sedangkan pusat kesehatan masyarakat keluarahan yang selanjutnya disebut puskesmas kelurahan adalah pusat kesehatan masyarakat di kelurahan. Puskesmas kecamatan merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan (UPTD) dibawah di bawah Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes). Puskesmas kelurahan merupakan satuan pelaksana dari puskesmas Kecamatan di wilayah kelurahan.
Puskesmas Kecamatan memiliki tugas melaksanakan pelayanan kesehatan perorangan dan melakukan koordinasi kesehatan masyarakat ditingkat kecamatan. Untuk melaksanakan tugas tersebut Puskesmas Kecamatan mempunyai fungsi (peraturan gubernur provinsi daerah khusus ibukota jakarta nomor 4 tahun 2011) :
a. Penyusunan rencana kerja dan anggaran (RKA) dan dokumen pelaksanaan anggaran (DPA) puskesmas kecamatan.
b. Pelaksanaan dokumen pelaksanaan anggaran (DPA) puskesmas kecamatan.
c. Pelaksanaan standar dan prosedur pelayanan kesehatan. d. Penyusunan rencana strategi puskesmas kecamatan.
e. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan gigi, mulut, pelayanan medis, umum, dan spesialis terbatas.
f. Penyelenggaraan asuhan keperawatan dan persalinan serta rawat inap terbatas.
g. Penyelenggaraan pelayanan penunjang medis terbatas.
h. Penyelenggaraan pelayanan keluarga berencana dan imunisasi. i. Penyelenggaraan pelayanan 24 jam dan ambulan rujukan. j. Penyelenggaraan konsultasi kesehatan perorangan dan rujukan. k. Penyelenggaraan pencatatan medis.
l. Penyelenggaraan pemeliharaan dan perawatan peralatan kedokteran, peralatan keperawatan, peralatan perkantoran, dan peralatan kesehatan lainnya.
m. Mengupayakan peningkatan mutu dan penjaminan mutu pelayanan.
n. Melaporkan dan mempertanggung jawabkan pelaksanaan tugas dan fungsi puskesmas kecamatan.
Fungsi puskesmas menurut Kepmenkes no. 128 tahun 2004 yaitu sebagai pusat pembangunan berwawasan kesehatan. Pusat pemberdayaan keluarga dan masyarakat, dan pusat pelayanan kesehatan strata pertama. Fungsi puskesmas sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan yaitu berupaya menggerakkan lintas sektor dan dunia usaha di wilayah kerjanya agar menyelenggarakan pembangunan yang berwawasan keseahtan, Aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap program
pembangunan di wilayah kerjanya, dan mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan dan pemulihan. Sementara itu, puskesmas sebagai pusat pemberdayaan masyarakat berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga dan masyarakat memiliki kesadaran, kemauan, dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat, berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan termask pembiayaan, dan ikut menetapkan, menyelenggarakan, dan memantau pelaksanaan program kesehatan. Puskesmas sebagai pusat pelayanan kesehatan strata pertama menyelenggakan kegiatan palayanan kesehatan secara terpadu, menyeluruh, dan berkesinambungan meliput pelayanan kesehatan perorang (private goods) dan pelayanan kesehatan masyarakat (public goods) (Kepmenkes no. 128 tahun 2004). Jumlah Puskesmas yang tercatat sampai saat ini untuk wilayah Jakarta Timur terdapat 10 Puskesmas Kecamatan dan 76 Puskesmas Kelurahan.
2.2 Profil puskesmas Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur (PKDS Jaktim)
Puskesmas Kecamatan Duren Sawit merupakan Puskesmas Pembina tingkat kecamatan yang berada di wilayah Jakarta Timur. Upaya pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas kecamatan Duren Sawit adalah tercapainya kecamatan sehat menuju terwujudnya Indonesia sehat. Untuk mencapai hal tersebut, puskesmas kecamatan duren sawit berupaya untuk selalu meningkatkan pelayananan kesehatan, salah satunya yaitu menerapkan sisitem ISO 9001 : 2008 (Puskesmas Kecamatan Duren Sawit, 2012).
2.2.1 Geografi a. Luas Wilayah
Luas wilayah Kecamatan Duren Sawit Kota Administrasi Jakarta Timur adalah 2.265.35 Ha, terdiri dari 7 kelurahan (Kantor Lurah), 95 RW (Rukun Warga) dan 1101 RT (Rumah Tangga) dengan perincian dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.1 Luas Wilayah Kecamatan Duren Sawit
No Kelurahan RW RT Luas Wilayah (Ha) 1. Duren Sawit 17 182 455,50 2. Pondok bambu 12 174 489,70 3. Klender 18 200 304,90 4. Malaka Jaya 13 135 98,82 5. Malaka Sari 10 140 138,23 6. Pondok Kopi 11 105 206,00 7. Pondok Kelapa 14 165 572,15 Jumlah 95 1101 2.265,50 b. Batas Wilayah
Bagian Utara : Berbatasan dengan Kecamatan Cakung Kota Administrasi Jakarta Timur.
