BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.2 Saran
1. Sebaiknya pihak daerah dan dinas kesehatan setempat perlu menginformasikan kepada masyarakat Dusun 1 Desa Sitiris-Tiris Kecamatan Andam Dewi, Tapanuli Tengah mengenai fluorosis gigi serta faktor-faktor penyebab fluorosis gigi pada anak.
2. Pihak daerah setempat dan dinas kesehatan perlu menyampaikan kepada masyarakat mengenai dampak mengkonsumsi sumber fluor dalam jumlah berlebih terhadap kondisi gigi masyarakat terutama anak-anak di Dusun tersebut.
3. Diharapkan masyarakat khususnya orang tua dapat membatasi asupan fluor sehari-hari anak dari berbagai sumber untuk mencegah terjadinya fluorosis gigi pada masa perkembangan gigi anak.
4. Diharapkan dapat dilakukan penelitian selanjutnya untuk mengetahui penyebab fluorosis gigi serta tingkat keparahan fluorosis gigi pada anak di Desa tersebut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Fluorosis Gigi
2.1.1 Definisi Fluorosis Gigi
Fluorosis gigi merupakan suatu kelainan struktur email bebercak atau cacat (mottled enamel) sebagai dampak asupan fluor berlebih pada masa pembentukan gigi. Perubahan yang tampak pada gigi akibat konsumsi fluor yang berlebihan pada awal masa anak-anak ketika giginya sedang tumbuh. Fluorosis gigi ditandai dengan noda coklat atau bintik-bintik kuning yang menyebar dipermukaan gigi akibat pembentukan email gigi yang tidak sempurna. Email gigi yang tidak sempurna menyebabkan gigi menjadi mudah berlubang, timbul bercak putih dan cokelat pada gigi. Meskipun berdampak ringan dan tidak menimbulkan rasa nyeri pada gigi, namun hal tersebut dapat mengurangi penampilan pada gigi sehingga tidak sedap dipandang mata (Titian, 2009).
Menurut Monang (1995) fluorosis adalah kelainan yang terjadi pada permukaan gigi akibat kelebihan fluor. Fluorosis gigi merupakan suatu fenomena yang terjadi pada masa pembentukan gigi (CDC, 2011). Fluorosis gigi atau yang disebut juga dental fluorosis merupakan suatu gangguan pembentukan gigi yang disebabkan oleh fluoride yang terdapat pada cairan jaringan dalam jangka waktu yang lama, selama periode perkembangan gigi (Fejerskov et.al.1991).
Konsentrasi fluor yang tinggi, lebih dari 2 ppm dapat mempengaruhi gigi-gigi yang sedang terbentuk sehingga menjadi fluorosisi gigi-gigi sedangkan gigi-gigi-gigi-gigi yang sudah erupsi tidak lagi dipengaruhinya. Sejarah dari fluorosis gigi ini pertama kali ditulis oleh Dokter Eager yang melihat tanda kehitam-hitaman pada
gigi anak yang tinggal dekat Nepal yang ditemui pada anak-anak dan orang dewasa yang sejak kecilnya minum air dari sumur-sumur bor yang dalam. Seorang ahli kimia menunjukkan bahwa bahan kimia tersebut adalah fluor dan melakukan analisa sampel air dari 6 daerah yang penduduknya flourosis gigi dan dibandingkan air minum dari 30 daerah yang penduduknya mempunyai email normal. Hasil dari penyelidikan tersebut menguatkan hipothesa yang menyatakan adanya hubungan antara kadar fluor yang tinggi didalam air minum dengan endemik flourosis gigi (Monang,1995).
