• Tidak ada hasil yang ditemukan

V.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian penerapan byline terhadap integritas wartawan Medan Bisnis, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut.

1. Penerapan byline di harian Medan Bisnis belum efektif dalam melihat pertanggungjawaban, kepercayaan dan standar kompetensi wartawan. 2. Integritas wartawan harian Medan Bisnis tidak tercermin bila dilihat

dari penerapan byline di media tersebut.

3. Byline membuat wartawan merasa lebih dihargai. Tulisan hasil keringatnya dapat dibaca dan diketahui masyarakat.

4. Institusi atau media tetap tidak lepas tanggung jawab walau sudah menerapkan byline. Jajaran dewan redaksi meliputi pemimpin redaksi, redaktur juga ikut mempertanggungjawabkan berita yang ditulis oleh reporter.

V.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas maka peneliti perlu mengajukan beberapa saran. Di antaranya:

a. Bekerja di media yang menerapkan byline atau tidak, harusnya setiap wartawan selalu bekerja sesuai dengan prinsip Sembilan elemen jurnalisme. Yaitu, menyampaikan berita dengan kebenaran, loyal kepada masyarakat, mematuhi disiplin dan verifikasi, menjaga independensi terhadap sumber berita, menjalankan peran sebagai pemantau kekuasaan, menyampaikan kritik maupun dukungan dari masyarakat, berupaya keras

untuk membuat hal yang penting menarik dan relevan, menyiarkan berita secara komprehensif, dan mengikuti nurani

b. Media juga harus benar-benar mengontrol, memperbaiki serta meningkatkan kualitas dan integritas wartawan yang mereka pekerjakan sebagai ujung tombak dalam mencari informasi berita.

c. Media harus memberikan punish dan reward bagi setiap wartawan. Punish bagi wartawan yang mempunyai rapor buruk, dan reward bagi wartawan yang medapatkan rapor baik.

d. Masyarakat juga mempunyai peran penting dalam hal mengawasi wartawan. Karena tak tertutup kemungkinan wartawan melakukan pelanggaran dalam melakukan pekerjaan sebagai pencari berita.

Kode Etik Jurnalistik Indonesia Pasal 1

Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.

Penafsiran:

a. Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers.

b. Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi. c. Berimbang berarti semua pihak mendapat kesempatan setara.

d. Tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.

Pasal 2

Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.

Penafsiran:

Cara-cara yang profesional adalah:

a. menunjukkan identitas diri kepada narasumber; b. menghormati hak privasi;

c. tidak menyuap;

d. menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya;

e. rekayasa pengambilan dan pemuatan atau penyiaran gambar, foto, suara dilengkapi dengan keterangan tentang sumber dan ditampilkan secara berimbang;

f. menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara;

g. tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan hasil liputan wartawan lain sebagai karya sendiri;

h. penggunaan cara-cara tertentu dapat dipertimbangkan untuk peliputan berita investigasi bagi kepentingan publik.

Pasal 3

Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.

Penafsiran:

a. Menguji informasi berarti melakukan check and recheck tentang kebenaran informasi itu.

b. Berimbang adalah memberikan ruang atau waktu pemberitaan kepada masing-masing pihak secara proporsional.

c. Opini yang menghakimi adalah pendapat pribadi wartawan. Hal ini berbeda dengan opini interpretatif, yaitu pendapat yang berupa interpretasi wartawan atas fakta. d. Asas praduga tak bersalah adalah prinsip tidak menghakimi seseorang.

Pasal 4

Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul. Penafsiran:

a. Bohong berarti sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya oleh wartawan sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi.

b. Fitnah berarti tuduhan tanpa dasar yang dilakukan secara sengaja dengan niat buruk.

c. Sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan.

d. Cabul berarti penggambaran tingkah laku secara erotis dengan foto, gambar, suara, grafis atau tulisan yang semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi.

e. Dalam penyiaran gambar dan suara dari arsip, wartawan mencantumkan waktu pengambilan gambar dan suara.

Pasal 5

Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.

Penafsiran:

a. Identitas adalah semua data dan informasi yang menyangkut diri seseorang yang memudahkan orang lain untuk melacak.

b. Anak adalah seorang yang berusia kurang dari 16 tahun dan belum menikah.

Pasal 6

Wartawan Indonesia tidak menyalah-gunakan profesi dan tidak menerima suap.

Penafsiran:

a. Menyalah-gunakan profesi adalah segala tindakan yang mengambil keuntungan pribadi atas informasi yang diperoleh saat bertugas sebelum informasi tersebut menjadi pengetahuan umum.

b. Suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau fasilitas dari pihak lain yang mempengaruhi independensi.

