• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.2. Saran

Diperlukan penelitian lebih lanjut respon tanaman terhadap pemupukan K dan faktor-faktor yang mempengaruhinya untuk memverifikasi data status hara K

tanah sawah pada penelitian ini. Untuk penelitian selanjutnya, pengambilan contoh tanah sawah diharapkan diambil dalam jumlah yang sama atau hampir sama pada setiap provinsi.

Hara K dalam tanaman padi lebih banyak terdapat dalam jerami padi, Sekitar 80% K yang diserap tanaman berada dalam jerami. Jerami padi berpotensi sebagai pengganti pupuk anorganik K. Oleh karena itu, pengembalian jerami padi hasil panen harus dikembalikan ke dalam lahan sawah untuk meningkatkan efisiensi pemupukan K terutama pada lahan sawah yang mempunyai status K rendah.

DAFTAR PUSTAKA

Adiningsih JS. 1984. Beberapa faktor terhadap penyediaan kalium tanah sawah daerah Sukabumi dan Bogor [disertasi]. Bogor: Fakultas Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Arifin, HF Perkin, dan KH Tan. 1973. Potassium fixation and reconstitution of micaceous structures in soils. Soil Sci 116: 31-35.

Balai Penelitian Tanah. 2009. Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk. Bogor: Balai Penelitian Tanah.

Barus J dan Andarias. 2007. Status hara fosfor dan kalium lahan sawah Kabupaten Lampung Tengah. J Tanah dan Lingk 9(1): 16-19.

Brady NC. 1990. The Nature and Properties of Soils. 10th ed. New York: Macmillan Publishing Company.

Dobermann A dan T Fairhurst. 2000. Rice: Nutrient Disorders and Nutrient Management. Canada: IRRI-PPI-PPIC.

[FAO]. 1998. Word reference base for soil resourch. World Soil Resources Report 84. Rome: FAO.

[FDALR] Federal Departement of Agriculture Land Resources. 2004. Soil tested based fertilizer recommendation for extension workers national: Special Programme for Food Security. J Abuja Nigeria 22-23.

Goulding KWT. 1987. Potassium fixation and release. Prosiding Of the Colloquium of the International Potash Institute 20: 137-154.

Hardjowigeno S, H Subagyo, ML Rayes. 2004. Morfologi dan klasifikasi tanah sawah. Hlm. 1 dalam Tanah Sawah dan Teknologi Pengelolaannya. Bogor: Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Havlin JL, JD Beaton, SL Tisdale, WL Nelson. 1999. Soil Fertility and

Fertilizers. An Introduction to Nutrient Management. 6th ed. Upper Saddle River, New Jersey: Prentice Hall.

Janke W. 1992. Role of potash toward yield of food crops in Asia countries. Hlm. 163-180 dalam Peranan Kalium dalam Pemupukan Berimbang untuk Mempercepat Swasembada Pangan. Prosiding Seminar Nasional Kalium. Jakarta, 4 Agustus 1992.

Karama AS, Sri Adiningsih, M Supartini, M Sediarso, A Kasno, T Prihatini. 1992. Peranan pupuk kalium dalam peningkatan produktivitas lahan pertanian di Indonesia. Hlm. 9-48 dalam Peranan Kalium dalam Pemupukan Berimbang untuk Mempercepat Swasembada Pangan. Prosiding Seminar Nasional Kalium. Jakarta, 4 Agustus 1992.

Kirkman JH, A Basker, A Surapaneni, AA Macgregor. 1994. Potassium in the soils of New Zealand a review. New Zealand Journal of Agricultural Research 37: 207-227.

Leiwakabessy FM, UM Wahjudin, Suwarno. 2003. Kesuburan Tanah. Bogor: Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

[LPT] Lembaga Penelitian Tanah. 1977. Peta status kadar K tanah sawah Jawa Madura Skala 1 : 1.000.000. Soil Sci 149: 44-51.

