BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.2 Saran
Saran yang dapat penulis rekomendasikan dalam penelitian ini adalah kepada masyarakat agar menggunakan pakaian adat atau pun acara adat sesuai dengan pesta adat apa yang dipakai saat itu. Sehingga identitas budaya terutama suku Batak Pakpak tidak hilang. Bahasa Batak Pakpak sebaiknya tetap dipakai oleh masyarakat yang mengetahui dan mengerti bahasa Pakpak. Sehingga walaupun dua suku yang berbeda hidup berdampingan, tetapi unsur-unsur budaya masing-masing tetap terlihat dan diketahui banyak orang.
BAB II
GAMBARAN LOKASI DESA BANGUN 2.1. Letak dan Lokasi
Desa Bangun merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Parbuluan Kabupaten Dairi. Jarak Desa Bangun ke Ibukota kecamatan sekitar 7 km, sedangkan jarak Desa ke Ibukota kabupaten sekitar 15 km. Jarak dengan dusun terdekat adalah ± 0 km dan dusun terjauh adalah ±2 km. Desa Bangun merupakan jalan lintas menuju Kecamatan Parbuluan. Desa ini dikenal dengan desa didalan na tigor yang artinya desa dijalan yang lurus,karena jalan lintas di desa ini berbentuk lurus memanjang. Sehingga masyarakat menyebutnya desa didalan na tigor. Rumah penduduk berjejer di sepanjang pinggir jalan mengikuti alur jalan lintas.
Untuk sampai ke desa ini dibutuhkan waktu sekitar ± 25 menit dari pusat kota Sidikalang menggunakan angkutan umum dengan nomor trayek 88. Dengan tarif ongkos untuk dewasa Rp. 7000, PNS/karyawan Rp. 5000, mahasiswa/siswa Rp.3000. Sedangkan menempuh desa menggunakan sepeda motor dibutuhkan waktu sekitar ± 15 menit. Untuk bepergian sebagian besar masyarakat menggunakan sepeda motor karena lebih hemat dan cepat. Oleh karena itu, hampir semua masyarakat desa Bangun memiliki alat transportasi terutama sepeda motor. Sedangkan angkutan umum sebagian besar digunakan oleh penduduk diluar desa Bangun.
Desa Bangun ini juga merupakan jalan lintas Medan - Kabupaten Samosir. Masyarakat dari Medan menuju Kabupaten Samosir dan sebaliknya menggunakan akses jalan desa Bangun dengan nama trayek Sampri, Dairi transport, PAS, BTN, CKB dan Himpak. Transportasi seperti truk pengangkut hasil bumi masyarakat baik antar desa, antar kota, bahkan antar provinsi juga melintasi desa ini. Masyarakat desa Bangun mengangkut hasil bumi seperti tomat, cabai, sayuran dan tanaman tahunan seperti jeruk dan kopi untuk dijual di pusat pasar kota Sidikalang. Bahkan ada juga yang mengangkut nya sampai ke Medan, Aceh, Pekanbaru, dan kota lainnya.
Secara administratif desa Bangun memiliki batasan wilayah yaitu : sebelah Utara berbatasan dengan sungai Lae Renun, sebelah Selatan berbatasan dengan desa Lae Hole II, sebelah Timur berbatasan dengan desa Lae Hole, dan sebelah Barat berbatasan dengan desa Bangun I. Seluruh wilayah yang berbatasan dengan desa Bangun berada dalam satu kecamatan dan satu kabupaten.
Akses jalan tiap desa ke ibukota kabupaten relatif mudah. Karena seluruh desa sudah dapat dilalui oleh alat transportasi roda dua dan roda empat dan jaraknya pun relatif dekat. Oleh karena itu, banyak pedagang turun langsung ke lapangan menjual kebutuhan pokok masyarakat sampai ke desa yang terpencil dimana akses transportasi yang sangat sulit dengan menggunakan mobil pick-up. Adapun bahan pokok yang dijual seperti ikan, sayur, beras, minyak, gas dan sebagainya. Hal ini sangat menguntungkan bagi masyarakat desa Bangun. Selain dari menghemat uang, hal tersebut juga menghemat waktu. Karena jarak dari desa ke pusat perbelanjaan lumayan jauh dan memakan waktu yang cukup lama. Sehingga masyarakat desa tidak lagi ke kota untuk mendapatkan bahan pangan.
