• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 64-97)

5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

a. PT. Kalbe Farma, Tbk yang telah menerapkan sistem yang baik, terutama dalam manajemen proses produksi, pengawasan mutu, dan pemastian mutunya sebaiknya terus meningkatkan pengkajian dan evaluasi terhadap efektivitas sistem yang dikelola PT. Kalbe Farma, Tbk. Dengan demikian, kinerja setiap bagian dalam perusahaan dapat ditingkatkan lebih baik. b. PT. Kalbe Farma, Tbk. sebaiknya terus meningkatkan pemahaman setiap

karyawannya akan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dalam kaitannya dengan bidang kerjanya dan secara mendasar. Pemahaman ini pun harus terus diperbaharui menyesuaikan dengan pembaharuan dari lembaga regulator, yaitu Badan POM.

DAFTAR ACUAN

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2012). Peraturan Kepala Badan Pengawas

Obat dan Makanan RI No HK. 03.1.33.12.12.8195 Tentang Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik. Jakarta.

Menteri Kesehatan RI. (2010). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

No 1799/MENKES/PER/XII/2010 tentang Industri Farmasi. Jakarta..

Presiden Republik Indonesia. (2009). Undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang

Kesehatan. Jakarta.

PT. Kalbe Farma, Tbk. (2011). Laporan Tahunan PT. Kalbe Farma. Jakarta : PT. Kalbe Farma.

UNIVERSITAS INDONESIA

PEMBUATAN PROTOKOL VALIDASI PEMBERSIHAN

MESIN MIXING “B”

TUGAS KHUSUS PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER

PATRICIA SIMON, S. Farm

1206313476

ANGKATAN LXXVI

FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER

DEPOK JUNI 2013

HALAMAN JUDUL ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR TABEL ... iii DAFTAR LAMPIRAN ... iv 1. PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan ... 2 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 3 2.1 Validasi ... 3 2.2 Validasi Pembersihan ... 3

3. METODOLOGI TUGAS KHUSUS ... 12

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Tugas Khusus ... 12 3.2 Metode Pembuatan Protokol Validasi Pembersihan ... 12

4. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 13

4.1 Hasil ... 13 4.2 Pembahasan ... 13

5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 22

5.1 Kesimpulan ... 22 5.2 Saran ... 22

1

Universitas Indonesia

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Setiap pabrik farmasi harus menerapkan Good Manufacturing Practice (GMP)

untuk menjamin bahwa obat yang diproduksinya tetap memenuhi syarat kualitas,

keamanan dan efikasi. BPOM sebagai badan yang berwenang untuk mengawasi obat

dan makanan di Indonesia telah mengadopsi GMP menjadi sebuah panduan bagi

pabrik farmasi di Indonesia yang bernama Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).

Aspek yang tertulis dalam CPOB meliputi manajemen kualitas, personalia, bangunan

dan fasilitas, mesin, sanitasi & higiene, produksi, pengawasan mutu, inspeksi diri &

audit mutu, penanganan keluhan, dokumentasi, pembuatan analisis berdasarkan

kontrak dan kualifikasi & validasi (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2012)

PT. Kalbe Farma Tbk. adalah industri yang bergerak di bidang farmasi, nutrisi,

biofarma, eyecare, mesin kesehatan, distribusi & logistik dan pelayanan kesehatan

(PT. Kalbe Farma, Tbk, 2011). Sebagai salah satu industri farmasi, PT. Kalbe Farma

Tbk. wajib menerapkan CPOB dalam proses produksinya.

Salah satu aspek CPOB yang dijalankan oleh PT. Kalbe Farma, Tbk. adalah

validasi. Kegiatan validasi yang disyaratkan CPOB yaitu validasi proses, validasi

pembersihan mesin dan validasi metode analisis yang digunakan. Masing-masing

kegiatan validasi mempunyai tujuan akhir berupa pembuktian bahwa proses atau

metode analisis yang divalidasi layak digunakan sehingga akan diperoleh hasil yang

valid.