2.1.2 Gambaran Klinis Fluorosis Gigi
Penggunaan flourida dalam waktu lama selama pembentukan enamel mengakibatkan perubahan-perubahan klinik sebagai berikut; mulai dari timbulnya garis putih yang kecil pada enamel sampai dengan yang parah yaitu enamel menjadi putih seperti kapur dan opaque (tidak tembus cahaya) dan mungkin sebagian patah segera sesudah gigi erupsi. Keparahannya tergantung dari banyaknya pemakaian fluoride selama periode pembentukan gigi. Ciri-ciri enamel yang normal perlu diketahui diantaranya Enamel normal ialah suatu bahan yang padat mengandung banyak pori-pori yang sangat kecil, terdiri dari Kristal-kristal hidrosiapatit yang tersusun dengan pola yang teratur dan membentuk enamel rods (prisma enamel). Pada enamel yang normal, Kristal-kristal tersebut terikat satu sama lain dengan sangat erat dan celah-celah diantara Kristal-kristalnya sangatlah kecil sehingga enamel nampak translusen. Permukaan enamel normal biasanya halus dan mengkilap, berwarna putih krem muda; sifat ini tetap bertahan walaupun permukaannya dikeringkan dalam waktu lama (Fejerskov et.al. 1991).
Tanda-tanda paling awal dari dental fluorosis dapat terlihat sebagai suatu garis putih yang berjalan menyilang permukaan enamel. Garis ini paling mudah terlihat pada bagian inisial yang tidak ada dentinnya atau hanya selapis tipis di bawah enamel. Mereka hanya bisa dilihat dengan jelas apabila permukaan gigi dikeringkan. Pada beberapa kasus, walaupun pada dental fluorosis yang paling ringan, puncak cups, incisal edge, marginal ridge, terlihat berwarna opaque putih, suatu keadaan yang disebut fenomena snow cap (Fejerskov et.al.,1991).
Tanda pertama dari berlebihnya pemasukan fluor ke dalam tubuh selama periode pembentukan gigi adalah erupsi gigi dengan email yang berbintik-bintik. Walaupun mekanisme yang tepat mengenai terjadinya fluorosis email belum sepenuhnya diketahui, diduga bahwa fluor yang berlebihan tersebut mempengaruhi fungsi ameloblast yang salah satu akibatnya adalah tak sempurnanya mineralisasi. Insisivus dan kaninus permanen masih muda terserang fluorosis sampai umur 5-7 tahun (Kidd et.al.,1991).
Pada gigi yang terserang dental fluorosis sedikit lebih parah, maka nampak bahwa garis putih lebih luas dan lebih menonjol. Mungkin terlihat adanya fusi dari beberapa garis di sana-sini sehingga menimbulkan gambaran bercak kecil-kecil, tidak teratur dan permukaan gigi nampak suram seperti berkabut. Perubahan ini bisa diamati tanpa mengeringkan permukaan gigi, namun demikian bisa menjadi sangat jelas walaupun hanya dengan satu kali usapan untuk mengeringkan permukaan gigi (Fejerskov et.al., 1991).
Searah dengan meningkatnya derajat keparahan, pada permukaan gigi akan nampak gambaran daerah putih yang semakin jelas, tidak teratur dan
berkabut. Dengan menggunakan mikroskop, nampak adanya peningkatan porositas pada bagian luar enamel. Kadang-kadang terlihat adanya varias-variasi tertentu pada ciri-ciri tingkat keparahan dental fluorosis. Kadang-kadang enamel yang terletak di servikal nampak lebih homogeny, opaque, dan bagian mesio-insisal gigi insisivus nampak kecoklatan. Warna meluas sesudah gigi erupsi di dalam mulut. Dengan meningkatnya keparahan, daerah opaque yang tidak teratur berfusi sampai seluruh permukaan gigi nampak putih seperti kapur. Pada waktu gigi erupsi, gigi yang sudah opaque putih mungkin bervariasi kualitasnya mulai dengan yang sulit di probing (metode diagnostik kedokteran gigi dengan pemeriksaan palpasi menggunakan alat tertentu) sampai yang keadaan putih seperti kapur dan segera sesudah gigi erupsi ke dalam mulut gigi ini menunjukkan kerusakan pada permukaannya. Apabila daerah yang putih dan porus tersebut diprobe dengan kuat, maka sebagaian dari enamel permukaan akan terlepas (Fejerskov et.al. 1991).
