5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.2 Saran
a)Kaji ulang dengan data yang lebih panjang sehingga mendapatkan hasil yang lebih baik.
b)Penggantian alat pengamatan perlu di informasikan untuk mendapatkan koreksi data.
c)Pembangkitan data untuk data yang hilang.
d)Penambahan unsur-unsur cuaca yang lainnya agar dapat menggambarkan kondisi perubahan iklim yang lebih lengkap.
DAFTAR PUSTAKA
Agrissantika T. 2007. Model dinamika spasial ruang terbangun dan ruang terbuka hijau (studi kasus kawasan Jabodetabek). IPB. Bogor.
Chen, TC, Wang SY, Yen MC. 2007. Enhancement of Afternoon Thunderstorm
Activity by Urbanization in a Valley: Taipei. Journal of Applied Meteorology and climatology. 46:1324-1340.
[BMKG] Badan Meteorologi Klimatologi Dan Geofisika. 2009. Atlas Normal Iklim Di Indonesia Periode 1971-2000 Suhu Udara. Jakarta
[BMKG] Badan Meteorologi Klimatologi Dan Geofisika. 2010. Peraturan KBMKG Nomor: Kep. 009 Tahun 2010 Tentang Prosedur Standar Operasional Pelaksanaan Peringatan Dini, Pelaporan, Dan Diseminasi Informasi Cuaca
Ekstrim. Jakarta
Effendy S. 2007. Keterkaitan Ruang Terbuka Hijau dengan Urban Heat Island Wilaya h Jabotabek. IPB. Bogor
Effendy S., Santosa I. 2008. Kajian Kontribusi Ruang Terbuka Hijau (RTH), Kepadatan Polusi, Ruang Terbangun (RTB) dan Kepadatan kendaraan Terhadap Urban Heat Island Jabotabek. Proceedings Agriculture Meteorology Symposium VII, PERHIMPI. Bogor
Hermawan. 2005. Analisa perubahan Komponen Neraca Energi Permukaan. Distribusi Urban Heat Island Dan THI akibat perubahan Penurunan Lahan. IPB. Bogor
Intergovernmental Panel Climate Change (IPCC). 2001 Intergovernmental Panel Climate Change (IPCC). 2007
Kawano T, Watanabe H. 2005. A Study of the Generation of Summer Thunderstorms over the Kyushu Area. Jurnal Agriculture Meteorologi. 60 (5): 709-712.
Leroux M. 2005. Global Warming-Myth or Reality? The Erring Ways of Climatology. 6:99-122. Praxis Publishing Ltd. Chichester. UK
Mas’at A. 2008. Perubahan Suhu Udara DKI Jakarta Sebagai Efek Perkembangan Kota. Buletin Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Vol. 4. No.4 Desember 2008:392-404.
Mulyono P., Nicholls N. 2002. Osilasi Selatan. Di dalam: Partridge L J dan Ma’shum M, Editor. Kapan Hujan Turun? Dampak Osilasi Selatan dan El Nino di Indonesia. Departement of Primary Industries. The State of Queensland. 2:12-17
Sugiyono. 2009. Statistik Untuk Penelitian. Alfabeta. Bandung Takeda. 1976. Hidrologi Untuk Pengairan. Pradya Paramita. Jakarta Tjasyono. 2008. Meteorologi Terapan. ITB. Bandung
Trenberth KE, Jones PD. 2007. Observations: Surface and Atmospheric. Hoskins BJ, Karl TR, Jallow B. Editor. The Physical Science Basis Change Climat Change 2007. IPP C. 3:235-336.
Tursilowati. 2008. Urban Heat Island dan kontribusinya pada perubahan iklim dan Hubungannya dengan perubahan lahan. LAPAN. Jakarta
Wang X, Doi K, Xu X. 2005.Land-use and Climate Change in Sanjiang Plain China Using S.atellite Data. J. Agric. Meteorol. 60(5):997-1000.
