• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

Dari penelitian yang telah dilakukan maka disarankan untuk melakukan : a. Pengujian efek relaksasi ekstrak etanol daun titanus terhadap organ

terisolasi lain seperti trakea, jantung dan otot rangka serta pengujian secara in vivo.

b. Pengujian lebih lanjut tentang mekanisme efek ekstrak dalam merelaksasikan otot polos ileum marmut terisolasi.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Tumbuhan

Uraian tumbuhan meliputi morfologi tumbuhan, nama asing, sistematika, manfaat dan kandungan kimia.

2.1.1 Morfologi Tumbuhan

Tumbuhan Leea aequata L. merupakan tumbuhan perdu, tahunan, tingginya 1,5–3 m. Batang tumbuhan ini berkayu, bercabang, bentuk bulat , masih muda berambut dan hijau. Daun tumbuhan majemuk, anak daun lanset, bertangkai pendek, tepi daun bergerigi, ujung daun runcing, pangkal membulat, panjangnya 6-25 cm, lebarnya 3-8 cm, berambut dan berwarna hijau. Bunga tumbuhan majemuk, bentuk malai, kelopak bulat telur, panjang 2-5 cm, kuning keputih- putihan. Buahnya berbentuk bulat, diameter ± 12 mm, masih muda hijau dan setelah tua ungu kehitaman dengan biji kecil, bentuk segitiga, dan berwarna putih kekuningan. Tumbuhan ini termasuk tumbuhan berakar tunggal dengan warna coklat muda (Depkes RI, 2001).

2.1.2 Nama Asing

Leea aequata L. memiliki nama lain seperti : ginggiyang (Sunda), girang (Jawa Tengah), jirang (Madura), kayu ajer perempuan (Melayu), mali-mali (Makassar), uka (Maluku), uka (Buru) (Depkes RI, 2001).

9 2.1.3 Sistematika Tumbuhan

Klasifikasi tumbuhan titanus adalah sebagai berikut (Depkes RI, 2001: LIPI, 2015) : Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Kelas : Dicotyledonae Bangsa : Rhamnales Suku : Leeaceae Marga : Leea

Jenis : Leea aequata L. 2.1.4 Manfaat Tumbuhan

Daun Leea aequata L. berkhasiat sebagai obat luka baru dan pegal linu. Untuk obat luka baru dipakai ±30 gram daun segar Leea aequata L., dicuci, ditumbuk sampai lumat, ditempelkan pada luka dan dibalut dengan kain bersih (Depkes RI, 2001).

2.1.5 Kandungan Kimia

Biji Leea aequata L. mengandung saponin, flavonoid dan polifenol (Depkes RI, 2001). Malinda (2015) melporkan bahwa daun Leea aequata L. mengandung alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, tanin dan steroid/triterpenoid.

2.2 Simplisia

Simplisia adalah bahan alam yang digunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga, kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang

telah dikeringkan. Simplisia terbagi atas simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia mineral. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman dan eksudat tanaman (Depkes RI, 1979).

2.3 Ekstraksi

Ekstraksi merupakan istilah umum yang digunakan dalam bidang farmasi, yang berkaitan dengan pemisahan bahan aktif yang berkhasiat pada tumbuhan atau jaringan hewan dari komponen yang tidak aktif dengan menggunakan pelarut selektif menggunakan prosedur standard ekstraksi (Handa, dkk., 2008).

Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Depkes RI, 1995).

Ekstraksi dengan menggunakan pelarut dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :

a) Cara dingin 1. Maserasi

Maserasi adalah cara penarikan simplisia dengan merendam simplisia tersebut dalam cairan penyari dengan beberapa kali pengocokkan atau pengadukkan pada temperatur kamar sedangkan remaserasi merupakan pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama dan seterusnya (Depkes RI, 2000).

11 2. Perkolasi

Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai terjadi penyarian sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur kamar (Depkes RI, 2000).

b) Cara panas 1. Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Depkes RI, 2000).