2.2. Sejarah Desa
Desa Bangun dibentuk pada sekitar tahun 1957-1960 dan berdiri sekitar tahun 1961. Pada dasarnya pembentukan Desa Bangun dibagi menjadi 2 cakupan wilayah yakni Desa Bangun I dan Desa Bangun II, namun karena kedua wilayah belum mampu untuk memiliki sistem pemerintahan sendiri maka kedua wilayah disatukan menjadi satu desa yaitu Desa Bangun dan dipimpin oleh satu orang kepala desa. Pada perkembangannya dilihat dari tingkat penduduk yang sudah semakin bertambah maka pada tahun 2007 Desa Bangun dimekarkan menjadi II desa yaitu Desa Bangun dan Desa Bangun I.
Nama Bangun berasal dari bahasa Indonesia yang artinya bangkit. Hal tersebut karena pada awalnya masyarakat yang tinggal di desa Bangun sangat miskin. Masyarakat hanya menanam sawah untuk memenuhi kebutuhannya. Hasil yang mereka dapatkan relatif sangat sedikit. Untuk memenuhi kebutuhannya, hasil panen tersebut cenderung pas-pasan. Sehingga mereka menganggap nama Bangun sangat tepat. Mereka mendefinisikan nama Bangun untuk generasi penerus yaitu anak-anak mereka agar bangkit dari kemiskinan.
Belum ditemukan dokumen tertulis yang dapat menceritakan secara lebih lengkap dan terperinci tentang sejarah berdirinya Desa Bangun. Akan tetapi dari informasi yang diperoleh berdasarkan wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat diketahui bahwa suku pertama yang mendiami desa Bangun adalah suku Batak Pakpak yaitu marga Capah.
Seluruh marga Pakpak berasal dari nenek moyang yang sama dan dari daerah asal yang sama yang disebut tanoh Pakpak. Suku Batak Pakpak berpusat di
wilayah kecamatan Salak. Untuk menghindari pertengkaran antar saudara suku Pakpak, orang tua mereka membagi daerah kekuasaan kepada masing-masing anaknya.
Marga Sinamo dan Boangmanalu memiliki daerah kekuasaan di kecamatan Salak. Marga Bako dan Berutu memiliki daerah kekuasaan di kecamatan Sidikalang. Marga Bintang memiliki daerah kekuasaan di desa Bintang atau Pasar Lama. Marga Angkat memiliki daerah kekuasaan di desa Sidiangkat. Marga Lingga memiliki daerah kekuasaan di kecamatan Sumbul. Marga Kudadiri memiliki daerah kekuasaan di kecamatan Sitinjo. Marga Capah memiliki daerah kekuasaan di kecamatan Parbuluan yaitu di desa Bangun. Hal inilah yang mendorong Suku Pakpak menjadi suku pertama yang mendiami desa Bangun yaitu marga Capah.
Sedangkan informasi yang lain mengatakan nenek moyang suku Batak Toba berpindah ke desa Bangun. Dengan alasan tanah di desa Bangun tersebut cukup subur dan mendukung untuk bercocok tanam. Suku Batak Pakpak menerima kedatangan suku Batak Toba untuk tinggal dan melanjutkan kelangsungan hidup di daerah tersebut. Suku Batak Pakpak memberikan pinjaman lahan kepada suku Batak Toba untuk digarap dan ditanami. Kemudian suku Batak Toba membuka lahan dan mendirikan rumah perlindungan yang sangat sederhana. Kesuburan daerah ini menjadi faktor penarik terhadap suku Batak Toba yang lain.