Wisnubroto S., Aminah S., Nitisapto M. 1986. Asas-asas Meteorologi Pertanian. Ghalia Indonesia. Jakarta Timur
Lampiran 1 Grafik perbandingan profil udara atas (lapisan permukaan hingga 20 mb ) antara periode tahun 1980-1996 dengan periode tahun 1997-2008 pada bulan Januari
Lampiran 2 Grafik perbandingan profil udara atas (lapisan permukaan hingga 20 mb ) antara periode tahun 1980-1996 dengan periode tahun 1997-2008 pada bulan Pebruari
-100 100 300 500 700 900 1100 LAPISAN ATMOSFER (mb) -100 -80 -60 -40 -20 0 20 40 -100 100 300 500 700 900 1100 LAPISAN ATMOSFER (mb) SUHU (°C) '88-'96 '97-'08 '88-'96 '97-'08
Lampiran 3 Grafik perbandingan profil udara atas (lapisan permukaan hingga 20 mb ) antara periode tahun 1980-1996 dengan periode tahun 1997-2008 pada bulan Maret
Lampiran 4 Grafik perbandingan profil udara atas (lapisan permukaan hingga 20 mb ) antara periode tahun 1980-1996 dengan periode tahun 1997-2008 pada bulan April
-100 -80 -60 - 4 0 -20 0 20 40 -100 100 300 500 700 900 1100 LAPISAN ATMOSFER (mb) SUHU (°C) -100 -80 -60 -40 -20 0 20 40 -100 100 300 500 700 900 1100 LAPISAN ATMOSFER (mb) SUHU (°C) '88-'96 '97-'08 '88-'96 '97-'08
Lampiran 5 Grafik perbandingan profil udara atas (lapisan permukaan hingga 20 mb ) antara periode tahun 1980-1996 dengan periode tahun 1997-2008 pada bulan Mei
Lampiran 6 Grafik perbandingan profil udara atas (lapisan permukaan hingga 20 mb ) antara periode tahun 1980-1996 dengan periode tahun 1997-2008 pada bulan Juni
-100 -80 -60 -40 -20 0 2 0 4 0 -100 100 300 500 700 900 1100 LAPISAN ATMOSFER (mb) SUHU (°C) -100 - 8 0 -60 -40 -20 0 2 0 4 0 -100 100 300 500 700 900 1100 LAPISAN ATMOSFER (mb) S U H U ( ° C ) '88-'96 '97-'08 '88-'96 '97-'08
Lampiran 7 Grafik perbandingan profil udara atas (lapisan permukaan hingga 20 mb ) antara periode tahun 1980-1996 dengan periode tahun 1997-2008 pada bulan Juli
Lampiran 8 Grafik perbandingan profil udara atas (lapisan permukaan hingga 20 mb ) antara periode tahun 1980-1996 dengan periode tahun 1997-2008 pada bulan Agustus
-100 -80 -60 -40 -20 0 20 4 0 -100 100 300 500 700 900 1100 LAPISAN ATMOSFER (mb) S U H U ( ° C ) -100 -80 -60 -40 -20 0 20 4 0 - 1 0 0 1 0 0 3 0 0 5 0 0 7 0 0 9 0 0 1 1 0 0 LAPISAN ATMOSFER S U H U ( C ) '88-'96 '97-'08 '88-'96 '97-'08
Lampiran 9 Grafik perbandingan profil udara atas (lapisan permukaan hingga 20 mb ) antara periode tahun 1980-1996 dengan periode tahun 1997-2008 pada bulan September
Lampiran 10 Grafik perbandingan profil udara atas (lapisan permukaan hingga 20 mb ) antara periode tahun 1980-1996 dengan periode tahun 1997-2008 pada bulan Oktober
-100 -80 -60 -40 -20 0 20 40 -100 100 300 500 700 900 1100 LAPISAN ATMOSFER (mb) SUHU (°C) -100 -80 -60 -40 -20 0 2 0 4 0 - 1 0 0 100 300 500 700 900 1 1 0 0 LAPISAN ATMOSFER (mb) S U H U ( ° C ) '88-'96 '97-'08 '88-'96 '97-'08
Lampiran 11 Grafik perbandingan profil udara atas (lapisan permukaan hingga 20 mb ) antara periode tahun 1980-1996 dengan periode tahun 1997-2008 pada bulan Nopember
Lampiran. 12 Grafik perbandingan profil udara atas (lapisan permukaan hingga 20 mb)antara periode tahun 1980-1996 dengan periode tahun 1997-2008 pada bulan Desember
- 1 0 0 -80 -60 -40 -20 0 2 0 40 -100 100 300 500 700 900 1100 LAPISAN ATMOSFER (mb) S U H U ( ° C ) - 1 0 0 -80 -60 -40 -20 0 2 0 40 -100 100 300 500 700 900 1100 LAPISAN ATMOSFER (mb) S U H U ( ° C ) '88-'96 '97-'08 '88-'96 '97-'08
Lampiran 13 Normal suhu udara maksimum wilayah Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat bulan Januari
Lampiran 14 Normal suhu udara maksimum wilayah Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat bulan Pebruari
Lampiran 15 Normal suhu udara maksimum wilayah Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat bulan Maret
