6. KESIMPULAN DAN SARAN
6.2 Saran
Model pengelolaan pesisir kawasan CAPD dan tambak sekitarnya yang direkomendasikan adalah perencanaan secara ekologis atau dikenal dengan
ecological planning methode, memadukan anatara karakteristik bio fisik ekosistem dengan kondisi sosiokultur dengan penambahan pertimbagan aspek Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim baik secara kelembagaan maupun, adaptasi ekosistem maupun aktivitas mata pencaharian masyarakat.
Peningkatan kapasitas bagi para pemangku kepentingan baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam peneglolaan Kelurahan Sawah Luhur disertai dengan advokasi kebijakan dari pelestarian ekosistem mangrove dan keberadaan CAPD perlu dipertahankan mengingat fungsinya tidak hanya dari sisi keanekaragaman hayati flora fauna, lebih besar lagi melindungi kehidupan minimal tiga desa yang berada di sekitarnya yaitu Kelurahan Sawah Luhur, Kelurahan Pontang dan Kelurahan Padek.
DAFTAR PUSTAKA
Adrianto L. 2006. Sinopsis Pengenalan Konsep dan Metodologi Valuasi Ekonomi Sumberdaya Pesisir dan Laut. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan
– Institut Pertanian Bogor. Bogor, Indonesia.
Alfian M. 2004. Valuasi Ekonomi Konservasi Hutan Mangrove untuk Budidaya Tambak di Kecamatan Tinanggea Sulawesi Tenggara. Tesis Magister. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor, Indonesia
[BAKOSURTANAL] Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional. 2009.
Peta Mangrove Indonesia. Pusat Survei Sumberdaya Alam Laut, BAKOSURTANAL. Indonesia.
[BAPPENAS] Badan Perencanaan Nasional. 2010. Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap – ICCSR. Jakarta
Barton D.N. 1994. Economic factor and Valuation of Tropical Coastal Resources. Bergen University. Bergen.
Bengen D.G. 2001. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan – Institut Pertanian Bogor. Bogor, Indonesia.
[BMG] Badan Meteorologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Serang. 2010.
Data Klimatologi Kota Serang Tahun 2010. Serang
Dahuri R, J Rais, SP Ginting, MJ Sitepu. 2004. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Laut. PT. Pradnya Paramita. Jakarta, Indonesia.
Diposaptono, S., Budiman., Firdaus Agung. 2009. Menyiasati Perubahan Iklim di Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. PT. Sarana Komunikasi Utama. Jakarta
De Groot, R.S., Wilson, M.A. and R.M.J. Boumans (2002). A typology for the classification, description and valuation of ecosystem functions, goods and services. Ecological economics 41(3), 393-408.
De Groot, R.S., Stuip, M.A.M., Finlayson, C.M. and N. Davidson (2006).
Valuing wetlands: guidance for valuing the benefits derived from wetland ecosystem services, Ramsar Technical Report No. 3/CBD Technical Series No. 27.
Fauzi A. 2004. Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Teori dan Aplikasi.
PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Giesen W. 1993. Panduan Pengenalan Mangrove. Alih bahasa oleh Y. R Noor, N. Suryadiputra, K. Harahap. Wetlands International – Indonesia Programme. Bogor, Indonesia
Giesen W. S. Wulffraat, M. Zieren and L. Scholten. 2006. Mangrove guidebook for Southeast Asia. RAP Publication 2006/7.. FAO and Wetlands International. Bangkok, Thailand
Hoitink et. al. 2011. Dynamics of suspended sediment in a marginal reef environment. http:// www.coastalreserach.nl [Agustus, 2011]
[IPCC] Intergovernmental Panel on Climate Change. 2001. The Scientific Basis. Contribution of Working Group I to the Third Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change [Houghton, J.T.,Y. Ding, D.J. Griggs, M. Noguer, P.J. van der Linden, X. Dai, K. Maskell, and C.A. Johnson (eds.)]. Cambridge University Press, Cambridge, United Kingdom and New York, NY, USA, 881pp.
