BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
2. Saran
Setelah masa pengembangan yang penulis laksanakan dan penulis telah membandingkan dengan masa sebelum masa pengembangan, maka penulis akan memberikan saran kepada penulis sendiri diantaranya yaitu:
a. Untuk menambah laba maka sebaiknya kapasitas produksi ditambah. b. Sebaiknya pemberian pakan terhadap pemeliharaan larva harus lebih
diperhatikan, yaitu bisa memberikan pakan tidak terlalu banyak dan tidak kurang. Karena jika terlalu banyak juga akan menyebabkan pakan membusuk di dalam air dan pembusukan itu menyebabkan datangnya penyakit. Sebaliknya jika pemberian pakan sedikit, pertumbuhan benih lele lambat serta sifat canibal (memakan sama jenis), artinya banyak benih lele yang mati karena dimakan temannya sendiri.
c. Pengangkatan ijuk juga perlu diperhatikan, karena ijuk yang masih terdapat telur yang lebih dari 1 minggu di dalam air, juga akan membusuk dan menyababkan banyak penyakit.
d. Meminimalisir kematian benih dengan cara sistem kuras yang baik, yaitu dengan struktur kolam yang memiliki sistem kuras baik. Karena amoniak pada dasar kolam membuat benih terserang penyakit dan menyebabkan kematian pada benih dalam jumlah besar.
e. Sebaiknya penulis mencari lahan yang lebih luas dan memiliki kolam yang banyak agar produksi benih juga semakin banyak, dan memiliki kolam sortasi. Sehingga sistem pemindahan benih ke kolam dengan air yang bersih bisa meminimalisir kematian massal.
f. Penulis memiliki lahan yang memiliki atap tertutup rapat, agar ketika ada bencana atau cuaca buruk tidak mempengaruhi kolam itusendiri.
Kondisi suhu dalam air dan kualitas air juga stabil, Sehingga cara ini bisa mengurangi kematian pada benih.
g. Mencoba untuk membuat kolam pembesaran juga, sehingga jika pada kolam benih belum menghasilkan, kolam pembesaran bisa menghasilkan. Karena pada kolam pembesaran atau budidaya ikan lele konsumsi, bisa mendukung usaha ini agar terus berjalan.
DAFTAR PUSTAKA
Diklat 4 : Manajemen Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pertanian, 2010
Diklat 7 : Manajemen Pemasaran, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pertanian, 2010
Khairuman, SP & Amri Khairul, Spi, M.Si, Pembenihan Lele Di Kolam Terpal (Jakarta, Redaksi AgroMedia, 2012)
Muktiani, Budidaya Lele Sangkuriang Dengan Kolam Terpal (Yogyakarta, Pustaka Baru Press, 2011)
Prasetya W, Bisnis Benih Lele Untung 200% (Jakarta, Penebak Swadaya, 2013) Rahayu Sri, Budidaya Lele Di Lahan Sempit, Modal Kecil Untung Gede, Untuk
Bisnis dan Hoby (Jakarta, Intra Pustaka, 2013) Trubus Exo, Lele Kilat Pembesaran 50 Hari (Jakarta, 2010)
Lampiran 1
Riwayat Hidup Pemilik Usaha Budidaya Benih Ikan Lele
IG Nugroho Widiutomo
T.T.L : Bandung, 16-01-1989
Alamat Asal : Blok Prapatan RT/RW 013/005 Desa Palimanan Timur, Kec. Palimanan, Kab. Cirebon.
Alamat Domisili : Jalan Raya Candi Gebang Perum. Jambusari, Belimbing No. 23.
Condong catur, Seleman, Yogyakarta.
