• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

B. Saran

Paparan fakta dalam penelitian ini, dapat menghantarkan pemahaman kita mengenai bias gender dalam struktur organisasi KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Komisariat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Berdasarkan paparan-paparan fakta tersebut, maka dapat dirumuskan saran sebagai berikut:

1. Sebaiknya bias gender dihilangkan dalam pelaksanaan kegiatan sehari- hari organisasi secara keseluruhan, karena yang terjadi sebenarnya dalam organsiasi adalah bias gender dan bukan kesetaraan gender. 2. Pemahaman mengenai kesetaraan gender sebaiknya lebih dipahami

dan di terapkan dalam kehidupan organisasi, karena dari hasil penelitian, kesetaraan yang disebutkan dalam organisasi lebih mengarah kepada bias gender dan terkesan bahwa organisasi KAMMI hanya mengikuti organisasi lain yang juga menyatakan telah menerapkan kesetaraan gender namun dalam kenyataannya belum menerapkan kesetaraan gender dalam kehidupan organsiasi.

3. Dalam AD/ART KAMMI Komisariat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tidak terdapat aturan yang membatasi peran dan partisipasi kaum perempuan. Maka sebaiknya dalam pelaksanaan keseharian juga diberlakukan hal yang sama. Sebaiknya dalam hal pembagian tugas dan beban kerja tidak mempertimbangkan jenis kelamin, karena masih terdapat beberapa pembagian tugas yang mendasarkan pada jenis kelamin.

4. Sebaiknya perempuan juga diberikan kesempatan untuk menjabat sebagai pemimpin, sehingga perempuan juga dapat membuktikan dan menunjukkan kemampuannya untuk mengemban tugas yang lebih besar, tidak hanya berhenti pada jabatan ketua bidang.

5. KAMMI Komisariat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang merupakan organisasi ekstra kampus yang semestinya tidak mempermasalahkan gender. Penafsiran agama dan persepsi bahwa laki-laki lebih pantas untuk menjadi pemimpin tertinggi dan subordinasi terhadap perempuan sebaiknya dihilangkan.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, I. (2006). Sangkan Paran Gender. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Afwan, & Ridho, S. (2008). Menembus Batas Politik Perempuan Indonesia. Yogyakarta: lembaga Studi Islam dan Politik (LSIP).

Al Qur’anul Karim. (2007). Departemen Agama Republik Indonesia.

Al-Sa’dawi, N. & Izzat, H.R. (2002). Perempuan, Agama dan Moralita; Antara Nalar Feminis dan Islam Revivalis. Jakarta: Erlangga.

Arikunto, S. (1993). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Rineka Cipta.

Ch, M. (2003). Paradigma Gender. Malang: Banyu Media Publishing. _____. (2010). Bingkai Sosial Gender. Malang: UIN-MALIKI PRESS.

Fakih, M. (2013). Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Fauzi, I. (2008). Perempuan dan Kekuasaan; Menelusuri Hak Politik dan Persoalan Gender dalam Islam. Jakarta: AMZAH.

Fayumi, B. et. al. (2001). Keadilan dan Kesetaraan Gender (Perspektif Islam). Tim Pemberdayaan Perempuan Bidang Agama Departemen Agama RI. Hamidi. (2004). Metode Penelitian Kualitatif. Malang: Universitas

Muhammadiyah Malang.

Hanum, F. (2007). Diktat Mata Kuliah Sosiologi Gender. Yogyakarta: FIP UNY. Henslin, J.M. (2006). Sosiologi dengan Pendekatan Membumi, Edisi 6 Jilid 2.

Jakarta: Erlangga.

Milles & Huberman. (1992). Analisis Data Kualitatif. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Moleong, L.J. (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mosse, J.C. (2007). Gender dan Pembangunan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Mubarak, Z. (2006). Sosiologi Agama: Tafsir Sosial Fenomena Religius

Nawawi, H. (2007). Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Nugroho, R. (2011). Gender dan Strategi Pengarus-utamaannya Di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Purwaningsih, S. (2009). Kiai dan Keadilan Gender. Semarang: Walisongo Press. Rachman, B.M. (2004). Islam Pluralis; Wacana Kesetaraan Kaum Beriman.

Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Rahmat, A. & Najib, M. (2001). Gerakan Perlawanan dari Masjid Kampus. Surakarta: Purimedia.

Rasyidah, et. al. (2008). Potret Kesetaraan Gender di Kampus. Banda Aceh: IAIN Ar-Raniry.

Remiswal. (2013). Menggugah Partisipasi Gender di Lingkungan Komunitas Lokal. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Ritzer, G. dan Goodman, D.J. (2007). Teori Sosiologi Modern, Edisi Ke-6. Jakarta: Kencana.

Setiadi, E.M. & Kolip, U. (2011). Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi dan Pemecahannya. Jakarta: Kencana.

Sugiyono. (2010). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Umar, N. et. al. (2002). Pemahaman Islam dan Tantangan Keadilan Jender. Yogyakarta: Gama Media.

Usman, H. & Purnomo. (2004). Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta: Bumi Aksara.

Wahab, S.A. (2004). Analisis Kebijaksanaan: Dari Formulasi ke Implementasi Kebijaksanaan Negara. Jakarta: Bumi Aksara.

Jurnal:

Miftahudin, et. Al. (2008). Sensitivitas dan Aplikasi Kesetaraan Gender di Organisasi Kemahasiswaan Universitas Negeri Yogyakarta. Laporan Penelitian. FISE UNY.

Skripsi:

Wardani, A.K. (2010). Peran Aktivis Mahasiswa Perempuan dalam Organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Negeri Yoyakarta Tahun 2009. Skripsi S1. Tidak Diterbitkan. Universitas Negeri Yoyakarta.

Apriyanto, W.Y. (2013). Peran Kesetaraan Gender dalam Organisasi Islam: Studi Pada Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Yoyakarta. Skripsi S1. Tidak Diterbitkan. Universitas Negeri Yoyakarta.

Internet:

http://www.kammi-uinsuka.com/p/filosofi-kammi_31.html. Diakes pada 19 November 2013.

http://id.wikipedia.org/wiki/Patriarki. Diakses pada 20 Februari 2014.

http://www.academia.edu/4274514/KITA_DAN_BUDAYA_PATRIARKI. Diakses pada 1 Maret 2014.

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/dr-marzuki-mag/dr-marzuki- mag-studi-tentang-kesetaraan-gender-dalam-berbagai-aspek.pdf. Diakses pada 12 Mei 2014.

Lampiran 1

PEDOMAN OBSERVASI

Implementasi Kesetaraan Gender Dalam Struktur Organisasi Kammi (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Komisariat UIN Sunan

Kalijaga Yogyakarta

Tanggal observasi :

No. Aspek yang diteliti Keterangan

1. Lokasi

2. Jumlah pengurus harian KAMMI Komisariat UIN Sunan Kalijaga

3. Struktur Organisasi KAMMI Komisariat UIN Sunan Kalijaga

4. Pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan

5. Implementasi kesetaraan gender dalam struktur organisasi KAMMI Komisariat UIN Sunan Kalijaga

Lampiran 2

PEDOMAN WAWANCARA (untuk anggota laki-laki)

Implementasi Kesetaraan Gender Dalam Struktur Organisasi Kammi (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Komisariat UIN Sunan

Kalijaga Yogyakarta Hari/Tanggal Wawancara : Tempat/Waktu : A. Identitas Nama : Jabatan : Angkatan : B. Daftar Pertanyaan

1. Sejak kapan Anda menjadi anggota KAMMI? 2. Apa arti gender menurut Anda?

3. Setujukan Anda apabila laki-laki disetarakan atau disamakan dengan perempuan?

4. Bagaimana penentuan jabatan struktural dalam kepengurusan organisasi? Berdasarkan apa?

5. Bagaimana peluang laki-laki dan perempuan untuk menduduki jabatan tertentu?

7. Bagaimana pendapat Anda apabila yang memimpin laki-laki?

8. Menurut anda pribadi, apakah dalam kepemimpinan faktor jenis kelamin menjadi prioritas utama dalam organisasi?

9. Bagaimana partisipasi anggota perempuan maupun laki-laki di dalam kegiatan organisasi? Lebih dominan mana?

10. Bagaimana partisipasi anggota dalam pengambilan keputusan?

11.Apakah perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam hal menyampaikan pendapat?

