BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.3 Saran
Berdasarkan hasil analisis penelitian dan keterbatasan penelitian, maka peneliti dapat memberikan beberapa saran, antara lain :
1. Penelitian ini hanya memasukkan tiga variabel bebas saja. Sebaiknya, peneliti yang akan menggunakan pendekatan yang sama menambahkan variabel bebasnya dengan variabel yang juga diperkirakan dapat mempengaruhi penerimaan opini going concern seperti opinion shopping.
2. Sebaiknya tahunpenelitian ditambah untuk memperluas observasi sehingga hasil yang diperoleh lebihtepat.
3. Sebaiknya variabel penelitian ditambah misalnya dengan menggunakan skala rasio untuk memperluas observasi penelitian.
4. Hasil penelitian menunjukkan hubungan negatif antara kualitas audit
denganpenerimaan opini going concern. Hal ini membuka kemungkinan bagi KAP non-Big4 untuk bersaing dengan KAPBig Fourdalam memberikan opini audit going concern yang baik. Oleh karena itu, disarankanbagi pihak manajemen bahwa sebenarnya profesionalitas KAP non Big Four dalammemberikan opini audit going concern tidak perlu diragukan.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori
2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory)
Menurut Jensen dan Meckling (1976) “mendefinisikan teori agensi merupakan hubungan keagenan suatu kontrak antara pemilik (principal) dengan manajer (agent). Agar hubungan kontraktual ini dapat berjalan dengan baik, maka principal akan mendelegasikan otoritas pembuatan keputusan kepada agent”.
Tujuan dari teori agensi adalah pertama, untuk meningkatkan kemampuan individu (baik prinsipal maupun agen) dalam mengevaluasi lingkungan dimana keputusan harus diambil (The belief revision role).Kedua, untuk mengevaluasi hasil dari keputusan yang telah diambil guna mempermudah pengalokasian hasil antara prinsipal dan agen sesuai dengan kontrak kerja (Theperformance evaluation role).
Hubungan inilah disebut dengan teori keagenan.Pemisahan dalam teori keagenan ini menandakan principal tidak lagi terlibat dalam pengelolaan perusahaan karena telah dialihkan kepada agent.Pihak principal hanya bertindak sebagai pengawas dengan memonitor kinerja perusahaan melalui laporan yang diberikan oleh agent.Namun, adanya pemisahan antara principal dan agent cenderung menimbulkan konflik keagenan yang didasarkan pada adanya perbedaan kepentingan.Principaldanagent sama–sama berusaha memaksimumkan kesejahteraannya masing-masing. Kontrak yang efisien merupakan kontrak yang memenuhi dua asumsi sebagai berikut :
1. Agent dan principal memiliki informasi yang simetris artinya, baik agent maupun
principal memiliki kualitas dan jumlah informasi yang sama sehingga tidak terdapat informasi tersembunyi yang dapat digunakan untuk keuntungan dirinya sendiri.
2. Resiko yang diterima agen berkaitan dengan imbal jasanya adalah kecil, yang berarti agen mempunyai kepastian yang tinggi mengenai imbalan yang diterimanya.
Secara garis besar teori agensi dikelompokkan menjadi dua yaitu”positive agency research dan principal agent research.Positive agent research memfokuskan pada identifikasi situasi dimana agen dan prinsipal mempunyai tujuan yang bertentangan dan mekanisme pengendalian yang terbatas hanya menjaga perilaku self serving agen”.Principal agent research mengungkapkan bahwa hubungan agent-principal dapat diaplikasikan secara lebih luas, misalnya untuk menggambarkan hubungan pekerja dan pemberi kerja, lawyer dengan kliennya, auditor dengan auditee.
Menurut Scott (2000) ada dua jenis asymmetric information yaitu “adverse selection dan moral hazard”. Adverse selection adalah suatu tipe informasi asimetri (asymmetric information) dimana satu orang atau lebih pelaku-pelaku bisnis atau transaksi-transaksi potensial yang dapat mengamati kegiatan-kegiatan mereka secara penuh dibandingkan dengan pihak lain, sedangkan moral hazard ini terjadi karena pihak-pihak diluar perusahaan (investor) mendelegasikan tugas dan kewenangannya kepada manajer, tetapi investor tidak dapat sepenuhnya memantau manajer dalam melaksanakan pendelegasian tersebut. Dibutuhkan pihak ketiga yang independen sebagai mediator pada hubungan antara prinsipal dan agen.Pihak ketiga ini berfungsi untuk memonitor perilaku manajer (agent) apakah sudah bertindak sesuai dengan keinginan prinsipal.Auditor adalah pihak yang dianggap mampu menjembatani kepentingan pihak prinsipal (shareholders) dengan pihak manajer dalam mengelola keuangan perusahaan.