Lampiran 16 Normal suhu udara maksimum wilayah Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat bulan April
Lampiran 17 Normal suhu udara maksimum wilayah Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat bulan Mei
Lampiran 18 Normal suhu udara maksimum wilayah Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat bulan Juni
Lampiran 19 Normal suhu udara maksimum wilayah Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat bulan Juli
Lampiran 20 Normal suhu udara maksimum wilayah Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat bulan Agustus
Lampiran 21 Normal suhu udara maksimum wilayah Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat bulan September
Lampiran 22 Normal suhu udara maksimum wilayah Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat bulan Oktober
Lampiran 23 Normal suhu udara maksimum wilayah Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat bulan Nopember
Lampiran 24 Normal suhu udara maksimum wilayah Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat bulan Desember
ABSTRACT
KUKUH RIBUDIYANTO. Analysis of increasing ext reme weather intensity in Jabota (Jakarta, Bogor, Tangerang) Period 1980 - 2008. Under direction of YONNY KOESMARYONO and SOBRI EFFENDY
Population growth induces land use , particularly in reducing the green open spaces. This changes causes rising of air temperatures and hence increasing frequent events of extreme weather. Based on research in Taiwan, China and Japan, its have been proven that the existence of rising temper ature and frequent extreme weather were caused by land use changes. Daily observed data from Meteorological Stations around urban area of Jabota during the period 1980-2008 was used to determine the increase of air temperature and the frequency of extreme weather events. Besides the surface air temperature, the upper air temperature data period 1988-2008 was also analysed data to examine the increase of air temperature at particular layer. Further, hourly weather data of 2003-2008 from Meteorological Stasion Curug has been used as an example to analyze the time shifts of maximum air temperature and the time of thunderstorms occurrence. The analysis resulted an increase in average temperature in the latest period; increasing frequency of temperatures above 34° C, the increasing frequency of extreme precipitation at some months, especially in the rainy and transition seasons; the increasing frequency of thunderstorms occurrence, the increase of average upper air temperature, especially at surface layer up to 500 mb layer. The results also showed that the maximum temperature occurrence at certain months in dry and transition season to 02: 00 pm and the mostly hour of thunderstorms occurrence was 03: 00 to 05: 00 and from 07: 00 to 08: 00 pm.
1.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
IPCC (Intergovernmental Panel Climate Change) tahun 2007
mempublikasikan penggunaan lahan terbuka hijau dan penggunaan bahan bakar fosil menjadi penyebab naiknya suhu udara. Kecenderungan temperatur global terbentuk dari pemanasan lokal dari Urban Heat Island (UHI). Climatic Research Unit (CRU)
UK Met. dan IPCC menyatakan atmosfer mengalami pemanasan sebesar 0.6 sampai 0.8 derajat Celsius sejak era abad 19. Kenaikkan suhu sebesar 1,6°C di Sanjiang, China selama 30 tahun antara tahun 1970-1999 akibat penggunaan lahan dengan berkurangnya lahan terbuka hijau (Wang et al. 2005). Penelitian sama terjadi di kota Bandung dengan meningkatnya lahan pemukiman dari 19.868 Ha di Tahun 1991 menjadi 26.993 Ha di Tahun 2001 menyebabkan kenaikan suhu udara pada kisaran 23°C – 33°C. Hal ini mengindikasikan UHI yang terbentuk di pusat Kota Bandung semakin meluas ke daerah sekelilingnya dengan bertambahnya kisaran suhu tersebut (Hermawan, 2005).