Metson AJ. 1980. Potassium in New Zealand soils. Departement of Scientific and Research. New Zealand Soil Bureau report 38: 61. Nurwadjedi. 2011. Indeks keberlanjutan lahan sawah untuk mendukung

penataan ruang: studi kasus di Pulau Jawa [disertasi]. Bogor: Fakultas Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Odjak M. 1992. Effect of potassium fertilizer in increasing quality and quantity of crop yield. Hlm. 94-104 dalam Peranan Kalium dalam Pemupukan Berimbang untuk Mempercepat Swasembada Pangan. Prosiding Seminar Nasional Kalium. Jakarta, 4 Agustus 1992.

Oviasogie PO dan AE Aghimien. 2011. Fractionation of potassium in soil cultivated to the oil palm (Eleais guineensis jacq). Nig. J.Life Sc. 1 1: 74-78.

Partohardjo S, M Ismunadji, G Soepardi. 1977. Penentuan areal persawahan di Jawa yang memerlukan pupuk kalium. Simposium I. Peranan Hasil Penelitian Padi dan Palawija dalam Pembangunan Pertanian Maros, 26-29 September 1977. Lembaga Pusat Penelitian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. [Puslittanak] Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 1992. Status kalium

dan peningkatan efisiensi pemupukan KCl pada tanah sawah di Jawa Barat dan Jawa Tengah dalam Setyorini, JS Adiningsih, Rochayati S. 2003. Uji Tanah Sebagai Dasar Penyusunan Rekomendasi Pemupukan. Bogor: Balai Penelitian Tanah.

Rachim A. 1995. Pembinaan Uji Tanah Hara Makro N, P, K, S, Ca, Mg. Bahan Penelitian Pembinaan Uji Tanah dan Analisis Tanaman. Bogor.

Ravoniarijaona M. 2009. Aplikasi asam oksalat dan Fe pada Vertisol dan Alfisol terhadap pertumbuhan dan serapan K tanaman jagung [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Rayes ML. 2000. Karakteristik, genesis, dan klasifikasi tanah sawah berasal dari bahan volkan merapi [disertasi]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Schroeder D. 1974. Relationship between soil potassium and the K nutrition of the plant. Prosiding The Congress of The International Potash Institute 10: 53-63.

Situmorang R dan Untung S. 2001. Bahan Kuliah Tanah Sawah. Bogor: Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Soepardi G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Bogor: Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Soepardi G dan M Ismunadji. 1987. Harkat kalium tanah dan pemakaian pupuk kalium di Indonesia dalam Diagnosis dan Perbaikan Kahat Kalium Pada Tanaman Utama. Hlm. 53-59. Bogor: Jurusan Tanah Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Sofyan A, Nurjaya, A Kasno. 2004. Status hara tanah sawah untuk rekomendasi. Hlm. 83 dalam Tanah Sawah dan Teknologi Pengelolaannya. Bogor: Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Sudjadi M, JS Adiningsih, DW Gill. 1985. Potassium availability in soils of

Indonesia. In 19th. Coll of the Int’l. Potash Inst.: 157-168 dalam Diagnosis dan Perbaikan Kahat Kalium Pada Tanaman Utama. Bogor: Jurusan Tanah Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Suwardi dan H Wiranegara. 2000. Morfologi dan Klasifikasi Tanah. Bogor:

Jurusan Tanah Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Tisdale SL, WL Nelson, JD Beaton. 1985. Soil Fertility and Fertilizer. 10th ed. New York: Macmillan.

[USDA] United States Departement of Agriculture. 2010. Keys to Soil Taxonomy. 10th ed. Natural Resources Conservation Service.