2.1.2Teori Sinyal(Signaling Theory).
Teori sinyal (signaling theory)adalah teori yang menjelaskantentang bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Sinyal ini berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik. Sinyal dapat berupa promosi atau informasi lain yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih baik daripada perusahaan lain. Teori sinyal
menjelaskan bahwa pemberian sinyal dilakukan oleh manajer untuk mengurangi asimetri informasi.Menurut Mamduh (2004:314) menyatakan bahwa “perusahaan dapat meningkatkan nilai perusahaan, dengan mengurangi informasi asimetri. Salah satu cara untuk mengurangi informasi asimetri adalah dengan memberikan sinyal pada pihak luar termasuk investor”.
Auditing dapat mengurangi asimetri informasi antara manajemen dan
stakeholdersperusahaan, karena memungkinkan pihak diluar perusahaan untuk memverifikasi validitas laporan keuangan dengan memberikan opini audit.
2.2 Auditing
American Accounting Association Committee dalam Basic Audit Concepts (1991 : 2) telah mendefinisikan audit sebagai “suatu proses sistematis yang secara objektif memproleh dan mengevaluasi bukti yang terkait dengan penyertaan mengenai tindakan atau kejadian ekonomi untuk menilai tingkat kesesuaian antar pernyataan tersebut dan kriteria yang telah ditetapkan serta mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan”.
Menurut definisi diatas maka terdapat unsur-unsur penting mendasari istilah auditing yaitu :
1. Proses Sistematik.
Auditing merupakan suatu proses sistematik yaitu berupa suatu rangkaian langkah atau prosedur yang logis terstruktur dan jelas tujuannya bagi pengambilan keputusan dan audit bukan merupakan proses yang tidak terancang dan asal jadi.
2. Pengumpulan dan pengevaluasian bukti secara objektif.
Auditing berkaitan dengan pengumpulan bukti-bukti tentang informasi yang akan mempengaruhi proses keputusan auditor. Bukti diartikan sebagai semua informasi yang digunakan auditor dalam menentukan kesesuain informasi yang sedang diaudit dengan kriteria yang telah ditetapkan. Bukti audit dapat diperoleh dalam berbagai bentuk, seperti pernyataan lisan dari pihak yang diaudit (client), komunikasi tertulis dengan pihak ketiga dan hasil pengamatan auditor.
3. Pernyataan mengenai kejadian atau kegiatan ekonomi.
Pernyataan mengenai kejadian atau kegiatan ekonomi adalah hasil proses akuntansi. Akuntansi merupakan proses pengidentifikasian, pengukuran dan penyampaian informasi ekonomi yang dinyatakan dalam satuan uang dalam bentuk yang teratur dan logis dengan tujuan menyajikan informasi keuangan yang dibutuhkan dalam pengambilan keputusan. Setiap kali audit dilakukan ruang lingkup pertanggungjawaban auditor harus dinyatakan dengan jelas, hal terutama yang harus
dilakukan adalah menegaskan entitas atau satuan usaha yang dimaksud dalam periode waktunya.
4. Tingkat kesesuain antara pernyataan kriteria yang telah ditetapkan.
Ketika melakukan proses audit, tujuan auditor adalah menentukan apakah penyataan pihak diaudit sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Kriteria atau standar yang dipakai sebagai dasar untuk menilai penyataan (yang berupa proses akuntansi) dapat berupa :
a. Peraturan yang ditetapkan oleh suatu badan tertentu b. Anggaran atau ukuran prestasi pemilik satuan usaha c. Standar Akuntasi Keuangan (SAK)
5. Penyampaian hasil kepada pihak yang berkepentingan.
Penyampaian hasil ini dilakukan dengan tertulis dalam bentuk laporan audit (audit report) yang merupakan penyampaian hasil-hasil temuan kepada para pemakai laporan.Laporan yang satu dapat berbeda dengan laporan lainnya.Tetapi pada dasarnya semua harus mampu menyampaikan kepada pihak yang berkepentingan. Menurut Arens, dkk (2008) auditing didefinisikan sebagai “pengumpulan serta pengevaluasian bukti-bukti atas informasi untuk menentukan dan melaporkan tingkat kesesuaian informasi tersebut dengan kriteria-kriteria yang ditetapkan”.