Bagian Selatan : Berbatasan dengan Kecamatan Makassar, Kalimalang dan Kecamatan Pondok Gede Kota Administrasi Bekasi Bagian Timur : Berbatasan dengan Kota Administrasi Bekasi
Bagian Barat : Berbatasan dengan Kecamatan Jatinegara Kota Administrasi Jakarta Timur
2.2.2 Demografi
Jumlah penduduk di wilayah Kecamatan Duren sawit Kota Administrasi Jakarta Timur Tahun 2013 berjumlah 403.995 jiwa, terdiri dari laki-laki 206.605 jiwa dan perempuan 197.390 jiwa sedangkan jumlah kepala keluarga sebanyak 123.405 KK. Adapun rincian jumlah penduduk di wilayah Kecamatan Duren Sawit dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.2 Jumlah Penduduk Kecamatan Duren Sawit
No Kelurahan Jumlah Penduduk Jumlah Penduduk Laki - Laki Perempuan 1. Duren Sawit 64.821 32.864 31.957 2. Pondok Bambu 70.670 36.830 33.840 3. Klender 81.328 41.933 39.395 4. Malaka Jaya 39.519 19.770 19.749 5. Malaka Sari 35.031 17.560 17.471 6. Pondok Kopi 40.009 20.560 19.539 7. Pondok Kelapa 72.527 37.088 35.439 Jumlah 403.995 206.605 197.390 2.2.3 Fasilitas kesehatan
Fasilitas kesehatan yang terdapat di Kecamatan Duren Sawit berjumlah 319 buah yang terdiri dari 13 jenis fasilitas dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.3 Fasilitas Kesehatan yang terdapat di Kecamatan Duren sawit
No Fasilitas Kesehatan jumlah
1. RS Pemerintah 3 2. RS Bersalin Swasta 11 3. RB Pemerintah 3 4. RB Swasta 2 5. RSU Swasta 2 6. Puskesmas 12 7. Posyandu 131 8. BPU 24 9. Lab Klinik 21
10. Praktek Dokter Umum 25
11. Praktek Dokter Gigi 24
12. Praktek Dokter Spesialis 9
2.2.4 Visi Puskesmas Kecamatan Duren Sawit
Visi : Puskesmas yang mengutamakan kepuasan pelanggan dengan Pelayanan Standar Mutu Internasional menuju terciptanya Duren Sawit sebagai Kota Sehat.
2.2.5 Misi Puskesmas Kecamatan Duren Sawit Misi :
a. Meningkatkan Mutu Pelayanan yang berorientasi pada kepuasan pelanggan.
b. Mengembangkan Profesionalisme SDM
c. Mengembangkan Sarana Kesehatan Puskesmas
d. Mewujudkan Manajemen Puskesmas yang Kompak dan Solid e. Mengkoordinasikan Pemberdayaan Masyarakat di bidang kesehatan.
2.2.6 Kebijakan Mutu Puskesmas Kecamatan Duren Sawit
Puskesmas Kecamatan Duren sawit berusaha memberikan pelayanan prima dan berkualitas yang berorientasi kepada kepuasan pelanggan, serta selalu berusaha memelihara dan menyempurnakannya dengan menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008.
2.2.7 Moto Puskesmas Kecamatan Duren sawit
Pusekesmas Kecamatan Duren Sawit memiliki moto yang dapat disingakat dengan “SEHAT ITU NIKMAT”. Penjabarannya yaitu :
S : Setia Melayani Pelanggan
E : Efektif dan Efisien dalam Bekerja H : Handal Dalam Pelayanan
A : Anggun Dalam Penampilan T : Tepat Dalam Bertindak I : Ikhlas Melaksanakn Tugas
T : Tanggap Menghadapi Permasalahn U : Upaya Perbaikan Berkesinambungan N : Norma dan Etika Diutamakan
I : Inovatif dalam Bekerja
K : Komunikasi yang santun terhadap sesama
M : Musyawarah Mufakat dalam Pengambilan Keputusan A : Aktif dalam kegiatan Kemasyarakatan
T : Tekun Melaksanakan Ibadah 2.2.8 Janji Pelayanan
Puskesmas Kecamatan Duren sawit mempunyai janji pelayanan yaitu “Melayani dengan Ikhlas dan Sepenuh Hati”.
