• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

B. Saran

Berikut saran yang dapat peneliti sampaikan berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti tentang strategi komunikasi program beasiswa Kader Surau YBM BRI dalam membentuk muslim intelek pada Kader Surau IPB:

1. Untuk program beasiswa Kader Surau YBM BRI

Agar tetap mempertahankan prinsip-prinsip dan inovasi yang telah dibangun dan dilaksanakan secara konsisten oleh program beasiswa Kader Surau YBM BRI dalam membentuk generasi-generasi muda yang berkarakter muslim intelektual dan mengupayakan untuk memperluas mitra dengan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia yang berpotensial menunjang kebermanfaatan yang dihasilkan melalui pelaksanaan program ini, khusunya perguruan tinggi dibawah Kementerian Agama RI.

2. Untuk Kader Surau IPB

Agar senantiasa istiqomah mengaplikasikan dan menerapkan nilai-nilai yang didapat dari seluruh pelaksanaan pembinaan yang telah diikuti kedalam kehidupan sehari-hari, menjadi individu yang bermanfaat bagi agama, masyarakat, bangsa, dan negaranya, serta membawa nama baik Kader Surau YBM BRI.

3. Untuk Akademisi

Bahwasannya penelitian terkait strategi komunikasi hampir banyak dilakukan, khususnya oleh Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta, oleh karena itu peneliti berharap untuk peneliti selanjutnya, penelitian terhadap pelaksanaan strategi komunikasi sebagai pendukung tercapainya suatu tujuan, dapat dilakukan lebih mendalam untuk memperluas dan memperkaya khazanah perihal pengetahuan strategi komunikasi.

117

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Al-Hasyimi, Muhammad Ali. 2009. Be Smart Muslim : Menjalani Hidup dengan Cahaya Al-Qur‟an. Jakarta: Ummah Publishing.

Al-Hasyimi, Muhammad Ali. 2011. Membentuk Pribadi Muslim Ideal : Menurut Al-Qur‟an dan As-Sunnah. Jakarta: al-I‟thisom.

Anshari, Endang Saifuddin. 2004. Wawasan Islam : Pokok-Pokok Pikiran Tentang Paradigma dan Sistem Islam. Jakarta: Gema Insani Press.

Arbi, Armawati. 2012. Psikologi Komunikasi dan Tabligh. Jakarta:

Amzah.

Arifin, Anwar. 1994. Strategi Komunikasi : Sebuah Pengantar Ringkas.

Bandung: CV Armico.

Arni, Muhammad. 2004. Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara.

Badan Pusat Statistik. Statistik Pemuda Indonesia 2018. Katalog 4103- 008.

Bagus, Loren. 2005. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia.

Cangara, Hafied. 2013. Perencanaan dan Strategi Komunikasi. Depok:

PT Rajagrafindo Persada.

Departemen Pendidikan Nasional. 2011. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Dewanata, Pandu, dan Chavchay Syaifullah. 2008. Rekonstruksi Pemu- da. Jakarta: Kemenpora RI.

Djuarsa, Sasa, dkk. 2005. Pengantar Komunikasi. Jakarta: Universitas Indonesia.

Effendy, Onong Uchjana. 2003. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi.

Bandung: PT Citra Aditya Bakti.

Effendy, Onong Uchjana. 2004. Dinamika Komunikasi. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Emzir. 2012. Analisis Data : Metodologi Penelitian Kualitatif . Jakarta:

Rajawali Press.

Gafur, Abdul, dkk. 2008. Cara Mudah Mendapatkan Beasiswa. Depok:

Penebar Plus.

Gregory, Anna. 2004. Perencanaan dan Manajemen Kampanye Public Relations. Jakarta: Erlangga.

Hamel, Gary, dan CK Prahalad. 1995. Management. New Delhi: Tata McGraw Hill.

