• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.2. Saran

Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, peneliti ingin mengemukakan beberapa saran yaitu:

1. Saran Metodologis

Bagi para peneliti selanjutnya yang berminat dengan penelitian sejenis atau untuk mengembangkan penelitian lebih jauh, hendaknya memperhatikan hal berikut :

a. Peneliti perlu memperhatikan bahasa yang digunakan, serta perlu memahami latar belakang sampel agar dapat mengoptimalkan data penelitian

b. Menambah jumlah sampel yang lebih besar agar penelitian dapat digunakan untuk generalisasi yang lebih luas.

c. Memperhatikan perbedaan karakteristik lokasi responden, karena lokasi berbeda bisa menghasilka data yang berbeda

d. Meminimalisir bias-bias yang mungkin dilakukan peneliti 2. Saran Praktis

a. Bagi para pengungsi

Memberikan informasi kepada penyintas tentang bagaimana tipe explanatory style mereka di tempat pengungsian untuk melihat apakah mereka beresiko terkena depresi dan tidak sampai learned helplessness.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Explanatory Style

2.1.1. Definisi

Seligman (dalam Hall, 1985) mengajukan suatu variable kepribadian yang disebut dengan explanatory style, yaitu suatu aturan karakter yang digunakan individu untuk menjelaskan peristiwa yang terjadi di dalam hidupnya, dan menurutnya, explanatory style menentukan individu yang berisiko depresi.

Peterson (Parker, 2005) mengatakan bahwa explanatory style adalah kecenderungan individu untuk membuat pengertian yang serupa dalam kejadian yang berbeda. Kemudian pengertian ini dikembangkan lagi oleh Parker dan Steen (Parker, 2005) yang menyebutkan bahwa explanatory style adalah cara individu yang sudah menjadi kebiasaan untuk mengartikan peristiwa yang terjadi, sehingga dapat membuatnya stabil pada suatu keadaan tertentu.

Seligman (Taylor, 2003) menggambarkan explanatory style sebagai cara individu berfikir mengenai penyebab dari suatu kejadian.

Menurut Ormrod (dalam Bol, Hacker, & Allen, 2005) menyebutkan bahwa explanatory style adalah cara individu menginterpretasikan kejadian yang dialaminya sehari-hari dan konsekuensinya.

Menurut Schullman, Castellon, dan Seligman (dalam Boyer, 2006) mengembangkan pengertian explanatory style, yaitu individu memiliki pola dalam menjelaskan apa yang menjadi penyebab dari kejadian penting dalam hidupnya.

Explanatory style merupakan salah satu atribut psikologis yang mengindikasikan bagaimana seseorang akan menjelaskan kepada dirinya mengenai kejadian yang dialami, baik itu positif ataupun negatif (dalam Peterson & Steen, 2002). Explanatory style merupakan suatu cara yang biasa digunakan orang untuk menjelaskan sebab kejadian buruk yang menimpa mereka (Peterson & Seligman dalam Peterson, 1988).

Jadi explanatory style yang peneliti gunakan saat ini adalah persepsi atau pola pikir individu dalam menjelaskan dan memaknai penyebab sebuah kejadian, apakah itu positif ataupun negatif.

2.1.2. Dimensi explanatory style

Terdapat tiga dimensi explanatory style yang dikemukakan oleh Abramson (Taylor, 2003), yaitu:

a. Pervasiveness

Dimensi ini berkaitan dengan cara individu dalam menjelaskan pengaruh sebuah kejadian yang dialami terhadap kehidupannya. Saat individu menganggap sebuah kejadian berpengaruh dalam semua aspek kehidupannya maka disebut sebagai global, dan saat individu

menganggap sebuah kejadian berpengaruh hanya dalam aspek tertentu dalam kehidupannya disebut sebagai limited/spesific.

b. Permanence

Dimensi ini berkaitan dengan cara yang dilakukan individu untuk menjelaskan kekonsistenan waktu suatu kejadian dalam hidupnya. Saat individu menganggap sebuah kejadian terjadi konsisten dalam kehidupannya dan tidak dapat diubah maka akan diartikan sebagai stable, dan ketika individu menganggap sebuah kejadian hanya terjadi pada satu waktu saja dalam kehidupannya dan dapat diubah maka akan diartikan sebagai unstable.

c. Personalisation

Dimensi ini berkaitan dengan cara yang dilakukan untuk menjelaskan kejadian yang terjadi apakah berasal dari dalam diri atau tidak. Saat individu menganggap sebuah kejadian berasal dari dalam dirinya maka dia akan mengartikannya sebagai internal. Saat individu menganggap sebuah kejadian berasal dari luar dirinya maka dia akan mengartikannya sebagai external.

