BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.3. Saran
Beberapa saran yang dapat dikemukakan peneliti berkaitan dengan hasil
penelitian ini antara lain:
1. Hasil penelitian menunjukkan inventory turnover dan total assets
turnover berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas, jadi jika
perusahaan ingin meningkatkan laba operasi disarankan untuk
mengelola persediaan dan seluruh aktiva seefektif dan seefesien
mungkin.
2. Hasil koefisien determinansi pada model menunjukkan bahwa
kontribusi variabel bebas inventory turnover dan total assets turnover
hanya 35,9% menjelaskan nilai profitabilitas, maka bagi peneliti
selanjutnya yang tertarik untuk melakukan penelitian sejenis, dapat
menambahkan variabel bebas lain yang dapat dipakai untuk
memprediksi tingkat profitabilitas dan memperbanyak periode yang
digunakan dalam penelitiannya agar penelitian dapat lebih
digeneralisasi dan memberikan kesimpulan yang lebih baik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Uraian Teoritis
2.1.1 Pengertian dan Tujuan Laporan Keuangan
Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengkomunikasikan data keuangan atau aktivitas perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan (Hery, 2012:3).
Sedangkan menurut Brigham dan Houston (2001:36), laporan keuangan adalah beberapa lembar kertas yang bertuliskan angka-angka, tetapi sangat penting juga untuk memikirkan aktiva riil di balik angka-angka tersebut.
Tujuan khusus laporan keuangan menurut Hery (2012:3) adalah menyajikan secara wajar dan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum mengenai posisi keuangan, hasil usaha, dan perubahan lain dalam posisi keuangan. Sedangkan dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dijelaskan bahwa tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
2.1.2 Analisis Laporan Keuangan
Analisis laporan keuangan menurut Van Horne dan Wachowics (2012:154) adalah seni untuk mengubah data dari laporan keuangan ke informasi yang berguna bagi pengambilan keputusan. Berdasarkan Hery (2012:17) terdapat tiga analisis laporan keuangan, yaitu :
1. Analisis laporan keuangan komparatif
Analisis laporan keuangan komparatif dilakukan dengan cara menelaah neraca, laporan laba rugi, atau laporan arus kas secara berurutan dari satu periode ke periode berikutnya. Analisis ini meliputi penelaahan atas perubahan saldo tiap-tiap akun dari tahun yang satu ke tahun berikutnya, atau selama beberapa tahun.
2. Analisis laporan keuangan common-size
Dalam laporan keuangan common-size, seluruh akun dinyatakan dalam persentase dan tidak ditunjukkan jumlah moneternya. Dalam analisis neraca, total aktiva atau total kewajiban ditambah total ekuitas dinyatakan sebagai 100 persen. Akun-akun yang ada dalam kelompok ini selanjutnya akan dinyatakan sebesar persentase tertentu dari total jumlah kelompok bersangkutan.
3. Analisis Rasio
Analisis rasio merupakan operasi aritmatika sederhana yang memerlukan interpretasi yang tidak mudah. Agar hasil perhitungan rasio menjadi bermakna, sebuah rasio sebaiknya mengacu pada hubungan ekonomis yang penting.
2.1.3 Rasio Keuangan
Rasio keuangan adalah salah satu untuk menilai kinerja dan
kondisi keuangan perusahaan (Sawir, 2009:6). Sedangkan menurut Van
Horne dan Wachowics (2012:190) rasio keuangan adalah alat yang
digunakan untuk menganalisis kondisi keuangan dan kinerja perusahaan.
Menurut Van Horne dan Wachowics (2012:190) terdapat lima jenis
rasio dasar, yaitu:
1. Rasio likuiditas
2. Rasio utang (leverage)
3. Cakupan (coverage)
4. Rasio aktivitas
5. Rasio profitabilitas
2.1.4 Rasio AktivitasRasio aktivitas mengukur keefektifitasan perusahaan dalam mengelola aktivanya (Martono dan Harjito, 2001:56,59). Hal tersebut sejalan dengan pendapat Van Horne dan Wachowics (2012:172) bahwa rasio aktivitas adalah rasio yang mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan berbagai asetnya.