Validasi pembersihan wajib dilakukan di industri farmasi karena mesin

produksi yang tersedia digunakan untuk lebih dari satu macam produk, sehingga

dengan melakukan validasi pembersihan maka akan mencegah terjadinya

kontaminasi silang. Selain itu validasi pembersihan juga dapat mencegah kontaminan

yang berasal dari debu, mikroba ataupun bahan pembersih yang digunakan untuk

membersihkan mesin (Pharmaceutical Inspection Convention Pharmaceutical

Co-operation Scheme, 2007)

Salah satu mesin yang menjadi objek validasi pembersihan di PT. Kalbe Farma

Tbk. adalah mesin mixing “B” di Line 7 yang memproduksi sediaan topikal non

steril. Sebelum kegiatan validasi pembersihan dilakukan, maka harus disusun sebuah

protokol sebagai panduan atau pedoman dalam melakukan validasi. Selanjutnya

disusun sebuah laporan validasi pembersihan sebagai dokumentasi tertulis terhadap

validasi yang telah dilakukan. Diharapkan protokol validasi pembersihan ini dapat

menjadi sebuah panduan dalam pembersihan sehingga kegiatan pembersihan mesin

akan cukup memadai sehingga produk obat yang dihasilkan akan tetap memenuhi

syarat.

1.2. Tujuan

Tujuan pembuatan tugas khusus ini adalah:

a. Menentukan produk dan zat aktif worst case mesin mixing “B”

b. Membuat protokol validasi pembersihan mesin mixing “B”.

3

Universitas Indonesia

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Validasi

Validasi adalah pembuktian yang terdokumentasi dengan tingkat keyakinan

tinggi bahwa proses secara konsisten memenuhi aspek kualitas yang telah ditetapkan

sebelumnya (LeBlanc, 2000). CPOB mensyaratkan industri farmasi untuk

mengidentifikasi validasi yang perlu dilakukan sebagai bukti pengendalian terhadap

aspek kritis kegiatan yang dilakukan. Perubahan signifikan terhadap fasilitas, mesin

dan proses yang dapat mempengaruhi mutu produk hendaknya divalidasi. Seluruh

kegiatan validasi hendaklah direncanakan. Unsur utama program validasi hendaklah

dirinci dengan jelas dan didokumentasikan dalam Rencana Induk Validasi (RIV).

2.2 Validasi Pembersihan

2.2.1 Proses Pembersihan

Pembersihan adalah penghilangan kontaminan dari permukaan yang hendak

dibersihkan. Kontaminan ini dapat berasal dari bahan lain, produk intermediate,

detergen, mikroorganisme, debu atau lubrikan. Mekanisme pembersihan meliputi

kelarutan, solubilisasi, emulsifikasi, dispersi, pembasahan, hidrolisis, oksidasi,

penghilangan secara fisik dan berdasarkan kerja antimikroba (LeBlanc, 2000).

Proses pembersihan mesin dapat dilakukan dengan metode manual, cleaning

in place (CIP) atau clean out of place (COP). Metode pembersihan mesin harus

menghasilkan konsistensi dan performa hasil yang baik. Pemilihan metode

pembersihan dan pemilihan detergen harus memudahkan pembersihan residu.

(LeBlanc, 2000).

Proses pembersihan ini harus didokumentasikan dalam Standard Operating

Procedure (SOP) (PIC/S, 2007). Pengembangan proses pembersihan tergantung dari

kerumitan mesin, sifat bahan yang berkontak dengan mesin, parameter kritis (interval

waktu antara mesin terakhir digunakan dan proses pembersihan dilakukan, suhu,

tekanan, volume mesin dan waktu proses) (Kim, 2006). Prosedur pembersihan harus

tetap dipantau pada interval tertentu untuk menjamin bahwa prosedur tetap efektif

bila digunakan untuk produksi rutin (ICH Q7A).

Mesin yang sama dapat digunakan untuk memproses beberapa produk

sehingga diperlukan prosedur pembersihan yang cukup agar tidak terjadi

kontaminasi. Untuk produk yang sulit dibersihkan, sebaiknya digunakan mesin

khusus yang memproduksi produk tersebut (dedicated equipment). Mesin harus

dibersihkan secepat mungkin setelah digunakan terutama untuk produk topikal,

suspensi dan pada produk yang bila residunya telah mengering akan mempengaruhi

efisiensi prosedur pembersihan.

