• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

B. Saran

1. Bagi Rumah Sakit

Rumah Sakit melalui petugas yang ada di ruangaan lebih aktif dalam meningkatkan mutu asuhan keperawatan pada klien dengan masalah kebutuhan dasar ketidakefektifan pola nafas.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Institusi pendidikan telah banyak memberikan informasi tentang kesehatan khususnya tentang masalah kebutuhan dasar ketidakefektifan pola nafas. Tuntutan zaman yang terus berkembang menyebabkan kebutuhan masyarakat akan informasi kesehatan harus terus ditingkatkan yaitu dengan memberikan lebih banyak materi pada para mahasiswanya selain itu sebagai bahan bacaan di perpustakaan.

3. Bagi Keluarga

Keluarga adalah orang terdekat dari klien, diharapkan dapat saling bekerja sama dalam mengatasi masalah kebutuhan dasar ketidakefektifan pola nafas yang dialami klien.

4. Bagi Penulis

Perlu untuk menambah dan meningkatkan kemampuan dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan masaalah kebutuhan dasar ketidakefektifan pola nafas serta perlu memperbaiki agar karya tulis ini lebih sempurna.

BAB II

PENGELOLAAN KASUS

A. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Fokus pada Konsep Oksigenasi Keperawatan

Oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling mendasar yang digunakan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh, mempertahankan hidup dan aktivitas berbagai organ sel tubuh (Tarwoto & Wartonah, 2010).

1. Pengkajian

a. Riwayat kesehatan

Riwayat kesehatan yang dikaji meliputi data saat ini dan yang telah ada lalu perawat juga mengkaji keadaan pasien dan keluarganya. Kajian tersebut berfokus kepada manifestasi klinik utama, kejadian yang membuat kondisi saat ini, riwayat kesehatan masa lalu, riwayat kesehatan keluarga dan riwayat psikososial.

b. Riwayat kesehatan masa lalu

Perawat menanyakan tentang riwayat penyakit pernafasan pasien. Secara umum perawat perlu menanyakan mengenai hal seperti riwayat merokok, pengobatan saat ini dan masa lalu, alergi dan tempat tinggal.

c. Riwayat kesehatan keluarga

Tujuan menanyakan riwayat keluarga dan sosial pasien penyakit paru-paru sekurangnya ada 3 hal, yaitu penyakit infeksi tertentu khususnya tuberculosis ditularkan melalui satu orang ke orang lainnya, kelainan alergi seperti asma bronchial dan pasien bronchitis mungkin bermukim di daerah yang tingkat polusi udaranya tinggi. Namun polusi udara tidak menimbukan bronchitis melainkan hanya memperburuk penyakit tersebut.

d. Kajian sistem (head to toe) a. Inspeksi

Prosedur inspeksi yang dilakukan oleh perawat adalah pemeriksaan dada dimulai dari dada posterior dan pasien harus dalam keadaan duduk dan inspeksi dada posterior terhadap warna kulit dan kondisinya (lesi dan masa), catat jumlah, irama, kedalaman pernafasan dan kesimetrisan pergerakan dada, observasi tipe pernafasan diafragram serta penggunaan otot bantu pernafasan dan kesimetrisan pergerakan dada, observasi tipe pernafasan seperti pernafasan hidung atau pernafasan diafragma serta penggunaan otot bantu pernafasan, catat durasi dari fase inspirasi dan eksprasi kemudian observasi kesimetrisan pergerakan dada (Irman Soemantri, 2008).

Rasio pada fase ini normalnya adalah 1:2 bandingkan diameter anteroposterior (AP) dengan diameter lateral/transversal (T). Rasio normal berkisar antara 1:2 sampai 5:7 tergantung dari kondisi cairan tubuh pasien.

Kelainan pada bentuk dada: 1. Barrel chest

Timbul akibat terjadinya overinflation paru-paru. Terdapat peningkatan diameter AP:T (1:1) sering terjadi pada pasien emfisema.