Pada tingkat keparahan dental fluorosis yang lebih tinggi permukaan gigi yang secara keseluruhan opaque, menunjukkan terlepasnya permukaan enamel terluar, mengakibatkan terbentuknya pit-pit. Dengan meningkatnya keparahan, pit-pit tersebut berfusi satu sama lain sehingga membentuk pita-pita horizontal. Pada bagian servikal, zone yang porus dan mengalami hipomineralisasi tersebut meluas sampai mencapai hampir keseluruhan ketebalan enamel. porositas selalu terletak tepat profundus dari lapisan enamel terluar yang tipis dan mengandung banyak mineral. Gambaran ini akan menghasilkan enamel yang agak getas, dan tekanan fisiologis yang kecil saja bisa menyebabkan enamel luar gempil,
meninggalkan enamel yang sangat porus yang menjadi rentan terhadap lingkungan rongga mulut karena stain mudah terserap oleh protein enamel, maka terliat dengan jelas pada daerah yang banyak pit-pitnya akan berwarna coklat tua atau bahkan hitam (Fejerskov et.al. 1991).
Pada kasus yang lebih parah lagi terjadi fusi dari pit-pit yang tidak teratur dan akan menghasilkan gambaran seperti karatan. Akhirnya gigi yang mengalami fluorosis yang parah akan menunjukkan hilangnya hampir seluruh enamel permukaan. Bentuk gigi sangat berubah. Hilangnya enamel permukaan mungkin sangat luas sehingga tinggal lengkungan opaque pada bagian servikal, yang merupakan enamel yang masih utuh telah hilang sering berwarna coklat tua sebagai akibat dari stain yang terserap. Warna dan perubahannya sepenuhnya tergantung pada kondisi lingkungan pasca erupsi dan bukan merupakan sifat intrinsic dari dental fluorosis pada manusia (Fejerskov et.al. 1991).
Dibandingkan dengan enamel yang sehat maka pada fluorosis gigi secara histologist akan didapati hal-hal sebagai berikut :
1. Berkurangnya jumlah sel-sel ameloblast (hipoplasia) yang mengganggu pembentukan dari matriks sehingga menyebabkan terjadinya lobang-lobang kecil.
2. Pengurangan dari deposi-deposit mineral (hipokalsifikasi) dan disertai perkembangan (maturasi) gigi sehingga menyebabkan terjadinya warna seperti kapur (Monang,1995).
Kalau fluorosisnya ringan, email hanya akan kehilangan cahayanya, yang kalau dikeringkan akan terlihat bintik putih kusam (opak). Akan sukar dibedakan
antara kasus fluorosis ringan dengan kekusaman email yang disebabkan oleh infeksi pada masa anak-anak, sebab-sebab genetik atau karena trauma. Akan tetapi kekusaman demikian biasanya tidak mengganggu estetika. Bintik atau garis lebih nyata dengan disertai bercak kuning /coklat atau tidak, akan tampak pada kasus fluorosis moderat. Pada kasus yang sangat parah, akan terjadi lubang-lubang kecil dan email sudah demikian hipoiplastiknya sehingga akan mudah pecah (Kidd et.al. 1991).
2.1.3 Faktor Yang Mempengaruhi Fluorosis Gigi 1. Usia
Pengaruh usia dalam proses terjadinya fluorosis gigi berhubungan dengan masa erupsi gigi, dimana pada gigi yang erupsinya lebih lama memiliki potensi terpapar fluoride lebih banyak sehingga penyerapan fluoride menjadi lebih banyak dibandingkan gigi yang erupsi lebih awal. Pada setiap tingkatan usia, perkembangan gigi akan berbeda. Waktu erupsi gigi pada masing-masing anak dapat berbeda tergantung pada faktor lokal dan sistemik yang mempengaruhi matriks pembentukan dan proses kalsifikasi. Oleh karena itu, penting bagi dokter untuk mengetahui faktor waktu yang berhubungan dengan tahap awal masa kalsifikasi gigi, baik intrauterine maupun saat bayi (McDonald et.al., 2011).