12.Apakah ada perbedaan perlakuan antara pengurus perempuan dengan laki- laki?

13.Bila terdapat program kerja biasanya kaum perempuan menjabat sebagai apa dalam susunan kepanitiaan?

14.Apakah ada beberapa tugas dalam bidang-bidang tertentu yang sering diidentikkan perempuan atau laki-laki? Misalnya ada, apa yang melatarbelakanginya?

15.Adakah faktor pengambat bagi perempuan untuk berperan atau menduduki suatu jabatan?

16.Adakah faktor pendukung bagi perempuan untuk berperan atau menduduki suatu jabatan?

17.Apakah kebijakan-kebijakan yang ada sudah menganut prinsip kesetaraan gender?

18.Apa dampak dari implementasi kesetaraan gender dalam organisasi bagi para anggota terutama anggota perempuan?

Lampiran 2

PEDOMAN WAWANCARA (untuk anggota perempuan)

Implementasi Kesetaraan Gender Dalam Struktur Organisasi Kammi (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Komisariat UIN Sunan

Kalijaga Yogyakarta Hari/Tanggal Wawancara : Tempat/Waktu : A. Identitas Nama : Jabatan : Angkatan : B. Daftar Pertanyaan

1. Sejak kapan Anda menjadi angota KAMMI?

2. Bagaimana pendangan Anda mengenai kaum laki-laki? 3. Apa arti gender menurut Anda?

4. Setujukan Anda apabila perempuan disetarakan atau disamakan dengan laki-laki?

5. Bagaimana penentuan jabatan struktural dalam kepengurusan organisasi? Berdasarkan apa?

6. Bagaimana peluang laki-laki dan perempuan untuk menduduki jabatan tertentu?

7. Bagaimana pendapat Anda apabila yang memimpin perempuan? 8. Bagaimana pendapat Anda apabila yang memimpin laki-laki?

9. Menurut anda pribadi, apakah dalam kepemimpinan faktor jenis kelamin menjadi prioritas utama dalam organisasi?

10.Bagaimana partisipasi anggota perempuan maupun laki-laki di dalam organisasi? Lebih dominan mana?

11.Bagaimana partisipasi anggota dalam pengambilan keputusan?

12.Apakah perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam hal menyampaikan pendapat?

13.Bagaimana upaya Anda untuk ikut dalam pengambilan keputusan pada organisasi?

14.Apakah ada perbedaan perlakuan antara pengurus perempuan dengan laki- laki?

15.Bila terdapat program kerja biasanya kaum perempuan menjabat sebagai apa dalam susunan kepanitiaan?

16.Apakah ada beberapa tugas dalam bidang-bidang tertentu yang sering diidentikkan perempuan atau laki-laki? Misalnya ada, apa yang melatarbelakanginya?

17.Adakah faktor pengambat bagi perempuan untuk berperan atau menduduki suatu jabatan?

18.Adakah faktor pendukung bagi perempuan untuk berperan atau menduduki suatu jabatan?

19.Apakah kebijakan-kebijakan yang ada sudah menganut prinsip kesetaraan gender?

20.Apa dampak dari implementasi kesetaraan gender dalam organisasi bagi para anggota terutama anggota perempuan?

Lampiran 3

Pengkodean Hasil Wawancara

Implementasi Kesetaraan Gender Dalam Struktur Organisasi Kammi (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Komisariat UIN Sunan

Kalijaga Yogyakarta

Kode Keterangan Penjelasan

1. Thn msk Tahun masuk Kapan informan menjadi anggota KAMMI Komisriat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

2. Pdgn thd lk Pandangan terhadap laki-laki

Pendapat informan mengenai laki-laki

3. Aks Akses Akses dan kesempatan

perempuan untuk aktif terlibat dla kegiatan maupun penambilan keputusan

4. Prtsps Partisipasi Seberapa besar dan bagaimana pastisipasi perempuan dan laki- laki dalam kepengurusan organisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Komisariat UIN Sunan Kalijaga