2. Funnel chest

Timbul jika terjadi depresi pada bagian bawah dari sternum. Kondisi ini terjadi pada ricketsia atau akibat kecelakan kerja.

3. Pigeon chest

Terjadi pada paien dengan kifoskoliosis berat. 4. Kiposkoliosis

Terlihat dengan adanya elevasi scapula yang akan mengganggu pergerakan paru-paru. Kelainan ini dapat timbul pada pasien dengan osteoporosis dan kelanian musculoskeletal lain yang memperngaruhi thoraks.

b. Palpasi

Palpasi dilakukan untuk mengkaji kesimetrisan pergerakan dada dan mengobservasi abnormalitas, mengidentifikasi keadaan kulit dan mengetahui fremitus taktil (vibrasi). Palpasi berguna untuk mengetahui abnormalitas yang terkaji saat inspeksi seperti massa, lesi dan bengkak. Perhatikan adanya getaran dada yang dihasilkan ketika berbicara. Normalnya fremitus taktil akan terasa pada individu yang sehat dan akan meningkat pada kondisi konsolidasi (Irman soemantri, 2008)

c. Perkusi

Perawat melakukan perkusi untuk mengkaji resonansi pulmoner, organ yang ada di sekitarnya dan pengembangan diafragma dan mengkaji adanya abnormalitas, cairan atau udara di dalam paru. Perkusi dilakukan dengan jari tengah (tangan non-dominan) pemeriksa mendatar di atas dada pasien. Kemudian jari tersebut diketuk dengan menggunakan ujung jari tengah atau jari telunjuk tangan sebelahnya. Jenis suara prekusi ada dua jenis yaitu suara perkusi normal dan abnormal. Suara perkusi normal meliputi resonan (sonor) yaitu dihasilkan pada jaringan paru normal umumnya bergabung dan bernada rendah, dullness yaitu dihasilkan di atas bagian atas jantung atau paru-paru dan tympani yaitu dihasilkan di atas perut yang berisi udara umunya bersifat musical.

Sedangkan suara perkusi abnormal meliputi hiperresonan yaitu bergabung lebih rendah dibandingkan dengan resonan dan timbul pada bagian paru-paru yang abnormal berisi udara dan flatness yaitu nadanya lebih tinggi dari dullness dan di dengar pada perkusi daerah paha, dimana seluruh areanya berisi jaringan (Irman soemantri, 2008)

d. Auskultasi

Auskultasi merupakan pengkajian yang sangat bermakna mencakup mendengarkan suara nafas intensitas durasi atau kualitasnya dan suara tambahan dengan menggunakan stetoskop. Untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, auskultasi sebaiknya dilakukan lebih dari satu kali. Pada pemeriksaan paru, auskultasi dilakukan untuk mendengar bunyi nafas normal dan abnormal. Adapun

bunyi nafas normal adalah bronchial, bronkovesikuler dan vesikuler. Sedangkan bunyi nafas abnormal yaitu wheezing, ronchi, pleural friction rub dan crakles (Soemantri, 2008).

2. Analisa Data

Data dasar adalah kumpulan data yang berisi mengenai status kesehatan klien, kemampuan klien untuk mengelola kesehatan terhadap dirinya sendiri, dan hasil konsultasi dari medis atau profesi kesehatan lainnya. Data fokus adalah data tentang perubahan-perubahan atau respon klien terhadap kesehatan dan masalah kesehatannya serta hal-hal yang mencakup tindakan yang dilaksanakan terhadap klien. Selama pengkajian, data di kumpulan dari berbagai sumber, divalidasi dan diurut ke dalam kelompok yang membentuk pola. Data dasar secara kontinu direvisi sejalan dengan perubahan dalam fisik status dan emosi klien. Hal ini juga mencakup hasil laboratorium dan diagnostic. Selama langkah ini, perawat menggunakan pengetahuan dan pengalaman, menganalis dan menginterpretasi dan menarik konklusi tentang kelompok dan pola data (Potter & Perry, 2006).

