• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

6.2 Saran

6.2.1 Diharapkan kepada Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru (BP4) Lubuk Alung melakukan pemberian informasi lebih intensif kepada semua penderita TB paru pada umumnya agar terhindar dari kekambuhan dan

gagal konversi selama pengobatan dan mematuhi aturan minum obat secara tuntas, dan pada khususnya penderita TB paru kategori 2 karena penderita tersebut akan menjalani pengobatan yang lebih lama dan membutuhkan biaya yang lebih banyak, dan lebih berisiko menjadi resistensi obat tuberkulosis (TB-MDR).

6.2.2 Diharapkan peneliti lain untuk pengembangan kajian yang lebih mendalam tentang TB paru kategori 2, dengan jumlah lebih besar dan kajian penyebab pengobatan ulang yang harus dilakukan oleh penderita.

6.2.3 Diharapkan penderita TB paru untuk teratur mengonsumsi obat agar pengobatan lengkap dapat diselesaikan sehingga tidak terjadi kekambuhan, gagal konversi hingga resistensi obat TB (TB-MDR), serta menjaga daya tahan tubuh dengan menjaga pola hidup sehat.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi TB Paru Kategori 2

Tuberkulosis Paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri aerob, Mycobacterium tuberculosis yang dapat hidup di organ yang nempunyai tekanan parsialoksigen yang tinggi terutama di paru-paru (Rab, T., 2010). Tuberkulosis paru merupakan penyakit yang menyerang saluran pernapasan bagian bawah (Alsagaff, dkk, 2005). Perkembangan penyakit ini tergantung pada daya tahan tubuh dan virulensi bakteri Mycobacterium tuberculosis sebagai penyebab utama, dan pada beberapa kasus dapat ditemukan bakteri yang bersifat

dormant yang dapat aktif apabila penderita mengalami penurunan daya tahan

tubuh, kekurangan gizi, penyakit infeksi, dan faktor usia yang menua (Crofton, dkk, 2002). Tuberkulosis kategori 2 adalah penderita TB paru yang sebelumnya pernah menjalani pengobatan karena penyebab yang berbeda harus melakukan pengobatan ulang, yang dibagi menjadi kasus kambuh, kasus gagal, dan kasus putus obat (Aditama, TY., 2002).

2.2 Etiologi

Penyebab tuberkulosis adalah Mycobacterium tuberculosis yang mempunyai ukuran panjang 0,5-4 mikron dan lebar 0,3-0,6 mikron dengan bentuk batang tipis, kurus, dan agak bengkok, bergranular atau tidak mempunyai selubung, tetapi mempunyai lapisan luar yang tebal. Bakteri tuberkulosis akan mati dengan pemanasan C selama 5-10 menit atau C selama 30 menit. Bakteri juga dapat mati dengan alkohol 70-95% selama 15-30 detik (Widoyono, 2008). Bakteri tuberkulosis dapat tumbuh optimal pada suhu C dengan tingkat

pH optimal berkisar 6,4-7 (Aditama, TY, 2002). Dinding bakteri terdiri dari asam lemak (lipid), peptidoglikan, dan arabinomannam. Lipid inilah yang membuat bakteri lebih tahan terhadap asam sehingga disebut bakteri tahan asam (BTA) dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisis (Suyono, S., 2001).

2.3 Patogenesis

2.3.1 Tuberkulosis Primer

Penyakit tuberkulosis ditularkan melalui batuk atau bersin oleh penderita menjadi droplet nuclei dalam udara. Partikel infeksi dapat bertahan dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung pada ada atau tidaknya sinar matahari dalam hal ini sinar ultraviolet, ventilasi yang baik dan kelembaban ruangan. Dalam suasana yang lembab dan gelap, bakteri tuberkulosis dapat bertahan berhari-hari sampai berbulan-bulan (Sudoyono A., dkk, 2010).

