BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.2 Saran
Perlu dilakukannya penelitian lebih lanjut tentang gambaran fisiologis darah pada luak (Paradoxurus hemaphroditus) di Jawa dengan kondisi kandang yang berbeda dan umur luak yang lebih dewasa yaitu lebih dari 1 tahun, sehingga diperoleh data gambaran fisiologis luak dengan kisaran yang luas dan lebih lengkap.
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier S. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Aroon S, Artchawakom T, Hill JG, Kupittayanant S, Thanee N. 2009.
Ectoparasites of the common palm civet (Paradoxurus hermaphroditus) at Sakaerat enviromental researching station, Thailand. Suranaree J. Sci.Technol. 16 (4):277-281
Azlan JM. 2003. The diversity and conservation of mustelids, viverrids,and herpestids in a disturbed forest in Peninsular Malaysia. Small Carnivore Conservation 29: 8–9.
Borah J dan Deka K. 2011. An observation of common palm civet Paradoxurus hermaphroditus mating. Small Carnivore Conservation. Vol. 44: 32–33, June 2011
Brooker. 2001. Kamus Saku Keperawatan. Jakarta: ECG.
Brown EM, Dellmann HD. 1992. Buku Teks Histologi Veteriner. Ed ke-3. R Hartono. Penerjemah. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Colville T, Joanna MB. 2002. Clinical Anatomy and Physiology for Veterinary Technican.
Colon CP. 2002. Ranging Behaviour and Activity of The Malay Civet (Viverra tangulunga) in a Logged and an Unlogged Forest in Danum Valley, east Malaysia. J. Zool.257:473-485.
Cunningham JG. 2002. Texts Book of Veterinary Physiology. Ed ke-3. Philadelphia: WB. Sounders Company.
Dewi T. 2010. Kopi luwak, kopi termahal di dunia. National Geographic Kids. Edisi Oktober 2010. Hal 8-9.
Evans DM, Frazer IH, dan Martin NG. 2006. Physiology. [terhubung berkala]. http://jap.Physiology.org/cgi/Content/abstract/52/1/168. (20 Januari 2012). Frandson. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Yogyakata : Gajah Mada
Univercity Press.
Ganong WF. 2001. Buku Ajar Fisiologi kedokteran. Ed ke-20. Jakarta : EGC. Guyton AC. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed ke-9. Irnawati Setiawan,
Penerjemah; Jakarta: ECG.
Guyton and Hall. 1999. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed ke-9. Irnawati Setiawan, Penerjemah; Jakarta: ECG.
Hoffbrand AF, Pelit JE, dan Moss PAH. 2005. Hematology. Ed ke-4. Dewi Asih Maharani, Penerjemah; Jakarta: ECG.
Hartono. 1995. Histology Veteriner. Jilid 1. Laboratorium Histologi. Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor.
Jain NC. 1993. Essential of Veterinary hematology. Philadelphia: Lea and Febiger.
Jeannings AP, Seymour AS, Dunstone N. 2006. Ranging behaviour, spatial organization and activity of the malay civet (Viverra tangalunga) on Buton Island, Sulawesi. J. Zool. 268:63-71.
Kurnia L, Yulvianus H. 2011. Kopi luak dari gang pekonan. [Terhubung Berkala]. Posting Selasa, 28 Juni 2011 | 21:08 WIB. (13 Februari 2012).
Lawrence LC, Fowler VR. 2002. Growth of Farm Animal. Ed ke-2. New York: CABI Publishing.
Light, Grass C, Pursley D, Krause J. 2007. Carboxyhemoglobin level in smokers VS non smokers in a smoking environment.USA: Sci. Journal of the American Association for Respiratory Care.
Lunde DP dan Musser GG. 2003. A recently discovered specimen of Indonesian
Mountain Weasel from Sumatra. Small Carnivore Conserv. 28:22.
Marisa M. 2006. Ascorbic acid, vitamin A, and mineral composition of banana (Musa sp.) and papaya (Carica papaya) cultivars grown in Hawai. Journal
of Food Composition and Analysis 19:434–445.