Pasal 7

Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan “off the record” sesuai dengan kesepakatan. Penafsiran:

a. Hak tolak adalak hak untuk tidak mengungkapkan identitas dan keberadaan narasumber demi keamanan narasumber dan keluarganya.

b. Embargo adalah penundaan pemuatan atau penyiaran berita sesuai dengan permintaan narasumber.

c. Informasi latar belakang adalah segala informasi atau data dari narasumber yang disiarkan atau diberitakan tanpa menyebutkan narasumbernya.

d. “Off the record” adalah segala informasi atau data dari narasumber yang tidak boleh disiarkan atau diberitakan.

Pasal 8

Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.

Penafsiran:

a. Prasangka adalah anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui secara jelas.

b. Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan.

Pasal 9

Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.

Penafsiran:

a. Menghormati hak narasumber adalah sikap menahan diri dan berhati-hati.

b. Kehidupan pribadi adalah segala segi kehidupan seseorang dan keluarganya selain yang terkait dengan kepentingan publik.

Pasal 10

Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.

Penafsiran:

a. Segera berarti tindakan dalam waktu secepat mungkin, baik karena ada maupun tidak ada teguran dari pihak luar.

b. Permintaan maaf disampaikan apabila kesalahan terkait dengan substansi pokok.

Pasal 11

Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional. Penafsiran:

a. Hak jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya.

b. Hak koreksi adalah hak setiap orang untuk membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain.

Transkrip wawancara

Nama wartawan: Ramita Harja

Kenapa Anda tertarik terjun ke dunia jurnalistik?.

Awalnya memang dari awal sudah tergabung dengan organisasi pers mahasiswa. Niatnya dulu Cuma buat belajar nulis. Tapi terakhir aku ngerasa enjoy jadi ya aku terukan aja buat serius di jurnalistik.

Itu tahun berapa mulai masuk pers kampus?

Tahun 2004. Saat aku masih semester satu. Lupa aku bulan apa waktu itu.

Bagaimana Anda memperoleh pembekalan ilmu-ilmu jurnalistik?

Banyak diskusi sama senior. Ada juga pelatihan kelas lokal maupun nasional.yang diisi sama wartawan senior juga. Dan perakteknya langsung, aku terjun wawancara yang waktu itu narasumbernya khalayak-khalayak kampus. Karena ruang lingkupnya masih sebatas di kampus-kampus aja.

Bagaimana pengalaman pertama saat meliput berita?

Grogi yang pasti. Padahal yang kuliput saat itu Cuma persoalan sampah. Tapi karena harus memikirkan apa yang menarik buat ditulis rada-rada bingung juga waktu itu. Tapi latihan-lat8ihan terus akhirnya terbiasa.

Bagaimana membandingkannnya dengan dunia jurnalistik yang Anda geluti sekarang?

Teknis liputannya ya sama. Pelajari masalah yang hendak kita liput. Wawancara dan menulis. Tapi sekarang yang aku hadapin orang-orang yang skopnya udah luas. Enggak terbatas isu-isu kampus lagi. Medan bahka kadang yang cakupannya untuk Sumatera Utara juga.

Saat ini tergabung dengan organisasi wartawan?

Iya. Saya tergabung di Forum Jurnalis Perempuan Indonesia Sebagai?

Kepala Bidang Humas

Apa keuntungan gabung dengan organisasi wartawan?

Untuk cari link yang utama. Karena kita kerja sebagai wartawan ini link itu harus kita utamakan. Karena kita butuh entah siapa-siapa aja buat dijadikan narasumber. Dan kita juga butuh informasi dari kawan-kawan mempermudah kita mendapatkan narasumber. Selain itu organisasi juga ada agenda diskusi-diskusi untuk kembali menyegarkan ilmu kita perihal jurnalistik.

Jadi bekerja di Medan Bisnis ini sejak kapan?

Tahun 2008. Setelah aku tamat kuliah. Tapi sebelum di sini aku juga pernah gabung di majalah juga. Tapi majalah lifestyle.

Apa alasan memilih Medan Bisnis?

Kontennya bagus. Kemudian media ini kan termasuk salah satu media terbesar di medan, segmennya berbeda. Awalnya aku niatnya media yang banyak konten politik hukum gitu, tapi akhirnya ya udah. Mantapin hatikerja di sini. Walau kontennya lebih ke ekonomi saya ikutin aja.

