5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.2 Saran
a. PT. Kalbe Farma, Tbk yang telah menerapkan sistem yang baik, terutama dalam manajemen proses produksi, pengawasan mutu, dan pemastian mutunya sebaiknya terus meningkatkan pengkajian dan evaluasi terhadap efektivitas sistem yang dikelola PT. Kalbe Farma, Tbk. Dengan demikian, kinerja setiap bagian dalam perusahaan dapat ditingkatkan lebih baik. b. PT. Kalbe Farma, Tbk. sebaiknya terus meningkatkan pemahaman setiap
karyawannya akan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dalam kaitannya dengan bidang kerjanya dan secara mendasar. Pemahaman ini pun harus terus diperbaharui menyesuaikan dengan pembaharuan dari lembaga regulator, yaitu Badan POM.
DAFTAR ACUAN
Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2012). Peraturan Kepala Badan Pengawas
Obat dan Makanan RI No HK. 03.1.33.12.12.8195 Tentang Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik. Jakarta.
Menteri Kesehatan RI. (2010). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No 1799/MENKES/PER/XII/2010 tentang Industri Farmasi. Jakarta..
Presiden Republik Indonesia. (2009). Undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan. Jakarta.
PT. Kalbe Farma, Tbk. (2011). Laporan Tahunan PT. Kalbe Farma. Jakarta : PT. Kalbe Farma.
UNIVERSITAS INDONESIA
PEMBUATAN PROTOKOL VALIDASI PEMBERSIHAN
MESIN MIXING “B”
TUGAS KHUSUS PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER
PATRICIA SIMON, S. Farm
1206313476
ANGKATAN LXXVI
FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK JUNI 2013
HALAMAN JUDUL ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR TABEL ... iii DAFTAR LAMPIRAN ... iv 1. PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan ... 2 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 3 2.1 Validasi ... 3 2.2 Validasi Pembersihan ... 3
3. METODOLOGI TUGAS KHUSUS ... 12
3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Tugas Khusus ... 12 3.2 Metode Pembuatan Protokol Validasi Pembersihan ... 12
4. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 13
4.1 Hasil ... 13 4.2 Pembahasan ... 13
5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 22
5.1 Kesimpulan ... 22 5.2 Saran ... 22
1
Universitas IndonesiaPENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Setiap pabrik farmasi harus menerapkan Good Manufacturing Practice (GMP)
untuk menjamin bahwa obat yang diproduksinya tetap memenuhi syarat kualitas,
keamanan dan efikasi. BPOM sebagai badan yang berwenang untuk mengawasi obat
dan makanan di Indonesia telah mengadopsi GMP menjadi sebuah panduan bagi
pabrik farmasi di Indonesia yang bernama Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).
Aspek yang tertulis dalam CPOB meliputi manajemen kualitas, personalia, bangunan
dan fasilitas, mesin, sanitasi & higiene, produksi, pengawasan mutu, inspeksi diri &
audit mutu, penanganan keluhan, dokumentasi, pembuatan analisis berdasarkan
kontrak dan kualifikasi & validasi (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2012)
PT. Kalbe Farma Tbk. adalah industri yang bergerak di bidang farmasi, nutrisi,
biofarma, eyecare, mesin kesehatan, distribusi & logistik dan pelayanan kesehatan
(PT. Kalbe Farma, Tbk, 2011). Sebagai salah satu industri farmasi, PT. Kalbe Farma
Tbk. wajib menerapkan CPOB dalam proses produksinya.
Salah satu aspek CPOB yang dijalankan oleh PT. Kalbe Farma, Tbk. adalah
validasi. Kegiatan validasi yang disyaratkan CPOB yaitu validasi proses, validasi
pembersihan mesin dan validasi metode analisis yang digunakan. Masing-masing
kegiatan validasi mempunyai tujuan akhir berupa pembuktian bahwa proses atau
metode analisis yang divalidasi layak digunakan sehingga akan diperoleh hasil yang
valid.
Validasi pembersihan wajib dilakukan di industri farmasi karena mesin
produksi yang tersedia digunakan untuk lebih dari satu macam produk, sehingga
dengan melakukan validasi pembersihan maka akan mencegah terjadinya
kontaminasi silang. Selain itu validasi pembersihan juga dapat mencegah kontaminan
yang berasal dari debu, mikroba ataupun bahan pembersih yang digunakan untuk
membersihkan mesin (Pharmaceutical Inspection Convention Pharmaceutical
Co-operation Scheme, 2007)
Salah satu mesin yang menjadi objek validasi pembersihan di PT. Kalbe Farma
Tbk. adalah mesin mixing “B” di Line 7 yang memproduksi sediaan topikal non
steril. Sebelum kegiatan validasi pembersihan dilakukan, maka harus disusun sebuah
protokol sebagai panduan atau pedoman dalam melakukan validasi. Selanjutnya
disusun sebuah laporan validasi pembersihan sebagai dokumentasi tertulis terhadap
validasi yang telah dilakukan. Diharapkan protokol validasi pembersihan ini dapat
menjadi sebuah panduan dalam pembersihan sehingga kegiatan pembersihan mesin
akan cukup memadai sehingga produk obat yang dihasilkan akan tetap memenuhi
syarat.