Mbassa GK, Poulsen JSD. 1993. Reference Ranges for Hematological Value in Landrace Goats. Small Ruminant Research.
Meyer DJ, Coles EH, Rich LJ. 1992. Veterinary Laboratory Medicine Interpetation and Diagnosis. Philadelphia: W.B Sounders Company.
Mudappa D, Kumar A, Chellam R. 2010. Diet and fruit choice of brown palm civet Paradoxurus jerdoni, a viverrid endemic to the western ghats rainforest, India. J.Tropic Cons Sci.3(3):282-300.
Mudappa D and Chellam R. 2001. Capture and immobilization of wild brown palm civets in Western Ghats. Journal of Wildlife Diseases 37: 383-386. Muhammad A dan Sianipar O. 2005. Penentuan defisiensi besi anemia, penyakit
kronis dengan menggunakan indeks sTfR-F. Indonesian Jurnal of Clinical Pathology and Medical Laboratory. Vol.12. No.1. November 2005: 9-15.
Nordenson JN. 2002. Gale Encyclopedia of Medicine. Red Blood Cell Indices. [Terhubung Berkala]. http://www.healthatoz.com/healtathoz/ Atoz/Ency//red blood cell indices.jsp. (20 Januari 2012).
Nugraha KNN. 2007. Gambaran Darah Anjing Kampung Jantan (Canis familiaris) Umur 3 Sampai 7 Bulan [Skripsi]. Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor.
Nuraini D. 2006. Pendugaan Jumlah Sel Darah Merah (RBC) Melalui Penilaian Hematokrit [Skripsi]. Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor. Patau ML, Wilting A, Goubert P, Jacob A, Andrew P, dan Jennings. 2010. Evolutionary history of the Paradoxuruspalm civets – a new model for Asian biogeography.Journal of Biogeography (2010) 37, 2077–2097.
Perkin A. 2004. A new range record for the African palm civet Nandinia biotata
(Carnivora, Viverridae) from Unguja island, Zanzibar. Afr. J. Ecol., 42:232-234.
Pristiyanto D. 2003. Virus SARS Nampaknya Berasal Dari Musang [Terhubung Berkala]. http://www.mediaindo.co.id/ beritakhusus.asp?id=946 . Selasa 23 Mei 2003. (12 Januari 2012).
Rebar AH. 2000. Hemogram Interpretation For Dog and Cats. Clinical Handbook Series. Ralston Purina Company.
Reksodiputro HA. 1994. Cermin Dunia Kedokteran: Mekanisme Anemia Defisiensi Zat Besi. Jakarta: Universitas Indonesia Press
Rinnie. 2011. Rouleaux Formation Normal In Horses. [Terhubung Berkala] http://quizlet.com/5640718/clinical-pathology-flash-cards/. (4 Juni 2012) Riswanto. 2010. Laboratorium Kesehatan: Mioglobin. [Terhubung Berkala].
http:// labkesehatan. blogspot. com /2010/11/mioglobin. (14 Januari 2012) Rodríguez A, Cadena A and Sanchez P. 2000. Trophic characteristics in social
groups of the mountain coati, Nasuella olivacea (Carnivora: Procyonidae).
Small Carnivore Conservation 23: 1-6.
Salakij C, Salakij J, Narkkong A, Tongthainun D, Prihirunkit K, and Itarat S. (2007). Hematology, cytochemistry and ultrastructure of blood cells in common palm civet (Paradoxurus hermaphroditus).Nat. Sci. 41 : 705 – 716.
Sastradipradja et al. 1989. Penuntun Praktikum Fisiologi Veteriner. Dekdikbud. Dirjen. Dikti. PAU. Ilmu Hayati. IPB.
Shiroff A. 2002. Paradoxurus hermaphroditus. Animal diversity. ummz. umich. edu/ site/accounts/information/Paradoxurus_hermaphroditus.html.
Silverthorn. 2006. Human Physiology. Ed ke-4. Sanfransisco: Sansomest Pearson Benjamin Cummings.
Sodikoff CH. 1995. Laboratory Profiles of Small Animal Diseases A Guide to Laboratory Diagnosis. America : Mosby.