Terdapat tiga rasio aktivitas yang dapat digunakan,yaitu :
1. Total Assets Turnover 2. Inventory Turnover
3. Account Receivable Turnover 2.1.5 Aktiva
Menurut Niswonger, Fess dan Warren aktiva adalah harta yang dimiliki oleh perusahaan (1992:20). Dalam pengertian aktiva tidak terbatas pada kekayaan perusahaan yang berwujud saja, tetapi termasuk juga pengeluaran –
pengeluaran yang belum dialokasikan (deffered charges) atau biaya yang masih harus dialokasikan pada penghasilan yang akan datang, serta aktiva yang tidak berwujud lainnya (intangible assets) misalnya goodwill, hak patent, hak menerbitkan dan sebagainya (Munawir, 2000:14).
Pada dasarnya aktiva dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu :
1. Aktiva lancar 2. Aktiva tidak lancar
Menurut Munawir (2000:14) menyatakan aktiva lancar adalah uang kas dan aktiva lainnya yang dapat diharapkan untuk dicairkan atau ditukarkan menjadi uang tunai, dijual atau dikonsumsi dalam periode berikutnya (paling lama satu tahun atau dalam perputaran kegiatan perusahaan yang normal).
Menurut Munawir (2000:16) menyatakan bahwa aktiva tidak lancar adalah aktiva yang mempunyai umur kegunaan relatif permanen atau jangka panjang (mempunyai umur ekonomis lebih dari satu tahun atau tidak akan habis dalam satu kali perputaran operasi perusahaan).
2.1.6 Total Assets Turnover
Perputaran total aset (total assets turnover) merupakan rasio yang
menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan keseluruhan aset perusahaan
dalam menghasilkan volume penjualan tertentu (Syamsuddin, 2009:19).
Total assets turnover ratio diukur dari volume penjualan, artinya
rasio ini mengukur kemampuan seluruh aktiva yang dimiliki oleh
perusahaan untuk menciptakan penjualan, semakin tinggi rasio ini berarti
semakin baik. Apabila total assets turnover pada jumlah total aktiva
yang sama meningkat artinya penjualan meningkat, hal ini menunjukkan
semakin efisien pemanfaatan total aktiva untuk meningkatkan penjualan.
Total assets turnover ratio dapat dirumuskan sebagai berikut (Harahap,
2007:309):
2.1.7 Persediaan
Ikatan Akuntan Indonesia (2007:14.1) menyatakan bahwa
persediaan adalah aset yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha
normal, aset dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan, atau
dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan
dalam proses produksi atau pemberian jasa.
Persediaan merupakan sejumlah barang atau bahan yang dimiliki
oleh suatu perusahaan yang tujuannya untuk dijual ataupun diolah
kembali (Sutrisno, 2000:103).
Persediaan dapat dibagi atas tiga jenis, yaitu bahan baku, barang
dalam proses dan barang jadi.
2.1.8 Inventory Turnover
Menurut Van Horne dan Wachowics (2012:191) inventory turnover mengukur berapa banyak persediaan berputar (dijual) selama tahun terkait, memberikan pandangan mengenai likuiditas persediaan dan kecenderungan kelebihan persediaan. Semakin banyak pergantian persediaan dalam satu periode akan semakin baik, karena banyaknya pergantian persediaan tersebut menunjukkan kualitas penjualan suatu perusahaan. Perputaran persediaan
(inventory turnover) mengukur berapa kali jumlah persediaan dijual dan diganti dalam satu periode.
Inventory Turnover dapat dirumuskan sebagai berikut (Harahap, 2007:308) :
Rata – rata persediaan dapat dihitung dengan rumus :
2.1.9 Rasio Profitabilitas
Menurut Van Horne dan Wachowics (2012:180) rasio profitabilitas adalah rasio yang menghubungkan laba dengan penjualan dan investasi. Sedangkan menurut Harahap (2007:304) rasio profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang, dan sebagainya.
Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dengan seluruh modal yang dipergunakan dalam suatu periode tertentu, dan untuk mengetahui apakah suatu perusahaan telah menggunakan modalnya secara produktif dan efesien atau belum, hal ini dilihat dengan menggunakan analisis profitabilitas (Munawir, 2000:165).