Susah kah saat baru mulai liputan atau menulis berita ekonomi?

Awalnya iya. Apalagi soal angka-angka yang enggak aku pahami sebelumnya.aku kan dulu basic-nya Sastra Inggris. Jadi belajar secara perlahan juga lah.

Sekarang Anda bekerja di desk apa?

Sebelum-sebelumnya udah di desk apa aja yang sudah pernah?

Oh. Udah banyak juga lah kayaknya. Aku pernah ekonomi mikro, ekonomi makro, perdagangan ekspor impor, dan pendidikan.

Anda tahu byline?

Byline? Narok nama di berita. Tahu lah.

Sebelum masuk MedanBisnis apakah Anda sudah tahu media ini merepkan byline?

Tahunya pas sudah kerja di sini. Dulu aku enggak memperhatikan media mana yang memakai byline dan mana yang cuma inisial

Menurut Anda apa bedanya pakai byline atau tidak?

Menggunakan byline, narasumber jadi tahu siapa kita. Misalkan wawancara by phone, dia akan lihat nama pada berita saat terbit, makanya dia akan tahu siapa yang wawancara siapa yang menulis berita, kalau cuma kode mereka akan mempertanyakan ini berita siapa?

Berarti ada unsur kedekatan dari yang Anda maksudkan?

Ke beberapa. Enggak semua. Rata-rata sama yang sudah jadi langganan yang kita wawancarai. Dia jadi gampang ngecek berita kita yang dimuat.

Adakah kemudahan dengan menjalin kedekatan dengan narasumber ini?

Pasti lah. Kalau berita yang kita tulis mereka suka, sering tu mereka nelfon. “bagus beritanya Mita”. Tapi giliran mereka ada yang tersinggung di sindir-sindir. Bahkan ada juga yang nolak dijumpai lagi.

Kalau wartawan harus anti sama kata kapok. Ditugasin wawancarai orang itu kita harus usaha keras untuk itu. Gimana tanggapan narasumber itu. Muka-muka tebal aja lah.

Kemudian apalagi dampak byline yang Anda rasakan?

Apa ya? Sedikit kebanggaan lah. Apalagi saat kita menghasilkan berita halaman satu atau headline. Suatu prestise lah buat kita

Anda merasa ada kompetisi untuk menargetkan berita yang Anda tulis sering dipakai jadi headline.?

Headline kan redaktur-redaktur yang mutuskan. Tapi kita para wartawan berusaha juga membuat berita agar bisa dijadiin berita headline. Kalau persaingan nagatif, saling iri gitu enggak ada.

Terkait byline ini apakah ada pernah berita Anda yang

dipermasalahkan. misalnya ada berita Anda yang agak sensitif bagi pihak-pihak yang terkait?

Ada lah pasti.

Bisa ceritakan salah satu yang paling Anda ingat?

Ada saya pernah nulis berita soal perkebunan sawit mengenai kecelakaan kerja. Liputan ke daerah, pekerja tidak dilengkapi dengan perangkat keselematan kerja, tidak ada perlengkapan kesehatan. Jika kecelakaan mereka hanya berobat ke bidan. Bidan kan bukan spesialis. Ya udah aku liput ke lokasi kejadian, wawancara korban-korban dan gali kronologis kejadian, dan aku konfirmasi ke perusahaan. Mereka minta tulisan ditunda, bahkan tidak usah diterbitkan, terus mereka meminta mengirim tulisan dan mereka edit baru diterbitkan, tapi aku tak hiraukan, karena itu adalah karya aku. Barulah hari kemudian, mereka komplain, mereka memintaku datang. Intinya

mereka enggak terima. Awalnya dia nelfon, saya minta mereka komplain ke meja redaksi. Tapi say sudah yakin bahwa tulisan saya sudah cover botside. Saya sudah konfirmasi ke perusaahaan itu perihal 10 karyawan yang mengalami kebutaan akibat kecelakaan kerja dan tidak lengkapnya faslilitas kesehatan, mereka justru meminta supaya berita jangan diterbitkan, tulis yang baik-baik saja. Aku tulis sesuai dengan yang sebenarnya lah.

Anda tidak takut bila mereka mengancam waktu itu?

Itu resiko kerja. Tapi saat itu cuma sebatas itu saja.tapi waktu itu kalaupun mereka memejahijaukan beritaku ya aku saat itu sudah siap-siap aja. Tapi waktu itu sampai di situ aja cuman.