Stain W. 2012. Rouleaux In a Feline Blood Smear. [Terhubung Berkala]. http://www.medvet.umontreal.ca/clinpath/banqim/hematology/rouleauxE.ht m. (14 Juni 2012).
Stockham SL, Scott MA. 2008. Fundamental of Veterinary Clinical Pathology. Ed ke-1. USA: Lowa State Press.
Swenson MJ. 1997. Dukes Physiology of Domestic Animal. Ed ke-9. London: Cornell University Press.
Vander AJ. 2001. Human Physiology: The Mechanisms of Body Fungtion. Edisi ke-8. New York: The MC Graw-hill Companies.
Vaughan TA, Ryan JM, Czaplewski NJ. 2000. Mammalogy. Ed ke-4. USA: Thomson Learning.
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Luak atau musang yang dalam bahasa latin Paradoxurus hemaphroditus, adalah hewan mamalia yang masuk ke dalam famili Veveridae. Di berbagai wilayah penyebarannya, luak memiliki nama panggilan yang berbeda-beda, seperti careuhbulan di Sunda, luak pandan di Jawa, dan common palm civet atau
toddy cat dalam bahasa Inggris (Dewi 2010). Luak memiliki mata berwarna coklat, warna dasar tubuh keabu-abuan dengan warna hitam di bagian muka, telinga, kaki dan ekor, serta corak garis dan spot hitam di bagian punggungnya (Dewi 2010). Kemampuan adaptasi luak yang tinggi menjadikannya sebagai hewan kosmopolitan. Hewan kosmopolitan adalah hewan yang mampu hidup di berbagai daerah mulai dari dataran rendah, hingga dataran tinggi dengan kondisi lingkungan yang beraneka ragam. Luak dapat ditemukan di daerah kota, pinggiran kota, pedesaan, perkebunan serta dataran tinggi yaitu 1500-2400 meter di atas permukaan laut (Azlan 2003, Perkin 2004). Berdasarkan ordonya, luak termasuk hewan karnivora yang mau memakan buah dan sisa makanan manusia, sehingga luak dapat beradaptasi dengan baik dalam hal pemilihan makanannya.
Pada tahun 1900-an luak masih dianggap sebagai hama di daerah perkebunan dan daerah pemukiman pinggir hutan, karena luak biasa memakan hasil perkebunan berupa buah-buahan dan kopi, serta memakan ternak unggas milik warga pinggiran hutan. Tahun 1945-an pandangan negatif terhadap luak sebagai hama perkebunan mulai hilang, karena luak mulai dimanfaatkan sebagai penghasil parfum dan kopi termahal di dunia yaitu kopi luak (Mudappa et al.
2010). Kopi luak adalah kopi hasil fermentasi dalam saluran pencernaan luak, sehingga memiliki citarasa yang khas. Kopi luak memiliki kualitas kopi yang istimewa karena luak hanya memilih buah kopi terbaik yang difermentasi oleh mikroba dari saluran pencernaan luak. Kopi luak memiliki harga yang sangat mahal yaitu satu juta rupiah per 500 gram, oleh karena itu kini banyak dibuka perusahaan dan perkebunan kopi luak di daerah Indonesia, khususnya di daerah Sumatra dan Jawa Timur. Selain dimanfaatkan sebagai penghasil kopi luak yang
mahal, luak juga dimanfaatkan sebagai hewan penelitian di laboratorium untuk beberapa penyakit zoonosis, seperti Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Rabies. Beberapa penelitian di Philipina dan Singapura menyatakan bahwa luak merupakan hewan yang potensial untuk menyebarkan kedua penyakit zoonosis ini (Pristiyanto 2003).