Pada gigi permanen, gigi yang lebih banyak dipengaruhi fluorosis adalah molar kedua rahang bawah, kemudian molar kedua dan premolar kedua rahang atas. Pada umumnya gigi yang memiliki fluorosis gigi parah adalah molar kedua rahang atas, kemudian molar pertama dan premolar pertama rahang atas. Gigi yang dipengaruhi oleh fluorosis gigi ringan adalah gigi insisif kedua rahang
bawah. Gigi yang paling sedikit mendapatkan serangan adalah gigi-gigi insisif dan gigi-gigi molar pertama permanen, sedangkan gigi premolar dan molar kedua dan ketiga merupakan gigi yang sering terkena. Baik rahang atas maupun rahang bawah, fluorosis gigi biasanya terjadi lebih parah pada gigi posterior daripada gigi anterior. Hal ini dapat dikatakan bahwa gigi yang tumbuh paling awal mendapatkan serangan yang paling sedikit (Fejerskov et.al., 1996; Medina et.al., 2008).
2.1.4 Periode Usia Risiko Fluorosis Gigi
Fluorosis gigi merupakan suatu fenomena yang terjadi pada masa pembentukan gigi, maka hanya anak usia 8 tahun ke bawah yang memiliki risiko tinggi terkena fluorosis gigi. Sedangkan anak berusia di atas 8 tahun tidak berisiko terkena fluorosis gigi (Center for Disease Control And Prevention, 2011). Pada masa ini apabila seseorang terpapar fluoride lebih dari 1 ppm setiap harinya selama minimal 2 tahun, maka dapat menimbulkan noda cokelat kehitaman pada permukaan gigi. Namun, proses ini akan berhenti saat anak berusia 13 tahun karena proses pembentukan enamel telah sempurna (Center for Disease Control And Prevention, 2001).
2.1.5 Indeks Mengukur Fluorosis Gigi
Untuk lebih memudahkan mengukur derajat keparahan mottled enamel
dapat dipakai :
1. Sistem klasifikasi Indeks Dean (Dean,1942) yang dibagi menjadi 6 bagian dimulai dari enamel yang normal sampai enamel fluorosis yang parah (severe)
2. Sistem klasifikasi Indeks TFP (Thylstrup & Fejerskov, 1978) yang merupakan penyempurnaan dari Indeks Dean. Indeks TF ini dibagi menjadi 9 bagian dan dimulai dari mottled enamel taraf ringan (skore TF 1) sampai taraf parah (skore TF 9) (Fejerskov et.al. 1991).
Klasifikasi fluorosis gigi berdasarkan Index Dean adalah sebagai berikut :
Normal Enamel menunjukkan translusensi normal yaitu strukturnya mirip dengan kaca, permukaanya mulus mengkilap dan warnanya putih krem muda.
Questionable Terjadi abrasi sedikit pada enamel yang diawali dengan bintik putih yang kecil sampai terjadinya white spot. Kelas ini diperuntukkan pada kasus-kasus yang meragukan antara normal dengan very mild.
Very mild Terjadi bercak putih kecil, buram dan tidak teratur pada permukaan gigi, tapi tidak melibatkan lebih 25% permukaan gigi.
Mild Terjadi daerah putih buram pada enamel yang lebih luas tetapi tidak lebih dari 50% permukaan gigi.
Moderate Semua permukaan enamel terserang dan tampak permukaan gigi atrisi. Gigi menjadi berwarna coklat.
Severe Tanda hipoplasia tampak semakin jelas disertai dengan perubahan anatomis gigi. Warna coklat pada gigi menyebar sehingga tampak seperti karatan (Fejerskov et.al. 1991).