Efisiensi prosedur pembersihan untuk penghilangan residu detergen harus

dievaluasi. Komposisi detergen harus diketahui. Bila tidak diketahui komposisi

detergen, maka sebaiknya digunakan detergen alternatif yang komposisinya dapat

diketahui. Menurut WHO, kriteria pemilihan detergen (Startup, 2009):

1. Diloloskan oleh QC dan memenuhi kriteria food standard.

2. Diketahui komposisinya

3. Mudah dibersihkan dengan pembilasan, ditunjukan dengan tercapainya batas

yang disyaratkan

4. Pertimbangan terjadinya degradasi detergen

Pencatatan harus dilakukan bila pembersihan telah dilakukan. Informasi yang

dicatat meliputi luas atau bagian mesin yang dibersihkan, personel yang melakukan

pembersihan, kapan pembersihan dilakukan, SOP proses pembersihan dan produk

yang sebelumnya diproses dengan mesin yang dibersihkan. Pencatatan ini harus

diparaf oleh operator yang melakukan pembersihan dan orang yang bertanggung

jawab untuk produksi harus dikaji oleh QA (PIC/S, 2007).

Operator yang melakukan pembersihan harus dilatih secara rutin dan harus

dilakukan pencatatan pelatihan. Operator yang melakukan prosedur pembersihan

secara manual harus disupervisi secara regular (PIC/S, 2007). Desain mesin harus

diperiksa secara teliti dan harus diidentifikasi bagian mesin yang merupakan area

kritis (area yang paling sulit dibersihkan). Kondisi yang memungkinkan untuk

tumbuhnya mikroorganisme seperti kelembapan, suhu, retakan dan permukaan kasar

harus diperhatikan. Mesin harus disimpan kering dan tidak boleh ada air tertinggal di

mesin. Tujuannya adalah untuk mencegah kontaminasi mikroba.

2.2.2 Validasi Pembersihan

Validasi pembersihan adalah pembuktian terdokumentasi bahwa prosedur

pembersihan yang telah disetujui akan menghasilkan peralatan yang sesuai untuk

memproses produk farmasi. Tujuan validasi pembersihan adalah verifikasi

keefektifan proses pembersihan untuk menghilangkan residu produk, degradasi

produk atau bahan pembersih sehingga monitoring analisis dapat diminimalkan pada

fase rutin (PIC/S, 2007). Menurut CPOB 2012, validasi pembersihan hendaknya

dilakukan dengan melaksanakan prosedur tiga kali berurutan dengan hasil yang

memenuhi syarat untuk membuktikan bahwa metode tersebut telah tervalidasi.

Revalidasi diperlukan bila sering terjadi Out of Specification (OOS) &

deviasi, adanya perubahan mesin, adanya produk baru, adanya perubahan proses

manufaktur dan adanya perubahan bahan baku. Hal ini diperlukan karena bahan baku

yang berasal dari supplier berbeda mungkin mempunyai sifat fisika dan profil

ketidakmurnian berbeda.

Umumnya, hanya prosedur pembersihan untuk permukaan produk yang

berkontak dengan mesin yang perlu divalidasi. Pertimbangan harus diberikan untuk

bagian mesin yang tidak berkontak dengan produk, tetapi dapat bermigrasi ke produk,

misalnya flange, mixing shaft, kipas oven dan elemen pemanas. Untuk produk dengan

bahan bersifat toksik atau hazard, digunakan bahan pengganti yang mensimulasikan

sifat fisikokimia dengan bahan yang akan dihilangkan.

