• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

6.2 Saran

6.2.1 Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih banyak agar didapatkan validitas yang lebih tinggi.

6.2.2 Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap ras-ras lain yang belum pernah dilakukan.

6.2.3 Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai analisis profil jaringan lunak wajah ras Deutro Melayu dengan menggunakan analisis lain.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1Oklusi

Oklusi merupakan hubungan statis antara gigi atas dan gigi bawah selama interkuspasi dimana pertemuan tonjol gigi atas dan bawah terjadi secara maksimal. Dikenal dua macam oklusi, yaitu oklusi ideal dan oklusi normal. Oklusi ideal adalah keadaan beroklusinya semua gigi dengan dua gigi di lengkung antagonisnya dan didasarkan pada bentuk gigi yang tidak mengalami keausan. Oklusi normal adalah suatu hubungan yang dapat diterima oleh gigi geligi pada rahang yang sama dan rahang yang berlawanan dan apabila gigi dikontakkan kondilus berada dalam fosa glenoidea. Perubahan terhadap oklusi normal seperti yang terjadi pada kondisi kehilangan gigi, destruksi substansi gigi, migrasi gigi akan menyebabkan maloklusi. Istilah maloklusi, yaitu yang menyangkut hal-hal diluar oklusi normal. Pada oklusi normal masih memungkinkan adanya beberapa variasi dari oklusi ideal yang secara fungsi maupun estetik masih dapat diterima.1-3,15

Pengelompokan oklusi menurut Angle ditinjau dari hubungan molar pertama permanen dan susunan gigi terhadap garis oklusi, Angle mengklasifikasikan empat kelompok sebagai berikut (Gambar 1):5,16-19

• Oklusi normal yaitu hubungan gigi-geligi dimana tonjol mesiobukal molar pertama permanen maksila berada pada groove bukal molar pertama permanen mandibula dan gigi tersusun dalam garis oklusi.

• Maloklusi Klas I yaitu relasi normal anteroposterior dari mandibula dan maksila. Tonjol mesiobukal cusp molar pertama permanen maksila berada pada bukal groove molar pertama permanen mandibula. Terdapat relasi lengkung anteroposterior yang normal dilihat dari relasi molar pertama permanen

rotasi dan protrusi.

• Maloklusi Klas II yaitu relasi posterior dari mandibula terhadap maksila. Tonjol mesiobukal cusp molar pertama permanen maksila berada lebih mesial dari bukal groove gigi molar pertama permanen mandibula.

• Maloklusi Klas III yaitu relasi anterior dari mandibula terhadap maksila. Tonjol mesiobukal cusp molar pertama permanen maksila berada lebih distal dari bukal groove gigi molar pertama permanen mandibula dan terdapat anterior crossbite (gigitan silang anterior).

Gambar 1. Klasifikasi oklusi menurut Angle5

2.2Sefalometri

Radiografi sefalometri diperkenalkan oleh Hofrath dan Broadbent serta telah digunakan dalam bidang ortodonti sejak tahun 1934. Radiografi sefalometri berperan penting sebagai sarana penunjang dalam bidang ortodonti digunakan dalam: 14,17,20-22

1. Diagnosis awal yaitu untuk mengkonfirmasi kelainan skeletal dan/atau jaringan lunak.

2. Penyusunan rencana perawatan. 3. Penilaian hasil perawatan.

Alat radiografi sefalometri terdiri dari sebuah mesin yang memproduksi sinar-x yang ditempatkan pada jarak tertentu dari sebuah alat yang memegang film sinar-x dan tempat untuk memposisikan kepala pasien (Gambar 2). Radiografi sefalometri dibagi menjadi dua berdasarkan penentuan skeletal wajah, yaitu sefalometri frontal dan lateral. 14,22,23