Gambar 2.1 Indeks Pengukuran Dental Fluorosis berdasarkan Indeks Dean
Sumber : Murray, J.J., Rugg-Gunn, A.J. and Jenkins, G.N.,1991. Fluorides In Caries Prevention. 3rd ed. Butterworth-Heinemann Ltd, 325-328.
Tampilan klinis dari dental fluorosis dapat dikelompokkan menjadi 10 kelass berkisar antara 0-39, yang akan menggambarkan secara berurutan tingkat keparahan dental fluorosis. Klasifikasi atau pengelompokkan ini didasarkan pad indeks TF yang aslinya diusulkan oleh Thylstrup dan Fejerskov.
Skor TF 0 Translusensi normal, warna putih krem dan mengkilapnya enamel tetap bertahan sesudah dilakukan pengeringan dan pengusapan pada permukaannya.
Skor TF 1 Terlihat garis-garis putih opaque kecil-kecil menyilang permukaan gigi. Garis-garis itu terdapat di seluruh permukaan gigi. Letak garis
ini sesuai dengan letak perikimata. Pada beberapa kasus, mungkin terlihat adanya, sedikit snow capping pada cups/insisal edge.
Skor TF 2 Garis opaque putih lebih menonjol dan sering berfusi untuk kemudian membentuk daerah berkabut (buram) yang kecil, yang menyebar ke seluruh permukaan. Biasanya terjadi snow capping
pada insisal edge dan puncak cusp.
Skor TF 3 Terjadi fusi garis-garis putih, dan daerah opaque berkabut di beberapa bagian permukaan. Diantara daerah berkabut tersebut bisa terdapat garis-garis putih.
Skor TF 4 Pada seluruh permukaan terlihat adanya opasitas atau nampak putih seperti kapur (chalky white). Sebagian dari permukaan yang terdedah terhadap atrisi atau pemakaian, nampak kurang terserang.
Skor TF 5 Seluruh permukaan opaque, dan ada pit-pit bulat (hilangnya enamel permukaan setempat) yang diameternya kurang dari 2 mm.
Skor TF 6 Pit-pit kecil sering berfusi sehingga membentuk pita yang lebarnya dalam arah vertikal kurang dari 2 mm. Klas ini meliputi juga kasus dimana cuspal rim dari enamel fasila telah terlepas dan berkurangnya dimensi vertikal yang terjadi kurang dari 2 mm.
Skor TF 7 Ada enamel bagian terluar yang terlepas, sehingga membentuk daerah yang tidak teratur pada permukaan gigi. Permukaan yang terserang lebih dari separuh. Enamel utuh yang tersisa, opaque.
Skor TF 8 Hilangnya lapisan enamel terluar melibatkan lebih dari separuh. Enamel utuh yang tersisa opaque.
Skor TF 9 Hilangnya sebagian besar enamel terluar yang mengakibatkan perubahan bentuk anatomis pada permukaan gigi. Sering dijumpai adanya rim enamel yang opaque di servikal.
Gambar 2.2 Indeks Pengukuran Dental Fluorosis berdasarkan Indeks Thylstrup dan Fejerskov (TF)
Sumber : Murray, J.J., Rugg-Gunn, A.J. and Jenkins, G.N.,1991. Fluorides In Caries Prevention. 3rd ed. Butterworth-Heinemann Ltd, 325-328.
2.1.6 Perawatan Fluorosis Gigi
Penampakan fisik dari perubahan pasca erupsi fluorosis gigi yang ringan dan parah terkadang tidak bisa diterima dan untuk itu pasien dapat meminta dokter gigi agar melakukan perawatan kosmetik. Adapun tindakan-tindakan perawatan yang dapat dilakukan oleh seorang dokter gigi dalam meningkatkan
bentuk kosmetik pada kasus fluorosis gigi diantaranya menggerinda dan memolis enamel, aplikasi asam hidroklorik, pemutihan dengan hidrogen peroksida, restorasi dengan menggunakan resin komposit dan mahkota buatan (Prabhu, 1992).