Bagaimana dengan kesalahan yang Anda tak sadari. Maksudnya

kesalahan berita yang Anda tulis yang luput dari perhatian anda!

Ada juga pernah. Sering aku salah ketik kayak nama, jabatan, tanggal. Atau informasiku kurang akurat. Tapi ya itu kesalahan yang wajar aku rasa. Karena kadang terburu-buru karena deadline.

Apa yang bisa Anda ambil dari kesalahan-kesalahan yang anda lakukan seperti ini?

Pembelajaran lah untuk lebih hati-hati. Akurat ya gitu-gitulah.

Apakah ada tanggung jawab moral saat melakukan kesalahan berita terhadap byline nama Anda yang tercantum di berita?

Kesalahan di media cetak ya kita enggak bisa berbuat apa-apa. Aku sebagai penulis pasti merasa enggak enak juga terutama sama narasumber. Tapi jika ada narasumber yang memang betul-betul kurang senang, kan bisa komplain langsung ke media. karena kan nanti dibikinkan hak jawab atau ralatnya.

Wartawan yang menulis berita harus hati-hati. Harus perhatikan baik-baik berita yang mau diserahkan ke redaktur. Baik itu secara konten atau pun EYD. Akurasi informasi juga penting, tapi itu lebih kepada teknis di lapangan saat liputan buat menggali masalah dengan tajam.

Menurut Anda, apakah semua media khususnya harian sebaiknya juga menerapkan byline?

Kalau itu tergantung kebijakan masing-masing media. tujuan menggunakan byline kan supaya wartawan itu lebih tanggung jawab dan hati-hati menulis berita, karena bila tulisan jelek ya nama wartawan jelek, dan sebalinya. Bila sekedar inisial aku pikir tanggung jawab wartawan itu kecil, karena orang enggak tahu itu tulisan siapa.

Nama wartawan: Khaiunnas

Apa yang membuat Anda bisa menggeluti dunia jurnalistik?

Pertama karena saya suka baca. Dan membaca menjadikan saya tertarik menulis. Makanya waktu kuliah saya masuk jurusan komunikasi supaya bisa jadi wartawan.

Kenapa wartawan? Enggak mau jadi penulis aja?

Karena pekerjaan sebagai wartawan ini mudah didapat. Asalkan bisa nulis berita. Kita bisa jadi wartawan.

Saya kuliah emang jurusan jurnalistik di STIKPE. Di situ lah dapat materi-materi di kelas. Setelah tamat saya langsung coba jadi wartawan di harian. Sampai sekarang.

Pertama bekerja apa media Anda?

Koran Sindo. Sindo Biro Medan. dan saya setahun bekerja di sana saya ditempatkan di Pematang Siantar. Di situ lah saya merasakan bekerja jurnalistik secara professional.

Pertama kali bekerja apakah Anda mendapatkan semacam training atau pembekalan ilmu jurnalistik lagi?

Ada. Tapi lebih ke sharing-sharing sama kawan-kawan dan redaktur yang sudah berpengalaman. Kalau secara intens enggak ada.

Berarti langsung terjun ke lapangan. Bagaimana pertama kali melakukan tugas peliputan?

Agak grogi juga sih waktu itu. Tengok-tengok kawan-kawan di lapangan aja. Gimana cara mereka menghadapi narasumber. Selain itu saya juga tanya-tanya ke mereka soal isu-isu yang hangat diangkat. Biar saya juga dapat mendalami masalah yang akan saya liput.

Koran Sindo saat itu apakah sudah menerapkan byline?

Sudah. Karena mereka cakupannya sudah nasional, jadi ngikutin aturan media mereka di pusat. Jadi nama saya dicantumkan pada berita yang saya tulis.

Adakah pengaruh penerapan byline pada diri Anda melakukan tugas liputan saat itu?

Kurang tahu sih saya apa pengaruhnya waktu itu. Karena aturan Koran Sindo memang seperti itu, ya saya harus ikuti.

Maksudnya pengaruhnya buat Anda dalam melakukan liputan, menulis dan bagaimana dengan pertanggungjawaban anda terhadap berita-berita yang Anda tulis?

Kalau itu, pakai byline atau tidak memang seharusnya kita mempertanggungjawabkan berita yang kita tulis kan.? Karena itu juga tugas utama kita sebagai wartawan.

Anda bekerja di Medan Bisnis sejak kapan? Tahun 2008.

Kenapa Anda akhirnya memilih di bekerja di MedanBisnis?