Gambar 2. Alat radiografi sefalometri22,23

2.2.1 Sefalometri Frontal

Sefalometri frontal disebut juga gambaran posteroanterior (PA). Gambaran sefalometri frontal memungkinkan untuk menganalisis asimetri wajah dan untuk perbandingan sebelum pembedahan dan sesudah pembedahan pada kasus bedah orthognatik yang melibatkan mandibula (Gambar 3).22,23

\

Sefalometri lateral merupakan analisis yang paling sering digunakan dalam kedokteran gigi. Melalui sefalometri lateral, titik-titik anatomis skeletal, jaringan lunak dan dental dapat menggambarkan garis, dataran dan sudut yang dapat digunakan untuk melakukan pengukuran dan mengklasifikasikan ciri morfologi kraniofasial pasien (Gambar 4).14,23,24

Gambar 4. Sefalogram lateral8

2.3Analisis Jaringan Keras dan Jaringan Lunak Wajah dengan

Sefalogram Lateral

Analisis jaringan keras dan jaringan lunak wajah dapat dilakukan pada sefalogram lateral. Titik-titik anatomis yang digunakan dalam analisis jaringan keras (Gambar 5):17,20,22

a. Sella (S) : titik di tengah-tengah fossa pituitary (sella turcica). b. Nasion (N) : titik perpotongan sutura frontonasalis.

c. Orbitale (Or) : titik paling rendah pada tepi bawah tulang orbita.

d. Sub-spina (A) : titik paling cekung di antara spina nasalis anterior dan prosthion. e. Supra-mental (B) : titik paling cekung di antara infra dental dan pogonion. f. Pogonion (Pog) : titik paling depan dari tulang dagu.

h. Menton (Me) : titik paling bawah atau inferior dari tulang dagu.

i. Articulare (Ar) : titik perpotongan antara tepi bawah dari basis kranium dan permukaan posterior kondilus mandibula.

j. Gonion (Go) : titik bagi yang dibentuk oleh garis dari sudut yang dibentuk oleh dataran mandibula dan ramus mandibula.

k. Porion (Po) : titik paling superior dari porus akusticus eksterna.

l. Pterygomaxillary Fissure (PTM) : bayangan radiolusen yang menyerupai tetes air mata, bagian anterior dari bayangan tersebut adalah permukaan posterior dari tuber maksilaris.

m. Spina Nasalis Posterior (PNS) : titik paling posterior dari palatum durum.

Gambar 5. Titik-titik anatomis jaringan keras14

Titik-titik anatomis yang digunakan dalam analisis jaringan lunak (Gambar 6):14,20 a. Glabella (G’) : titik paling anterior dari dahi pada daratan midsagital.

b. Nasion kulit (N’) : titik paling cekung pada pertengahan dahi dan hidung. c. Pronasale (Pr) : titik paling anterior dari hidung.

f. Superior labial sulcus (SLS) : titik tercekung di antara Sn dan Ls. g. Stomion superius (Stms) : titik paling bawah dari vermilion bibir atas. h. Stomion inferius (Stmi) : titik paling atas dari vermilion bibir bawah. i. Labrale inferius (Li) : titik perbatasan dari membran bibir bawah. j. Inferior labial sulcus (ILS) : titik paling cekung di antara Li dan Pog’. k. Pogonion kulit (Pog’) : titik paling anterior jaringan lunak dagu. l. Menton kulit (Me’) : titik paling inferior dari jaringan lunak dagu.

Gambar 6. Titik-titik anatomis jaringan lunak8

Dataran dalam analisis sefalometri terdiri dari tiga titik anatomis, tetapi beberapa di antaranya terdiri dari dua titik. Dataran sefalometri yang sering digunakan antara lain (Gambar 7):20,22

b. Dataran sella-nasion (S-N) : dibentuk dari garis yang melewati sella dan nasion. c. Dataran fasial (N-Pog) : dibentuk dari garis yang melewati nasion dan pogonion. d. Dataran mandibular (Go-Me) : dibentuk dari titik menton dan sebuah titik yang

tegak lurus dengan bagian posterior bawah mandibula.

e. Dataran ramus : tegak lurus dengan permukaan inferior, posterior ramus dan melewati articulare.