Tabel Lampiran 1. Titik Koordinat Lokasi Pengambilan Contoh Tanah Sawah di Pulau Jawa

Nama Lokasi Lokasi Elevasi

(m) S E Karawang 06°16' 25.0" 107°17' 08.7" 31 Jatisari 06°21' 26.4" 107°32' 36.9" 45 Pamanukan 06°16' 43.4" 107°50' 39.2" 22 Indramayu 06°24' 57.7" 108°16' 33.2" 23 Palimanan 06°40' 52.3" 108°25' 32.6" 28 Cicalengka 07°06' 07.3" 108°06' 09.6" 785 Cikarawang 06°33' 05.1" 106°44' 22.4" 195 Brebes 06°52' 32.5" 109°03' 46.6" 19 Suradadi 06°52' 24.2" 109°15' 02.0" 23 Batang 06°58' 39.3" 109°53' 39.1" 178 Kendal 06°56' 29.5" 110°14' 36.1" 19 Demak 06°55' 46.7" 110°32' 38.7" 16 Jekulo 06°48' 07.8" 110°56' 02.7" 29 Jogjakarta 07°49' 49.3" 110°27' 21.4" 103 Borobudur 07°34' 39.0" 110°15' 01.8" 318 Kutoarjo 07°43' 26.4" 109°52' 20.5" 23 Karanganyar 07°37' 36.1" 109°33' 55.4" 22 Buntu 07°35' 24.2" 109°15' 07.3" 18 Bojonegoro 07°08' 14.3" 111°48' 47.9" 40 Tambak Rejo 07°15' 54.7" 111°35' 10.9" 79 Nganjuk 07°33' 56.7" 111°50' 34.3" 74 Jombang 07°31' 48.1" 112°15' 24.8" 39 Ponorogo 07°51' 53.2" 111°27' 17.3" 112

Tabel Lampiran 2. Kriteria Penilaian Sifat Kimia Tanah Berdasarkan Balai Penelitian Tanah (2009)

Parameter Tanah

Nilai sangat

rendah rendah sedang tinggi

sangat tinggi C-total (%) < 1 1-2 2-3 3-5 > 5 N-total (%) < 0.1 0.1-0.2 0.21-0.5 0.51-0.75 >0.75 Nisbah CN < 5 5-10 11-15 16-25 > 25 KTK (cmol kg-1) < 5 5-16 17-24 25-40 > 40 Ca-dd (cmol kg-1) < 2 2-5 6-10 11-20 > 20 Mg-dd (cmol kg-1) < 0.4 0.4-1 1.1-2.0 2.1-8.0 > 8 Na-dd (cmol kg-1) < 0.1 0.1-0.3 0.4-0.7 0.8-1.0 > 1.0 KB (%) < 20 20-40 41-60 61-80 > 80 sangat masam masam agak masam netral agak alkalin Alkalin pH (H2O) < 4.5 4.5-5.5 5.5-6.5 6.5-7.5 7.6-8.5 > 8.5

Tabel Lampiran 3. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Kdd Pada Setiap Lokasi Sumber Keragaman Derajat Bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah F Hitung P Perlakuan 2 0.140 0.070 0.39 0.682 Galat 20 3.582 0.179 Total 22 3.722

Nyata pada taraf α = 0.05 Standar Deviasi (SD) : 0.4232

Tabel Lampiran 4. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Ktdd Pada Setiap Lokasi Sumber Keragaman Derajat Bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah F Hitung P Perlakuan 2 1.266 0.633 1.60 0.227 Galat 20 7.913 0.396 Total 22 9.178

Nyata pada taraf α = 0.05 Standar Deviasi (SD) : 0.6290

Tabel Lampiran 5. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Kt Pada Setiap Lokasi Sumber Keragaman Derajat Bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah F Hitung P Perlakuan 2 77.0 38.5 2.31 0.125 Galat 20 333.3 16.7 Total 22 410.3

Nyata pada taraf α = 0.05 Standar Deviasi (SD) : 4.083

Tabel Lampiran 6. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Kdd Pada Setiap Jenis Tanah Sumber Keragaman Derajat Bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah F Hitung P Perlakuan 2 0.391 0.195 0.17 0.330 Galat 20 3.331 0.167 Total 22 3.722