Peterson dan Seligman (Taylor, 2003) memberikan prediksi bahwa apabila explanatory style hadir secara global, stable, dan internal dikaitkan kepada kejadian buruk yang tidak dapat dikendalikan, maka cenderung akan membuat

2.1.3. Tipe Explanatory Style

Menurut Seligman (dalam Hall, 1985), individu dengan pessimistic explanatory style akan mengatribusi kesalahannya pada factor internal – stable – global. Sedangkan individu dengan optimistic explanatory style akan mengatribusi kesalahannya pada faktor external –unstable – limited.

Individu yang cenderung ke arah pessimistic explanatory biasanya mengalami tingkat prestasi yang rendah, lebih banyak mengidap penyakit fisik, mengalami gejala depresi, dan cenderung rendah dalam pengharapan (Gillham et al., 2001; Schulman, Castellon, & Seligman, 1989 dalam Hirsch & Conner, 2006).

Individu yang cenderung ke arah optimistic explanatory akan lebih menggunakan coping yang aktif dan adaptif misalnya berusaha keras untuk merubah situasi yang tidak terkontrol, berusaha mengatasi masalah dan kesengsaraan, dan mempertahankan tujuan (Carver et al., 1993; Puskar, Sereika, Lamb, Tusaic-Mumford & Mc Guinness, 1999 dalam Hirsch & Conner, 2006).

Explanatory style biasanya diukur menggunakan Attributional Style Questionare (ASQ). Namun peneliti menggunakan skala yang dikonstruk sendiri yang mengacu pada teori yang digunakan Seligman.

2.1.4. Faktor yang mempengaruhi Explanatory Style

Explanatory style merupakan persepsi atau pola pikir seperti defenisi yang peneliti simpulkan diatas, sehingga faktor yang mempengaruhi persepsi maka

akan juga akan mempengaruhi explanatory style. Menurut Miftah Toha (2003) ada 2 faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang:

1. Faktor internal

Perasaan, sikap dan kepribadian individu, prasangka, keinginan, perhatian, proses belajar, keadaan fisik, gangguan kejiwaan, nilai, kebutuhan, minat, dan motivasi.

2. Faktor external

Latar belakang keluarga, informasi yang diperoleh, pengetahuan, intensitas, ukuran, keberlawanan, pengulangan gerak, hal-hal baru dan familiar suatu objek.

2.2. Suku Karo

Suku Karo sangat banyak dipengaruhi oleh lingkungan alam dan termasuk suku pedalaman dan melintas agraris. Suku Karo identik dengan “Taneh Karo”, hal ini dikarenakan suku Karo masih menjalani kebudayaan Karo secara ketat (Koentjaraningrat, 1984).

Suku Karo memiliki sistem kekerabatan yang bernama dalikan sitelu. Ada tiga unsur pada dalikan sitelu yaitu kalimbubu, anak beru, dan sembuyak. (Brahmana,pertampilan 2001). Suku Karo menganut paham patrelialis dimana marga di turunkan dari laki-laki ke pada anaknya. Ada lima merga dalam suku Karo yaitu Ginting, Karo-Karo, perangin-angin, Sembiring dan tarigan. Orang Karo di dalam kehidupannya memiliki falsafah kekerabatan yang dikenal dengan

istilah merga silima, tutur siwaluh, rakut sitelu perkaden-kaden sepuluh dua tambah sada.

Menurut Tridah Bangun (2009) karakter dan tabiat Suku Karo secara umum sebagai orang yang jujur, tegas, berani, percaya diri, pemalu, tidak serakah, mudah tersinggung dan pendendam, berpendirian teguh, sopan, senantiasa menjaga nama baik keluarga, rasional dan kritis, mudah menyesuaikan diri, gigih mencari pengetahuan, juga ada pula sifat iri dan dengki yang dikenal dengan cian dan mementingkan prosedur. (Sanjani Tarigan, 2009).

2.2.1. Falsafah suku Karo

Tertulis dalam buku Kata Sada Ginting (2014), berikut adalah falsafah Suku Karo:

A. Mehamat man kalimbubu

Kalimbubu merupakan kelompok yang memberikan istri kepada suku Karo. Suku Karo percaya kalimbubu merupakan sumber berkat, maka sering di sebut sebagai simupus takal piher pate geluh. Kalimbubu berasal dari kata mbubu yang artinya kepala. Di dalam nuria, yaitu zaman sebelum masuknya agama di Karo, Kalimbubu di sebut sebagai dibata ni idah atau Tuhan yang tidak kelihatan.