Gambar 7. Dataran dalam analisis sefalometri20

2.3.1 Analisis Jaringan Keras

Analisis jaringan keras yang ideal telah ditetapkan oleh ahli-ahli ortodonti, beberapa diantaranya yaitu analisis yang dikemukakan oleh Downs, Ricketts, dan Holdaway.5,16 Melalui analisis jaringan keras, dapat diketahui tipe muka / fasial jaringan keras, hubungan rahang atas dan rahang bawah terhadap basis kranium.25

2.3.1.1Analisis Downs

Downs menyatakan bahwa bentuk wajah yang ideal tercipta dari oklusi yang baik.11 Konveksias skeletal menurut Downs diperoleh dari sudut yang dibentuk oleh

nasion-A, sudut ini bernilai positif yaitu maksila berada di anterior mandibula. Dan sebaliknya, sudut ini bernilai negatif yaitu bila mandibula berada di anterior maksila. Nilai interval dari sudut N-A-Pog ini adalah -8,5° sampai +10°, dengan nilai ideal 0°

jika kedua garis berimpit (Gambar 8).8,16

Gambar 8. Analisis jaringan keras menurut Downs8

2.3.1.2Analisis Ricketts

Analisis Ricketts mempergunakan garis estetis (garis E) yang dibentuk dari jarak titik A terhadap dataran fasial (N-Pog) dalam milimeter. Nilai interval jarak titk A terhadap dataran fasial (N-Pog) adalah 2 ± 2 mm. Jika nilainya positif dan lebih besar dari 2 mm, maka diperoleh profil cembung dan jika bernilai negatif, maka diperoleh profil cekung. Nilai ideal yang dinyatakan Ricketts adalah 2 mm (Gambar 9).8,12

Gambar 9. Analisis jaringan keras menurut Ricketts8

2.3.1.3Analisis Holdaway

Konveksitas skeletal menurut Holdaway diperoleh dari titik A ke garis nasion-pogonion skeletal (N-Pog). Analisis ini sangat berguna dalam penentuan konveksitas wajah skeletal dalam hubungannya dengan konveksitas jaringan lunak (sudut H). Konveksitas skeletal wajah ideal jika jarak antara titik A ke garis N-Pog -2 mm sampai +2 mm.8,10

2.3.2 Analisis Jaringan Lunak

Analisis jaringan lunak yang ideal telah ditetapkan oleh ahli-ahli ortodonti, meliputi Steiner, Ricketts, Holdaway, Merrifield, dan lain-lain yang memberikan norma untuk nilai ideal yang sangat bermanfaat dalam perawatan ortodonsia. Untuk analisis profil jaringan lunak Steiner mempergunakan garis S, Ricketts garis estetis (garis E), Holdaway garis harmoni (garis H), dan Merrifield (sudut Z).8,12,26

Garis S merupakan garis yang ditarik dari titik Pog’ ke pertengahan kurva S (Pronasale (Pr) ke titik subnasale (Sn)). Menurut Steiner, idealnya titik Ls dan Li menyinggung garis S. Jika bibir berada di belakang garis S, maka dinyatakan profil wajah datar. Sedangkan jika berada di anterior garis S, profil wajahnya cembung (Gambar 10).10,13,14,27

Gambar 10. Analisis jaringan lunak wajah menurut Steiner (garis S)27

2.3.2.2Analisis Ricketts

Garis estetis (garis E) diperoleh dari garis yang ditarik dari titik dagu kulit (Pog’) ke puncak hidung (Pr). Pada keadaan normal, titik Ls terletak 2-4 mm di belakang garis E dan titik Li 1-2 mm di belakang garis E. Apabila letak titik Ls lebih dari 4 mm di belakang garis E, maka profil wajah tampak cekung sebaliknya jika titik Ls terletak di depan garis E maka profil wajah tampak cembung. Namun demikian, menurut Ricketts nilai ideal tersebut dapat bervariasi tergantung pada umur dan jenis kelamin (Gambar 11).4,10,13,14,26