Bukti sejarah awal berdirinya desa Bangun ini adanya sebuah batu yang tidak terlalu besar yang pada awalnya diletakkan di depan rumah raja adat suku batak Pakpak, di sebuah dolok atau bukit kecil dipinggir jalan. Kemudian
dipindahkan tidak jauh dari tempat semula di sebuah bukit. Pemindahan bukti sejarah ini terjadi ketika dilakukan pelebaran jalan. Batu tersebut diletakkan didekat tiang listrik tepat dibelakang bukit kecil.
2.3. Luas dan Pembagian Wilayah
Desa Bangun sebagian besar terdiri dari dataran tinggi, berbukit dan miring dengan kemiringan antara 10°- 15°. Ketinggian rata-rata antara 1100 s/d 1200 dpl. Dari sisi tipologinya desa ini dapat digolongkan pada daerah perladangan/tegalan. Dari sisi tingkat perkembangannya dapat diklasifikasikan pada tingkat swadaya.
Desa Bangun mempunyai kedudukan yang strategis karena merupakan lintasan yang menghubungkan antar Kecamatan Parbuluan, Sitinjo, Kabupaten Samosir. Desa ini memiliki luas wilayah yang cukup luas yakni 1015 Ha. Dengan jumlah penduduk 431 KK dan jumlah penduduk 1983 jiwa, yang terdiri dari beberapa suku/etnis diantaranya adalah Suku Batak Toba, Batak Pakpak, Batak Karo, Batak Simalungun, Nias, Jawa, Padang, Flores dan suku Cina yang senantiasa hidup rukun dan damai. Desa Bangun terdiri dari 3 (tiga) Dusun yaitu Dusun I (Bangun Simartolu), Dusun II (Bangun II), Dusun III (Barisan Tigor).
2.4. Kependudukan
2.4.1 Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin
Jumlah keseluruhan penduduk Desa Bangun pada April 2016 adalah 1972 jiwa. Bila dilihat dari jenis kelamin penduduk maka jumlah laki-laki dan perempuan hampir sama. Jumlah perempuan mencapai 978 jiwa sedangkan jumlah laki laki hanya 994 jiwa.
Tabel 2.1
Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin (Dalam satuan jiwa)
No Jenis Kelamin Jumlah
1. Laki-laki 994
2. Perempuan 978
Jumlah 1972
Sumber : Data kepala desa 2016
Suku Batak menganut sistem patrilineal, marga dan keturunan berasal dari pihak ayah. Sehingga dalam sebuah keluarga diharapkan kelahiran anak laki-laki. Walaupun jumlah anak perempuan banyak di dalam sebuah keluarga, tidak menutup harapan dan usaha orangtua untuk mendapatkan anak laki-laki. Karena menurut mereka anak laki-laki adalah generasi penerus.
Bila dilihat pada tabel diatas, tabel terebut menunjukkan bahwa keinginan dan harapan suku Batak Toba untuk memiliki banyak anak laki-laki tidak sesuai dengan kenyataannya. Jumlah anak laki-laki dan anak perempuan memiliki perbedaan yang relatif sangat kecil. Jumlah anak laki-laki dan anak perempuan hampir sama.
2.4.2 Agama
Kebebasan untuk memeluk agama dan kepercayaan setiap penduduk telah dijamin oleh negara sehingga tidak ada paksaan untuk menganut agama/kepercayaan tertentu. Penduduk desa Bangun bebas memilih dan memeluk salah satu agama yang diakui oleh negara.
Tabel 2.2
Jumlah Penduduk Menurut Agama (Dalam satuan jiwa)
No Agama Jumlah
KK % Jiwa % Laki- Laki % Perempuan %
1. Islam 10 2,3 48 2,4 27 2,7 21 2,1
2. Katolik 171 39,7 732 37,2 375 37,7 357 36,5 3. Protestan 250 58 1192 60,4 592 59,6 600 61,4
Jumlah 431 100 1972 100 994 100 978 100
Di desa ini hanya terdapat 3 jenis agama yaitu Kristen Protestan, Kristen Katolik, dan Islam. Karena umumnya masyarakat suku Batak Toba memeluk agama Kristen Protestan yaitu sebanyak 1192 jiwa sekitar 60%. Dan suku Batak Pakpak memeluk agama Kristen Katolik sebanyak 732 jiwa sekitar 37%. Sedangkan 48 jiwa sebanyak 2,4% memeluk agama Islam berasal dari suku Batak Pakpak dan Batak Karo.