Kenaikan suhu dan intensitas badai petir sebagai akibat pertumbuhan penduduk yang mempengaruhi perubahan ruang terbuka hijau terjadi di Taipei (Chen
et al, 2006). Hujan badai petir di musim panas sering terjadi di daerah gunung Kyushu Jepang pada pukul 13.00 hingga 15.00 LT. Rata-rata hujan badai petir lebih tinggi terjadi pada profil suhu udara atas di bawah 850 hPa dan menurunkan di atas 700 hPa (Kawano dan Watanabe , 2005). Perubahan ruang terbuka hijau juga mempengaruhi kejadian cuaca ektrim diantaranya kejadian angin kencang atau puting beliung dan curah hujan yang sangat besar dalam waktu hitungan jam. Seperti yang dilangsir media massa telah terjadi angin kencang yang merusak, tanah longsor dan banjir di wilayah Indonesia akhir-akhir ini. Banjir lokal di sekitar Kelapa Gading dan Pulo Mas pada tanggal 18 Januari 2009 yang mempunyai curah hujan di atas 200 mm/hari.
Jakarta sebuah kota metropolitan dan Tangerang, Depok, Bogor yang merupakan daerah penyangga sangat pesat perkembangan pembangunan seiring dengan laju urbanisasi dan perkem bangan penduduk. Perubahan terhadap penggunaan lahan terbuka hijau juga tinggi.
Penelitian mengenai peningkatan intensitas cuaca ekstrim belum banyak dilakukan. Kejadian di Taipei membuktikan adanya perubahan peningkatan intensitas
badai petir dan perubahan pola udara atas selang waktu lima tahunan seiring perubahan penggunaan lahan di wilayah tersebut. Untuk itu perlu adanya kajian yang mendalam sehingga penataan tata guna lahan tidak terlalu mengganggu lingkungan.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan penelitian ini adalah:
• Menganalisis kenaikan intensitas cuaca ekstrim baik curah hujan, suhu maksimum dan kejadian badai petir di Jabota (Jakarta, Bogor, Tangerang) .
• Menganalisis pola kenaikan suhu sebagai akibat perubahan penutupan lahan di Jabota (Jakarta, Bogor, Tangerang).
2.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Neraca energi
2.1.1 Radiasi Neto
Energi yang sampai pada suatu permukaan harus sama dengan energi yang meninggalkan permukaan pada waktu yang sama, semua fluks energi harus dipertimbangkan ketika persamaan keseimbangan energi ditentukan (Allen, et al,
1998 diacu dalam Hermawan, 2005). Persamaan dari Neraca Energi permukaan dapat dituliskan sebagai :
Rn=G+H+?E...(1) di mana :
Rn = Radiasi Netto (Wm−2)
G = Fluks Pemanasan Tanah (Wm−2)
H = Fluks Pemanasan Udara (Wm−2)
?E = Fluks Pemanasan Uap Air (Wm−2)
Radiasi netto (Rn) merupakan selisih antara gelombang pendek matahari dan gelombang panjang yang datang ke permukaan dengan gelombang pendek dan gelombang panjang yang keluar (hilang).