1. Menggerinda dan Memolis Enamel
Bentuk fluorosis gigi yang lebih ringan dimana terjadi fusi garis-garis putih dan adanya daerah opak berkabut pada beberapa bagian permukaan gigi (skore TF 2-3), dapat dirawat oleh dokter gigi dengan jalan menggerinda enamel bagian luar yang porus dan fluorotik sampai struktur di bawahnya yang merupakan enamel yang padat. Opasitas yang jelas dan pewarnaan pada gigi insisivus biasanya diambil dengan mengoleskan asam phosporik pada permukaam enamel dan kemudian dipoles dengan pumis. Pengolesan dengan asam phosporik dan pumis diulang beberapa kali pada setiap kali kunjungan dan perawatan diakhiri mengoleskan larutan mineral dan fluoride topical (2% sodium fluoride dan 40% kalsium sucrose fosfat) untuk merangsang remineralisasi enamel (Fejerskov et.al., 1993).
2. Aplikasi Dengan Asam Hidroklorik
Penggunaan senyawa-senyawa kimia untuk menghilangkan strain tertentu dari enamel atau dentin gigi bukanlah masalah baru. Asam hidroklorik telah dipergunakan baik dalam bentuk tunggal ataupun dalam bentuk kombinasi. Berbagai teknik pengobatan telah dikembangkan selama 70 tahun terakhir untuk menghilangkan stain yang berhubungan dengan fluorosis, tetrasiklin dan luka berhubungan dengan trauma. Baru-baru ini Croll dan Cavanaugh telah
mengembangkan tehnik yang sama yang mencakup aplikasi dari 18% asam hidroklorik ke dalam enamel yang mengalami perubahan warna dalam suatu prosedur yang terkontrol secara cermat. Selain memberikan larutan asam dengan
cotton pellet, juga menggunakan campuran asam dan pumis halus (Erdogan,1998).
Teknik ini bukan merupakan pemutihan murni melainkan suatu teknik dekalsifikasi dan pembuangan selapis tipis enamel yang berubah warna (Walton et.al.,1997). Pasta asam hidroklorik dan pumis dioleskan di atas permukaan enamel dengan menggunakan spatel kayu. Dengan tekanan kuat, pasta digerakkan memutar pada permukaan enamel selama 5 detik. Kemudian dicuci dengan air selama 10 detik. Pasta diaplikasikan lagi sampai diperoleh warna yang dikehendaki. Permukaan gigi dinetralisir dengan natrium bikarbonat dan dipolis kembali untuk menghaluskan permukaan yang kasar. Biasanya warna yang diinginkan diperoleh dalam satu kali kunjungan, bila hal ini tidak terjadi kemungkinan perubahan warnanya terlalu mendalam dan tidak memungkinkan untuk diputihkan (Prabhu, 1992; Walton et.al 1997; Grossman et.al., 1992).
Untuk mengatasi masalah dan menjamin keamanan teknik, viskositas larutan asam ditingkatkan dengan mencampur 18% asam hidroklorik dengan partikel-partikel kuartz (bahan resin komposit yang makrofil) sehingga larutan berbentuk seperti gel yang mencegah asam hidroklorik mengalir secara tidak terkontrol dan mudah larut dalam air, dimana pertikel-pertikel kuartz dan pumis bersuspensi dan berfungsi sebagai bahan abrasive. Banyak kasus-kasus pada fluorosis pada gigi yang telah diputihkan dengan cara ini untuk jangka waktu yang
lama dan tidak terjadi diskolorasi kembali. Teknik ini merupakan teknik yang paling efektif dan memerlukan waktu kunjungan yang paling sedikit (Erdogan,1998).