Sarana ibadah yang ada di Desa Bangun yaitu sebagai berikut :
Tabel 2.3
Jumlah Sarana Ibadah No Jenis Sarana Ibadah Jumlah
1. Gereja 4
2. Mesjid 1
Jumlah 5
Sumber : Data kepala desa 2016
Pada umumnya di Desa Bangun mayoritas beragama Kristen Protestan. Dilihat dari jumlah penduduk yang beragama Kristen Protestan sebanyak 250 KK dengan jumlah penduduk sebanyak 1192 jiwa yaitu sekitar 58%. Dengan jumlah
sarana ibadah yang tersedia sebanyak tiga gedung gereja untuk Kristen Protestan. Dan jumlah penduduk yang beragama Kristen Katolik sebanyak 171 KK dengan jumlah penduduk sebanyak 732 jiwa yaitu hampir 40%. Dengan jumlah sarana ibadah yang tersedia sebanyak satu gedung gereja. Dan penduduk yang beragama Islam sebanyak 10 KK dengan jumlah penduduk sebanyak 48 jiwa yaitu sekitar 2%. Sarana ibadah yang tersedia sebanyak satu gedung mesjid.
2.4.3 Komposisi Penduduk Menurut Suku Bangsa
Meskipun raja nihuta di Desa Bangun adalah suku Batak Pakpak, akan tetapi mayoritas suku bangsa di desa Bangun adalah suku Batak Toba. Hal ini disebabkan migrasi dan tingginya mobilitas penduduk menyebabkan suku Batak Toba mendiami hampir seluruh desa Bangun. Sedangkan suku Batak Pakpak mendiami sebagian kecil wilayah di Dusun I atau yang sering disebut dengan Bangun Simartolu.
Tabel 2.4
Jumlah Penduduk Menurut Suku Bangsa (Dalam satuan jiwa)
Sumber : Data kepala desa 2016 No Suku Jumlah KK % Jiwa % Laki-laki % Pr % 1. Toba 393 91.1 1743 88,4 877 88,2 866 88,6 2. Karo 3 0,7 18 0,9 8 0,8 10 1 3. Simalungun 1 0,2 6 0,3 3 0,3 3 0,3 4. Padang 2 0,5 13 0,6 7 0,7 6 0,6 5. Nias 1 0,2 3 0,2 2 0,2 1 0,1 6. Jawa 2 0,5 6 0,3 4 0,4 2 0,2 7. Pak-pak 25 5,8 161 8,2 81 8,2 80 8,2 8. Dll 4 1 22 1,1 12 1,2 10 1 Jumlah 431 100 1972 100 994 100 978 100
Bila dilihat pada tabel diatas, jumlah penduduk suku Batak Toba sebanyak 1743 jiwa yaitu 88,4%, suku Batak Pakpak sebanyak 161 jiwa yaitu 8,2%, suku Batak Karo sebanyak 18 jiwa yaitu 0,9%, suku Padang sebanyak 13 jiwa yaitu 0,6%, suku Batak Simalungun sebanyak 6 jiwa yaitu 0,3%, suku Jawa sebanyak 6 orang yaitu 0,3%, suku Nias sebanyak 3 jiwa yaitu 0,2%, dan suku lain-lain seperti Cina, Flores dan India sebanyak 22 jiwa yaitu 1%.
2.4.4 Mata Pencaharian
Mata pencaharian penduduk desa Bangun berada di sektor pertanian. Pemanfaatan sektor pertanian berkaitan dengan luasnya lahan kosong yang dapat digunakan untuk budidaya pertanian. Usaha tani yang dilakukan adalah pertanian ladang yaitu kopi. Tetapi banyak juga yang memanfaatkan lahan kosong dengan menanam tanaman muda seperti cabai dan sayuran. Saat ini, sebagian petani kopi sudah mulai mengganti ladang kopi menjadi ladang jeruk. Hal ini diakibatkan ladang kopi tidak menghasilkan buah yang banyak. Harga yang ditawarkan oleh pedagang juga sangat rendah. Banyak petani kopi beralih menjadi petani jeruk. Apalagi saat ini buah jeruk harganya cukup mahal, ditambah lagi ladang jeruk lebih menghasilkan dan menjanjikan kedepannya.