Status : Belum Menikah
HP : 08132 8888 089 & 08193 8888 089
Email : [email protected]
RIWAYAT PENDIDIKAN
No Tahun Lembaga Pendidikan
1 2009 – Sekarang Fakultas Ekonomi, Manajemen Universitas Sanata
Dharma Yogyakarta
2 2008 – 2009 Program Studi Manajemen Perhotelan, Akademi
Pariwisata AMPTA Yogyakarta
3 2007 – 2008 Program Studi Manajemen Perhotelan, Sekolah
Tinggi Pariwisata AmbarukmoYogyakarta
4 2004 – 2007 SMA Kristen 1 BPK Penabur Cirebon
5 2001 – 2004 SMP Negeri 1 Palimanan Cirebon
RIWAYAT PENGHARGAAN
No Tahun Kegiatan
1 2010 Pemenang Juara II Lomba Debat F.E USD
Yogyakarta
2 2009 Narasumber dalam Majalah Kampus ENTER USD
Yogyakarta
3 2009 Pembicara dalam Seminar Unicore, Pusat Studi
bisnis Enterpreneur Indonesia
4 2009 Pemenang Lomba Debat F.E USD Yogyakarta
RIWAYAT PELATIHAN
No Tahun Pelatihan
1 2010 Pelatihan Bisnis UKM Terpadu, UGM Yogyakarta.
2 2009 Pelatihan Dasar Kepemimpinan, HMJM USD
Yogyakarta.
3 2008 Pelatihan Character Building with Adi Harry Bisnis
School, Kaliurang, Yogyakarta.
4 2008 Pelatihan Table Maner, Stipram Yogyakarta
RIWAYAT ORGANISASI
No Tahun Lembaga
1 2012 Ketua TKP Yogyakarta (Tempat Kumpul
Pengusaha)
2 2012 Ketua KP (Kunjungan Perusahaan) Manajemen
USD Yogyakarta.
3 2010 C.O Dana Usaha Pecafe FE USD Yogyakarta.
4 2010 C.O Humas Eksternal HMJM USD Yogyakarta.
RIWAYAT PEKERJAAN
No Tahun Lembaga
1 2012 – 2013 Marketing CV Logo Sindo Yogyakarta
2 2012 – 2012 TNBK PT. New Armada
3 2011 Hotel Hyatt
No. Kegiatan Kategori Tahun Penyelenggara Tingkat
1. Sebagai Presenter
NDT
Enterpreneur 2008
Bisnis School Adhi
Harry Umum
2.
Penyuluhan di Desa Cangkringan
Kesehatan 2009 PT. Tiens Umum
3. Juara II lombadebat PENDIDIKAN 2010 FakultasEkonomi-USD Fakultas 4. Sebagai Presenter Open Plan Presentation Opportunity Global Network &Patner 2010 PT. Unicore Umum 5. Casual Training
Hotel Hyatt Pelatihan 2011 Hotel Hyatt Mahasiswa
6.
Motivator KKN Di Krebet
Motivasi 2012 Fakultas
Ekonomi-USD Umum 7. Ketua TKP (Tempat Kumpul Pengusaha) Pendidikan (Enterpreneur) 2012 Manajemen Fakultas Ekonomi USD Umum
Lampiran 2
Gambar Telur yang Menempel Pada Kakaban
Lampiran 3
Lampiran 4
Lampiran 5
Lampiran 6:
Bukti Dampak Abu Kelud
Bantul (ANTARA News) - Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mencatat sebanyak 165.550 ekor benih ikan di wilayah setempat mati pascahujan abu vulkanis akibat erupsi Gunung Kelud.
"Data yang masuk ke dinas sampai hari ini (Rabu), kematian benih ikan akibat hujan abu vulkanis sebanyak 165.550 ekor, baik benih lele dan gurami," kata Kepala Bidang (Kabid) Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bantul Subiyanto Hadi, Rabu.
Menurut dia, akibat kematian ratusan ribu benih ikan itu, kelompok pembudidaya yang menjadi korban bencana alam tersebut mengalami kerugian materiil yang ditaksir totalnya sebesar Rp50 juta.
Ia mengatakan terdapat lima kelompok usaha pembenihan rakyat (UPR) yang menjadi korban bencana tersebut, yakni masing-masing kelompok di wilayah Kecamatan Jetis, Pundong, Srandakan, Pandak dan Kercamatan Sewon.