2. Sokletasi

Sokletasi adalah ekstraksi kontinu menggunakan alat soklet, dimana pelarut akan terdestilasi dari labu menuju pendingin, kemudian jatuh membasahi dan merendam sampel dalam tabung soklet, kemudian setelah pelarut mencapai tinggi tertentu maka akan turun ke labu destilasi seterkah melewati pipa sifon, demikian berulang-ulang (Depkes RI, 2000).

3. Digesti

Digesti adalah maserasi dengan pengadukan kontinu pada temperatur yang lebih tinggi dari temperatur ruangan yaitu secara umum secara umum dilakukan pada temperature 40-50o C (Depkes RI, 2000). 4. Infudasi

Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air pada suhu 90o C selama 15 menit (Depkes RI, 2000).

5. Dekoktasi

Dekok adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air pada waktu yang lebih lama ±30 menit dengan temperature sampai titik didih air (Depkes RI, 2000).

2.4 Metode Organ Terisolasi

Organ terisolasi adalah suatu metode percobaan in vitro.Pada prinsipnya adalah menggunakan organ yang terendam dalam larutan fisiologis yang sesuai, temperatur diatur atau dikondisikan pada kondisi yang sama dari mana organ tersebut berasal serta pengaturan aliran oksigen. Percobaan organ terisolasi ini menggunakan alat organ bath (Perry, 1970).

Metode organ terisolasi merupakan metode klasik dalam percobaan farmakologi yang dapat digunakan untuk menganalisa hubungan dosis-respon suatu senyawa obat. Hasil penelitian Anas, dkk., (2010) mengatakan bahwa dengan metode ini, konsentrasi agonis dan antogonis reseptor pada tingkat jaringan dapat diketahui secara pasti. Metode ini mempunyai kemampuan dengan intensitas maksimum. Hal ini tidak sepenuhnya dapat dilakukan ketika menggunakan organisme utuh (pengujian secara in vivo). Selain itu, metode ini juga dapat mengukur konsentrasi agonis terkecil yang dapat menginduksi respon biologis.

Syamsudin dan Darmono (2011) melaporkan bahwa untuk mendapatkan hasil percobaan yang akurat, maka diperlukan persiapan yang baik dan seluruh percobaan harus betul-betul terkontrol. Hewan percobaan yang digunakan dibunuh tanpa dianastesi sehingga tidak mempengaruhi kontraktilitasnya. Organ

13

yang diambil segera dimasukkan kedalam cairan fisiologis dan dikontrol oksigenasinya dan dihubungkan ke tranducer dan diteruskan kealat pencatat misalnya, kymograph atau maclab komputer.

Organ yang umum digunakan dengan metode organ terisolasi mengunakan alat organ bath adalah uterus, usus halus, otot skeletal, vas deferens, jantung dan lambung (Kitchen, 1984).

2.5 Otot Polos

Otot polos terdiri dari sel-sel otot polos. Sel otot ini bentuknya seperti gelendong, dibagian tengah terbesar dan kedua ujungnya meruncing. Otot polos memiliki serat yang arahnya searah dengan panjang sel disebut myofibril. Serat myofibril terdiri dari miofilamen dan masing-masing miofilamen terdiri dari protein otot yaitu aktin dan myosin. Otot polos merupakan otot tak sadar, karena bekerja diluar kesadaran kita dan dipengaruhi oleh susunan saraf otonom (Irianto, 2004).

Otot polos bergerak secara lambat dan teratur dan tidak cepat lelah. Walapun kita tidur, otot polos mampu bekerja. Otot polos terdapat pada dinding alat-alat dalam tubuh, misalnya pada dinding usus, dinding pembuluh darah, pembuluh limfe, dinding saluran cerna, trakea dan cabang tenggorokan, pada iris dan muskularis sirliaris mata, otot polos dalam kulit, saluran kelamin dan saluran ekskresi (Irianto, 2004).

2.6 Persyarafan Sistem Percernaan

Ada dua sistem pencernaan yang memegang peranan penting dalam fungsi saluran pencernaan, yaitu sistem intrinsik yang terdiri atas sistem syaraf enterik dan sistem syaraf ekstrinsik yang terdiri atas sistem syaraf otonom parasimpatis dan simpatis.