Prosedur pembersihan untuk produk dan proses yang sangat mirip tidak perlu

divalidasi secara terpisah tetapi dipilih produk dan proses yang mewakili untuk

justifikasi program validasi. Pemilihan produk dan proses berdasarkan pertimbangan

2.2.2.1 Dokumentasi

Protokol validasi pembersihan harus mencakup (PIC/S, 2007)

1. tujuan proses validasi

2. tanggung jawab dalam melakukan dan persetujuan studi validasi

3. deskripsi mesin yang digunakan

4. interval antara akhir proses produksi dan mulainya proses pembersihan

5. prosedur pembersihan yang digunakan untuk masing-masing produk,

masing-masing sistem manufaktur atau masing-masing bagian mesin

6. jumlah siklus pembersihan yang dilakukan

7. persyaratan monitoring rutin

8. proses sampling termasuk penjelasan rasional mengenai metode sampling

tertentu digunakan

9. tempat sampling yang jelas

10. recovery studi bila diperlukan

11. metode analisis termasuk LOD dan LOQ

12. batas penerimaan termasuk penjelasan rasional dalam menetapkan batas

spesifik

13. produk lain, proses dan mesin yang direncanakan menggunakan konsep

bracketing

14. jadwal revalidasi

Protokol tersebut harus disetujui secara formal oleh Plant Management untuk

menjamin bahwa protokol telah diketahui dan disetujui oleh management.

Departemen Quality Assurance harus terlibat dalam persetujuan protokol dan laporan.

Setelah validasi dilakukan, maka harus disusun laporan validasi. Kesimpulan

laporan tersebut harus menyatakan bahwa proses pembersihan dapat divalidasi secara

sukses. Keterbatasan metode tersebut harus dilaporkan. Laporan ini harus disetujui

oleh Plant Management.

2.2.2.2 Metode Sampling

Sampling harus dilakukan sesuai protokol validasi pembersihan. Ada dua

metode sampling yang digunakan yaitu swabbing (penyekaan) dan rinsing (bilasan).

a. Swabbing

Sampling dengan metode swabbing harus menggunakan material dan medium

yang sesuai untuk sampling. Selain itu juga harus dijamin bahwa medium

sampling dan pelarut dapat digunakan. Recovery sample secara akurat

mungkin dipengaruhi oleh pemilihan material sampling. Sampling dengan

cara swabbing dilakukan dengan membasahi polyester swab dengan Purified

water (bila perlu yang telah diasamkan dengan asam fosfat). (Wallace, 2003)

b. Rinsing

Sampling dengan metode rinsing memungkinkan sampling pada area yang

lebih luas. Selain itu, metode ini dapat digunakan untuk bagian mesin yang

tidak bisa diakses dengan tangan. Namun perlu dipertimbangkan akan

kelarutan kontaminan dalam medium bilasan.

2.2.2.3 Metode untuk Mendeteksi Hasil Pembersihan (ISPE, 2011)

Ada beberapa metode untuk deteksi residu proses. Metode tersebut seperti

pemeriksaan visual, konduktivitas, TOC dan metode analisis spesifik zat.

a. Pemeriksaan visual

Pemeriksaan visual memungkinkan deteksi kontaminan pada konsentrasi kecil

yang mungkin tidak dapat dideteksi dengan metode analisis lain. Semua

permukaan harus bersih secara visual. Metode visual ini adalah metode paling

sesuai untuk produk dengan resiko rendah atau produk dengan resiko tinggi

yang dapat dideteksi mudah secara visual. Metode visual dapat mendeteksi

konsentrasi residu sampai 4μg / cm

2

(LeBlanc, 2000)

b. Konduktivitas

Metode ini digunakan untuk mendeteksi residu senyawa bermuatan. Metode

ini sangat berguna untuk menentukan residu senyawa detergen dan beberapa

produk. Metode ini sesuai untuk produk dengan resiko rendah tetapi juga

untuk produk dengan resiko tinggi bila telah dijustifikasi secara saintifik.

c. Total Organic Carbon (TOC)

Metode ini bersifat sederhana, cepat dan dapat mendeteksi residu dengan

kadar rendah. TOC adalah metode deteksi pilihan pertama ketika dilakukan

sampling dengan metode swabbing. TOC sesuai untuk proses pembersihan

senyawa dengan resiko rendah hingga tinggi

d. Metode analisis spesifik zat (PIC/S, 2007)

Metode analisis harus divalidasi sebelum validasi pembersihan dilakukan.

Metode analisis yang digunakan untuk deteksi residu atau kontaminan harus

spesifik untuk zat yang akan diukur kadarnya dan memberikan sensitivitas

sesuai dengan tingkat kebersihan yang ditetapkan oleh perusahaan. Kombinasi

antara metode analisis dan metode sampling yang digunakan harus

menunjukkan bahwa kontaminan dapat disampling dari permukaan mesin.