"Kematian ikan ini hanya terjadi pada benih lele dan gurami yang berumur antara satu hingga tiga minggu, namun untuk ikan yang sudah siap konsumsi atau berusia diatas dua bulan masih bisa bertahan," katanya.
Menurut dia, kematian benih ikan ini akibat air kolam yang terkena hujan abu vulkanis pekat, dan menyulitkan ikan terutama yang masih kecil kesulitan bernafas, sehingga menyebabkan kematian.
Untuk mencegah kematian yang semakin banyak, kata dia pihaknya menyarankan kepada pemilik kolam budidaya ikan untuk mengganti air kolam dengan air jernih, atau menambah air untuk mengurangi kepekatan air akibat abu itu.
"Bagi yang belum mengganti air kolam pascahujan abu ini, kami imbau pembudidaya supaya cepat mengganti air kolam, karena dari data itu rata-rata kematian benih akibat terlambat atau tidak sempat ganti air," katanya.
Ia mengatakan di Bantul terdapat sebanyak 847 kelompok pembudidaya perikanan, sehingga sangat mungkin data kematian bisa bertambah, sehingga pihaknya masih menunggu data kematian yang belum dilaporkan.
"Untuk sementara ini kami baru sebatas melakukan pendataan, untuk selanjutnya kami belum tahu, jadi kami masih menerima data hingga satu minggu sejak bencana itu, untuk kemudian dilaporkan ke Bupati," katanya.
Adapun Penjelasan mengenai abu kelud sebagai berikut :
JAKARTA - Abu vulkanik yang bertebaran usai letusan gunung api Kelud bisa mengganggu aktivitas warga maupun tertundanya keberangkatan pesawat terbang. Abu vulkanik ini terdiri dari batuan berukuran besar hingga yang berukuran kecil atau halus.
Wikipedia menerangkan, abu vulkanik memiliki ukuran diameter kurang dari 2mm (0,079 inci), dihasilkan selama letusan magma yang memproduksi piroklastik (bebatuan vulkanik) yang berbeda-beda, tergantung pada proses erupsi. Beberapa jenis mineral muncul pada abu vulkanik, bergantung pada kandungan kimia dari magma gunung api yang meletus.
Unsur yang paling berlimpah dalam magma adalah silika (SiO2) dan oksigen. Letusan erupsi rendah dari basal (batuan beku) memproduksi karakteristk abu berwarna gelap yang mengandung 45-55 persen silika yang kaya akan zat besi (Fe) dan magnesium (Mg).
Gas-gas utama dilepaskan selama aktivitas gunung api adalah air, karbon dioksida, sulfur dioksida, hidrogen, hidrogen sulfida, karbon monoksida dan hidrogen klorida. Kandungan belerang dan gas halogen serta logam ini dihapus dari atmosfer oleh proses reaksi kimia.
Abu atau kerikil besar bisa jatuh sampai radius lima sampai tujuh kilometer dari kawah gunung api yang meletus. Sementara yang berukuran lebih kecil bisa terbawa angin hingga ratusan kilometer, bahkan ribuan kilometer.
Abu yang halus ini berbahaya, karena bentuknya yang kecil tidak terlalu dapat terlihat oleh mata. Sehingga, dapat terhirup dan bisa menyebabkan radang paru-paru.
Tercatat pada 1883, gunung Krakatau meletus dan memunculkan abu vulkanik yang menyebar selama berhari-hari. Selain itu, gunung Galunggung juga pernah meletus pada 1982, abu vulkaniknya bahkan sampai ke daratan Australia.
Meskipun menimbulkan polusi udara, abu vulkanik ini bisa dijadikan sebagai pupuk tanaman. Seperti yang dilakukan sebagian petani di Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul, DIY. Tidak hanya itu, unsur silika dan alumunia memungkinkan abu vulkanik sebagai bahan pozolan, pengganti semen untuk bahan bangunan.