2.6.1 Sistem Syaraf Intrinsik – Sistem Syaraf Enterik

Sistem syaraf ini terbentang didalam dinding saluran pencernaan mulai dari esophagus sampai ke anus. Sistem syaraf enterik terbagi atas dua pleksus, yaitu :

a) Pleksus mientrikus (pleksus Auerbach)

Pleksus ini terbentang diantara lapisan otot longitudinal dari lapisan otot sirkuler. Fungsinya mengontrol fungsi motorik saluran pencernaan.

b) Pleksus submukosa atau pleksus Meissner

Pleksus ini terbentang didalam lapisan submukosa. Fungsinya terutama untuk mengontrol kecepatan sekresi saluran pencernaan. Disamping itu, pleksus submukosa sangat berperan dalam mengendalikan aktivitas otot polos submukosa yang bila berkontraksi akan menimbulkan lipatan-lipatan pada mukosa saluran pencernaan serta meningkatkan absorbsi dan aliran darah disekitarnya (Herman, 2004).

2.6.2 Sistem Syaraf Ekstrinsik – Sistem Syaraf Otonom Sistem syaraf ekstrinsik terbagi menjadi dua, yaitu : a) Sistem syaraf parasimpatis

Neuron pascaganglion (postganglion neuron) sistem parasimpatis terletak didalam kedua pleksus sistem saraf enterik, yaitu pleksus mientrikus dan

15

pleksus submukosa. Ujung serat syaraf parasimpatis menyekresikan asetilkolin sebagai neurotransmitternya. Stimulasi parasimpatis pada umumnya menyebabkan peningkatan aktivitas sistem syaraf enterik yang selanjutnya meningkatkan aktivitas saluran pencernaan.

b) Sistem syaraf simpatis

Ujung serat syaraf simpatis menyekresikan neurotransmitter norepinefrin. Sistem syaraf ini merangsang sistem pencernaan melalui dua cara, yaitu:

1. Secara langsung pada otot polos saluran pencernaan

2. Secara tidak langsung, yaitu melalui neuron sistem syaraf enterik.

2.7 Usus Halus

Usus halus adalah tempat berlangsungnya sebagian besar pencernaan dan penyerapan. Usus ini berada dalam keadaan bergelung didalam rongga abdomen dan terentang dari lambung sampai usus besar. Usus halus dibagi menjadi tiga segmen, yaitu duodenum, jejunum dan ileum (Sherwood, 2001).

2.7.1 Histologi Usus Halus

Herman (2004) membagi lapisan dinding usus halus menjadi empat lapisan (Gambar 2.1), yaitu :

a) Lapisan serosa

Lapisan serosa adalah lapisan terluar dari dinding saluran pencernaan. Lapisan ini berupa suatu membran yang terdiri atas jaringan penyambung dan sel-sel epitel. Pada lapisan ini terdapat pembuluh darah dan syaraf yang berukuran lebih besar yang berjalan diantara jaringan penyambung dan jaringan lemak (adipose tissue) yang terdapat didaerah ini. Lapisan

serosa yang terletak dibawah diafragma (sekat rongga badan) ikut membentuk dan merupakan bagian dari peritoneum secara keseluruhan dan disebut peritoneum viseral.

b) Lapisan muskularis

Lapisan muskularis di dinding saluran pencernaan selain dari telah yang disebutkan diatas adalah berupa otot polos yang terdiri atas dua lapis. Lapisan sebelah dalam adalah lapisan sirkuler yang bila berkontraksi menyebabkan pengecilan diameter lumen saluran pencernaan. Lapisan sebelah luas adalah lapisan longitudinal yang bila berkontraksi menyebabkan pemendekan saluran pencernaan.

