• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

1. Untuk penegakan disiplin terapi pengobatan pada pasien penyakit kanker payudara maka diharapkan dokter DPJP (Dokter Penanggung Jawab Pasien)/PPDS mempunyai izin praktik di RSUP.H.Adam Malik Medan memberikan resep dengan benar sesuai yang dibutuhkan pasien.

2. Disarankan kepada pihak rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan secara berkala terhadap peran dari dokter, apoteker dan perawat agar medication

DAFTAR PUSTAKA

Agustria, Z.S., (2006). ”Kemoterapi”, dalam Buku Acuan Nasional Onkologi Ginekologi. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo: Hal. 359.

Aiken, L.H., Clarke S.P., Sloane, D.M. (2002). Hospital nurse staffing and

drug-dispensing system in a hospital pharmacy. Clinics: Hal. 325-332.

Ana, K. (2007). Panduan Lengkap kesehatan Wanita. Yogyakarta: Gala Ilmu Semesta. Hal. 97-123.

Andi, T. (2012). Faktor Penyebab Medication Error di RSUD Anwar Makkatutu Kabupaten Bantaeng, Skripsi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar.

Anief, M. (2000). Peraturan Perundang-undangan Farmasi. Dalam: Anief M., ed.

Ilmu Meracik Obat: Teori dan Praktik. Yogyakarta: Gadjah Mada

University Press. Hal. 10-22.

Ariani, N.W. 2005. Identifikasi Drug Related Problems (DRPs) Resep Dokter

Anak di Apotek-Apotek Kota Yogjakarta Bagian Barat Tahun 2003.

Skripsi Program Studi Sarjana Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Hal. 4.

Cipolle, R.S., Strand, L.M., Morley, P.C. (1998). Pharmaceutical Care Practice.

New York: MC Graw Hill. Hal. 73-119.

Cohen, M.R., Basse., Myers. (1991). Causes of Medication Error, in: Cohen. M.R., (Ed), Medication Error, American Pharmaceutical Association. Washington, DC. Hal. 230-240.

Depkes RI. (1992). Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 983/Menkes/SK/XI/1992. Pedoman Organisasi Rumah Sakit Umum.

Depkes RI. (2004). Keputusan Menkes RI No. 1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. Depkes RI. (2010). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 147. Perizinan Rumah Sakit. Jakarta. Depkes RI. (2008). Tanggungjawab Apoteker Terhadap Keselamatan Pasien

(Patient safety). Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik. Jakarta.

Depkes RI. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia No. 44 tentang Rumah Sakit. Jakarta.

Depkes RI. (2010). Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 147/Menkes/PER/I/2010. Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. Dwiprahasto, I., (2006). “Intervensi Pelatihan untuk Meminimalkan Risiko

Medication Error di Pusat Pelayanan Kesehatan Primer,”Jurnal Berkala

Ilmu Kedokteran 2006, XXXVIII

diakses tanggal 17 Mei 2014.

Hartayu, T.S., Aris, W. (2005). Kajian Kelengkapan Resep yang Berpotensi Menimbulkan Medication Error di 2 Rumah Sakit dan 10 Apotek di Yogyakarta. Hal. 89-100. Tersedia:

Haskell, C.M. (1985). Cancer Treatment. Edisi kedua. Philadelphia: W.B. Saunders Company. Hal.137-139.

Jas, A. (2009). Perihal Resep & Dosis serta Latihan Menulis Resep. Edisi Kedua. Medan: Universitas Sumatera Utara Press. Hal. 1-15.

Kasdu. (2005). Solusi Problem Wanita Dewasa. Jakarta: Puspa Swara. Hal. 45-68. Kemenkes. (2011). Standar Akreditasi Rumah Sakit. Jakarta: Kemenkes RI. Hal.

98-107.

Kemenkes Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004, Standar Pelayanan Kefarmasian

di Apotek, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

Levine, M.N., Bramwell, V.H., Pritchard, K.I. (1998). “Randomized Trial of Intensive Cyclophosphamide, Epirubicin, and Fluorouracil Chemotherapy Compared With Cyclophosphamide, Methotrexate, and Fluorouracil in Premenopausal Women With Node-Positive Breast Cancer, National Cancer Institute of Canada Clinical Trials Group,” J Clin Oncol, 16 (8): 2651-8.

Moningkey, S. (2000). Epidemiologi Kanker Payudara. Medika; Januari 2000. Jakarta. Hal. 40-55 http://stetoskopmerah.blogspot.com/2009/04/aspek-klinis-dan-epidemiologis-penyakit.html Diakses pada 23 Mei 2104.

Rasjidi, I dan Hartanto, A. (2009). Kanker Payudara. Dalam: Deteksi Dini dan Pencegahan Kanker Pada Wanita. Jakarta: Sagung Seto. Hal. 51-91

Robbins. (2007). Buku Ajar Patologi. Edisi ketujuh. Jakarta: EGC. Hal 57-70. Samuel. (2011). Komitmen, kualitas, dan kepatuhan. Sanofi group (Online).