[IPCC] Intergovernmental Panel on Climate Change. 2007. The Physical Science Basis Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the IPCC. ISBN 978 0521 88009-1 Hardback; 978 0521 70596-7 Paperback
Cambridge University, USA
[IUCN] International Union for Conservation of Nature and Natural Resources - The Word Conservation Union. 1993. Oil and Gas Exploration and Production in Mangrove Areas. IUCN. Gland, Switzerland.
Kaswadji R. 2001. Keterkaitan Ekosistem Di Dalam Wilayah Pesisir. Sebagian bahan kuliah SPL.727 (Analisis Ekosistem Pesisir dan Laut). Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB. Bogor, Indonesia.
Komite Nasional Pengelolaan Lahan Basah, 2004. Strategi Nasional Pengelolaan Lahan Basah. Kementerian Lingkungan Hidup. Jakarta.
Lawrence D. 1998. Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Alih bahasa oleh T. Mack dan S. Anggraeni. The Great Barrier Reef Marine Park Authority. Townsville, Australia.
Leatherman, S.P. 2001. Sea Level Rise and Coastal Disasaters. J National Research Council of National Academicies ISBN. 0-309-54228-6: 1-24
Menkveld R. and Firmenich B. 2009. Assessing the Total Economic Value and Livelihood Importance of A Mangrove Ecosystem Under Different Mangament States : A Case Study in Java. MSc. Thesis in Environmental Science. Wagheningen University. Netherlands.
[MEA] Millenium Ecosystem Assessment. 2005. Ecosystems and human well- being: wetlands and water, Synthesis. World Resources Institute,
Washington DC.
[NWC] National Wetlands Committe for SCS Project. 2004. Final Report Coastal Wetlands Subcomponent of Indonesia. South China Sea Project. WI–IP. Bogor. UNEP-GEF SCS Project.
[NASA] National Aeronotic and Space Administration. 2001. Climate Changes.
http://rst.gsfc.nasa.gov/Sect16/Sect16_2.html [Oktober, 2008]
Noor Y.R. 2004. Paparan Nilai Penting Cagar Alam Pulau Dua, Teluk banten sebagai Kawasan Berbiak Burung Air. Wetland International – Indonesia Programme. Bogor, Indonesia
[NOAA] National Oceanic and Atmospheric Administration. 2008.
Nybakken J.W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Alih bahasa oleh M. Eidman., Koesoebiono., D.G. Bengen., M. Hutomo., S. Sukardjo. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta, Indonesia.
Ramsar Convention. 2006. www.ramsar.org [27 April 2009].
Rangkuti F. 2004. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Reorientasi Konsep Perencanaan Strategis untuk Menghadapi Abad 21. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Rochana E. 2004. Ekosistem Mangrove dan Pengelolaannya di Indonesia.
Disertasi Doktor. Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan - Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor, Indonesia.
Santoso N, HW Arifin. 1998. Rehabilitas Hutan Mangrove Pada Jalur Hijau di Indonesia. Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Mangrove (LPP Mangrove). Jakarta, Indonesia.
Santoso N. 2004. Pola Pengawasan Ekosistem Mangrove. Makalah disampaikan pada Lokakarya Nasional Pengembangan Sistem Pengawasan Ekosistem Laut Tahun 2000. Jakarta, Indonesia.
Sulaeman E. 1995. Studi struktur dan komposisi jenis flora dan keanekaragamn jenis burung di Cagar Alam Pulau Dua, Kabupaten Serang, Jawa Barat.
Skripsi Fakultas Kehutanan, Universitas Nusa Bangsa, Bogor.
Supriharyono. 2000. Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta, Indonesia.