Hikmat, Mahi M. 2011. Metode Penelitian Dalam Perspektif Ilmu Komunikasi dan Sastra. Yogyakarta: Graha Ilmu.

KEMENPORA. 2009. Meningkatkan Kompetensi dan Daya Saing Pemuda dalam Menghadapi Krisis Global. Jakarta.

Komarudin. 1994. Ensiklopedia Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara.

Kriyantono, Rachmat. 2007. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta:

Kencana.

Kurniawan, Syamsul. 2016. Pendidikan Karakter : Konsepsi dan Implementasinya Secara Terpadu di Lingkungan Keluarga, Sekolah, Perguruan Tinggi, dan Masyarakat. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Liliweri, Alo. 2011. Komunikasi Serba Ada Serba Makna. Jakarta:

Prenada Media Group.

Martha, Evi, dan Sudarti Kresno. 2017. Metodologi Penelitian Kualitatif Untuk Bidang Kesehatan. Depok : Rajawali Pers.

119

Masdiana, Erlangga, dkk. 2008. Peran Generasi Muda dalam Ketahana Nasional. Jakarta: Asisten Deputi Pendidikan Pemuda Kepemudaan KEMENPORA.

Maududi, Abul A‟la. 1994. Pemuda Islam di Persimpangan Jalan. Solo : CV Pustaka Mantiq.

Mulyasa, E. 2013. Manajemen Pendiidkan Karakter. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Murniasih, Erny. 2008. Winning a Scholarship. Jakarta: Gagas Media.

Muslich, Masnur. 2018. Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: Bumi Aksara.

Nata, Abuddin. 2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Prenada Media Group.

Nata, Abuddin. 2012. Sejarah Sosial Intelektual Islam dan Institusi Pendidikannya. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada.

Nata, Abuddin. 2015. Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia. Depok: PT Rajagrafindo Persada.

Noor, Juliansyah. 2011. Metodologi Penelitian : Skripsi, tesis, disertasi dan karya ilmiah. Jakarta: Kencana.

Pusat Bahasa Depatemen Pendidikan Nasional RI. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Rahardjo, Dawam. 1983. Intelektual Intelegensi dan Perilaku Politik Bangsa, Risalah Cendikiawan Muslim. Bandung: Mizan.

Roudhonah. 2019. Ilmu Komunikasi. Depok: Rajawali Press.

Ruslan, Rosady. 2007. Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Rustanto, Bambang. 2015. Penelitian Kualitatif Pekerjaan Sosial.

Bandung: PT remaja Rosdakarya.

Sardar, Ziauddin. 2000. Merombak Pola Pikir Intelektual Muslim.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Shadily, Hasan. 1982. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Sudaryono. 2018. Metodologi Penelitian. Depok : Rajawali Pers.

Sugiono. 2007. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Tasmara, Toto. 2002. Membudyakan Etos Kerja Islami. Jakarta : Gema Insani Press.

Tahir, Muh. 2011. Pengantar Metodologi Penelitian Pendidikan. Maka- sar: Universitas Muhammadiyah Makassar.

Jurnal

Adam, “Peranan Intelektual Muslim dalam Masyarakat” Jurnal Ilmu Dakwah dan Komunikasi vol. 8, no.2 (2012).

Muhammad Nasir, “Mahasiswa Islam dalam Perspektif Pendidikan Global” Jurnal vol. 12 no.1 (2012).

Maryanisngsih, dkk, “Metode Logika Fuzzy Tsukamoto Dalam Sistem Pengambilan Keputusan Penerimaan Beasiswa” Jurnal vol. 9 No. 1 (2013).

Dwi Mustika K, dkk, “Sistem Informasi Mnajemen Rantai Pasok Pari- wisata Untuk Pembuatan Produk Wisata Pada Agen Tour&

Travel dengan Analisis Swot dan Metode Analytic Network Process (ANP)” Jurnal Sistem Informasi Bisnis vol. 6 no. 2 (2016).