Penduduk suku Batak Pakpak yang merupakan tuan tanah di desa Bangun, memiliki banyak ladang khususnya ladang kopi. Banyak dari mereka yang memiliki ladang kopi yang luas. Untuk menggarap ladang mereka, mereka membagi pekerjaan ladang bersama isteri, anak laki-laki, dan anak perempuannya.
Tabel 2.5
Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian (Dalam satuan jiwa)
No Mata Pencaharian Jumlah KK % Jiwa % Laki % Pr % 1. Petani 304 70,5 649 62,7 300 60,7 349 64,6 2. PNS/TNI/POLRI 20 4,6 35 3,4 20 4,1 15 2,8 3. Buruh - - - - 4. Wiraswasta 47 10,9 157 15,1 69 14 88 16,3 5. Dll 60 14 194 18,8 105 21,2 88 16,3 Jumlah 431 100 1035 100 495 100 540 100
Sumber : Data kepala desa 2016.
Masyarakat di desa ini kecenderungan memiliki mata pencaharian sebagai petani yang berjumlah 649 jiwa yaitu sekitar 63% . Lahan yang subur yang sangat menjanjikan masyarakat untuk bertani. Sebagian kecil masyarakat di desa ini memiliki mata pencaharian sebagai PNS/TNI/POLRI sebanyak 35 jiwa yaitu sekitar 3%. Dan yang memiliki mata pencaharian sebagai wiraswasta sebanyak 157 jiwa yaitu sekitar 15%. Beberapa masyarakat ada juga yang bekerja sebagai tukang gilingan kopi dan beternak yaitu sebanyak 194 jiwa yaitu sekitar 19%.
Mayoritas penduduk di desa Bangun memiliki lahan kopi. Jadi banyak masyarakat yang bekerja sebagai tukang gilingan kopi dengan menggunakan kayu, paku, dan palu. Gilingan kopi ini digunakan untuk mengupas kulit kopi. Gilingan kopi juga dijual ke luar desa bahkan ke luar kota. Beberapa penduduk juga ada yang beternak ayam dan babi. Mereka memelihara babi dan dijual untuk acara pesta orang lain dan sebagian orang juga ada yang memelihara sendiri untuk acara pesta sendiri. Sehingga bisa meringankan biaya pesta.
2.5. Bahasa
Bahasa pengantar yang digunakan di desa ini adalah bahasa Batak Toba. Tetapi bisa saja kita mendengar bahasa Pakpak saat sesama suku Batak Pakpak sedang berbicara. Bahasa Pakpak hanya dipakai oleh sebagian kecil suku Pakpak. Saat ini anak laki-laki suku Batak Pakpak banyak yang menikah dengan perempuan suku Batak Toba. Ketika anaknya lahir, tentunya si anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama ibunya. Karena si ibu berasal dari suku Batak Toba, bahasa yang diketahui dan dipakainya adalah bahasa Batak Toba. Sehingga seorang ibu akan mengajari anaknya menggunakan bahasa Batak Toba. Begitu juga dengan si suami akan menggunakan bahasa Batak Toba saat berbicara dengan si istri.
Bahasa Batak Pakpak bisa didengar saat sepasang suami istri yang sama sama berasal dari suku Batak Pakpak sedang berbicara. Tetapi tidak semua pasangan suami istri yang berasal dari suku Batak Pakpak menggunakan bahasa itu. Bahasa Batak Pakpak itu dipakai oleh pasangan suami istri yang sudah lanjut usia. Atau sesama saudara laki-laki maupun perempuan yang memakainya. Karena dulu orang tua mereka masih mengajarkan bahasa Batak Pakpak dalam berbicara. Tetapi ketika terjadi pernikahan dengan antar suku, bahasa Pakpak tidak diajarkan lagi.