Berdasarkan Hery (2012:23) analisis profitabilitas terbagi atas :
Rasio yang digunakan untuk menilai kompensasi finansial atas penggunaan aktiva atau ekuitas terhadap laba.
2. Rasio kinerja operasi
Rasio yang digunakan untuk mengevaluasi marjin laba dari aktivitas operasi (penjualan).
3. Rasio pemanfaatan aktiva
Rasio yang digunakan untuk menilai efektifitas dan intensitas aktiva dalam menghasilkan penjualan, yang disebut juga sebagai perputaran.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan rasio marjin laba kotor (gross profit margin) sebagai ukuran rasio profitabilitas. Gross profit margin merupakan bagian dari rasio kinerja operasi (Hery, 2012:24). Peneliti menggunakan rasio gross profit margin sebagai ukuran rasio profitabilitas karena peneliti ingin mendapatkan hasil yang menunjukkan pengaruh langsung terhadap penjualan tanpa adanya pengaruh dari faktor-faktor lain.
Gross profit margin merupakan persentase laba kotor dibandingkan dengan sales. Semakin besar gross profit margin semakin baik keadaan operasi perusahaan, karena hal ini menunjukkan bahwa harga pokok penjualan relatif lebih rendah dibandingkan dengan sales, demikian pula sebaliknya, semakin rendah gross profit margin semakin kurang baik operasi perusahaan (Syamsuddin, 2009:61).
Gross profit margin dapat dirumuskan (Hery, 2012:24) sebagai berikut:
2.2 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
Peneliti Judul Variabel Kesimpulan
Ellys
(2009)
Pengaruh Perputaran
Persediaan Terhadap
Tingkat Profitabilitas
Perusahaan Pada
Perusahaan Otomotif yang
Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia
Perputaran
Persediaan,
Rentabilitas
Ekonomi
perputaran
persediaan tidak
memiliki pengaruh
yang signifikan
terhadap
profitabilitas
Fitry
(2010)
Analisis Hubungan
Receivable Turnover Ratio,
Inventory Turnover Ratio,
dan Total Asset Turnover
Ratio dengan
Kemampulabaan
Perusahaan pada PTPN III
(Persero) Medan
Receivable
Turnover
Ratio,
Inventory
Turnover
Ratio, Total
Asset
Turnover
Ratio,
kemampula
baan
perusahaan
inventory turnover
ratio tidak
berhubungan secara
signifikan dengan
Return on
Investment (ROI),
total asset turnover
ratio tidak
berhubungan secara
signifikan dengan
Return on
Investment (ROI)
Hotma
(2011)
Analisis Hubungan
Perputaran Modal Kerja dan
Perputaran
Total Aktiva Terhadap
Return on Assets Pada
Perusahaan Kosmetik dan
Barang Keperluan Rumah
Tangga yang Terdaftar di
Bursa Efek Indonesia
Perputaran
Modal
Kerja,
Perputaran
Total
Aktiva,
Return on
Assets
total assets
turnover tidak
berpengaruh
signifikan terhadap
return on assets
Sumber : Hasil Olahan Peneliti, 2013
Adapun persamaan dan perbedaan penelitian ini dengan penelitian–penelitian sebelumnya adalah:
Tabel 2.2
Persamaan dan perbedaan penelitian dengan penelitian terdahulu
Persamaan Perbedaan
Variabel yang digunakan berdasarkan penelitian– penelitian sebelumnya yaitu Inventory Turnover, Total Assets Turnover dan Profitabilitas
Jangka waktu penelitian 3 tahun dari tahun 2009 -2011.
Pengukuran profitabilitas menggunakan Gross Profit Margin
Sumber : Hasil Olahan Peneliti, 2013
2.3 Kerangka Konseptual
Dalam penelitian ini, dilakukan terhadap 2 (dua) variabel rasio aktivitas yang diduga berpengaruh terhadap Profitabilitas pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Adapun variabel rasio aktivitas yang diprediksikan berpengaruh terhadap Profitabilitas pada Perusahaan Manufaktur adalah Inventory Turnover dan Total Assets Turnover.