Meskipun pemanfaatan luak yang cukup banyak di bidang pertanian, kesehatan, dan ekologi (Colon 2002, Jeannings et al. 2006), ternyata hingga saat ini belum banyak data-data biologis tentang luak yang diketahui, terutama gambaran fisiologis darah normal dari luak (Paradoxurus hemaphroditus) yang ada di Jawa. Gambaran darah dapat digunakan sebagai prosedur laboratorium untuk memperkirakan jumlah dan jenis sel darah yang bersirkulasi pada kondisi tertentu (Frandson 1992). Indeks butir darah merah adalah suatu nilai yang digunakan untuk mendefinisikan ukuran dan kandungan hemogloin dalam darah. Indeks butir darah merah terdiri dari MCV, MCH, dan MCHC yang sangat membantu untuk mengetahui kondisi dan jenis anemia pada luak. Oleh karena itu, penelitian ini sangat penting dilakukan agar diperoleh data fisiologis darah normal pada luak Paradoxurus hemaphroditus di Jawa. Data tersebut dapat digunakan sebagai data dasar pada pemeriksaan kesehatan luak.
1.2. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran fisiologis darah luak
Paradoxurus hemaphroditus di Jawa, yang meliputi jumlah butir darah merah (BDM), kadar hemoglobin (Hb), nilai hematokrit atau Packed Cell Volume
(PCV), dan indeks butir darah merah yang meliputi Mean Corpuscular Volume
(MCV), Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH), dan Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC).
1.3 Manfaat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai data dasar fisiologis darah luak normal, untuk penegakan diagnosa terhadap pemeriksaan kesehatan, sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan produksi kopi luak.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Taksonomi dan Biologi Luak
Luak atau Paradoxurus hemaphroditus yang berada di daerah pulau Jawa menurut Shiroff (2002) memiliki susunan taksonomi sebagai berikut:
Kingdom : Animalia Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata Class : Mammalia Ordo : Carnivora Subordo : Feliformia Family : Viverridae Subfamily : Paradoxurinae Genus : Paradoxurus
Species : Paradoxurus hermaphroditus
Gambar 1. Luak Jawa Sumber: koleksi pribadi Luak di pulau Jawa memiliki ciri-ciri corak warna yang khas, luak memiliki mata berwarna coklat, warna dasar keabu-abuan dengan warna hitam di bagian muka, telinga, kaki dan ekor, serta serta corak tiga garis memanjang dan bintik-bintik hitam di sekitar punggungnya (Gambar 1) (Dewi 2010). Luak adalah hewan nokturnal dengan kebiasaan hidup yang unik dalam proses adaptasinya (Borah dan Deka 2011). Luak pandai dalam memanjat untuk memperoleh buah tapi luak juga mampu berburu di dataran dan perairan untuk memperoleh sumber makanan lainnya (Vaughan et al. 2000). Menurut Lunde dan Musser (2003) luak memiliki status konservasi less concern atau tidak dilindungi.
Secara umum luak memiliki gambaran biologis yang hampir sama dengan anjing dan kucing. Menurut Shiroff (2002), luak dapat hidup lebih dari 22 tahun. Luak dikatakan dewasa kelamin ketika berumur 11-12 bulan. Luak dewasa memiliki bobot tubuh 2-5.5 kg. Panjang tubuh luak dewasa mencapai 43.2-71 cm dan panjang ekor mencapai 40.6-66 cm. Siklus reproduksi luak belum banyak
diketahui, namun luak mampu bereproduksi sepanjang tahun dengan kecenderungan memiliki anak pada pada bulan Oktober–Desember dengan jumlah anak 2-5 ekor.
Penyebaran luak di dunia menyebar dari India, Pakistan, Srilanka, Bangladesh, Burma, Tiongkok Selatan, Semenanjung Malaysia, dan Indonesia (Borah dan Deka 2011). Di Indonesia sendiri luak dapat ditemui di daerah Sumatra, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan, Laliabu, dan Seram di Maluku (Dewi 2010).