Nyata pada taraf α = 0.05 Standar Deviasi (SD) : 0.4081

Tabel Lampiran 7. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Ktdd Pada Setiap Jenis Tanah Sumber Keragaman Derajat Bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah F Hitung P Perlakuan 2 1.079 0.539 1.33 0.286 Galat 20 8.100 0.405 Total 22 9.178

Nyata pada taraf α = 0.05 Standar Deviasi (SD) : 0.6364

Tabel Lampiran 8. Hasil Analisis Sidik Ragam Perbedaan Kt Pada Setiap Jenis Tanah Sumber Keragaman Derajat Bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah F Hitung P Perlakuan 2 0.1397 0.0699 2.93 0.077 Galat 20 0.4770 0.0238 Total 22 0.6167

Nyata pada taraf α = 0.05 Standar Deviasi (SD) : 0.1544

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Pemupukan kalium (K) memegang peranan penting dalam meningkatkan produksi pertanian disamping pupuk nitrogen (N) dan fosfor (P). Pemupukan K di Indonesia mulai berkembang pesat sejak dicanangkannya Program Bimbingan Massal (BIMAS) oleh pemerintah sekitar tahun 60-an yang bertujuan untuk meningkatkan produksi pertanian. Umumnya penggunaan pupuk tersebut belum didasarkan pada potensi atau status hara tanah dan kebutuhan tanaman. Sementara tanggap tanaman terhadap pemupukan K berbeda, tergantung status K di dalam tanah dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses penyerapannya di sawah (Barus dan Andarias 2007).

Tahun 1975 diketahui bahwa status hara K tanah sawah di Jawa berkisar dari rendah sampai tinggi, dan diantaranya 1.8 juta ha sawah diketahui kahat K (LPT 1977). Partohardjono et al. (1977) yang memakai batas kritikal 124 ppm K (Bray II) menduga bahwa luasan sawah yang ditanami padi sekali setahun yang kahat K ada 1.07 juta ha, sedangkan yang ditanami dua kali setahun ada 1.07 juta ha. Dengan demikian secara menyeluruh ada 3.40 juta ha luas panen padi sawah yang kahat K. Hasil tersebut tidak jauh berbeda dengan Lembaga Penelitian Tanah (1977) yang memakai pengekstrak 25% HCl.

Pusat Penelitian Tanah pada tahun 2000 melaporkan bahwa sebagian besar lahan sawah di 18 provinsi di Indonesia berstatus K tinggi (pengekstrak 25% HCl), yaitu sebanyak 54.97% lahan sawah berstatus K tinggi, 32.08% berstatus K sedang dan hanya 12.95% lahan sawah berstatus K rendah. Sebagian besar lahan sawah berstatus K tinggi tersebut berada di Pulau Jawa. Menurut Sofyan et al. (2004), lahan sawah yang berstatus K tinggi ini diakibatkan oleh pemupukan K yang dilakukan secara menerus. Pemupukan K yang dilakukan secara terus-menerus akan menyebabkan ketidakseimbangan hara tanah yang disinyalir dapat mengakibatkan terjadinya pelandaian produktivitas (leveling off) padi sawah.

Pupuk K bila diberikan pada tanah dalam jumlah berlebihan, tanaman akan menyerapnya dalam jumlah yang berlebihan melebihi apa yang diperlukan untuk mencapai hasil optimum. Pemakaian berlebihan ini merupakan pemborosan

(Soepardi 1983). Namun apabila jumlah K di dalam larutan tanah tidak mencukupi kebutuhan tanaman maka akan terjadi kekahatan K. Kahat K menimbulkan penurunan produksi dan mutu hasil tanaman yang menyolok dan menekan ketepatgunaan sarana produksi lainnya.

Pulau Jawa, Bali, Sumatera, dan Sulawesi dikenal sebagai lumbung beras nasional. Pulau Jawa diantara pulau-pulau lainnya merupakan lumbung beras andalan. Pada tahun 2008, Pulau Jawa dengan luas 5.74 juta ha mampu menyumbang 55% dari produksi gabah giling (GKG) di Indonesia. Ditinjau dari penyebarannya, lebih dari 60% tanah sawah di Indonesia berada di Pulau Jawa (Nurwadjedi 2011).