Bakteri tuberkulosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang di jaringan paru sehingga akan membentuk sarang pneumoni yang disebut sarang primer atau afek primer. Sarang primer akan terbentuk di bagian mana saja yang ada di dalam paru (PDPI, 2006). Dari sarang primer akan timbul peradangan getah bening menuju hilus (limfangitis lokal), dan juga diikuti pembesaran kelenjar getah bening hilus (limfadenifitis regional). Sarang primer bersama-sama dengan limfangitis lokal dan limfadenitis regional dikenal dengan kompleks primer. Kompleks primer selanjutnya akan menjadi salah satu dari:

1. Penderita akan sembuh dengan tidak meninggalkan cacat (restirution ad integrum)

3. Menyebar dengan cara:

a. Perkontinuitatum ke jaringan sekitarnya

Sebagai contoh adalah pembesaran kelenjar limfe di hilus, sehingga menyebabkan penekanan bronkus lobus medius, berakibat atelektasis. Bakteri akan menjalar sepanjang bronkus yang tersumbat menuju lobus yang atelektasis, menimbulkan peradangan pada lobus yang atelektasis, hal ini disebut sebagai epituberkulosis. Pembesaran kelenjar limfe di leher, dapat menjadi abses yang disebut scrofuloderma. Penyebaran ke pleura menyebabkan efusi pleura.

b. Penyebaran bronkogen ke paru bersangkutan atau paru sebelahnya, atau tertelan bersama dahak sehingga terjadi penyebaran di usus.

c. Penyebaran secara hematogen dan lomfogen ke organ lain seperti tuberkulosis milier, meningitis, tulang, ginjal, dan genetalia (Wibisono, MJ., dkk, 2010)

2.3.2 Tuberkulosis Postprimer

Tuberkulosis postprimer terjadi karena bakteri yang dormant pada tuberkulosis primer muncul setelah bertahun-tahun setelahnya sebagai infeksi endogen. Tuberkulosis ini muncul kembali disebabkan oleh imunitas menurun karena malnutrisi, alkohol, penyakit malagna, diabetes, AIDS, gagal ginjal. Tuberkolusis postprimer dimulai dengan sarang dini, yang umumnya terletak di segmen apikal lobus superior maupun lobus inferior menginvasi daerah parenkim paru-paru. TB postprimer juga dapat berasal dari infeksi eksogen dari usia muda

menjadi TB usia tua, yang bergantung pada jumlah bakteri, virulensi dan imunitas seseorang. Secara keseluruhan akan terdapat 3 macam sarang yakni:

1. Sarang yang sudah sembuh yang tidak memerlukan pengobatan lagi 2. Sarang aktif eksudatif butuh pengobatan yang lengkap dan sempurna. 3. Sarang yang berada antara aktif dan sembuh yang dapat sembuh

spontan tetapi dapat berkemungkinan terjadinya eksaserbi kembali, seharusnya diberikan pengobatan yang sempurna (Sudoyono, A., dkk, 2010).

2.4 Diagnosis

Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinik, pemeriksaan jasmani, pemeriksaan bakteriologik, radiologik, dan pemeriksaan penunjang lainnya seperti analisis cairan pleura, pemeriksaan histopatologi jaringan, pemeriksaan darah, uji tuberkulin (PDPI, 2006).

2.4.1 Gejala Klinis

Gejala klinis tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu gejala lokal (apabila organ yang terkena adalah paru maka gejala lokalnya adalah gejala respiratorik) dan gejala sistemik.

a. Gejala Respiratorik 1. Batuk

Batuk merupakan gejala yang paling banyak ditemukan dan yang paling dini dikeluhkan. Batuk baru timbul apabila proses penyakit telah melibatkan bronkus. Batuk mula-mula terjadi oleh karena iritasi bronkus, selanjutnya akibat adanya peradangan pada bronkus batuk akan menjadi produktif. Batuk produktif ini berguna untuk membuang produk ekskresi

peradangan. Dahak dapat bersifat mukoid atau purulen. Batuk yang

dicurigai sebagai tuberkulosis adalah batuk yang berlangsung selama ≥ 2

minggu.

2. Batuk darah

Batuk darah terjadi karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Berat ringannya batuk darah yang timbul, tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang pecah. Batuk darah tidak selalu timbul akibat pecahnya aneurisma pada dinding kavitas, juga dapat terjadi akibat ulserasi pada mukosa bronkus. Batuk darah inilah yang paling sering membawa penderita untuk berobat ke dokter.

3. Sesak napas

Sesak napas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut dengan kerusakan paru yang cukup luas. Pada awal penyakit gejala ini tidak pernah didapat

4. Nyeri dada

Gajala ini timbul apabila sistem persarafan yang terdapat di pleura terkena, gejala ini bersifat lokal atau pleuritik.

b. Gejala Sistemik

1. Demam

Demam merupakan gejala pertama dari tuberkulosis paru, biasanya timbul pada sore dan malam hari disertai keringat mirip dengan demam influenza yang segera mereda. Demam dapat mencapai suhu tinggi yaitu

2. Malaise

Karena tuberkulosis bersifat radang menahun maka dapat terjadi rasa tidak enak badan, pegal-pegal, nafsu makan berkurang, badan semakin kurus, sakit kepala, mudah lelah, dan pada wanita kadang-kadang dapat terjadi gangguan siklus menstruasi (Yunus, F., dkk, 1992).