2.2. Pemanfaatan Luak
Luak termasuk hewan yang sangat rakus dalam mencari makan untuk kebutuhan hidupnya. Di daerah perkebunan kopi, luak dianggap sebagai hama karena dalam satu hari luak mampu memakan buah kopi sebanyak 1-1.5 kg/ekor. Kemampuan luak dalam memakan buah kopi dipengaruhi oleh usia luak dan status biologisnya. Kopi yang disukai oleh luak adalah buah kopi robusta, yang rasanya lebih pahit dari pada kopi arabika. Dipertengahan abad ke-19, seorang buruh perkebunan kopi, memanfaatkan kopi dari feses luak untuk diolah dan dikonsumsi karena tidak mampu membeli kopi di pasaran. Ternyata rasa kopi dari feses luak memiliki citarasa yang istimewa sehingga banyak orang yang menyukainya (Kurnia dan Yulvianus 2011). Meningkatnya permintaan akan kopi luak mengakibatkan mulai berkembangnya produksi kopi luak baik secara intensif maupun ekstensif. Produksi kopi luak secara intensif dilakukan dengan mengandangkan luak dalam kandang yang cukup luas, kemudian pada periode panen kopi, luak diberi makan buah kopi yang matang hasil dari perkebunan. Sedangkan produksi kopi luak secara ekstensif dilakukan dengan membiarkan luak liar untuk memakan buah kopi yang masih di pohon, kemudian setiap pagi harinya para buruh perkebunan mengumpulkan feses luak untuk diproses lebih lanjut menjadi kopi luak yang siap untuk dikonsumsi.
Selain dimanfaatkan sebagai penghasil kopi luak, Paradoxurus hemaphroditus juga digunakan sebagai hewan coba dalam penelitian dibidang kesehatan. Luak telah digunakan dalam penelitian penyebaran penyakit zoonosis melalui satwa liar, yaitu : pada kasus SARS dan rabies. SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) pertama kali ditemukan di propinsi Guangdong ( China )
pada bulan November 2003. Penelitian luak pertama untuk mengungkapkan kasus SARS dilakukan oleh seorang ilmuan ternama dari Hong Kong dan Cina. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa SARS diakibatkan oleh kelompok corona virus, yang dapat ditemukan pada selaput lendir saluran pernafasan dan feses luak. Dalam kasus SARS luak berperan sebagai hewan carier yang mampu menularkan virus ke hewan lain, maupun kepada manusia (Pristiyanto 2003).
Sedangkan pada kasus rabies, luak diduga sebagai vektor penghubung antara rabies pada satwa liar dan hewan domestik. Luak yang hidup di perbatasan antara wilayah hutan dan pemukiman diduga telah menyebarkan virus rabies yang berasal dari kelelawar vampir dan kemudian menularkannya melalui gigitan pada anjing dan kucing yang berada di pemukiman. Begitu juga sebaliknya, luak dapat menularkan rabies dari hewan domestik di permukiman kepada hewan liar yang ada di hutan. Di lingkungan hutan, luak memiliki peran sebagai hewan carier
seperti halnya kelelawar yang mampu menularkan virus namun tidak mengalami kematian karena rabies. Rabies (penyakit anjing gila) adalah penyakit hewan yang disebabkan oleh virus, bersifat akut serta menyerang susunan saraf pusat hewan berdarah panas dan manusia. Rabies bersifat zoonosis artinya penyakit tersebut dapat menular dari hewan ke manusia dan menyebabkan kematian pada manusia dengan Case Fatality Rate 100% (Pristiyanto 2003 ).
2.3. Gambaran Darah Luak Dari Hasil Penelitian Terdahulu
Luak sudah banyak dimanfaatkan baik dalam bidang pertanian dan kesehatan, namun hingga saat ini penelitian mengenai fisiologi normal luak masih sangat sedikit. Penelitian tentang gambaran darah luak Paradoxurus hemaphroditus yang sudah dilakukan adalah penelitian luak dari kebun binatang Khawkeaw di Thailand. Penelitian tersebut dilakukan terhadap dua pasang luak dewasa yang ada di kebun binatang. Hasil penelitian tersebut mengatakan bahwa sel darah merah luak sama dengan bentuk sel darah merah hewan mamalia lainnya yaitu berbentuk bikonkaf dan tidak memiliki inti. Ukuran diameter sel darah merah luak relatif lebih kecil dari diameter anjing dan kucing yaitu sekitar 4.3±0.4 µ m. Data mengenai gambaran darah luak tersaji secara lengkap pada Tabel 1.