Devi Lastina, dkk, “Peningkatan Produktivitas Pemasaran UMKM Cate Ring Mpok Atiek dengan pendekatan Business Model Canvas dan Analisis SWOT” Jurnal Dinamika Teknik vol. 12 no. 2 (2019)

121 Karya Tulis Ilmiah

Aprilia Lianjani. “Strategi Komunikasi Pemerintah Kota Tanggerang Selatan Dalam Mensosialisasikan Program Smart City”.

Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Komunikasi Penyiaran Islam.2018.

Adil Asasyahid Muhammad. “Strategi Komunikasi Guru Dalam Pembentukan Karakter Islami Murid Paud Smart Raudhoh Jakarta Pusat”. Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Komunikasi Penyiaran Islam.2018.

Wawancara

Hasil wawancara dengan Irfanul Arifin selaku PIC (Person in Charge) Program Beasiswa Kader Surau YBM BRI

Hasil wawancara dengan Alias Zulkipli selaku Mudarris Kader Surau IPB angkatan 2 dan 4

Hasil wawancara dengan Rizal Eko Kurniawan selaku Mudarris Kader Surau IPB Putra angkatan 3

Hasil wawancara dengan Fajriyah Nidaa‟ul H selaku Mudarrisah Kader Surau IPB Putri angkatan 3

Hasil wawancara dengan Nana Supriatna selaku Lurah Asrama Kader Surau IPB angkatan 2

Hasil wawancara dengan Nasrudin selaku Lurah Asrama Kader Surau IPB Putra Angkatan 3

Hasil wawancara dengan Defika selaku Lurah Asrama Kader Surau IPB Putri Angkatan 3

Hasil wawancara dengan Fadmiar Nibras Assilmi selaku Lurah Asrama Kader Surau IPB angkatan 4

Website

https://pddikti.ristekdikti.go.id/asset/data/publikasi/Statistik%20Pendidi kan%20Tinggi%20Indonesia%202018.pdf diakses pada 8 Janu- ri pukul 08.00 WIB.

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/07/25/inilah-universita s-terbaik-di-indonesia-versi-qs-world-university-ranking diaks- es pada 7 Januari pukul 21.12 WIB.

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/06/19/ipb-university-dala m-qs-world-university-ranking-naik-100-tingkat diakses pada 7 Januari pukul 21.12 WIB.

https://infografis.ipb.ac.id/index.php/jumlah-mahasiswa-ipb-university- 2011-2019/ diakses pada 7 Januari pukul 21.20 WIB.

https://infografis.ipb.ac.id/index.php/ipb-university-top-100-kampus-ter baik-versi-qs-world-university-ranking/ diakses pada 2 Februa- ri 2020 pukul 19.00 WIB.

https://tafsirq.com/3-ali-imran/ayat-110 diakses pada 10 Oktober pukul 24.00 WIB.

https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/RkjzVV3kkelom pok-islam-eksklusif-cari-mangsa-mahasiswa-baru diakses pada 3 Februari pukul 19.00 WIB.

https://www.mediaoposisi.com/2019/07/upaya-mengokohkan-sekuleris me-di-kampus.html oleh Westi Annita Sari diakses pada 3 Februari pukul 20.00 WIB.

123

https://ybmbri.org/sejarah/ diakses pada tanggal 14 Oktober 2019 pukul 23.15 WIB.

https://ybmbri.org/beasiswa-kader-surau/ diakses pada tanggal 15 Oktober 2019 pukul 11.30 WIB.

https://ybmbri.org/ profile-ybm-bri / diakses pada tanggal 1 Februari 2019 pukul 15.00 WIB.

https://ybmbri.org/ filosofi-logo / diakses pada tanggal 1 Februari 2019 pukul 15.00 WIB.

http://kemahasiswaan.unej.ac.id/wp-content/uploads/2018/03/beasiswa- kader-surau16 1.pdf diakses pada 15 Oktober 2019 Pukul 11.15 WIB.