Yogyakarta

5. Gndr Gender Pemahaman mengenai gender, pembagian tugas dan keijakan beradasarkan gender

6. Fktr Faktor Faktor-faktor yang mendukung maupun menghambat keterlibatan dan penentuan jabatan bagi perempuan dan laki-laki 7. Dmpk Dampak Dampak yang dirasakan oleh

anggota dari implementasi kesetaraan gender dalam organisasi

Hasil Observasi

Tanggal Observasi : 25 Maret 2015

No. Aspek yang diteliti Keterangan

1. Lokasi Penelitian ini dilakukan pada organisasi KAMMI Komisariat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Komisariat KAMMI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini berada di Perum Polri blok C IV/144, Gowok, depok sleman, Yogyakarta

2. Jumlah pengurus harian KAMMI Komisariat UIN Sunan Kalijaga

Jumlah keseluruhan pengurus inti atau pengurus harian organisasi KAMMI Komisariat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta periode 2014-2015 sebanyak 16 orang, yang terdiri atas 10 perempuan dan 6 laki-laki. 3. Struktur Organisasi

KAMMI Komisariat UIN Sunan Kalijaga

Ketua Umum : Ilman Adni Alparisi Sekretaris Jendral : Inas Mufidah Fitri Bendahara Umum : Rif’atul Mahmudah

Biro Pengembangan Organisasi : Ririn Noviastuti Biro Kestari : Wiwi Dwi D.

Biro Ekonomi : Erhat Z. A.

Departemen Pengkaderan : Zaky Ahmad Riva'i Departemen Kebijakan Publik : Ali Akbar H. Departemen Humas : Sulaiman Tahir

Ketua Rumpun Ibnu Khaldun: Nurdana R Pratiwi Pengkaderan Rumpun Ibnu Khaldun : Nurfadliah Madrasah Intelektual Ibnu Khaldun : Nashih U. Az Zuhdi

Ketua Rumpun Ibnu Khaitam : Sudiantri

Madrasah Intelektual Ibun Khaldun : Riza Pahlevi Pengkaderan Rumpun Ibun Khaldun : Guesti Wichita

4. Pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan

Pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan didasarkan atas jenis pekerjaan yang akan dibebankan/diberikan. Untuk pekerjaan fisik lebih dibebankan kepada laki-laki, sementara untuk pekerjaan yang bersifat non fisik diberikan kepada perempuan

5. Implementasi kesetaraan gender dalam struktur organisasi KAMMI Komisariat UIN Sunan Kalijaga

Implementasi kesetaraan gender dalam organisasi KAMMI Komisariat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yaitu kesetaraan gender dimana setiap anggota KAMMI memperoleh akses dan kesempatan yang sama untuk menduduki suatu jabatan maupun dalam mengaktualisasikan diri. Implikasi ini dapat dilihat dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh KAMMI. Kesempatan antara laki-laki dan perempuan untuk menduduki jabatan tertentu dalam

organisasi serta dalam hal mengaktualisasikan diri sama besar. Tetapi dalam hal tertentu perempuan masih “diistimewakan”, seperti misalnya tidak mengadakan syuro’ (rapat) sampai malam dengan pertimbangan keadaan perempuan yang rawan apabila sampai berada di luar rumah sampai malam hari.

Transkip Data Hasil Wawancara

Implementasi Kesetaraan Gender Dalam Struktur Organisasi KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Komisariat UIN Sunan

Kalijaga Yogyakarta

Hari/Tanggal Wawancara : Jum’at/ 20 Februari 2015

Tempat/Waktu : Kos Intifadha, Demangan/ 13.00 WIB C. Identitas

Nama : Ririn Noviastuti (RI)

Jabatan : Ketua Departemen Pengembangan Organisasi

Angkatan : 2011

D. Daftar Pertanyaan

21.Sejak kapan Anda menjadi anggota KAMMI? Jawab: sejak tahun 2012.

22.Bagaimana pandangan Anda mengenai kaum laki-laki?