Mehamat man kalimbubu diartikan sebagai menghormati kalimbubu. Orang Karo akan merasa senang dan berkecukupan jika menghargai

kalimbubunya Pepatah di orang Karo mengatakan jangan sampai berita tidak mengenai Kalimbubunya kepada orang lain.

B. Metenget man senina

Senina merupakan orang yang memiliki merga yang sama dengan dirinya dan dengan penuturan adat yang menjadikan ersenina. Metenget man senina dimana orang Karo peduli dengan senina. Orang Karo dimana senina merupakan tempat berbagi susah mau pun senang di dalam kehidupan.

C. Metami man anak beru

Anak beru merupakan adalah di mulai dari kakek buyutnya yang tertuan kepada kalimbubu. Anak beru adalah pihak yang mengambil menjadi istri,mau pun yang menitiskan dari pihak yang dari pihak perempuan.

Metami man anak beru merupakan sikap sayang,cinta mau pun murah hati. Dimana tanggung jawab anak beru memiliki tanggung jawab yang berrat untuk menjaga nama baik kalimbubunya.

D. Menyekolahkan anak

Pada masyarakat Karo bukan anak yang ingin sekolah tapi orang tua yang sangat berminat untuk menyekolahkan anak.

E. Tabah dan rajin

Berkat budaya tabah dan rajin masyarakat Karo dapat merambah hutan belantara membuat irigasi sederhana di bukit-bukit. Karena kerajinan mereka sebelum tahun delapan puluhan ladang mereka lebih bersih dari halaman rumah.

F. Mehangke

Budaya mehangke adalah budaya mendatangkan malu jika minta bantuan kepada orang lain atau pun keluarga.

2.2.2. Karakter Masyarakat Karo

Sifat dan perwatakan masyarakat Karo tampak pada perilaku atau perbuatan dan pola pikirnya. Masyarakat Karo pada umumnya memmiliki karakter sebagai berikut: jujur, tegas dan berani, percaya diri, malu, tidak serakah dan tahu akan hak, mudah tersinggung dan dendam, berpendirian tetap dan pragmatis, sopan, jaga nama keluarga dan harga diri, rasional dan kritis, mudah menyesuaikan diri, gigih mencari ilmu, tabah, beradat, suka membantu dan menolong, pengasih dan hemat, percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa (Bangun, Teridah 1986).

Pembahasan mengenai sifat-sifat orang Karo yang relatif baru adalah dalam buku Manusia Karo oleh Drs. Tridah Bangun (1986) yang mengemukakan 15 macam sifat dan watak orang Karo , yaitu :

1. Jujur

Orang Karo umumnya hidup dengan kekeluargaan dan kebersamaan yang tinggi di lingkungan tradisional. Biasanya jika diketahui ada yang berbuat curang maka akan mendapat hukuman yang berat dari masyarakat.

2. Tegas

Masyarakat Karo tidak begitu lembut menghadapi suatu masalah, apalagi masalah yang dianggap prinsipil, meski sebenarnya dapat memberi risiko bagi diri sendiri ataupun keluarganya.

3. Berani

Sejak kecil masyarakat Karo diajari oleh orang tuanya atau neneknya bahwa setiap manusia sederajat. Yang berbeda hanyalah suratan tangan dan takdirnya. Mungkin hal ini lah yang menyebabkan masyarakat Karo tidak pernah ragu untuk berbuat atau pergi ke mana pun.

Keberanian ini juga ditunjukkan ketika berkecamuk perang antara kerajaan Deli dan kerajaan Aceh pada abad XVII dan juga perjuangan melawan penjajahan Belanda.

4. Percaya Diri

5. Malu

Sifat malu dimiliki orang Karo kalau menggantungkan diri pada orang lain dan juga kalau berhubungan dengan harga diri dan nama baik keluarga yang tercoreng.

6. Tidak Serakah

Secara umum orang Karo memang mendambakan hidup sejahtera namun bukan melalui cara serakah. Mereka gigih mempertahankan sesuatu kalau memang itu adalah haknya.

7. Mudah Tersinggung dan Pendendam

Kebanyakan orang Karo cepat tersinggung jika dirinya atau keluarganya dikata-katai secara negatif oleh orang lain. Kalau sudah tersinggung orang tersebut segera menjumpai orang yang menghinanya dan menyelesaikan dengan segera.