↑ ↓ ↑ ↓− + − =RS RS RL RL Rn ...(2) di mana : Rn = Radiasi netto (Wm−2) ↓ s
R = Radiasi pendek yang datang (Wm−2)
↑
s
R = Radiasi pendek yang keluar (Wm−2) ↓
L
R = Radiasi panjang yang datang (Wm−2) ↑
L
R = Radiasi panjang yang keluar (Wm−2)
Energi radiasi gelombang pendek yang dipantulkan oleh suatu permukaan ( RS↑), dapat diduga dari sensor satelit yang menerima kisaran panjang gekombang pendek. Pada citra satelit Landsat kisaran panjang gelombang pendek diterima oleh kanal
2.1.2 Albedo
Albedo ( a ) merupakan suatu perbandinga n dari radiasi gelombang pendek
yang dipantulkan oleh suatu permukaan dengan radiasi gelombang pendek yang datang pada permukaan tersebut.
↓ ↑ = S S R R α ...(3) di mana : a = Albedo permukaan ↑ s
R = Radiasi pendek yang keluar (Wm−2) ↓
s
R = Radiasi pendek yang datang (Wm−2)
2.2 Urban Heat Island
Urban Heat Island (UHI) atau Pulau Panas Perkotaan merupakan sebuah
fenomena di mana suhu udara daerah perkotaan (urban) yang padat bangunan, lebih
tinggi 1-6°C dibandingkan daerah daerah sekitarnya daerah pinggiran/rural (Howard,
diacu dalam Tursilowati 2008).
Sumber: Howard (dalam Tursilowati 2004)
Gambar 2.1. Urban Heat Island (UHI) atau Pulau Panas Perkotaan
Menurut Landsberg (1981), pulau panas ini disebabkan karena adanya perbedaan dalam pemakaian energi, penyerapan, penukaran bahang laten dan turbulen. Givoni (1989) menyatakan suhu yang tertinggi akan terdapat di pusat kota, dan akan menurun secara bertahap ke arah pinggir kota sampai ke desa. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor berbeda yang tidak terikat satu sama lain sehingga
menyebabkan pulau panas tersebut, antara lain ;
Desa Komersil Perumahan Perumahan Perumahan dalam kota daerah pinggir Daerah pinggir Pusat kota Taman
1. Perbedaan keseimbangan seluruh radiasi netto antara daerah perkotaan dengan daerah terbuka di sekitarnya.
2. Penyimpanan energi matahari pada gedung-gedung di kota selama siang hari dan dilepaskan pada malam hari.
3. Konsentrasi panas yang dihasilkan oleh aktivitas sepanjang tahun di kota (transportasi, industri dan sebagainya).
4. Evaporasi dari permukaan dan vegetasi yang lebih rendah di daerah kota dibandingkan dengan daerah desa yang permukaanya lebih terbuka.
Pulau panas perkotaan terbentuk jika permukaan vegetasi digantikan oleh aspal dan beton untuk jalan, bangunan, dan struktur lain yang diperlukan untuk mengakomodasi pertumbuhan populasi manusia. Perubahan tersebut lebih banyak menyerap panas matahari dan juga lebih banyak memantulkannya, sehingga menyebabkan temperatur permukaan dan suhu lingkungan naik. (Wypych, et a l., 2003 diacu dalam Hermawan, 2005) mengungkapkan bahwa perubahan penutupan lahan di wilayah perkotaan mempengaruhi jumlah transfer panas (heat flux) dan jumlah energi
radiasi yang dipantulkan dan energi radiasi yang diterima oleh suatu permukaan (neraca energi), penerimaan air di permukaan (neraca air) dan kesehatan terhadap manusia. Salah satu yang menyebabkan peningkatan suhu udara adalah transfer energi panas (heat flux). Dalam wilaya h perkotaan transfer panas ini, selain dipengaruhi oleh
suhu permukaan juga dipengaruhi oleh adanya efek gedung yang tinggi, transfer panas dari transportasi dan transfer panas dari daerah industri.