2.2.9 Jenis pelayanan yang ada di Puskesmas Kecamatan Duren Sawit
Pelayanan kesehatan yang ada di Puskesmas Kecamatan Duren Sawit berjumlah 17 jenis pelayanan kesehatan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.4 Jenis Pelayanan di Puskesmas Kecamatan Duren Sawit
No Jenis Pelayanan Kesehatan 1 BP Umum, ASKES, JAMSOSTEK, KJS 2 Poli Gigi
3 Poli Penyakit Dalam 4 Poli Kesehatan Ibu (KI) 5 Poli Keluarga Bencana 6 Poli Gizi
7 Poli DM
8 Poli Keswa dan Napza 9 Poli MTBS dan Imunisasi 10 Poli TB Paru dan Kusta 11 Unit Pelayanan 24 Jam 12 Rumah Bersalin (RB) 13 USG dan EKG 14 Laboratorium 15 Kamar Obat/Apotik 16 Radiologi
2.2.10 Gedung Puskesmas Kecamatan Duren sawit
Gedung Puskesmas Kecamatan Duren Sawit berdiri diatas tanah seluas 2740 m2 dengan luas bangunan 1605 m2 dan terdiri dari 3 lantai.
Lantai 1 dari gedung Puskesmas Kecamatan Kramat jati dimanfaatkan sebagai rumah bersalin, gudang obat dan alat kesehatan, unit pelayanan 24 jam, loket pendaftaran.
Lantai 2 dari gedung Puskesmas Duren Sawit dimanfaatkan sebagai loket pembayaran tindakan, USG/EKG, apotik, poliklinik umum, polklinik gigi, poliklinik DM, poliklinik KIA dan KB.
Lantai 3 dari gedung Puskesmas Kecamatan Duren sawit dimanfaatkan sebagai ruang kepala puskesmas, ruang satker, ruang sub bagian tata usaha, ruang seksi kesmas, ruang seksi yankes, unit pelayanan radiologi, aula dan musholla.
2.2.11 Struktur Organisasi Puskesmas Kecamatan Duren Sawit Struktur organisasi Puskesmas Kecamatan Duren Sawit terdiri dari :
a. Kepala Puskesmas b. Kepala Keuangan
c. Kepala Sub Bagian Tata Usaha d. Koordinator Pelayanan
e. Koordinator Penunjang.
Struktur oraganisasi Puskesmas Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 1.
2.3 Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) Farmasi di Puskesmas
Dalam melaksanakan kegiatannya, bagian farmasi di puskesmas mempunyai tugas pokok dan fungsi secara keseluruhan mencakup (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2010) :
1. Pengelolaan Obat dan Perbekalan Kesehatan yang meliputi : a. Perencanaan dan Permintaan Obat.
b. Penerimaan, Penyimpanan dan Distribusi Obat. c. Pencatatan dan Pelaporan Obat.
2. Pelayanan Kefarmasian yang meliputi : a. Pengkajian dan Pelayanan Resep. b. Pelayanan Informasi Obat. c. Konseling.
d. Pelayanan Kefarmasian di Rumah (Home Pharmacy Care). 3. Penggunaan Obat Rasional yang meliputi :
a. Konsep Penggunaan Obat Rasional.
b. Pemantauan dan Evaluasi Penggunaan Obat Rasional.
2.4 Pengelolaan Obat di Puskesmas
Obat merupakan komponen yang esensial dari suatu pelayanan kesehatan. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan yang baik dan benar serta efektif dan efisien secara berkesinambungan. Pengelolaan obat di puskesmas meliputi kegiatan perencanaan dan permintaan, penerimaan, penyimpanan, dan distribusi, serat pencatatan dan pelaporan. Obat hendaknya dikelola secara optimal untuk menjamin tercapainya tepat jumlah, tepat jenis, tepat penyimpanan, tepat waktu pendistribusian, tepat penggunaan, dan tepat mutunya di tiap unit pelayanan kesehatan (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2010).
2.4.1 Perencanaan Obat di Puskesmas
Perencanaan merupakan suatu proses kegiatan seleksi obat dan perbekalan kesehatan untuk menentukan jenis dan jumlah obat dalam rangka pemenuhan kebutuhan obat di puskesmas. Perencanaan kebutuhan obat untuk puskesmas setiap periode dilaksanakan oleh Pengelola Obat dan Perbekalan Kesehatan di puskesmas. Dalam proses perencanaan kebutuhan obat per tahun, puskesmas diminta menyediakan data pemakaian obat dengan menggunakan LPLPO. Selanjutnya Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota yang melakukan kompilasi dan analisa terhadap kebutuhan obat puskesmas di wilayah kerjanya. Ketepatan dan kebenaran data di puskesmas akan berpengaruh terhadap ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan secara keseluruhan di Kab/Kota.