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/07/25/inilah-universita s-terbaik-di-indonesia-versi-qs-world-university-ranking diaks- es pada 2 Februari 2020 pukul 19.00 WIB.

http://www.Ikhwan.Net diakses pada 4 Maret 2016 pukul 09.00 WIB.

LAMPIRAN

Hasil Wawancara 1

Narasumber : Irfanul Arifin

Pekerjaan : PIC Program Beasiswa Kader Surau YBM BRI

Waktu : Kamis, 6 Februari 2020 Tempat : Kantor pusat YBM BRI

Gedung Olah raga BRI lt.2, Jl. Jenderal Sudirman Kav. 44-46 Jakarta Pusat

1. Bagaimana latar belakang terbentuknya program beasiswa Kader Surau?

Kalau YBM ini kan mengalami periode zakat ya, periode zakat itu kan ada peruntukannya sendiri ya, kedelapan ashnaf itu salah satunya kan fakir miskin gitu ya, nah tantangan terbesar orang miskin itu kan masalah aksessabilitas, kesulitan untuk mengakses kesehatan kesulitan untuk mengakses pendidikan, kesulitan untuk mengakses bantuan, karena kemiskinan yang terjadi itu kan kompleks ya penyebabnya. Nah diantara dari faktor utama kemiskinan itu karena lemahnya kompetensi, atau daya saing si orang atau mustahiknya ini, atau ketidakberdayaan dia untuk bisa kompetisi dengan orang-orang disekitarnya untuk bisa mendapatkan sebuah pekerjaan yang layak, sehingga faktor kompetensi ini menjadi sangat penting bagi mustahik ini untuk bisa mendapatkan sebuah akses pekerjaan yang lebih baik. Nah kompetensi itu kan kaitannya erat dengan pendidikan ya, pendidikan dengan pelatihan keterampilan dan lain sebagainya, dan kita melihat bahwa ada rantai yang terus beputar di roda kehidupan orang-orang miskin ini, jika bapaknya miskin

kemudian tidak bisa menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi, akhirnya anaknya cuma mentok di SMP, itu yang paling tinggi SMA lah, gitu. Tapi kalo kita lebih kepelosok lagi, bisa lebih bahkan cuman sampe di SD aja, gitu. Nah karena anaknya juga pada level pendidikan yang rendah, maka otomatis pekerjaannya rata-rata gajauh berbeda dengan orang tuanya saat itu, akhirnya serabutan lagi dan kemudian punya penghasilan sekian, dan nanti anaknya susah lagi untuk mendapatkan akses pendidikan. Dan itu berputar terus, begitu. Nah ini harus ada yang mematahkan itu. Sehingga orang yang dalam kategori tidak mampu untuk bisa mengakses pendidikan yang layak itu, kita harus bantu dia untuk berdaya, jadi menyetarakan dia. Jadi orang itu punya hak atas persamaan, persamaan untuk mengakses pendidikan yang bagus, tapi bagaimana dia bisa mendapat akses pendidikan yang bagus, untuk bisa mendapatkan itu harus berbayar, harus berbiaya. Meskipun pendidikan itu gratis, maksudnya di Jakarta, meskipun di beberapa daerah itu masih pada kategori level tertentu tapi ya, tapi kan ada biaya-biaya lain yang itu tidak bisa tergantikan, ada ongkos yang harus dikeluarkan, ada biaya untuk beli buku, ada biaya beli seragam dan sebagainya, uang jajan, nah itu kan harus keluar ada biaya-biaya kayak gitu ya, tidak bisa dikontrol oleh keluarga. Nah kita perlu mendorong pemahaman ini setara dulu gitu, dengan orang-orang yang mampu, orang-orang yang tidak mampu ini kita dorong supaya setara dengan orang-orang yang mampu, baru kemudian dia bisa bersaing, di level start yang sama. Jadi kalau misalnya disuruh lomba lari, nih kan ada orang miskin levelnya tinggal start gitu, yang orang-orang