17 c) Lapisan submukosa

Lapisan submukosa terdiri atas jaringan penyambung areola yang mengikatkan lapisan mukosa kelapisan muskularis. Lapisan ini sangat kaya dengan pembuluh darah dan mengandung jaringan syaraf yang disebut pleksus submukosa atau disebut juga pleksus Meissner.

d) Lapisan mukosa

Lapisan mukosa merupakan lapisan terdalam dari dinding saluran pencernaan. Lapisan ini berbentuk membran (selaput) mukosa dan dibentuk oleh tiga komponen, yaitu lapisan epitel, lamina propiadan lapisan muskularis mukosa.

2.8 Saraf Kolinergik

Neurotransmitter yang memperantai penghantaran sinaptik saraf preganglion dan postganglion pada sistem parasimpatik adalah asetilkolin dan kemudian berinteraksi dengan reseptor asetilkolin nikotinik dan muskarinik pada sel organ efektor. Sistem parasimpatik dinamakan juga system saraf kolinergik karena neurotransmitter utamanya adalah asetilkolin (Nugroho, 2012).

Saraf yang mensintesis dan melepaskan asetilkolin disebut saraf kolinergik, yakni saraf praganglion simpatis dan parasimpatis, saraf pascaganglion parasimpatis dan saraf somatik yang mempersarafi otot rangka. Perbedaan mendasar antara saraf parasimpatis dan simpatis adalah saraf parasimpatis berperan dalam fungsi konservasi dan reservasi sedangkan saraf simpatis berfungsi mempertahankan diri terhadap tantangan dari luar tubuh yang dikenal dengan bertempur dan berlari (fight or flight reaction) (Setiawan dan Gan, 2007).

Ada berbagai reseptor kolinergik, yakni reseptor nikotinik dan reseptor muskarinik dan berbagai subtipenya.

2.8.1 Reseptor Muskarinik

Reseptor muskarinik terdistribusi luas diseluruh tubuh dan mendukung berbagai fungsi vital, diotak, sistem saraf otonom terutama saraf parasimpatis. Reseptor muskarinik merupakan reseptor yang terhubung dengan protein G, terdiri dari 5 subtipe yaitu : M1, M2, M3, M4 dan M5. Respon yang timbul dari aktivasi reseptor muskarinik oleh asetilkolin dapat berbeda, tergantung pada subtipe reseptor dan lokasinya (Rahardjo, 2009). Reseptor M1 ditemukan di sel parietal lambung, reseptor M2 di otot jantung dan otot polos, reseptor M3 dikandung kemih, kelenjar eksokrin dan otot polos sedangkan M4 dan M5 belum diketahui. Reseptor M3 memainkan peran dalam regulasi kontraksi otot polos seperti pada usus dan bronkiolus, dimana aktivasinya akan menyebabkan stimulasi phospolidase C, membrane depolarisasi dan meningkatkan kontraksi otot polos (Lullmann, 2000; Nugroho, 2012).

Tabel 2.1 Tipe reseptor muskarinik ( Harahap, dkk., 2015).

Subtipe Jaringan

M1 Gangion otonom

M2 Miokardium, otot polos

M3 Otot polos, kelenjar sekretori

M4 -

19 2.8.2 Reseptor Nikotinik

Reseptor nikotinik merupakan reseptor yang terhubung dengan kanal ion dan terdiri dari empat subunit yaitu α1, α2, β dan δ yang masing masing berkontribusi membentuk kanal ion dan memiliki tempat ikatan untuk molekul asetilkolin. Reseptor ini terdapat di neuromuscular junction, ganglion otonom, medula adrenal dan susunan saraf pusat (Rahardjo, 2009).

2.9 Agonis Muskarinik

Umumnya obat akan menghasilkan efeknya ketika berikatan dengan protein spesifik yang disebut dengan reseptor. Reseptor akan merespon senyawa kimia endogen pada tubuh seperti transmitter sinaps (contohnya asetilkolin, noradrenaline) atau hormon (contohnya endokrin, insulin). Adanya obat atau transmitter berikatan dengan reseptor dan menghasilkan respon berupa efek farmakologik disebut dengan agonis (Zunilda, 2007).