8. Berpendirian Teguh

Orang Karo umumnya bila memiliki suatu pendirian, sukar baginya untuk merubah pendiriannya tersebut, kecuali kalau dalam situasi terpaksa.

9. Sopan

Sikap ini mungkin dilandasi pemikiran bahwa dalam bermasyarakat harus saling menghargai yakni berbuat sopan dan menghormati pihak lain, bukan dengan pura-pura. Gaya orang Karo berbicara menunjukkan sikap sopan dengan tutur kata yang halus dan tidak keras.

10.Selalu Menjaga Nama Baik Keluarga dan Harga Diri

Pencemaran nama baik keluarga dianggap merupakan tamparan bagi seluruh anggota keluarga turun temurun dan pasti menimbulkan dendam kesumat, yang kadang-kadang nyawa sering jadi taruhannya. Menyangkut harga diri dan keluarga, sejak belasan tahun terakhir ini pada sebagian masyarakat Karo, telah berkembang upaya untuk tidak mau kalah dari orang lain dan menunjukkan bahwa dia juga berkemampuan seperti apa yang telah ditunjukkan.

11.Rasional dan Kritis

Dalam menghadapi persoalan, orang Karo tidak begitu cepat emosional, tapi selalu dipikirkan dulu secara rasional dan kritis. Oleh karena itu mereka tidak begitu mudah terbuai oleh suatu rayuan. Sikap kritis ini sering membuat pihak lain kecewa karena dianggap bandel sehingga tidak mudah membawanya ke satu tujuan yang dimaksudkan.

12.Mudah Menyesuaikan Diri

Karena sopan bergaul, selalu menghormati sesama anggota masyarakat, orang Karo secara mudah mampu menyesuaikan diri di tengah masyarakat baru, tempat mereka berdomisili.

13.Gigih Mencari Pengetahuan

Orang Karo mencari ilmu pengetahuan dengan segala kegigihan ditiap kesempatan yang memungkinkan. Untuk mendapat ilmu pengetahuan, mereka rela menempuh dengan segala penderitaan. Rintangan diatasi dengan segala ketabahan.

14.Mudah Iri dan Dengki

Sifat-sifat dengki/cemburu masih bersemayam pada masyarakat Karo. Penyakit lain yang mirip yang masih ada dalam masyarakat Karo adalah kesukaan sebagian besar kaum ibu-ibu mengata-ngatai orang lain secara negatif.

15.Mementingkan Prosedur

Orang Karo sejak zaman dulu ternyata mematuhi apa-apa yang telah menjadi kesepakatan bersama mengenai berbagai persoalan. Karena itu jika ada anggota masyarakat yang berbuat melangkahi aturan umum, biasanya terjadi keributan.

2.3. Gambaran Explanatory Style pada Penyintas erupsi Gunung Sinabung yang bersuku Karo di tempat pengungsian

Bencana alam adalah kejadian yang tidak bisa dielakkan oleh siapapun. Bencana alam merupakan sesuatu yang tidak bisa diprediksi dan tidak bisa dikontrol, merupakan peristiwa yang sering terjadi dan tidak diragukan lagi akan terjadi (Nickerson 2008). Orang-orang yang selamat dari bencana alam sering disebut sebagai penyintas, dan mereka yang tinggal di tempat pengungsian disebut sebagai pengungsi.

Bencana alam erupsi Gunung Sinabung terjadi di Kabupaten Karo, dan sudah mulai nampak aktif dan meletus pertama kali pada tahun 2010 (Surono, 2013). Dan keadaan yang tidak aman ini berlangsung terus-menerus hingga tahun 2016. Keadaan yang bertahun-tahun tinggal di tempat pengungsian bisa membentuk pola pikir baru atau persepsi baru terhadap keadaannya selama di pengungsian.

Pola pikir atau persepsi yang dilakukan pengungsi disimpulkan peneliti sebagai explanatory style. karena menurut Seligman Seligman (dalam Taylor, 2003) explanatory style digambarkan sebagai cara individu berfikir mengenai penyebab dari suatu kejadian. Menurut Ormrod (dalam Bol, Hacker, & Allen, 2005) menyebutkan bahwa explanatory style adalah cara individu menginterpretasikan kejadian yang dialaminya sehari-hari dan konsekuensinya. Sejalan dengan hal tersebut menurut Feldman (1999) persepsi adalah proses konstruktif stimulus yang diterima individu dan berusaha memahami situasi.