Tujuan dilakukan perencanaan obat adalah untuk :
a. Mendapatkan perkiraan jenis dan jumlah obat dan perbekalan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan.
c. Meningkatkan penggunaaan obat rasional.
Dalam melakukan proses perencanaan obat, terdapat tiga tahapan yang perlu dipertimbangkan agar proses perencanaan obat berjalan dengan baik. Ketiga tahapan tersebut yaitu :
A. Menentukan Jenis Permintaan Obat
Terdapat dua jenis permintaan obat dalam proses perencanaaan obat di puskesmas, yaitu permintaan rutin dan permintaan khusus. Pada permintaan rutin, kegiatannya dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah disusun oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota untuk masing-masing puskesmas. Permintaan ini tidak mengalami banyak perubahan dikarenakan jumlah dan jenis obat yang akan disediakan berdasarkan laporan penggunaan obat periode sebelumnya. Sedangkan pada permintaan khusus, kegiatannya dilakukan diluar jadwal distribusi rutin dimana hal ini dikarenakan antara lain :
a. Kebutuhan obat meningkat. b. Terjadi kekosongan obat.
c. Ada kejadian luar biasa (KLB/bencana).
B. Menentukan Jumlah Permintaan Obat
Dalam menentukan jumlah permintaan obat, data-data yang diperlukan antara lain :
a. Data pemakaian obat pada periode sebelumnya. b. Jumlah kunjungan resep.
c. Jadwal distribusi obat dari Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota. d. Sisa stok.
C. Menentukan Kebutuhan Obat
Kebutuhan obat di suatu puskesmas dapat dilihat dari dua indikator, yaitu stok optimum dan jumlah. Jika diasumsikan jumlah untuk periode yang akan datang diperkirakan sama dengan pemakaian pada periode sebelumnya maka dapat dilakukan perhitungan stok optimum dengan rumus dibawah ini :
SO = SK + SWK + SWT + SP
Sedangkan untuk menghitung permintaan obat dapat dilakukan dengan rumus : Permintaan = SO – SS
Keterangan :
SO = Stok Optimum
SK = Stok Kerja (stok pada periode berjalan)
SWK = Jumlah yang dibutuhkan pada periode waktu kekosongan obat SWT = Jumlah yang dibutuhkan pada waktu tunggu (Lead Time) SP = Stok penyangga
SS = Sisa stok
2.4.2 Permintaan Obat di Puskesmas
Sumber penyediaan obat di puskesmas berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Obat yang diperkenankan untuk disediakan di puskesmas adalah obat esensial yang jenis dan itemnya telah ditetapkan oleh Menteri Kesehatan dengan merujuk pada Daftar Obat Esensial Nasional. Selain itu, sesuai dengan kesepakatan global maupun Keputusan Menteri Kesehatan No.085 tahun 1989 tentang Kewajiban Menuliskan Resep dan atau Menggunakan Obat Generik di Pelayanan Kesehatan Milik Pemerintah dan Permenkes RI No.HK.02.02/MENKES/068/I/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah, maka hanya obat generik saja yang diperkenankan tersedia dipuskesmas.
Adapun beberapa dasar pertimbangann dari Kepmenkes tersebut adalah : a. Obat generik sudah menjadi kesepakatan global untuk digunakan di seluruh
dunia bagi pelayanan kesehatan publik.
b. Obat generik mempunyai mutu dan efikasi yang memenuhi standar pengobatan.
c. Meningkatkan cakupan dan kesinambungan pelayanan kesehatan publik. d. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi alokasi dana obat di pelayanan
kesehatan publik.
Permintaan obat untuk mendukung pelayanan obat di masing-masing puskesmas diajukan oleh Kepala Puskesmas kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan menggunakan formulir LPLPO, sedangkan permintaan dari sub unit ke Kepala Puskesmas dilakukan secara periodik menggunakan LPLPO sub unit.
2.4.3 Penerimaan Obat di Puskesmas
Penerimaan merupakan suatu kegiatan dalam menerima obat-obatan yang diserahkan dari unit pengelola yang lebih tinggi kepada unit pengelola di bawahnya. Penerimaan juga dapat didefinisikan sebagai kegiatan untuk menerima perbekalan farmasi yang telah diadakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, melalui pembelian langsung, tender, konsinyasi atau sumbangan. Penerimaan obat harus dilaksanakan oleh petugas pengelola obat atau petugas lain yang diberi kuasa oleh Kepala Puskesmas.
Proses penerimaan obat bertujuan agar obat yang diterima sesuai dengan