3. Pemutihan Dengan Hydrogen Peroksida
Pemutihan (bleaching) dapat dikelompokkan menjadi vital dan non vital
bleaching. Non vital bleaching biasanya digunakan untuk gigi yang sudah dirawat endodonti, sedangkan vital bleaching digunakan untuk gigi dengan pulpa vital(Walton et.al 1997; Grossman et.al., 1992; Hartono dkk, 1992). Eter anastetik menghilangkan debris permukaan, asam hidroklorat mengetsa email dan hidrogen peroksida untuk memutihkan enamel. Cairan diletakkan langsung pada permukaan yang mengalami diskolorasi selama 5 menit dengan interval selama 1 menit dengan menggunakan aplikator kapas. Pada akhir proses pemutihan, larutan dinetralkan dengan natrium bikarbonat dan diirigasi dengan air yang banyak (Schuurs, 1992; Walton et.al., 1997; Grossman et.al., 1992).
Kemudian dipolis dengan cuttle fish disc selama 15 detik. Proses ini diulang sampai dua atau tiga kali sebelum diperoleh warna yang diinginkan. Noda fluoride sukar untuk diputihkan dan memerlukan perawatan yang lebih lama dan berulang kali untuk memutihkannya. Kunjungan tambahan dan jumlah kunjungan akan meningkat sesuai dengan beratnya perubahan warna. Namun sangat disayangkan, selama permukaan enamel masih diproses, gigi akan cenderung untuk membentuk noda kembali setelah beberapa saat (Walton et.al 1997; Grossman et.al., 1992).
4. Restorasi Dengan Menggunakan Resin Komposit
Pada kasus fluorosis gigi yang lebih parah bercirikan adanya pit-pit atau terlepasnya enamel permukaan (TF 5-9), perlu dilakukan restorasi pada permukaan labial gigi dengan bahan resin komposit dengan menggunakan teknik etsa asam. Teknik ini lebih ekonomis dan kunjungannya sangat singkat sehingga teknik ini mudah diterima oleh anak-anak. Tidak ada kehilangan gigi yang terjadi dengan melaksanakan prosedur ini. Perlu diingat bahwa perawatan awal dengan asam pada enamel yang mengalami fluorosis, memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan enamel normal. Hasil dari perawatan semacam ini dalam jangka panjang secara kosmetik tidak memuaskan dan pada tahap berikutnya harus dibuatkan mahkota (Fejerskov et.al.,1993).
5. Dengan Membuat Mahkota
Mahkota buatan diindikasikan dalam kasus-kasus fluorosis gigi yang sangat parah. Pembuatan dengan mahkota buatan ini jelas sangat mahal dan kebanyakan hanya ditujukan untuk pasien-pasien yang mampu. Oleh karena itu, dianggap kurang layak sebagai tindakan kesehatan publik atau masyarakat terutama di negara-negara sedang berkembang (Fejerskov et.al,1993).
2.2 Air
2.2.1 Definisi Air
Air merupakan senyawa kimia yang sangat penting bagi kehidupan mahluk hidup di bumi ini. Air merupakan zat yang penting bagi kehidupan manusia setelah udara. Fungsi air bagi kehidupan tidak dapat digantikan oleh senyawa yang lain. Penggunaan air yang utama dan sangat vital bagi kehidupan
adalah sebagai air minum. Hal ini terutama untuk mencukupi kebutuhan air di dalam tubuh manusia itu sendiri (Mulia,2005). Menurut Permenkes RI No 492 (2010) air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum .
Tidak semua air bersih yang digunakan untuk kebutuhan air minum dan keperluan rumah tangga telah memenuhi persyaratan sebagai air minum sehingga untuk menjadi air minum perlu dimasak terlebih dahulu. Tujuan pengolahan air minum merupakan upaya untuk mendapatkan air yang bersih dan sehat sesuai dengan standard mutu air. Proses pengolahan air minum merupakan proses perubahan sifat fisik, kimia, dan biologi air baku agar memenuhi syarat untuk digunakan sebagai air minum (Kusnaedi, 2002).
2.2.2 Persyaratan Kualitas Air
Sesuai dengan Permenkes RI No.416/Menkes/Per/IX/2010 tentang syarat