Jawab: secara umum, kaum laki-laki itu lebih besar menggunakan akalnya daripada hati. Dan pemikiran kaum laki-laki itu lebih realistis dan lebih logis dari kaum perempuan.

23.Apa arti gender menurut Anda?

Jawab: gender itu, persamaan hak laki-laki perempuan gak sih? Ya menurut saya gender itu ya menuntut persamaan hak antara laki-laki dan perempuan gitu.

Comment [mc1]: Thn msk

Comment [mc2]: Pdgn thd lk

24.Setujukan Anda apabila perempuan disetarakan atau disamakan dengan laki-laki?

Jawab: ya setuju-setuju aja, tapi dengan catatan harus ada batasan-batasan tertentu gitu. Misalnya dalam hal karir dalam kehidupan berumah tangga. Biasanya kan yang cari nafkah itu kaum laki-laki, tapi sekarang juga banyak perempuan yang ikut mencari nafkah. Nah itu tidak apa-apa. Namun dengan catatan tugas-tugas sebagai seorang istri tidak boleh terbengkalai.

25.Bagaimana penentuan jabatan struktural dalam kepengurusan organisasi? Berdasarkan apa?

Jawab: penentuan jabatannya ya berdasarkan kemampuan aja sih, kalau kemampuannya kita anggap mampu untuk memegang amanah ya kita kasih amanah disitu.

26.Bagaimana peluang laki-laki dan perempuan untuk menduduki jabatan tertentu?

Jawab: sama besar. Objektif banget di KAMMI sekarang, tidak mendominasi laki-lakinya. Jadi di KAMMI bener-bener sama peluang antara laki-laki dan perempuan.

27.Bagaimana pendapat Anda apabila yang memimpin perempuan?

Jawab: gak masalah. Karena ada di salah satu cabang KAMMI kalau gak salah di Sumatera, yang mimpin itu akhwat (perempuan). Dan fenomena sekarang-sekarang ini di KAMMI, kebanyakan yang mimpin rumpun-

Comment [mc4]: Gndr

Comment [mc5]: Fktr

Comment [mc6]: Aks

rumpun itu akhwat (perempuan). Namun untuk ketua umum itu, nominasi yang ada masih dipegang oleh ikhwan (laki-laki).

28.Bagaimana pendapat Anda apabila yang memimpin laki-laki?

Jawab: menurut saya kalau yang memimpin laki-laki itu lebih baik. Lebih tegas. Bagus-bagus juga sih akhwat (perempuan) itu memimpin. Tapi secara fitrah sendiri perempuan punya kelemahan dibandingkan ikhwan

(laki-laki), karena seperti tadi ya, ikhwan (laki-laki) itu lebih mengedepankan akal logisnya dari pada perasaan gitu.

29.Menurut anda pribadi, apakah dalam kepemimpinan faktor jenis kelamin menjadi prioritas utama dalam organisasi?

Jawab: iya kalo untuk ketua umum karena untuk saat ini kepemimpinan umum itu ada di pihak laki-laki. Tapi dalam kepemimpin di bawahnya itu perempuan juga banyak yang jadi ketua departemen.

30.Bagaimana partisipasi anggota perempuan maupun laki-laki di dalam organisasi? Lebih dominan mana?

Jawab: lebih banyak perempuan. Jadi sebanding dengan keluar masuknya gitu. Jadi maksudnya berapa akhwat (perempuan) dan ikhwan (laki-laki) yang masuk itu, biasanya lebih banyak yang akhwat(perempuan). Jadi karena proporsi akhwat (perempuan) yang lebih banyak, jadinya partisipasinya ya banyak yang akhwat(perempuan). Sebenernya gak lebih dominan yang mana sih, soalnya jumlahnya juga banyakan yang akhwat

(perempuan).

31. Bagaimana partisipasi anggota dalam pengambilan keputusan?

Comment [mc8]: Gndr

Comment [mc9]: Gndr

Jawab: sama besar. Akhwat (perempuan) dan ikhwan (laki-laki) sama besar.

32.Apakah perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam hal menyampaikan pendapat?

Jawab: iya..iya itu jelas.