Sukarningsih N. 2007. Kajian Tingkat Kerentanan Pantai terhadap Arus dan Gelombang Berdasarkan Citra Satelit dan SIG di Teluk Banten. Skripsi Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor, Indonesia
No. NAMA JENIS NAMA JENIS KEHADIRASTATUS N
STATUS LINDUNG
La mp ira n 1. Daf tar bur ung yan g terc atat di Ca gar Ala m Pul au Du a (19 76 - 200 0)
1. Anhinga melanogaster Pecuk ular V P
2. Phalacrocorax niger Pecuk padi (B)
3. Phalacrocorax sulcirostris Pecuk padi (B)
FREGATIDAE
4. Fregata andrewsi Bintayung V E-Appl-P
5. Fregata ariel Bintayung V
ARDEIDAE
6. Ardea cinerea Cangak abu B
7. Ardea purpurda Cangak merah B
8. Ardea sumatrana Cangak besar V
9. Ardeola speciosa Blekok B
10. Bubulcus ibis Kuntul kerbau B P
11. Butorides striatus Kokokan laut (B)
12. Casmerodius albus Kuntul besar B P
13. Egretta garzetta Kuntul kecil B P
14. Egretta intermedia Kuntul sedang B P
15. Egretta sacra Kuntul karang B P
16. Ixobrychus cinnamomeus Bambangan (V)
17. Nycticorax nycticorax Kowak maling B
CICONIIDAE
18. Mycteria cinerea Wilwo B V-Appl-P
THRESKIORNITHIDAE
19. Plegadis falcinellus Roko-roko B P
20. Threskiornis melanocephalus
Pelatuk besi B P
ANATIDAE
21. Anas gibberifrons Itik benjut (B)
22. Dendrocygna arquata Belibis V
23. Nettapus coromandelianus Angsa kerdil V
FALCONIDAE
24. Falco peregrinus Alap-alap M Appl-P
ACCIPITRIDAE
25. Accipiter gularis Elang-alap M ApplI-P
26. Accipiter soloensis Elang-alap Cina M Appll
27. Elanus caeruleus Elang tikus V Appil
28. Haliaeetus leucogaster Elang laut V Appll
29. Haliastur indus Elang bondol V Appll
30. Pandion haliaetus Elang tiram V Appll
31. Pernis ptilorhynchus Sikep-madu M Appll
TURNICIDAE
32. Turnix suscitator Puyuh gonggong
Lampiran 1. Lanjutan
No. NAMA JENIS NAMA JENIS STATUS
KEHADIRAN
STATUS LINDUNG
RALLIDAE
33. Amaurornis Kareo padi (B)
34. Gallirallus striatus Tikusan (V)
CHARADRIIDAE
35. Charadrius dubius Cerek-kalung M
36. Charadrius Cerek-pasir M
37. Charadrius Cerek-pasir M
38. Charadrius veredus Cerek Asia M
39. Pluvialis fulva Cerek kernyut M
40. Pluvialis Cerek besar M
SCOLOPACIDAE
41. Actitis hypoleucos Trinil M
42. Numenius Gajahan M P
43. Numenius arquata Gajahan M P
44. Numenius Gajahan M P
45. Tringa glareola Trinil semak M
46. Tringa nebularia Trinil kaki-hijau M
47. Tringa stagnatilis Trinil rawa M
48. Tringa totanus Trinil kaki-merah M
49. Xenus cinereus Trinil bedaran M
50. Limosa lapponica Biru-taut M
51. Calidris Kedidi besar M
52. Calidris alba Kedidi putih M
53. Calidris subminuta Kedidi jari- M
RECUR
LARIDAE
55. Chlidonias hybridus Dara-laut kumis M P
56. Chlidonias Dara-laut sayap-M P
57. Sterna bergii Dara laut jambul M/V P
58. Sterna bengalensis Dara-laut M/V P
59. Sterna dougallii Dara-laut V P
60. Sterna sumatrana Dara-laut V P
61. Sterna albifrons Dara-laut kecil M/V P