menengah keatas itu udah siap jadi digaris startnya, sementara orang-orang ini belum sampai pada level titik startnya, dia dibarisan yang paling belakang, dianya udah jalan, dia baru melewati garis start, yang lain udah mau finish. Sehingga jauh, makanya kita dorong mereka, diberikan akses sebuah beasiswa untuk bisa mengakses pendidikan itu secara sama, setara dengan orang-orang yang duluan itu. Nah ketika mereka sudah mampu, sudah punya kesetaraan dalam akses pendidikan disitulah mereka akan bersaing. Jadi dibangun kompetensinya untuk mereka bisa bersaing dengan yang lainnya, begitu. Ketika dia bisa mendapatkan sebuah pendidikan, otomatis ada harapan yang lebih besar ketika nantinya dia lulus, atau dia punya keterampilan dia bisa mendapatkan sebuah pekerjaan dengan pendapatan yang lebih layak. Biar bisa lebih manusiawi. Jadi bisa merubah taraf hidupnya. Singkatnya dengan pendidikan dia bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, dengan harapan pekerjaan yang lebih baik itu, dia punya penghidupan yang lebih baik, sehingga bisa mensejahterakan keluarganya, mensejahterakan keturunannya, dan keturunannya bisa lebih baik lagi. Disitu sampai dititik pada bagaimana seseorang ini bisa sampai pada titik kesetaraan dan dia bisa menghidupi dirinya sendiri. Tapi kita pengennya gacuman berhenti pada yang bersangkutan, atau pada keluarga yang bersangkutan, tapi pengen dorong bahwa kebermanfaatan dia bukan untuk dirinya dan keluarganya aja, tapi bisa juga bermanfaat untuk yang lebih luas lagi, baik masyarakat atau bahkan ditingkat internasional, negara dan bangsanya. Jadi orang yang kita berikan beasiswa ini kita dorong juga tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri tapi

juga bermanfaat untuk nusa dan bangsa. Nah itulah kemudian muncul ada beasiswa Kader Surau, jadi bukan hanya sekedar memberikan beasiswa bulanan, kalau beasiswa bulanan itu kan cuma untuk membantu dia supaya bisa kuliah gitu ya, supaya bisa kuliah, nah kalau udah kuliah yaudah, yang penting kuliah gitu, nah itu tanggung jawab sekolahnya tanggung jawab perguruan tingginya. Tapi kalau beasiswa Kader Surau, setelah dia bisa kuliah setelah itu apalagi, berarti kan harus dipersiapkan kompetensi yang lain supaya dia bisa menjadi pemimpin-pemimpinnya, yang bisa merubah nasib negaranya.

Penanaman-penanaman nilai itu juga kita tanamkan ketika mereka dibina di Kader Surau, untuk ditumbuhkan sifat nasionalismenya, dikuatkan karakter keislamannya, terus juga diperkuat hubungan sosial-kemasyarakatannya, supaya kompetensi dia punya kekuatan untuk mempengaruhu kebijakan nasional, kompetensi dia juga bisa untuk menyokong eksistensi agamanya, kompetensi dia juga bisa untuk mengeratkan sosial masyarakat disekitarnya. Jadi bukan hanya sekedar dia kerja terus punya penghasilan dan sejahtera, tidak berhenti disitu, tapi apa yang dia lakukan ketika dia sudah berdaya, dia harus menjadi energi buat yang lain. Jadi energi untuk keluarganya, jadi energi untuk masyarakatnya, jadi energi untuk negaranya, karena dia sudah berdaya, ketika sudah kita beri daya, dia harus memberikan daya juga kepada yang lain dengan lebih besar, kita cuma memantik aja. Kita kasih kesempatan dia untuk mengakses sebuah pendidikan, kita beri dia kesempatan untuk mendapatkan sebuah penanaman nilai-nilai, begitu, setelah dia

sudah berdaya, dia wajib menyebarkan dayanya itu kepada yang lain.