2.4.2 Pemeriksaan Jasmani

Pemeriksaan jasmani pada tuberkulosis paru terdapat kelainan anatomis yang terletak pada lobuli yang meliputi alveoli dan beberapa bronkiolus terminalis (Alsagaff, dkk, 2005). Pada stadium awal penemuan yang utama adalah ronki basah halus waktu inspirasi dalam yang diikuti dengan ekspirasi dalam, terdengar di daerah lesi. Pada stadium yang lebih lanjut karena proses menjalar pelan-pelan dan menahun, maka penderita akan datang dengan keadaan yang sudah lanjut dan kelainan fisik yang mudah diketahui, berupa:

a. Kelainan pleura yaitu konsolidasi, fibrosis, atelektasis, dan/atau kerusakan parenkim dengan sisa suatu kavitas.

b. Kelainan saluran pernapasan (berupa radang dari mukosa disertai dengan penyempitan maupun penimbunan sekret).

c. Kelainan pleura (oleh karena proses terletak dekat pleura, maka hampir selalu terjadi reaksi pleura berupa penebalan atau nyeri pleura).

Kelainan-kelainan tersebut akan menimbulkan tanda-tanda fisik sebagai berikut:

a. Perubahan volume paru

Konsolidasi pada parenkim tidak mengubah volume paru. Fibrosis, atelektasis dan kavitas memperkecil volume jaringan paru yang terkena sehingga menarik jaringan sekitar.

b. Perubahan pergerakan pernapasan

Daerah yang terkena penyakit akan berkurang gerakannya. c. Perubahan penghantaran getaran suara

Konsolidasi dan fibrosis pada parenkim paru dengan saluran pernapasan yang masih terbuka akan meningkatkan penghantaran getaran suara sehingga fremitus suara meningkat. Suara napas menjadi bronko-vesikuler atau bronkial, didapatkan bronkofoni atau suara bisik yang disebut

whispered pectoriloque ( Alsagaff, dkk, 2005).

2.4.3 Pemeriksaan Bakteriologik

Bahan untuk pemeriksaan bakteriologik dapat berupa dahak, cairan pleura,

liquor cerebrospinal bilasan bronkus, bilasan lambung, kurasan bronkoalveolar,

urin, faeces, dan jaringan biopsi. Pemeriksaan dahak atau sputum adalah penting karena dapat menemukan bakteri tahan asam (BTA) yang merupakan diagnosis pasti dalam penegakan diagnosa tuberkulosis dan juga dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang sudah diberikan selain pemeriksaan dahak yang mudah dan murah untuk dilakukan di pelayan kesehatan primer seperti puskesmas (PDPI,

2006, Sudoyono A., dkk, 2010). Metode pemeriksaan dahak adalah dengan mengumpulkan dahak sebanyak 3 kali (SPS), yaitu:

1. S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. Pada saat pulang, suspek membawa pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua.

2. P (pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di unit pelayanan kesehatan.

3. S (sewaktu): dahak dikumpulkan di Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) pada hari kedua, saat menyerahkan dahak pagi (Depkes RI, 2006).

Pemeriksaan dahak membutuhkan ±5 mL dahak dan menggunakan pewarnaan seperti dengan metode Ziehl Neelseen (NZ) atau pewarnaan Kinyoun- Gabbet (Widoyono, 2008). Pemeriksaan sediaan dahak dapat juga dilakukan dengan pemeriksaan sediaan langsung dengan mikroskop biasa, pemeriksaan sediaan langsung dengan mikroskop flourensens (pewarnaan khusus), pemeriksaan dengan biakan (kultur), dan pemeriksaan terhadap resitensi obat. Interpertasi pemeriksaan mikroskopis dibaca dengan skala IUATLD (International Against Tuberculosis and Lung Disease) yang direkomendasikan WHO, adalah sebagai berikut:

1. Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang, disebut negatif. 2. Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang pandang, ditulis jumlah bakteri

yang ditemukan.

4. Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut ++ (2+). 5. Ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut +++ (3+)

(PDPI, 2006).