Hasil negatif sampling mungkin terjadi karena metode sampling yang buruk

(PIC/S, 2007). Menurut WHO, parameter validasi yang diperlukan untuk

metode penetapan kadar untuk validasi pembersihan yaitu LOD & LOQ,

presisi, linearitas, selektivitas, recovery dan reprodusibilitas (Startup, 2009).

2.2.2.4 Batas Penerimaan Residu Kimia

Batas residu yang ditetapkan harus dapat dicapai dan dapat diverifikasi

(PIC/S, 2007). Penetapan batas residu tidak bisa secara cukup berfokus hanya kepada

bahan utama saja karena mungkin saja terjadi dekomposisi bahan yang mungkin lebih

sulit untuk dihilangkan. Pendekatan dalam menentukan batas :

a. Spesifik untuk produk

b. Dikelompokkan dalam famili produk dan memilih produk worst case.

c. Mengelompokkan ke dalam kelompok resiko (produk yang sangat mudah

larut, potensi mirip, produk dengan toksisitas tinggi, produk yang sulit untuk

dideteksi).

Batas penerimaan (APIC, 2000) :

1. Berdasarkan dosis terapeutik/ Therapeutic Daily Dose (TDD)

Prinsipnya adalah bahwa zat tidak terkontaminasi pada proporsi tertentu

(biasanya 1/1000 bagian) zat sebelumnya. Metode ini hanya digunakan bila

dosis terapeutik harian diketahui.

MACO = Maximum Acceptable Carry Over (jumlah

maksimum produk sebelumnya yang diizinkan

berada di produk berikutnya)

TDD sebelumnya = Therapeutic Daily Dose sebelumnya (dosis

terapeutik harian produk sebelumnya)

MBS = Maximum Batch Stage (jumlah bets maksimum

untuk produk berikutnya)

SF = Safety factor

MTDD selanjutnya

= Maximum Therapeutic Daily Dose

sebelumnya

(dosis terapeutik harian produk sebelumnya)

Bila menggunakan rumus di atas, maka MACO untuk tiap produk akan

berbeda. Oleh sebab itu, untuk produk dengan SF sama, perhitungan MACO

menggunakan konsep worst case, yaitu menggunakan TDD zat aktif yang

paling rendah (zat paling poten) dan perbandingan antara jumlah bets terkecil

untuk seluruh produk dan TDD maksimum.

2. Berdasarkan data toksikologis

Bila dosis terapeutik tidak diketahui (misalnya untuk bahan intermediate atau

untuk detergen), dapat digunakan data toksisitas untuk menghitung MACO

50 ! 70

$ %

NOEL = No Observed Effect Level (dosis yang tidak

menimbulkan efek farmakologis yang terlihat)

LD 50 = Dosis letal 50 dalam g/kg hewan coba

70 = berat rata-rata dewasa (kg)

2000 = Konstanta

Nilai SF bervariasi tergantung rute administrasi obat:

a. Topikal (10-100)

b. Oral (100-1000)

c. Parenteral (1000-10000)

3. Tidak ada residu yang terlihat di mesin setelah prosedur pembersihan

dilakukan (deteksi visual). (PIC/S, 2007)

4. Untuk beberapa bahan alergenik, penisilin dan sefalosporin atau steroid poten

dan bahan sitotoksik, batas residu harus di bawah LOD dengan metode

analisis terbaik. Secara praktisnya, ini berarti bahwa harus digunakan

dedicated equipment untuk bahan-bahan ini (PIC/S, 2007)

5. Batas general limit 10 ppm atau 100 ppm (tergantung kebijakan

masing-masing institusi). (APIC, 2000)

2.2.2.5 Batas Penerimaan Residu Mikrobiologi

Penetapan batas penerimaan untuk kontaminasi mikroba lebih sulit daripada

penetapan batas residu kimia. Berbeda dengan batas penetapan batas residu kimia,

tidak ada panduan resmi untuk penetapan batas residu mikrobiologi. Batas umum

untuk residu mikrobiologi yaitu sebesar 50 CFU/contact plate berdasarkan pedoman

CPOB 2012 mengenai batas mikroba untuk ruang kelas D.