Menurut Miftah Toha (2003) ada 2 fator yang mempengaruhi persepsi, yaitu (1) internal yang merupakan perasaan, sikap dan kepribadian individu, prasangka, keinginan, perhatian, proses belajar, keadaan fisik, gangguan kejiwaan, nilai, kebutuhan, minat, dan motivasi, serta (2) external yaitu latar belakang keluarga, informasi yang diperoleh, pengetahuan, intensitas, ukuran, keberlawanan, pengulangan gerak, hal-hal baru dan familiar suatu objek.

Masyarakat Karo yang tinggal di Kabupaten Karo, banyak ditemukan bekerja sebagai petani. Mereka yang sudah lama tinggal di bawah kaki gunung sudah memiliki identitas dan rasa persaudaraan kepada orang sekampungnya. Dan tinggal ditempat pengungsian memaksa masyarakat Karo untuk merubah pola pikir dan merubah kebiasaan mereka.

Masyarakat Karo memiliki sistem kekerabatan dalikan sitelu (Brahmana, 2001). Sistem kekerabatan ini dikenal dengan istilah merga silima, tutur siwaluh, rakut sitelu perkaden-kaden sepuluh dua tambah sada. Dari sistem kekerabatan itu orang Karo mengenal falsafah hidup mehamat man kalimbubu,metenget man senina dan metami man anak beru (Ginting, 2014). Falsafah ini mengatur masyarakat Karo bagaimana berhubungan dengan orang lain yang tidak bermarga sama ataupun yang semarga. Sistem kekerabatan ini bisa membuat mereka saling tolong-menolong. Bagi masyarakat Karo yang memiliki marga yang sama, akan cenderung ingin menolong, karena dia merasa orang tersebut adalah keluarganya. Dan apabila tidak semarga akan dilihat dari marga yang sama dengan anggota keluarga lain. Keadaan seperti terlihat bahwa masyarakat Karo banyak yang

external dalam berhubungan dengan orang lain. Hal ini juga didukung dari sifat masyarakat Karo yang suka membantu dan menolong.

Suku Karo memiliki falsafah hidup lain yang dianut dan bisa mempengaruhi pola pikir atau persepsinya, yaitu tabah dan rajin (Ginting, 2014). Falsafah ini membuat mereka bisa membuka lahan untuk bertani dan mendapatkan hasil untuk dijual. Dan juga bisa bertahan dalam keadaan-keadaan yang sulit. Falsafah ini bisa menunjukkan bahwa masyarakat Karo stabale dalam mempersepsikan kesusahan yang dia alami. Serta falsafah mehangke (Ginting, 2014), yang menyebutkan bahwa masyarakat karo akan menjadi malu jika minta bantuan kepada orang lain atau pun keluarga. falsafah ini bisa menunjukkan bahwa masyarakat Karo global dalam mempersepsikan dampak buruk dari perbuatan yang dianggap tidak baik.

Dari uraian tersebut penelitian ini ingin melihat gambaran explanatory style penyintas erupsi Gunung Sinabung yang berada di pengungsian.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar belakang

Bencana alam merupakan sesuatu yang tidak bisa diprediksi dan tidak bisa dikontrol, merupakan peristiwa yang sering terjadi dan tidak diragukan lagi akan terjadi (Nickerson 2008), dan hal ini dapat mengancam kelangsungan hidup individu melalui kehancuran lingkungan fisik dan psikologis (Rice, 1992). Bencana alam yang terjadi salah satunya bencana alam erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo. Gunung Sinabung pertama sekali meletus pada tahun 2010 setelah hampir 200 tahun tidak pernah menunjukkan aktivitas vulkanologi (Surono,2013). Pada tahun 2013, gunung Sinabung kembali meletus dan terus meletus hingga saat ini ( Ginting, 2016 ).

Bencana alam erupsi Gunung Sinabung yang terjadi pada tahun 2013 mengakibatkan masyarakat di daerah sekitar gunung tersebut harus mengantisipasi kondisi terburuk yang akan terjadi. Letusan Gunung Sinabung naik hingga level 4 (awas) pada tanggal 3 Januari 2014, status ini menyebabkan para masyarakat di daerah berbahaya, dalam radius yang ditentukan para ahli bencana alam, harus diungsikan (Wikipedia, 2015). Mereka harus merelakan sementara rumah mereka untuk tidak ditempati dan meninggalkan semua barang-barang yang ada dirumah mereka. Mereka membawa barang-barang-barang-barang yang mungkin mereka bawa ke pengungsian. Hasil observasi peneliti tahun 2015

membawa pakaian-pakaian mereka, beberapa peralatan makan (seperti botol susu bayi, piring kecil bayi, panci kecil ), serta alat elektronik (seperti telepon genggam).