Gambar 11. Analisis jaringan lunak wajah menurut Ricketts (garis E)27

2.3.2.3 Analisis Holdaway

Untuk analisis profil jaringan lunak, Holdaway mempergunakan garis H (garis harmoni). Garis H ini diperoleh dari menarik garis dari titik Pogonion kulit (Pog’) ke Labrale superior (Ls). Analisis profil jaringan lunak yang dilakukan Holdaway berbeda dengan Ricketts yang mana Holdaway tidak menggunakan puncak hidung sebagai titik penentuan analisisnya. Holdaway melakukan 11 analisis pengukuran untuk memperoleh profil jaringan lunak yang seimbang dan harmonis yaitu terdiri dari jarak puncak hidung (Pr), kedalaman sulkus labialis superior, kedalaman sulkus labialis inferior, jarak bibir bawah ke garis H, tebal bibir atas, kurvatura bibir atas, besar sudut fasial, tebal dagu, strain bibir atas, besar sudut H dan kecembungan skeletal.4,10,12

Sudut H dibentuk dari perpotongan garis H dengan garis N’-Pog’. Besar sudut H yang ideal berkisar 7° - 15°. Apabila sudut H lebih besar dari 15° maka konveksitas bentuk profil cembung sedangkan lebih kecil dari 7° menunjukkan konveksitas bentuk profil cekung karena letak Pog’ lebih ke posterior atau titik Ls lebih ke anterior. Menurut analisis

Holdaway, 10° merupakan sudut H yang ideal dengan nilai konveksitas wajah 0 mm (Gambar 12).4,8,10,13,14

Gambar 12. Analisis jaringan lunak menurut Holdaway10

2.3.2.3Analisis Merrifield

Analisis estetis wajah menurut Merrifield menggunakan sudut Z yang dibentuk oleh perpotongan antara dataran horizontal Frankfurt dan garis profil wajah. Garis profil wajah dibentuk oleh garis yang ditarik dari tangensial jaringan lunak dagu (Pog’) dan titik paling depan dari bibir atas atau bibir bawah. Umumnya, bibir atas akan bersinggungan dengan garis profil ini, dimana posisi bibir atas dan bibir bawah seharusnya sejajar atau bibir bawah berada di belakang garis profil ini (Gambar 13). Nilai ideal sudut ini berkisar 80° ± 9°.9,10,14

Gambar 13. Analisis jaringan lunak wajah menurut Merrifield10

2.4Ras Deutro Melayu

Sebagian besar penduduk Indonesia termasuk ras Paleomongoloid atau ras Melayu. Pada tahun 2000 s.m., ras Proto Melayu atau Melayu tua yang pertama datang ke Indonesia kemudian pada tahun 1500 s.m. ras Deutro Melayu atau Melayu muda datang ke Indonesia. Kedatangan ras Deutro Melayu yang telah mempunyai peralatan lebih maju menyebabkan ras Proto Melayu terdesak ke pedalaman. Kelompok Deutro Melayu terdiri dari suku Aceh (kecuali Gayo dan Alas), Melayu, Minang Kabau, Betawi, Sunda, Jawa, Madura, Bali, Makasar, Bugis dan Manado. Kelompok Proto Melayu yaitu suku Batak di Sumatra Utara, Dayak di Kalimantan Barat dan Toraja di Sulawesi Barat pada awalnya yang menempati pesisir pantai.12,28 Berdasarkan data demografi di kota Medan, ras Deutro Melayu terdiri dari 51% dan ras Proto Melayu 34,39%.29