Bertolak dari uraian tersebut maka perlu dilakukan evaluasi kembali terhadap status hara K tanah sawah di Pulau Jawa guna meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk dan menjaga hasil padi sawah tetap tinggi. Sementara saat ini data mengenai kadar dapat dipertukarkan, tidak dapat dipertukarkan dan K-total di Pulau Jawa belum tersedia. Penelitian ini membagi status hara K ke dalam tiga kelas yaitu rendah, sedang, dan tinggi dengan pengekstrak 1 M NH4OAc pH 7 untuk K-dapat dipertukarkan, serta menganalisa kadar K-tidak dapat dipertukarkan dan K-total tanah sawah di Pulau Jawa.

1.2. Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi status hara K-dapat dipertukarkan pada tanah sawah di Pulau Jawa. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar K-dapat dipertukarkan, K-tidak dapat dipertukarkan, dan K-total pada setiap lokasi dan jenis tanah.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Peranan Kalium Terhadap Pertumbuhan Tanaman Padi Sawah

Peranan utama kalium (K) dalam tanaman adalah sebagai aktivator berbagai enzim (Soepardi 1983). K merupakan satu-satunya kation monovalen yang esensial bagi tanaman. K terlibat dalam semua reaksi biokimia yang berlangsung dengan tanaman dan merupakan batasan yang paling banyak diperlukan tanaman. K bukan penyusun bagian integral komponen tanaman, melainkan fungsinya sebagai katalis berbagai fungsi fisiologis esensial (Tisdale et al. 1985).

Adanya K tersedia yang cukup dalam tanah menjamin ketegaran tanaman. Selanjutnya membuat tanaman lebih tahan terhadap berbagai penyakit dan merangsang pertumbuhan akar (Soepardi 1983). K dikenal sebagai hara penentu mutu produksi tanaman (Janke 1992).

Kahat K pada tanaman akan menghambat seluruh proses metabolisme sehingga produksi turun. Pada tanaman padi sawah, kahat K menyebabkan tanaman cepat menua, pemasakan tidak merata, dan kehampaan gabah tinggi (Karama et al. 1992). Selain itu menurut Dobermann dan Fairhurst (2000), kahat K menyebabkan tanaman padi sawah tumbuh kerdil (daun lebih kecil, pendek, dan batang kurang keras), mudah rebah dan daun mudah menggulung. Kahat K juga menyebabkan bobot 1000 butir gabah turun, translokasi karbohidrat terhambat, sistem perakaran tidak sehat menyebabkan penurunan serapan hara lainnya, dan daya oksidasi akar buruk menurunkan ketahanan terhadap bahan-bahan toksik.

2.2. Fraksi-fraksi Kalium dalam Tanah

Kadar K di dalam tanah biasanya berkisar antara 0.5–2.5% dengan rata-rata 1.2% tergantung keadaan mineral cadangan dan tingkat pelapukan (Leiwakabessy et al. 2003). Berdasarkan ketersediaannya, K di dalam tanah secara umum dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu K relatif tidak tersedia, K lambat tersedia, dan K segera tersedia. Hubungan diantara ketiganya tertera pada Gambar 1.

K-tidak dapat ditukarkan K-dapat ditukarkan K-larut Gambar 1. Bagan Perbandingan Relatif dari Kalium yang Tidak, Segera, dan

Lambat Tersedia (Sumber: Brady 1990)

Menurut Kirkman et al. (1994), Jumlah K yang berada dalam masing-masing fraksi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor tanah, antara lain: jenis dan jumlah mineral liat, serapan hara tanaman, penggunaan pupuk, pencucian, dan efektivitas proses fiksasi pelepasan yang berlangsung di dalam tanah. Keseimbangan dinamik antara fraksi-fraksi K tanah dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Keseimbangan Dinamik Antar Fraksi-fraksi Kalium Tanah (Sumber: Kirkman et al. 1994)