Sejak awal Gunung Sinabung aktif dan meletus, menyebabkan masyarakat di sekitara gunung perlu mengungsi. Pengungsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki kata dasar “ungsi” dan membentuk kata kerja mengungsi yang artinya pergi menghindarkan (menyingkirkan) diri dari bahaya atau menyelamatkan diri (ke tempat yang dirasa aman), pengungsi adalah orang yang mengungsi, dan pengungsian adalah tempat mengungsi. Pada tahun 2015 masyarakat yang masih mengungsi adalah yang berasal dari tujuh desa yang kemudian direkomendasikan untuk direlokasi, yaitu warga Desa Sukameriah, Desa Berkerah, Desa Simacem, Desa Gurukinayan, Desa Kuta Tonggal, Desa Berastepu, dan Desa Gamber (Akuntono, 2015).

Bencana alam dapat berdampak kepada fisik dan psikis. Dampak fisik terlihat dari pakaian mereka yang kotor, terkena gangguan kesehatan seperti diare dan demam. Kondisi ini masih ditemukan pada pengungsi erupsi Gunung Sinabung seperti dipaparkan oleh hasil wawancara dengan ibu AS di GBKP simpang VI Kabanjahe, sebagai berikut.

“kayak gini kami kan gak ada obat-obatan, gizi buat anak-anak, lansia. Kalau kami yang masih muda, gak pun gak apa-apalah. Kadang-kadang kami berobat, ada obat disana tapi kurang. Tapi kek anakku la kemarin sakit, harus bawa keluar. Disini ada antalgin, kan gak mungkin dikasih antalgin buat anak-anak, setidaknya ada paracetamol buat anak-anak, yang kami perlukan gak ada disitu.

Sudah dibilangkan ke penanggungjawab posko, tapi sampai sekarang gak ada tindakan.”

(Wawancara Personal, 12 Desember 2015, 16:54 WIB)

Wawancara personal kedua dilakukan dengan ibu NG di GBKP simpang 6 Kabanjahe yang menggambarkan bahwa pengungsi memiliki masalah di dalam pengungsian. Pengungsi tinggal didalam aula di lantai dua, mereka terpaksa tinggal bersama-sama di keramaian dan berdesak-desakkan. Mereka sudah mencoba untuk tinggal kerumah kerabat yang mereka kenal, namun tidak mendapat hasil yang mereka harapkan, karena para karabat masih memiliki keluarga sendiri untuk dinafkahi dan mereka juga tidak tahu harus tinggal berapa lama. Pemimpin posko juga memarahi mereka karena ketidakbersihan mereka dalam menjaga tempat pengungsian. Dari hasil wawancara menyebutkan bahwa mereka tidak tahu harus bagaimana menjaga kebersihan tempat pengungsian tersebut, sedangkan pasokan air kurang dan sering telat datang. Meskipunn begitu NG menerima keadaan dalam pengungsian sebagai cobaan dari Allah.

“sebenarnya disini enak, tapi kekmanala namanya anak-anak, kami pun kamar mandi kurang, kamar mandi cuman dua. Kami jumlahnya 425 orang, antri. Jadi kadang-kadang namanya anak-anak kan, disini kotoran disana kotoran. Kek hari itu gak ada air, 2 hari baru ada air, jadi disitu kami nyuci piring 3 biji. Kurang ajar kelen semua, udah gag terpimpin kelen semua, kata pemimpin posko ini. Karena air gag ada jadi kami nyuci piring disitu, dimanapun kelen jorokin katanya. Kami pun hidup seperti ini, apaboleh buat, Allah nya yang ngatur itu semua, terima aja apa adanya.”

(Wawancara personal, 12 Desember 2015, 16:41 WIB)

keterbatasan, seperti terbatas akan makanan sehat, obat – obatan, serta air bersih. Keadaan seperti ini bisa membuat mereka tak mampu untuk melakukan apa – apa, selain menunggu bantuan datang. Keadaan yang tidak mampu berbuat apa – apa ini bisa membuat para penyintas stress atau bahkan depresi. Keadaan yang seperti ini disebut Seligman sebagai learned helplessness, yaitu kondisi yang

Dokumen terkait