33. Bagaimana upaya Anda untuk ikut dalam pengambilan keputusan pada organisasi?

Jawab: saya kan ada di PO, jadi kembali lagi di awal bahwa di KAMMI kan mempunyai lokus-lokus tersendiri. Nah setiap lokus-lokus itu mempunyai kebijakan-kebijakan masing-masing yang nantinya akan di acc sama ketua, dibantu dengan pertimbangan sekjen. Nah di PO, karena kebetualan saya di PO dan saya kadep, saya mempunyai wewenang untuk merekrut anggota-anggota baru yang akan magang setelah Daurah Marhalah 1. Nah magang itu ditentukan oleh PO, yang nantinya akan di acc sama ketua dengan pertimbangan PO gitu. Jadi saya mengusulkan gitu. Kalau ada yang direvisi, ya nanti kita revisi gitu.

34.Apakah ada perbedaan perlakuan antara pengurus perempuan dengan laki- laki?

Jawab: jelas ada. Dalam sistem KAMMI itu menganut sistem Islam gitu ya. Perlakuannya seperti halnya ikhwan (laki-laki) dan

akhwat(perempuan), KAMMI berbeda dengan organisasi-organisasi yang lain, yang biasanya dalam organisasi-organisasi lain itu antara laki-laki dan perempuan berkumpul. Nah dalam KAMMI sendiri sangat

Comment [mc11]: Prtsps

Comment [mc12]: Aks

Comment [mc13]: Prtsps

mengkhususkan, memuliakan kaum hawa. Jadi akhwat (perempuan) itu dijaga bener-bener. Dijaga misalnya tidak boleh rapat malam-malam. Kalau ikhwan (laki-laki) boleh. Akhwat (perempuan) ga boleh karena ada

mudharatnya, kalo ikhwan (laki-laki) karena dia lebih kuat dan tidak ada unsur-unsur yang mencelakakan, maka dia boleh. Beda dengan akhwat

(perempuan) yang notabenenya perempuan, menarik kaya gitu. Itu akan menimbulkan mudharat lebih besar jika malam-malam masih rapat. Itu misalkan salah satu contohnya.

35.Bila terdapat program kerja biasanya kaum perempuan menjabat sebagai apa dalam susunan kepanitiaan?

Jawab: apa aja bisa mbak. Leluasa kok mbak. Semua jabatan bisa diduduki oleh akhwat (perempuan) kecuali satu, yaitu ketua umum. Karena jadi ketua itu kan berat ya. Nah jadi ketua itu harus bisa mengayomi, memimpin dan melindungi anak buahnya gitu. Gimana bisa melindungi kalau dianya aja lemah kaya gitu.

36.Apakah ada beberapa tugas dalam bidang-bidang tertentu yang sering diidentikkan perempuan atau laki-laki? Misalnya ada, apa yang melatarbelakanginya?

Jawab: ada, sekjen biasanya perempuan. Mungkin karena perempuan itu bisa lebih teliti, bisa lebih mengatur urusan, bisa memanagedaripada laki- laki.

37.Adakah faktor pengambat bagi perempuan untuk berperan atau menduduki suatu jabatan?

Comment [mc15]: Gndr

Jawab: faktor penghambatnya ya .. sebenernya bukan faktor penghambat ya. Untuk menduduki jabatan tertentu di lokus-lokus itu harus memiliki kemampuan. Kemampuan rukhiyah dan intelektual. Wawasannya harus baik. Idealnya seperti itu.

38.Adakah faktor pendukung bagi perempuan untuk berperan atau menduduki suatu jabatan?

Jawab: seorang perempuan dikasih amanah itu karena dia kita anggap mampu, wawasannya luas, rukhiyahnya oke, dia udah... marhalahnya udah tinggi tuh dia udah... udah marhalah satu, dua kaya’ gitu.

39.Apakah kebijakan-kebijakan yang ada sudah menganut prinsip kesetaraan gender?

Jawab: sudah.

40.Apa dampak dari implementasi kesetaraan gender dalam organisasi bagi para anggota terutama anggota perempuan?

Jawab: kita jadi lebih bebas menyampaikan pendapat.