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Oklusi normal adalah hubungan gigi-geligi dimana tonjol mesiobukal molar pertama permanen maksila berada pada groove bukal molar pertama permanen mandibula dan apabila gigi-geligi dikontakkan kondilus berada dalam fosa glenoidea. Oklusi dikatakan normal jika susunan gigi di dalam lengkung teratur dengan baik. Perubahan terhadap oklusi normal seperti yang terjadi pada kondisi kehilangan gigi, dan migrasi gigi akan menyebabkan maloklusi.1-5

Oklusi normal merupakan tujuan dari perawatan ortodonti secara umum yang dapat dinilai dari model studi dan radiografi sefalometri. Keharmonisan dan keseimbangan wajah juga dapat terjadi jika oklusi normal telah terjadi yang dapat dianalisis dengan radiografi sefalometri. Radiografi sefalometri diperkenalkan oleh Hofrath di Jerman dan Broadbent di Amerika dan telah digunakan dalam bidang ortodonti sejak tahun 1934. Radiografi sefalometri banyak digunakan dalam penelitian maupun sebagai penunjang diagnosis dan rencana perawatan untuk mempelajari maloklusi atau disproporsi skeletal serta mengevaluasi keberhasilan perawatan. Melalui sefalometri, dapat dianalisis jaringan lunak maupun keras yang tidak dapat dianalisis dari gambaran klinis maupun model studi. Keberhasilan suatu perawatan ortodonti sering dikaitkan dengan perubahan wajah pasien, termasuk profil jaringan lunak. Diagnosis dan rencana perawatan yang hanya didasarkan pada analisis skeletal dan dental akan menjadi kurang akurat karena adanya variasi jaringan lunak yang menutupi wajah setiap individu.5-7

Radiografi sefalometri dibagi menjadi dua berdasarkan penentuan skeletal wajah yaitu radiografi sefalometri frontal dan radiografi sefalometri lateral. Radiografi sefalometri lateral lebih sering digunakan karena memungkinkan dilakukan pengukuran

jaringan lunak dan jaringan keras wajah juga dapat dilakukan melalui sefalogram lateral.5

Jaringan lunak wajah berperan penting dalam penilaian estetika wajah. Analisis profil jaringan lunak dapat dilakukan dengan beberapa metode, di antaranya yaitu menurut Steiner, Ricketts, Holdaway, Merrifield dan lain-lain. Oklusi dan estetis wajah merupakan dua hal yang saling berhubungan dan kedua hal tersebut harus dicapai bersamaan sebagai tujuan akhir dari perawatan ortodonti. Analisis profil jaringan lunak dengan sefalometri lateral menurut analisis Merrifield yaitu menggunakan sudut Z yaitu sudut yang dibentuk oleh garis yang ditarik dari persinggungan jaringan lunak dagu (Pog’) dan titik paling depan dari bibir atas dan bibir bawah dengan dataran horizontal Frankfurt dengan nilai normal 80° ± 9°.8-10

Penelitian Tayyem, dkk. pada sekelompok penduduk di Arab dengan menggunakan analisis Merrifield menunjukkan bahwa sudut Z sedikit lebih kecil dibandingkan dengan nilai normal menurut Merrifield dan sudut Z pada laki-laki lebih kecil daripada perempuan, dimana sudut Z pada laki-laki adalah 74,08° ± 8,99° dan pada perempuan adalah 78° ± 7,89°.11 Penelitian Rostina di Medan menunjukkan bahwa rerata nilai konveksitas jaringan lunak menurut Holdaway (sudut H) pada ras Deutro Melayu berbeda signifikan dengan yang telah ditetapkan Holdaway pada ras Kaukasoid, yaitu 7° - 15°, dimana sudut H pada ras Deutro Melayu adalah 16,55°, sedangkan penelitian Sijabat di Medan menunjukkan bahwa sudut H pada ras Batak adalah 18,09°.8,12 Penelitian dengan analisis menurut Ricketts oleh Nurbayati di Medan menunjukkan bahwa nilai Ls : E line adalah (-0,5667 ± 4,02092) mm dan Li : E line adalah (1,1500 ± 3,89551) mm, sedangkan penelitian Arigato di Medan menunjukkan bahwa Ls : E line adalah (0,93 ± 2,664) mm dan Li : E line adalah (0,60 ± 3,622) mm.13,14