2.4.4 Pemeriksaan Radiologik

Tuberkulosis dapat memberikan gambaran karakteristik untuk tuberkulosis paru melalui foto rontgen toraks, yaitu:

1. Apabila lesi terdapat terutama di lapangan atas paru 2. Bayangan berawan atau berbecak

3. Terdapat kavitas tunggal atau multipel 4. Terdapat kalsifikasi

5. Apabila lesi lateral terutama bila terdapat pada lapangan atas paru

6. Bayangan abnormal yang menetap pada foto toraks setelah foto ulang beberapa minggu kemudian (Yunus, F., dkk, 1992).

Pemeriksaan khusus yang sering kadang-kadang juga digunakan adalah bronkografi, yakni untuk melihat kerusakan bronkus akibat tuberkulosis, yang dilakukan apabila penderita akan menjalani pembedahan paru. Pemeriksaan radiologis yang lebih canggih dan sudah banyak digunakan adalah Computed

Tomography Scanning (CT Scan) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI)

(Sudoyono, A., dkk, 2010). Pemeriksaan foto rontgen toraks dibutuhkan untuk kasus yang sulit seperti penderita suspek tuberkulosis HIV positif. Pemeriksaan foto toraks masih kurang akurat bila dibandingkan dengan hasil pemeriksaan sputum. Oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan yang lebih akurat (Crofton, dkk, 2002).

2.4.5 Pemeriksaan Penunjang 1. Analisis Cairan Pleura

Pemeriksaan analisis cairan pleura dan uji Rivalta cairan pleura perlu dilakukan pada pasien efusi pleura untuk membantu menegakkan diagnosis. Interpretasi hasil analisis yang mendukung diagnosis tuberkulosis adalah uji Rivalta positif dan kesan cairan eksudat, serta pada analisis cairan pleura terdapat sel limfosit dominan dan glukosa rendah.

2. Pemeriksaan histopatologi jaringan

Pemeriksaan histopatologi dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis TB. Pemeriksaan yang dilakukan ialah pemeriksaan histopatologi. Bahan jaringan dapat diperoleh melalui biopsi atau otopsi, yaitu :

a. Biopsi aspirasi dengan jarum halus (BJH) kelenjar getah bening (KGB) b. Biopsi pleura (melalui torakoskopi atau dengan jarum abram, Cope dan

Veen Silverman)

c. Biopsi jaringan paru (trans bronchial lung biopsy/TBLB) dengan bronkoskopi, trans thoracal needle aspiration/TTNA, biopsi paru terbuka). d. Otopsi

Pada pemeriksaan biopsi sebaiknya diambil 2 sediaan, satu sediaan dimasukkan ke dalam larutan salin dan dikirim ke laboratorium mikrobiologi untuk dikultur serta sediaan yang kedua difiksasi untuk pemeriksaan histologi.

2. Pemeriksaan darah

Hasil pemeriksaan darah rutin kurang menunjukkan indikator yang spesifik untuk tuberkulosis. Laju endap darah (LED) jam pertama dan kedua dapat digunakan sebagai indikator penyembuhan pasien. LED sering meningkat pada proses aktif, tetapi laju endap darah yang normal tidak menyingkirkan tuberkulosis. Pemeriksaan Limfosit juga kurang spesifik sebagai indikator spesifik.

3. Uji tuberkulin

Uji tuberkulin yang positif menunjukkan ada infeksi tuberkulosis. Di Indonesia dengan prevalens tuberkulosis yang tinggi, uji tuberkulin sebagai alat bantu diagnostik penyakit kurang berarti pada orang dewasa. Uji ini akan mempunyai makna bila didapatkan konversi, bula atau apabila kepositivan dari uji yang didapat besar sekali. Pada malnutrisi dan infeksi HIV uji tuberkulin dapat memberikan hasil negatif (PPDI, 2006).

Gambar 2.1 Skema alur diagnosis TB paru pada orang dewasa 2.5 Klasifikasi

2.5.1 Klasifikasi Berdasarkan Organ Tubuh yang Terkena

1. TB paru. TB paru adalah TB yang menyerang jaringan (parenkim) paru. Tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus.

2. TB ekstra paru. TB yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar lymfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.

2.5.2 Klasifikasi Berdasarkan Hasil Pemeriksaan Dahak Mikroskopis 1. TB paru BTA positif

a. Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.

b. 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran TB.

c. 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif.

d. 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.