Melihat konten yang cukup bagus. Saya menilai media ini sebagai harian dengan konten ekonomi yang paling bagus di medan. tidak kalah dengan harian terkemuka yang lain. Dan beritanya cukup menggairahkan. Selain itu karena saya agak jenuh bekerja di Koran Sindo. Karena banyak meliput berita yang umum dan lebih banyak mengangkat masalah.

Kenapa bisa membuat Anda jenuh?

Karena wartawan di Siantar enggak terlalu banyak. Gampang ditandai narasumber. Beberapa kali saya pernah diteror akibat pemberitaan. Jadi ketika ada Medan Bisnis buka lamaran saya memilih buat pindah.

Bukannya di MedanBisnis juga ada memuat berita umum selain berita ekonomi?

Memang iya. Cuma kan beda kadarnya. Medan Bisnis enggak mengutamakan angle permasalahan untuk ditonjolkan. Tapi sebenarnya bekerja sebagai wartawan, mau di mana pun itu sama saja sebetulnya. Bila ada yang kurang senang dengan pemberitaan kita tetap saja kita akan mendapat omelan dari mereka atau pihak-pihak terkait.

Sebelum melamar di Medan Bisnis apakah Anda bahwa media ini juga menerapkan byline?

Tahu. Cuma saya tak terlalu memperhatikan itu. Karena tujuan saya memang untuk bekerja. Jadi apakah media yang saya lamar menggunakan byline atau tidak saya ikuti aja gimana aturannya.

Saat ini Anda bekerja di desk apa?

Kesehatan dan Olahraga. Sebelumnya saua pernah di desk kriminal, otomotif.

Tapi jika memilih Anda paling nyaman bekerja untuk desk apa?

Yang sekarang ini. olahraga dan kesehatan. Olahraga yang paling saya suka. Karena selain hobi, berita-berita olahraga ini enggak ada delik hukumnya.

Bagaimana cara Anda melakukan pendekatan dengan narasumber

dalam melipuit berita?

Itu susah disimpulkan. Karena narasumber kita itu beda-beda. Beda latar belakang dan kita juga harus melakukan pendekatan yang tidak sama. Kalau saya utamakan menyesuaikan penampilan dengan narasumber. Siapa yang akan saya hadapi. Karena mereka akan menilai kita juga dari penampilan. Selain itu kita pandai-pandai bergaul juga. Gimana pandai-pandainya kita mencocokan diri lah.

Pernah Anda melakukan kesalahan fatal dalam melakukan pekerjaan anda meliput berita?

Kesalahan pasti lah ada. Kesalahan pengetikan yang paling sering. Salah nama, salah jabatan, info yang kurang lengkap.

Kalau kesalahan yang Anda sadari?

Kesalahan yang Anda ketahui tapi anda diamkan!

Itu ada. Salah satunya ada informasi yang seharusnya saya tambah dan gali lebih dalam lagi. Tapi karena enggak cukup waktu saya serahkan saja yang sudah siap. Selain itu ada juga sih info yang saya ambil dari kawan-kawan di lapangan. Barter berita. Seharusnya itu kan enggak boleh.

Ketika Anda sedang buntu dalam mencari berita apa yang anda lakukan?

Diskusi sama redaktur, sama kawan-kawan. Tapi yang terpenting motivasi diri sendiri saja. Karena diri kita, kita lah yang tahu.

Sampai kapan Anda akan berkarir di dunia jurnalistik?

Sejauh ini saya nyaman dengan pekerjaan saya sebagai wartawan. Enggak tahu nanti ada berubah pikiran.

Apa saran Anda dalam penerapan byline ini untuk media-media cetak di Kota Medan?

Itu tergantung kebijakan media sih. Bila media menerapkan kami wartawan harus nurut. Begitu juga media-media lain. Karena masing-masing media punya aturan dan pandangan masing-masing. Kalau saya pribadi lebih baik byline hanya untuk berita-berita yang soft, supaya wartawan yang menulis tidak mendapat ancaman ketika ada beritanya yang menyinggung pihak tertentu. agar lebih aman saja. Tapi, byline ada punya sisi positif. Karena di situ lah wartawan merasa diapresiasi atas kerja kerasnya meliput berita.

Nama Wartawan: Ledi Hariana Munte

Kenapa Anda punya ketertarikan terhadap dunia jurnalistik?

Saya dulu memang kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Tapi enggaj jurnalistik, karena waktu itu saya hanya belajar ilmu komunikasi secara umum. Dan selama kuliah belum ada kepikiran jadi wartawan. Walau saya ada mata kuliah

Dokumen terkait