1.2. Tujuan
Tujuan pembuatan tugas khusus ini adalah:
a. Menentukan produk dan zat aktif worst case mesin mixing “B”
b. Membuat protokol validasi pembersihan mesin mixing “B”.
3
Universitas IndonesiaTINJAUAN PUSTAKA
2.1 Validasi
Validasi adalah pembuktian yang terdokumentasi dengan tingkat keyakinan
tinggi bahwa proses secara konsisten memenuhi aspek kualitas yang telah ditetapkan
sebelumnya (LeBlanc, 2000). CPOB mensyaratkan industri farmasi untuk
mengidentifikasi validasi yang perlu dilakukan sebagai bukti pengendalian terhadap
aspek kritis kegiatan yang dilakukan. Perubahan signifikan terhadap fasilitas, mesin
dan proses yang dapat mempengaruhi mutu produk hendaknya divalidasi. Seluruh
kegiatan validasi hendaklah direncanakan. Unsur utama program validasi hendaklah
dirinci dengan jelas dan didokumentasikan dalam Rencana Induk Validasi (RIV).
2.2 Validasi Pembersihan
2.2.1 Proses Pembersihan
Pembersihan adalah penghilangan kontaminan dari permukaan yang hendak
dibersihkan. Kontaminan ini dapat berasal dari bahan lain, produk intermediate,
detergen, mikroorganisme, debu atau lubrikan. Mekanisme pembersihan meliputi
kelarutan, solubilisasi, emulsifikasi, dispersi, pembasahan, hidrolisis, oksidasi,
penghilangan secara fisik dan berdasarkan kerja antimikroba (LeBlanc, 2000).
Proses pembersihan mesin dapat dilakukan dengan metode manual, cleaning
in place (CIP) atau clean out of place (COP). Metode pembersihan mesin harus
menghasilkan konsistensi dan performa hasil yang baik. Pemilihan metode
pembersihan dan pemilihan detergen harus memudahkan pembersihan residu.
(LeBlanc, 2000).
Proses pembersihan ini harus didokumentasikan dalam Standard Operating
Procedure (SOP) (PIC/S, 2007). Pengembangan proses pembersihan tergantung dari
kerumitan mesin, sifat bahan yang berkontak dengan mesin, parameter kritis (interval
waktu antara mesin terakhir digunakan dan proses pembersihan dilakukan, suhu,
tekanan, volume mesin dan waktu proses) (Kim, 2006). Prosedur pembersihan harus
tetap dipantau pada interval tertentu untuk menjamin bahwa prosedur tetap efektif
bila digunakan untuk produksi rutin (ICH Q7A).
Mesin yang sama dapat digunakan untuk memproses beberapa produk
sehingga diperlukan prosedur pembersihan yang cukup agar tidak terjadi
kontaminasi. Untuk produk yang sulit dibersihkan, sebaiknya digunakan mesin
khusus yang memproduksi produk tersebut (dedicated equipment). Mesin harus
dibersihkan secepat mungkin setelah digunakan terutama untuk produk topikal,
suspensi dan pada produk yang bila residunya telah mengering akan mempengaruhi
efisiensi prosedur pembersihan.
Efisiensi prosedur pembersihan untuk penghilangan residu detergen harus
dievaluasi. Komposisi detergen harus diketahui. Bila tidak diketahui komposisi
detergen, maka sebaiknya digunakan detergen alternatif yang komposisinya dapat
diketahui. Menurut WHO, kriteria pemilihan detergen (Startup, 2009):
1. Diloloskan oleh QC dan memenuhi kriteria food standard.
2. Diketahui komposisinya
3. Mudah dibersihkan dengan pembilasan, ditunjukan dengan tercapainya batas
yang disyaratkan
4. Pertimbangan terjadinya degradasi detergen
Pencatatan harus dilakukan bila pembersihan telah dilakukan. Informasi yang
dicatat meliputi luas atau bagian mesin yang dibersihkan, personel yang melakukan
pembersihan, kapan pembersihan dilakukan, SOP proses pembersihan dan produk
yang sebelumnya diproses dengan mesin yang dibersihkan. Pencatatan ini harus
diparaf oleh operator yang melakukan pembersihan dan orang yang bertanggung
jawab untuk produksi harus dikaji oleh QA (PIC/S, 2007).