Relatif tidak tersedia

(feldspar, mika, dan lain-lain) (90-98% dari K-total)

Relatif segera tersedia K-dapat dipertukarkan dan K-larut

(1-2% dari K-total) Relatif lambat tersedia

K-tidak dapat dipertukarkan (1-10% dari K-total) 90% 10% Sisa Tanaman Pupuk Kandang Mika Feldspar Gelas volkan Pencucian K-larut Pupuk K Serapan Tanaman K-tidak dapat dipertukarkan Mineral liat Bahan organik K-dapat dipertukarkan K-terfiksasi Mika terlapuk Liat intergrade Vermikulit Liat amorf K-struktural D R F A = Adsorpsi D = Desorpsi F = Fiksasi R = Pelepasan W = Hancuran

Menurut Schroeder (1974) umumnya kadar Kdd kurang dari 2% dari Kt

tanah atau berkisar antara 10-400 ppm. Namun demikian tanah-tanah yang ditanami secara intensif mengandung Kdd yang bervariasi sekitar 1-5% dari Kt

tanah. K-dapat dipertukarkan (Kdd) didefinisikan sebagai K yang dijerap pada kompleks permukaan koloid tanah. Pada mineral liat, Kdd berada pada tapak jerapan non spesifik, yaitu posisi planar dan edge. Kdd dapat menjadi ukuran ketersediaan K dalam tanah. Kirkman et al. (1994) menyatakan bahwa aplikasi pemupukan K dapat diduga berdasarkan tingkat kadar Kdd tanah. Semakin tinggi kadar Kdd tanah maka semakin sedikit jumlah pupuk yang perlu ditambahkan dan begitu pula sebaliknya. Peranan utama dari Kdd adalah untuk mempertahankan kadar K dalam larutan (Leiwakabessy 2003).

Bila dalam tanah dijumpai vermikulit, ilit, atau mineral tipe 2:1 lainnya, maka K dari pupuk seperti KCl tidak saja menjadi terjerap, tetapi juga dapat terikat selamanya oleh koloid tanah. Ion K dan ammonium pas dalam ruangan antara unit kristal dari mineral liat yang biasanya mengembang dan menjadi bagian integral dari kristal tersebut. K tersebut tidak dapat digantikan oleh cara pertukarkan hara dan oleh karena itu disebut sebagai K-tidak dapat dipertukarkan (Ktdd). Ktdd merupakan K cadangan walaupun pelepasannya sangat lambat sehingga dinilai sebagai K yang relatif tidak segera tersedia bagi tanaman (Soepardi 1983). Ktdd terdiri dari bentuk K-struktural dan K-terfiksasi. K-terfiksasi berada diantara lapisan mineral liat mika dimana posisi tersebut tidak memungkinkan terjadinya pertukaran dengan kation lain yang berada dalam larutan tanah (Goulding 1987). Perbedaan antara K-terfiksasi dengan K-struktural adalah pelepasan K dari K-terfiksasi dapat balik (reversible) sedangkan dari K-struktural tidak dapat balik (ireversible).

Menurut Brady (1990), K-total (Kt) terdiri dari K relatif tidak tersedia, K relatif lambat tersedia (Ktdd), K relatif segera tersedia (Kdd dan Kl) dan K dari komponen tanah lainnya (bahan organik). Sebagian besar tanah mineral, kecuali yang berpasir, mempunyai kadar Kt tinggi. K yang dapat ditukarkan pada umumnya berjumlah sedikit, sebagian besar terikat kuat dan agak sukar tersedia bagi tanaman. Besarnya Kdd merupakan bagian kecil dari K-total (Kt).