Table 1. Data hematologi empat ekor luak di Thailand
Parameter Jantan (N=2) Betina (N=2) Semua Luak
PCV (%) 43.3 46,5 41 36 41,7 ± 4,4 hemoglobin (g/dL) 14,7 15,4 13,7 11,7 13,9 ± 1,6 RBC (x 106/mL) 15.43 16,64 11,1 9,9 13,3 ± 3,2 MCV (fL) 28 28 36,9 36,3 32,3 ± 5,0 MCH (pg) 9.5 9,3 12,3 11,8 10,7 ± 1,5 MCHC (g/dL) 34 33,1 33,4 32,5 33,3 ± 0,6 Sumber: (Salakij et al. 2007)
Hasil interpretasi penelitian tersebut menyatakan bahwa besarnya nilai parameter hematologi ( PCV, Hb, dan RBC ) dari luak betina lebih rendah dari pada parameter hematologi luak jantan.
2.4. Darah
Darah adalah cairan yang bersirkulasi dalam sistem kardiovaskular dan sangat penting untuk mengetahui kondisi kesehatan (Silverthorn 2006). Darah terdiri dari cairan darah atau plasma dan sel-sel darah atau benda-benda darah, yang menjadi suspensi satu sama lain. Benda-benda darah tersebut adalah eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), dan platelet yaitu sel yang tidak lengkap dalam bentuk fragmen-fragmen. Lebih dari 99% sel darah adalah eritrosit (Vander 2001). Sel darah merah menjadi kunci dalam membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida dari jaringan ke paru-paru. Platelet berperan dalam proses pembekuan darah, yaitu proses yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kehilangan darah karena rusaknya pembuluh darah. Sel darah putih berperan dalam proses pertahanan tubuh dan respon kekebalan terhadap agen infeksi seperti parasit, bakteri, dan virus. Hanya sel darah putih yang mampu keluar dari pembuluh darah ke jaringan terinfeksi untuk melakukan pertahanan tubuh (Silverthorn 2006).
Secara umum darah memiliki fungsi sebagai media transportasi nutrien, oksigen, sisa metabolisme, dan hormon. Fungsi darah yang lain adalah sebagai pengatur suhu tubuh, pengatur cairan, dan elektrolit serta berperan sebagai buffer (Frandson 1992). Volume total darah mamalia umumnya sekitar 7-8% dari berat badan, sedangkan plasma darah sekitar 50-65% dari total volume darah. Sel darah
merah matang pada mamalia tidak memiliki nukleus ketika beredar dalam pembuluh darah, tujuannya adalah untuk memperluas permukaan sehingga memperbesar volume oksigen yang diangkut (Brown dan Dellmann 1992).
2.4.1. Hematopoiesis
Hematopoiesis berasal dari kata haima yang berarti darah dan poiesis yang berarti pembentukan. Hematopoiesis adalah mekanisme sintesis sel darah yang dimulai dari awal perkembangan embrio hingga selama hewan hidup. Hematopoiesis terjadi pertama kali pada tiga minggu pertama pembentukan fetus. Pembentukan darah ini terjadi di kantong kuning telur embrio. Beberapa sel akan mengelompok menjadi sel endotel membentuk pembuluh darah, dan yang lain akan membentuk sel darah (Silverthorn 2006). Hematopoiesis pada masa embrio juga terjadi di hati, limpa, dan sumsum tulang (Vander 2001).
Salah satu proses hematopoiesis adalah pembentukan sel darah merah atau eritropoiesis. Pada hewan dewasa sel darah merah dibentuk dalam sumsum tulang. Sesuai fungsinya sumsum tulang dapat dibagi dalam beberapa kelompok sel yaitu kelompok sel induk pluripoten, kelompok sel induk unipoten dan sistem pengatur pertumbuhan yang menstimulasi proliferasi sel. Dalam sumsum tulang yang aktif memproduksi sel darah terdapat dua sistem yaitu sistem stroma sumsum tulang dan sinusoid. Sel yang berperan dalam hemopoiesis mengambil tempat pada stroma sumsum tulang dan hanya sel-sel yang sudah matang yang akan masuk ke dalam sinusoid lalu masuk kedalam aliran buluh darah. Pada prinsipnya sel-sel darah yang belum matang akan tetap berada di dalam stroma sumsum tulang, kecuali dalam keadaan sakit (Reksudiputro 1994).