Penelitian ini menggunakan analisis menurut Merrifield karena Merrifield menggunakan bibir dan pogonion kulit sebagai panduan garis profil wajah, dimana posisi bibir sangat erat kaitannya dengan inklinasi gigi dan posisi jaringan keras di bawahnya. Pada saat ini belum diketahui rerata nilai estetis wajah menurut Merrifield pada oklusi normal ras Deutro Melayu, oleh karena itu penelitian ini perlu dilakukan.

memiliki oklusi normal.

1.2 Rumusan Masalah

1. Berapakah rerata nilai estetis wajah menurut Merrifield pada oklusi normal mahasiswa FKG USU ras Deutro Melayu.

2. Berapakah rerata nilai estetis wajah menurut Merrifield pada oklusi normal mahasiswa FKG USU ras Deutro Melayu pada laki-laki dan perempuan.

3. Apakah ada perbedaan rerata nilai estetis wajah menurut Merrifield pada oklusi normal mahasiswa FKG USU ras Deutro Melayu antara laki-laki dan perempuan.

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui rerata nilai estetis wajah menurut Merrifield pada oklusi normal mahasiswa FKG USU ras Deutro Melayu.

2. Untuk mengetahui rerata nilai estetis wajah menurut Merrifield pada oklusi normal mahasiswa FKG USU ras Deutro Melayu pada laki-laki dan perempuan.

3. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan rerata nilai estetis wajah menurut Merrifield pada oklusi normal mahasiswa FKG USU ras Deutro Melayu antara laki-laki dan perempuan.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Untuk mendapat rerata nilai normal estetis wajah menurut Merrifield pada ras Deutro Melayu.

2. Sebagai informasi tambahan khususnya analisis wajah dalam bidang ortodonti.

3. Sebagai penunjang dalam diagnosis dan penyusunan rencana perawatan ortodonti khususnya pada ras Deutro Melayu.

Rose Diana

Gambaran Estetis Wajah Menurut Merrifield pada Oklusi Normal Mahasiswa FKG USU Ras Deutro Melayu

xi + 35 halaman

Oklusi normal merupakan tujuan umum dari perawatan ortodonti. Oklusi dapat mempengaruhi profil jaringan lunak wajah yang dapat dianalisis menurut beberapa parameter, salah satunya yaitu analisis Merrifield (sudut Z). Salah satu alat penunjang yang dapat digunakan untuk menganalisis profil jaringan lunak wajah adalah dengan radiografi sefalometri lateral. Setiap populasi/ras memiliki bentuk profil yang berbeda, sehingga terdapat nilai normal yang berbeda pula. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan rerata gambaran estetis wajah menurut Merrifield pada oklusi normal mahasiswa FKG USU ras Deutro Melayu dan untuk melihat apakah ada perbedaan nilai antara perempuan dan laki-laki.

Penelitian deskriptif analitik ini dilakukan dengan menggunakan 40 sefalogram yang terdiri dari 22 perempuan dan 18 laki-laki dari mahasiswa FKG USU yang memenuhi kriteria inklusi. Masing-masing sefalogram kemudian diukur besar sudut Z dan dilakukan uji t-independen untuk melihat perbedaan antara perempuan dan laki-laki.

perempuan adalah 76° ± 6,45° dan mahasiswa laki-laki yaitu 72,07° ± 7,72°. Hasil uji analitik (t-independen) menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada sudut Z antara perempuan dan laki-laki. Nilai ini sedikit lebih kecil dibandingkan dengan nilai sudut Z pada ras Kaukasoid pada penelitian Merrifield, sehingga dapat disimpulkan bahwa setiap ras memiliki ukuran normal yang berbeda dimana profil ras Deutro Melayu sedikit lebih cembung dibandingkan dengan ras Kaukasoid.