62. Gelochelidon Dara-laut tiram M P
GLAREOLIDAE
63. Glareola Terik M
COLUMB/DAE
64. Geopelia striata Perkutut B
65. Streptopelia Dederuk B
66. Streptopelia Tekukur V
67. Treron vernans Punai gading V
STRIGIDAE
68. Tyto alba Burung hantu V
Lampiran 1. Lanjutan
No. NAMA JENIS NAMA JENIS STATUS
KEHADIRA
STATUS LINDUNO
CAPRIMULGIDAE
70. Caprimu/gus affinis Cabak (B) App II APODIDAE
71. Collocalia esculenta Walet sapi v
72. Apus pacificus Kapinis laut v
ALCEDINIDAE
73. Alcedo coerulescens Raja-udang biru (B) P 74. Halcyon ch/bris Cekakak sungai (B) P 75. Halcyon sancta Cekakak suci M P
MEROPIDAE
76. Merops philippinus Kirik-kirik laut HIRUNDINIDAE
77. Delichon dasypus Layang-layang
78. Hirundo rustica Layang-layang api M
79. Hirundo tahitica Layang-layang batu v
PYCNONOTIDAE
80. Pycnonotus goiavier Cerucuk (B) IRENIDAE
81, Aegithina tiphia Cipeuw (B) ORIOLIDAE
82. Oriolus chinensis Kepodang V TURDIDAE
83. Copsychus saularis Murai B ACANTHIZIDAE
84. Gerygone sulphurea Rametuk SYLVIIDAE
85. Acrocephalus sp Kerakbasi M
86. Cisticola juncidis Cici padi v
87. Orthotomus sutorius Cinenen pisang v
88. Phylloscopus Cikrak M
89. Prima familiaris Perenjak B MUSCICAPIDAE
90. Culicicapa Sikatan kepala-abu (V)
MONARCHIDAE
91. Rhipidura javanica Sikatan (B) P STURNIDAE
92. Acridotheres Kerak kerbau V 93. Sturnus Contra Jalak suren V
94. Sturnus Jalak putih V P
Lampiran 1. Lanjutan
NECTARINIIDAE
96. Anthreptes malacensis Burung-madu kelapa
97. Arachnothera longirostra Burung
No. NAMA JENIS NAMA JENIS STATUS
KEHADIRA STATUS LINDUNO V V (B) V (V) V B V B (V) V P P P V
jantung
98. Nectarinia jugularis Burung madu
DICAEIDAE
99. Dicaeum trochileum Burung cabal
ZOSTEROPIDAE
100. Zosterops flavus Kacamata Jawa
PLOCEIDAE
101. Passer montanus Gereja 102. Ploceus manyar Manyar
ESTRILDIDAE
103. Lonchura leucogastroides Bodol Jawa 104. Lonchura maja Bondol aji
105. Lonchura malacca Bondol rawa 106. Lonchura punctulata Bondol peking
ARTAMIDAE
107. Arthamus leucorhynchusKekep babi
CORVIDAE
108. Corvus macrorhynchus Gagak
Status keberadaan:
B : (Breeder) Tercatat pernah berbiak; V : (Visitor) pengunjung tidak berbiak; M : (Migrant) pendatang/migran (… ) : Mungkin...
Status perlindungan :
P : Dilindungi di lndonesian E : Endangered (Red Data Book) V : Vulnerable
R : Rare
App.t : Appendix I(CITES) App.lt : Appendix II
Lampiran 2 Dasar hukum kebijakan pengelolaan ekosistem mangrove Indonesia
No. Landasan Hukum Keterangan
Sumber Hukum 1. UU Dasar 1945 Pasal 33
ayat (3) dan ayat (4)
Ayat (3) menekankan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, dikuasai oleh Negara dan dimanfaatkan sebesarnya-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Ayat (4) menekankan bahwa perekonomian nasional diselenggarakan antara lain berdasarkan atas prinsip keberlanjutan dan berwawasan lingkungan.