Agonis muskarinik dibedakan atas :

1. Asetilkolin dan ester kolin sintesis yaitu metakolin, karbakol dan dan betanekol.

2. Alkaloid kolinergik yang terdapat dialam yaitu muskarin, pilokarpin dan arekolin beserta senyawa sintesisnya (Zunilda, 2007).

Asetilkolin hanya bermanfaat dalam penelitian dan tidak berguna secara klinis karna efeknya sangat luas di berbagai organ. Selain itu, kerjanya terlalu singkat karena segera dihancurkan oleh asetilkolinesterase atau butirilkolinesterase. Asetilkolinpun tidak dapat diberikan per oral, karena

dihidrolisis oleh asam lambung. Asetilkolin eksogen memperlihatkan efek yang sama dengan efek asetilkolin endogen. Secara umum efek farmakodinamik asetilkolin dibedakan atas dua golongan, yaitu efek terhadap kelenjar eksokrin dan otot polos yang disebut dengan efek muskarinik dan efek terhadap ganglion (simpatis dan parasimpatis), kelenjar adrenal dan otot rangka yang disebut efek nikotinik (Zunilda, 2007).

2.10 Antagonis Muskarinik

Antagonisme adalah suatu keadaan ketika efek dari satu obat menjadi berkurang atau hilang sama sekali yang disebabkan oleh keberadaan satu obat lainnya (Setiawati dan Gan, 2007). Zunilda (2007) mengelompokkan penghambat reseptor muskarinik atau antimuskarinik dalam tiga kelompok, yaitu :

1. Alkaloid antimuskarinik, atropin dan skopolamin 2. Derivat semisintesisnya

3. Derivat sintesis.

Atropin selektif menghambat reseptor muskarinik, tetapi pada dosis sangat besar atropin memperlihatkan efek penghambatan juga diganglion otonom dan otot rangka yang reseptornya nikotinik. Hambatan oleh atropin bersifat reversible dan dapat diatasi dengan pemberian asetilkolin dalam jumlah berlebih atau pemberian asetilkolinesterase. Atropin memblok asetilkolin endogen maupun eksogen, tetapi hambatannya jauh lebih kuat terhadap eksogen. Kepekaan reseptor muskarinik terhadap antimuskarinik juga berbeda antarorgan, atropin sendiri memiliki efek yang lebih kuat diperifer yaitu terhadap jantung, usus dan otot bronkus (Zunilda, 2007).

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di negara berkembang seperti Indonesia banyak sekali faktor-faktor pencetus penyebab terjadinya penyakit, penyebab utamanya yaitu kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat dan faktor ekonomi yang menyebabkan masyarakat yang kurang mampu tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk hidup ditempat yang bersih dan layak untuk ditinggali, serta ketidakmampuan masyarakat untuk membeli obat seiring dengan meningkatnya harga obat modern (Sundari, dkk., 2005).

Salah satu penyakit dengan tingkat kasus tinggi pada negara berkembang adalah tetanus. Tetanus merupakan salah satu penyebab yang berpotensi fatal yang ditandai dengan meningkatnya kekakuan dan kejang pada otot rangka. Salah satu bentuk manifestasi kejang adalah kontraksi yang terus menerus pada otot disebagian atau seluruh tubuh. Tetanus disebabkan oleh perubahan bentuk spora

bakteri Clostridium tetani. Kekakuan otot biasanya pertama melibatkan rahang (lockjaw) dan leher kemudian menjadi keseluruh tubuh (Tiwari, 2011).

Mekanisme kerja tetanus adalah dengan menghambat pelepasan inhibitory transmitter yaitu glysin pada sinaps sehingga excitatory transmitter akan lebih mendominasi pada sinaps, tingginya excitatory transmitter pada sinaps inilah yang akan meningkatkan kontraksi terus menerus sampai mengakibatkan kejang (goodman dan gilman, 2008; lullmann, 2000). Keseimbangan antara inhibitory transmitter dan excitatory transmitter pada transmisi sinaps sangat penting untuk

menjaga fungsi yang normal dari sistem syaraf. Adanya ketidakseimbangan antara inhibitory transmitter dan excitatory transmitter pada sinaps akan memunculkan masalah dalam tubuh. Contoh inhibitory transmitter adalah GABA, glysin, nitrit oxide dan excitatory transmitter adalah asetilkolin, histamine, norepinefrin.