2.3. Sumber Kalium Tanah

Sumber K tanah dapat berasal dari bahan organik ataupun bahan inorganik. Bahan organik umumnya memiliki kadar K rendah, sedangkan bahan inorganik berkadar K tinggi. K yang berasal dari hasil pelapukan bahan organik (pupuk kandang, sisa tanaman, kotoran lumpur dan lain-lain) umumnya juga menyumbangkan K+ inorganik yang tersedia bagi tanaman. Kadar K dalam kotoran hewan berkisar antara 0.2-2% atau 2-20 kg t-1 sedangkan dalam sampah sekitar 4.5 kg t-1 dari bahan kering (Havlin et al. 1999).

Deposit garam K mudah larut banyak ditemukan di permukaan bumi dan juga di sungai mati dan laut. Deposit ini mempunyai kemurnian tinggi dan ditambang untuk keperluan pertanian dan industri yang disebut sebagai potash. Cadangan potash terbesar di dunia terdapat di Canada, yaitu sepanjang 450 mil, lebar 150 mil, dan kedalaman 3000-7000 kaki. Keperluan K untuk pertanian biasanya berada dalam bentuk pupuk yang berasal dari deposit K tersebut. Sumber K dalam bahan inorganik antara lain terdapat di pupuk KCl (60% K2O), K2SO4 (50% K2O), KNO3 (37% K2O), K fosfat (20-50% K2O), K2CO3 (68% K2O), dan lain-lain (Havlin et al. 1999).

2.4. Tanah Sawah

Tanah sawah (soil rice, paddy soil, lowland paddy soil, artificial hydromorphic soils, great-group anthraquic, sub-group anthrophic, aquorizem, sub-group hydraquic), dalam klasifikasi tanah FAO (World Reference Base for Soil Resources) termasuk ke dalam Anthrosols (FAO 1998). Tanah sawah adalah tanah yang digunakan untuk bertanam padi sawah, baik terus-menerus sepanjang tahun maupun bergiliran dengan tanaman palawija (Hardjowigeno et al. 2004).

Istilah tanah sawah bukan merupakan suatu istilah taksonomi, akan tetapi merupakan istilah yang menggambarkan jenis penggunaan tanah seperti halnya tanah hutan, tanah perkebunan, tanah pertanian dan sebagainya. Dengan demikian merupakan suatu tipe man made soil yang juga disebut sebagai anthropogenic soil. Ada juga yang menyatakan sebagai tanah yang telah mengalami perubahan akibat penggenangan oleh air irigasi atau tanah yang mengalami proses hidromorfik, baik secara buatan maupun alami. Di Indonesia tanah sawah berasal

dari jenis-jenis tanah yang cukup beragam antara lain: Entisol, Vertisol, Inceptisol, Alfisol, Ultisol, dan Histosol yang tersebar luas (Situmorang dan Sudadi 2001).

Menurut Hardjowigeno et al. (2004), tanah sawah adalah tanah kering yang diairi, atau tanah rawa-rawa yang dikeringkan dengan membentuk saluran-saluran drainase. Penggenangan selama pertumbuhan padi dan pengolahan tanah pada tanah kering yang disawahkan dapat menyebabkan berbagai perubahan sifat tanah, baik sifat morfologi, fisika, kimia, mikrobiologi maupun sifat-sifat lain. Segala macam jenis tanah dapat disawahkan asalkan air cukup tersedia. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila sifat tanah sawah sangat beragam sesuai dengan sifat tanah asalnya.

III. BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan mulai dari bulan Februari 2012 sampai dengan Juni 2012. Pengambilan contoh tanah dilakukan di beberapa tanah sawah di Pulau Jawa. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

3.2. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah-tanah sawah di Pulau Jawa dan bahan kimia. Bahan kimia terdiri dari 1 M NH4OAc pH 7, 1 M HNO3, HClO4 pekat, HNO3 pekat, K 1000 ppm, dan aquades.