RAS DEUTRO MELAYU

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi

Oleh: ROSE DIANA NIM: 100600048

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan tim penguji skripsi

Medan, 25 November 2013

Pembimbing: Tanda tangan

1. Muslim Yusuf, drg., Sp.Ort (K) ……….

NIP: 19580828 198803 1 002

2. Aditya Rachmawati, drg. ……….

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji Pada tanggal 25 November 2013

TIM PENGUJI

KETUA : Muslim Yusuf, drg., Sp Ort (K) ANGGOTA : 1. Aditya Rachmawati, drg

2. Siti Bahirrah, drg., Sp.Ort 3. Ervina Sofyanti, drg., Sp.Ort

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkah dan anugerahNya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis ucapkan kepada kedua orangtua tercinta Andreas dan Nini berkat doa, kasih sayang serta dukungan moril dan materil yang terus menerus kepada penulis dan kepada Bapak Kentjana Salim selaku wali penulis yang selalu memberikan dukungan dan saran kepada penulis.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis telah banyak mendapatkan bimbingan, saran, bantuan serta doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati serta penghargaan yang tulus penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Prof. Nazruddin, drg., C.Ort., Ph.D., Sp.Ort selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

2. Erna Sulistyawati, drg., Sp.Ort (K) selaku ketua Departemen Ortodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

3. Muslim Yusuf, drg., Sp.Ort (K) dan Aditya Rachmawati, drg selaku dosen pembimbing skripsi di Departemen Ortodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara yang telah banyak menyediakan waktu, pikiran, motivasi dan saran untuk membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Ervina Sofyanti, drg., Sp.Ort dan Siti Bahirrah, drg., Sp.Ort selaku dosen penguji skripsi yang telah memberikan waktu dan masukan kepada penulis.

5. Seluruh staf pengajar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara terutama staf dan pegawai di Departemen Ortodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

Hendrik, Michael Andreas Tasman, Cristine, Natalia Karina, Yuli Karina, Jocelyn dan Ervi Gani atas dukungan, bantuan dan semangat yang diberi.

7. Teman-teman seperjuangan skripsi di Departemen Ortodonsia FKG USU yang telah saling membantu dan memberikasn semangat.

8. Seluruh teman-teman seangkatan stambuk 2010, senior dan junior yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Akhir kata, penulis mengharapkan semoga hasil karya atau skripsi ini dapat memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi pengembangan ilmu, masyarakat, dan Fakultas kedokteran Gigi khususnya Departemen Ortodonti.

Medan, 21 November 2013 Penulis,

(Rose Diana) NIM : 100600048

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ...

HALAMAN PERSETUJUAN ...

HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI ...

KATA PENGANTAR ... iv DAFTAR ISI ... vi DAFTAR TABEL ... ix DAFTAR GAMBAR ... x DAFTAR LAMPIRAN ... xi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 ... Latar Belakang ... 1 1.2 ... Rumusan Masalah ... 3 1.3 ... Tujuan Penelitian ... 3 1.4 ... Manfaat Penelitian ... 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 ... Oklusi ... 5

2.2 ... Sefalometri ... 6

2.2.2 Sefalometri Lateral ... 8

2.3 Analisis Jaringan Keras dan Jaringan Lunak Wajah dengan Sefalogram Lateral ... 8

2.3.1 Analisis Jaringan Keras ... 11

2.3.1.1 ... Analisis Downs ... 11 2.3.1.2 ... Analisis Ricketts ... 12 2.3.1.3 ... Analisis Holdaway ... 13

2.3.2 Analisis Jaringan Lunak ... 13

2.3.2.1 ... Analisis Steiner ... 14

Dokumen terkait