Pada penelitian ini, untuk memperoleh peningkatan kontraksi pada otot adalah dengan pemberian excitatory transmitter yaitu asetilkolin klorida. Metode penelitian yang digunakan adalah metode organ terisolasi dan organ yang digunakan adalah otot polos ileum marmut. Reseptor asetilkolin klorida yang berperan dalam kontraksi otot polos ileum adalah muskarinik. Reseptor muskarinik telah diketahui memiliki lima subtype reseptor, yaitu M1 – M5 walaupun lokasi tepatnya dan seluruh fungsinya belum diketahui. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui tentang perbedaan subtype reseptor muskarinik. Pada saluran pencernaan usus terdapat kelima subtype reseptor (Abrams, et al., 2006).

Meningkatnya motilitas usus sebagai akibat kontraksi pada otot polos usus yang terjadi adalah akibat dari stimulasi asetilkolin yang mengaktifkan reseptor muskarinik (M1 dan M3) (Nugroho, 2012). Li, et al,. (2002); Matsui, et al., (2002) melaporkan bahwa data dari hasil penelitian pada hewan mengerat (rodentia) dan anjing menunjukkan bahwa reseptor muskarinik M3 paling menonjol untuk meningkatkan motilitas usus walaupun perbandingan jumlah reseptor M2 dan M4 adalah 4 : 1.

Salah satu pengobatan kejang otot adalah dengan pemberian antikonvulsan. Atropin sulfat adalah salah satu obat yang bekerja dengan antagonis muskarinik. Atropin sulfat digunakan sebagai preanestetik medikasi,

3

antispasmodik, antidotum untuk insektisida golongan organofosfat (Ditjen POM RI, 2012)

Indonesia terkenal sebagai negara yang memiliki jumlah tanaman obat yang beraneka ragam. Tanaman obat sudah dikenal sejak lama sebagai bahan pengobatan herbal (Suparni, 2012). Salah satu contoh tanaman obat ini adalah daun titanus (Leea aequata L.). Tumbuhan ini digunakan sebagai pengobatan tradisional untuk luka dan antitetanus di daerah Tanah Karo, Provinsi Sumatra Utara. Bagian tumbuhan titanus yang digunakan sebagai antitetanus didaerah Karo adalah daunnya. Khare (2007) mengatakan batang dan akarnya digunakan sebagai astringen, antelmentik, gangguan pencernaan, sakit kuning, demam kronis dan malaria. Daun dan rantingnya digunakan sebagai antiseptik dan mengobati luka.

Cara penggunaan obat tradisional daun titanus di Tanah Karo adalah dengan memasukkan serbuk daun ± 2 gram kedalam satu botol minuman beralkohol 20% yaitu samsu putih 250 ml. Penggunaannya adalah dengan mengambil satu sendok teh ekstrak daun tersebut dan dimasukkan kemulut penderita kejang akibat tetanus. Bila terkena luka akibat kecelakaan benda tumpul, ekstrak daun juga dapat dioleskan disekitar daerah yang terluka.

Berdasarkan hasil skrining fitokimia, tanaman Leea aequata L mengandung metabolit sekunder yaitu alkaloid, glikosida, steroid/terpenoid, flavonoid dan tanin. Ekstrak etanol daun titanus memiliki efek antibakteri terhadap Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis dan pseudomonas aeruginosa yang dilakukan dengan metode difusi agar menggunakan pencadang kertas (Malinda, 2015). Menurut Raihan, dkk., (2011) bahwa Leea indica yang

memiliki family yang sama yaitu leaceae memiliiki efek sedative yang kuat pada tikus.