Alat yang digunakan GPS, plastik untuk contoh tanah, mortar, saringan 2 mm, mesin pengocok, tabung sentrifuse, sentrifuse, hot plate, pH meter, flamephotometer, alat destruksi, tabung destruksi, timbangan digital, oven, pipet volumetrik, labu takar (50 ml, 100 ml, 500 ml, dan 1000 ml), erlenmeyer (125 ml), gelas pengaduk, corong gelas, botol kontainer, label, spidol marker, tissue, jerigen, plastic wrap, aluminium foil, tabung plastik, tabung reaksi, dan kertas saring.

3.3. Metode Penelitian

Penelitian ini terdiri dari 4 (empat) tahap, yaitu tahap persiapan, pengambilan sampel tanah, analisa tanah, dan pengolahan data untuk penetapan kelas status hara K tanah sawah.

3.3.1. Tahap Persiapan

Tahap ini meliputi tahap perencanaan sebelum pengambilan contoh tanah dilakukan, yaitu menetapkan lahan sawah yang akan diambil contoh tanahnya, jumlah dan lokasi pengambilan contoh tanah. Penetapan lokasi pengambilan contoh tanah didasarkan atas pertimbangan karena daerah tersebut merupakan sentra pertanian, terutama tanaman padi sawah.

3.3.2. Pengambilan Contoh Tanah

Contoh tanah sawah diambil di 23 (dua puluh tiga) lokasi di Pulau Jawa. Contoh tanah tersebut diambil pada kedalaman sekitar 0-20 cm secara komposit. Contoh tanah komposit kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik yang telah diberi label. Setiap contoh tanah sawah yang diambil pada setiap lokasi dicatat koordinatnya (Tabel Lampiran 1). Sebaran pengambilan contoh tanah sawah dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Lokasi Pengambilan Contoh Tanah Sawah di Pulau Jawa dan Distribusinya

Jumlah contoh tanah sawah yang diambil di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur berturut-turut sebanyak 7, 11 dan 5 contoh. Lokasi pengambilan contoh tanah sawah beserta jenis tanah selengkapnya disajikan pada Tabel 1. Penentuan jenis tanah didasarkan pada Peta Tanah Pulau Jawa Skala 1:1.000.000 dari BSDLP, Departemen Pertanian, Indonesia (Gambar Lampiran 1).

Tabel 1. Lokasi Pengambilan Contoh Tanah Sawah di Pulau Jawa Beserta Jenis Tanahnya

Provinsi Nama Lokasi Ordo Tanah

(USDA 2010)

Jawa Barat Karawang Inceptisols

Jatisari Inceptisols Pamanukan Inceptisols Indramayu Inceptisols Palimanan Inceptisols Cicalengka Inceptisols Cikarawang Ultisols

Jawa Tengah Brebes Inceptisols

Suradadi Inceptisols Batang Ultisols Kendal Inceptisols Demak Vertisols Jekulo Vertisols Jogjakarta Vertisols Borobudur Inceptisols Kutoarjo Inceptisols Karanganyar Inceptisols Buntu Inceptisols

Jawa Timur Bojonegoro Vertisols

Tambak Rejo Vertisols

Nganjuk Vertisols Jombang Inceptisols Ponorogo Vertisols

3.3.3. Analisis Contoh Tanah

Seluruh contoh tanah yang diambil dari lapang dikeringudarakan kemudian dihaluskan. Setelah dihaluskan diayak dengan saringan tanah berdiameter 2 mm. Analisis Kdd dilakukan dengan pengekstrak 1 M NH4OAc pH 7, Ktdd dengan 1 M HNO3, dan Kt dengan campuran HClO4 pekat dan HNO3 pekat.

Analisis Pendahuluan

Analisis pendahuluan dilakukan untuk mengetahui karakteristik sifat kimia tanah sawah yang diambil. Analisis pendahuluan meliputi pH (H2O) yang diukur dengan pH meter. C-organik yang diperoleh dengan metode Walkley and Black. KTK dan basa-basa (Nadd, Cadd, Mgdd) yang diperoleh dari hasil ekstraksi dengan 1 M NH4OAc pH 7. total yang diperoleh dari hasil destruksi dengan metode

Dokumen terkait