Pada pasien dengan gengguan pernafasan sering ditemui data subjektif dan objektif. Datab subjektif meliputi lemah, sesak, nyeri dada, demam, ansietas, berat badan menurun. Sedangkan data objektif meliputio gelisah, dispnea, trauma, suara nafas tidak normal, perubahan frekuensi dan kedalaman pernafasan, perubahan irama pernafasan dan atelektasis.

3. Rumusan Masalah

Sebelum merumuskan diagnosa keperawatan, perawat mengidentifikasi masalah perawatan kesehatan umum klien. Namun, sebelum memberikan perawatan masalah harus ditetapkan secara lebih spesifik. Untuk mengidentifikasi kebutuhan klien, perawat harus lebih dulu menentukan apa masalah kesehatan klien dan apakah masalah tersebut potensial atau actual (Potter & Perry, 2006).

Adapun masalah yang sering muncul pada gangguan oksigenasi ialah: a. Ketidakefektifan pola nafas.

b. Ketidakefektifan jalan nafas. c. Kerusakan pertukaran gas.

d. Penurunan curah jantung. e. Intoleransi aktivitas.

f. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubah.

4. Perencanaan

Rencana asuhan keperawatan merupakan mata rantai antara penetapan kebutuhan klien dan pelaksanaan keperawatan. Dengan demikian rencana asuhan keperawatan adalah petunjuk tertulis yang menggambarkan secara tepat mengenai rencana tindakan yang dilakukan terhadap klien sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan diagnosa keperawatan.

Rencana asuhan keperawatan disusun dengan melibatkan klien secara optimal agar dalam proses pencapain tujuan keperawatan dalam memenuhi kebutuhan klien.

Adapun rencana keperawatan yang kemungkinan muncul pada gangguan oksigenasi adalah:

1) Ketidakefektifan pola nafas a. Batasan karakteristik

Yang menjadi batasan karakteristik dari ketidakefektifan pola nafas adalah perubahan frekuensi pernafasan atau pola pernafasan (dari biasanya), perubahan nadi (frekuensi, irama dan kualitas), ortopneu, irama pernafasan tidak teratur dan pernafasan yang berat.

b. Faktor yang berhubungan

Faktor yang berhubungan dengan ketidakefektifan pola nafas adalah ansietas, posisi tubuh, deformitas tulang, deformitas dinding dada, keletihan, hiperventilasi, sindrom hiperventilasi, gangguan musculoskeletal, kerusakan neurologis, obesitas, nyeri, keletihan otot pernafasan, penurunan ekspansi paru dan proses inflamasi.

Menurut (Wilkinson) intervensi dan rasional dari masalah diatas adalah sebagai berikut:

1. Intervensi

a. Kaji frekuensi kedalaman pernafasan dan ekspansi dada. Catat upaya pernafasan termasuk penggunaan otot bantu nafas.

b. Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas adventisius, seperti krekels, mengi, gesekan pleural.

c. Tingginya kepala dan bantu mengubah posisi dan ambulasi segera mungkin.

d. Dorong /bantu pasien dalam nafas dalam dan latihan batuk. e. Ajarkan kepada keluarga cara penggunaan obat yang benar.

2. Rasional

a. Kecepatan biasanya meningkat, dispnea dan terjadi peningkatan kerja nafas. Kedalaman pernafasan bervariasi tergantung derajat gagal nafas. Ekspansi dada terbatas yang berhubungan dengan atelektasis dan atau nyeri dada.

b. Bunyi nafas menurun/tidak ada bila jalan nafas obstruksi sekunder terhadap pendarahan, bekuan atau kolaps jalan nafas kecil (atelektasis). Ronki dan mengi menyertai obstruksi jalan nafas/kegagalan pernafasan.

c. Duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan. Pengubahan posisi dan ambulasi meningkatkan pengisian udara segmen paru berbeda sehingga memperbaiki difusi gas.

d. Meningkatkan ventilasi maksimal dan oksigenasi dan menurunkan/mencegah atelektasis.