Seperti yang ditemukan oleh penulis di lapangan saat dua orang yang berasal dari suku Batak Pakpak sedang berbicara, mereka menggunakan bahasa Batak Pakpak. Kemudian saat seorang suku Batak Toba masuk kedalam percakapan mereka, mereka mengubah bahasa mereka menggunakan bahasa
Pakpak. Hal inilah yang mendorong bahasa Batak Pakpak tidak pernah terdengar dan dipakai lagi. Sehingga menyebabkan masyarakat batak Pakpak tidak mengetahui bahasa Batak Pakpak.
Untuk berinteraksi dengan lingkungannya, suku Toba, suku Pakpak, dan suku lainnya menggunakan bahasa Batak Toba sebagai bahasa pengantar. Karena hampir semua masyarakat sudah mengetahui bahasa Batak Toba.
2.6. Sarana dan Prasarana Desa
2.6.1. Sarana Kesehatan dan Jenis Penyakit
Kesehatan merupakan kata kunci yang harus dipedomani, sebab manusia yang sehat yang dapat berpikir dan berbuat untuk pembangunan negara ini. Akan tetapi sebagai manusia suatu waktu pasti terkena penyakit. Menyikapi kondisi tersebut perlu adanya antisipasi melalui pengadaan sarana dan prasarana kesehatan.
Pemenuhan kebutuhan kesehatan di desa Bangun dilengkapi sebanyak 4 sarana kesehatan yaitu pustu atau puskesmas pembantu dan posyandu. Pustu yang tersedia sebanyak satu unit dan posyandu sebanyak 3 unit. Secara terperinci dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 2.6
Jumlah Sarana Kesehatan
No Uraian Jumlah
1. Pustu 1
2. Posyandu 3
Penyakit yang sering diderita oleh masyarakat adalah Influenza. Hal ini didukung oleh suhu daerah yang dingin dan cuaca yang tidak menentu. Ketika masyarakat terkena penyakit terlebih dahulu mendapatkan pertolongan dari bidan atau perawat yang menguasai ilmu kesehatan. Untuk jenis penyakit berat seperti tifus dan demam berdarah dibawa ke puskesmas kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Umum Sidikalang.
2.6.2. Sarana Pendidikan dan Angkatan Kerja
Sarana pendidikan yang ada di desa Bangun hanya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang berjumlah satu unit dan Sekolah Dasar (SD) satu unit, serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang berjumlah satu unit. Sementara sarana pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) sama sekali tidak ada. Penduduk setempat harus keluar desa bahkan harus ke ibukota untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Biasanya masyarakat menyekolahkan anaknya ke pusat kota Sidikalang. Tetapi ada juga yang menyekolahkan anaknya ke kecamatan Parbuluan, karena disana juga tersedia Sekolah Menengah Atas (SMA).
Tabel 2.7
Jumlah Sarana Pendidikan
No Uraian Jumlah
1. PAUD 1
2. SD 1
3. SMP 1
Sarana pendidikan di desa ini sangat terbatas. Masing-masing sarana pendidikan seperti PAUD, SD, SMP hanya berjumlah satu unit. Bagi masyarakat yang ingin melanjutkan ke jenjang lebih tinggi seperti SMA, D3 dan S1 harus keluar desa, bahkan keluar kota khususnya kota Medan.
Tabel 2.8
Jumlah Lulusan Tenaga Kerja No Lulusan Tenaga Kerja Jumlah
1 Lulusan S-1 73
2 Lulusan Diploma 64
3 Lulusan SLTA 221
4 Lulusan SMP 151
5 Lulusan SD 160
6 Tidak Tamat SD/ Tidak Sekolah
579
Pendidikan di desa Bangun kecamatan Parbuluan kabupaten Dairi tergolong buruk, dilihat dari sedikitnya jumlah penduduk yang telah menyelesaikan wajib belajar sembilan tahun. Dari total penduduk di desa ini, jumlah penduduk lulusan S1/Diploma berjumlah 137 orang. Dan jumlah penduduk yang telah memenuhi wajib belajar sembilan tahun adalah 372 orang. Sedangkan jumlah penduduk yang lulus SD/ tidak tamat SD/ tidak sekolah sebanyak 739 orang.