Undang-Undang
1 UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
Mengatur hal-hal yang berkenaan dengan resapan air, pembentukan wilayah pengelolaan, wilayah perlindungan dan konservasi berdasarkan keberadaan lahan basah di kawasan hutan.
2 UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
Antara lain menyebutkan bahwa pemerintah daerah memiliki kewenangan dalam hal pendayagunaan sumber daya alam dan upaya-upaya konservasi. Mengatur distribusi wewenang pengelolaan lahan basah lintas kabupaten, kota, provinsi. 4 UU No. 6 Tahun 1994 tentang
Pengesahan Konvensi
Kerangka Kerja PBB Mengenai Perubahan Iklim (United Nation Framewok Convention on Climate Change)
Konvensi ini merupakan dasar bagi negara-negara industri untuk mengurangi emisi gas rumahkaca gabungan mereka paling sedikit 5% dari tingkat emisi tahun 1990 menjelang periode 2008-2012. Secara tidak langsung Undang-undang ini dapat mendorong perlindungan lahan basah untuk tujuan pengendalian perubahan iklim.
6 UU No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang
Mengatur hal-hal yang berkenaan dengan perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian tata ruang (termasuk pemanfaatan ruang kawasan lindung); yang antara lain bertujuan untuk meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam dan mencegah timbulnya dampak negatif terhadap lingkungan.
7 UU No. 5 Tahun 1990 tentang Pelestarian Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya
Mengatur hal-hal yang berkenaan dengan usaha perlindungan seperti perlindungan sistem penyangga, pengawetan keanekaragaman jenis, aktivitas apa saja yang dilarang, dan sanksi-sanksi bagi pelanggarnya,
9 UU No. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (dalam proses revisi, September 2003)
Mengatur hal-hal yang berkenaan dengan pengelolaan, pemanfaatan, dan pengawasan sumber daya ikan termasuk habitatnya.
Peraturan Pemerintah 1 PP No. 34 Tahun 2002 tentang
Tata Hutan, Rencana Pengelolaan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan
Peraturan Pemerintah ini antara lain membahas tentang Tata Hutan, Rencana Pengelolaan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan
4 PP No 25/2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom
Menerangkan secara rinci kewenangan pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai daerah otonom. Kewenangan tersebut dikelompokkan ke dalam beberapa bidang, antara lain yaitu: bidang pertanian, kelautan, pertambangan dan energi, kehutanan dan perkebunan, penataan ruang, pertanahan, dan lingkungan hidup.
5 PP No. 27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)
Antara lain berisi tentang kewajiban melakukan AMDAL bagi setiap jenis usaha/kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar/penting terhadap lingkungan hidup; cara kerja komisi penilai AMDAL; tata cara pembuatan AMDAL, pembinaan, dan pengawasan; serta keterbukaan informasi dan peran masyararakat.
8 PP No. 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam
Antara lain berisi tentang definisi, asas, tujuan, serta kriteria Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam; pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; serta pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya (kecuali pemanfaatan jenis
tumbuhan dan satwa serta kegiatan kepariwisataaan di zona pemanfaatan).
10 PP No. 27 Tahun 1991 Tentang Rawa
Lingkup pengaturan rawa dalam Peraturan Pemerintah ini adalah penyelenggaraan konservasi rawa yang meliputi perlindungan, pengawetan secara lestari dan pemanfaatan rawa sebagai ekosistem sumber air.
11 PP No. 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan
Mengatur hal-hal yang berkaitan dengan perlindungan kawasan hutan, perlindungan tanah hutan, perlindungan terhadap kerusakan hutan, perlindungan hasil hutan, pelaksanaan perlindungan hutan, dan ketentuan pidana. 12 PP No. 2 Tahun 1982 Tentang
Pengaturan Tata Air
Antara lain berisi tentang asas dan landasan hak atas air; pola tata pengaturan air; koordinasi tata pengaturan air; penggunaan air dan/atau sumber air; perlindungan air; eksploitasi dan pemeliharaan bangunan pengairan; pengawasan; serta ketentuan pidana.