2) Intoleransi aktivitas a. Definisi

Ketidakcukupan energi psikologis atau fisiologis untuk melanjutkan atau menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-hari yang harus atau ingin dilakukan.

b. Batasan karakteristik

Perubahan respon fisiologis terhadap aktivitas, misalnya pada sistem pernafasan yaitu dispnea, nafas pendek, frekuensi nafas meningkat dan penurunan frekuensi. Pada nadi yaitu denyut nadi melemah, menurun, peningkatan berlebihan, dan perubahan irama. Pada tekanan darah yaitu gagal meningkat dengan aktivitas, diastolic meningkat >15mmhg. Yang mungkin terdapat yaitu kelemahan, kelelahan, pucat atau sianosis, kacau, mental dan vertigo.

c. Faktor yang berhubungan

Faktor yang berhubungan dengan intoleransi aktivitasnya diantaranya tirah baring atau imobilisasi, kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, atelektasis, anemia, malnutrisi dan diet tidak kuat.

d. Kriteria hasil

Adapun kriteria dari intoleransi aktivitas hasil adalah berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan frekuensi pernafasan mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, tanda-tandaviatl normal serta status respirasi, pertukaran gas dan ventilasi adekuat.

Menurut Potter & Perry (2006) invertasi dan rasional dari masalah diatas adalah sebagai berikut:

1. Intervensi

a. Kaji kemampuan klien untuk melakukan aktivitas normal, catat laporan kelelahan, keletihan dan kesulitan menyelesaikan tugas. b. Kaji kehilangan atau gangguan keseimbangan gaya jalan dan

kelemahan otot.

c. Awasi tekanan darah, nadi, pernafasan selama dan sesudah aktivitas. Catat respon terhadap tingkat aktivitas (misalnya, peningkatan denyut jantung/TD, disritmia, pusing, dispneu dan takipneu).

d. Ubah pusing klien dengan perlahan dan pantau terhadap pusing. e. Ajarkan keluarga untuk menggunakan teknik penghematan energi,

misalnya mandi dengan duduk dan duduk untuk melakukan aktivitas. f. Anjurkan klien untuk menghentikan aktivitas bila palpitasi, nyeri dada,

nafas pendek, kelemahan atau pusing terjadi.

2. Rasional

a. Memperngaruhi pilihan intervensi/bantuan.

b. Menunjukkan perubahan neurology karena defisiensi vitamin B12 memperngaruhi keamanan klien/resiko cedera.

c. Manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumah oksigen adekuat ke jaringan.

d. Hipotensi postural atau hipoksia serebral dapat menyebabkan pusing, berdenyut dan peningkatan resiko cidera.

e. Mendorong klien melakukan banyak dengan membatasi penyimpangan energi dan mencegah kelemahan.

f. Regangan/stress kardiopulmonal berlebihan dapat menimbulkan dekompensasi atau kegagalan.

B. Asuhan Keperawatan Kasus 1. Pengkajian

A. Anamnase

Pengkajian yang sudah didapat berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan penulis dan keluhan klien kebutuhan oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang digunakan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh mempertahankan hidup dan aktvitas berbagai organ dan kehidupan sel.

B. Pemeriksaan fisik Inspeksi:

A. Penentuan tipe jalan nafas.

B. Penghitungan frekuensi pernafasan dalam waktu 1 menit. C. Pemeriksaan pernafasan.

D. Pengkajian irama pernafasan.

E. Pengkajian terhadap dalam/dankalnya pernafasan.

Palpasi:

Berguna untuk mendeteksi kelanian seperti nyeri, palpasi dilakukan untuk menentukan besar, konsistensi, suhu, apakah dapat atau tidak digerakkan dari dasar.

Perkusi:

Bertujuan untuk menilai normal atau tidaknya suara perkusi paru.

Auskultasi:

Bertujuan untuk menilai adanya suara nafas.