Auditing merupakan suatu tindakan yang membandingkan antara fakta atau keadaan yang sebenarnya (condition) dengan keadaan yang seharusnya (criteria). Pada dasarnya tujuan audit bukanlah untuk memberikan informasi tambahan, namun dimaksudkan untuk menilai apakah pelaksanaan yang dilakukan telah sesuai dengan apa yang telah ditetapkan, sehingga memungkinkan pemakai laporan keuangan lebih bergantung pada informasi yang disusun oleh pihak lain.
2.3 Laporan Keuangan
Laporan keuangan harus disusun sesuai dengan aturan atau standar yang berlaku.Laporan keuangan merupakan media yang paling penting untuk menilai prestasi dan kondisi ekonomis suatu perusahaan. Menurut Harahap (2011 : 105) mendefinisikan “laporan keuangan adalah laporan yang menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu”. Menurut PSAK No 1 (revisi 2009), “laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas”.Laporan keuangan juga menunjukkan hasil pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.
Menurut PSAK No 1 (revisi 2009) laporan keuangan yang lengkap harus meliputi komponen-komponen berikut :
1. Laporan posisi keuangan pada akhir periode. 2. Laporan laba rugi komprehensif.
3. Laporan perubahan ekuitas selama periode 4. Laporan arus kas selama periode
5. Catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakan akuntansi penting dan informasi penjelas lainnya.
6. Laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif yang disajikan ketika entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara resrospektif atau membuat penyajian kembali pos-pos laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangannya.
2.4 Debt Default
Debt default didefinisikan sebagai kegagalan debitor (perusahaan) untuk membayar hutang pokok dan atau bunganya pada waktu jatuh tempo.Debt default atau kegagalan dalam pembayaran hutang atau kegagalan dalam memenuhi perjanjian hutang merupakan salah satu faktor yang dapat menimbulkan litigasi atau tuntutan pengadilan terhadap perusahaan. Apabila jumlah tuntutan tersebut material,akan dapat mempengaruhi kelanjutan usaha perusahaan. Semenjak auditor lebih cenderung disalahkan karena tidak berhasil mengeluarkan opini going concern setelah peristiwa-peristiwa yang menyarankan bahwa opini seperti itu mungkin telah usai.Biaya kegagalan untuk mengeluarkan opini going concern ketika perusahaan dalam keadaan default tinggi sekali.
Kegagalan dalam memenuhi hutang dan atau bunga merupakan indikator going concern yang banyak digunakan oleh auditor dalam menilai kelangsungan hidup suatu perusahaan. Dapat dikatakan bahwa status hutang perusahaan merupakan faktor utama yang akan diperiksa oleh auditor untuk mengukur kesehatan keuangan perusahaan. Ketika jumlah hutang perusahaan sudah semakin besar, maka aliran kas perusahaan tentunya banyak dialokasikan untuk menutupi hutangnya, sehingga akan mengganggu kelangsungan operasi perusahaan. Apabila hutang ini tidak mampu dilunasi, maka kreditor akan memberikan status default.
Status default dapat meningkatkan kemungkinan auditor mengeluarkan opini going concern.Seperti yang tercantum dalam PSA 30, indikator going concern yang banyak digunakan auditor dalam memberikan keputusan opini audit adalah kegagalan dalam memenuhi kewajiban hutangnya (default).
2.5 Kualitas Audit
Berdasarkan teori agensi mengasumsikan bahwa manusia itu selalu self interest maka kehadiran pihak ketiga yang independen sebagai mediator pada hubungan antara prinsipal dan agen sangat diperlukan, dalam hal ini adalah auditor independen. Investor akan lebih cenderung pada data akuntansi yang dihasilkan dari kualitas audit yang tinggi. Auditor yang memiliki banyak klien dalam industri yang sama akan memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang resiko audit khusus mewakili industri tersebut, tetapi akan membutuhkan pengembangan keahlian lebih daripada auditor pada umumnya. Tambahan keahlian ini akan menghasilkan return positif dalam fee audit. Sehingga, para peneliti memiliki hipotesis bahwa auditor dengan konsentrasi yang tinggi dalam industri tertentu akan memberikan kualitas yang lebih tinggi.