Keputusan Presiden 1 Keppres No.48 Tahun 1991
Mengenai Pengesahan Convention on Wetlands of International Importance Especially as Waterfowl Habitat
Konvensi ini berisi tentang ketentuan konservasi lahan basah dan situs-situs lahan basah yang mempunyai kepentingan internasional. Pada pengesahan tersebut Pemerintah RI telah mengajukan Taman Nasional Berbak di Jambi sebagai lahan basah yang memiliki nilai penting secara internasional untuk dilindungi.
2 Keppres No. 32 Tahun 1990 Tentang Pengelolaan Kawasan Lindung
Menerangkan tentang ruang lingkup kawasan lindung; pokok kebijaksanaan kawasan lindung (meliputi kriteria jenis-jenis kawasan lindung dan tujuan perlindungannya); tata cara penetapan kawasan lindung; serta upaya pengendalian kawasan lindung.
3 Keppres No. 26 Tahun 1989 Mengenai Pengesahan Konvensi Perlindungan Warisan Budaya dan Alam Dunia.
Konvensi ini antara lain berisi tentang definisi warisan budaya dan alam, upaya-upaya perlindungan di tingkat nasional dan internasional, pembentukan komite antar negara untuk upaya perlindungan, pendanaan bagi kegiatan perlindungan, tata cara memperoleh bantuan internasional untuk upaya perlindungan, serta kewajiban bagi negara-negara peserta konvensi untuk melakukan program-program pendidikan dan penyebaran informasi mengenai pentingnya warisan budaya dan alam kepada masyarakat.
Lampiran 3 Beberapa strategi nasional pengelolaan lahan basah Indonesia
No Nama Strategi Keterangan
1. Strategi Nasional
Pengelolaan Lahan Basah (NSAP) 1996 yang kemudian direvisi pada tahun 2004
Strategi ini dikeluarkan oleh Komite Nasional Pengelolaan Ekosistem Lahan Basah yang anggotanya terdiri dari wakil-wakil institusi
pemerintah, peneliti dan akademisi, masyarakat sipil, dan pihak swasta. Penyusunannya sendiri difasilitasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan
Departemen Kehutanan sehingga meski tidak memiliki baju hukum, Strategi Nasional ini dapat menjiwai kebijakan operasional yang dikembangkan oleh paling tidak dua kementerian sektor tersebut. 2. Strategi Nasional
Pengelolaan Mangrove di Indonesia tahun ... saat ini dalam proses revisi.
Penyusunan Strategi Nasional Mangrove difasilitasi oleh Departemen Kehutanan dan LSM Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Mangrove. Strategi Nasional ini direncanakan akan memiliki baju hukum agar pelaksanannya menjadi bersifat wajib bagi instansi pemerintah terkait. Tanpa baju hukum Strategi Nasional ini akan tetap dapat menjadi acuan berbagai pemangku kepentingan, minimal bagi Departemen Kehutanan.