Berdasarkan uraian di atas, hubungan masing-masing variabel independen terhadap Profitabilitas dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Hubungan Inventory Turnover terhadap Profitabilitas
Persediaan merupakan salah satu aset yang paling penting dalam kebanyakan bisnis, karena persediaan merupakan salah satu sumber utama untuk menciptakan pendapatan dan laba generasi berikutnya. Saat persediaan terjual maka perusahaan akan mendapat kas yang dapat digunakan untuk membeli persediaan kembali. Semakin cepat persediaan terjual maka akan semakin cepat pula perusahaan dapat membeli persediaan baru untuk dijual.
Tingkat inventory turnover yang tinggi menunjukkan persediaan telah berganti berulang kali, yang berarti persediaan telah banyak terjual, hal ini
berdampak terhadap perkembangan volume penjualan perusahaan. Semakin banyak persediaan terjual maka semakin besar pula volume penjualan, yang juga meningkatkan laba yang didapat, sehingga dengan memaksimalkan inventory turnover (perputaran persediaan) perusahaan dapat memaksimalkan laba yang diperoleh.
2. Hubungan Total Assets Turnover terhadap Profitabilitas
Aktiva digunakan oleh perusahaan dalam upaya memperoleh laba. Oleh sebab itu apabila perusahaan dapat memanfaatkan aktiva secara maksimal maka perusahaan dapat memperoleh laba yang maksimal. Total assets turnover digunakan untuk mengukur efektifitas penggunaan seluruh aktiva perusahaan untuk menghasilkan penjualan. Semakin tinggi tingkat Total assets turnover berarti semakin efektif penggunaan seluruh aktiva untuk menghasilkan penjualan, sehingga laba yang didapat pun semakin maksimal.
Gambar 2.1
Model Analisis Pengaruh Inventory Turnover dan Total Assets Turnover Terhadap Profitabilitas Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar
di Bursa Efek Indonesia
H1
H2
H3
Sumber : Hasil Olahan Peneliti, 2013
Berdasarkan model pada Gambar 2.1. tersebut menunjukkan bahwa variable independen terdiri dari Inventory Turnover (X1) dan Total Assets Turnover (X2) dan variable dependennya Profitabilitas (Y).
Inventory Turnover (X1)
Profitabilitas
(Y)
Total Assets Turnover (X2)2.4 Hipotesis
Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: H1 : Diduga bahwa variabel independen Inventory Turnover (X1) secara parsial
mempunyai pengaruh signifikan terhadap Profitabilitas (Y) pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009- 2011.
H2 : Diduga bahwa variabel independen Total Assets Turnover (X2) secara parsial mempunyai pengaruh signifikan terhadap Profitabilitas (Y) pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009- 2011.
H3 : Diduga bahwa variabel-variabel independen Inventory Turnover (X1) dan Total Assets Turnover (X2) secara bersama-sama mempunyai pengaruh signifikan terhadap Profitabilitas (Y) pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009- 2011.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
Perusahaan merupakan suatu organisasi yang mengelola sumber daya (input) untuk menghasilkan barang atau jasa (output) kepada pelanggan. Hampir semua perusahaan mempunyai tujuan yang sama, yaitu menghasilkan laba. Penting bagi perusahaan untuk memaksimalkan laba dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan.
Untuk memaksimalkan laba perusahaan diperlukan kemampuan dalam mempergunakan sumber daya secara efektif dan efisien. Efektif yang berarti perusahaan dapat mencapai tujuannya, sedangkan efisien berarti perusahaan tidak mengeluarkan biaya yang tidak berguna dalam mencapai tujuan. Efisiensi perusahaan dapat dilihat dengan membandingkan laba yang dihasilkan perusahaan dengan modal yang digunakan untuk menghasilkannya.
Rasio aktivitas mengukur keefektifitasan perusahaan dalam mengelola aktivanya (Martono dan Harjito, 2001:56,59). Rasio aktivitas yang dapat digunakan diantaranya rasio perputaran persediaan (inventory turnover ratio), dan rasio perputaran total aktiva (total assets turnover ratio).