2.3 Suhu
Fluktuasi Suhu Harian
Fluktuasi suhu harian sebagai akibat adanya neraca antara radiasi matahari yang diterima dan yang dilepaskan oleh Bumi. Sejak matahari terbit sampai kira-kira satu atau dua jam setelah tengah hari jumlah energi yang diterima oleh bumi lebih besar daripada yang hilang. Oleh karena itu, kurva suhu terus-menerus naik. Sebaliknya kira-kira pukul 13.00 sampai matahari terbit jumlah energi yang dilepaskan bumi lebih besar daripada yang diterima. Oleh karena itu, kurva temperatur harian turun. Perlu diingat temperatur maksimum selama sehari tidak bertepatan insolasi maksimum. Ketidaktepatan ini terjadi karena temperatur terus naik selama radiasi yang diterima bumi lebih besar daripada yang hilang. Kenyataannya
meskipun penerimaan energi matahari setelah tengah hari berkurang tetapi masih lebih besar daripada yang hilang. Penerimaan lebih kecil daripada yang hilang baru terjadi kira-kira pukul 13.00.
Kadang-kadang hubungan antara naik-turunnya temperatur dengan isolasi itu kurang nampak. Hal ini karena beberapa faktor yang berpengaruh. Misalnya saja adanya awan yang menyebabkan gangguan terhadap radiasi yang diterima dan hilang dari permukaan bumi.
Fluktuasi Temperatur Tahunan
Fluktuasi temperatur tahunan berubah-rubah dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Fluktuasi tersebut berhubungan erat dengan lintang bumi. Di katulistiwa fluktuasi ini kecil dan makin jauh dari katulistiwa makin besar untuk mempermudah pengertian fluktuasi temperatur ini, dapat dibedakan menjadi tiga pola fluktuasi:
1. Pola katulistiwa
Pola katulistiwa ini fluktuasi temperatur tahunan kecil. Lebih kecil daripada fluktuasi temperatur harian. Pola katulistiwa ini mempunyai dua maksimum dan dua minimum yang terjadi berturut-turut pada saat matahari berada di daerah itu dan pada saat berada di garis balik
2. Pola daerah sedang
Dalam pola ini menunjukkan fluktuasi temperatur yang besar. Fluktuasi ini akan diperbesar jika suatu daerah terletak di tengah benua, dan akan lebih kecil jika berdekatan dengan laut. Fluktuasi tahunan untuk pola sedang ini lebih besar daripada fluktuasi harian, untuk pola ini hanya ada satu maksimum dan satu minimum.
3. Pola daerah kutub
Pola ini menunjukkan fluktuasi sangat besar. Dalam hal ini besarnya juga tergantung pada letaknya. Di tengah benua atau di dekat laut. Pola ini hanya mempunyai satu maksimum dan satu minimum.
BMKG pada tahun 2009 menerbitkan Atlas Normal Iklim Di Indonesia Periode 1971-2000 meliputi Suhu Udara Maksimum, Suhu Udara Minimum dan Suhu Udara Maksimum Absolut. Wilayah Jabodetabek mempunyai normal suhu udara maksimum berkisar antara 27°-33°C. Distribusi suhu udara maksimum bervariasi dimana suhu udara maksimum terendah terjadi disekitar wilayah Bogor yang
mempunyai dataran lebih tinggi dan suhu udara maksimum terbesar di wilayah Jakarta, Tangerang dan Bekasi.
2.4 Awan Konvektif
Awan konvektif jenis cumulus sering dijumpai di Indonesia. Beberapa jenis awan ini tumbuh menjadi badai petir yang dapat menyebabkan petir dan kilat. Badai petir konvektif disebabkan oleh pemanasan permukaan akibat radiasi matahari. Badai ini ditandai oleh pertumbuhan vertikal yang cepat dan dapat menghasilkan hujan lebat lokal (shower), kadang-kadang menghasilkan hujan es. Indonesia merupakan benua maritim yang menerima radiasi matahari dalam jumlah besar, dan melepaskan panas laten kondensasi dalam jumlah yang besar pada saat pembentukan awan cumulus atau awan petir (Cumulonimbus). Proses yang menyebabkan formasi awan konvektif adalah konveksi gaya apung yang menyatakan konversi energi potensial menjadi energi kinetik (Tjasyono, 2008)
Gambar 2.2 Pembentukan awan konvektif
2.5 Presipitasi
Presipitasi adalah nama umum dari uap yang mengkondensasi dan jatuh ke tanah dalam rangkaian proses siklus hidrologi, jumlah presipitasi selalu dinyatakan dalam (mm). Derajat curah hujan biasanya dinyatakan oleh jumlah curah hujan dalam suatu satuan waktu dan disebut intensitas curah hujan. Biasanya satuan yang digunakan adalah mm/jam. Jadi intensitas curah hujan berarti jumlah presipitasi/curah hujan dalam waktu relatif singkat, biasanya dalam waktu 2 jam (Takeda, 1976).