Operator yang melakukan pembersihan harus dilatih secara rutin dan harus
dilakukan pencatatan pelatihan. Operator yang melakukan prosedur pembersihan
secara manual harus disupervisi secara regular (PIC/S, 2007). Desain mesin harus
diperiksa secara teliti dan harus diidentifikasi bagian mesin yang merupakan area
kritis (area yang paling sulit dibersihkan). Kondisi yang memungkinkan untuk
tumbuhnya mikroorganisme seperti kelembapan, suhu, retakan dan permukaan kasar
harus diperhatikan. Mesin harus disimpan kering dan tidak boleh ada air tertinggal di
mesin. Tujuannya adalah untuk mencegah kontaminasi mikroba.
2.2.2 Validasi Pembersihan
Validasi pembersihan adalah pembuktian terdokumentasi bahwa prosedur
pembersihan yang telah disetujui akan menghasilkan peralatan yang sesuai untuk
memproses produk farmasi. Tujuan validasi pembersihan adalah verifikasi
keefektifan proses pembersihan untuk menghilangkan residu produk, degradasi
produk atau bahan pembersih sehingga monitoring analisis dapat diminimalkan pada
fase rutin (PIC/S, 2007). Menurut CPOB 2012, validasi pembersihan hendaknya
dilakukan dengan melaksanakan prosedur tiga kali berurutan dengan hasil yang
memenuhi syarat untuk membuktikan bahwa metode tersebut telah tervalidasi.
Revalidasi diperlukan bila sering terjadi Out of Specification (OOS) &
deviasi, adanya perubahan mesin, adanya produk baru, adanya perubahan proses
manufaktur dan adanya perubahan bahan baku. Hal ini diperlukan karena bahan baku
yang berasal dari supplier berbeda mungkin mempunyai sifat fisika dan profil
ketidakmurnian berbeda.
Umumnya, hanya prosedur pembersihan untuk permukaan produk yang
berkontak dengan mesin yang perlu divalidasi. Pertimbangan harus diberikan untuk
bagian mesin yang tidak berkontak dengan produk, tetapi dapat bermigrasi ke produk,
misalnya flange, mixing shaft, kipas oven dan elemen pemanas. Untuk produk dengan
bahan bersifat toksik atau hazard, digunakan bahan pengganti yang mensimulasikan
sifat fisikokimia dengan bahan yang akan dihilangkan.
Prosedur pembersihan untuk produk dan proses yang sangat mirip tidak perlu
divalidasi secara terpisah tetapi dipilih produk dan proses yang mewakili untuk
justifikasi program validasi. Pemilihan produk dan proses berdasarkan pertimbangan
2.2.2.1 Dokumentasi
Protokol validasi pembersihan harus mencakup (PIC/S, 2007)
1. tujuan proses validasi
2. tanggung jawab dalam melakukan dan persetujuan studi validasi
3. deskripsi mesin yang digunakan
4. interval antara akhir proses produksi dan mulainya proses pembersihan
5. prosedur pembersihan yang digunakan untuk masing-masing produk,
masing-masing sistem manufaktur atau masing-masing bagian mesin
6. jumlah siklus pembersihan yang dilakukan
7. persyaratan monitoring rutin
8. proses sampling termasuk penjelasan rasional mengenai metode sampling
tertentu digunakan
9. tempat sampling yang jelas
10. recovery studi bila diperlukan
11. metode analisis termasuk LOD dan LOQ
12. batas penerimaan termasuk penjelasan rasional dalam menetapkan batas
spesifik
13. produk lain, proses dan mesin yang direncanakan menggunakan konsep
bracketing
14. jadwal revalidasi
Protokol tersebut harus disetujui secara formal oleh Plant Management untuk
menjamin bahwa protokol telah diketahui dan disetujui oleh management.
Departemen Quality Assurance harus terlibat dalam persetujuan protokol dan laporan.
Setelah validasi dilakukan, maka harus disusun laporan validasi. Kesimpulan
laporan tersebut harus menyatakan bahwa proses pembersihan dapat divalidasi secara
sukses. Keterbatasan metode tersebut harus dilaporkan. Laporan ini harus disetujui
oleh Plant Management.