2. TB paru BTA negatif

Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif. Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi:

a. Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif. b. Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran TB.

c. Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. d. Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan. 2.5.3 Klasifikasi Berdasarkan Tingkat Keparahan Penyakit

1. TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan ringan.

Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far advanced”), dan atau keadaan umum pasien buruk.

2. TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya, yaitu:

a. TB ekstra paru ringan, misalnya: TB kelenjar limfe, pleuritis eksudativa unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal.

b. TB ekstra-paru berat, misalnya: meningitis, milier, perikarditis, peritonitis, pleuritis eksudativa bilateral, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kemih dan alat kelamin.

2.5.4 Klasifikasi Berdasarkan Riwayat Pengobatan Sebelumnya

Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya dibagi menjadi beberapa tipe pasien, yaitu:

1. Baru

Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).

2. Kambuh (Relapse)

Adalah pasien TB yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan TB dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur).

3. Pengobatan setelah putus berobat (Default)

Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif.

4. Gagal (Failure)

Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.

5. Pindahan (Transfer In)

Adalah pasien yang dipindahkan dari sarana pelayanan kesehatan yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya.

6. Lain-lain:

Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan.

TB paru BTA negatif dan TB ekstra paru, dapat juga mengalami kambuh, gagal, default maupun menjadi kasus kronik. Meskipun sangat jarang, harus dibuktikan secara patologik, bakteriologik (biakan), radiologik, dan pertimbangan medis spesialistik (Kemenkes, 2014).

2.6 Epidemiologi TB Paru 2.6.1 Distribusi Frekuensi a. Berdasarkan Orang

Risiko penularan setiap tahun (Annual Risk of Tuberculosis Infection = ARTI) di Indonesia dianggap cukup tinggi dan bervariasi antara 1-3 %. Pada daerah dengan ARTI sebesar 1 %, berarti setiap tahun diantara 1000 penduduk, 10

(sepuluh) orang akan terinfeksi. Sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akan menjadi penderita TB, hanya sekitar 10% dari yang terinfeksi yang akan menjadi penderita TB. Penyakit TB paru sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akan menjadi penderita TB, hanya sekitar 10% dari yang terinfeksi yang akan menjadi penderita TB (Kemenkes, 2005).

Menurut jenis kelamin, kasus BTA+ pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan yaitu 1,5 kali dibandingkan kasus BTA+ pada perempuan. Menurut kelompok umur, kasus baru paling banyak ditemukan pada kelompok umur 25-34 tahun yaitu sebesar 20,76% diikuti kelompok umur 45-54 tahun sebesar 19,57% dan pada kelompok umur 35-44 tahun sebesar 19,24% (Kemenkes, 2015).

Kasus TB kategori 2 di Sumatera Barat tahun 2014 yang terdiri dari kasus kambuh, default, gagal terdapat 268 kasus. Menurut kelompok umur, kasus kategori 2 paling banyak ditemukan pada kelompok umur 45-54 tahun yaitu dengan 57 kasus (21,27%) diikuti kelompok umur 25-34 tahun yaitu sebanyak 56 kasus (20,89%) dan pada kelompok umur 55-64 tahun sebanyak 52 kasus (19,40%). Menurut jenis kelamin, kasus TB paru kategori 2 paling banyak diderita oleh jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 170 kasus (63,4%) dan jenis kelamin perempuan sebanyak 98 kasus (36,5%). Perbandingan kasus kategori 2 antara jenis kelamin adalah 1,7 kali (Dinkes Sumbar, 2015).

b. Berdasarkan Tempat

Pada tahun 2014 ditemukan jumlah kasus baru BTA+ sebanyak 176.677 kasus, menurun bila dibandingkan kasus baru BTA+ yang ditemukan tahun 2013 yang sebesar 196.310 kasus (Kemenkes, 2015). Menurut hasil Riskesdas 2013,

prevalensi TB berdasarkan diagnosis sebesar 0,4% dari jumlah penduduk. Menurut provinsi, prevalensi TB paru tertinggi berdasarkan diagnosis yaitu Jawa Barat sebesar 0,7%, DKI Jakarta dan Papua masing-masing sebesar 0,6%. Sedangkan Provinsi Riau, Lampung, dan Bali merupakan provinsi dengan prevalensi TB paru terendah berdasarkan diagnosis yaitu masing-masing sebesar 0,1% (Riskesdas, 2013).