Comment [mc17]: Fktr

Comment [mc18]: Fktr

Comment [mc19]: Gndr

Transkip Data Hasil Wawancara

Implementasi Kesetaraan Gender Dalam Struktur Organisasi KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Komisariat UIN Sunan

Kalijaga Yogyakarta

Hari/Tanggal Wawancara : Rabu/ 25 Februari 2015

Tempat/Waktu : Masjid Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta/ 13.00 WIB

C. Identitas

Nama : Ilman Adni Alpharizi (IL)

Jabatan : Ketua Umum KAMMI Komisariat UIN Sunan Kalijaga

Angkatan : 2011

D. Daftar Pertanyaan

19.Sejak kapan Anda menjadi anggota KAMMI? Jawab: sejak tahun 2011, sekitar bulan Oktober. 20.Apa arti gender menurut Anda?

Jawab: yang jelas, gender itu ya ini, lebih ke fisik. Bukan lebih ke fisiknya kaya’ sex misalnya laki-laki dan perempuan, bukan ke fisik tapi lebih ke di luar dari fisik. Ada kesamaan derajat. Misalnya kesamaannya tuh bukan dari fisiknya laki-laki dan perempuan, tapi dari keterlibatan dia dalam masyarakat. Yang saya tahu itu.

Comment [mc21]: Thn msk

21.Setujukan Anda apabila laki-laki disetarakan atau disamakan dengan perempuan?

Jawab: dalam hal apa dulu? Kalau dalam segala hal itu tidak setuju, tapi dalam beberapa hal setuju. Misalnya dalam hal pemimpin, di KAMMI ketua umumnya itu tidak boleh perempuan. Tapi ketua-ketua di bawahnya boleh perempuan. Atau misalkan dalam hal pekerjaan ya, meskipun mungkin secara... secara keseharian mungkin bisa gitu, tapi kan itu tidak bisa dilakukan oleh seorang perempuan. Misalnya ngangkut-ngangkut dalam kepanitiaan gitu. Itu tugasnya ya yang laki-laki, bukan perempuan. Orang bilang, ya itu sama aja laki-laki atau perempuan, tapi kalau kita ya... beda itu tugasnya laki-laki. Mbenerin listrik kaya’ kemaren. Ya itu ngga bisa perempuan, itu tugasnya laki-laki.

22.Bagaimana penentuan jabatan struktural dalam kepengurusan organisasi? Berdasarkan apa?

Jawab: berdasarkan keterlibatan dia di organisasi sebelumnya. Jadi sebelumnya sudah ada... sudah ada tahapan-tahapan di KAMMI, kita bicarakan sejauh mana dia keterlibatan di KAMMI, sejauh mana dia berkontribusi di KAMMI, dan kemampuan dia cocok apa tidak. Ternyata cocok, kita pilih, kita rekrut untuk jadi pengurus, pengurus inti.

23.Bagaimana peluang laki-laki dan perempuan untuk menduduki jabatan tertentu?

Jawab: peluangnya sama. Kecuali ketua umum itu, itu sudah saklek tidak bisa perempuan. Kalau yang lainnya sama. Jabatan yang lainnya bisa

Comment [mc23]: Gndr

Comment [mc24]: Fktr

perempuan bisa laki-laki. Mungkin bukan cuma tradisi ya, tapi memang kita ya... seperti apa yang kita tahu di dalam al Qur’an ya gitu, dari sananya ya kita tafsirkan ya laki-laki. Meskipun yang dibawahnya ada staf-stafnya, ketua departemen-ketua departemen, sama-sama ketua gitu. Tapi ada yang membawahinya, ketua Komsatnya itu. Nah itu boleh perempuan.

24.Bagaimana pendapat Anda apabila yang memimpin perempuan?

Jawab: seperti yang tadi saya bilang, kalau perempuan itu boleh menduduki jabatan apa saja selain ketua umum. Karena ketua umumnya sudah saklek harus laki-laki.

25.Bagaimana pendapat Anda apabila yang memimpin laki-laki?

Jawab: kalau laki-laki yang memimpin, karena kodratnya adalah laki-laki sebagai pemimpin, menjadi seorang pemimpin, jadi ya saya rasa itu

Dokumen terkait