Tabel 2. 1 Keadaan curah hujan dan intensitas curah hujan Keadaan curah hujan Intensitas curah
hujan (mm) 1 jam 24 jam Hujan sangat ringan
Hujan ringan Hujan sedang Hujan lebat Hujan sangat lebat
<1 1-5 2-10 10-20 >20 <5 5-20 20-50 50-100 >100 Sumber: Takeda (1976)
2.6 Ruang Terbuka Hijau
Dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tantang Penataan Ruang, yang dimaksud Ruang Terbuka Hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka untuk tumbuh tanaman baik yang tumbuh secara alami maupun yang sengaja ditanam.
Peranan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di perkotaan sangat besar yaitu sebagai penyumbang ruang bernafas, keindahan visual, sebagai paru-paru kota, sumber air dalam tanah, mencegah erosi, keindahan dan kehidupan satwa, dan sebagai unsur pendidikan (Simons 1983. diacu dalam Agrissantika 2007).
Keberadaan RTH di perkotaan juga memiliki pengaruh dalam meningkatkan kualitas suhu udara, dalam hal ini menurunkan suhu udara akibat efek rumah kaca yang mengakibatkan suhu udara naik, dimana terjadi pemanasan permukaan bumi oleh radiasi matahari yang sebagian diserap oleh atmosfer yang mengandung molekul CO2 dan sebagian lagi dipantulkan kembali ke Bumi sehingga menyebabkan naiknya suhu permukaan bumi secara global Tanaman sebagai elemen utama RTH, mempunyai peran yang sangat pentingdalam kelangsungan hidup dari makluk hidup di dunia dan membantu mengurangi pengaruh dari efek rumah kaca di permukaan Bumi, dimana tanaman mengalami proses kimia yang penting bagi lingkungan sekitarnya (Prawinata et al, 1995 diacu dalam Agrissantika 2007)
2.7 Perubahan Ruang Terbuka Hijau
Berkurangnya Ruang Terbuka Hijau di Jabodetabek sangat mencolok sejak Tahun 1991 hingga 2004 seperti penelitian Effendy (2007) akibat penggunaan lahan menjadi permukiman dan fasilitas lainnya. Terpantau tahun 1991 sebesar 61%, pada
tahun 1997 turun sebesar 4% menjadi 57% dan pada tahun 2004 kembali berkurang menjadi 50%. Dan bertambahnya Ruang Terbangun (RTB) di wilayah Jabodetabek yang diwakili pada Gambar 2. 3 yang merupakan perkembangan RTB pada tahun 1983, 1992, 2000 dan tahun 2005. Dan pada Tabel 2. 2 menunjukkan dinamika proporsi
penutupan lahan kawasan Jabodetabek, dimana Ruang Terbangun meningkat dari 2%
ditahun 1972 hingga 29% ditahun 2005 dan RTH menurun dari 74% ditahun 1972 menjadi 63% ditahun 2005. Lebih rinci dinamika proporsi RTH kawasan Jabodetabek setiap wilayah administrasi ditunjukkan pada Tabel 2.3.