Lampiran 4 Kuisioner Survei Valuasi Ekonomi
A. Identitas Responden
Nama :
Umur :
Jenis Kelamin :
Pendidikan Terakhir : ………..(Tamat/Tidak Tamat) Jumlah Anggota Keluarga : ……….orang
a. Anak-anak : ……… orang b. Dewasa : ……… orang Status Perkawinan : Alamat : Pekerjaan Utama : 1. Pegawai Negeri 2. Pegawai Swasta 3. Wiraswasta 4. Petani 5. Petambak 6. Nelayan 7. Pengrajin Arang
8. Pengambil Kayu untuk Bangunan 9. Pengambil hasil perikanan dari ekosistem 10. Lainnya……… Pekerjaan Sampingan : 1. Pegawai Negeri 2. Pegawai Swasta 3. Wiraswasta 4. Petani 5. Petambak 6. Nelayan 7. Pengrajin Arang
8. Pengambil Kayu untuk Bangunan 9. Pengambil hasil perikanan dari ekosistem 10. Lainnya………
B.1. Target Responden : Pencari Satwa
1. Apakah Bapak/Ibu/Sdr(i) benar pencari satwa dari ekosistem mangrove ? a. Benar
b. Tidak
2. Apabila benar, jenis satwa apakah yang Bapak/Ibu/Sdr(i) biasanya peroleh ? a. Kelelawar
b. Ular c. Burung
d. Lainnya………
3. Berapa kali biasanya Bapak/Ibu/Sdr(i) mencari satwa tersebut ? a. Tiap hari
b. 3 – 4 hari dalam seminggu c. Seminggu sekali
d. Sebulan sekali e. Lainnya……….
4. Analisis usaha dari pencari satwa yaitu
No Uraian Satuan Total
(Rp) A Penerimaan Jenis satwa 1……….... 2……… Harga/satwa 1……… 2……… Total Penerimaan B Investasi (penyusutan) 1. Perangkap 2. Kapak 3. lainnya ……….. Biaya Operasional 1…………. 2…………..
C Net Benefit (A-B)
B.2. Target Responden : Pemanfaat Kayu
1. Apakah Bapak/Ibu/Sdr(i) mengambil hasil ekosistem mangrove berupa kayu?
a. Ya b. Tidak
2. Apabila Ya, pilihlah jenis mangrove yang Bapak/Ibu/Sdr(i) manfaatkan dan digunakan untuk apa, berdasarkan tabel dan keterangan dibawah ini :
Jenis Mangrove Jenis Pemanfaatan
* 1 2 3 4 5 a. Avicennia b. Sonneratia c. Rhizophora d. Bruguiera e. Nypa f. Lainnya …
(Responden dituntun dengan memperlihatkan gambar) * keterangan 1. Kayu bakar 2. Arang 3. Bahan bangunan 4. Bahan perahu 5. Lainnya ……….. Analisis usaha
No Uraian Satuan Total (Kg/Rp/hari)
A. Penerimaan
1. Ukuran/panjang setiap batang (meter)
2. Jumlah batang (unit) 3. Harga/batang Total Penerimaan B. Biaya
1. Jenis peralatan yang
digunakan………
2. Harga tiap peralatan Total Biaya
C. Net Benefit (A-B)
D. Frekuensi Pengambilan (hari)
3. Berapa kali Bapak/Ibu/Sdr(i) melakukan pemanfaatan tersebut di atas? a. Tiap hari
b. 3 – 4 hari dalam seminggu c. Seminggu sekali
d. Sebulan sekali e. Lainnya………..
4. Apakah dengan jenis pemanfaatan yang Bapak/Ibu/Sdr(i) lakukan, dijual untuk menambah penghasilan ?
a. Ya (semuanya) b. Dijual sebagian c. Tidak dijual (subsisten) B.3. Target Responden : Nelayan