C. Pemeriksaan diagnostik

Pemeriksaan diagnostic tidak dapat dilakukan kepada klien dikarenakan klien tidak berada pada tempat pelayanan kesehatan.

2. Analisa Data

No. Data Etiologi Masalah Keperawatan

1. DS: Klien mengatakan sesak nafas

DO:

a. Klien tampak kesulitan bernafas

b. RR:30X/menit c. Dispnea

Adanya penurunan tekanan ekspirasi

Infeksi pada bronkus

Penurunan oksigen dalam inspiras

Keletihan otot pernafasan

Pola nafas tidak efektif

Ketidakefektifan pola nafas.

2. DS: Klien mengatakan mengalami kelelahan saat melakukan aktivitas

DO:

a. RR:30x/I (sebelum melakukan aktivitas) 35x/I sesudah melakukan aktivitas.

b. Nadi melemah dan

menurun sesudah

melalukan aktivitas (55x/i) c. TD sebelum aktivitas

120/80 mmhg, sebelum aktivitas 140/100.

Infeksi pada bronkus

Penurunan transport oksigen

Kelemahan

intoleransi aktivitas

3. Rumusan masalah

a. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan keletihan otot pernafasan ditanai dengan klien tampak kesulitan bernafas, frekuensi pernafasan 30x/menit, dispnea dan adanya penurunan tekanan ekspirasi.

b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum ditandai dengan frekuensi pernafasan 30x/I (sebelum melakukan aktivitas) 35x/I sesudah melakukan aktivitas. Nadi meleh dan menurun sesudah melakukan aktivitas (55x/i). TD sebelum melakukan aktivitas 120/80mmHg dan sesudah aktivitas 140/100mmHg.

4. Perencanaan

Berdasarkan masalah yang ditemukan dari analisa data diatas maka penulis membuat rencana keperawatan yang dapat mengatasi masalah keperawatan tersebut yang tercantum didalam table berikut:

No. Waktu Perencanaan Keperawatan

1. Kamis, 21 Mei 2015 Tujuan:

Menunjukkan pola nafas yang efektif dengan frekuensi dan kedalaman dalam rentang normal.

Kriteria hasil:

1. Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dispnea (mampu bernafas dengan mudah dan tidak ada pernafasan bibir).

2. Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal dan tidak ada suara nafas abnormal.

3. Tandas-tanda vital dalam rentang normal (TD, nadi dan pernafasan).

Rencana tindakan Rasional 1.Kaji frekuensi

kedalam pernafasan dan ekspansi dada.

Catat upaya

pernafasan termasuk penggunaan otot Bantu nafas.

2.Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas adventisius, seperti krekles, mengi dan gesekan pleural. 3.Tinggikan kepala

dan Bantu mengubah posisi dan ambulasi sesegera mungkin. 4. Dorong/Bantu

pasien dalam nafas dalam latihan batuk 5. Ajarkan kepada

keluarga cara penggunaan obat yang benar.

1. Kecepatan biasanya meningkat. Dispnea dan terjadi peningkatan kerja nafas. Kedalaman pernafasan bervariasi tergantung derajat gagal nafas. Ekspansi dada

terbatas yang

berhubungan dengan atelektasis dan atau nyeri dada.

2. Bunyi nafas

menurun/tidak ada bila jalan nafas obstruksi sekunder terhadap pendarahan.

3. bekuan atau kolaps jalan nafas kecil (atelektasis). Ronki dan mengi menyertai obstruksi jalan nafas/kegagalan

pernafasan.

4. Duduk tinggi

memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan.

5. Pengubahan posisi dan ambulasi mengingkat pengisian udara segmen paru berbeda sehingga memperbaiki difusi gas.

2. Kamis, 22 Mei 2015 Tujuan:

Aktivitas dapat terpenuhi selama perawatan.

Kriteria hasil:

1. Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan RR. 2. Mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara

mandiri. 3. TTV normal.