Tabel 2.2 Dinamika Proporsi Penutupan Lahan Kawasan Jabodetabek
Kelas Penutupan Lahan Proporsi Penutupan Lahan
1972 1983 1992 2000 2005 Ruang Terbangun 2% 9% 11% 23% 29% RTH 74% 73% 75% 62% 63% Ladang/upland/bareland 23% 17% 11% 13% 6% Badan Air 0% 0% 0% 0% 1% Tambak 1% 2% 2% 2% 2% Sumber: Agrissantika (2007)
Tabel 2.3 Dinamika Proporsi RTH Kawasan Jabodetabek
KABUPATEN / KOTA
Proporsi Ruang Terbuka Hijau
1972 1983 1992 2000 2005 Kab. Bogor 96% 95% 93% 82% 84% Kota Bogor 92% 87% 71% 49% 43% Kab. Bekasi 53% 49% 66% 57% 61% Kota Bekasi 72% 70% 64% 40% 32% Kota Depok 84% 90% 88% 65% 49% Kab. Tangerang 55% 69% 73% 54% 59% Kota Tangerang 54% 44% 46% 27% 21% DKI Jakarta 51% 31% 28% 16% 11%
Tabel 2.4 Dinamika Proporsi Ruang Terbangun Kawasan Jabodetabek
KABUPATEN / KOTA
Proporsi Ruang Terbangun
1972 1983 1992 2000 2005 Kab. Bogor 0% 1% 2% 10% 12% Kota Bogor 3% 11% 26% 49% 55% Kab. Bekasi 0% 8% 2% 11% 11% Kota Bekasi 1% 13% 24% 55% 65% Kota Depok 0% 3% 10% 34% 49% Kab. Tangerang 0% 6% 6% 21% 28%
Kota Tanger ang 3% 16% 36% 64% 74%
DKI Jakarta 20% 50% 64% 80% 86%
Sumber: Analisa Citra Lansat TM, Agrissantika (2007)
Sumber: Agrissantika 2007
Gambar 2.3 Perubahan penutupan lahan di Jabodetabek tahun 1983 Stasiun Meteorologi
Sumber: Agrissantika 2007
Gambar 2.4 Perubahan penutupan lahan di Jabodetabek tahun 1992
Sumber: Agrissantika 2007
Gambar 2.5 Perubahan penutupan lahan di Jabodetabek tahun 2000 Stasiun Meteorologi
Sumber: Agrissantika 2007
Gambar 2.6 Perubahan penutupan lahan di Jabodetabek tahun 2005
2.8 Penyebab perubahan iklim menurut IPCC
IPCC (2001) menyatakan : jika kita ingin mengerti, mendeteksi dan akhirnya memprediksi pengaruh manusia terhadap iklim, kita harus mengerti system yang menentukan iklim bumi dan proses yang memicu perubahan iklim. Iklim bumi secara keseluruhan bergantung pada faktor -faktor yang mempengaruhi keseimbangan radiasi, misalnya, komposisi atmosfer, radiasi matahari dan erupsi gunung api. Juga ditekankan bahwa iklim ditentukan oleh sirkulasi atmosfer dan interaksinya dengan arus laut skala besar, dan karakteristik daratan seperti albedo, vegetasi dan kelembapan tanah.
Perubahan iklim sangat dikendalikan oleh aktivitas manusia. Hampir sebagian besar perhatian tertuju pada identifikasi pengaruh manusia pada perubahan iklim. Pengaruh manusia ini meliputi pembakaran bahan bakar, pembakaran biomassa, dan produksi gas-gas rumah kaca dan aerosol yang berdampak pada gaya radiasi. Perubahan tata guna lahan (pertanian, irigasi, pembukaan hutan, dan reforestasi) mempengaruhi property fisika dan biologi dari permukaan bumi, dan perkembangan kota-kota besar memicu pembentukan heat island dengan dampak yang sangat lokal.
Uap air ada lah gas rumah kaca yang terkuat, uap air adalah pusat iklim, variabilitasnya dan perubahannya. Jangan lupa juga bahwa variasi konsentrasi uap air tidak hanya bergantung pada peningkatan CO2, bisa juga bergantung pada banyak faktor, khususnya dinamika transfer (yang tidak disebutkan) Leroux M. (2005).