2. Sebelumnya program beasiswa Kader Surau ini hanya terbuka untuk laki-laki, namun sekarang terbuka juga untuk perempuan, bagaimana bapak melihat ini apakah sebagai tuntutan kesetaraan?

Itu kebutuhan ya, kita melihat memang kebutuhan bahwa ada sebuah peran-peran yang itu nantinya tidak bisa hanya dipikul oleh laki-laki saja, ada peran-peran lain yang itu menjadi porsinya kaum perempuan. Memang ketika awalnya itu kita justru bukan memikirnya pada aspek laki-laki atau perempuanya, kita pasti memikirnya bahwa saat itu kita masih baru memulai dan kami berfikir tadi tuh lebih mudah untuk mengelola yang laki-laki dulu, jadi lebih pada aspek itu. Karena kalau kami memandangnya secara global, kami ga pernah membedakan antara laki-laki dan perempuan, karena kita melihat bahwa laki-laki dan perempuan punya perannya masing-masing. Bahkan kita berharap bisa lebih banyak lagi nanti Kader Surau perempuan, karena kan kalau dari jumlah aja kan harusnya banyakan perempuan yah, artinya kalau secara jumlah harusnya Kader Surau pasti banyakan perempuan. Tapi melihat kebutuhan dan kesiapan kita memang saat awal mulanya bikin program itu, lebih mudah untuk mengelola yang laki-laki dulu. Sampe kita kemudian punya kesiapan, baik secara finansial maupun secara sumberdaya manusianya, baru kita memulai ada yang perempuan, gitu. Tapi memang secara prinsip pengelolaannya sama, kurikulumnya sama, targetnya sama, haya mungkin pendalamannya yang berbeda. Kalo

laki-laki mungkin pendalamannya untuk bisa kuat nanti di leadership, di masyarakat menjadi tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh dikampus, dilevel ketua-ketua lembaga misalnya, tapi kalau yang perempuan kita lebih pada supaya dia bisa mengangkat dimasyarakat.

3. Saat ini Kader Surau telah bermitra dengan 18 perguruan tinggi negeri di Indonesia, lalu berapa jumlah asrama yang tersedia dan apakah asrama perempuan dan laki-laki terpisah?

Kalau kampusnya sekarang ada 20, dan itungannya bukan satu kampus satu asrama, tapi satu kampus ada yang dua asrama tiga asrama, karena satu asrama itu kita batasi hanya 12 orang maksimal, jadinya kalau ada 48 penerima beasiswa Kader Surau di kampus itu, berarti ada 4 asrama. Kalo hanya 36 berarti 3 asrama, kalau hanya 24 berarti 2 asrama, yang pasti kan laki-laki perempuan kita pisah. Artinya kalau ada 24 laki-laki-laki-laki dan 24 perempuan maka paling tidak ada 2 asrama putra ada dua asrama putri, lokasi pasti berdekatan dengan kampus, karena kan supaya memudahkan akses mereka ke kampus ya, kita juga pengen bahwa lokasi asramanya itu juga di tengah-tengah masyarakat, bukan di komplek perumahan, ya dirumah biasa aja gitu, bukan digedung yang tinggi begitu, bukan, atau model kos-kosan gitu, bukan, tapi rumah biasa, itu rumahnya juga dempetan sama warga-warga, sama masyarakat sekitar, karena biar mereka belajar bertetangga, belajar bersosialisasi, ikut-ikutan kegiatan masyarakat yang ada disekitarnya, mulai ikut terlibat dalam event-event perayaan hari besar agama di lingkungan masyarakatnya, supaya setelah mereka selesai kuliah, mereka pulang ke rumah, nah disitulah mereka belajar

bermasyarakat, kan kalo kosan ngga gitu ya, kalo anak kos-kosan kan udah kadang pulangnya malem, terus disitu dia ngga berinteraksi sama masyarakat, ke luar pun paling cuman buat jajan doang. Kalo ini engga, kita bikin program diasramanya, programnya ada rumah belajar, ada program taman pendidikan Qur‟an, bahkan ada program pemberdayaan ekonomi buat masyarakat yang kurang mampu disekitar asrama, jadinya asrama mereka penuh dengan aktivitas-aktivitas kemasyarakatan, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa ada.