Persyaratan batas mikroba menurut CPOB 2012 :

Kelas Jumlah mikroba (CFU/plate)

A <1

B 5

C 25

D 50

Batas penerimaan residu mikrobiologi untuk air bilasan mengacu kepada persyaratan

USP, yaitu Purified water mempunyai angka mikroba ≤100 CFU/ml dan mempunyai

hasil negatif terhadap uji E.coli dan Pseudomonas.

12

Universitas Indonesia

METODOLOGI TUGAS KHUSUS

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Tugas Khusus

Tugas khusus dilaksanakan selama Praktek Kerja Profesi Apoteker periode 1

Februari-28 Maret 2013 di Departemen Quality Assurance dan Departemen Produksi

Line 7, PT. Kalbe Farma, Tbk. yang berlokasi di jalan M. H. Thamrin Blok A1-3,

kawasan industri Delta Silicon, Lippo Cikarang, Bekasi.

3.2 Metode Pembuatan Protokol Validasi Pembersihan

Urutan langkah dalam kegiatan validasi pembersihan yaitu

1. Evaluasi prosedur pembersihan mesin

2. Mengembangkan metode pembersihan yang paling efektif untuk mesin

tersebut

3. Mendata semua produk topikal yang diproduksi oleh mesin tersebut dan

mendata zat aktif dari masing-masing produk

4. Melakukan analisis risiko berdasarkan kategori kelarutan zat aktif dalam air,

kategori berdasarkan jumlah bahan aktif, kategori berdasarkan kemudahan

dalam membersihkan.

5. Menetapkan produk dan zat aktif worst case berdasarkan hasil analisis risiko

6. Mengukur dan menghitung luas permukaan mesin yang berkontak dengan

produk.

7. Menyusun protokol validasi pembersihan

8. Melakukan kegiatan validasi pembersihan terhadap 3 batch produk worst case

berturut-turut.

13

Universitas Indonesia

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Pendataan Produk yang Diproduksi oleh Mesin

Mesin mixing “B” di Line 7 adalah mesin yang memproduksi beberapa

sediaan topikal non steril berupa jelly dan krim. Produk sediaan topikal yang

diproduksi oleh mesin ini yaitu :

Tabel 4.1 Produk yang Diproduksi oleh Mesin Mixing “B”

No Nama Produk Komposisi Zat Aktif

1 Jelly A Neomisin sulfat

2 Krim A Betametason dipropionat, Klotrimazol dan

Gentamisin sulfat

3 Krim B Hidrokortison asetat 1%

4 Krim C Hidrokortison asetat 2,5%

5 Krim D Fluosionolon asetonida dan Neomisin sulfat

6 Krim E Mikonazol nitrat

7 Krim F Ketokonazol

8 Krim G Celadrin oil (setil miristat), Kristal mentol dan

Metil salisilat

Hasil analisis risiko terdapat di Lampiran 1. Hasil tersebut menunjukkan bahwa

produk worst case adalah Krim G dan zat aktif worst case adalah Celadrin oil (setil

miristat).

4.2 Pembahasan

PT. Kalbe Farma, Tbk. adalah salah satu industri di Indonesia yang bergerak

di bidang farmasi. Sediaan farmasi yang diproduksi oleh PT. Kalbe Farma, Tbk. yaitu

mulai dari sediaan oral, sediaan topikal non steril sampai sediaan parenteral. Oleh

karena hampir seluruh mesin digunakan untuk produksi lebih dari satu produk, maka

perlu dilakukan validasi pembersihan terhadap mesin untuk membuktikan bahwa

proses pembersihan mesin telah menghasilkan tingkat kebersihan mesin pada tingkat

yang dapat diterima.

Protokol validasi pembersihan harus disusun sebelum validasi pembersihan

dilakukan karena protokol ini berfungsi sebagai rencana tertulis tentang pelaksanaan

validasi yang akan dilaksanakan. Tujuan pembuatan protokol ini yaitu untuk

membuktikan bahwa prosedur pembersihan mesin dengan produk worst case dan zat

marker setelah dianalisis dengan metode analisis yang telah tervalidasi senantiasa

memenuhi kriteria yang telah ditetapkan. Protokol ini disusun oleh Supervisor

Departemen Quality Assurance (QA) dan harus mendapat persetujuan Manager

Departemen QA, Research and Development (R&D) dan Produksi.