Persediaan adalah barang dagang yang disimpan untuk dijual dalam operasi normal perusahaan, dan bahan yang terdapat dalam proses produksi atau yang disimpan untuk tujuan itu (Niswonger, Fess dan Warren, 1992:388). Memiliki jumlah persediaan yang tinggi untuk jangka waktu yang lama biasanya tidak baik untuk
bisnis karena akan menyebabkan perusahaan perlu mengeluarkan biaya penyimpanan, usang dan kerusakan. Namun, memiliki persediaan terlalu sedikit juga tidak baik, karena dapat menyebabkan resiko kehilangan penjualan yang potensial.
Keefesiensian persediaan dapat dilihat dari berapa kali persediaan diganti dalam satu periode. Inventory turnover menunjukkan kemampuan dana yang tertanam dalam inventory berputar dalam suatu periode tertentu, atau likuiditas dari inventory dan tendensi untuk adanya overstock (Riyanto, 2008:334)
Perputaran total aset (total assets turnover) merupakan rasio yang menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan keseluruhan aset perusahaan dalam menghasilkan volume penjualan tertentu (Syamsuddin, 2009:19). Total assets turnover yang cepat berarti seluruh aktiva perusahaan dimanfaatkan secara efisien dalam menghasilkan penjualan untuk meraih laba. Jumlah aktiva yang sama dapat menghasilkan laba yang lebih besar dengan meningkatkan total assets turnover.
Rasio profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang, dan sebagainya (Harahap, 2007:304). Rasio profitabilitas yang dapat digunakan untuk mengukur profitabilitas salah satunya adalah gross profit margin.
Gross profit margin merupakan persentase laba kotor dibandingkan dengan penjualan. Semakin besar gross profit margin maka semakin baik keadaan operasi perusahaan, karena hal ini menunjukkan bahwa harga pokok penjualan relatif lebih rendah dibandingkan dengan penjualan, demikian pula sebaliknya, semakin rendah gross profit margin semakin kurang baik operasi perusahaan (Syamsuddin, 2009:61).
Perusahaan manufaktur merupakan perusahaan yang kegiatan usahanya adalah membeli bahan baku dan memprosesnya menjadi barang jadi yang kemudian dijual kepada pelanggan. Karena kegiatannya mencakup memproses bahan baku untuk dijadikan barang jadi untuk dijual, perusahaan manufaktur sangat erat kaitannya dengan perputaran persediaan (inventory turnover) dan perputaran total aset (total assets turnover) sebagai ukuran dalam pemanfaatan aktivanya.
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti melakukan penelitian dengan judul
“Pengaruh Inventory Turnover dan Total Assets Turnover Terhadap
Profitabilitas Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2009-2011”.
1.2 PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang telah dipaparkan, dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :
1. Apakah variabel independen Inventory Turnover secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen Profitabilitas pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2011.
2. Apakah variabel independen Total Assets Turnover secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen Profitabilitas pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2011.
3. Apakah variabel-variabel independen Inventory Turnover dan Total Assets Turnover secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
variabel dependen Profitabilitas pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2011.
1.3 TUJUAN PENELITIAN
Bertolak pada latar belakang permasalahan diatas maka tujuan dari diadakannya penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel independen Inventory Turnover secara parsial terhadap variabel dependen Profitabilitas pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2011.
2. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel independen Total Assets Turnover secara parsial terhadap variabel dependen Profitabilitas pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2011.
3. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel-variabel independen Inventory Turnover dan Total Assets Turnover secara bersama-sama terhadap variabel dependen Profitabilitas pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2011.
1.4 MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi Investor
Bagi investor, hasil dari penelitian ini dapat membantu mereka dalam menentukan apakah akan menjual, membeli, ataukah menahan saham yang mereka miliki berkenaan dengan prospek profitabilitas perusahaan.
2. Bagi Perusahaan
Sebagai informasi tambahan tentang pengaruh inventory turnover dan total assets turnover terhadap profitabilitas, yang dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk pengambilan keputusan di masa depan.
3. Bagi Peneliti dan Peneliti Selanjutnya
Bagi peneliti sendiri, penelitian ini dapat menambah ilmu pengetahuan serta wawasan tentang pengaruh inventory turnover dan total assets turnover terhadap profitabilitas.
Bagi peneliti selanjutnya, hasil dari penelitian ini bisa dijadikan dasar dan juga bisa dikembangkan secara luas lagi dengan mengambil faktor-faktor lainnya yang berpengaruh terhadap profitabilitas.