Aktivitas farmakologi daun titanus dalam menurunkan kontraksi otot polos belum pernah diuji secara ilmiah dan dengan adanya penggunaan daun titanus secara tradisional sebagai antikejang secara turun temurun serta penelitian sebelumnya tentang karakterisasi dan pengujian antibakterinya. Peneliti tertarik untuk menguji aktivitas antikejang ekstrak etanol daun titanus terhadap ileum marmut terpisah secara in vitro mengggunakan alat organ bath.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat diambil perumusan masalah sebagai berikut:

a. Apakah ekstrak etanol daun titanus memiliki efek relaksasi terhadap kontraksi otot polos ileum marmut terisolasi secara in vitro yang diinduksi dengan asetilkolin klorida?

b. Apakah ekstrak etanol daun titanus pada konsentrasi tertentu memiliki kemampuan yang tidak jauh berbeda dengan atropin sulfat pada konsentrasi tertentu dalam menurunkan kontraksi otot polos ileum marmut terisolasi yang di induksi dengan asetilkolin klorida?

5

1.3 Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah diatas maka dibuat hipotesis analisis sebagai berikut:

a. Ekstrak etanol daun titanus memiliki efek relaksasi terhadap kontraksi otot polos ileum marmut terisolasi secara in vitro yang diinduksi dengan asetil kolin klorida.

b. Ekstrak etanol daun titanus pada konsentrasi tertentu memiliki kemampuan yang tidak jauh berbeda dengan atropin sulfat dalam menurunkan kontraksi otot polos ileum marmut terisolasi yang diinduksi dengan asetilkolin klorida.

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

a. Untuk mengetahui bahwa ekstrak etanol daun titanus memiliki efek relaksasi terhadap kontraksi otot polos ileum marmut terisolasi secara in vitro yang diinduksi dengan asetilkolin klorida.

b. Untuk membandingkan efek relaksasi ekstrak etanol daun titanus dengan atropin sulfat dalam menurunkan kontraksi otot polos ileum marmut terisolasi yang diinduksi dengan asetilkolin klorida.

1.5 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Hasil penelitian ini memberikan informasi berupa bukti ilmiah tentang antikejang ekstrak etanol daun titanus terhadap kontraksi otot polos ileum marmut terisolasi secara in vitro yang diinduksi dengan asetilkolin klorida. b. Hasil penelitian ini memberikan informasi perbandingan konsentrasi

ekstrak etanol daun titanus dengan atropin sulfat dalan menurunkan kontraksi otot polos ileum marmut terisolasi yang diinduksi dengan asetilkolin klorida.

7

1.6 Kerangka Pikir Penelitian

Kerangka pikir dalam penelitian ini dapat dilihat pada skema dibawah ini : Variabel Bebas Variabel Terikat Parameter

Gambar 1.1 Skema kerangka pikir penelitian Serbuk simplisia daun titanus Karakteristik simpplisia Golongan senyawa - Mikroskopik - Makroskopik - Kadar air

- Kadar sari yang larut dalam etanol

- Kadar sari yang larut dalam air

- Kadar abu total - Kadar abu yang tidak larut dalam asam

- Alkaloid - Flavonoid - Saponin - Tanin - Glikosida - Antrakuinon - Steroid/Triterpenoida Ekstrak etanol daun titanus dengan konsentrasi 0,5 - 4 mg/ml Kontraksi atau relaksasi otot polos ileum marmut terisolasi

Nilai tegangan kontraksi atau relaksasi otot polos ileum marmut terisolasi

UJI AKTIVITAS ANTIKEJANG EKSTRAK ETANOL DAUN TITANUS (Leea aequata L.) TERHADAP ILEUM MARMUT

(Cavia cobaya) TERISOLASI SECARA IN VITRO ABSTRAK

Tumbuhan Titanus (Leea aequata L.) merupakan tumbuhan dari suku Leeaceae yang digunakan dalam pengobatan tradisional di daerah Tanah Karo, Provinsi Sumatera Utara, sebagai obat luka dan obat antitetanus. Salah satu tanda utama dari penyakit tetanus adalah spasme otot atau kejang disebagian atau seluruh tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antikejang berupa

Dokumen terkait