Siregar, J.P.C dan Amalia, L. (2004). Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan. Jakarta: EGC. Hal. 7, 13-15, 17-19.

Syamsuni, H.A. (2006). Konsep Kefarmasian. Dalam: Elviana E. & Syarief W.

R.(eds). Ilmu Resep. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal. 1- 38. Taneja, W.C.N., Wiegmann, D. (2004). The Role of Perception in Medication

Errors : Implications for Non-Technological Interventions. Hal. 172-176. Tjahjadi, G. (1995). Patologi Tumor Ganas Payudara, Kursus Singkat Deteksi

Dini dan Pencagahan Kanker. 6-8 November. FKUI-POI. Jakarta. Hal.

25-30.

Diakses pada 23 Mei 2014.

Walker, R., Edwards, C. (2001). Clinical Pharmacy and Therapeutics, edisi kedua, Churchill Livingstone: An Imprint of Harcourt Publisher Limited. London UK. Hal. 401-423.

WHO, 2013, World Health Organization-Breast Cancer. (online). (http:/

Lampiran 2. Daftar Medication Error di RSUP H. Adam Malik Medan

I. Prescribing Error (PE)

PE 1 Resep tidak dapat dibaca

PE 2 Resep / KOP tidak lengkap ( tidak ada tanggal / bulan / tahun penulisan resep, nama pasien, No MR (Barcode), BB pasien anak dan diagnosa pasien (khusus KOP), asal resep / KOP, bentuk, kekuatan, jumlah sediaan yang diminta, signa / aturan pakai, nama dan tanda tangan dokter, dsb; lihat pengertian resep lengkap). Dalam Kebijakan yang dimaksud resep lengkap adalah resep yang memuat tanggal / bulan / tahun penulisan resep, mengisi kolom riwayat alergi obat pada bagian kanan atas, tanda R/ pada setiap sediaan, obat tunggal ditulis nama generik, obat kombinasi ditulis sesuai nama formularium dilengkapi bentuk, kekuatan, jumlah sediaan, obat racikan ditulis nama jenis/bahan obat (untuk bahan padat: microgram, milligram, gram; untuk cairan: tetes, milliliter, liter) dan jumlah bahan obat (bahan padat), aturan pakai (frekuensi, dosis, rute), identitas psien (nama lengkap, tanggal lahir), untuk anak ditulis berat badan pasien, untuk resep kemoterapi dicantumkan luas permukaan tubuh (body surface area), nama dan tanda tangan dokter. PE 3 Salah penulisan resep, misal penulisan IU → Unit Internasional,

penulisan jumlah obat No.XXXXX → L, XXXXV → XLV

PE 4 Salah dosis / kekuatan / frekuensi, misal: NKR 5mg → NKR 2,5mg; Renadinac 500mg → 25 atau 50mg, Ranitidin tab 3x1 → 2x1

PE 5 Salah nama obat, misal: ditulis sutinol → sistenol; Ocsuferin → Oxoferin

PE 6 Salah bentuk sediaan: Depakote tube → botol; Insulin Amp → vial/pen

PE 7 Salah kuantitas / jumlah PE 8 Salah rute

PE 9 Duplikasi PE 10 Interaksi Obat

PE 11 Tidak sesuai kebijakan PE 12 Lain-lain

II. Dispensing Error (DE) DE 1 Salah pasien

DE 2 Salah Obat, misal: Irvebal → Irbedox

DE 3 Salah formulasi / bentuk sediaan, misal : Depakote ER 250mg → Depakote 250mg; Antasida tab → Antasida Syr

DE 4 Salah dosis / kekuatan, misal: Captopril 12,5mg → Captopril 25mg DE 5 Salah kuantitas / jumlah

DE 6 Salah etiket ( salah nama pasien, frekuensi, petunjuk penggunaan obat)

DE 7 Salah Alkes (jenis, kekuatan, jumlah), misal: diminta Folley Cath → diberi Suction Cath; diminta Abbocath No.22 → diberi Abbocath No. 20; diminta spuit 3 cc 3 buah → diberi hanya 1 buah.

DE 8 Obat tidak dikemas

DE 9 Obat kadaluarsa / rusak / stabilitas, misal: obat tablet berubah warna, Manitol berkristal

DE 10 Lain-lain

III. Administration Error (AE) AE 1 Pemberian infuse tanpa label

AE 2 Salah pasien, misal: pemberian infuse dengan label nama pasien lain AE 3 Salah obat

AE 4 Salah rute

AE 5 Salah waktu pemberian AE 6 Obat tidak diberi

AE 7 Reaksi efek samping obat AE 8 Lain-lain

Lampiran 3. Surat Tanda Menyelesaikan Penelitian dari RSUP H. Adam Malik Medan

Lampiran 4. Gambar alat-alat diruangan pencampuran kemoterapi

Gambar pintu resep masuk

Gambar lemari pendingin obat-obat kemoterapi

Gambar obat-obat sitotoksik Gambar lemari penyimpanan obat kemoterapi

Gambar wastafel Gambar pintu obat masuk kedalam ruang steril

Dokumen terkait