Tindakan keperawatan Rasional 1. Kaji kemampuan klien untuk melakukan aktivitas normal, catat laporan kelelahan, keletihan dan kesulitan menyelesaikan tugas. 2. Kaji kehilangan atau gangguan keseimbangan gaya jalan dan kelemahan otot. 3. Awasi tekanan darah, nadi, pernafasan selama dan sesudah aktivitas. Catat respon terhadap tingkat aktivitas (misalnya 1. Mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan. 2. Menunjukkan perubahan neurologi karena defisiensi vitamin B12 memperngaruhi keamanan klen/resiko cidera. 3. Manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah oksigen. 4. Adekuat ke jaringan hipotensi postural mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan. 5. Manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah

peningkatan denyut jantung/TD,

disritmia, pusing, dispneu dan takipnea.

4. Ubah posisi klien dengan perlahan dan pantau terhadap pusing. 5. Ajarkan keluarga untuk menggunakan teknik penghematan energi, misalnya mandi dengan duduk dan duduk melakukan aktivitas.

oksigen adekuat ke jaringan.

5. Implementasi

Berdasarkan intervensi yang sudah dibuat, penulis melakukan implementasi sesuai intervensi tersebut yang tercantum didalam table berikut:

Hari /Tanggal No Dx Implementasi Evaluasi Selasa, 19-05-2015

1. 1. Mengkaji frekuensi kedalaman pernafasan dan ekspansi dada. Catat upaya pernafasan termasuk otot bantu nafas. 2. Mengauskultasi bunyi nafas dan

catat adanya bunyi nafas adventisius, seperti krekels, mengi dan gesekan pleural.

S: Klien mengatakan masih sesak

O: 1. Klien tampak sesak 2. Dispnea

3. RR:28x/menit 4. Bunyi nafas ronchi

3. Menganjurkan kepala dan bantu mengubah posisi dan ambulasi sesegera mungkin.

4. Mendorong/membantu pasien dalam nafas dalam dan latihan batuk.

5. menajarkan kepada klien cara penggunaan obat yang benar.

A:Masalah belum teratasi 1. Klien tampak sesak 2. RR:28x/menit

P:Intervensi dilanjutkan Mengkaji frekuensi membantu klien dalam nafas dalam, membantu mengubah posisi semifowler.

2. 1. Mengkaji kemampuan klien untuk melakukan aktivitas normal, catat laporan kelelahan, keletihan dan kesulitan menyelesaikan tugas.

2. Mengawasi tekanan darah, nadi, pernafasan selama dan sesudah aktivitas. Catat respon terhadap tingkat aktivitas (misalnya peningkatan denyut jantung/TD, disritmia, pusing, dispneu dan takipneu).

S: Klien mengatakan masih mengalami kelelahan dalam melaksanakan tugas.

O:1. Klien tampak sesak 2.TD sebelum

aktivitas 120/80 mmHg, sesudah 130/100 mmHg. 3. RR:30x/menit.

A:Masalah belum teratasi 1.Klien tampak sesak 2.TD dan RR meningkat

selama aktivitas.

P: intervensi dilanjutkan Memberikan asupan nutrisi yang cukup. sss

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang digunakan untuk kelangsungan metabolisme di dalam sel tubuh, agar dapat mempertahankan hidup dan aktivitas berbagai organ dan kehidupan sel (Tarwoto & Wartonah, 2010). Oksigen (O2) merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang sangat di butuhkan dalam proses metabolisme sel. Hasilnya terbentuklah karbon dioksida, energi dan air akan tetapi penambahan yang melebihi batas normal pada tubuh akan memberikan dampak yang cukup bermakna terhadap aktivitas sel (Hidayat, 2006).

Kebutuhan fisiologis oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang digunakan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh, untuk mempertahankan hidupnya dan untuk aktivitas berbagai organ dan sel. Apabila dari 4 menit orang tidak mendapatkan oksigen maka akan berakibat pada kerusakan otak yang tidak dapat diperbaiki dan biasanya pasien akan meninggal (Hidayat, 2006).

Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh Hidayat (2005) yaitu Pernafasan atau respirasi adalah proses pertukaran gas antara individu dan lingkungan. Fungsi utama pernafasan adalah untuk memperoleh agar dapat digunakan oleh sel-sel tubuh dan mengeluarkan yang dihasilkan oleh sel. Saat bernapas, tubuh mengambil dari lingkungan untuk kemudian diangkut keseluruh tubuh (sel-selnya) melalui darah guna dilakukan pembakaran. Selanjutnya sisa pembakaran berupa akan kembali diangkut oleh darah ke paru-paru untuk dibuang ke lingkungan karena tidak berguna lagi oleh tubuh.

Pemenuhan kebutuhan oksigenasi tidak terlepas dari peranan fungsi sistem pernafasan dan kardiovaskuler yang menyuplai kebutuhan oksigen tubuh. Dalam implementasinya mahasiswa keperawatan diharapkan lebih memahami tentang apa oksigenasi, bagaimana proses keperawatan pada klien dengan gangguan oksigenasi dan bagaimana praktik keperawatan yang mengalami masalah oksigenasi (Hidayat, 2006).

A. Tujuan

Tujuan Umum

Mengetahui, memahami dan mampu memberikan asuhan keperawatan klien dengan prioritas masalah ketidakefektifan pola nafas.

B. Manfaat Penulisan 1. Bagi Mahasiswa

Agar mampu memahami dan melakukan tentang bagaimana asuhan keperawatan pada klien gangguan oksigenasi.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Agar dapat memberikan penjelasan dan melakukan yang lebih luas tentang asuhan keperawatan pada klien dan dosen.

3. Bagi Masyarakat

Agar lebih mengerti dan memahami tentang asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan oksigenasi untuk meningkatkan mutu kesehatan yang ada di masyarakat.

Asuhan Keperawatan pada Tn. T dengan Prioritas

Masalah Kebutuhan Dasar Oksigenasi di Lingkungan V

Kelurahan Harjosari II Kecamatan Medan Amplas

Karya Tulis Ilmiah (KTI)

Disusun dalam Rangka Menyelesaikan

Program Studi DIII Keperawatan

Oleh

Immanuel Ginting

122500020

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2015

PERNYATAAN ORISINALITAS

Saya yang bertandatangan dibawah ini : Nama : Immanuel Ginting NIM : 122500020

Dengan ini menyatakan bahwa Karya Tulis Ilmiah ini yang berjudul “Asuhan Keperawatan pada Tn. T dengan Prioritas Masalah Kebutuhan Dasar Oksigenasi di Lingkungan V Kelurahan Harjosari II Kecamatan Medan Amplas” adalah benar hasil karya sendiri, kecuali dalam pengutipan substansi disebutkan sumbernya dan belum pernah dianjurkan kepada institusi manapun serta bukan karya jiplakan. Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan kaidah ilmiah yang harus dijunjung tinggi.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya tanpa ada tekanan atau paksaan dari pihak manapun serta bersedia mendapatkan sanksi akademik jika ternyata dikemudian hari pernyataan ini tidak benar.

Medan, Juli 2015

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah melimpahkan berkatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Asuhan Keperawatan pada Tn. T dengan Prioritas Masalah Kebutuhan Dasar Oksigenasi di Lingkungan V Kelurahan Harjosari II Kecamatan Medan Amplas” ini dengan baik.

Adapun tujuan penyusunan Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini merupakan salah satu syarat untuk dapat menyelesaikan pendidikan Program Studi D-III Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

Terima kasih saya sampaikan kepada pihak-pihak yang telah memberikan bantuan, bimbingan dan dukungan dalam proses penyelesaian Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini/, sebagai berikut:

1. dr. Dedi Ardinanta, M.Kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

2. Erniyati, S.Kp., MNS selaku Pembantu Dekan I Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

3. Nur Afi Darti, S.Kp., M.Kep selaku Ketua Prodi D-III Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

4. Cholina Trisa Siregar, M.Kep., SP., KMB selaku Dosen Pembimbing KTI

Dokumen terkait