Eritropoiesis adalah proses pembentukan sel darah merah. Proses eritropoiesis dimulai dengan pembelahan sel-sel multipoten menjadi sel-sel unipoten kemudian setiap sel unipoten akan menjadi satu sel darah merah. Pada proses eritropoesis ini sel-sel bermitosis dan berdiferensiasi secara bersamaan setelah memperoleh rangsangan dari eritropoetin (Reksudiputro 1994). Eritropoietin adalah hormon yang sebagian besar dihasilkan oleh ginjal dengan target organ utamanya adalah sumsum tulang. Eritropoietin dibentuk juga di hati pada masa janin sampai dengan neonatus oleh sel-sel intertisial jaringan kapiler peritubulus ginjal dan oleh hepatosit di hati hewan dewasa (Meyer et al. 1992).
Adanya eritropoetin pada sumsum tulang akan memicu terjadinya proliferasi sel unipoten dan terjadinya mitosis lebih lanjut dari sel pronormoblas, normoblas basofilik dan normoblas polikromatofil (Reksudiputro 1994). Sel pronormoblas merupakan sel termuda dalam sel eritrosit. Sel ini berinti bulat dengan beberapa anak inti dan kromatin yang halus. Sel pronormoblas memiliki inti berwarna biru kemerahan dan sitoplasmanya berwarna biru. Normoblas basofilik memiliki kromatin inti tampak kasar dan anak inti menghilang. Sitoplasmanya mengandung sedikit hemoglobin sehingga warna biru dari sitoplasma akan tampak menjadi sedikit kemerahan. Normoblas polikromatofil memiliki kromatin yang kasar dan menebal. Inti sel normoblas polikromatofil lebih kecil daripada inti sel dari normoblas basofilik, tetapi sitoplasmanya lebih banyak mengandung warna biru karena kandungan Asam ribonukleat (RNA) dan merah karena kandungan hemoglobin (Silverthorn 2006). Waktu yang dibutuhkan oleh pronormoblas untuk menjadi normoblas polikromatofil sekitar 2-4 hari. Hasilnya adalah sel darah merah muda yang inti selnya sudah mengalami piknotis dan sudah siap dikeluarkan dari sel. Sel darah merah termuda ini disebut retikulosit. Waktu yang dibutuhkan oleh retikulosit untuk berubah menjadi eritrosit sekitar 2-3 hari (Reksudiputro 1994). Eritropoiesis akan meningkat bila terjadi pendarahan yang mengakibatkan anemia dan atau hipoksia, dimana penurunan oksigen akan merangsang ginjal untuk melepaskan enzim eritrogenin yang akan mengaktifkan eritropoietinogen sebagai prekursor pembentukan eritropoietin. Produksi eritropoietin akan menurun ketika individu memperoleh transfusi darah (Ganong 2001).
2.4.2. Eritrosit atau Sel Darah Merah
Sel darah merah atau eritrosit berperan dalam sistem transportasi sel untuk mengantarkan nutrien dan oksigen. Sel darah merah memiliki bentuk bikonkaf dan berwarna kepucatan di daerah tengahnya. Bentuknya yang bikonkaf memungkinkan volume oksigen yang diangkut lebih banyak dalam setiap sel darah merah. Sel darah merah mamalia kehilangan inti selama proses pematangan yang berlangsung sebelum memasuki peredaran darah (Ganong 2001). Selain itu sel darah merah mamalia dewasa tidak memiliki mitokondria sebagai penghasil energi, oleh karena itu sebagai penggantinya sel darah merah mamalia memiliki
membran berbentuk kantong yang berisi enzime dan hemoglobin. Tidak adanya mitokondria ini menyebabkan sel darah merah tidak dapat melakukan metabolisme secara aerobik. Sel darah merah hanya mengandalkan glykolisis untuk memperoleh energi utama berupa ATP. Tanpa nukleus dan retikulum endoplasma sel darah merah tidak dapat memproduksi enzime baru atau memperbaiki komponen dari membrannya. Oleh sebab itu semakin tua umur sel