Protokol validasi pembersihan harus diterapkan pada 3 batch produk worst

case berturut-turut. Apabila hasil pembersihan dari 3 batch berturut-turut

menghasilkan tingkat pembersihan yang dapat diterima, barulah proses pembersihan

ini dapat diaplikasikan pada proses pembersihan rutin. Setelah protokol validasi ini

disusun, bila ada perubahan parameter kritis (validasi konkuren), maka prosedur

pembersihan mesin perlu divalidasi ulang. Namun bila tidak ada perubahan parameter

kritis, maka tetap perlu dilakukan validasi ulang setiap 3 tahun sekali. Parameter

kritis yang dimaksud mencakup perubahan volume bilasan, waktu proses

pembersihan, perubahan sumber bahan baku dan penambahan atau pengurangan

produk yang diproduksi oleh mesin tersebut.

Line 7 adalah line di PT. Kalbe Farma, Tbk. yang menghasilkan sediaan

semisolid berupa jelly, krim dan suppositoria. Mesin yang terdapat di line 7 ini

mencakup mesin mixing dan mesin filling yang digunakan untuk beberapa produk.

Pada pelaksanaan tugas khusus ini, disusun protokol validasi pembersihan untuk

salah satu mesin mixing di line 7 yang bernama mesin mixing “B”. Pengujian yang

dilakukan untuk memeriksa kebersihan mesing mixing “B” adalah pemeriksaan

visual, pengukuran pH dan konduktivitas, pengukuran residu kimia dan pengukuran

residu mikrobiologi.

Dalam pembuatan protokol validasi pembersihan diperlukan prosedur

pembersihan, analisis risiko, rencana sampling, metode analisis sample, batas

penerimaan, luas permukaan mesin yang kontak dengan produk dan monitoring

ruangan tempat mesin berada. Semua bagian tersebut harus dijelaskan dengan rinci di

protokol validasi pembersihan.

Dalam proses pembersihan, perlu dipantau kualitas air yang digunakan untuk

pembersihan. Mesin untuk produk non steril dibersihkan dengan City water dan

dibilas akhir dengan Purified water. Mesin untuk produk steril dibersihkan dengan

Purified water dan dibilas akhir dengan Water for Injection (WFI). Kualitas untuk

masing-masing air mengacu kepada syarat USP.

Pengembangan prosedur pembersihan dilakukan dengan evaluasi prosedur

pembersihan yang telah ada dengan secermat-cermatnya sehingga dapat menghemat

waktu, usaha dan biaya dalam studi validasi. Secara umum, ada dua metode

pembersihan yang umum digunakan yaitu metode manual dan metode Cleaning in

Place (CIP). Metode CIP lebih baik dari metode manual dalam hal konsistensi hasil

pembersihan, keamanan terhadap kesehatan dan hemat biaya & waktu. Efektivitas

metode CIP ditentukan oleh lama pembersihan yang tepat (waktu kontak antara

permukaan dengan larutan pembersih), suhu larutan pembersih, konsentrasi larutan

pembersih, kecepatan aliran larutan pembersih yang tepat sehingga bisa memberikan

aliran turbulen yang tepat untuk memberikan efek pembersihan yang tepat.

Mesin yang akan dibersihkan dengan metode CIP harus mempunyai design

mesin yang sesuai. Hal ini berarti bahwa sebelum suatu mesin dibuat, maka harus

ditetapkan terlebih dahulu proses pembersihan mesin agar proses pembersihan

didukung oleh design mesin. Design mesin yang akan dibersihkan dengan CIP tidak

boleh ada celah atau retak sehingga produk dapat terperangkap di dalamnya. Bagian

mesin yang kontak dengan produk terbuat dari stainless steel. Bagian mesin yang

tidak kontak produk harus dari material tahan korosi. Design tank harus melengkung,

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 64-97)

Dokumen terkait