4. Untuk asrama tersebut dijadikan sebagai tempat aktivitas RLU (Rumah Layanan Umat), itu yang melaksanakan apakah anggota kader surau ditahun pertama atau tahun kedua?

Kan mereka asramanya masing-masing, setiap asrama itu harus punya program. Jadi bukan angkatan satu angkatan dua, jadi ketika mereka masuk asrama ya mereka harus bikin program untuk asrama itu.

5. Untuk satu asrama hanya memilik satu mudarris (pendamping) saja, apakah memungkinkan untuk satu mudarris untuk memegang anggota-anggota kader surau di satu asrama tersebut? Lalu untuk pemilihan mudarris apakah dari staff YBM atau ada rekrutmen? Kriterianya apa saja?

Sangat memungkinkan, kan hanya jumlah kecil 12 orang itu.

Nggak susahlah menghafal 12 nama itu ya, kita punya temen kadang-kadang puluhan gitu ya, tapi kita bisa kenal karakter teman sekelas kita, misalnya gini temen yang puluhan aja kita bisa kenal satu persatu, apalagi cuma 12, apalagi tiap hari tidur bareng, tinggal dirumah bareng, makan bareng, dan sebagainya.

Artinya mengenal dan mengelola 12 orang itu ga terlalu sulit, yang sulit adalah bagaimana bisa beradaptasi terhadap kelebihan dan kekurangan satu sama lain, pasti kan ada punya kelebihan dan kekurangan, ada rasa nyaman dan tidak nyaman, dan sebagainya. Bagaimana bisa mengatasi hambatan itu aja sebenarnya. Kalo terkait dengan jumlah, jumlah yang paling ideal saat ini, ibaratnya tidak terlalu banyak juga tidak terlalu sedikit, begitu. Ya masih memungkinkan lah 12 itu untuk mereka bisa berinteraksi. Jadi mereka berpasang-pasangan pun, dua orang dua orang jadi kan cuman enam. Ketika mereka berasrama, asrama itu adalah rumah bagi mereka untuk bersosialisasi dan bermanfaat untuk masyarakat. Untuk Mudarris kita rekrutmen, rekrutmen kemitraan, jadi kita rekrutmen SDM dari luar, siapa yang tertarik untuk ikut menjadi pembina di asrama, ada kriteria khusus, mereka melamar, ada seleksi juga, ada wawancara, pun juga ada perjanjian kemitraannya juga, jadi seperti rekrutmen pada umumnya.

6. Apakah ada ketua di setiap angkatan Kader Surau?

Ketuanya per asrama aja, jadi setiap asrama punya ketuanya sendiri, punya struktur sendiri mereka di asrama itu. Kita nyebutnya lurah, lurah asrama. Cuman kalau untuk di level nasional, ketua angkatan kita ngga pake itu. Jadi supaya mereka masing-masing bisa fokus aja berkontribusi untuk asramanya.

7. Untuk perekrutan Kader Surau, setelah keterima ada kegiatan orientasi Sarasehan nasional ya pak, seperti apa bentuk kegiatannya?

Jadi mereka semua dari berbagai PTN dikumpulin dalam satu wilayah, tempatnya ngga mesti dipusat tapi kita cari ditempat

yang lain, yang penting dikumpulkan disatu tempat, kita bikin

yang lain, yang penting dikumpulkan disatu tempat, kita bikin

Dokumen terkait