Kualitas audit menurut Deangelo (1981) dan Schwartz (1997) definisi sebagai probabilitas error dan irregularities yang dapat dideteksi dan dilaporkan. Probabilitas pendeteksian dipengaruhi oleh isu yang merujuk pada audit yang dilakukan oleh auditor untuk menghasilkan pendapatnya. Isu-isu yang berhubungan dengan isu audit adalah kompetensi auditor, persyaratan yang berkaitan dengan pelaksanaan audit dan persyaratan pelaporan. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa KAP yang besar akan berusaha untuk menyajikan kualitas audit yang lebih besar dibandingkan dengan KAP yang lebih kecil.Kantor akuntan publik diklasifikasi menjadi dua yaitu kantor akuntan publik yang berafiliasi dengan KAP Big Four dan kantor akuntan publik lainnya. Barnes dan Huan (1993) menyatakan bahwa perusahaan yang gagal dan tidak menjelaskan going concern pada opini
auditnya menunjukkan bahwa auditor tersebut lebih mementingkan aspek komersial, hal ini berdampak buruk pada citra auditor dan hilangnya kepercayaan investor terhadap perusahaan auditan.
2.6 Opini Audit
Dalam penugasan umum, auditor ditugasi memberikan opini atas laporan keuangan perusahaan.Opini yang diberikan merupakan pernyataan kewajaran, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum (SPAP, 2001).Laporan auditor merupakan sarana bagi auditor untuk menyatakan pendapatnya atau apabila keadaan mengharuskan untuk menyatakan tidak memberikan pendapat, sebagai pihak yang independen.Auditor tidak dibenarkan untuk memihak kepentingan siapapun dan untuk tidak mudah dipengaruhi, serta harus bebas dari setiap kewajiban terhadap kliennya dan tidak memiliki suatu kepentingan dengan kliennya (IAI, 1994).Auditor mempunyai tanggung jawab untuk menilai apakah terdapat kesangsian besar terhadap suatu entitas bisnis dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam periode waktu pantas.
Pendapat atau opini audit merupakan bagian yang tidak terpisahdari laporan audit. Laporan audit penting sekali dalam suatu audit atau proses atestasi lainnya karena laporan tersebut menginformasikan pemakai informasi tentang apa yang dilakukan auditor dan kesimpulan yang diperolehnya. Opini audit diberikan oleh auditor melalui beberapa tahap audit sehingga auditor dapat memberikan kesimpulan atas laporan keuangan yang diauditnya.
Berdasarkan standar profesional akuntan publik seksi 508 ada lima tipe pendapat auditor yaitu :
1. Pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified oipinion).
Pendapat wajar tanpa pengecualian diberikan auditor jika tidak terjadi pembatasan dalam lingkup audit dan tidak terdapat pengecualian yang signifikan mengenai kewajaran dan penerapan standar akuntansi keuangan dalam penyusunan laporan keuangan, konsistensi penerapan standar akuntansi keuangan tersebut, serta pengungkapan yang memadai dalam laporan keuangan.
Laporan audit yang berisi pendapat wajar tanpa pengecualian adalah laporan yang paling dibutuhkan oleh semua pihak, baik oleh klien, pemakai informasi keuangan, maupun auditor. Laporan keuangan dianggap menyajikan secara wajar posisi keuangan dan hasil usaha suatu organisasi sesuai dengan standar akuntansi keuangan, jika memenuhi kondisi berikut :
a. Standar akuntansi yang digunakan sebagai pedoman untuk menyusun laporan keuangan.
b. Perubahan standar akuntansi keuangan dari periode ke periode telah cukup dijelaskan.
c. Informasi dalam catatan-catatan yang mendukungnya telah digambarkan dan dijelaskan dengan cukup dalam laporan keuangan, sesuai dengan standar akuntansi keuangan.
2. Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelasan(unqualified opinion with explanatory language).
Keadaan tertentu mungkin mengharuskan auditor menambahkan suatu paragraf penjelasan atau bahasa penjelasan lain dalam laporan audit, meskipun tidak mempengaruhi pendapat wajar tanpa pengecualian atas laporan keuangan.
3. Pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion).
Jika auditor menemukan kondisi-kondisi berikut ini maka ia akan memberikan pendapat wajar dengan pengecualian pada laporan audit:
a. Lingkup audit dibatasi oleh klien
b. Auditor tidak dapat melaksanakan prosedur audit penting atau tidak dapat memperoleh informasi penting karena kondisi-kondisi yang berada diluar kekuasaan klien maupun auditor
c. Laporan keuangan tidak disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan d. Standar akuntansi keuangan yang digunakan dalam penyusunan laporan
keuangan tidak diterapkan secara konsisten. 4. Pendapat tidak wajar (adverse opinion).
Pendapat tidak wajar merupakan keballikan pendapat wajar tanpa pengeculian, akuntan memberikan pendapat tidak wajar jika laporan keuangan klien tidak disusun berdasarkan standar akuntansi keuangan sehingga tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas dan arus kas perusahaan klien. Auditor memberikan pendapat tidak wajar jika ia dibatasi lingkup auditnya, sehingga ia tidak bisa mengumpulkan bukti kompeten yang cukup untuk mendukung pendapatnya. Jika laporan kauangan diberi pendapat tidak wajar oleh auditor maka informasi yang disajikan klien dalam laporan keuangan sama sekali tidak dapat dipercaya, sehingga ia tidak dapat dipakai oleh pemakai informasi keuangan untuk pengambilan keputusan.
5. Pernyataan tidak memberikan pendapat (disclaimer opinion).
Jika auditor tidak memberikan pendapat atas laporan keuangan auditan, maka laporan keuangan audit ini disebut laporan tanpa pendapat (adverse opinion). Kondisi ini menyebabkan audit tidak memberikan pendapat adalah :
a. Pembatasan yang luar biasa sifatnya terhadap lingkungan audit b. Auditor tidak independen dalam hubungannya dengan kliennya
Perbedaan antara pernyataan tidak memberikan pendapat dengan pendapat tidak wajar adalah pendapat tidak wajar ini diberikan dalam keadaan auditor mengetahui adanya ketidakwajaran dalam laporan keuangan klien, sedangkan auditor menyatakan tidak memberikan pendapat (no opinion) karena ia tidak cukup memperoleh bukti mengenai kewajaran laporan keuangan auditan atau karena ia tidak independen dalam hubungannya dengan klien.
2.7 Going Concern
Going concern adalah kelangsungan hidup suatu badan usaha, dengan adanya goingconcern maka suatu badan usaha dianggap mampu mempertahankan kegiatan usahanya dalam jangka panjang dan tidak akan dilikuidasi dalam jangka waktu pendek.
PSAK 30 menyatakan bahwa “going concern dipakai sebagai asumsi dalam pelaporan keuangan sepanjang tidak terbukti adanya informasi yang menunjukkan hal yang berlawanan”.Biasanya informasi yang secara signifikan dianggap berlawanan dengan asumsi kelangsungan hidup suatu badan usaha adalah berhubungan ketidakmampuan satuan usaha dalam memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo tanpa melakukan penjualan sebagian besar aktiva kepada pihak luar secara bisnis biasa, restrukturisasi utang, perbaikan operasi yang dipaksakan dari luar atau kegiatan serupa lainnya.
Dalam pelaksanaan prosedur audit, auditor dapat mengidentifikasi informasi mengenai kondisi atau peristiwa yang tertentu yang dipertimbangkan secara keseluruhan, menunjukkan adanya kesangsian besar tentang kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan dalam jangka waktu pantas. Berikut bebarapa contoh, namun tidak terbatas pada kondisi dan peristiwa yaitu :
1. Trend negatif
Sebagai contoh, kerugian operasi yang berulang kali terjadi, kekurangan modal kerja, arus kas negatif dari kegagalan usaha.
2. Petunjuk lain tentang kesulitan keuangan
Sebagai contoh, kegagalan dalam memenuhi kewajiban utangnya, atau perjanjian serupa, penunggakkan pembayaran dividen, penolakan oleh pemasok terhadap pengajuan permintaan kredit biasa, restrukturisasi hutang, kebutuhan untuk mencari sumber atau metode pembelanjaan baru, atau penjualan sebagian besar aktiva.
3. Masalah intern
Sebagai contoh, pemogokkan kerja atau kesulitan hubungan perburuhan yang lain, ketergantungan besar atas sukses proyek tertentu, komitmen jangka panjang yang tidak bersifat ekonomi, kebutuhan secara signifikan memperbaiki operasi.