Penduduk banyak yang tidak memenuhi wajib belajar sembilan tahun, bahkan yang tidak tamat SD atau bahkan tidak sekolah memiliki angka yang cukup besar yaitu sekitar 579 orang.
Tingkat lulusan pendidikan tentu sangat mempengaruhi angkatan tenaga kerja. Tingkat pendidikan yang rendah dan ketidaksesuaian keahlian dan
keterampilan yang dimiliki seseorang menyebabkan rendahnya penyerapan tenaga kerja. Kualitas tenaga kerja yang rendah mengakibatkan kesempatan kerja semakin kecil dan terbatas. Padahal tenaga kerja merupakan faktor pendukung perekonomian suatu desa. Untuk memajukan perekonomian desa diperlukan tenaga kerja yang berkualitas.
2.6.3. Sarana Transportasi
Wilayah Desa Bangun tidak terlalu jauh dari ibukota. Untuk menuju ibukota mereka menghabiskan waktu sekitar ± 25 menit menggunakan angkutan umum. Dan menggunakan sepeda motor dibutuhkan waktu sekitar ± 15 menit. Lokasi ini merupakan jalan lintas menuju Kabupaten Samosir sehingga akses masyarakat tidak begitu sulit untuk bepergian. Desa Bangun ini merupakan jalan lintas Medan - Kabupaten Samosir. Masyarakat dari Medan menuju Kabupaten Samosir dan sebaliknya menggunakan akses jalan desa Bangun dengan nama trayek Sampri, Dairi transport, PAS, BTN, CKB dan Himpak. Dan untuk angkutan umum jarak dekat masyarakat menggunakan angkutan umum dengan nomor trayek 88.
2.7. Sumber Air Bersih
Penggunaan air bersih di desa Bangun berasal dari air gunung. Pemerintah menyediakan fasilitas air pet/PDAM yang dibangun ditiap-tiap per 100 meter rumah. Jadi untuk masyarakat yang tinggal di sekitar air pet /PDAM bebas menggunakan air tersebut. Karena begitu banyak pengguna air pet tersebut yang menyebabkan antrian panjang untuk mendapatkan air bersih. Ditambah lagi penduduk yang mencuci dan mandi di air pet tersebut. Banyak penduduk yang
air pet/PDAM untuk penggunaan pribadi mereka. Jadi penduduk yang tidak ikut membayar iuran untuk pembangun pet tidak diijinkan untuk mengambil air bersih. Dulu sebelum pembangunan air pet, penduduk menggunakan air pancur untuk kebutuhan air bersih. Dimana air pancur ini adalah milik marga capah yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Sampai sekarang air pancur ini masih ada, dan yang berhak menggunakan air pancur tersebut adalah mayoritas penduduk yang bersuku Batak Pakpak. Penduduk suku Batak Pakpak masih menggunakan air pancur untuk mandi, cuci, kaskus. Mereka mengambil air pet/PDAM dalam ember atau jeregen untuk kebutuhan memasak dan minum.
BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah sebuah masyarakat majemuk, kemajemukan ini ditandai oleh adanya suku-suku bangsa yang masing-masing mempunyai cara-cara hidup atau kebudayaan yang berlaku dalam masyarakat suku bangsanya sendiri-sendiri sehingga mencerminkan adanya perbedaan dan pemisahan antara suku bangsa yang satu dengan suku bangsa lainnya, tetapi secara bersama-sama hidup dalam satu wadah masyarakat Indonesia dan berada di bawah naungan sistem nasional dengan kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (Suparlan, 1989:4).
Didalam suatu negara sering kali terdapat berbagai suku bangsa atau kelompok etnis yang berbeda. Di Indonesia misalnya, kita mengenal ada etnis Jawa, Ambon, Madura, Cina, Minang, Batak, dan lain sebagainya. Keberadaan