Umum
1. Ukuran perahu/kapal yang digunakan :………GT 2. Dimensi (L,B,D) :……..x…………..x……..M
3. Jenis mesin penggerak : Motor tempel/Diesel a.< 10 GT
b.10 – 30 GT c.> 30 GT
4. Macam alat tangkap yang digunakan/jumlah :………../…….unit 5. Alat Bantu tangkap :………..
6. Ukuran/skala alat tangkap :(pxlxt)………. 7. Jumlah nelayan ABK :…………orang
8. Skala usaha : subsisten/artisanal (kecil/sedang/besar)/industri (kecil/sedang/besar) 9. Pelabuhan tempat pendaratan ikan :
10. Status kepemilikan usaha : milik sendiri/kelompok nelayan/perusahaan 11. Jumlah tenaga penangkap………orang
a. Pemilik………orang b. Nahkoda kapal……...orang c. Juru mesin……….orang d. Juru mudi………..orang e. Juru masak………orang f. ABK (pekerja)…………orang
Operasional Penangkapan Ikan
1. Daerah operasional penangkapan ikan (fishing ground) : perairan…………..
2. Jarak dari tempat pendaratan ikan ke fishing ground :……….mil laut atau ………hari perjalanan
3. jarak dari fishing ground ke pantai terdekat :………..mil laut 4. Banyaknya trip operasi penangkapan ikan : ……….trip/hari
……… trip/bulan ……… trip/tahun
5. Lamanya satu kali trip operasi penangkapan ikan : ………..hari 6. Waktu pengoperasian alat tangkap : pagi/siang/malam
8. Bulan tidak ke laut selama satu tahun :……bulan, yaitu pada bulan 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12 9. Musim penangkapan ikan :
Musim banyak : bulan………..sampai bulan………….. Musim sedang : bulan………..sampai bulan………….. Musim kurang : bulan………..sampai bulan………….. Hasil Tangkapan
1. Jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan 2. Hasil tangkapan utama
No Jenis ikan Musim Banyak (kg/trip) Musim kurang (kg/trip) 1. 2. 3. ………. ……… ……….
3. Penanganan ikan di atas kapal : menggunakan palkah dan es/menggunakan palkah tanpa es/dibiarkan diatas dek/lain-lain………….
Penerimaan 1. Hasil tangkapan a. Jenis ikan ………kg/trip/bulan/tahun, harganya Rp/kg……….. ……… kg/trip/bulan/tahun, harganya Rp/kg………. ……… kg/trip/bulan/tahun, harganya Rp/kg………
2. Total penerimaan : Rp/kg/trip/bulan/tahun……….
Investasi
No Investasi Jumlah Nilai
(Rp) Baru/ lama Umur ekonomis Beban 1. Kapal/perahu 2. Mesin
3. Alat tangkap (unit) 4. Penanganan 5. Lainnya……
Biaya Operasional
1. Biaya ABK/trip : Rp………..
2. Bahan Bakar : Rp/trip/kapal (perahu)……… 3. Olie : Rp/trip/kapal (perahu)………
4. Total Bahan Pengawet : Rp/trip/kapal (perahu)……… 5. Lain-lain ………….: Rp/trip/kapal (perahu)……….
Biaya Perawatan
1. Kapal/perahu : Rp/kali/bulan/tahun……… 2. Alat tangkap : Rp/kali/bulan/tahun………
ITA SUALIA. Impact of Sea Level Rise on Coastal Management of Pulau Dua Nature Reserve In Relation to Its Buffer Area in Kasemen Sub District,
Serang Municipality of Banten Province.
Under supervision of FREDINAN YULIANDA and ACHMAD FAHRUDIN Pulau Dua Nature Reserve (CAPD) is located in Banten Bay on 06o01’05”– 06o02’05”South and 106o11’38”– 106o13’14”East under administrative area of Sawah Luhur village of Serang municipality. The function of CPAD is very important for about 108 species of birds where 38 species of its categorized as protected by national and or international convention. An area of 28,6 hectares mangrove as the main vegetation of 30 hectares CAPD leads important role as well as natural protection for 515 hectares of fish ponds, 2910 families and also support rice production of Serang and its surrounding. Topography of CAPD and its surrounding ecosystem are a gently sloping low land area with the highest contour is 4m above MSL. Due to this topography condition and located directly faced Java Sea, caused this area is very vulnerable to the impacts of sea level rise. Simulation models of sea level rise for scenario 25cm, 50cm and 100cm combining with contour map are able to predict the changes of ecological landscape of land inundation and economic losses incurred.