4. Masalah luar yang terjadi
Sebagai contoh, pengajuan gugatan pengadilan, keluarnya undang-undang, atau masalah-masalah yang lain kemungkinan membahayakan kemampuan satuan usaha untuk beroperasi, kehilangan frenchise, lisensi, atau paten yang penting, kehilangan pelanggan atau pemasok utama, kerugian akibat bencana besar seperti gempa bumi, banjir atau kekeringan yang tidak diasuransikan atau diasuransikan dengan pertanggungan rendah.
2.8 Opini Going Concern
Opini audit going concern merupakan opini audit yang dikeluarkan oleh auditor untuk memastikan apakah perusahaan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya (SPAP, 2004). Menurut Gray dan Manson (dalam Praptitorini dan Januarti, 2007)“going concern merupakan salah satu konsep yang paling penting yang mendasari pelaporan keuangan”. Pihak manajemen bertanggung jawab untuk melakukan kelayakan dari persiapan laporan keuangan menggunakan dasar goingconcern dan auditor bertanggung jawab untuk meyakinkan dirinya bahwa penggunaan dasar going concern oleh perusahaan adalah layak dan diungkapkan secara memadai dalam laporan keuangan.
Arens (dalam Fanny dan Saputra, 2005), menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang menimbulkan ketidakpastian mengenai kelangsungan hidup perusahaan adalah :
1. Kerugian usaha yang besar secara berulang atau kekurangan modal kerja.
2. Ketidakmampuan perusahaan untuk membayar kewajibannya pada saat jatuh tempo dalam jangka pendek.
3. Kehilangan pelanggan utama, terjadinya bencana yang tidak diasuransikan, seperti gempa bumi atau banjir atau permasalahan perburuhan yang tidak biasa. 4. Perkara pengadilan, gugatan hukum atau masalah serupa yang sudah terjadi dan
PSAP seksi 341 memberikan pedoman kepada auditor tentang dampak kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya terhadap opini auditor sebagai berikut :
1. Jika auditor yakin terdapat keraguan mengenai kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu pantas, maka auditor harus:
a. memperoleh informasi mengenai rencana manajemen yang ditujukan untuk
mengurangi dampak kondisi dan peristiwa tersebut.
b. menetapkan kemungkinan bahwa rencana tersebut secara efektif direncanakan.
2. Jika manajemen tidak memiliki rencana untuk mengurangi dampak kondisi dan peristiwa terhadap kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya, maka auditor mempertimbangkan untuk memberikan pernyataan tidak memberikan pendapat (disclaimer opinion).
3. Jika manajemen memiliki rencana untuk mengurangi dampak kondisi dan peristiwa diatas, maka auditor menyimpulkan berdasarkan pertimbangannya atas efektivitas rencana tersebut.
4. Jika auditor berkesimpulan bahwa rencana tersebut tidak efektif, maka auditor menatakan tidak memberikan pendapat (disclaimer opinion).
5. Jika auditor berkesimpulan bahwa rencana tersebut dalam catatan atas laporan keuangan, maka auditor menyatakan pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion).
6. Jika auditor berkesimpulan bahwa rencana tersebut efektif, tetapi klien tidak mengungkapkannya dalam catatan atas laporan keuangan, maka auditor menyatakan pendapat tidak wajar (adverse opinion).
2.9 Penelitian Terdahulu
Penelitian sebelumnya dilakukan oleh beberapa peneliti mengenai debt default, kualitas audit, dan opini audit terhadap penerimaan opini going concern.Masing-masing penelitian ini menggunakan variabel independen yang berbeda-beda dari tahun ke tahun.
Berikut ini adalah beberapa penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan penelitian yang akan dilakukan :
Mirna Dyah Praptitorini (2007) juga melakukan penelitian mengenai kualitas audit, debt default, opinion shopping terhadap penerimaan opini going concern.Dimana sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 348 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 1997-2002. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitas audit, debt default, opinion shopping. Metode penelitian yang digunakan adalah regresi logistik (logistic regression).Hasil penelitian menujukkan bahwa debt default berpengaruh positif signifikan terhadap penerimaan opini going concern.Perbedaan dari penelitian sebelumnya dengan peneliti adalah pada variabel