Provinsi Sumatera Barat mempunyai jumlah kasus baru BTA+ tahun 2014 adalah sebesar 5.018 kasus. Sedangkan untuk kasus TB paru kategori 2 di provinsi Sumatera Barat tahun 2014, Kab/ Kota dengan kasus terbanyak adalah di Kabupaten Padang Pariaman dengan 43 kasus (16,04%), diikuti oleh Kabupaten Pasaman Barat dengan 40 kasus (14,92%) dan Kota Padang dengan 37 kasus (13,80%) (Dinkes Sumbar, 2015).

c. Berdasarkan Waktu

Angka notifikasi kasus BTA+ pada tahun 2014 di Indonesia sebesar 70 per 100.000 penduduk, menurun dibandingkan tahun 2013 yang sebesar 81 per 100.000 penduduk. Begitu juga dengan angka notifikasi seluruh kasus TB per 100.000 penduduk yang menurun dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 113 per 100.000 penduduk. Sedangkan menurut Global Tuberculosis Control, estimasi insidens semua tipe TB tahun 2013 yang sebesar 183 per 100.000 penduduk mengalami penurunan dibandingkan tahun 1990 yang sebesar 343 per 100.000 penduduk. Begitu juga dengan prevalensi TB dan mortalitas yang mengalami penurunan pada tahun 2013 (Kemenkes, 2015).

2.6.2 Determinan a. Umur

TB Paru dapat menyerang semua golongan umur. Beberapa penelitian menunjukkan kecenderungan pada kelompok usia produktif. Hal ini disebabkan karena pada usia produktif mempunyai mobilitas yang tinggi sehingga kemungkinan untuk terpapar kuman TB Paru lebih besar. Penelitian Meirta (2007) menyatakan bahwa proporsi kasus kambuh selama tahun 2000-2007 di BP4 Medan paling banyak pada kelompok umur 15-55 tahun yaitu 92,8%. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Kartika (2008) di RSUD Budhi Asih penderita TB paru putus obat (default) yang berobat adalah usia produktif yaitu pada kelompok umur 15-54 tahun sebesar 75,5%.

b. Jenis Kelamin

Kepekaan untuk terinfeksi penyakit TB paru adalah sama untuk semua penduduk, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Penyakit TB paru cenderung lebih tinggi pada jenis kelamin laki-laki daripada perempuan. Kasus TB paru pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan yaitu 1,5 kali dibandingkan kasus pada perempuan (Kemenkes, 2015). Menurut WHO sedikitnya dalam satu tahun terdapat satu juta perempuan yang meninggal akibat tuberkulosis dan bahkan lebih tinggi kasus kematian akibat tuberkulosis pada perempuan daripada kasus kematian perempuan akibat kehamilan dan persalinan (Aditama, TY., 2002).

c. Gizi

Keadaan malnutrisi akan menurunkan resistensi terhadap penyakit infeksi termasuk penyakit tuberkulosis. Keadaan ini yang mempengaruhi di negara miskin, baik pada usia dewasa maupun anak-anak (Crofton, dkk, 2002). Akan tetapi diet bukanlah paparan tunggal dalam timbulnya penyakit melainkan sekumpulan variabel yang saling berinterkolerasi (Almaser, S, 2004).

d. Faktor Toksik

Merokok tembakau dan minum alkohol dapat menurunkan sistem pertahanan tubuh. Selain itu obat-obat kortikosteroid dan imunosupresan juga dapat menurunkan kekebalan tubuh. Kebiasaan merokok merupakan faktor dalam progresivitas TB paru dan terjadinya fibrosis. Secara umum, perokok ternyata lebih sering mendapat infeksi TB dan kebiasaan merokok memegang peranan penting sebagai penyebab kematian pada TB (Crofton, dkk, 2002). Penelitian yang dilakukan di RS Persahabatan Jakarta dengan desain case control menyatakan bahwa mereka yang merokok akan 3-4 kali lebih sering terinfeksi TB daripada yang tidak merokok (Firdaus, U, dkk, 2006).

e. Kemiskinan

Kemiskinan masyarakat mengarah pada menyebabkan kepadatan di dalam rumah (overcrowding), higiene yang rendah yang menyebabkan keadaan gizi yang rendah sehingga lebih memudahkan TB berkembang menjadi penyakit (Djojodibroto, 2009).

f. Penyakit Lain

Pada beberapa negara infeksi HIV sekarang sangat penting. Kerusakan pertahanan tubuh seringkali menyebabkan komplikasi akibat tuberkulosis. Tuberkulosis juga sering terjadi pada penderita dengan diabetes, leukimia, atau

Dokumen terkait