2.2.2.2 Metode Sampling
Sampling harus dilakukan sesuai protokol validasi pembersihan. Ada dua
metode sampling yang digunakan yaitu swabbing (penyekaan) dan rinsing (bilasan).
a. Swabbing
Sampling dengan metode swabbing harus menggunakan material dan medium
yang sesuai untuk sampling. Selain itu juga harus dijamin bahwa medium
sampling dan pelarut dapat digunakan. Recovery sample secara akurat
mungkin dipengaruhi oleh pemilihan material sampling. Sampling dengan
cara swabbing dilakukan dengan membasahi polyester swab dengan Purified
water (bila perlu yang telah diasamkan dengan asam fosfat). (Wallace, 2003)
b. Rinsing
Sampling dengan metode rinsing memungkinkan sampling pada area yang
lebih luas. Selain itu, metode ini dapat digunakan untuk bagian mesin yang
tidak bisa diakses dengan tangan. Namun perlu dipertimbangkan akan
kelarutan kontaminan dalam medium bilasan.
2.2.2.3 Metode untuk Mendeteksi Hasil Pembersihan (ISPE, 2011)
Ada beberapa metode untuk deteksi residu proses. Metode tersebut seperti
pemeriksaan visual, konduktivitas, TOC dan metode analisis spesifik zat.
a. Pemeriksaan visual
Pemeriksaan visual memungkinkan deteksi kontaminan pada konsentrasi kecil
yang mungkin tidak dapat dideteksi dengan metode analisis lain. Semua
permukaan harus bersih secara visual. Metode visual ini adalah metode paling
sesuai untuk produk dengan resiko rendah atau produk dengan resiko tinggi
yang dapat dideteksi mudah secara visual. Metode visual dapat mendeteksi
konsentrasi residu sampai 4μg / cm
2(LeBlanc, 2000)
b. Konduktivitas
Metode ini digunakan untuk mendeteksi residu senyawa bermuatan. Metode
ini sangat berguna untuk menentukan residu senyawa detergen dan beberapa
produk. Metode ini sesuai untuk produk dengan resiko rendah tetapi juga
untuk produk dengan resiko tinggi bila telah dijustifikasi secara saintifik.
c. Total Organic Carbon (TOC)
Metode ini bersifat sederhana, cepat dan dapat mendeteksi residu dengan
kadar rendah. TOC adalah metode deteksi pilihan pertama ketika dilakukan
sampling dengan metode swabbing. TOC sesuai untuk proses pembersihan
senyawa dengan resiko rendah hingga tinggi
d. Metode analisis spesifik zat (PIC/S, 2007)
Metode analisis harus divalidasi sebelum validasi pembersihan dilakukan.
Metode analisis yang digunakan untuk deteksi residu atau kontaminan harus
spesifik untuk zat yang akan diukur kadarnya dan memberikan sensitivitas
sesuai dengan tingkat kebersihan yang ditetapkan oleh perusahaan. Kombinasi
antara metode analisis dan metode sampling yang digunakan harus
menunjukkan bahwa kontaminan dapat disampling dari permukaan mesin.
Hasil negatif sampling mungkin terjadi karena metode sampling yang buruk
(PIC/S, 2007). Menurut WHO, parameter validasi yang diperlukan untuk
metode penetapan kadar untuk validasi pembersihan yaitu LOD & LOQ,
presisi, linearitas, selektivitas, recovery dan reprodusibilitas (Startup, 2009).
2.2.2.4 Batas Penerimaan Residu Kimia
Batas residu yang ditetapkan harus dapat dicapai dan dapat diverifikasi
(PIC/S, 2007). Penetapan batas residu tidak bisa secara cukup berfokus hanya kepada
bahan utama saja karena mungkin saja terjadi dekomposisi bahan yang mungkin lebih
sulit untuk dihilangkan. Pendekatan dalam menentukan batas :
a. Spesifik untuk produk
b. Dikelompokkan dalam famili produk dan memilih produk worst case.
c. Mengelompokkan ke dalam kelompok resiko (produk yang sangat mudah
larut, potensi mirip, produk dengan toksisitas tinggi, produk yang sulit untuk
dideteksi).
Batas penerimaan (APIC, 2000) :
1. Berdasarkan dosis terapeutik/ Therapeutic Daily Dose (TDD)
Prinsipnya adalah bahwa zat tidak terkontaminasi pada proporsi tertentu
(biasanya 1/1000 bagian) zat sebelumnya. Metode ini hanya digunakan bila
dosis terapeutik harian diketahui.
MACO = Maximum Acceptable Carry Over (jumlah
maksimum produk sebelumnya yang diizinkan
berada di produk berikutnya)
TDD sebelumnya = Therapeutic Daily Dose sebelumnya (dosis
terapeutik harian produk sebelumnya)
MBS = Maximum Batch Stage (jumlah bets maksimum
untuk produk berikutnya)
SF = Safety factor
MTDD selanjutnya